Veei

### 9###

Disclaimer :

Naruto © Masashi K.

Harry Potter © J.K. Rowling

rating : T

π SasuNaru π

ππDraRryππ

Warning!

1• Fic ini mengandung BL atau yaoi. Dengan segala hormat, yang tidak suka yaoi bisa menepi atau meninggalkan fic ini...

2• Gagal EYD masih ada...

3• M-preg mengikuti...

4• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...

['`:_:'`]

{•_•}

v

..Duarrrr...

Sebuah ledakan muncul di tengah aula yang kini dipenuhi oleh kabut tebal. Karena kaget mereka semua menengok kearah tengah aula yang diselimuti kabut tebal tersebut, semakin menipis kini ditengah-tengah mereka terdapat sebuah sosok tinggi dan besar berwarna keunguan yang seakan telah melindungi empat orang yang berada ditenggah sosok tersebut.

"Sa Su Ke..."

:

:

:

:

Setelah kabut tersebut menghilang kini terlihatlah sebuah Susanoo separuh badan serta tiga laki-laki dan satu perempuan yang berada ditengah-tengahnya, yang membuat beberapa anggota DA terkejut ialah mata salah seorang dari mereka yang berwarna merah darah dengan pola bintang enam sudut dan shiriken tiga sudut berwarna hitam ditengahnya pada mata kanannya dan mata kirinya yang kini tertutup poninya sempat terbuka memperlihatkan mata dengan pola riak air yang sikelilingi mgatama berjumplah banyak, entah berapa mereka tidak sempat menghitungnya, hanya melihat matanya saja beberapa siswa seakan mengalami teror rasa takut yang menusuk jiwanya. Beberapa detik dalam keheningan mereka melihat Susanoo tersebut mengecil dan berubah menjadi beberapa tulang rusuk yang masih melindungi keempat orang tersebut,

Mengidarkan pandangannya seorang laki-laki berambut raven yang bagian depan jatuh menutupi mata kirinya dan bagian belakang rambut tersebut menyerupai pantat ayam, hingga pandangannya kini mengarah pada Naruto, terbelalak kini orang berambut raven tersebut menghilangkan kerangka Susanoo tersebut ia berlari kearah Naruto, sedangkan ketiga orang lain mengikutinya dari belakang. Semakin dekat ia dengan Naruto "BERHENTI DITEMPATMU UCHIHA!" Teriak Naruto marah, membuatnya berhenti ditempat dan menatap penuh tanda tanya pada remaja pirang yang berdiri didepanya dengan jarak sekitaran enam dan tuhuh meteran. Dengan Eternal Mangekyou Sharingan yang masih aktif dimata kirinya ia meneliti tubuh Naruto yang mengecil, dan itu mengingatkannya pada Juugo yang dulu pernah mengalami pemangkasan umur saat ia menyelamatkan Suigetsu waktu melawan Killer Bee sang jinchuuriki ekor delapan, saat penglihatannya tertuju pada perut Naruto, ia dapat melihat aliran chakra baru yang semakin tumbuh di perut tersebut, sehingga sesuatu yang ada diperut dan dadanya seakan ingin keluar.

"Naruto" ucapnya dengan menarik kedua sudut bibirnya ia melangkah maju.

"KUBILANG TETAP DITEMPATMU UCHIHA!" Teriak Naruto mengelegar sehingga mengagetkan seluruh orang yang ada diruangan itu, karena yang mereka tahu Naruto bukan orang pemarah dan mudah membentak seseorang yang baru ditemuinya,

"Kenpa?... aku,, kami datang untuk menjemputmu jika kau mau pulang denganku" ucap Sasuke.

"Diam! Aku membencimu Teme..." berlari kearah sang Uchiha dan menghantamkan kepalan tangannya pada rahang tegas Sasuke yang tidak berusaha menghindar. "Kenapa kau tidak menghindar Teme Sialan" teriaknya dengan setetes air mata mengalir dipipi bergarisnya "Kaze no Yaiba" setelah merangkai hand seal, beberapa belati angin mengarah pada Sasuke,

"Katon : Goukakyuu no Jutsu" tidak ingin mati sia-sia Sasuke memblock serangan tersebut dengan salah satu jutsu andalannya, sebuah bola api berukuran besar tersebut bertabrakan dengan angin pemotong milik Naruto.

Sedangkan Karin dan kedua temannya mendekat kearah anggota DA yang menyaksikan pertarungan kedua shinobi tersebut dengan mata terbelalak bercampur ngeri melihat bola api besar yang berada dihadapannya, menepuk pundak remaja bertubuh jakung dengan rambut merah yang berdiri disamping remaja lain yang diasumsikan Juugo sebagai saudara kembar remaja tersebut, "suruh teman-temanmu untuk mundur dan menghindar dari tempat Naruto dan Sasuke! " mendapat anggukan dari kedua remaja tersebut Juugo kini menuju kearah dua temannya yang lain.

"Sen'ei Tajashu" mengeluarkan puluhan ular besar melalui tangan kirinya dan mengarahkannya pada Naruto yang telah membawa Rasengan ditangan kananya, disaat kedua jutsu tersebut bertabrakan ular-ular yang berasal dari tangan Sasuke hancur dan terpotong, Naruto semakin mendorong Rasengan tersebut hingga Rasengannya semakin menipis dan menghilang, sedangkan ular-ular sasuke masih banyak dan terus keluar menuju kearahnya, terpaksa Naruto harus bersalto kebelakang untuk menghindar dari serangan ular Sasuke beserta menghindari potongan tubuh ular yang berserakan dilantai, menahan mual yang tiba-tiba mendera perutnya membuat Naruto lengah karena menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk meremas perutnya yang melilit menahan mual. Melihat Naruto lengah Sasuke berlari kearah Naruto dengan pandangan khawatir dikedua iris onyxnya. Walaupun pandangan masih kabur karena mata yang berkaca-kaca Naruto berusaha menghindari Sasuke dengan mengabaikan rasa mualnya,

"Naruto, Dengarkan aku!"

"Tidak" melompat mundur Naruto mengambil shuriken dari segel penyimpan yang ada dipergelangan tangan kirinya dan melemparkannya pada Sasuke "shuriken kage Bunshin no Jutsu" dari beberapa shuriken yang ia lemparkan pada Sasuke kini berubah menjadi ratusan shuriken yang mengarah pada Sasuke, tidak kalah cepat dengan sang Blonde Sasuke juga melakukan hal yang sama untuk memblock serangan shuriken Naruto, sedangkan beberapa shuriken yang berhasil lolos ia belokan dengan Kusanaginya, "hentikan Naruto!" Geram Sasuke tidak terima.

