A Day to Remember

By: J. Meredith

Warnings: Adult Theme, Violence, Sexual 15+

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Chapter 3 : Falling Leaves

Cakrawala senja yang biasanya hangat berlimpah ruah dengan warna oranye keemasan, hari ini justru bermuram durja disimbahi oleh warna abu kehitam-hitaman. Gumpalan awan hitam satu per satu mulai bermunculan, bertegur sapa sejenak sebelum kemudian bergabung menjadi gumpalan awan yang lebih besar. Dalam suara gemuruh, awan-awan tersebut saling berbisik dengan nada simpatik. Jauh di bawah mereka, orang-orang dengan pakaian serba hitam sedang membisu di dalam sendu.

Nyanyian doa dan mantra yang dilantunkan oleh sekelompok pendeta bergema di seluruh penjuru rumah. Partisi kayu yang memisahkan ruangan-ruangan di rumah itu sengaja dibuka lebar. Mereka yang tengah berduka percaya bahwa dengan melakukan hal ini, semua arwah yang ada di rumah akan mendengar nyanyian doa tersebut dan dapat pergi ke dunia selanjutnya dengan tenang. Selanjutnya, salah seorang dari pendeta tersebut maju ke tengah pelataran rumah. Di tangannya, sebuah lilin putih berdiri dengan tegap. Sinarnya yang terang begitu kontras dengan suasana yang ada di rumah itu saat ini. Kemudian, ia meletakkan lilin tersebut tepat di tengah pelataran rumah, membaca mantra sejenak, membungkuk hormat, lalu kembali ke posisinya di antara kawanan pendeta. Lalu, satu persatu dari anggota keluarga, yang sedari tadi berdiri di sisi pelataran rumah, juga ikut maju dan menghampiri lilin tersebut. Demikian pula mereka melakukan dengan persis hal yang dilakukan oleh pendeta itu tadi. Berdoa, membungkuk hormat, lalu kembali ke posisi masing-masing.

Yang terakhir menghampiri lilin tersebut adalah Kushina. Mata violetnya menatap lilin tersebut dengan tatapan kosong. Bibirnya komat-kamit tanpa suara, namun bukan ucapan doa yang keluar dari sana. Melainkan kata umpatan. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ia semestinya mendoakan mereka yang telah berpulang, namun ia justru lebih ingin marah kepada mereka semua karena telah pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Mereka tidak semestinya pergi secepat ini, apalagi dengan cara begini.

Gejolak emosi yang tak tertahankan itu kemudian tumpah keluar dalam bentuk butiran air mata. Kushina terisak dengan keras. Ia jatuh menelungkup di depan lilin. Ia meremas semua benda yang bersentuhan dengan kulit tangannya. Tanah, rumput, kerikil, pokoknya entah apalah itu. Kushina tidak peduli. Raungan Kushina terdengar sangat pilu dan mereka yang mendengarnya merasa terhenyak namun tidak tahu harus melakukan apa.

Sepertinya bukan hanya manusia yang hatinya bergetar mendengar suara isak tangis Kushina. Awan-awan di langit juga ikut menangis, meneteskan tetes demi tetes air hujan ke muka bumi.

Butiran air hujan yang mulai berjatuhan mematikan nyala lilin putih di tengah pelataran. Kumpulan orang-orang berpakaian serba hitam mulai berhamburan meninggalkan pelataran saat hujan jatuh mengenai mereka. Termasuk para pendeta juga ikut berteduh di bawah atap di pinggir pelataran rumah. Terkecuali Kushina. Ia tetap mematung di posisinya. Membiarkan dirinya basah kuyup oleh hujan. Kimono hitamnya yang basah mulai melekat erat membalut tubuhnya. Rambut merah panjangnya yang berserakan di tanah telah bercampur dengan lumpur. Namun, Kushina tetap tidak peduli. Ia tetap menelungkupkan kepalanya di atas tanah.

