A Day to Remember
By: J. Meredith
Warnings: Adult Theme, Violence, Sexual 15+
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Chapter 2: Morning Has Arisen
Jiraiya bukanlah tipe orang yang terbiasa bangun pagi. Ia lebih suka menghabiskan waktu pagi dengan tetap meringkuk di balik selimut usang miliknya di dalam kamar tidur. Jiraiya memang seperti itu. Kalau manusia bisa dikategorikan menurut jam tidurnya, sudah pasti Jiraiya masuk ke dalam kategori manusia nokturnal. Manusia yang merasa segar di malam hari dan melakukan semua aktivitas mereka pada waktu tersebut. Apalagi semua aktivitas yang disenangi Jiraiya kebanyakan memang baru dapat dilakukan saat matahari sudah terbenam. Minum sake di kedai, menggoda wanita pelacur di motel, minum sake bersama wanita pelacur di motel, dan diulang kembali. Seperti itulah siklus kehidupan Jiraiya. Jiraiya mungkin memang menyukai kehidupan dunia malam, tetapi jika sebuah misi telah ditugaskan kepadanya, maka Jiraiya akan selalu siap kapan saja.
Jiraiya menguap untuk keseratus kalinya sejak ia mendapat panggilan dari Hokage di kedai sake. Seorang ninja utusan Hokage tadi datang menghampirinya yang sudah setengah tertidur di kedai sake karena mabuk berat. Awalnya ia menanggapi panggilan tersebut dengan remeh, tetapi setelah mendengar isi keseluruhan berita dan seberapa serius misi yang diberikan oleh gurunya, wajahnya mendadak berubah serius dan rasa mabuk langsung menguap begitu saja dari dirinya.
Saat ini, matahari belum juga terbit dan dinginnya udara malam masih merasuki tulang. Jiraiya mendapatkan perintah bahwa ia dan timnya harus berangkat dari Konoha begitu matahari terbit. Jadi sekarang disinilah dia. Melompat dari satu atap ke atap yang lain untuk mengumpulkan anggota timnya yang masih terlelap. Anggota timnya akan terdiri dari dirinya bersama dengan 2 jonnin lainnya.
Itu adalah rencana awal Hiruzen.
Tapi, Jiraiya punya rencana lain. Ia meminta Hokage untuk mengijinkannya membawa salah seorang muridnya bersamanya dalam misi ini. Seseorang yang sangat spesial. Jenius dari antara teman-teman sebayanya. Kemampuan ninjutsu dan taijutsu-nya sudah di atas rata-rata sehingga tidak mengherankan bila ia sudah berpangkat Chunnin di umurnya yang baru 8 tahun. Seorang bocah brilian dengan nama Minato Namikaze.
-000-
Kepalanya terasa berat. Sakit sekali rasanya. Rasanya seakan gaya gravitasi hari ini bekerja dua kali lipat. Ia merasakan kedua kelopak matanya begitu sulit untuk dibuka. Seperti ada perekat yang sangat kuat sekali di matanya. Hei, dia masih hidup 'kan? Dia tidak mati 'kan? Apakah perasaan yang dirasakannya sekarang ini adalah perasaan orang mati? Tidak mungkin. Orang mati tidak lagi bisa merasakan apapun. Jadi, ini artinya ia tidak mati?
Dengan segenap kekuatan yang masih ada padanya, Kushina mendorong kedua kelopak matanya agar dapat terbuka. Serpih-serpih air mata kering rontok dari ujung-ujung matanya begitu ia berhasil membuka mereka. Kushina mengerjap beberapa kali dan mengusap matanya. Kedua mata violet itu tampak begitu sayu. Ada kantung mata disekitar matanya yang sembab sebagai bukti kalau ia tidak berhenti menangis semalaman.
Kushina terdiam dalam posisi duduk. Kepalanya masih terasa sangat pening dan berat. Ia mencoba untuk menyesuaikan diri selama beberapa saat sebelum memandang ke sekelilingnya. Ia berada dalam sebuah ruangan. Sepertinya ini kamar tidur karena ada futon dan lemari pakaian disana. Tapi, ini jelas bukan kamarnya. Kushina mengalami mimpi terburuk yang pernah ia miliki semalam. Dia bermimpi tentang pembunuhan, api, dan …
Mata Kushina terbelalak lebar. Tidak mungkin 'kan? Meski mimpi itu terasa begitu nyata,tapi itu pasti hanya mimpinya saja 'kan?
