Veei
### 8###
Disclaimer :
Naruto © Masashi K.
Harry Potter © J.K. Rowling
rating : T
π SasuNaru π
ππDraRryππ
•
•
•
Warning!
1• Fic ini mengandung BL atau yaoi. Dengan segala hormat, yang tidak suka yaoi bisa menepi atau meninggalkan fic ini...
2• Gagal EYD masih ada...
3• M-preg mengikuti...
4• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...
['`:_:'`]
{•_•}
V
"Draco bodoh, Malfoy sialan Nii-san penghianat... dia bilang tidak mencintai Draco, tapi mau-maunya dia dicium sama si ferred... padahal dia tau aku mencintai Draco" gerutunya tanpa menyadari kalau dibelakangnya ada Draco yang mendengarkan semua umpatan dan gerutuannya.
"Aku juga mencintaimu"
"Suara Draco? tidak mungkin, pasti hanya hayalanku saja, dia pasti sedang bermesraan sama Naruto-san" elaknya tanpa menoleh kebelakang
"Aku senang kau cemburu"
"JANGAN MENGGANGGUKU MAL-,,," teriakanya terputus saat ia menoleh kebelakang dan mendapati Draco berada dihadapannya.
Tertawa kikuk ia melangkah mundur untuk menghindari Draco yang melangkah maju. Semakin dekat membuat jantung Harry semakin berdebar kencang dengan wajah yang semakin memerah ia memalingkan wajahnya agar orang yang semakin mendekatinya tidak melihat majahnya yang semakin memerah karena malu.
Maju,
Mundur,
Maju,
Mundur,
Maju,
Mund'Kratak' "gyaaaa" tidak mau jatuh sendiri, dengan reflek yang cukup cepat ia (Harry) menarik baju Draco bagian depan. Karena masih terfokus akan wajah Harry yang dihiasi oleh semburat merah, sehingga tanpa sadar Draco ikut tertarik jatuh dan...
' Byurrr...'
mereka berdua tercebur ke danau bersamaan dengan posisi Harry yang berada dibawah tubuh Draco yang meninindihnya dalam air, kaget karena tubuh berat yang ada diatasnya walaupun sudah ditahan oleh masa air didanau tetap saja kekagetan Harry memaksanya meminum banyak air danau sehingga membuatnya susah bernafas dan membuatnya semakin tengelam. Tersadar, Draco dengan wajah panik ia menarik tangan Harry dan memeluknya dengan tangan kirinya, sedangkn tangan kanannya meberi daya dorong untuk mengapai kepermukaan, dan berenang menuju ketepian, salahkan danaunya yang dalam sehingga walaupun sudah berada ditepian tetap saja ia belum bisa menapakkan kakinya pada dasar danau, setelah dirasa cukup menepi, Draco membopong Harry dengan gaya bridal styel menuju ke bibir(?) danau. Setelah sampai ia membaringkan Harry yang tengah pingsan, melihat sekitarnya yang tidak ada seorangpun selain dirinya dan Harry, menengok kearah kiri dan mendapati sebuah jembatan separo(?) yang sebelumnya digunakan untuk pelabuah peserta turnamen dari sekolah sihir Durmstrang (est ngarang) yang kayunya telah lapuk dan patah pada bagian ujungnya. Menghela nafas, ia kembali mengarahkan pandangannya pada Harry yang masih pingsan, menepuk pipi Harry pelan ia mulai mengoncang bahu pemuda yang memiliki tubuh sedikit lebih kecil darinya, karena tidak ada respon, dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya kewajah Harry, menekan rahang atas(?) Harry hingga mulut Harry terbuka, berharap semoga tidak ada siswa lain yang datang kemari Draco mulai memberi nafas buatan Harry dengan mulutnya, setelah dirasa cukup ia menjauhkan kepalanya dan memperhatikan raut wajah Harry dengan seksama, melepas kaca mata yang masih bertengger di hidung mancung Harry lalu ia mensejajarkan posisi duduknya pada dada Harry. Menekan dada rata tersebut dengan kuat tanpa membuat luka seperti mematahkan tulang rusuk si Potter terakhir. Beberapa kali tekanan akhirnya Harry tebatuk dan memuntahkan air yang memenuhi sebagian paru-parunya. Bernafas lega karena orang yang sebenarnya ia cintai telah sadar kembali, membantu mendudukan Harry lalu ia mengambil tongkat yang selalu ia simpan dibalik jubah penyihirnya.
"Ck sialan" umpatnya kasar karena ia tidak mendapati tongkatnya disaku yang berada dibalik jubahnya, setelah ia ingat-ingat ternyata tongkatnya masih dibawa oleh Naruto. Mengayunkan tangan kanannya ia lalu merapal mantra pengering tanpa mengunakan tongkat sihirnya. Yea... berterimakasihlah pada ayahnya yang mau mengajari sihir tanpa tongkat, sehingga disaat seperti ini ia tidak perlu kelabakan mencari tongkatnya. Setelah bajunya dan Harry mengering dengan sempurna ia lalu duduk disamping Harry. Menengok kesamping kanan ia kini mendapati Harry yang terduduk dengan menekuk kedua kakinya hingga lututnya menyentuh dada, jangan lupakan semburat merah yang lagi-lagi menghiasi kedua pipinya(harry).
"Maaf tadi aku mengodamu hingga membuatmu tercebur" ucap Draco dengan nada menyesal, walaupun tidak benar-benar menyesal.
"Tak apa, errr... tadi,,, lupakan apa yang kau dengar sebelumnyaa!" Memalingkan wajahnya agar tidak menghadap Malfoy jr. yang berada dikirinya, karena masih sedikit pusing ia menyandarkan kepalanya pada kedua tangannya yang ia lipat diatas lututnya sebagai bantalan.
"Bagaimana kalau aku juga menyukaimu?"
"Benarkah?" Mendengar jawaban Draco, Harry langsung menengok kearah Draco yang saat ini sedang menatap kearahnya sehingga kedua pasang iris berbeda warna tersebut saling bertatapan, iris emerald milik Harry melihat kesungguhan dari iris keabu-abuan(?) milik Draco.
"Aku serius" mendapat pandangan tidak percaya dari Harry membuatnya memutar kedua bola matanya"aku serius, dan jangan membuatku mengulanggi kata-kataku Potter!"
"Apa-apaan itu? Mengungkapkan perasaan atau melaporkan perkiraan cuaca yang akan terjadi badai..." gurau Harry disretai sebuah senyum yang memunculkan lesung dipipinya sehingga membuatnya bertambah manis.
"Kau mau jadi pacarku atau tidak?" Dengan seringaian yang tepampang dibibirnya Draco mendekatkan dirinya pada Harry, menelusupkan kepalanya pada ceruk leher pemuda yang lebih kecil darinya, memberi kecupan dan tiupan sensual didaerah sensitif Harry,"tentunya aku tidak menerima penolakan" bisiknya ditelingga Harry yang sudah memerah.
"A ku mau... tolong kau jauhkan wajahmu, eng,,,, dari leherku"
"Tapi kau sukakan?" Menelusupkan tangannya pada perut ramping Harry sehingga menjadi pelukan posesif.
"Kau menbuatku merinding Co..."
"Panggil aku Dray! Kau tahu? Aku tidak mau panggilanku kau samakan dengan wanita yang kau peluk tadi" mengigit kecil dan menghisap leher Harry bagian kanan hingga timbul ruam kemerahan.