Semakin lama, hujan turun semakin deras. Rintik-rintiknya tidak lagi terasa selembut di awal, melainkan mulai terasa seperti pecutan di kulit. Kushina merintih sedikit. Tidak apa-apa, pikirnya. Ini tidaklah seberapa baginya. Akan tetapi, lambat laun ia tidak lagi merasakan air hujan jatuh mengenai dirinya. Padahal suara hujan yang begitu deras masih terdengar. Penasaran dengan apa yang terjadi, Kushina mendongak menatap ke langit.

Aneh sekali. Langit nampak sangat biru. Sebiru langit saat di musim panas. Dan tidak hanya langit yang berubah warna menjadi biru muda, ada matahari juga. Matahari itu berwarna kuning keemasan dan sinarnya sangat menyilaukan mata. Kushina sampai terpaksa menyipitkan mata. Tapi, Kushina lalu menyadari ada yang aneh dengan matahari itu. Matahari itu tersenyum dengan lembut kepadanya. Samar-samar bayangan matahari tersebut kemudian terlihat seperti wajah seorang anak laki-laki yang memiliki mata dengan warna sebiru langit di musim panas. Oh, ternyata dia memang adalah seorang anak laki-laki. Bukan langit yang biru dan juga bukan matahari yang kuning. Dan kemudian, dari bibir anak lelaki itu, terucaplah sebuah kalimat dengan nada tenang yang tidak akan pernah Kushina lupakan.

"Kau boleh tetap menangis. Jangan khawatir. Aku akan melindungimu dari hujan."

Dan anak lelaki tersebut mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman yang sangat menawan.

Kushina terpaku sesaat. Ia menatap sosok pelindungnya cukup lama. Mata violetnya menelusuri setiap inci wajah anak laki-laki itu dengan seksama. Sepertinya ia seusia Kushina juga. Wajahnya masih sangat muda dan suaranya tadi juga masih sangat ringan. Mata Kushina lalu beralih pada benda yang sedari tadi dipegang anak laki-laki tersebut di atas kepalanya. Sebuah rompi?

Ia juga menyadari bahwa anak laki-laki itu tidak melihat ke arahnya sama sekali. Ia melihat lurus ke depan, seakan memberi ruang privasi bagi Kushina untuk tetap menangis. Ia betul-betul melaksanakan tugasnya melindungi Kushina dari hujan dengan sangat baik.

"Pergilah. Aku sedang ingin sendiri", Kushina berkata dengan suara lirih.

Anak laki-laki tersebut menoleh ke arahnya sekilas, namun tetap berdiri di dekatnya dan membentangkan rompinya di atas Kushina.

"Pergi. Selagi aku masih berkata dengan halus."

Ia tak bergeming.

"PERGI! AKU BILANG PERGI KAU!", Kushina berteriak dan berusaha mendorongnya menjauh. Namun rasanya sulit sekali. Ia tetap berdiri dengan tegap di sana. Menolak untuk beranjak sedikitpun.

"Kushina, sudah cukup", suara berat Hakushi Uzumaki membuat Kushina terdiam. Hakushi yang dipayungi oleh seorang dayang menghampiri Kushina dan anak laki-laki tersebut. Anak laki-laki tersebut segera membungkuk hormat kepada Hakushi.

"Kembali ke dalam rumah dan beristirahatlah."

Kushina diam saja.

Hakushi kemudian beralih kepada anak laki-laki yang asing tersebut. Mata tuanya menatap anak laki-laki itu dengan pandangan menyelidik.

"Apa kau murid Jiraiya? Aku rasa aku belum bertemu denganmu tadi. Siapa namamu, nak?"

"Hai. Nama saya Minato Namikaze dari Konohagakure." Sekali lagi, Minato membungkuk hormat kepada Hakushi.

Kushina melirik Minato. Jadi namanya Minato?

"Baiklah, Minato-kun. Setelah melihatmu melindungi putriku dari hujan tadi, aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi. Tolong antarkan Kushina ke kamarnya agar ia bisa beristirahat."