"Tidak akan... kau... GAH... BERENGSEK... KUKEBIRI KAU" murka Naruto tanpa sadar sihirnya meledak sehingga kaca jendela disekitarnya pecah. Mendengar ancaman Naruto membuat Sasuke melotot dan menelan savilanya dengan susah, sedangkan yang lain kushusnya pria melihat bagian selatan tubuhnya masing-masing dengan perasaan merinding,

'Glek'

"Na,Naruto menakutkan..." ucap Suigetsu horor.

"Kyyyaaaa Naru-chanku semakin manissss..."teriakan gaje dari seorang wanita berambut merah dengan kacamata berframe merah membuat yang mendengar sweetdroped berjama'ah.

'Trang'

'Trang'

'Ting...'

'Syhuut...'

'Tring... DUARRR KRATAKKKKKKK'

"Me-menakutkan.. kakak itu mengunakan ular seperti Kau Tahu Siapa" cicit salah satu anggota DA yang paling muda. Menepuk kepala bocah berumur sekitaran duabelas tahunnan tersebut Juugo memberikan senyumnya yang menenangkan pada bocah betambut hitam kelam tersebut.

"Jangan takut, mereka sering melakukannya ketika bertemu" suara bass yang menenagkan tersebut berhasil menghilangkan ketakutan beberapa remaja lain yang mendengarnya, entah memang keberuntungan atau apa lantai ruang kebutuhan tersebut bahkan belum tembus ke lantai bawah, karena seingat mereka ruang kebutuhan yang mereka tempati kini berada dilantai tujuh. Terlihat beberapa lantai yang retak dan berlubang dan diantaranya terdapat Naruto yang kini telah terengah karena lelah, memang... walaupun ia seorang jinchuuriki, semenjak ia hamil fisiknya lebih cepat lelah dan emosinya meledak-ledak tergantung mood.

Mengarahkan ularnya kearah Naruto yang masih mengambil nafas, Sasuke tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dengan cepat ular berwarna putih tersebut membelit tubuh Naruto, walaupun tidak terlalu kuat, tapi mampun menahan pergerakan Naruto sedangkan kedua tangan Naruto dililit oleh ular yang lebih kecil.

Melihat Naruto tertangkap oleh ular putih tersebut Draco dan Harry mengarahkn ujung tongkatnya kearah ular tersebut. "Confringo/Expluso" kedua mantra yang dirapalkan oleh Harry dan Draco dengan cepat melesat kearah ular tersebut, tapi sebelum kutukan tersebut mengenai target kedua kurukan tersebut telah menabrak seekor naga air yang meliuk dihadapan anggota DA.

"Jangan ikut campur masalah mereka bocah!" Ucap Suigetsu memberi peringatan dengan background seekor naga air yang masih meliuk dibelakangnya serta posisi Naruto yang masih terikat seakan menjadi momen penculikan anak yang sudah direncanakan(-_-!). Tidak menyerah beberapa mantra meluncur mulus kearah Suigetsu dan mengenai wajahnya yang langsung mencair dan kembali lagi seperti semula "ma~ tadi itu panas lohhh" ucap Suigetsu sing a song, mengarahkan tangannya pada sekelompok remaja yang menyerangnya, Naga yang berada didepannya melesat cepat menuju kearah Harry dan kawan-kawan.

"JANGAN GANGGU TEMAN-TEMANKU ANAK IKAN SIALAN! Hah.. hah ha-ah... uughh... lepaskan, Sasuke" mencoba lepas dari jeratan ular milik Sasuke, ia semakin memberontak tatkala Sasuke semakin dekat dengannya, sedangkan Suigetsu yang mendengar perintah Naruto langsung menghentika laju Naga airnya yang kurang dari seperempat meter lagi melahap Harry, Hermione, Ron dan Draco sekaligus.

"Mereka duluaan yang menganggu" elak Suigetsu.

Dengan genggaman tongkat yang mengerat, mereka berempat mundur secara teratur, karena mereka tahu kutukan mantra biasa tidak akan bisa melukai pria bergigi runcing tersebut, apalagi dengan pedang besar yang ada dipunggungnya.

"Tenang, Sasuke tidak akan melukai Naruto-san..." ucap Juugo yang berada dibelakang mereka berempat.

"Se, sejak kapan?" Tanya Ron Horor.

"Baru saja"

"Siapa kalian?" Tanya Hermione menyelidik.

"Kami teman-temannya, sedangkan dia -menunjuk kearah Sasuke - bisa dibilang rival dan saudara Naruto-san"

"Saudara macam apa yang tega memperkosa saudaranya sendiri" desis Harry tidak terima.

"Masalah itu tanyakan pada Sasuke sendiri"

.

"Lepaskan Brengsek..." semakin dekat Naruto Sasuke mengelus pipi Naruto dengan pandangan rindu.

"Maafkan aku Naruto " bisik Sasuke ditelinga Naruto.

"Ke-kenapa..."

"Aku mencintaimu, maaf karena aku tidak pernah bilang padamu sebelumnya, maaf, jika perbuatanku menyakitimu, maaf jika aku egois kerena ingin memilikimu" mangatup kedua sisi wajah Naruto dengan kedua tangannya, Sasuke menatap kedua iris sapphire Naruto dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.

"Kenapa kau melakukan itu saat aku pingsan? Hiks... Sa-Sakura-san juga hiks... dia hamilkan... kenapa kau memilihku?"

"Lupakan Sakura! Aku tidak pernah melakukannya dengan Sakura. Percayalah! Aku hanya melakukannya sekalih denganmu, bukankah Kau dulu berjanji selalu bersamakukan?"

"Kau bercandakan?" Dengan air mata yang masih mengalir ia memastikan kesungguhan orang yang lebih tinggi darinya tersebut.

"Aku serius Naruto, aku mencintaimu... jadi kumohon menikahlah denganku, jadilah ibu dari anak-anakku Naruto Uchiha"

"Aku tidak mau... aku laki-laki Teme... aku akan jadi ayah. Dan kau ibunya!"

"Hei... aku yang diatas... aku adalah ayahnya"

"Tidak... kau harus jadi ibunya titik!"