"Dr...dray tolong emm.. hentikan!" Tidak mau membuat Draco semakin horny dengan suaranya, terpaksa ia mengigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan desahan kembali, tidak etis bukan, melakukan kegiatan yang iya-iya disaat kau baru saja jadiankan? Lagian mereka masih berstatus siswa.
Seminggu setelah latihan pertama anggota Laskar Dumbledore, terlihat Harry kini sedang menemui Professor Dumbledore di ruangannya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas Harry keluar dari kantor Dumbledore dengan raut wajah kecewa.
Setelah jam makan malam, Naruto yang sebelumnya mencari Severus Snape di meja para staf, tapi tidak mendapati sang Professor of potion tersebut dimanapun, sehingga ia memutuskan untuk mencarinya diruangannya saja. Dengan langkah tergesa di lorong Hogwarts Naruto kini sedang berjalan sendirian menuju ke lantai dua tepatnya keruangannya Severu Snape untuk menanyakan keadaannya yang akhir-akhir ini sering aneh, seperti konsentrasi chakra yang sering pecah dan sihir yang mudah meledak-ledak. Karena suasana yang sepi dan angin malam yang dingin membuatnya merapatkan jubahnya, sesekali ia mengosok tengkuknya dengan pelan untuk mengurangi perasaan merinding yang semakin lama semakin kuat, mempercepat langkanya demi menghindari beberapa hantu yang mungkin akan lewat, disaat ia melewati sebuah lorong dengan pencahayaan remang-remang Naruto mengidarkan pandangannya kesegala penjuru demi menghindari gejala kemunculan hantu yang datang mendadak seakan datang tak diundang pulang tak diusir(?) Alias tiba-tiba. Dinding yang benar-benar kosong akan lukisan dan hanya dihiasi oleh beberapa baju zirah yang terjejer di masing-masing sisi dengan interval sekitar sepuluh sampai sebelas meteran.
'Tap...'
'Tap...'
'Tap...'
'Tap...'
Mendengar suara langkah kaki Naruto menajamkan pendengarannya demi mencari tahu arah suara tersebut, semakin dekat suara langkah kaki tersebut ia merapatkan jubahnya untuk menghalau rasa takut yang semakin menjadi. Mengeluarkan kunai dan mengenggamnya erat pada tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mempererat gengamannya pada tongkat adamnya, menengok kebelakang karena intuinsinya berteriak menandakan arah serangan dari belakang, ruas-ruas jari tangan yang memutih karena sangking kuatnya ia menggenggam kedua senjata yang mungkin bisa membantunya keluar dari masalahnya kali ini. "Aku tidak takut hantu,,,, aku tidak takut hantu,,,,, ya,,,,aku tidak takut hantu,,," ucapnya pelan dan berulang-ulang seperti mantra yang wajib ia kumandangkan setiap saat,membuka mata sapphirenya ia mengumpulkan keberaniaanya untuk melihat apa yang berada dihadapannya, setelah ia bisa melihat apa yang tersaji didepannya saat ini mata sapphirenya terbelalak karena dihadapnnya ialah seorang yang tidak bissa dikatakan orang karena ia mantan orang, aka. Hantu yang selama ini selalu dihindari Naruto dengan menyeret Draco maupun Harry dan temannya yang lain. Baron berdarah dengan tubuh transparannya penuh akan darah serta Nick si kepala nyaris putus yang tengah menenteng kepalanya dengan tangan kanannya, jangan lupakan senyum mengerikan yang terpampang apik di bibir hantu Baron berdarah, dan kekehan mengerikan dari hantu wanita yang beberapa hari ini ikut bergabung dengan dua hantu yang seharunya menjadi musuh bebuyutan, hantu dari kamar mandi perempuan yang tidak terpakai beberapa hari ini sering muncul tiba-tiba dari keran air saat ia mandi, sehingga membuat Naruto keluar dari kamarmandi hanya mengunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya saat pertamakalinya si Myrtle Merana menyapanya. Malu? Tentu saja... ia malu saat hampir sebagian siswa yang kebetulan mengantri memandanginya dengan tatapan aneh yang membuatnya bergindik ngeri, beruntung disana ada Harry yang dengan sigap menutupi tubuhnya dengan jubah yang sebelumnya Harry bawa untuk ganti. Dan saat ini ia hanya sendiri menghadapi ketiga hantu yang sangat ingin dibunuhnya karena selalu menganggunya dengan alasan aneh, seperti menyenangkan, suka melihat ekpresi ketakutannya, karena dia memiliki elemen kehidupan yang kuat dan jika dekat dengannya mereka seakan bertambah kuat... benar-benar alasan aneh...
Mundur beberapa kangkah sampai ia terpojok pada dinding lorong yang dingin dengan ketiga hantu yang semakin mendekatinya, melayang kearah Naruto, Myrtle Merana mencoba mengelus pipi tembam Naruto yang penuh keringat dari pelipisnya, dengan tubuh bergetar Naruto mencoba menepis tangan transparan Myrtle merana walau hanya udara kosong dan hawa dingin yang didapatnya,"pergi!... " lirihnya
"Hihihihi... kau sangat lucu Naru" dengan tawa yang melengking Myrtle mengendus pipi Naruto yang basah karena keringat dan air mata.
"Kami menyukai mu Naru-chan..." ucap Nick"mau membawakan kepalaku?" Sambil menyodorkan kepalanya pada Naruto.
"Ti... tidak hiks,,,, pergi!... jangan gangu Naru lagi" tangisnya karena Baron dengan tubuh melayangnya ikut mendekatkan dirinya didepan Naruto.
"Kita sedang bersenang-senang bocah... karena ada kau yang satu-satunya takut hantu disini, jadi kami semakin mendekatkan diri saat kau menjauh, sesuai tabiat hantu... menakut-nakuti"
"Hiks... pergi dari hadapanku hantu bodoh! Hiks...Huweeeee... Tou-san... hiks... kau tega,kau-" Naruto langsung terdiam saat merasakan ada hawa dingin seakan membekap mulutnya, masih tidak mau membuka matanya Naruto dengan asal-asalan melempar kunai yang ia bawa kesegala arah, tidak perduli mengenai atau tidak yang jelas ia tetap melempar kunai dan shuriken yang ia keluarkan dari kantong ninjanya.
"Kau ingin membunuh kami Naru... hiksz kau tega" teriak Myrtle dengan tangisnya yang sungguh tidak berefek pada rasa iba Naruto yang malah semakin takut.
'Tap'
'Tap'
'Tap'
'Tap'
Mendengar langkah kaki yang bisa dibilang cepat dari lorong yang menghubungkan lantai bawah, ketiga hantu tersebut menengok dan mendapati Severus Snape yang nenuju kearah kereka. Tidak mau mendapatkan masalah mereka pergi dengan menembus dinding yang ada dibelakang Naruto yang mulai lemas, dengan nafas tersengal Naruto mencekeram dadanya dan mulai kehilangan kesadarnnya. Melihat keadaan Naruto yang tidak dalam keadaan baik Severus berlari dan menagkap Naruto sebelum tubuh Naruto mebentur lantai batu lorong Hogwarts karena mulai kehilangan kesadarannya dengan nafas yang mulai menipis. Panik ia menepuk pipi Naruto pelan untuk mempertahankan kesadaran remaja blonde tersebut.