Kushina langsung menyingkirkan futon yang dipakainya dan berlari keluar kamar dengan sempoyongan. Ia mendorong pintu geser dengan sangat keras sampai orang-orang yang berada di luar kamar itu menoleh ke arahnya.
"Ojou-sama, Anda sudah sadar? Apa Anda membutuhkan sesuatu?"
Tidak mungkin. Ini mustahil.
Pandangan Kushina kosong. Ia melihat tapi tidak benar-benar melihat. Ini bukan rumahnya. Tempat ini adalah rumah yang biasa keluarganya kunjungi bersama-sama di musim semi, untuk menikmati bunga sakura bermekaran dan onsen. Ia pasti sedang bermimpi 'kan?
"Ojou-sama, apa Anda tidak ap-"
"Hentikan!" Kushina menepis tangan pelayan yang berusaha meraihnya itu. Pelayan itu terkejut. Ia tidak pernah melihat nona muda dalam keadaan seperti ini. Mata violet ini berkilat dengan penuh kemarahan dan frustasi. Kedua mata itu lalu menatapnya dengan tatapan menusuk.
"Dimana Otou-san? KATAKAN PADAKU DIMANA OTOU-SAN?!"
"Ojou-sama, tenanglah dahulu. Hakushi-sama.."
"Aaaargh!"
Kushina meraung. Ia berlari meninggalkan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan iba dan mulai menyusuri koridor rumah tersebut. Suara pelayan yang mengejarnya di belakangnya terdengar sayup-sayup. Rasanya ia tidak ingin mendengar kenyataan apapun yang keluar dari mulut orang itu. Ia ingin lari dari kenyataan bodoh ini. Ia menolak untuk menghadapi kenyataan.
Kushina terus memanggil nama setiap anggota keluarganya saat ia berlari. Ada harapan yang besar untuk bisa mendengar suara mereka membalas panggilannya.
Kedua kakinya membawanya ke sebuah taman dengan sebuah kolam ikan koi kecil. Langkah kakinya terhenti saat ia berada di atas jembatan kayu di atas kolam. Kushina bisa merasakan kulit telapak kakinya mengelupas semua. Tapi ia tidak peduli. Tangannya mencengkram pegangan jembatan itu dengan erat. Kukunya bahkan sampai menggores permukaan kayu.
Dia melihat pantulan bayangan seseorang di permukaan air. Seorang gadis berambut merah panjang dengan raut wajah yang mengerikan. Raut wajah dengan ekspresi tidak jelas sebagai akibat dari banyaknya emosi yang bercampur jadi satu disana. Air mata kemudian mulai menggenang di pelupuk mata gadis tersebut dan berjatuhan ke atas permukaan kolam yang hening. Perlahan-lahan semakin deras.
Kushina menangis terisak. Kesedihan melingkupi dadanya dan membuatnya merasa sesak. Kedua tungkai kakinya melemas dan tak lagi kuat menopang tubuhnya sehingga ia jatuh terduduk di atas jembatan. Kushina meremas kain kimono yang membungkus kulitnya, berusaha menahan rasa sakit yang timbul karena kesedihan telah meremukkan hatinya. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa, ia mengangkat tangannya ke depan dada dan mulai memukuli dirinya sendiri dengan harapan rasa sakit itu bisa segera menghilang, namun usahanya sia-sia.
"Kushina…"
Sebuah tangan besar yang hangat menghentikan aksinya. Kushina menengadah dan kedua matanya bertemu dengan sepasang mata biru gelap milik sang ayah. Seberkas perasaan lega melingkupi dirinya. Mata Hakushi terlihat sangat lelah. Dan meskipun telah dibungkus dengan sangat rapi di balik senyuman yang hambar, Kushina tetap bisa melihat kesedihan mendalam yang terlukis pada wajah sang ayah.
"O-otou- san… Hiks.. Hiks.. A-aku.. Kaa-san.. Genki-san.. Bagai-"
Hakushi kemudian berjongkok dan memeluk putri satu-satunya itu. Dipeluk seperti ini membuat Kushina tertegun. Hakushi tidak pernah memeluk Kushina. Selama ini, ia selalu tampil sebagai sosok ayah yang kaku dan jarang sekali menunjukkan afeksi kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, perbuatannya saat ini sedikit menimbulkan perasaan tentram dalam diri Kushina.