"Hai, Uzumaki-sama", Minato lalu berusaha membantu Kushina untuk berdiri. Kushina menepis tangannya.

"Aku bisa sendiri."

Dengan langkah gontai, Kushina berjalan melewati Hakushi dan dayangnya. Minato mengikuti Kushina dengan tetap memayunginya menggunakan rompinya. Hakushi menatap kepergian mereka berdua ke dalam rumah, sebelum kemudian berjalan pergi ke arah yang berlawanan.

-000-

Sesuai dengan waktu yang telah diperkirakan sebelumnya, Tim Jiraiya tiba ketika hari sudah menjelang senja. Karena mereka tiba bertepatan dengan saat upacara berkabung sedang berlangsung, maka untuk menjaga rasa hormat mereka, Tim Jiraiya menunggu beberapa saat di luar gerbang rumah. Tak lama kemudian, seorang pemuda berperawakan kecil, yang sepertinya adalah salah seorang dari pelayan yang selamat, menghampiri dan membisikkan sesuatu ke telinga Jiraiya. Jiraiya mengangguk dan mengikuti pelayan tersebut masuk ke dalam rumah. Ia juga mengisyaratkan Minato beserta anggota tim yang lain untuk mengikuti masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, pelayan tersebut berkata bahwa hanya Jiraiya yang ingin ditemui oleh Hakushi Uzumaki terlebih dahulu. Ia hanya mempersilahkan Minato, Atsushi, dan Toshiro untuk menunggu sementara di pelataran rumah, tepatnya dimana upacara sedang dilaksanakan.

Minato berdiri bersandar pada salah satu pilar yang ada disana, Toshiro duduk di serambi di samping pelataran rumah, sedangkan Atsushi pergi meninggalkan mereka berdua dengan alasan ingin pergi ke kamar kecil. Minato mengamati proses upacara tersebut. Sekumpulan pendeta, entah aliran apa itu, duduk bersila membentuk lingkaran di salah satu sudut pelataran. Mereka mengalunkan mantra yang Minato tidak ketahui dengan jelas apa maknanya. Para pendeta itu berpakaian serba putih, berlawanan dengan pihak keluarga berduka yang berpakaian serba hitam. Dan di antara keluarga yang tengah berkabung tersebut, pandangan Minato jatuh pada sesosok gadis bermata violet dengan rambut merah panjang. Mata gadis itu kosong. Ia melihat tapi tidak benar-benar melihat. Raut wajahnya terlihat sangat kacau.

Kemudian, salah satu dari pendeta tersebut bangkit berdiri dan berjalan ke tengah-tengah pelataran sambil membawa sebuah lilin putih. Ia meletakan lilin yang menyala itu disana, mengucapkan sesuatu, membungkuk hormat, lalu berbalik pergi. Tak lama kemudian, seluruh orang yang hadir disana melakukan hal yang sama. Dan yang terakhir adalah giliran gadis muda tadi. Gadis tersebut berjalan dengan langkah gontai ke arah lilin. Tidak seperti orang lain, Minato melihatnya mengucapkan kalimat yang tidak jelas tanpa suara. Dan tiba-tiba, gadis itu ambruk ke tanah dan menangis terisak-isak. Ia mulai meraung-raung dan mencakari permukaan tanah dengan kukunya. Wajahnya ia benamkan di tanah.

Minato iba melihat keadaan gadis itu. Sesaat, muncul suatu getaran yang tidak bisa ia artikan di dalam dadanya. Melihat gadis itu membuatnya teringat akan dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu saat ia berada di pemakaman kedua orang tuanya. Apalagi, sepertinya umur mereka tidak jauh berbeda.

Minato lalu merasakan tetes-tetes air mulai berjatuhan membasahi wajahnya. Ia menengadah ke langit dan melihat gumpalan awan hitam mulai memuntahkan air hujan. Segera, orang-orang yang berkumpul di pelataran itu menyelamatkan diri mereka dari kebasahan dengan berteduh di bawah atap. Namun berbeda dengan gadis tadi. Ia tidak bergeming.