"Hn,"

'Cup' membungkukkan tubuhnya guna mensejajarkan kepalanya dengan Naruto, Sasuke lalu menempelkan bibirnya pada bibir Naruto, kaget? Tentusaja,, dihadapan teman-temannya Sasuke menciumnya tanpa ragu. Terimakasih pada ular yang masih membelitnya sehingga ia tidak bisa memukul kepala ayam dihadapannya. Dengan nafas terengah dan wajah memerah karena malu Naruto dengan cepat mengigit lidah Sasuke yang seenaknya memasuki mulutnya,

"Argh... kenapa kau mengigitku Dobe?"

"KAU... DASAR ERO-TEME... Seenaknya saja menciumku didepan umum Brengsek..." teriak Naruto yang berhasil lepas dari jerat ular Sasuke.

'BRAAAAKK'

"Kyaaaa... Sasuke ..." teriak Karin melihat Sasuke yang menabrak tembok hingga retak karena pukulan Naruto.

"Fuuh.. Hah,, hah,,,," melangkah kerah Sasuke yang terduduk menyandar ditembok dengan beberapa luka memar dan darah yang mengalir disudut bibirnya serta dipelipis kiri Uchiha terakhir tersebut. "Se-separah inikah aku menghajarnya?" tanya Naruto pada dirinya sendiri dengan tangan kanannya yang mencubit dagunya serta kepala dimiringkan kekanan, ia melihat Sasuke dengan aneh, antara puas dan menyesal.

'Uhuk...' mendengar suara batuk Naruto melihat Sasuke yang tengah menutup mulutnya dengan tangan kanan, takluput dari pengawasannya disela-sela jemari putih tersebut mengalir darah dan mata onyx tersebut perlahan menutup, sehingga membuat Naruto panik. "Sa, Suke... kau tidak papa-kan? Ma maaf aku memukulmu terlalu keras, jangan mati dulu Teme! Aa kita ke Houspital wings sekarang hiks... aku ... Teme... kau... hiks,,, kau terluka,,, hiks,,, bagaimana ini? Huweee KARIN-NEE... " Panik Naruto dengan tangisnya.

"Huufzz... benar-benar,,, mood orang hamil tidak bisa ditebak" keluh Karin yang tahu kalau Naruto ternyata hamil.

Mendekati Naruto dan Sasuke, Karin menepuk pundak pundak Naruto untuk menyadarkannya "Naru, iklaskan saja"

"Hiks,,, Huweee... teme... aku menyesal... aku mau hiks,,, jangan tinggalin kami... hiks,,, kau,,, Huweee... padahal hiks,, aku juga mencintai Sasuke hiks.." mengusap ingus dan air matanya dengan lengan junahnya.

"Be nar kah?" Tanya Sasuke akhirnya membuka matanya kembali.

"Jangan mati dulu hiks" isak Naruto yang duduk dihadapan pemuda raven tersebut, mengarahkan tangannya didahi Sasuke yang teruuka ia kemudian berusaha menyembuhkan luka Sasuke dengan ninjutsu medisnya, sebelum menyentuh luka Sasuke, tangan porselen tersebut mengenggam tangan tan yang lebih kecil dari tangannya, mengelangkan kepalanya ia menolak dengan halus niat baik Naruto,

"Biarkan aku menolongmu" pinta Naruto dengan mata berkaca-kaca, karena tidak ingin membuat Naruto kecewa, akhirnya ia membiarkan Naruto menyembuhkan lukanya dengan ninjutsu medisnya,

"Naru... aku senang akhirnya kau menerima ku" ucap Sasuke dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

"Aku memang menerimamu, tapi belum tentu paman dan ayah baptisku menerimanu Teme," jawab Naruto yang masih fokus dalam penyembuhannya.

"Paman dan ayah baptis?"

"Sebenarnya Tou-san berasal dari dimensi ini, tapi karena perang dan suatu hal kakek mengirim Tou-san ke Jepang, dan saat proses pengiriman terjadi kesalahan, jadilah Tou-san terdampar diKonoha. "

"Oh,"

"Sebelum menikah kau harus minta ijin dulu dari keluargaku Teme,," ucap Naruto dengan senyum lembut terpatri di bibir plumnya,

"Mudah saja, hanya meminta ijin-kan?"

'Nyuut'

"Awww... pe-"

"Jangan pernah mengunakan genjutsu pada keluargaku Teme'" desis Naruto dengan menekan kuat luka Sasuke.

"Baiklah,,"

Setelah usai menyembuhkan luka Sasuke, ia menarik lengan porselai tersebut agar berdiri, mengeluarkan tongkat adamnya Naruto lalu merapalkan benerapa mantra 'Reparo' untuk memperbaiki kerusakan yang ada dihakama Sasuke. Setelah dirasa cukup baik Naruto akhirnya berbalik dan dikejutkan oleh kerusakan akibat pertarungannya dan Sasuke, melihat lubang, retakan dan potongan tubuh ular yang tercecer di dadapannya membuatnya mual kembali dan pingsan. Sebelum tubuhnya terbentur lantai dengan sigap Sasuke menangkap tubuh yang sekarang jauh lebih kecil dari tubunya tersebut. Melihat Naruto ambruk beberapa anggota DA berlari kearah Naruto dengan pandangan khawatir plus cemas, mengabaikan keadaan ruangan yang kacau, keempat Weasley, Neville, Hermione, Draco dan Harry serta beberapa anggota lain untuk memastikan keadaan Naruto.

Membuka Marauder map Harry mengawasi langkah kaki yang ada dipeta tersebut, memastikan aman untuk membawa Naruto menuju ke kantor Severus Snape karena permintaan Naruto sendiri yang ingin nmmerahasiakan kehamilannya dari yang lain, bahkan hingga saat ini yang tahu akan kehamilannya hanya beberapa orang yang sangant dekat dengan Naruto.