"Tenanglah, Kushina. Semuanya akan baik-baik saja. Aku pasti akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu lagi. Jadi, sekarang berjanjilah pada ayah bahwa kau akan menguatkan dirimu. Kau putriku, Kushina. Kau tidak boleh membiarkan emosi menguasai rasionalitasmu. Jadi, sekarang berhentilah menangis."
Tangis Kushina justru semakin meledak mendengar perkataan ayahnya ini. Ia jarang sekali berbicara dengan ayahnya atau bahkan mendengar ayahnya berbicara. Kata-kata ayahnya barusan menyentuhnya dan membuatnya menangis semakin keras.
Setelah beberapa saat, tangisan Kushina mereda dan ia menatap Hakushi.
"Otou-san, apakah Genki-san benar-benar sudah mati karena melindungiku?"
Hakushi terlihat enggan menjawab hal ini dan justru malah memalingkan wajahnya ke seberang kolam.
Kushina mengerti arti dari wajah itu, jadi ia diam saja. Tangisnya serasa ingin pecah kembali tapi ia berusaha sekuat tenaga agar emosinya tidak tumpah keluar. Ia menahan semua itu dengan menggigit bibirnya. Apa yang dialaminya semalam ternyata memang bukan mimpi. Menyaksikan Genki Uzumaki dihunus katana karena melindunginya ternyata juga bukan mimpi. Ketika itu, Kushina tidak menyadari keberadaan seorang shinobi yang berusaha untuk membunuhnya, sehingga Genki bergegas memosisikan dirinya di antara mereka untuk melindungi Kushina. Akan tetapi karena tidak siap, nyawa Genki malah melayang saat ia melakukan aksi heroik tersebut. Kushina merasa bahwa dirinyalah penyebab kematian Genki. Ia yang mengajak Genki untuk mencari ayah dan kakaknya, serta membuat Genki harus kehilangan nyawa karena melindunginya.
Hakushi kemudian membantu Kushina berdiri dan menyerahkannya kepada pelayan yang sedari tadi sudah berdiri di dekat mereka. Sebelum Kushina berjalan menjauh, Hakushi menepuk pundak Kushina.
"Kushina, istirahatlah. Datang temui aku ketika emosimu sudah stabil."
Kushina mengangguk lemas sebelum berjalan meninggalkan ayahnya.
Hakushi menatap punggung putrinya yang berjalan semakin jauh. Setelah Kushina tidak terlihat lagi, ia mengalihkan pandangannya jauh ke horizon. Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Sebuah hari baru telah dimulai. Hakushi hanya bisa berharap semoga saja ini adalah pertanda dari adanya harapan baru untuk ia dan keluarganya.
Beberapa waktu yang lalu, ia mendapat informasi bahwa sekutu terbesar mereka, Konoha, akan segera mengirimkan sebuah tim yang akan menolong keadaan disini. Tim itu diperkirakan akan tiba sore nanti. Hakushi lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ada banyak hal yang akan mereka bahas nanti, jadi sebaiknya sekarang ia segera mempersiapkan kedatangan mereka.
-000-
Sekujur tubuhnya terasa sangat lelah setelah berlatih selama seharian. Begitu lelahnya sampai-sampai Minato Namikaze ,yang terkenal sebagai salah satu ninja paling bersih di kalangan teman-temannya, langsung tidur tanpa membersihkan diri terlebih dulu. Minato langsung tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal. Jarang sekali ia bisa merasakan tidur sepulas ini. Akan tetapi, tidur pulas itu tidak bisa bertahan lama. Setelah selang waktu 4 jam setelah ia mulai tertidur, sensei-nya menerobos masuk ke dalam kamarnya dan membuat keributan. Sepertinya, senseinya habis mabuk-mabukan karena aroma sake yang keras tercium dari mulutnya setiap kali ia berbicara.
Minato merasa sangat kesal karena Jiraiya mengganggu tidurnya pada waktu-waktu yang sangat krusial, yaitu saat mimpinya sedang mencapai klimaks. Meski ia tidak ingat lagi tentang mimpinya begitu matanya terbuka, ia tetap merasa kesal karena ulah gurunya yang mengganggu tidurnya. Minato hampir meneriaki sensei-nya karena mengira ini adalah salah satu hari dimana Jiraiya akan menerobos masuk kamarnya dan mengacau karena mabuk, namun melihat Jiraiya dengan wajah yang serius begitu membuat Minato berpikir kalau sesuatu yang serius pasti telah terjadi.