Minato terus saja memperhatikannya. Semenit, dua menit, dan waktu terus berlalu. Namun, gadis itu tetap tak beranjak dari sana. Hujan juga mulai turun semakin deras. Celaka, pikir Minato. Entah apa yang membuat Minato kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati gadis tersebut.

"Hei, Minato! Apa yang mau kau laku-..", Toshiro berhenti sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya ketika melihat Minato membuka rompinya untuk melindungi Kushina dari hujan. Mungkin Toshiro tidak mengira Minato akan melakukan hal tersebut. Dan menurut Minato, Kushina sendiri juga tidak menduga mendapat perlakuan seperti itu dari orang asing seperti Minato.

Sama seperti sekarang, saat Minato sedang mengantar Kushina menuju ke kamarnya. Kushina diam seribu bahasa dari tadi. Alih-alih mengucapkan terima kasih pada Minato, ia bahkan tidak menoleh padanya sama sekali sejak mereka memasuki rumah. Minato juga merasa tidak enak untuk membuka percakapan terlebih dahulu dengan Kushina.

Minato menyadari rambut merah Kushina ternodai oleh lumpur. Rambut merah itu seakan mempunyai daya tarik magis yang mendorong Minato untuk menyentuhnya. Rasanya ia tidak ingin melihat benda seindah itu dikotori oleh lumpur. Minato mengulurkan tangannya. Jemari Minato bergerak perlahan di antara helaian rambut Kushina, membelai surai yang halus itu dengan hati-hati.

Kushina tersentak kaget. Ia menatap Minato dengan tatapan terkejut. Pasangan bola mata violet kembar itu membelalak dengan ganas kepada pengusiknya.

"Apa yang kau lakukan?!", Kushina memekik kepada Minato.

"Ah, bukan begitu maksudku. Ano, rambutmu berlumpur. Jadi aku berpikir untuk.."

Kushina menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Mau apa bocah asing ini? Mengapa ia selalu ikut campur dengan urusannya?

"Bukan urusanmu, ttebane!" Kushina menepis tangan Minato dengan kasar. "Jangan ikuti aku, ttebane! Pergi kau!"

Kushina langsung berlari meninggalkan Minato. Minato terkejut, namun menyadari kalau ia mungkin memang agak keterlaluan barusan. Minato menatap punggung Kushina yang semakin menjauh. Di ujung lorong, Kushina berhenti di depan sebuah kamar dan melangkah masuk, setelah itu ia menutup pintunya dengan sekali hentakan.

Minato menghela napasnya. Ia tidak mengerti apa yang membuatnya melakukan hal barusan. Hanya saja, rambut merah Kushina benar-benar menawan di matanya.

Minato berbalik dan mendapati Toshiro Kurosawa terkekeh menatapnya. "Dasar anak-anak.."

Minato mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti, namun memutuskan untuk tidak bertanya maksud Toshiro barusan sama sekali.

"Ayo, ikuti aku. Jiraiya-sama memanggil kita untuk berkumpul."

Minato mengangguk dan mengikuti Toshiro.

Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah yang sepi dan lembap. Nampaknya rumah tua ini jarang dibersihkan atau mungkin memang jarang dihuni oleh pemiliknya. Di sepanjang lorong, tertata artefak-artefak antik dari berbagai jaman di atas meja jati super panjang. Debu menggunung di pojok-pojok lorong dan jaring laba-laba bergelanyutan pada langit-langit. Suara deritan lantai kayu mengikuti setiap langkah yang mereka ambil.

Toshiro berhenti di depan sebuah ruangan yang menurut Minato merupakan ruangan utama dari rumah ini. Toshiro kemudian mengetuk pintu tersebut. Sosok pelayan muda yang tadi menyambut mereka di gerbang depan kemudian muncul dari balik pintu. Ia mempersilahkan Toshiro dan Minato masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan tersebut, ada Hakushi, Jiraiya dan Atsushi.

