Veei
###7###
Disclaimer :
Naruto © Masashi K.
Harry Potter © J.K. Rowling
rating : T
π SasuNaru π
ππDraRryππ
•
•
•
warning!
fic ini mengandung BL atau yaoi. Dengan segala hormat, yang tidak suka yaoi bisa menepi atau meninggalkan fic ini...
Kelas PTIH yang diajar oleh wanita kodok sok cantik yang selalu menganggap Harry dan Professor Dumbledore seorang pembual karena mengatakan tentang kebangkitan Voldemort saat final turnamen Triwizards, sehingga setiap kali pelajarannya selalu diiringi dengan adu argumen antara trio emas Gryffindor dengan Professor Umbridge dan diakhiri dengan pemotongan point dari asrama singa. Karena Professor Umbridge hanya mau mengajarkan teori saja, sehingga Harry dkk. sangat menentang langkah Kementerian karena kurangnya pengalaman praktik Pertahanan akan menjadikan mereka lebih rawan terhadap serangan Lord Voldemort dan pengikutnya, ditambah juga dengan ujian O.W.L yang harus dihadapi Harry Potter dan teman-teman seangkatannya, sehingga Hermione meluncurkan sebuah inisiatif; membentuk kelompok siswa dimana Harry akan mengajarkan praktik Pertahanan terhadap Ilmu hitam.
Awalnya Harry menolak akan usul Hermione apalagi para murid yang tidak tahu akan kebenarannya mulai menjahui dirinya sehingga membuatnya semakin tidak yakin akan ide Hermione, karena didesak terus-terusan akhirnya ia mengalah dan mau menjadi pembimbing praktik PTIH yang diusulkan Hermione. Sehingga pada akhir pekan saat kunjungan di Hogsmesde Hermione mengumpulkan murid-murid yang menolak akan cara mengajar Professor Umbridge di Hog's Head dan masuklah 24 murid dari berbagai kelas yang bergabung, dan dengan semangat Hermione menyuruh mereka mengisi data diri di formulir yang ia siapakan sebelumnya, tentunya dengan tambahan mantra penangkal yang tidak diketahui yang lainnya. Setelah pertemuan mereka selesai Harry dan kedua sobat karibnya ingin kembali ke kastil Hogwarts, akan tetapi diperjalanan mereka berjumpa dengan Draco yang sedang mengandeng tangan kanan Naruto dengan erat, tanpa menyapa ataupun anggukan Draco melewati ketiga Gryffindor begitu saja, seakan memang menghindari salah satu dati mereka. Merasa diabaikan oleh sang rival, Harry mencekal tangan Naruto sehingga menghentikan laju Draco.
Merasa jalannya terganggu ia mendeathglare satu-satunya Potter yang berani menganngunya "Apa-apaan kau Potter?"
"Aku ada perlu dengan Naruto-san, jadi bisa kau melepaskannya?" Tanya Harry ketus.
"Jangan harap, kau bisa mengatakannya disini kalau kau mau Potter!"
"Kau... seenaknya saja kau mengaturku"
"Urusan Naruto, urusanku juga Potter"
"Sudahlah Dray, aku akan ikut dengan Harry. Kau kembalilah dulu!" Lerai Naruto dengan sabar, mungkin ini rasanya menjadi Kakashi-sensei yang selalu melerai pertengkarannya dengan Sasuke.
"Tidak, aku akan ikut dengan kalian" setelah diputuskan, kini Draco diapit oleh Naruto dan Harry menuju ke kastil setelah mereka menaiki kereta yang di geret(?) oleh Thestral.
…÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷…
Di Markas Orochimaru, sasuke tengah nengawasi kerja Orochomaru dalam memeliti dan menulis ulang tekhnik dimension travel yang ditinggalkan oleh Naruto,
"Kfufufufufu ... apa kau tertarik dengan tubuhku Sasuke-kun, hingga kau sejak tadi selalu mengawasiku?"
"Aku tertarik pada tubuhmu? Bukankan yang benar kau tertarik padaku Orochimaru?"