"Aman... Umbridge sedang berada di kantornya, dan filch bersama Mrs. Norris berada didapur. Mione, Ron.. kalian tolong perbaiki kerusakan diaini, aku dan Draco akan membawa Naruto, dan kalian berempat ikuti aku!" Titahnya. Karena tidak ada pilihan lain, Team Taka akhirnya mengikuti Harry dan Draco, dengan Naruto yang sekarang berada digendongan Draco, dan Team Taka yang semenjak keluar dari kamar kebutuhan Sasuke dan ketiga temannya langsung berhengge menjadi seekor kucing hitam yang kini berada dipelukan Harry, karin yang menjadi Hermione, Suigetsu yang menjadi Ron serta Juugo yang kini beryengger manis dilepala Harry, seakan menikmati peranannya menjadi seekor burung kecil berwarna orange.(ngebayangin Hibrid yang bertengger manis dikepala Hibari(Khr)). Dengan mata tajamnya Sasuke mendelik mengawasi punggung Draco yang sedang mengendong Naruto-nya dengan gaya bridal styel. Memastikan tangan bocah pirang platina dihadapannya tidak keluyuran dengan memegang kulit mulus Narutonya. Mengeram pelan saat melihat pergerakan tangan Draco dari belakang yang membetulkan posisi gendongannya pada Naruto, hampir ia melompat guna menerjang punggung tegap tersebut andai saja tidak dihalangi oleh Harry yang mengencangkan pelukan pada tubunya.

"Tenang Sasuke-san... Draco hanya mengangap Naruto-nii sebagai kakak yang dia sayanggi" bisiknya pelan yang hanya disahuti aneh dari sang kucing.

Ketika mereka sampai di depan pintu ruangan Snape dengan dengan perlahan Harry meengetuk pintu mahoni tersebut, beberapa kali ketukan dan menunggu sebentar akhirnya pintu itu terbuka oleh seorang kakek tua berjenggot panjang yang sudah memutih, dibalik kacamata bulan separohnya ia mengawasi Draco yang sedang pandanga menyelidik,

"Errr,,, Professor, Professor Snape ada?" Tanya Harry ragu.

"Oh, Mr. Potter, masuklah! Sev ada didalam" mempersilhkn mereka masuk dengan mengeser tubuhnya agar keempat siswanya bisa masuk.

Didalam mereka dihadapkan oleh Severus yang sedang memperban luka yang ada dilengannya,

"Prof,Professor ..."

"Ada apa dengan Naruto?" Tanya Severus yang langsung menghentikan kegiatannya, berdiri dari sofanya ia menuju ke arah kamar yang biasa digunakan oleh Naruto ketika menginap. Membaringkan Naruto pelan Draco lalu menyelimuti tubuh Naruto dengan selimut tebal berwarna hijau. Setelah Naruto dibaringkan Severus duduk ditepian kasur untuk memeriksa keadaan Naruto,

"Sudah kubilang jangan membuatnya terlalu lelah dan stres, apalagi sampai mengalami ledakan sihir seperti tadi"

"Errr,,, sebenarnya-"

"Kai"

'Poof' Setelah asap yang menyelimuti Hermione, Ron dan kedua hewan yang sudah agak menjauh dari Harry, terlihatlah empat orang asing dihadapan kedua Professor tersebut.

"Siapa kalian" tanya Severus menyelidik

"Perkenalkan kami teman-teman Naruto, aku Karin, yang berada dibelakangku namanya Juugo, lalu yang dia Suigetsu dan dia Sasuke" ungkap Karin sambil menunjuk ketiga temannya satu-persatu.

Mengangguk ringan mereka tetap menfoklkuskan penglihatan mereka pada tubuh Naruto yang masih belum sadar.

"Senang mengenal kalian... dan selamat datang di Hogwarts." Ucap Albus Dumbledor dengan mengelus jengot panjangnya, memperhatikan punggung Sasuke dan Juugo dengan seksama, lalu mengalihkan pandangannya pada Naruto sesekali.

"Boleh aku melihat kondisinya?" Tanya Karin ragu pada Severus. Mengapat anggukkn ringan setrlah mendapatkan tatapan maut dari Severus akhirnya ia maju dan duduk disamping ranjang Naruto, mengarahkan telapak tangannya yang sudah berpendar(?) Chakra warna hijau ke dada dan perut Naruto selama benerapa saat akhirnya ia kenarik kembali tangannya "Naruto baik-baik saja Sasuke, dia hanya kelelahan dan terlalu banyak mengunakan chakra. Serta emosinya yang tidak stabil membuat janin yang ada diperutnya sedikit kontraksi karena otot perut yang mengencang dan menekan keberadaan janinnya yang masih rawan keguguran. Ngomong-ngomong dimana Kyuubi? Aku tidak bida merasakan keberadaan rubah buluk itu ditubuh Naruto selama disini, apa jangan-jangan...?"

"Mencariku mata empat?"

""Hei"" protes Karin dan Harry bersamaan akan sebutan 'mata empat' yang dilanyangkan oleh seorang pria berambut orange kemerahan yang kini sedang menyender disamping pintu sambil makan apel merah segar. Meneliti penampilan Kyuubi yang menurut Karin sangat menawan membuat wanita berambut merah tersebut membenarkan letak kaca matanya yang melorot dengan pipi merah merona.

"Ky-hemp" sebelum teriakannya terbang diudara dan hinggap di telingan-telinga indah orang lain dengan sigap Suigetsu membekap bibir Karin dengan telapak tangan kanannya.

"Kau mau membangunkan Naruto, hah wanita aneh!?" Mengabaikan deathglare dari karin ia(Suigetsu) kembali keposisi semula disamping Sasuke.

"Tidak kusangka kalian bisa sampai kemari" ejek Kurama yang mulai melangkah maju.

"Tidak ada yang bisa menghalangi kami" dingin.

"Oh... bocah Uchiha... untuk mendapatkan Naruto kau harus bisa meluluhkan hatiku dulu" dengan serinagaian lebar di bibirnya dia duduk diranjang yang ditempati oleh Naruto.

"Hn. Sayang sekalih, Naruto sudah menerima lamaranku" balas Sasuke dengan senyum evilnya.

"Urgh... kalian berisik" mengeliat pelan Naruto kini sudah membuka matanya kembali.

"Minulah! Itu akan meredakan mualmu" perintah Severus sambil mendudukan Naruto.

"Sasuke" ucap Naruto pelan

"Aku disini Naruto" mengengam tangan Naruto, ia kini duduk dikursi yang sebelumnya ditempati Karin.