"Siapa..", Hakushi menatap kedua tamu-nya yang baru bergabung dengan mereka, "dari antara kalian yang merupakan ninja medis? Tolong selamatkan putraku." Toshiro maju selangkah untuk menegaskan dirinyalah yang dimaksud Hakushi. Hakushi lalu menoleh pada pelayan dan menyuruhnya mengantar Toshiro ke kamar Haruda.

Setelah Toshiro dan pelayan itu keluar ruangan, Hakushi lalu berpaling kepada ketiga ninja di hadapannya.

"Pertama", Hakushi berdeham. "Sampaikan terimakasih-ku pada Hokage. Ia telah mengirimkan kalian kemari untuk membantu kami. Dan seperti yang baru saja kalian dengar, putra sulungku, Haruda Uzumaki, mengalami pendarahan hebat akibat penyerangan semalam. Satu-satunya orang dalam keluarga kami yang mahir dalam ilmu pengobatan tewas kemarin malam, sehingga tidak ada yang mampu mengobati Haruda. Dan orang itu adalah istriku, Kurumi Uzumaki."

Ia kemudian melanjutkan, "Selain Haruda, anggota keluargaku yang masih hidup adalah putriku, Kushina Uzumaki." Hakushi melirik Minato sekilas. "Kushina selamat karena dilindungi dari hunusan katana oleh sepupuku. Tapi sebagai gantinya, ialah yang tewas terhunus oleh katana tersebut."

"Kami turut berbela sungkawa atas kehilangan Anda, Uzumaki-sama. Jadi coba beritahu kami, apa yang sebenarnya sedang terjadi di Uzushiogakure? Aku tidak yakin kebakaran di rumah Anda semalam sebuah penyerangan biasa", Jiraiya bertanya dengan nada serius.

"Kau benar, Jiraiya. Penyerangan semalam memang bukanlah penyerangan biasa. Aku menduga itu adalah bentuk pemberontakan terhadap kepemimpinanku. Ada pihak tertentu yang ingin menghabisi keluargaku dan mengambil alih Uzushiogakure. Setidaknya, itulah tanggapanku soal penyerangan semalam. Dan aku merasa bahwa semua ini belum selesai. Mereka masih mengincar nyawa kami. Oleh karena itu, aku ingin setiap anggota keluargaku dikawal oleh satu ninja Konoha. Hanya sampai ketika kita akhirnya berhasil mengalahkan mereka dan mengetahui siapa dalang sebenarnya."

"Baiklah kalau itu permintaan Anda, Uzumaki-sama. Anda bisa mengkoordinasikan tim-ku."

"Oh, tidak. Koordinasi tim kuserahkan sepenuhnya padamu, Jiraya. Tapi, aku ada satu permintaan khusus," Hakushi kemudian berpaling kepada Minato. "Kushina kupercayakan padamu, anak muda. Jangan kau biarkan siapapun menyakitinya, Namikaze-san."

Minato tertegun sejenak. Kemudian ia mengangguk dengan mantap. "Nyawaku akan kupertaruhkan."

Haruda lalu tersenyum, "Baiklah. Kalian berdua boleh pergi sekarang. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Jiraiya."

Beberapa menit sudah berlalu semenjak mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut. Atsushi berkata kepada Minato bahwa ia ingin survei tempat ini terlebih dahulu. Atsushi kemudian melompat ke atas atap dan menghilang dari pandangan.

Minato juga memutuskan untuk segera menjalankan misinya. Jadi, disinilah ia sekarang. Berlari di atas atap menuju kamar ojou-sama yang memerlukan penjagaannya. Sambil berlari di atas atap, Minato mengamati sekelilingnya. Ternyata rumah ini lebih luas dari dugaannya. Rumah ini dikelilingi oleh pekarangan yang sangat luas. Dan uniknya, setiap kamar di rumah tersebut memiliki pintu yang langsung mengakses menuju ke pekarangan rumah.