"Kau melupakan kata pernah Sasuke-kun" dengan senyum ularnya ia menbalik argumen Sasuke.
"Lupakan! Bagaimana dengan barang pesnanku"
"Masih dalan tahap penyelesaian, mungkin dua atau tiga minggu lagi baru selesai dengan sempurna"
"Selama itu?"
"Mau bagimana lagi... akan cukup berbahaya dan rentan gagal jika tergesa-gesa Sasuke-kun...dan resiko yang paling fatal kematian untuk Naruto-kun"
"Kuharap proyek ini sukses"
"Kfufufufu... jika ini berhasil, kuharap kau tidak lupa padaku,"
"Aku akan kembali" dengan langkah kasual ia keluar dari ruangan yang penuh akan hal-hal yang malas ia ketahui.
Sore hari setelah ia sampai di Konoha tepatnya di apartemen Naruto, ia mendapat pesan dari Karin untuk segera ke ruang Hokage, ''hah... merepotkan" gerutunya, dengan malas ia kembali keluar untuk menuju ke kantor Hokage. Setelah sampai, disana sudah ada Kakashi,Sakura dan Tsunade serta kedua orang tua Sakura dan Shizune "Ada apa lagi?" Tanyanya malas.
"Aku mengumpulkan kalian untuk membahas kembali tuntutan Haruno-san atas kehamilan putrinya, sesuai permintaan Sasuke untuk menyelidiki kembali sisa sperma ditabung yang telah Sakura ambil" jelas Kakashi
"Shizune, bacakan!" Perintah Tsunade
"Hai' Tsunade-sama" membuka berkas yang sebelumnya ia bawa "dari hasil yang diperoleh tim laboratorium bahwa sisa sperma yang berada ditabung yang diambil oleh Sakura Haruno bukanlah sperma Uchiha Sasuke. Dan disini tertulis bahwa pemilik sperma tersebut adalah Makoto Ichida (OC), seorang shinobi dari Otogakure" menyerahkan selembar potho kepada ayah Sakura "dia adalah Makoto Ichida, umur 22 tahun seorang jonin dari Oto, beberapa orang mengatakan ia sangat mirip dengan Uchiha Sasuke kecuali gaya rambut serta warna kulitnya yang menyerupai Sai,"
"Ke...kenapa ada nama Sasuke-kun ditabung itu?"
"Sesuai undang-undang Hokage kedua, setiap shinobi pria harus memberikan Spermanya ketika berumur tepat 19 tahun karena dianggap sudah mengalami kematangan diri, yang bertujuan agar beberapa clan asli Konoha tidak punah, dan karena aku adalah satu-satunya Uchiha yang tersisa, aku diwajibkan untuk mengumpulkannya, lagian aku tidak suka sperma ku nganggur dan terkurung dalam tabung kecil itu, aku menyuruh Makoto untuk mengantikanku, dan dengan senang hati ia menberikan spermanya sebagai balas budi karena aku beberapa kali membantunya dalam kesulitan. Soo... jadilah seperti sekarang, aku terhindar dari beberapa masalah yang merepotkan" meminjam trandmark Shikamaru ia menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya dengan panjang lebar.
"Ini pasti bohongkan hiks... pasti bohong" tolak Sakura
"Terserah kau mu percaya atau tidak, jika kau memang hamil anakku seharusnya hau sudah tau resikonya, clan Uchiha melakukan pernikahan dalam clan untuk mencegah kematian ibu dari sang janin"
"A,..apa maksudmu?"
"Kau lupa kenapa Uchiha menjadi clan terkutuk?" Mendapat gelangan kepala dari kedua wanita Haruno dihadapannya "selain kerena Sharingan, tapi juga karena setiap wanita luar clan yang menikah dengan clan uchiha pasti mati saat mereka hamil"
"Kenapa begitu?" Tanya Mebuki Haruno dengan raut wajah lega. Lega karena putrinya tidak membawa benih Uchiha yang bisa menbawa hal buruk pada putri satu-satunya.
