I have a sister? NO!... and NEVER!

Vocaloid isn't mine
But this story is mine

.

Warning : Get it by yourself in this fic

.

Summary :

Len memiliki trauma masa lalu yang menyebabkan ia membenci anak kecil. Karena suatu alasan, Len hidup sendirian di rumahnya sejak kelas 4 SD. Ada Gumiya yang siap menemani kapan pun dan dimanapun. Hingga suatu hari ketika orangtuanya kembali ke rumah, sosok kuning tak di kenalnya muncul/"Tunggu, tunggu.. Ini siapa!?" "Kok nanya? Ya adikmu lah, Len!" "…..Ha?"

.


Chapter 3 : Menjijikkan


"Gum, gue mohon. Hari ini gue nginep di rumah lu. Ya? Ya? Ya?" pinta Len.

"Eeh? Kenapa?" tanya Gumiya.

"Gue gak bisa Gum.." Len memegangi bahu Gumiya erat sambil menahan tangisnya. "Gue gak bisa.. Hidup gue udah nggak tenang dan damai kayak dulu lagi. Monster berpita itu bakalan nyerang gue, Gum!"

"Oke, oke. Gini aja." Gumiya balas memegang kedua bahu Len. "Gue nginep dirumah lo hari ini. Gimana?"

Sama sekali nggak nyelesain masalah. Mati sana.

"Iiihh…."

Len dan Gumiya sontak menoleh ke sumber suara. Ah. Ada dibawah rupanya. Rin muncul.

"Kak Len pacaran sama kakak itu, ya?" Rin menunjuk Gumiya.

Hening.

"Gak usah banyak bacot kalo gak tau apa-apa!" Len sewot sendiri.

Rin nampak berpikir. "Bacot itu apa, kak Len?"

"Bacot itu hewan yang mirip siput itu loh, dik Rin. Kamu jangan dengerin omongannya kak Len, ya.."

"Itu bekicot, bego."

"Lu diem aja, nyet. Secara lu sendiri yang ngomong kasar begitu sama anak kecil!"

"Kakak hijau―"

"Nama kakak 'Gumiya' ya, manis.."

"Kakak Gumiya, 'nyet' itu maksudnya apaan?"

"Mampus lu, Gum. Makan tuh 'nyet'."

"Mampus apaan sih? Rin gak ngerti."

"Oke, kamu yang berpita―" Len mulai geram.

"―Rin." potong Rin.

"―pokoknya kamu yang pakai pita―"

"Kak Len.." Rin menggenggam tangan kanan Len dengan kedua tangannya yang mungil dan menatap Len dengan tatapan mata serius. "Nama aku itu 'Kagamine Rin'. Ka-ga-mi-ne-Ri-n. R-i-n. Riiiii…nnn."

"Iya gue tau nama elu itu Rin! Er-i-en. Ngerti, ngerti! Gue pernah TK dan gue lulus TK B dalam 2 bulan! Biarpun secara official lu itu adek gua tapi gue gak pernah pengen punya adek. Gue juga nggak inget pernah ngebayangin gue punya adek! Apalagi yang perempuan! Ngerti?! Jangan deket-deket gue!"

Rin menatap Len lagi. Len mendengus. Baguslah kalau anak ini mulai mengerti.

"Kak Gumiya.. Kak Len ngomong apaan?"

"Ga tau. Udah Rin, omongan Kak Len jangan kamu dengerin."

Ih kesel. Len memutar bola matanya dan segera naik ke atas.

"Len, mau ke mana?" tanya Rinto.

"Papa pikir kalau naik tangga aku mau kemana?"

"Oh iya, ke kamarmu, ya? Hahaha, iya juga.."

Ga jelas dasar. Len kadang menyesal punya Papa bego kayak Rinto. Gak sopan? Memang. Len adalah tipikal anak songong yang cuma berani mengucapkan sumpah serapah pada orang yang lebih tua dalam batin mungilnya.

Ya kalo sampai kelepasan bisa-bisa Len tidak dapat jatah uang jajan seminggu.