Butuh waktu lebih lama dari biasa bagi Minato untuk mencerna isi dari misi yang disampaikan Jiraiya. Hal itu tidaklah mengherankan lantaran kepalanya terasa sakit setelah dibangunkan secara mendadak dan karena rasa kantuk yang masih menempel padanya. Setelah merasa Minato sudah mengerti, Jiraiya lantas segera pergi dan menyuruh Minato untuk segera berkemas.
Sekarang, disinilah Minato. Berdiri di gerbang utama Konoha dengan 2 jonnin, Atsushi Yamamoto dan Toshiro Kurosawa. Sedangkan orang yang mengumpulkan mereka sekaligus bertugas sebagai kapten dari tim sendiri belum menampakkan batang hidungnya.
Minato masih merasa badannya belum pulih dari keletihan sehabis latihan kemarin, tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah menjadi konsekuensi seorang ninja. Ia tidak bisa menolak sebuah misi. Terutama misi ini berhubungan erat dengan keselamatan seseorang. Ia akan melaksanakan misi ini dengan sebaik-baiknya dan membawa pulang keberhasilan. Meski sangat percaya diri dengan kemampuannya, Minato tetap tidak akan meremehkan musuhnya nanti. Apapun yang terjadi ia tidak boleh sampai lengah.
Minato menghela napasnya. Kepulan udara hangat keluar dari mulutnya. Benar juga, sekarang sudah mulai memasuki musim gugur. Pantas saja Minato merasa sedikit dingin. Minato kemudian merapatkan jaketnya.
Tak lama kemudian, Jiraiya tiba dan bergabung bersama mereka. Ia melemparkan senyum lebar khas miliknya kepada semua orang.
"Maaf, maaf aku terlambat. Tadi aku bertemu dengan teman wanitaku di jalan, jadi aku harus menyapanya lebih dulu. Kemudian obrolan kami berlanjut dan ia mengajakku ke motel. Jadi aku meno-"
"Sensei."
"Hn? Ya?"
"Ceritanya nanti saja. Kita harus berangkat sekarang." Minato sebenarnya sudah tahu kemana arah cerita Jiraiya, karena itulah ia menghentikannya sebelum benar-benar terlambat.
"Iya. Iya." Jiraiya melemaskan pundaknya dengan kecewa. Sepertinya tidak ada yang tertarik mendengarkan ceritanya. Baiklah. Dia akan menyimpannya untuk lain kali.
Jiraiya lalu berdiri di hadapan timnya. Wajahnya telah berubah. Sekarang ia terlihat lebih serius.
"Kita berangkat sekarang." Jiraiya memberikan aba-aba. Ketiga ninja lainnya mengangguk dan mulai mengikutinya berlari menembus kabut di pagi hari.
Di sela-sela larinya, Minato menatap ke langit. Benda langit yang memiliki warna sama dengan rambutnya mulai terlihat. Matahari mulai menyingsing seakan mengumandangkan hari baru telah dimulai. Saat sebuah hari baru telah dimulai artinya sebuah permulaan baru juga dimulai. Dan setiap permulaan pasti memiliki harapan.
To Be Continue…
Catatan:
Sake: arak Jepang
Futon: matras sebagai alas tidur
Okaa-san: ibu
Otou-san: ayah
Ojou-sama: nona/nyonya muda
Author's note:
Halo, readers!
Terimakasih banyak untuk review-nya. Review-review kalian sangat menggugah semangat saya untuk lanjut menulis chapter ini.
Dan untuk yang bertanya apakah setting cerita (latar tempat) masih di dunia shinobi, jawabannya adalah ya. Hanya saja, saya mengubah latar belakang Kushina. Kushina tidak terlahir dan dibesarkan di keluarga ninja, tetapi merupakan seorang nona muda yang lahir dari keluarga terhormat di desa Uzushiogakure yang non-shinobi. Bagaimana? Semoga jawaban ini memuaskan rasa penasaran kalian. Semoga cerita ini tetap bisa dinikmati oleh para pembaca sekalian. :)
Silakan kembali memberikan tanggapan kalian melalui review. Setiap review sangat saya hargai dan akan saya jadikan masukan untuk chapter berikutnya. Terimakasih.
Best regards,
J. Meredith