"Aku tidak percaya"
"Itu semua benar nak... dulu saat Uchiha masih berjaya tidak ada satupun Uchiha yang menikah dengan orang dari clan luar selain clan Uzumaki yang memiliki harapan hidup tinggi dan chakra yang besar" dengan sabar Kizashi menjelaskan hal-hal yang ia ketahui tentang kutulan Clan Uchiha.
Dengan tergesa Sasuke keluar dari kantor Hokage menuju ke Ichiraku Ramen, entah mengapa akhir-akhir ini ia sering menyempatkan diri ke Ichiraku yang dulu merupakan tempat favorit dari Narutonya, setelah sampai di Ichiraku Ramen ia disapa dengan hanggat oleh pemilik kedai yang tak lain ialah panan Teuchi, seorang baik hati yang dulu menerima Naruto dengan kelapangan hatinya. Menginggat Naruto secara tak sadar membuatnya menarik kedua ujung bibirnya, dengan hati yang tenang dan berdebar ia menyapa pemilik kedai serta putrinya. "Selamat sore paman" menghilangkan raut datar khas Uchihanya.
"Oh... Sasuke-kun... mau pesan apa?"
"miso ramen ukuran jumbo"
"Pesananmu semakin hari semakin mirip dengan Naruto-chan Sasuke-kun,,,, ngomong-ngomong apa Naru-chan mendapat misi yang membutuhkan waktu lama, sehingga sudah satu bulan ini ia belum kembali dari misi?" Tanya Ayame yang sudah merindukan remaja pirang yang menjadi pelanggan favoritnya.
Mendengar pertanyaan dari Ayame membuat hatinya kembali merasakan kenencian terhadap Konoha terutama pada orang-orang yang telah menghianati Naruto. "Sebenarnya Naruto kekuar dari kesatuan shinobi Konoha dan keluar dari desa Ayame-san" tidak masalah baginya memberitahukan yang sebenarnya kepada seorang yang sudah dianggap Narutonya sebagai keluarga, daripada membuat mereka cemas karena menanti kepulangan Naruto yang mungkin tidak akan kembali ke desa ini.
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa Ayame-san, sebaiknya kita mendo'akan keselamatannya,"
"Apa kau akan menyusul Naru-chan Sasuke-kun?" Membawa pesanan Sasuke, paman Teuchi ikut menimpali percakapan mereka, toh kebetulan saat ini masih sepi pelanggn jadi ia masih bisa berbincang dengan seorang yang ia tau sangat disayanggi oleh Naruto. Tidak,tidak mungkin yang benar sangat dicintai oleh Naruto, karena dia tahu dari binar kedua mata Naruto saat membahas Sasuke.
"Aku akan menyusulnya paman, dan mungkin akan menetap serta tinggal dengan Naruto."
"Apa kamu mencintai Naru-chan Sasuke-kun?" Tanya Ayame antusias
Uhuk... beruntung ia telah menelan mie yang ada dalam mulutnya sebelumnya, jadi ia tidak harus mengalami kematian mendadak karena tersedak oleh ramen yang ada dimulutnya "kenapa kau menanyakan hal aneh seperti itu Ayame-san?"
"Aneh? Tidak juga... dulu, tiga tahun yang lalu aku pernah menanyakannya pada Naru-chan apa ia suka denganmu, sebelumnya ia tidak jujur menjawabnya, kau tahukan kalau Naru-chan tidak pandai berbohong...karena kami desak akhirnya ia ngaku kalau dia sebenarnya mencintaimu, tapi karena itu tidak mungkin terjadi akhirnya ia menahan dan mengubur semua perasaannya padamu," jelas Ayame sambil menompang kepalanya dengan tangan kanannya dimeja.
"Apa kau serius Ayame-san?" Dengan penuh harap ia bertanya pada Ayame untuk memastikan kebenarannya.
"Tentu saja, duarius malahan" dengan senyum dibibirnya ia meyakinkan Sasuke akan semua ucapannya.