"Bertahanlah Naruto! " membopong Naruto ala bridal styel Severus membawa Naruto keruangannya yang letaknya lebih dekat daripada harus menuju ke houspital wings. Mempercepat langkahnya demi keselamatan putra dari Namikaze Minato, tidak sampai lima belas menit ia sampai pada ruangannya, lalu dengan tergesa ia membuka pintu dari kayu mahoni didepannya dengan 'Alohomora', memasuki kamar yang sebelumnya sudah menjadi kamar Naruto, ia lalu membaringkan tubuh Naruto dengan pelan dan hati-hati seakan membaringkan boneka kaca yang mudah pecah. Melepas sepatu Naruto dan kaus kakinya ia melihat pergelangan kaki Naruto yang sedikit membengkak. Dengan sihirnya ia mensumon sebaskom(?) air hangat dan handuk guna mengompres pergelangan kaki naruto yang membengkak, dengan telaten Severus mengompres pergelangan kaki Naruto mengunakan handuk yang sebelumnya ia masukan dalam wadah air hangat yang ia sumon, dirasa cukup ia lalu memeriksa keadaan Naruto dengan tongkat sihirnya mulai dari kepala kebawah dan ketika sampai di bagian perut Naruto ia lalu berhenti, mengelan pelan serta muncul kerutan didahinya ia mula kembali mengulang pemeriksaannya pada perut Naruto, karena masih ragu ia menaruh tongkar sihirnya guna memeriksa Naruto dengan cara manual. Membuka jubah penyihir Naruto dan menyibak kaos biru dengan gambar balok yang ditumpuk berwarna merah, sera dalaman jaring-jaring hitam sampai sebatas perut atas Naruto, perlahan telapak tangannya mengelus perut bagian bawah Naruto, seakan mencari seauatu sampai telapak tangannya mengelus bawah pusar Naruto yang terasa kaku dan keras, menekan pelan bagian tersebut hingga membuat Naruto meringis seakan merasakan sakit dalam pigsanya (atau mungkin tidur) " Tidak mungkin" ucapnya pelan penuh akan ketidakpercayaan ia meneriksa nadi naruto, dalam diam ia menghela nafas lelah, berdiri dari duduknya di tepi ranjang yang ditempati Naruto, ia keluar melangkah keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa menganggu Naruto. Sesampainya diluar ia memanggil Winky selaku peri rumah yang bekerja di Hogwarts.
"Ada apa Professor Severus Snape memanggil Winky sir?" Menundukkan tubuhnya guna memberi hormat pada Severus.
"Bersihkan kunai dan shuriken Naruto yang berada dilorong lantai tiga, dan bawa kemari!" Mendengar perintah dari Professor didepannya Winky lalu menunduk dan menghilang. Menghela nafas lelah dan memijit pangkal hidungnya Severus menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang didudukinya, serta pandangan yang menerawang jauh.
"Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin memberi tahu Lucius akan keadaan Naruto". Ucapnya pelan. Karena terlalu larut dalam lamuannya Severus mulai memejamkan matanya, baru beberapa menit ia memejamkan matanya untuk mencari solusi, kini harus terganggu karena suara apprate dari Winky yang mengantarkan kunai dan shuriken milik Naruto.
"Ini kunai dan shuriken milik Mr. Namikaze sir. Apa anda membutuhkan Winky lagi sir" Ucap Winky seraya menyerahkan beberapa kunai dan shuriken dan ditaruhnya pada meja dihadapan Severus Snape.
"Terimakasih, kau kembalilah!" Setelah mengucapkan terimakasih kepada peri rumah tersebut Severus berdiri dengan kedua tangan yang menumpu berat badannya. Dengan langkah tenangnya ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya, tidak lama ia kembali keluar kamar tersebut dengan membawa sebotol ramuan berwarna hijau keperakan menuju ke kamar Naruto, sesampainya dikamar tersebut Severus mendudukan dirinya ditepi ranjang dan menaruh botol yang ia bawa dimeja depannya. Mengelus surai pirang Naruto pelan penuh rasa sayang.
Mengerang pelan karena tidurnya terganggu oleh rasa sakit pada bagian perutnya, dengan tangan gemetaran Naruto mencengkeram perut bagian bawahnya disertai ringisan dan peluh yang membasahi tubuhnya, sehingga memaksanya untuk membuka mata sapphirenya. Merasakan pergerakan dari Naruto membuat Severus terbangn dari tidurnya yang duduk dikursi yang sebelumnya ia transfigurasikan dari sebuah cawan menjadi sebuah kursi, mengerjap pelan untuk memfokuskan pandangannya ia mendapati Naruto yang tengah mencekeram perutnya dan raut wajah yang menyiratkan rasa sakit, takut terjadi sesuatu pada suatu yang tumbuh dalam perut murid pirangnya ia mencekal kedua pergelangan tangan Naruto untuk mencegah pergerakan tangan berkulit tan yang masih berusaha meremas perutnya. "Sa..kit Professor...hah.. tolong... uuh... le pas!... perut Naru sa kit" berusaha melepas genggaman tangan Severus dengan menarik dan memutar pergelangan tangannya.
"Tidak sebelum kau tenang" mendapati Naruto yang masih belum tenang "Naruto, ikuti instruksiku!" Mendapat anggukan dari Naruto "ambil nafas yang banyak dan keluarkan secara perlahan dari mulut! Ok.. jangan terlalu banyak fikiran!" Kanapa dia ridak mengunakan ramuan penenang? Itu karena ia masih belum yakin akan berefek baik pada janin Naruto, setelah Naruto dirasa tenang ia barulah melepas genggamannya pada tangan berkulit tan tersebut. "Apa yang kau rasakan Naru?" Tanyanya khawatir
"Perutku sakit, seakan ditusuk dan ditarik paksa Professor," jawabnya lemah.
Menyerahkan ramuan yang ia bawa dari kamar pribadinya pada Naruto yang sebelumnya ia tuang terlebih dahulu pada cawan yang ada dimeja kamar tersebut.
"Minumlah!" Membantu Naruto duduk dan menyenderkan tubuh Naruto pada senderan punggung.
"Aku sakit apa Professor?" Tanya Naruto dengan pelan
"Kau tidak papa, sekarang istirahatlah!" Menuruti perintah Severus Naruto membaringkan tubuhnya kembali dengan Severus yang membantunya menata selimutnya, lalu mengacak surai pirangnya pelan Severus kini melangkahkan kakinya kearah pintu, sebelum ia memutar knop pintu tersebut ia menghentikan langkahnya dan menengok kebelakang karena mendengar kembali pertanyaan Naruto sebelumnya.
"Kumohon Professor, beritahu Naru!"
"Tidurlah! Kita bicarakan besok."
"Aku ingin tahu sekaran paman... kumohon..." menengok kearah Severus yang masih berdiri didepan pintu, serta memasang wajah memelas yang selalu berhasil menjebak orang-orang disekitarnya.
Melihat ekpresii wajah Naruto yang memelas membuatnya lagi-lagi menghela nafas dan kembali ke arah Naruto, duduk kembali pada kursi yang sebelumnya ia duduki.
"Apa sebelum kau kemari kau pernah tidur dengan seorang pria?"
"Pernah, beberapa hari sebelum kemari aku menjalankan misi dengan Kiba dan Ten-ten mengawasi perbatasan hutan" jawab Naruto dengan tampang polosnya. Mendengar jawaban Naruto yang melenceng dari topiknya membuatnya lagi-lagi harus menghela nafas, entah sudah berapa kebahagiaannya yang hilang gara-gara bocah yang ada dihadapannya ini.
