I have a sister? NO!... and NEVER!
Vocaloid isn't mine
But this story is mine
.
Warning : Get it by yourself in this fic
.
Summary :
Len memiliki trauma masa lalu yang menyebabkan ia membenci anak kecil. Karena suatu alasan, Len hidup sendirian di rumahnya sejak kelas 4 SD. Ada Gumiya yang siap menemani kapan pun dan dimanapun. Hingga suatu hari ketika orangtuanya kembali ke rumah, sosok kuning tak di kenalnya muncul/"Tunggu, tunggu.. Ini siapa!?" "Kok nanya? Ya adikmu lah, Len!" "…..Ha?"
.
Chapter 2 : Children? What kind of Animal is that?
Keesokkan harinya. Senin. Sepulang sekolah, dan seperti biasa, rumah Len..
"Len, coba deh lu liat anak yang di kepang dua ini!" Gumiya menunjukkan layar tabletnya. "Kawaii banget, ya?"
"Terserah elu, ah." Len mendorong kembali tablet di tangan Gumiya.
"Lo gak asik, ah. Liat dulu kenapa! Anak kecil itu imut tau, Len! Elu nya aja yang lebay kuadrat!"
Sendirinya lebih lebay.
"Ohh."
"Dengerin gue kenapa. Seenggaknya liat layar tablet gue sekarang. Dengan sekali lirikkan lu pasti langsung suka. Percaya sama guaa!"
"Sekali lagi lu ngomong gitu, password wi-fi gue ganti."
Gumiya mendaratkan tabletnya di bantal kuning milik Len dan berguling dari atas ranjang ke bawah lalu sujud sembah dengan sikap sempurna.
"MAAFKAN KELANCANGAN HAMBA, LEN-SAMA!"
"Jangan sebut nama kecilku dengan mulut kotormu, rakyat jelata."
"MAAFKAN SEGALA SIKAP-SIKAP LANCANG HAMBA, LE―MAKSUD HAMBA KAGAMINE-SAMA!"
"Jangan pakai tanda seru ketika bicara padaku, rakyat jelata."
"TOLONG MAAFKAN HAMBA, KAGAMINE-SAMA."
"Bagus, sekarang berputar tiga kali lalu menggonggong padaku."
Gumiya berputar selincah balerina lalu menggonggong. "Guk!"
Len menatap datar si surai lumut di depannya. Ilfeel. Len tidak pernah menyangka kalau harga diri Gumiya serendah ini. Demi wi-fi gratis sampai-sampai orang itu menjatuhkan harga dirinya sendiri? Jiji.
"Dengar ya, Gum. Harga diri seorang laki-laki itu lebih tinggi dari nyawanya sendiri. Jadi meskipun lo disuruh milih antara 'ditembak atau menggonggong' lu harus tetap milih ditembak." Len memulai ceramahnya.
"Hah? Mending gue ngegonggong, kan!?" Gumiya membantah. "Jelas-jelas gue lebih sayang nyawa!"
Len menghela napas berat. "Oke, ditembak kejauhan. Kalo lu disuruh milih antara 'gue gak jadi ganti password wi-fi tapi lu ngegonggong atau gue ganti password tapi lu gak usah ngegonggong' harusnya lu pilih pilihan yang terakhir dong, Gum."
Gumiya mengulum lolipopnya. "Siapa sih Len, yang nggak cinta sama wi-fi gratis yang kenceng dan bisa dipake sepuasnya?"
Len gagal detik itu juga. Tau akh. Suatu saat Gumiya bakal sadar sendiri kalo dia baru aja ngelempar tai ke mukanya sendiri.
Ting.. Tong..
"LEN, ORTU LO KALI TUH!" pekik Gumiya. "CEPET BUKA GIH PINTUNYA!"
"Kenapa jadi lo yang seneng gak ketulungan gitu?"
Len keluar kamar dan segera turun dari lantai dua. Di lantai dua hanya terdapat kamar Len. Begitu sampai atas, akan ada pintu kamar Len. Ya begitulah pokoknya. Len membuka pintu.
Mama. Cek.
Papa. Cek.
Anak kecil berusia 5 tahun. Cek.
Lengkap su―
"….."
Anak kecil berusia 5 tahun!?
"Halo, Len!" Lenka meletakkan kopernya begitu saja dan memeluk Len. "Ya ampun, kamu udah gede aja! Mama kangen banget, Leeenn!"
"Loh, loh. Ma! Pa! Ini―"
"Apa kabar Len?" Rinto menepuk bahu Len. "Barang-barang di rumah gak ada yang hilang, kan?"
Dasar Papa Jahannam! Tega-teganya setelah ninggalin anaknya 7 tahun ke Amerika buat alasan kerja begitu pulang yang ditanyain malah harta benda!
"Oh, aku baik-baik aja, kok." balas Len.