"Aku selesai, ini uangnya Ayame-san dan terimakasi informasinya" Dengan hati berbungga ia kembali ke apartemen Naruto dan disana telah ada ketiga anggota timnya yang tengah menonton tv yang menyiarkan film lama yang diputar ulang. Ia ingat film tersebut, karena dengan seenaknya sutradara film tersebut menyutingnya dan timnya saat melawan ninja bayaran ketika di Yukigakure untuk menyelamatkan putri dari Yukigakure . #taukan
"Aku baru tahu ternyata kau dan Naruto sudah menjadi duet maut semenjak kecil Sasuke" komentar Suigetsu. Sasuke yang mendengar komentar Suigetsu hanya mengendus bosan dengan salah satu anak buahnya yang selalu bicara seenaknya.
"Sasuke-kun aku sudah membelikan pesananmu, ramen instan dan beberapa kilo jeruk serta apel" dengan senang Karin memberitahu Sasuke.
"Terimakasih" menberikan senyumnya pada Karin, walaupun hanya sedikit tapi sudah berpengaruh besar pada satu-satunya wanita ditimnya.
"Akhir-akhir ini kau bertingkah aneh Sasuke, sifatmu akhir-akhir ini lebih mirip dengan tingkah Naruto-san" walaupun pelan tapi suara bassnya dapat didengar oleh ketiga temannya.
"Benar apa yang dikatakan Juugo, kau mirip seperti wanita yang sedang mengalami nyidam, dengan muntah dipagi hari, malas makan selain makan ramen, jeruk, dan apel, bahkan kau melupakan tomatmu Sasuke" mendengar komentar aneh Suigetsu dengan ringan ia melempar kaleng jus jeruk yang sedang dipegangnya kekepala Suigetsu.
"Adaww, apa-apaan kau Sasuke"
"Jaga bicaramu!"
"Ok... ok Sasuke-sama."
…
(Hogwarts)
Setelah makan malam di Aula Besar, Naruto dan Harry berjalan menuju ke menara Astronomi, entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Sesampai dimenara astronomi, selama beberapa saat mereka hanya diam hingga Naruto memecah keheningan tersebut.
"Ada apa kau membawaku kemari Harry?"
"Errr... Naruto-san apa kau mencintai Draco?" Dengan semu merah muda dikedua pipinya yang berlesung sehingga terlihat lenih manis saat tersenyum,ia bertanya sambil memainkan ujung kemejanya..
"Tidak, aku menganggap draco sebagai adikku saja"
"Benarkah? Apa tidak lebih?" Tanya Harry antusias
"Tentu saja, aku menyukai orang yang lebih tua dariku" dengan senyum manis ia mengacak rambut Harry yang mulai memanjang. "Apa kau menyukainya?"
"Tidak... manamungkin aku menyukai si ferred itu"
"Oh... baiklah sebaiknya kita kembali sebelum ada guru yang lewat sini"
"Tenang saja... aku membawa jubah gaib milik ayahku"
"Hemm... syukurlah"
"Naruto-san"
"Panggil Naruto-nii atau nii-san saja"
"Apa nii-san sudah memikirkan tawaranku? Kuharap nii-san mau, karena kehadirah ni-san pasti sangat membantu"
"Aku terima, tapi aku akan mengajak seseorang"
"Siapa?"
"Draco" dengan senyum mengembang ia mencoba mengoda Harry "lalu bagaiman dengan tempatnya?"
"Kenapa harus si Malfoy itu? Dan tempat... kami belum menemukannya" jawabnya murung.
"Kau tahu? Professor Snape bilang kalau di kastil Hogwarts ini memiliki sebuah ruangan yang akan memberikan apapun yang sedang kau butuhkan"
"Benarkah dimana?"
"Aku tidak tahu dimana tepatnya, tapi yang pasti ruangan itu pasti ada, berjalanlah bolak-balik sebanyak tiga kali dan fokuskan apa yang kau butuhkan!"