"Maksudku kau melakukan sex Naruto, bukan hanya tidur dikasur yang sama" jelasnya lebih rinci
"Eh... sex? Tentu saja tidak pernah ttebayo... aku saja belum menikah, bahkan pernikahanku dengan Hinata-chan saja dibatalkan" jawabnya cepat. "Tunggu... jangan bilang aku terkena HIV, Aids, Harfes, malaria atau demam berdarah?"
'Ctak'
"Ittei paman kenapa kau memukul kepalaku?" Tanyanya sambil mengelus kepalanya yang habis dipukul Severus denga gulungan kertas tebal yang entah darimana datangnya.
'Ctak'
"Kenapa kau memukulku lagi?" Protesnya
"Jawab pertanyaanku dengan serius Namikaze! " desisnya
"Iya iya, aku beneran gak pernah melakukan sex, dulu saat masih berguru pada Ero-sanin pernah ditawari, tapi aku menolaknya- memiringkan sedikit kepalanya untuk menginggat seauatu- tunggu memang bisa melakukan sex dengan laki-laki lain paman? Setahuku sex kan harus dengan lawan jenisnya paman?" Tanyanya dengan mengerjapkan matanya.
Mendengar jawaban serta pertanyaan dari Naruto membuatnya lagi-lagi menghela nafas dan memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing yang menimpanya. "Bisa saja, jika kau mau" jawabnya ngasal
"Benarkah? Memang masuk lubang mana?" Tanyanya tertarik.
"Jangan mengalihkan pertanyaan ku Naruto"
"Iya, iya... setahuku tidak pernah, memang kenapa?"
"Aku miminta kejujuranmu Naruto! Kau benar-benar pernah melakukan sex dengan pria atau tidak?" Menaikan nada suaranya untuk meminta keseriusan Naruto.
Merasa dibentak Severus, Naruto menundukkan kepalanya serta mata sapphirenya berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah melakukannya pada siapapun... kau boleh tidak mempercayaiku Professor, tapi aku benar-benar tidak pernah melalukannya pada siapapun" jawabnya dengan punggung bergetar menahan tangis, tidak ingin air matanya kembali tumpah ia menghapus air matanya dengan lengan jubahnya bagian kanan.
"Lalu kenapa kau sekarang hamil?" Tanya Severus dengan nada datar, jangan lupakan tatapan menyelidik yang penuh akan kekecewaan.
"Ha mil?" Mendengar ucapan Severus membuat Naruto langsung mendongak dan memandang Severus dengan mata yang terbelalak. Melihat mata sembab Naruto membuat Severus harus menghela nafasnya kebali demi menurunkan emosinya, setelah dirasa kemarahannya kembali turun ia memandang Naruto dengan tatapan prihatin dan sayang yang sering ia perlihatkan pada remaja blonde didepannya
"Kau hamil, jika kau memang belum pernah melakukannya, apa sebelum kemari kau merasa bagian belakangmu sakit?"
"Belakang?"
"Pantatmu, tepatnya bagian rectummu"
"Sepertinya pernah Professor, tepatnya pagi hari sebelum Naru mengaktifkan tekhnik dimensional travel milik Tou-san,"
"Sebelumnya apa dan dengan siapa kau tidur malamnya?"
"Dengan Sasuke, sebelumnya aku menemui Shikamaru dan teman-teman yang lainnya, lalu ngobrol sebentar dengan Hinata-chan, setelah itu aku teleport ketempat Sasuke untuk berpamitan, tapi Sasuke dengan paksa mengorek ingatanku, setelah itu aku pingsan. Dan saat aku bangun aku sudah dalam pelukan Sasuke, em... ketika aku bergerak bagian belakangku juga sakit" jelas Naruto dengan rona merah di pipinya.
"Jadi kemungkinan besar temanmu yang bernama Sasukelah yang melakukannya saat kau pingsan."
"Itu tidak mungkin Professor ... Sasuke akan menikah dengan Sakura, teman seteam kami." Dengan perasaan yang berkecamu antara senang, sedih dan kecewa ia satukan dalam sebuah senyum getir yang ia tujukan pada dirinya sendiri, baru dua bulan bahkan kurang ia mengulang kembali masa remajanya yang sebelumnya menghilang, kini harus mengalami kembali beban berat yang akan ia tanggung dipundaknya, seorang yang akan lahir dari rahimnya. Memejamkan matanya rapat-rapat ia kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut memunggungi Severus. "Aku ingin sendiri paman, selamat tidur... maaf lagi-lagi aku merepotkanmu" setelah mendengar suara pintu yang ditutup Naruto kembali membuka selimut yang menutupi kepalanya,dalam diam ia menghapus air yang mengalir dipipinya dengan jari-jari tangannya. Serta mengelus lembut perutnya yang kini tumbuh sebuah janin yang akan dilahirkannya suatusaat nanti.
'Lalu kenapa kau sekarang hamil?' Pertanyaan dari Severus hingga kini masih terngiang di kepalanya, sehingga lelehan air matanya semakin deras dalam kekalutan jiwanya. "Kenapa kau hadir saat aku menemukan kebahagiaanku? Hiks... aku membencimu, hiks.. aku juga membemci ayahmu... Sasuke ... kenapa kau tega...hiks... Kami-Sama... kenapa... hiks... Ku rama..." ucap Naruto lirih.
.
.
.
.
.
Disuatu perumahan diderah London, seekor rubah dengan ekor yang melebihi jumlah normal tengah tertidur disamping anak perempuan berumur sekitaran antara delapan dan sembilan tahunnan, kini membuka matanya yang berpupil vertikal, mengerang pelan dan mengeliatkan badannya ia lalu menghilang disertai bunyi 'plop' dan kepulan asap tebal ditempatnya.
Di Aula besar Harry kini menuju ke meja Slytherin, tepatnya kearah Draco, setelah sampai didekat Draco ia menepuk pundak remaja berambut pirang platina tersebut untuk meminta perhatiannya. Kerena acara makannya terganggu Draco akhirnya menengok kearah belakang dimana Harry tengah berdiri dibelakangnya.
"Ada apa?" Tanyanya setelah menaruh sendok dan garpunya dipiringnya yang kini isinya tinggal setengah.
"Apa kau melihat Naruto-Nii?" Tanyanya dengan cemas.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu Harry, kau yang satu asrama dengannya"
"Memang, tapi sejak semalam kami tidak melihatnya setelah makan malam" karena disamping Draco masih ada ruang untuknya duduk, dengan santai ia mendudukkan dirinya disamping Draco tanpa perduli dengan tatapan aneh murid lain karena semenjak ditahun pertama mereka sering terlibat duel ketika bersama, layaknya film cartoon yang menceritakan kisah hidup antara kucing dan tikus.
"Biarkan saja, mungkin Nii-san sedang ingin sendiri, nanti jika dikelas ramuan masih tidak ada kita cari dia."
