Veei
###10###
Disclaimer :
Naruto © Masashi K.
Harry Potter © J.K. Rowling
rating : T
π SasuNaru π
ππDraRryππ
•
•
•
Diclaimer :
a. YU-GI-OH! © Kazuki Takahashi
b. La Clef du Royaume © Kyoko Shitou
Warning!'
1• Fic ini mengandung BL atau yaoi. Dengan segala hormat, yang tidak suka yaoi bisa menepi atau meninggalkan fic ini...
2• Gagal EYD masih ada...
3• M-preg mengikuti...
4• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...
['`:_:'`]
{•_•}
V
"Aku tanya sekali lagi Draco, apa benar kau menjalin hubungan dengan Harry Potter?" Suara tegas nan dingin tersebut membuat Draco menurunkan kembali pundaknya. Menghela nafas dalam ia akhirnya meyakinkan dirinya untuk tetap maju
"Yes Father... aku dan Harry saling mencintai, dan kami pacaran"
'PLAK'
Sebuah tamparan mengenai pipi kiri Draco hingga membekas.
"Lucius... cukup!" Melihat putra sematawayangnya ditampar, menbuat sisi keibuan Narcissa tidak terima. Memeluk sang putra protektif dengan berlinangan air mata ia menatap Lucius dengan pandangan memohon. "Marahi dia! Tapi tolong, jangan memukulnya! Jangan memukul putraku!."
"Dia menjalin hubungan dengan laki-laki Cissy, apalagi dengan Harry Potter. Ia akan terseret dalam bahaya perang ini, mengertilah!" Dengan nada penuh penyesalan Lucius mengusap wajahnya kasar.
"Biarkan Draco mempertahankan apa yang dipilihnya! Percayalah dia bisa" nada penuh keyakinan terucap dari bibir merah sang Lady Malfoy tersebut.
"Aku tidak setuju putraku menjalin hubungan dengan laki-laki"
"Aku mencintainya Father... aku mencintai Harry" memantapka hatinya ia akan mempertahankan hubungannya tanpa perduli rintangan apapun yang akan ia dan Harry lalui.
"Apa cintamu itu bisa memberikan pewaris Malfoy? Tidak... kalian berdua laki-laki yang tidak bisa hamil" desis Lucius marah.
"Naruto-Nii bisa,,, mungkin Harryku juga bisa hamil" lirih Draco menundukkan kepalanya karena ragu.
"Dengan apa" desis sang Lord Malfoy marah.
"Aku... aku akan membuat ramuan yang bisa membuat Harryku hamil" mendengar balasan Draco, Lucius mencekeram kerah baju Draco bagian depan dengan kuat. Melihat kemarahan sang suami semkin memuncak Narcissa mencoba menenangkan Lucius dengan mengusap lengan kekar suaminya dengan mata yang telah mengalir dikedua pipinya.
"Cukup Lucius!" Setelah cengkraman tangan kokoh tersebut terlepas dari kerah baju putranya ia menatap Draco dengan pandangan memohon "pergilah Dray! Biar Mom yang menenagkan ayahmu!" Melihat Draco pergi dari ruang keluarga, tidak lama ia mendengar suara perapian berkobar menandakan putranya telah pergi mengunakan jaringan floo.
"Kenapa ini bisa terjadi? Aku sudah berusaha menjauhkannya dari perang ini Cissy, kenapa dia malah terseret semakin jauh,,, apa kutukan lama akan terulang kembali?"
"Kita sudah berusaha menjauhkannya,,, tapi itulah takdir yang telah Tuhan tulis untuknya" menenagkan sang suami yang semakin terpuruk, ia mengelus lengan suaminya kembali dan merebahkan kepalanya didada bidang suaminya.
.
.
.
.
.
'WUUSSHH'
Mendengar suara perapian yang berkobar, Sasuke yang kebetulan berada didapur kini melangkahkan kakinya menuju ruang yang didominasi oleh warna putih dan biru muda tersebut, dari perapian yang berada dipojok tuangan terdapat Draco yang membersihkan sisa bubuk floo dijubahnya.
"Ada apa kemari" tanya Sasuke datar, mungkin masih dendam akan kejadian beberapa hari yang lalu, tentang Naruto yang seharian penuh lebih memilih menempel dengan pemuda pirang platina yang kini ada didepannya.
"Numpang ngungsi" jawab Draco, dengan rambut yang sedikit acak-acakan ia kembali mengakcak lagi rambut pirangnya dengan jemarinya dan mendudukan dirinya disofa putih dengan kasar. Mengangkat alisnya, Sasuke memperhatikan tingkah Draco yang terlihat seperti orang yang sedang frustasi berat, terbukti dengan beberapakali ia mendengar helaan nafas Draco dalam tiga puluh detik ini.