"Terimakasih informasinya nii-san dan juga sudah bergabung dengan ku"
"Tak masalah, ayo kembalai!"
…
Keesokan harinya disaat jam makan siang Neville menghampiri Harry dkk. dengan raut wajah senang ia memberitahukan kalau ia menemukan ruang kebutuhan yang diceritakan Harry sebelumnya, dengan penuh semangat Harry menyelesaikan makannannya lebih cepat lalu menuju kearah meja Slytherin untuk memanggil Naruto. Sudah menjadi pemandangan yang biasa Naruto mengungsi ataupun ditarik paksa oleh Draco untuk duduk dan makan disampingnya, awalnya ia mendapatkan tatapan meremehkan dan mencemooh dari beberapa siswa asrama Slytherin, terimakasih akan Tuan Muda Malfoy yang dengan kekuasaannya memberi delikan maut kepada mereka yang berniat mengusik kakak kesayangannya hingga membuat mereka bungkam.
"Nii-san kami menemukannya"
" benarkah? Bagus lebih cepat lebih baik."
"Mau langsung lihat?"
"Nanti saja,,,, aku belum selesai makan, kalian duluan saja!"
"Kau tahu tempatnya?"
"Aku bisa merasakan keberadaan kalian" mendengar jawaban Naruto, ia lalu keluar dari aula besar menyusul Ron, Hermione serta Neville yang sudah menunggu di depan pintu masuk Aula Besar. Mereka berjalan dengan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan dari murid lain mereka menuju lantai tujuh tempat dimana Neville menemukan ruang kebutuhan saat ia memerlukan kamar mandi untuk BAK(buang air kecil) sebuah pintu keluar dengan sendirinyadisebuah dinding batu dekat baju zirah (est lupa entah baju zirah atau patung). Setelah dirasa cukup sepi mereka lau berlari untuk mempersingkat waktu perjalannan mereka. Setelah mereka sampai disebuah dinding kosong Ron bertanya-tanya akan keberadaan pintu masuk ke ruang kebutuhan.
"Hanya dinding kosong?"
"Bagaimana kau menemukannya Neville?" Tanya Hermione penasaran
"Aku... kalau tidak salah... em...
"Berjalan bolak-balik sebanyak tiga kali dan menfokuskan apa yang kau butuhkan" sambung Harry menjelaskan.
"Darimana kau tahu Harry?" Tanya Hermione penuh selidik.n
"Errrr... sebenarnya Naruto-san memberitahuku"
"Naruto-san?"
"Ya... ia diberi tahu oleh Professor Snape" nyengir lebar sambil mengaruk belakang kepalanya.
…
Setelah menemukan kamar kebutuhan yang biasa disebut dengan Come and Go Room atau Ruang Datang dan Pergi, kini pertemuan pertama anggota Laskar Dumbledore terjadi, melalui galleon palsu yang diberikan pada seluruh anggota LD dengan mengunakan simbol angka yang ada ditengah-tengah galleon untuk menentukan kapan jadwal mereka berkumpul diruang kebutuhan. Saat ini seluruh anggota memulainya dengan pelajaran mantra ringan yaitu Expelliarmus, sebuah mantra dari desas-desus yang mereka dengar telah menyelamatkan The Boy Who Live saat melawan pangeran kegelapan disaat babak akhir turnamen Triwizards. Mereka juga cukup kaget dengan kehadiran Naruto dan Draco.
"Apa kami terlambat?" Tanya Naruto dengan cengiran lebarnya.
"Cukup terlambat nii-san tapi kami senang kau mau datang" jawab Harry
"Hehehe... maaf aku tadi harus menyeret Draco dulu untuk datang kemari, yah... juga sekalian menemaniku dari gangguan mereka berdua yang semakin hari semakin menyebalkan... apalagi ditambah sama si cewek cerewet yang seenaknya datang ke kamar mandi" jelas Naruto dengan semburat merah yang ada dikedua pipinya, sehingga membuat beberapa orang yang ada disana ikut bersemu menghadapi kemanisan dan keimutaan Naruto. "Yosh... aku akan berlatih dengan giat dattebayo..."