Sedangkan di hutan tepatnya disalah satu dahan sebuah pohon Naruto tengah duduk tenang dengan seekor rubah berekor sembilan yang tengh memejamkan matanya dipangkun Naruto, mengelus bulu orange kemerahan rubah tersebut yang terasa halus dikulitnya,"ne~ Kurama, bagaimana perasaan Kaa-san dulu saat hamil Naru?" Tanyanya pelan pada rubah yang berada dipangkuannya, menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang lebih besar ia memejamkan matanya demi mencari kenyamanan di hutan Terlarang, dulu saat di Konoha ia sering menghabiskan waktunya di Hutan kematian jika ia sedang banyak fikiran, dan ketika disini ia memilih hutan Terlarang sebagai penganti Shi no Mori. Suasana hutan yang tenang serta berbagai makluk penghuni hutan yang tidak menganggunya membuat ia semakin nyanan dan mampu menghilangkan sedikit bebannya.
"Hemmm... yang jelas tidak seperti kau yang berniat mengugurkannya" jawab Kurama yang masih menutup matanya...
"Maaf... tadi aku sedang kalut"
"Hemm"
"Jangan mendiamkanku seperti ini Kuu" pintanya dengan nada memelas.
"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada janin yang kau kandung itu dengan cara biarkan ia hidup dalam rahimmu! Rawat dia! Sayangi dia sepenuh hatimu! Lindungi dia dengan seluruh jiwamu!"
"Aku mengerti... aku pasti akan merawat dan melindunginya,,, maaf tadi aku benar-benar kalut. Dari dulu aku memang aneh ya Kuu,... apa ada seorang pria yang hamil sebelumnya?... dia pasti membenciku karena yang melahirkannya seorang pria seperti ku, apalagi dia pasti akan menanyakan ayahnya... aku harus menjawab apa?" Tanyanya yang mulai larut dalam ketakutannya akan masa depan yang akan dijalaninya.
"Sejak kapan seorang Naruto pesimis akan hal yang belum ada... sejak kapan Uzumaki Naruto membicarakan masa depan yang membosankan? Buat bayimu beranggapan hanya kaulah orang tuanya tanpa perlu ayah dan ibu lain karena kaulah yang akan menjadi orang tua tunggalnya." Jengah dengan semua pemikiran pesimis Naruto ia berdiri dan menghadap Naruto, memandang mata sapphier tersebut dalam-dalam untuk menanam benih-benih kepercayaan diri yang sebelumnya layu hanya karena masalah sepele yang disebabkan oleh seorang yang bernama Uchiha Sasuke.
"Terimakasih sudah menyadarkanku tadi Kuu, berkat gigitanmu dan tamparan dari Professor Snape aku akhirnya sadar, kalau aku akan memiliki keluarga baru yang akan kulindungi dan sayangi" mendapat respon yang menyenangkan Kurama menarik salah satu sudut bibirnya,
"Seperti inilah baru partnerku" mengoyangkan pantatnya sehingga kesembilan ekorny ikut melambai ia kembali kepangkuan Naruto dan memejamkan matanya kembali. "Aku akan disini untuk menjagamu "
"Eh? Lalu paman Louwis dan putrinya?"
"Si baka Louwis bisa melindungi dirinya sendiri, bagaimanapun juga dia seorang penyihir yang cukup jenius. Soal putrinya kau bisa melindunginya dari jauh tanpa selalu dekat dengannya"
"Dari jauh ya..."
"Kau bisa memberikan salah satu kunai Hiraishin milikmu."
"Aku tau Kuu... hanya saja, apa tidak berbahaya jika kugunakan saat mengandung, dan lagi akhir-akhir ini kontrol chakraku sedikit terganggu"
"Sudahlah! Soal perlindungan Lisy, aku sudah menanamkan chakraku pada kalungnya, dan dia berjanji tidakakan melepas kalung itu apapun yang terjadi" ucapnya dengan seringaian penuh kemenangan.
"Wow... kau sudah merencanakan sampai sejauh itu..."
"Tentu... aku juga perlu waktu pribadi denganmu"
"Kau berarti merindukanku Kuu..."
"Hem... diamlah! Kau menganggu tidurku gaki" setelah itu mereka hanya duduk dalam diam di dahan pohon tersebut, tanpa sadar hari telah siang dan mereka melupakan makan siang dan jam ramuan dipagi hari dan pelajarn Herbologi setelah ramuan.
Harry dan Draco kini terlihat berjalan bersama menuju ke ruangan Professor Snape kerena permintaan sang Professor dengan ciri rambut klimis dan hidung sedikit bengkok tersebut. Sesampai didepan ruangan Severus, dengan pelan Harry mengetuk pintu dari kayu pohon mahoni tersebut dengan pelan. Tidak lama pintu tersebut terbuka, mempersilahkan mereka masuk, Harry dan Draco kini duduk disofa hijau yang berada di ruang tamu milik Severus.
"Ada apa anda memanggil kami kemari Professor?" Tanya Harry dengan cangung.
"Bukankan aku sudah menyuruh kalian mengawasi Naruto, Mr. Potter, Mr. Malfoy?"
"Iya Professor, memang apa yang terjadi dengan Naruto?" Tanya Harry cemas.
.
.
Lama tidak mendapatkan jawaban dari sang Professor dan suasana semakin cangung Harry mengeser duduknya mendekati Draco yang masih anteng mengawasi Severus yang memunggunginya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto-nii Professor?" Tanya Draco dengan suara barithonenya.
"Kalian akan tahu nanti"
Karena suasana yang sepi dan perasaan cemas yang mendera kedua siswa tersebut membuat mereka semakin larut akan kecemasan yang mereka fikirkan, ketakutan akan terjadi hal yang tidak-tidak pada Naruto apa lagi dengan ketiga hantu Hogwarts yang sering mengaggu Naruto, membuat mereka semakin kalut. Karena terlalu larut akan lamuan mereka sehingga mereka tidak menyadari akan kedatangan dua orang yang mengunakan jaringan teleport floo. Tidak lama sekitar tiga menitan perapian tersebut kembali berkobar dan muncullah Sirius Black yang mengenakan jas hitamnya. Karena sudah lengkap, Severus mempersilahkan mereka duduk dan menyediakan teh untuk mereka.
"Ada apa kau mengumpuklan kami Severus?" Tanya Narcissa diserti senyum ala ibu-ibu yang menenangkan.
"Ini tentang Naruto" jawab Severus gusar.
"Kenpa?" Tanya Sirius tertarik. Menghela nafas sejenak Severus kini ikut duduk di sofa singel yang berada diujung. "Naruto hamil"
"""""EEHH""""" koor mereka serempak dengan OOCnya.
"Kau bercandakan?" Tanya Lucius tidak percaya.
"Aku tidak akan mengumpulkan kalian semua jika untuk lelucon konyol" mendapat balasan yang serius dari Severus akhirnya mereka terdiam.
"Bukankah itu wajar, umur Naruto sudah sembilan belaskan?" Ucap Sirius santai.
"Masalahnya Naruto hamil karena diperkosa bukan kehendaknya sendiri"
'BRUSSSSS'
'Uhuk uhuk' Lucius dan Sirius yang sedang meminum teh lagsung menyemburkan teh yang diminum karena tersedak. Sesangkan Harry dan Draco malah terlihat berfikir serius.
"Lalu keadaan Naru bagaimana Sev? Dimana dia?" Tanya Narcissa beruntun.
"Keadaanya cukup baik, tapi mentalnya mungkin tidak, tadi saja dia berniat mengugurkan kandungannya" jelas Severus menerawang.
"Mengugurkan? Dia tidak akan setega itukan Sev?"