"Kak Leeeenn~~" Rin berlari dari pelukan Gumiya ke arah Len.

Len menoleh dengan malasnya. Dia menatap Rin sekilas lalu kembali menaiki tangga.

"Kak Leeeenn~~"

"…"

"Kakaaak!"

"…"

"Ihh, Kak Leeennn!"

"…"

"Kak―"

"Apaan, sih? Manggil-manggil mulu! Nge-fans!?"

"…" Gantian Rin yang diam.

Gumiya hanya memijit keningnya. Ia bingung. Ribet banget harus mengurusi dua manusia yang sangat sulit ini. Apalagi yang punya jambul dan sukanya makan pisang kayak orang 'itu'.

Cuma dia aja yang sok sibuk, sih.

"Tidur siang sama Rin, yuk!"

"Sekarang udah sore, anak kecil."

"Emangnya kalo sore nggak boleh tidur, ya?"

"Nggak boleh, lah! Nanti malamnya susah tidur."

"Hee, emang kalo malamnya susah tidur kenapa?"

"Ya, besok paginya malah terlambat bangun!"

"Kalo terlambat bangun kenapa? Emang gak boleh telat, ya?"

"Ya kalo orangnya sibuk kayak gue sih, ya nggak boleh telat! Kalo kerjaannya kayak elo yang tinggal tidur-makan-main sih, ya terserah! Mau tidur dari sore sampe sore lagi juga nggak apa-apa!"

"Emang Kak Len sibuk ngapain? Kalo sibuk nanti gak bisa main sama Rin, dong?"

"Banyak tanya."

Len tidak menghiraukan Rin dan kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya. Rinto dan Lenka yang melihat Len hanya menggelengkan kepala. Kebiasaan Len yang membenci anak kecil memang sudah mendarah daging. Yah, salah adik sepupunya yang waktu itu juga, sih..

.

Flashback―

Saat itu Len usianya 6 tahun. Rinto, Lenka, dan Len menengok Lily―selaku Tante Len dan adik dari Lenka―yang satu minggu lalu baru melahirkan. Lily sudah diperbolehkan pulang karena pemulihannya yang sangat cepat.

"Len mau coba gendong?" tawar Lily.

Len yang daritadi memandangi si adik kecil manis ber-rambut kehijauan tipis-tipis itu kini mengalihkan pandangannya pada Lily. "Eh?"

"Mau coba gendong Gumi, nggak?" tawar Lily untuk yang kedua kalinya.

Sebenarnya Len tidak kepikiran untuk mencoba menggendong Gumi. Ia hanya sedang berpikir, rambut pamannya―Gakupo―berwarna ungu, sedangkan tantenya―Lily―rambutnya berwarna pirang keemasan. Kenapa rambut Gumi bisa sehijau rumput begini?

Tapi ya, namanya rezeki tak boleh ditolak. Syukur-syukur boleh gendong adik manis.

"Boleh tante?" tanya Len.

"Boleh, dong. Tapi hati-hati ya, pegangnya." Gakupo menambahi.

Len mengangguk senang. Lily meletakkan Gumi di pangkuan Len. Len mengelus-elus kepala Gumi. Wajah Gumi yang ada rona pink-pink-nya membuat Len tambah gemas.

"Pokoknya Gumi juga harus jadi adikku!" Len berkata sumringah.

Lily, Gakupo, Rinto, dan Lenka hanya tertawa-tawa melihat kelakuan Len.

"Gumi itu adikku! Dia bakal jadi adikku yang manis! Adikku yan―"

Perkataan Len terhenti ketika ia merasakan sesuatu yang lembek dan tentunya basah di paha kanannya. Len menoleh ke bawah dan melihat suatu 'benda-yang-tak-ingin-disebutnya' menempel indah di celana pendeknya―dan tentu saja, sedikit menodai paha putih mulus Len kecil.

"Ihh, e'e.." desis Len dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.

"Ah iya.." Lily buru-buru mengangkat Gumi dari pangkuan Len. "Len, tante minta maaf, ya.."

Len menjerit lalu menangis keras. Lenka menggiring Len ke kamar mandi sedangkan Len tidak berhenti menangis.