Setelah beberapa waktu mereka berlatih secara berpasangan, kini mereka semua kecuali Harry, Naruto dan Draco mulai tampak lelah. Harry yang memindai mereka satu persatu dengan raut bangga akan keberhasilan mereka, walaupun masih ada beberapa yang belum berhasil serta beberapa mantra yang masih nyasar karena kurangnya konsentrasi dan fokus dalam merapal mantra. Sampai ia berada pada pasangan duel Draco dan Naruto yang lebih didominasi oleh serangan Naruto terhadap Draco yang lebih condong pada pertahanan. Dengan pandangan fokus pada Draco sehingga muncul semburat pink tipis di pipinya, mengelangkan kepalanya untuk menarik fokusnya kembali "fokus Harry, jangan terpesona dengan si Malfoy" ucalnya lirih pada dirinya sendiri sehingga hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.
"Kau tidak lelah Nii-san?" Tanyanya pada Naruto yang kembali memasang kuda-kuda untuk memulai kembali duelnya denga Draco. Mendengar pertanyaan Harry Naruto duduk di lantai batu dan diikuti Draco dan Harry.
"Errr... tidak juga, sejak dulu aku sudah terbiasa menjalani latihan fisik yang jauh lebih parah dari ini."
"Ceritakan Nii-san!" Pinta Harry berharap akan cerita Naruto yang dirasa sangat menarik dan membuatnya penasaran. Ia merasa Naruto hampir sama dengannya, sama-sama anak dalam ramalan, sama-sama kehilangan kedua orang tua saat masih kecil walaupun ia lebih beruntung daripada Naruto.
"Aku berasa seperti seorang pendongeng dattebayo"
"Ceritakan Naru... kami juga penasaran akan lelanjutan ceritamu, apa lagi dengan masa kecilmu..." timbrung Fred dan diangguki oleh saudara kembarnya Geroge.
"Baiklah... tapi,,,,,,, -dengan senyum misterius terpatri di bibir plumnya- ada syaratnya"
"Apa?" Tanya Hermione antusias.
"Putari area disini sebanyak limapuluh kali putaran!"
"""""APA... YANG BENAR SAJA?"""""
"Maaaa... syaratku juga berguna pada kalian loh... satu -menekuk empat jari tangan kanannya hingga menyisakan ibu jarinya yang masih lurus- meningkatkan stamina kalian, dua -meluruskan jari telunjuknya sehingga kini dua jari yang lurus- melatih kelenturan otot kalian. Tiga, meningkatkan kapasitan sihir kalian selain dengan meditasi untuk menyatu dengan alam."
"Tapi Naru,,,,,,, limapuluh putaran seluas ini..."
"Baiklah... tigapuluh putaran setiap pertemuan LD, dengan porsi lima belas putaran sebelum dan sesudah latihan. Atau aku samakan dengan porsi latihannya Draco, sepuluh putaran lapangan quindic, lima puluh push up dan sit up, dan setiap lima hari porsi selalu bertambah?"
"Lakukan saja! Selain latihan mantra, latihan fisik juga sangat berguna bagi kalian saat kalian kehilangan tongkat sihir disaat yang tidak tepat." Jelas Draco.
"Apa benar?" Tanya Neville ragu
"Mau bukti?" Tidak suka diremehkan Draco berdiri dan mengajak Naruto berduel
"Baiklah... kalian sebaiknya menepi dan lihat saja, jangan lupa buat pertahan jika ada mantra nyasar kearah kalian!" Betdiri dan menepuk pantatnya guna membersihkan debu yang ia duduki. Setelah semuanya mundur, kini tinggal dirinya dan Draco yang berhadapan dengannya. Sama-sama melepas jubah, ia dan Draco saling berhadapan dan menberikan salam sebelum duel, dengan membungkukan badan, tongkat digenggam dan lisilangkan pada dada kirinya. Berbalik dan melangkah maju hingga jarak mereka terpaut antara sepuluh hingga sebelas langkah, menghembuskan nafas pelan mereka berbalik dan bersama-sama melempar mantra.