"Sebelumnya dia berniat menggugurkan janinnya, beruntung Kurama menggigitnya dan yah sedikit tamparan dariku berhasil menyadarkannya"
"Sekarang Naruto dimana?"
"Entahlah, sejak pagi dia keluar dengan Kurama" jawab Severus lelah, menyandarkan punggungnya disandaran sofa ia lagi-lagi mengurut pangkal hidungnya,
"Harry boy... kau bawa Marauder Map?" Tanya Sirius pada Harry dengan nada sing a song
"Bawa" mengambil sebuah perkamen lusuh di saku celananya lalu ia menyerahkan pada Sirius yang sudah mengtungkan(?) tangannya.
'I Solemnly Swear That I Am Up To No Good' ucap Sirius pelan sambil mengacungkan tongkat sihir entah milik siapa karena tongkat miliknya masih menjadi tahanan di kementrian, "hememm... Uzumaki Namikaze Naruto" kedua mata onyxnya menelusuri setiap sudut peta dan akhirnya menemukan nama tersebut di hutan Terlarang bersama Kyuubi no Kitsune disamping nama Naruto, terbelalak karena setahunya yang bersama Naruto itu Kurama rubah kecil yang memiliki ekor sembilan. Mengelang pelan ia menatap Severus meminta penjelasan akan kebenaran rubah milik Naruto. Melihat Severus yang hanya mengangkat satu alisnya ia hanya bisa mengeram palan dengan hati dongkolnya. "Kau bilang Naruto dengan Kurama, tapi lihat disini tertulis Kyuubi no Kitsune Snivellus.."
"Kyuubi no Kitsune hanya legenda Black" ucap Lucius yang membela sahabatnya.
"Lihat dan baca! Marauder Map tidak akan pernah salah" perintah Sirius sambil menaruh peta tersebut ditengah meja setelah menyingkirkan cangkir teh yang sebelumnya ada. Memfokuskan pandangan mereka pada sudut yang ditunjuk oleh jari telunjuk Sirius mereka sama-sama terbelalak karena ada makluk legenda berada dekat dengan putra sahabat mereka.
"Kecurigaanku sebelumnya ternyata benar. Ada yang bisa menjelaskannya?" Tanya Lucius dengan tampang puasnya.
"Err... sebenarnya Kurama-san adalah Bijuu yang sebelumnya tersegel dalam tubuh Naruto-Nii." Ucap Harry ragu antara menjelaskannya atau tidak.
Melihat keraguan dari satu-satunya Potter yang tersisa membuat mereka menatap Harry dengan tatapan yang seakan-akan mengucapkan -cepat ceritakan!-
"Umm... saat kami ke Gringotts Naruto-Nii mengambil gulungan milik paman Minato yang isinya jurus entah apa, lalu Naruto-Nii meneluarkan makhluk putih seperti manusia dari sebuah scroll yang dibawanya, saat Mione memprotesnya karena menyimpan manusia hidup disebuah gulungan, ia bilang itu bukan manusia tapi Zetsu putih hanya senjata perang yang digunakan oleh musuh untuk menghidupkan orang mati, lalu setelah Naruto-Nii merangkai handseal ia menaruh telapak tangannya pada perut Zetsu dan Zetsu tersebut berubah menjadi seorang laki-laki yang agak mirip dengan Naruto-Nii hanya saja rambut dan matanya mirip dengan Kurama, rubah yang bersama Naruto-Nii serta sembilan ekor yang melambai dibelakang tubuhnya. Lalu saat kami ingin keluar dari brangkas orang tersebut berubah menjadi rubah besar yang besarnya hampir sama dengan Naga dan mengecil menjadi rubah kecil yang bisa tertidur di kepala Naruto-Nii. Nii-san bilang kalau Kurama-san bisa membesar atau mengecil sesukanya asal dekat dengannya."
"Apa besar aslinya hanya menyerupai seekor naga?" Tanya Draco kepo
"Tidak, Nii-san bilang kalu aslinya sebenarnya beberapa kali lipat dari seekor Naga"
"Menyegel Bijuu dalam tubuh manusia, kedengarannya cukup berbahaya" komen Severus.
"Tidak juga, ditempatku menyegel sesuatu yang besar itu sudah biasa, dan aman-aman saja asal jinchuurikinya bisa mengontrol kekuatan yang dibawanya" karena keasikan mengobrol, tanpa sadar orang yang tengah mereka bicarakan telah duduk anteng di dekat Draco.
"Sejak kapan kau disitu" tanya Sirius yang menyembunyikan kekagetannya.
"Beberapa saat yang lalu" jawab Naruto santai, melihat ekpresi mereka yang campur aduk antara iba, prihatin dan entah apa saja yang jelas ia terharu akan perhatian mereka"aku tau apa yang akan kalian tanyakan, tenang saja.. aku tidak akan mengugurkannya, lagian ada Kurama dan kalian yang akan membantuku merawatnyakan... oh ia Harry kuharap kau menata ulang jadwal pertemuan, soalnya dari kabar burung yang ku dengar Dolores meningkatkan pengawasan pada setiap organisasi di Hogwarts."
"Darimana kau tahu?"
"Katak Neville" guraunya
"Serius Nii-san!"
"Serius ada didepanmu" jari telunjuk kananya menunjuk Sirius yang sedang memperhatikan Marauder Map. Melihat tatapan Harry yang ditajamkan membuat Naruto hanya mengarik belakang kepalanya"baiklah-baiklah... tadi aku mendengar Professor Umbridge bicara sama si tua Flich tentang beberapa organisasi siawa yang membangkang aturanya, dalam tanda kutip mempelajari mantra dan pertahanannya"
"Baiklah... aku akan mendiskusikanya dengan yanglain nanti"
"Memang organisasi apa yang kau ikuti Harry?" Tanya Sirius tertarik.
"Errr Dumbledore army Padfoot" jawab Harry dengan ragu
"Terbaik... jangan lupa buat keonaran dan kacaukan Hogwarts"
'Ctak'
"Aw... apa-apaan kau Snivellus" desis Sirius dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya karena pukulan sayang dari Severus
"Kau dan keonaranmu" desis Severus dengan deathglare andalanya.
"Abaikan pertikaian mereka Naru-chan.. bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau ingin sesuatu? Aunty akan senang jika bisa memanjakanmu Naru-chan..." siapapun pasti akan sweetdrpod melihat keOOCan Narcissa yang sangat keluar dari ke-Malfoyissannya.
Mendapat perlakuan yang sangat tidak terduga dari sang bibi membuat Naruto hanya nyengir salah tingkah sambil mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah kubilangkan Gaki... kau tidak akan sendiri disini" ucap suara berat dari belakang Naruto.
"Hehehe... maaf Kurama, aku meragukanmu" menengok kearah belankang dan mendapati rubah berekor sembilan tengah mengigit apel di mulutnya.
"Kyuubi no Kitsune?" Tanya Sirius ragu.
"Apa?"
"Tidak, hanya memastikan" jawab Sirius kikuk dengan mengibaskan tangan kananya.
"Hidung bengkok persediaan apelmu habis, beli lagi sana!" Ucap Kurama yang sudah dalam mode humamnya, seorang pria tinggi, berkulit putih, rambut orange kemerahan seta iris mata yang vertikal jangan lupakan tiga garis dimasing-masing pipinya yang tebal hingga membuat kesan garang di wajahnya, tubuh yang terpampang jelas dengan enam kotak yang terukir diperut kokohnya membuat Narcissa blussing seketika, tak lupa sembilan ekor melambai dibelakangnya. Beruntung ia sekarang mengenakan celama jins hitam yang entah ia dapat dari mana, mungkin dari rumah Louwis.