"Sudah dong, Len. Malu sama orang-orang, kan? Kamu kan, sudah 6 tahun. Masa menangis cuma gara-gara Gumi buang kotoran?"

Flashback end―

.

Kalau mengingat-ingat hal itu Len jadi kesal. Ya Lenka enak, tinggal ngomong gitu. 'Cuma gara-gara buang kotoran'? 'Cuma'? Ya udah, cuma! Sini Len buang kotoran di pangkuanmu! Sini!

Kalau masih kecil masih wajar sih, tapi kalau kamunya sudah sebesar itu Mama juga geli ngeliat kamu e'e sembarangan, Len..

^Hal itu yang Lenka katakan ketika Len mengatakan hal yang di garis bawahi di paragraf pertama setelah kalimat ―Flashback end―.

"Mama.." panggil Len ketika berada di tengah-tengah anak tangga.

Lenka menoleh pada Len dan menatap anak laki-lakinya. "Apa, Len?"

"Rin.. Udah bisa pipis dan buang kotoran sendiri, kan? Dia juga udah bisa cebok, kan?" tanya Len khawatir. Len sangat berharap jawaban positif dari Mamanya.

"Bisa, sih.." Lenka berkacak pinggang. Ahh, Len ingin bersorak sekarang juga! "Tapi kalau ceboknya dia cuma sekedar diusap-usap aja. Dia belum bisa di kobel-kobel."

Len bergidik. Ini dia! Yang dia selalu hindari! Bagian yang paling menjijikkan! Ihh.

"Oh iya Len, besok kamu jaga Rin, ya?" Rinto datang dengan secangkir kopi di tangannya.

Gak.

"Ha-haaahh? Kenapa?" histeris Len.

"Papa sama Mama mau pergi ke Hokkaido satu minggu. Cuma lima hari aja, kok!" tambah Lenka.

Lima hari cuma? Udah 'cuma' pake 'aja', lagi!

"Ihh, baru pulang udah mau pergi lagi?" keluh Len.

"Gimana lagi, Len.. Udah pekerjaan Mama sama Papa." Lenka menghela napas.

Len loyo. Bukan masalah kalau dia harus ditinggal lagi. Masalahnya si adik kecil berpita itu, lho!

"Tapi kan, aku sekolah!" Len ber-alasan.

"Di dekat sekolahmu ada penitipan anak, kan? Pas berangkat kamu titip kesana. Pulangnya kamu ambil lagi. Pulang sekolahnya langsung pulang, lho!"

"Ogah banget!"

"Papa, kira-kira uang jajan Len dikurangi berapa, ya?"

"Ohh, kenapa nggak 75%-nya aja? Papa juga lagi nabung buat beli kamera, Ma."

"Boleh juga. Mama juga pengen beli dompet baru."

Muncul juga dialog yang membuat Len naik darah. Ini nih. Yang kayak begitu tuh, yang Len kesal. Sok-sok acuh dan ngomongin tentang uang jajan. Kalau begini, ugh, Len tidak bisa menolak.

Demi uang jajan!

"Ya udah!" Len dengan berat hati mengatakan hal yang tak ingin dikatakannya. "Tapi uang jajanku naikkin 25%!"

"10%!"

"20% aja, deh!"

"15%!"

"Kubilang 20% ya, 20%!"

"Papah, uang jajan Len jadi diturunin, yaahh!"

"Okeh, mamah!"

"Ya udah, ya udah! 15%! Deal, ya!?"

"Deal…"

Geli benget ngedenger ucapan yang ada '-h'-nya dibelakang.. Rin berlari menghampiri Lenka sambil memegangi dress putih bagian belakangnya.

"Mama.." panggil Rin. Air mukanya menunjukkan kalau ia menahan sesuatu. "..Rin mau e'e.."


Makasih to Panda Dayo, Ayane HikaHikari, dan Mai Kamano untuk review kalian yang sangat berharga~ /huhu

Makasih juga untuk para silent readers dan yang udah bersedia nginjek tombol fav and foll~

C U in chapter 4~