Pada sebelah tenggara rumah tersebut, ada hamparan rumput yang hijau dengan beberapa pohon sakura di sekitarnya. Sepertinya daerah itu merupakan tempat dimana keluarga ini melakukan hanami saat musim semi tiba. Dan tidak jauh dari situ, ada sebuah kolam ikan koi kecil dengan jembatan kayu di atasnya. Sedangkan di sisi yang lain dari pekarangan rumah itu, terdapat sebuah onsen.

Minato menghela napasnya. Seandainya tidak terjadi pembantaian keji itu semalam, Kushina dan keluarganya pasti bisa berbahagia menikmati kebersamaan mereka di rumah yang indah ini. Tidak mengherankan bila Kushina begitu terpuruk seperti tadi, ia pasti menyalahkan dirinya sebagai penyebab kematian pamannya.

Minato kemudian berhenti di atas atap yang diyakininya sebagai ruangan yang tadi dimasuki Kushina saat terakhir mereka berpisah. Minato merasa perlu meminta maaf soal kejadian terakhir, jadi ia mengetuk pintunya.

"Jangan ganggu aku."

"Dengar, Kushina-san. Aku hanya ingin minta maaf soal kelancanganku tadi. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu jengkel. Aku hanya berniat untuk membersihkan rambutmu."

Tiba-tiba, pintu terbuka dalam satu hentakan cepat. "Siapa yang mengijinkanmu memanggil namaku, bocah matahari? Aku tidak ingin memaafkanmu. Aku membenci semua tentangmu! Rambut pirangmu! Mata biru langitmu! Senyuman bodohmu! Rompimu! Dan tanganmu yang menyentuh rambutku! Aku benci kau!" Kushina berteriak ke arah Minato. Minato awalnya terkesiap dengan semua ledakan emosi Kushina, namun kemudian sebuah senyuman mengembang di bibirnya.

"Bocah matahari berambut pirang dan bermata biru langit dengan senyuman bodoh yang meminjamkanmu rompinya dan telah lancang menyentuh rambutmu ini bernama Minato Namikaze," Minato mengulurkan tangannya, "Dan ia berharap bisa menjadi temanmu."

Kushina menatap anak laki-laki di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Bocah ini pasti sinting 'kan? Bagaimana mungkin ada manusia yang tersenyum sambil memperkenalkan dirinya dan berharap menjadi temannya setelah dimaki-maki olehnya? Dia pasti tidak punya akal sehat. Tidak salah lagi, Kushina. Kau telah bertemu yang terburuk dari yang terburuk. Yang tersakit dari semua pesakitan. Bocah gila keras kepala yang bernama Minato Namikaze.

To be continue…

Catatan:

Ojou-sama: nona/nyonya muda

Hanami: kegiatan menyaksikan bunga sakura bermekaran di musim semi; biasanya dilakukan dengan berpiknik di bawah pohon sakura

Author's Note:

Halo, readers!

Maaf atas keterlambatan update-nya. Saya baru saja selesai ujian sehingga baru sempat update chapter ketiga sekarang. Semoga gak mengecewakan readers yang udah sabar nunggu lama ya. Dan untuk Nu shi Hottest Queens yang bertanya kenapa harus nunggu 8 reviews, hmm, awalnya saya mengira untuk mendapat 8 reviews akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi, selama menunggu 8 reviews terpenuhi, saya punya waktu untuk mengerjakan chapter berikutnya. To buy me some time to write for the next chapter Akan tetapi, setelah saya pikir lagi, saya tidak akan menunggu sampai 8 reviews lagi. Segera setelah chapter berikutnya siap, saya akan langsung meng-update-nya. Plus, saya juga sudah mengganti keterangan di summary sesuai saran Amu B, yaitu dari AU menjadi AR. Terima kasih atas sarannya.

Last, but not least. Terimakasih kepada semua readers dan reviewers. Keep reading and reviewing. Setiap review sangat saya apresiasi.

Best regards,

J. Meredith