Anak jambulan ini juga. Ditanya apa jawabnya apa.
"Ngomong-ngomong Ma, Pa―"
"Mama mau masuk ah! Ayo Rin, masukk!" Lenka menggandeng anak perempuan berusia 5 tahun itu masuk rumah.
"Iyaaa~" sahut si perempuan yang dipanggil 'Rin' dengan nada cerah.
"Tunggu, tunggu… Ini siapa!?" Len menunjuk-nunjuk si surai kuning 'mini'.
"Kok nanya? Ya adikmu lah, Len!" Rinto berkacak pinggang.
"…..Ha?"
"ADIK!?" Gumiya secepat kilat turun ke bawah.
Matanya langsung melotot tak berkedip ketika melihat adik kecil moe berpita putih berdiri manis dengan badannya yang mungil. Pakai dress putih yang ada pita-pitanya. Aduh, manis banget. Tuh kan, Gumiya jadi doki doki begini.. Ugh.
"Ehh, nak Gumiya, ya?" Lenka agak terkejut.
"Iya tante.." Gumiya tertawa sambil mengacak-acak rambutnya. "Kok kaget sih, tante? Aku nambah ganteng, ya?"
"Upilmu ngegantung-gantung loh, Gumiya." tunjuk Rinto
"Heh? Masa?" Gumiya langsung menggrepe-grepe hidungnya.
"Begitu aja ketipu." Rinto tertawa keras.
"AHAHAHA! SI OM NGADA-NGADA AJA!"
Len makin tak mengerti situasi ini. Apaan sih? Kenapa si Gumiya malah jadi SKSD gini? Sejak kapan si ijo lumut itu dekat dengan orang tua Len?
"Bentar bentar.." Len menengahi. "Jadi bocah berpita ini adikku?!"
"Yap!" Lenka membetulkan.
"Eeehh? Eeeeehhh!? Kok Mama nggak pernah ngomong-ngomong ke aku?" histeris Len. "Mana orangnya segede itu lagi! Mama telat banget kasih taunya lagi!"
"Hah? Mama udah kirim surat kok." Lenka berpangku tangan.
"Surat? Tapi aku nggak nerima apa-apa, loh!" bantah Len.
.
―5 tahun yang lalu―Kos-kosan seorang mahasiswa dengan duit pas-pasan bernama Hibiki Lui―
'Hai Len! Lihat adik barumu! Cantik, kan? Namanya Rin. Dia mirip sekali denganmu, loh. Maaf baru sempat kami beritahu sekarang. Maaf juga kalau baru diberitahu ketika Rin sudah keburu lahir. Sudah, ya..
With love, Mama Papa'
Lui membelalakkan matanya. Nama panggilannya waktu kecil memang Len―singkatan dari 'hanya-Lui-dan-yang-bersangkutan-yang-tahu'. Teka-teki macam apa ini? Siapa orang iseng yang berani menjahilinya?!
Lui bukan anak kecil. Gak lucu! Siapa ini? Ini misteri! Apa ini kutukan karena Lui belum bayar uang sewa bulan kemarin? Kedua orang tuanya kan sudah meninggal 3 tahun silam.
Tuh kan jadi paranoid! Sialann!
Lui melihat foto yang juga ada di dalam amplop. Bayi perempuan berambut pirang tipis-tipis. Lui menyipitkan matanya. Kenapa pirang? Jelas-jelas di keluarganya tidak ada yang memiliki rambut pirang. Semuanya oranye terang.
Ugh, kalau Lui punya cukup banyak uang, ia bersumpah akan mengorek informasi tentang orang iseng ini. Tuhan, tolong limpahkan rezeki Lui.
―Sampai 5 tahun mendatang, Lui tetap hidup dengan duit pas-pasan sebagai seorang pelayan di sebuah restoran.
.
"Kak Len, Kak Len.."
Len menengok ke samping, lalu ke bawah ketika menyadari kalau sosok si kecil―yang tak ingin ia sebut namanya―menarik-narik lengan bajunya. Sepersekian detik kemudian, Len langsung menghindar dengan cepat. Tak ingin berada di samping si kuning berpita itu sedetik pun.
"Apa?" sahut Len judes.
Rin menatap Len dengan mata besarnya. "Kak Len ganteng, deh."
Hening.
Omaygadh. Ya tuhan.. Cobaan apa ini..? Setelah punya teman ber-spesies seperti Gumiya, ia harus menjalani hidup bersama anak kecil ini?!
Kenapa? Len salah apa?
Ciaoo, thanks for Ayane HikaHikari dan nirmalasari218 untuk reviewnya~!
Makasih juga yang udah repot-repot mencet tombol fav and foll, dan para silent readers yang bersedia ngebaca fic ga bermutu ini~
See you in Chapter 3~~~