"Eh,, padahal tadi kita bicara kau masih wujud rubah" ucap Sirius kaget
"Aku tidak bicara denganmu Anjing kampung" mendapat sebutan aneh dari Kurama membuat ia pundung dipojokan. Sedangkan Severus tersenyum mencemooh pada Sirius yang sebelumnya menertawakannya.
Memandang apel Kurama dengan pengen, Naruto langsung mengambil apel yang dipegang Kurama, walaupun sebelumnya sudah dimakan Kurama sebagian. Mengerti akan kondisi Naruto, Kurama hanya mendiamakan Naruto yang sekarang sedang memakan apel sisa gigitannya.
#
#
#
#
(Konoha)
Hari-hari dilalui oleh team Taka dengan mengerjakan beberapa misi yang diberi oleh Kakashi. Kini keempat remaja tersebut menuju kearah kedai yang menjual ramen nomor satu di konoha. Dengan langkah gontai seorang yang jalan dibelakang hanya mengikuti dua orang yang berjalan tenang didepan sedangkan yang satu lagi berjalan dengan tenang disamping remaja berambut perak keungguan. Seperti berbaris dalam barisan gerak jalan, mereka membalas sapaan dari beberapa warga yang mereka lewati. Setelah sampai di kedai Ichiraku Ramen mereka masuk dan memberi salam pada paman Teuchi beserta Ayame yang sedang melayani pelanggan. "Selamat sore paman,, aku pesan biasa ya paman" sapa Karin kepada paman Teuchi
"Oh,,, kalian lagi, seperti biasa semua atau ganti menu?" Dengan ramah paman Teuchi melayani mereka berempat yang menjadi pelanggan tetap disini.
"Terimakasih... datang lagi yah!" Ucap Ayame yang barusaja melayani pelanggan yang duduk disamping kiri mereka. "Kalian... apa kabar Taka... baru dari misi ya?" Tanya Ayame pada ke-empat anggota team Taka
"Sudah kubilang jangan memanggil kami Taka Ayame-san!" Protes Suigetsu yang masih tidak suka panggilan Ayame pada mereka yang mengabung panggilan ke-empatnya menjadi Taka saja.
"Baik Ayame-san, kami tadi hanya menjalankan misi rank-A saja" jawab Juugo.
"Ngomong-ngomong lusa ulang tahun Naru-chan apa kalian akan menemuinya? Kalau iya titip kado dariku ya, katakan padanya kalau kami merindukannya"
"Kami tidak tahu kapan akan berangkat menemui Naru-chan Nee-san.. Sasuke-kun bilang kita akan berangkat setelah Orochimaru-sama menyelesaikan gulungan yang ditinggalkan oleh Naru-chan." Jelas Karin sambil menopang dagunya dimeja.
"Padahal ulangtahun Naru-chan sebentar lagi... semoga saja besok sudah selesai"
""""Aamiin...""""
"Ayame tolong bantu aku!"
"Iya Tou-san" balas Ayame lalu melangkah kedalam untuk membantu ayahnya.
'Pluk' bahu Sasuke ditepuk dari luar, menenggok kebelakang Sasuke mendapati Orochimaru dengan senyum ularnya tengah mengeluarkan sebuah tabung kaca kecil berisi cairan berwarna keperakan dari saku bajunya dan menyerahkannya pada Sasuke. "Pesananmu Sasuke-kun..." menyerahkan tabung tersebut kepada Sasuke.
"Ck, Bakoro sedang apa kau kemari?" Tanya Suigetsu sengit.
"Menjadikanmu mainan baruku Sui-kun." Jawab Orochimaru ngasal.
"Bagaimana dengan Dimensional travel milik Naruto? "
"Besok atau lusa selesai Sasuke-kun"
"Baiklah lusa kami akan datang ke markas" putus Sasuke mutlak.
"Anda tidak memesan Orochimaru-sama?" Tanya Juugo kalem.
"Ma~ tidak perlu... aku masih banyak pekerjaan, sampai jumpa minna..."
Sepuluh Oktober team Taka menuju kekantor Hokage yang sudah diisi oleh beberapa orang yang mereka kenal. Ternyata kepergian Sasuke untuk menyusul Naruto sudah tersebar dikalanngan teman-teman sang blonde, bahkan tidak dari konoha saja yang datang. Dari Kumogakure Bee datang tanpa meminta ijin dari sang kakak, Gaara ditemani kedua kakaknya pun tak luput dari kerumunan Herbivore ralat para ninja yang masih menyayanggi Naruto, mebuang nafas keras Suigetsu berusaha untuk menahan tawanya karena pemikiran yang tidak-tidak mampir diotaknya. Semakin lama ia semakin tidak kuat terpaksa ia mengeluarkan semua imajinasi konyol yang ada diotak ikannya "HUF... BWAHAHAHAHAHAHA... KALIAN SEPERTI ROMBONGAN PENGIRING MEMPELAI PRIA YANG NGOTOT MELAMAR SANG MEMPELAI WANITA... KHIKIKIKIKI,, " tawa Suigetsu cekikikan.
"Diam Sui getsu, atau kalian bertiga kutinggal di Konoha?" Ancam Sasuke dengan aura mengintimidasi.
"Kyaaaa... jangan! Kami tanpa kau itu bagai lauk tanpa nasi Sasuke-kun... begitupun kau tanpa kami bagai nasi tanpa lauk..."tolak Karin histeris sendiri
"Kau juga diam Karin!" Desisnya marah "dan kalian semua untuk apa kalian kemari" lanjutnya sambil melihat satu persatu wajah ninja yang berada di kantor Hokage
"Hoam... merepotkan... aku ditarik Ino kemari, dia bilang ingin titip bunga untuk Naruto"
"Memastikan kalu kabar itu bukan hanya Hoax" jawab Gaara dengan nada datar
"Sekalian menikmati featival sepuluh Oktober nanti malam.." saut Temari.
"Yo aku kemari ingin ikut menyusul Naruto yo... selalian menyebarkan seni rap enka keseluruh dunia uuh ,,,, yeah... "
"Kami ingin titip kado buat Naru-chan... sekarangkan ulangtahunnya" jawab ayame sambil menyerahkan sekotak besar yang di bungkus kertas kado berwarna kuning dan bergambar rubah-rubah kecil dengan berbagai ekspresi.
"Aku bukan tukang pos kalian, bawa pulang atau kubakar kalian semua!" Desis Sasuke marah taklupa mata onyx kananya telah siaga dengan berubah menjadi EMS andalanya.
"Yare.. yare.. biarkan mereka memberi kenang-kenangan mereka pada Naruto, Sasuke " lerai Kakashi dengan gaya khasnya.
Mengerutu Suigetsu kini sedang memasukkan barang-barang titipan orang yang senelumnya memenuhi kantor Hokage kedalam gulungan fuin milik Sasuke, terimakasih dia ucapkan pada Karin yang memaksanya melakukan pekerjaan merepotkan tersebut, tidak lama pekerjaan yang menurutnya merepotkan itu selesai dan menyerahkan kembali gulungan yang bersampul hijau tersebut kepada Sasuke.