"Syukurlah... aku tidak sedang bermimpi tadi" ungkapnya lemah sambil mengelus rahang tegas Sasuke. "Maaf tadi aku menghajarmu" sesalnya

"Aku tidak papa, kau harus istirahat Dobe, tadi kau membuatku khawatir"

"Huum.. tapi kau akan tinggal dimana?" Tanya Naruto yang masih khawatir

"Tenang Naruto-kun.. teman-temanmu untuk sementara akan tinggal di kamar kebutuhan. Dan natal nanti kau bisa mengajak mereka pindah di mansion mu" dengan senyum bijaknya Albus Dumbledore menawari keempat shinobi tersebut tinggal di ruang kebutuhan. Mengangguk kompak keempat shinobi yang baru saja tiba tersebut membungkukkan badanya,

"Ummm... Professor Dumbledore, sebenarnya..."

"Aku tahu Naruto-kun.. tenanglah, hari semakin malam, istirahatlan!" Mengangguk pelan Naruto lalu merebahkan dirinya kembali di ranjangnya dan terlelap. Satu-persatu dari mereka akhirnya keluar dan menyisakan Kurama dan Sasuke yang masih didalam, setelah pintu dengan kayu mahoni tersebut tertutup Sasuke lalu merebahkan dirinya diaamping Naruto dan memeluknya, sedangkan Kurama yang sebelumnya sudah berada disamping Naruto tepatnya smdisamping kanan Naruto sedangkan Sasuke disisi kiri Naruto ikit merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping kekiri dan ikut memeluk Naruto, dengan kesembilan ekornya yang melingkupi tubunhya dan Naruto.

Berhari-hari di Hogwarts mereka lalui dengan belajar, mengerjakan tugas, latihan DA, dan sekarang beberapa siswa ikut berpartisipasi dengan sikembar Weasley untuk mengerjai Professor Umbridge yang agung, berbagai prank yang mereka pasang disudut-sudut tertentu, serta kolaboradi dengan para hantu yang ketenangannya ikut terganggu setelah kehadiran Umbridge yang membatasi pergerakan mereka.

Sedangkan keempat shinobi yang beberapa minggu atau bulan tiba di Hogwarts kini masih nyaman dengan ruang kebutuhan yang menyediakan semua kebutuhan hidup mereka selama sembunyi disini, hanya tinggal satu minggu lagi mereka akan terbebas dari penjara indah ini. Walaupun mereka bisa keluar dari tempat itu semaunya asal tidak bertemu dengan Umbridge yang pasti akan menendang mereka keluar dari Hogwarts karena status mereka sebagai seorang muggle, seorang yang tidak memiliki sihir. Seperti halnya Professor Sybill Patricia Trelawne, guru ramalan yang dipecat serta diusir dengan cara memalukan dihadapan para penghuni Hogwarts dengan alasan memberikan pelajaran yang membuat siswa menjadi tukang menghayal dan dianggap gila oleh sang inkuisitor Agung Hogwarts, yang akhirnya bisa dipertahankan oleh Albus Dumbledore selaku kepala sekolah Hogwarts yang masih menjabat. Serta menghilangnya Rubeus Hagrid yang benerapa hari ini tidak mengajar.

Desember telah tiba, dan salju pertama turun tepat pada pertengahan November yang dingin, malam ini Harry tiba lebih awal saat pertemuan DA terakhir sebelum liburan tiga minggu kedepan, memasuki ruang kebutuhan yang kini disulap menjadi sebuah aula dengan berbagai hiasan Natal yang terpasang diberbagai tempat, dan ia tahu siapa yang melakukannya. Dobby peri ruamah yang sering melindunginya atas perintah Draco secara sembunyi-sembunyi dengan memakai kedok bahwa Dobby telah dimerdekakan dengan memberikan sebuah kaus kaki usang milik Harry. Ia melihat Dobby yang telah berinisiatif sendiri untuk menghias tempat ini untuk Natal. Ia bisa tahu peri itu yang melakukannya karena tidak ada seorangpun yang akan mengantung seratus bola keemasan dilangit-langit dan masing-masing memperlihatkan wajah Harry dan bertuliska 'HAVE VERY HARRY CHRISTMAS'. Disaat Harry baru saja menurunkan hiasan bola yang terakhir terdengar suara pintu berderit terbuka dan masuklah Luna yang tampak melamun seperti biasa.

"Halo" ucap Luna samar, sambil menandang sekeliling pada sisa-sisa dekorasi. "Ini bagus, apa kamu yang memasangnya Harry?"

"Tidak, Dobby yang memasangnya" jawab Harry pelan,

"Mistleteo," kata Luna sambil melamun, menujuk ke rumpun besar beri putih yang diletakkan hampir diatas kepala Harry. Melihat mistleteo Harry melompat dari bawahnya. "pemikiran bagus" kata Luna serius "sering ditinggali oleh Nargle".

Harry terselamatkan dari keharusan bertanya apa itu Nargle oleh kedatangan Angelina, Katie dan Alicia.

Mereka bertiga terengah-engah dan terlihat sangat kedingian.

"well" kata Angelina tanpa minat sambil menarik lepas mantelnya dan melemparkannya kesudut

"kami akhirnya punya penggantimu"

"menggantikanku?" tanya Harry hampa.

"tepatnya mengantikanmu. Fred dan George" dia brkata dengan tidak sabar "kita punya seeker lain"

"siapa?" tanya harry cepat

"Ginny Weasley" kata Katie.

Harry memandangnya dengan mulut terbuka.

"yeah... aku tahu." katanya singkat, menghetikan perbincangan mereka setelah seluruh anggota DA berkumpul semua. Pertemuan terakhir ini mereka mengulang kembali mantra yang telah mereka pelajari dengan duel satu lawan satu. Ada yang ingat dengan keempat shinobi yang hadir sekarang dimana? Yep... setiap kali kamar kebutuhan di gunakan mereka berempat mengungsi di hutan Terlarang atau kadang-kadang di kamar Naruto. Dalam duel kali ini mereka menunjukkan seluruh usaha mereka dalam beberapa bulan ini, setelah selesai berduel mereka bersenang-senag bersama tanpa tahu salah seorang dari mereka pundung dipojokan dengan aura-aura ungu suram yang mulai luntur terbawa arus, menuliskan berbagai hal yang tidak bisa dibaca dengan jari telunjuknya.

"Ada apa lagi Nii-san?" Tanya Harry dengan sabar

" Patronumku... masih tetap rubah, aku mau Naga..." rengek Naruto dengan mata berkaca-kaca

"Sabar Nii-san... besok sudah libur Natal dan mungkin lusa kita berangkat ke Rusia atau Ke Rumania untuk melihat Naga" hibur Draco

"Aku maunya Patronum Naga! Bukan hewan Naga, buah Naga ataupun orang bernama Naga" tolak Naruto sambil manyum dan melipat kedua tangannya didada sehingga memperlihatka gunduka perutnya yang mulai agak membuncit walaupun tidak ketara.