""Aquamenti/Incendio"" rapal Naruto dan Draco secara bersamaan seraya mengarahkan togkat sihir mereka sehingga mengeluarkan sebuah jet air dari tongkat Naruto dan dari tongkat Draco keluar api yang melayang kearah Naruto. Setelah kedua elemen tersebut bertubrukan kini area disekitarnya dipenuhi oleh kabut tebal dan menghalanggi pandangan mereka. Tidak ingin berlama-lama dalam kabut tersebut mereka berlari keluar dalam kabut dan mempersiapkan mantra balasan. Melihat posisi Draco, Naruto kembali menyerang Draco dengan salah satu mantra yang ia ketahui. "Expluso"
"Protego" merasa Naruto lengah dengan cepat ia kembali merapal mantra pelucut untuk melucuti tongkat Naruto. "Expelliarmus"
'Dapat' inernya. "Janga lengah Naruto!" Teriaknya
"Kau yang jangan lengah Dray, jangan harapa setelah kau mendapatkan tongkatku kau bisa mengalahkanku, 'Fuuton: Daitoppa' dengan elemen anginnya kini kabut yang berada diarea menghilang.
"Kau curang Naruto, kau mengunakan tekhnik ninja milikmu"
"Anggap saja sebuah tes dariku,,,, selanjutnya taijutsu persiapkan dirimu muridku tersayang" dengan tawa aneh Naruto mulai menyerang Draco dengan taijutsu miliknya, tentusaja setelah ia menyimpan kedua tongkat yang sebelumnya ia ambil dari tangan Draco.
"Aku tidak akan kalah"
"Aku tunggu pembktiannya" setelah itu mereka berdua sama-sama berlari dan saling mengadu tinjuan dan tendangan mereka, walaupun baru tapi dengan kejeniusannya Draco dapat mengimbanggi Naruto, walaupun Naruto hanya mengerahkan sedikit kemampuannya untuk melawannya. Dan ia (Draco) tahu bagaimana kekuatan yang sebenarnya seorang Namikaze Uzumaki Naruto.
Terengah-engah setelah lebih dari setengah jam melakukan adu taijutsu dengan Naruto yang saat ini masih fresh, tanpa terlihat kelelahan Naruto kini menduduki perut Draco yang sedang terlentang dengan nafas beratnya. Memajukan kepalanya sehingga dekat dengan wajah sang Malfoy jr. Sehingga membuat orang lain yang berada diruanggan itu menahan nafas akan apa yang akan dilakukan Naruto terhadap sang pangeran Slytherin.
Mengendus... dileher orang dibawahnya. "Aku suka baumu Draco... ummm... hampir sama dengan milik Sasuke" ucap Naruto yang masih mengendus bau Draco.
"Na,,,Naruto bisa kau menjauh dariku?" Tanya Draco dengan nada takut
"Ummm... tentu saja, tapi kau harus membelikanku beberapa kilogram tomat segar ok!" Setelah menyingkir dari atas perut Draco, Naruto kini duduk kembali dilantai batu tepat samping Draco yang masih menormalkan nafasnya."ne~~ Dray, aku merasa hampir seminggu ini alira chakra dan sihirku kacau secara tiba-tiba, walaupun hanya sesaat"
"Apa kau sakit?" Dengan khawatir Draco menempelkan telapak tangannya dikening Naruto, "tidak demam" ujarnya.
"Aku tidak sakit, mungkin hanya kelelahan karena membagi chakra dengan bunshinku yang berada di rumah paman Louwis dan Kurama" jawab Naruto sambil menyingkirkan tangan Draco dari dahinya. Merasa menjadi tontonan bebas Naruto langsung berdiri dan mengaruk bagian belakang kepalanya. "Maaf... kami tadi keasyikan main''
"Tadi itu sanggat hebat Naruto, ajari kami sekalian ya!" Pinta Ron antussias dan diangguki oleh yang lain.