"Kebetulan kalian disini" ucap Kakashi memutus keheninggan yang mendera beberapa waktu yang lalu dengan mengeluarkan sebuah scroll merah dari laci mejanya.
Menerima scroll tersebut dari Kakashi, mata jadenya meneliti sctoll tersebut dengan awas. "Apa ini?" Tanyanya singkat
"Kiriman dari Naruto lewat Kuchiyose yang terhubung dengan Konohamaru" jelas Kakashi.
"Sejak kapan?"
"Tiga minggu yang lalu"
"Kenapa kau tidak memberitahuku Kakashi" ucap Sasuke seraya mengambil gulungan yang masih dipegang Gaara.
"Aku sudah membukanya, hanya surat yang ditujukan untuk beberapa orang, dan oleh-oleh darinya." Jawab Kakashi dengan senyum misteriusnya. "Bukalah!"
Membuka scroll tersebut, Sasuke hanya mengangkat alisnya penasaran saat membuka scroll tersebut dan mengambil barang yang tersimpan didalamnya, dan hanya sebuah kantong coklat yang diberi tali pengikat dimulutnya(?). Penasaran Sasuke memasukan tangan kirinya yang diperban kedalam kantong tersebut, memasukan tangannya sampai sikunya tapi masih belum menemukan dasar dari kantung tersebut. Merasa dipermainkan oleh hal yang sepele tersebut Sasuke lalu membalik kantong tersebut, saat semua orang masih meusatkan perhatiannya pada barang yang dikirim oleh Naruto, kantong tersebut memuntahkan banyak barang yang ada didalam kantong kecil itu. Meneliti satu persatu barang yang berceceran dilantai ruang Hokage mereka mendapati nama tujuan barang tersebut, mengambil satu persatu barang yang tertera nama mereka masing-masing dan hanya menyisahkan Sasuke yang belum mendapatkan jatahnya(?). "Hanya aku yang tidak dapat?" Tanyanya aneh.
"Kasihan sekali kau Sasuke ... bahkan Orochimaru-sama saja mendapatkan kiriman dari Naruto. Merasa dikacangi Sasuke mengangkat sebelah bibirnya seraya tersenyum meremehkan
"Aku akn mengambilnya sendiri kalau begitu, mudahkan?"
"Orang aneh" jawab Gaara datar
"Kyaaaa apa ini? Uwaaaa... coklatnya meloncat..." teriak Karin gaje. Menangkap coklat yang berbentuk katak tersebut Suigetsu langsung memakannya.
"Hemmm... enak, walaupun terasa ada yang melocat didalam ... mau coba?" Tawar Suigetsu.
"Hentikan Suigetsu, kita harus cepat".
Akhirnya mereka berdua (Suigetsu dan Karin) melangkah keluar menyusul Sasuke dan Juugo yang sudah duluan keluar. Dalam perjalanan mereka melihat beberapa stand yang menjual berbagai makanan. Sasuke yang tatapannya tertuju pada sebuah stand yang dipenuhi oleh makanan manispun melangkahkan kakinya menuju ke stand tersebut, sedangkan ketiga temannya yang berada dibelakang hanya mengangkat bahumereka tidak perduli dengan kebiasaan aneh ketua mereka.
"Hei Juugo,,,, ngomong-ngomong kita akan betangkat jam berapa? Oh, maksudku menyusul Naruto "
"Rencana Sasuke kita akan berangkat dari markas Orochimaru-san jam enam pagi" balas Juugo yang masih memperhatikan Sasuke.
"Sepagi itu?"
"Kita harus berangkat pagi karena dari informasi Orochimaru-sama akan ada perbedaan waktu antara dimensi kita dengan dimensi yang akan kita tuju" jawab Karin dengan percaya diri.
.
.
.
.
(Hogwarts)
Dikamar kebutuhan Hogwarts anggota DA kini telah melakukan latihan setelah jam makan malam, mereka kini kembali melatih mantra Patronum mereka. Berbagai bentuk hewan lucu kini telah melayang, suatu mantra yang menurut Naruto unik karena hewan yang muncul dari tongkat mereka hampir mencerminkan kepribadian mereka, mereka tertawa akan keberhasilan mereka dalam mantra tersebut kecuali seorang remaja blonde yang kini sedang memojok disudut ruangan dengan jari telunjuknya mengambar berbagai bentuk yang tidak akan bisa dilihat oleh mata.
"Rubah itu cukup bagus Nii-san.." hibur Harry pengertian,
"Aku ingin Naga" ucap Naruto dengan mata berkaca-kaca,
"Natal nanti kita akan berlibur ke Rusia dan melihat naga, bagaimana? Kau setujukan? Father dan Mom pasti setuju" hibur Draco sambil mengelus punggung Naruto sayang.
"Aku ingin sekarang"
"Lihat saja Draco, , dia kan namanya ada Naganya" usul Ron aneh.
"Diam kau Weasley... namaku bermakna Naga dan Cobra bukan hanya Naga saja"
"Ohh... Berarti kau seorang reptil Dray..." balas Harry nyengir.
.
.
.
...Duarrrr...
Sebuah ledakan muncul di tengah aula yang kini dipenuhi oleh kabut tebal. Karena kaget mereka semua menengok kearah tengah aula yang diselimuti kabut tebal tersebut, semakin menipis kini ditengah-tengah mereka terdapat sebuah sosok tinggi dan besar berwarna keunguan yang seakan telah melindungi empat orang yang berada ditenggah sosok tersebut.
"Sa Su Ke..."
:
:
:
:
πππππππππtbcπππππππππ
Yeeeee tbc juga... akhirnya walaupun telat tak apakan... #garuk kepala
.
.
.
Terimakasih buat para senpai sekalian yang nyempetin review...
- asd : ok... udah lanjut...^_^
- Rarara : udah nyusul Rarara-san... maaf baru up date...
- samawa : iya... makasih udah review samawa-san...
- Lisa Amelia : iya, dobe-chan hamil un... makasih udah nyempetin review...^_^
- Guest : hehehe iya... akan est usahakan typo dikurangi...
- Arashi31 : ini BL senpai... maaf kalo typonya nganggu... semoga kali ini typonya berkurang...
- Kurumi Ebisuzawa : um... makasih udah mampir review... pastinya menurut Est Taka tanpa Sasuke bagai lauk tanpa nasi, dan Sasuke tanpa trio aneh bagai nasi tanpa lauk... Karin = sambal... Suigetsu = ikan ... Juugo = dagingnya...
- samawa : gak tentu, chap ini sebenarnya udah lanjut beberapa hari yang lalu, tapi karena jari est kepleset, mau klik copy malah nyasar ke delet... yahhh ilang usaha est dalam sekejap... makasih udah mampir... eh samawa-san orang yangsama sama yang samawa-san yang diatas kah?
- femix : udah nyusul kan... +_+
- keSemutAnt : um... sasu est tolongin buat lolos dari sakura agar bisa pergi dengan tenang -_-! Kayak mau meninggal saja... ok... maaf lama keSemutAnt-san cerita est yang chap nie kedelet, so... baru selesai sekarang... trusss makasih udah nyempetin review...
- Guest : udah next Guest-san...
.
#maaf kalau ada penulisan nama yang salah bisa protes di kolom yang ada dibawah ini...
ll
v
.
Kata patah-patah est ...
maaf kalo lama up datenya... soalnya ada kesalahan teknis... #alasan...