"Mana ada... bagimana dengan Phoenix, Professor Dumbledore Patronumnya Phoenix" usul Harry mencoba menawar, karena seinggatny belum ada Patronum Naga saat ini, setahunya dulu yang bisa mengunakan Patronum Naga hanya penyihir dengan kapasitas sihir besar. Karena keinginnanya tidak terpenuhi akhirnya Naruto keluar dari ruang kebutuhan tersebut, beruntung mulai saat penyerangan(?) oleh ketiga hantu Hogwarts, Naruto kini dilindungi oleh sihir penangkal hantu yang dipasang oleh Professor Dumbledore yang dibantu oleh Professor Snape dan Uchiha sasuke yang melapisinya dengan Genjutsu sehingga para hantu tidak dapat merasakan ataupun dekat dengan Naruto. Tidak berapa lama setelah keluarnya Naruto akhirnya latihan DA kali ini selesai dan di kamar kebutuhan saat ini menyisakan Harry dan Draco.

"Selamat Natal, kau guru yang, yahh cukup hebat" ungkap Draco memulai pembicaraan.

"Thanks... Dray, ummm... mungkin aku akan merindukanmu" ungkap Harry dengan semburat merah menghiasi pipinya. Melihat ekspresi kekasihnya membuat Draco tersenyum senang, mengacak kepala berambut raven tersebut pelan ia lalu mendekatkan dirinya dan semakin membungkukan tubuhnya untuk mencapai tengkuk Harry. "Aku akan mengirimi mu surat cinta setiap hari." Godanya dengan meniup telinga Harry seduktif(?)

"Eng... kau membuat ku merinding Dry,Dray.."

"Lihatlah keatas!" Menuruti perintah Draco, ia menemukan Mitleteo yang tergantung diatas kepala mereka.

"Mistleteo" bisik Draco ditelinga Harry, pelan tapi pasti dia akhirnya menginvasi tengkuk dan mulut Harry semakin dalam hingga lelehan savila mereka keluar dari celah mulut Harry.

'Ehem'

Mendengar suara dehe(a)man Draco langsung memarik kepalanya menjauh dari si Potter terakhir.

"Sa Sasuke -san..."

"Lanjutkan kegiatan kalian di kamar kalian," ucap Sasuke dingin

"Err,, ma maaf, kami akan keluar, selamat malam Sasuke-san... selamat Natal" ucap Harry terbata dan akhirnya berlari keluar dengan wajah malunya,

"Ada apa dengan anak itu?" Tanya Karin memperhatikan tempat Harry keluar.

"Hn."

Sebelum jam malam habis Harry akhirnya sapai di menara Gryffindor dan menjalani obrolan singkat dengan kedua temanya sampai akirnya ia menuju ke kamarnya.

"malam" ucap Ron yang sudah mulai mendengkur.

"malam" balas Harry singkat dan merebahkan dirinya di ranjangnya. Neville mengendus dalam tidurnya serta suara seekor burung hantu beruhu disuatu tempat diluar pandangan.

.

.

.

Dalam tidurnya Harry bermimpi tentang dia dan Draco disuatu tempat yg sangat indah dan saling mengenggam tangan untuk melangkah ke depan.

:

:

Lalu mimpi itu berubah...

Tubuhnya terasa licin, bertenaga dan luwes, seakan ia sedang meluncur dari batang-batang logam yang mengkilat, menyebrangi batu yang terasa dingin dan gelap, dalam kegelapan itu ia bisa melihat seluruh benda sekelilingnya berkilau aneh dan bergetar, ia mendongakkan kepalanya pada pandangan disekelilingnya, menatap kolidor itu kosong, tidak.. ia bisa melihat seorang laki-laki tengah duduk disebuah kursi kayu depannya, dengan dagunya yang hampir menyentuh perut buncitnya, mendesis pelan pria itu masih tertidur dalam duduknya, ia mendongak dan melihat garis tubuh pria itu bersinar dalam gelap, ia merasa menjulurkan lidahnya yang entah mengapa terasa panjang dan ia juga bisa merasakan bau pria itu sangat lezat, dalam benaknya antara ingin memakan pria itu atai menyelesaikan misi yang ditugaskan oleh tuannya saat ini, entah siapa tuannya instingnya mengatakan tuannya menginginkan kesempurnaan dalam misinya, tepat saat ingin berbalik pria itu bergerak, sebuah jubah putih jatuh dari kakinya ketika pria itu melompat bangkit. Ia dapat meihat garis bentuk tubuh pria itu yang bergerak-gerak dan menjulang tinggi dihadapannya, ia melihat sebuah tongkat yang ditarik dari ikat pinggang pria tersebut dan diarahkan padanya. Tidak ada pilihan lain selain melawan, ia harus melindunggi dirinya dengan menaikan tubuhny keatas lantai dan menyerang sekali dua kali sambil menghindari kutukan yang dilayangkan oleh pria itu kearahnya, menghujamkan tatingnya dalam-dalam kedaging pria itu, ia bida merasakan tulang iga pria trsebut remuk dibalik gigitan rahangnya, ia merasakan semburan darah hangat yang memenuhi mulutnya, ia ingin memakannya. Hingga pria tersebut berteriak kesakitan dan merosot kelantai, berniat menerkam pria itu ia teringat akan misinya, mengabaikan pria itu yang telah tergeletak diatas genangan darahnya, melewati genangan darah pria tersebut ia lalu melesat pergi digenangan darah korbannya.

Dan sekarang entah mengapa keningnya kembali sakit, sakit sekali seakan keningnya telah ditempeli bara api dan membuatnya ingin meledak hingga otaknya tercecer kesegala arah.

.

"Harry!" Seseorang memanggilnya "HARRY!" Teriak orang yang sebelumnya memanggilnya kembali.

Dengan cepat ia membuka matanya yang masih terasa berat, setiap inci tubuhnya kini dipenuhi oleh keringat sedingin es dan tempat tidurnta kini semakina acak-acakan dengan selimut yang melilit kakinya, ia masih merasa bara lidi korek api masih menempel dikeningnya, meremas keningnya kuat demi menghilangkan tasa sakit akibat panas maranya mulai berkaca-kaca.