"Ok... persiapkan diri kalian. Aku akan melatih kalian saat hari Minggu saja dan hari yang lain LD akan tetap terfokus pada mantra dan pertahana"
Setelah latian selesai dan hampir seluruh anggota telah keluar, kini yang berada didalam hanya tinggal Harry dan beberapa orang yang ingin menanyakan tentang cerita yang sebenarnya akan kematian Cedric. Dengan wajah tertunduk, Harry menceritakan semua kejadian ketika babak akhir turnamen Triwizards, tentang Viktor Krum yang bertindak aneh, persaingannya dengan Cedric saat menemukan piala, dan tentang keinginannya menang bersama dengan Cedric hingga terlemparnya mereka ke pemakaman keluarga Riddle (jujur est agak lupa pemakaman siapa), hingga saat Peter Pettigrew mengarahkan tongkat sihir Voldemort kearah Cedric dengan mantra Avada Kedavra. Hingga bangkitnya Voldemort dari kuali dan pertarungannya dengan Voldemort, hingga Ketika tongkat Harry dan Voldermort berhubungan dan menghasilkan efek Priori Incantatem (Efek Mantera Balik), hantu Cedric yang muncul dari tongkat Voldermort meminta Harry membawa tubuhnya ke orangtuanya.
Setelah menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi kini bebanya mulai tetasa lebih ringan. Dan tanpa terasa air matanya menetes. Cho Chang mendapatkan apa yang ia inginka, kebenaran yang sesungguhnya akan kematian orang yang ia cintai kini memeluk Harry dengan sangat erat. Melihat perlakuan Cho Chang membuat Draco jengah sehingga tanpa sadar ia mecium pipi kiri Naruto, berharap Harry melihat dan marah padanya. tepat saat Draco mencium Naruto Harry melihatnya, melepas pelukan Cho Chang ia dengan tergesa keluar dari kamar rahasia, tanpa perduli akan teriakan Ron yang memintanya menunggu, ia tetap berlari hingga langkah kakinya memuntunya ke belakang kastil Hogwarts, "Draco bodoh, Malfoy sialan Nii-san penghianat... dia bilang tidak mencintai Draco, tapi mau-maunya dia dicium sama si ferred... padahal dia tau aku mencintai Draco" gerutunya tanpa menyadari kalau dibelakangnya ada Draco yang mendengarkan semua umpatan dan gerutuannya.
"Aku juga mencintaimu"
"Suara Draco? tidak mungkin, pasti hanya hayalanku saja, dia pasti sedang bermesraan sama Naruto-san" elaknya tanpa menoleh kebelakang
"Aku senang kau cemburu"
"JANGAN MENGGANGGUKU MAL-,,," teriakanya terputs saat ia menoleh kebelakang dan mendapati Draco berada dihadapannya.
((((({® tbc ®})))))
Maaf lama...
Tolong ingatkan Est kalau ada typo yang masih nyempil(?)
.
.
.
.
Cuap-cuap Review...
Guest077 : udah lanjut 077-san... terimakasih udah nyempetin review...
Lisa Amelia : jangan panggil senpai Lisa-san... est jadi malu #tutupmuka sekarang est udah munculkan si Sasukenya...mungki chap depan atau depannya lagi... mau review lagi? ^_^
Guest : mau tanya Type your review itu apa ya? Tolong kasih tau... #est mulai gak dong
samawa : sudah terbi samawa-san...
Terimakasih udah nyempetin review, review lagi yah...
asd : siap ...
Rarara : terimakasih pujiannya... est jadi malu...(?) Baik Rarara-san...
.
.
.
.
Kata patah-patah Est...
Maaf kalau chap ini agak mengecewakan... dan Est buat yang menganti posisi Draco dan kesongongan Draco itu si Crabb?(?) Est lupa namanya... maklum udah lama gak nonton. #alasanTok.