"Harry" ucap Ron lirih yang kini berdiri diatasnya dengan raut ketakutan, ia juga melihat beberapa sosok orang lain yang kini berdiri mengerubunginya, mengabaikan mereka semua ia kembali berteriak sakit dan kembali mencengkeram kepalanya dengan tangan.

"Ia benar-benar sakit,,, apa kita harus memanggil bantuan?" Tanya alah seorang dari meraka.

Instingnya menyuruhnya untuk memberi tahu Ron, harus! Bangkit dari tempat tidurnya sambil menahan muntah karena ia masih merasakan rasa daranh yang berada dimulutnya

"Ayahmu,,," iaberbicara sambil terengah dan dada yang naik turun ia memghadap Ron "ayahmu,,, ayahmu diserang..."

"Apa?" Tanya Ron tidak mengerti

"Ayahmu... dia digigit, banyak darah dimana-mana..." ucap Harry terbata

"A aku akan mencari bantuan" dengan tubuh bergetar takut Neville keluar dari kamar dengan berlari.

"Tenang mate,,, kau hanya bermimpi" kara ron tidak yakin.

"Tidak" elak Harry dengan nada marah. "A aku, hiks... itu bukan mimpi hiks... a aku ada disana,,, da dan... aku,, aku yang melakukannya" isak Harry histeris.

Samar-sama ia mendengat Seamus dan Dean bergema ditelingnya, tapi entah apa ia tidak memperdilikannya, pioritas utamanya saat ini hanya ayah Ron.

"Harry, kau sedang sakit... tunggulah! Neville sedang memangil bantuan" ucap Dean mencoba menenagkan.

"Aku tuidak sakit,,,hiks..."

Samar-samar mereka mendengar langkah kaki menaiki tangga

"Sebelah sini Professor! " suara Neville memandu, dari arah pintu yang terbuka terlihatlah Neville masuk dan diekori oleh Professor Mc Gonagall yang mengunakan jubah kotak-kotaknya

"Ada apa, Potter? Dimana yang sakit?" Tanya Professor transfigurasi tersebut panik.

"Dia mengalami mimpi buruk Professor, well dia-"

"Itu bukan mimpi buruk... ayah Ron,, aku,, aku yang menyerangnya..." isak Harry

"Baiklah,,, kita ke kantor Professor Dumbledore, kau ikut juga Ron!" Perintah Mc Gonagall. Keluar dari kamar tersebut mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah patung Gargolyle

"Kumbang berdesing" ucap Sang Professor kepada patung emas tersebut, setelah itu patung tersebut seakan hidup dan memberiakan tangga naik menuju ke kantor Kepala Sekolah.

"Professor, " panggil Professor Mc Gonagall pada Professor Dumbledor yang masih duduk disingahsananya(?) memunggungi mereka

"Ada apa Minerva" tanyanya yang masih terfokus pada potret kepala sekolah sebelumnya

"Harry mengalami mimpi buruk, dan dia bilang ia melihat Arthur Weasley diserang"

"Itu bukan mimpi... aku melihatnya,, a aku yang menyerangnya,,hiks,, a aku akulah ularnya hiks... percayalah... tolong selamatkan ayah Ron!"

Ron yang mendengar penuturan Harry semakin gemetar ketakutan, takut jika yang Harry katakan semuanya benar dan ayahnya tidak bisa diselamatkan. Sedangkan Dumbledore yang mendengarnya langsung berdiri dengan cepat dan berbicara pada salah satu potret yang tergantung sangat dekat dengan langit-langit. "Everard, dan kau juga Dilys" ia berkata dengan sangat tajam pada seorang penyihir pria berkilulit pucat dan seorang penyihir wanita tua dengan ikat ikal panjang keperakan Dumbledore berdiri disamping keduanya yang sedang tertidur lelap dan kedua penyihir tua tersebut langsung membuka matanya. "Kalian mendengarkan?"

Sipenyihir pria mengangguk

"Tentu saja" jawab si penyihir wanita

"Lelaki berambut merah dan berkacamata" kata Dumbledore "Everard kamu nyalakan alaram tanda bahaya, dan pastikan dia ditemukan oleh orang yang tepat!" Perintahnya "Dilys, pergilah ke potretmu yang lain." Keduannya mengannguk bersamaan dan menghilang dari bingkai masing-masing,

Menghembuskan nafas lelah Dumbledore menarawang jauh, "Everard dan Dilys adalah dua kepala Hogwarts yang paling fenomenal" ucapnya sambil mengitari Harry, Ron dan Mc Gonagall untuk mendekati burung indah yang diberi nama Flawkes yang bertengger manis disamping pintu, mengelus pelan dan kembali bicara "kemasyuran mereka sedemikian rupa sehingga keduanya memiliki potret yang tergantung di institusi-institusi sihir penting lainnya, dan mereka bisa dengan bebas berpindah antara potret mereka sendiri dan mereka mampu memberi tahu apa yang terjadi ditempat lain"

"Tapi Mr. Weasley bisa berada dimana saja Professor," ungkap Minerva

"Hem... tenanglah, dan tunggu! Oh.. silahkan duduk kalian bertiga!, dan jika anda mau memunculkan kursi lain Professor," tidak lama setelah mereka duduk dengan diam dan gelisah

"Dumbledore"

"Ada berita apa?"

"Aku berteriak sampai seseorang datang" kata Everard sambil mengusap alisnya dengan tirai dibelakangnya, "aku berkata kalau aku mendengar sesuatu bergerak dilantai bawah, sebelumnya mereka tidak percaya padaku, tapi mereka mengeceknya juga, kau tahukan dibawah tidak ada satupun potret yang tergantung, agar aku bisa melihat apa yang sedang terjadi disana. Setelah beberapa menit kemudian mereka membawanya keatas, dia tidak tampak baik, banyak darah... dan aku menuju ke potret Elfride Cragg untuk mendapatkan pandangan yang utuh, sewaktu mereka membawanya pergi" jelasnya,

"Bagus"

"Phineas, tolong kabari potretmu yang lain" pinta Dumbledor pada salah satu potret yang masih berpura-pura tidur

"Phineas!"

"Phineas!"

"PHINEAS!" teriak salah satu lukisan yang mulai jengah dengan sifat malas kepala sekolah Phineas Nigellus, yang hanya dijawab 'hemm' sambil menguap lebar. (Mirip cannon?)

Mengumpulkan ketiga Weasley yang lain dan sudah mendapat persetujuan dari Phineas Seluruh Weasley yang langsung menuju ke Grimmauld Place nomor 12 malm itu juga.

.

.

.

.

.

"Selamat datang di Mansion Namikaze minna..." ucap Naruto ceria setelah memasuki gerbang besar berwarna perak. Menarik Sasuke masuk mereka lalu berjalan sekitar sepuluh meteran ia lalu mendorong pintu ganda yang ada dihadapannya.

"Bau masakan? Paman Louwis..." teriak Naruto girang sambil berlari kearah dapur dan menemukan seorang pria paruh baya yang mirip dengan ayahnya, hanya saja rambut pirangnya lurus dan dikucir bawah, sedangkan di meja makan ia mendapati Lisyla Safir yang terduduk dengan boneka rubah orange besar dipelukannya.

"Jangan memeluk adikmu sebelum kau ganti baju Na ru to" dengan mengacungkan sodet Louwis memperingati Naruto sambil memasang tampang garang..

"Yahhh,,, ayolah paman... aku kangen Lisy... Lisy kangen kan sama Nii-chan..."

"No no, tidak Naru... kau harus ganti baju dan ajak temanmu sekalian, lalu kalian boleh makan!"

"Tega..." dengan tertunduk Naruto keluar dari dapur dan menyeret lengan Sasuke menuju kekamar "kalian bida menempati kamar manapun yang pintunya tidak ada gantungan namanya selain kamar pojok itu" ucap Naruto sambil menunjuk satu pintu yang memiliki ukiran rumit "dulu itu kamar kakek dan nenek ku" akhirnya mereka berpencar memasuki kamar yang mereka pilih sendiri, disamping kamar Naruto Sasuke memasuki pintu kayu berukiran ular dibawahnya, setelahnya depan pintu tersebut muncul sebuah gantungan bundar yang berukiran ular dan elang serta bertuliskan 'Uchiha Sasuke' ditengahnya, begitu pula dengan pintu yang lain.. sedangkan milik Naruto beukiran seekor rubah dengan sembilan ekor melambai dan ditengahnya bertulis 'My Room is Private : N.U.N.' sekitaran lima belas menitan mereka berempat keluar dari kamar masing-masing dan bersama-sama menuju ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Terlihat Louwis sedang menata berbagai menu diatas meja.

"Duduklah!" Perintah Louwis tanpa menatap mereka.

"Err... paman, kapan paman pulang?" Tanya Naruto kikuk

"Kau mengusirku?" Tanyanya tajam

"Eeehhhh tidak... maksudku kapan paman tiba kemari, kan ini rumah paman juga jadi Naru bilang saja pulang" tersenyum tipis Louwis menuju kebangku Naruto dan mengacak rambut pirang keponakannya pelan.

"Kemarin lusa, sebelumnya aku sudah memutuskan untuk tinggal disini lagi setelah mendengar kehamilanmu"

"Ohh... paman tidak marahkan pada Naru? " menundukan kepalanya

"Kau bicara apa? Tentusaja tidak... dibalik wajah cute mu kau ini sudah dewasa"

"Louwi-san... maaf mengintrupsi pembicaraan anda, saya Uchiha Sasuke, saya akan bertanggung jawab atas kehamilan Naruto " ucap sasuke berdiri lalu membungkuk sembilan puluh derajat.

"Aku senang kau mau bertanggung jawab Sasuke-kun, tapi ada syaratnya" dengan senyum evil ia memandang sasuke.

"Apapun itu Louwis-san"

"Pangil aku paman, seperti Naru-chan memanggilku, begitu juga kalian err?" Memiringkan kepalanya sedikit dengan pose manisnya yang lebih condong ke cantik.

"Uzumaki Karin paman..." berdiri dari duduknya Karin lalu membungkuk guna memberi hormat.

"Suigetsu"

"Juugo, senang berkenalan dengan anda Naruto no Oji-san"

"Uzumaki,,, kau masih satu clan dengan Kushina-nee?"

"Iya paman..." jawab Karin dengan senyumnya

"Kalau begitu perkenalkan aku Lowis Safir atau Namikaze Louwis, dan dia putri tunggalku Lisyla Safir atau Namikaze Lisyla, pasti anehkan kenapa nama kami mengunakan marga Jepang...?" Mendapat anggukan ia lalu bercerita kembali, setelah meminta peri rumah untuk meneruskan pekerjaannya "dulu nenek moyangkami asli Ingris, lalu dia menikah dengan seorang saudagar Jepang yang bernama Namikaze Arata, jadilah kita blasteran Ingris Jepang hingga saat ini".

.

.

.

.

.

.

Sedangkan di Malfoy mannor tepatnya diruang keluarga Draco terduduk taku dihadapan kedua orang tuanya, dengan jari-jarinya yang terkait ia memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap kedua orang tuanya yakin.

"Aku tanya sekali lagi Draco, apa benar kau menjalin hubungan dengan Harry Potter?" Suara tegas nan dingin tersebut membuat Draco menurunkan kembali pundaknya. Menghela nafas dalam ia akhirnya meyakinkan dirinya untuk tetap maju

"Yes Father... aku dan Harry saling mencintai, dan kami pacaran"

'PLAK'

.

.

.

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷tbc÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

- Rarara : siiiipppp...

- samawa : tak apa... hehehee...

- Dahlia Lyana Palevi : siap...

- hanny fitriyani : kasihan-kasihan... tapi ambil sendiri bisa kan...

- Lisa Amelia : siap up date chap...

-namiee : ngak ada Lisa Amelia-san... est jarang bisa menyatukan ide dan waktu menjadi satu...(?)

-d14napink : ngak kue ikan... tapi anak ikan... kalu kuchiyose(?) Entahlah est ngak tahu...

-Kuzuma : apakah ini lama? Semoga tidak... #ngarep

- Vilan616 : udah lanju Vilan616 san...

.

.

.

.

.

Kata patah-patah est..

Yeee... up date chap...

Est masih ragu sama bahasa ingrisnya... apakah benar, akapah salah... mahon jawabannya... #plesetan lagu hole chim...

Yosh... semoga chap ini ngak mengecewakan... sekian dari est jika ada salah-salah kata dan menulisa nama hubungi kolom protes dibawah ini!

.

l

V

V

V

rompok etan holechin 2015/10/19