"Menakjubkan, seorang Malfoy frustasi" dengan nada meremehkan Sasuke ikut duduk di sofa yang terletak dihadapan Draco dengan tangan kirinya yang dililit perban sedang membawa segelas juss tomat yang ia buat sendiri didapur tadi.
"Huuft... Jangan mengangguku Sasuke" menghela nafas kembali ia masih memajamkan matanya dengan wajah menghadap keatas dan kepala yang ditumpu pada sandaran sofa.
"Kau terlihat menyedihkan dengan tampang seperti itu" menegak habis juss tomatnya Sasuke lalu menaruh gelas kemeja yang ada didepannya.
"Dimana yang lain?"
"Paman dan Naruto keluar sebentar menemani Karin membeli perlengkapan kehamilan Naruto, mungkin sebentar lagi pulang"
"Sasuke... kenapa kau sangat beruntung?..." dengan mata berkaca-kaca ia memandang Sasuke penuh harap "Naruto-nii bisa hamil..." mendengar ucapan lirih Draco, Sasuke melempar kepala Draco dengan kue kering yang tersaji dimeja
"Kau ingin Harry juga bisa hamil?" Tanyanya sambil memasukan cemilan kedalam mulutnya, melihat anggukan penuh harap Draco ia memutar kedua matanya bosan. Membuka perban yang melingkar dipergelangan tangan kanannya ia lalu megeluarkan sebuah tabung kaca kecil berisi cairan berwarna keperakan dari segel fuinjutsu yang ada dipergelangan tangan kanannya dan melemparkannya kearah Draco, dengan reflek seekernya Draco menangkap tabung kaca tersebut dengan sempurna.
"Apa ini?"
"Male Pregant, simpanlah! Atau kau bisa langsung memberikannya pada Harry."
"Maksudmu, tapi darimana-"
"Aku meminta Orochimaru membuatnya untuk Naruto, karena Naruto sudah hamil yahhh,,, aku menyimpannya saja"
"Amankah?"
'Ctak'
"Urgh.. kenapa kau melempariku,, sakit tahu" mengelus jidadnya yang memerah Draco mendeathglare Sasuke, walaupun tidak berpengaruh sama sekalih.
"Kau menuduhku ingin mencelakai Naruto bocah"
"Sorry... terimakasih"
"Hn"
.
.
'Brakk'
"Kami pulang" terdengar suara langkah kaki Naruto yang diikuti oleh suara langkah lain, saat melewati ruang keluarga iris sapphirenya menatap Draco yang tengah duduk dengan kerah depan lusuh serta rambut pirang yang biasanya rapi kini terlihat acak-acakan.
"Draco?,"
"Nii-san... Father menentang hubunganku" memasang muka memelas ia menatap Naruto dengan mata berkaca-kaca. Melihat Draco berkaca-kaca Naruto langsung menaruh kedua kantong plastik besar yang ia bawa dan menuju ke Draco, setelah sampai ia langsung memeluk tubuh Draco dan menpuk-puk (?) Punggung Draco sayang
"Sabar Dray... Naru yakin suatu saat nanti paman Lucius pasti akan setuju"
"Uuh.. kau hangat Naru-nii," ungkap Draco menengelamkan wajahnya pada dada bidang Naruto, melihat Malfoy Jr. semakin memeluk Narutonya dengan tampang dongkol Sasuke menarik kerah belakang sang Malfoy Jr. tersebut Setelah mendapat jarak yang cukup diantara Naruto dan Draco ia langsung duduk diantara mereka.
"Apa?" Mendapat pelototan dari kedua makhluk pirang disampingnya ia hanya memasang wajah datar dan melipat kedua tangannya didada.
"Kau menyebalkan teme..."
"Mengganggu saja," sahut Draco tidak terima.
"Uffufufufu... Sasuke-kun itu cemburu Naru " tanpa mereka bertiga sadari empat penghuni lain juga telah berkumpul di ruangan tersebut, Juugo yang duduk tenang di sofa panjang, lalu disampingnya Suigetsu yang tengah memakan pop cron yang ia bawa dari dapur, sedangkan Karin tengah menutup buku yang ia pinjam dari perpustakaan Namikaze, sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya untuk meredam tawa. Sedangkan Louwis tengah menonton Tv yang baru kemarin lusa ia beli, mengantikan Tv lama peninggalan orang tuanya yang gambarnya masih hitam putih, memainkan remot Tv yang ada ditangan kirinya sedangkan tangan kananya menyangga dagu. Menghela nafas ia menoleh karah tiga remaja yang sedang beradu deathglare tersebut.
"Kenapa kalian"
"Paman... Sasuke yang rese,,, dia seenaknya menjaukanku dari Draco paman," rengek Naruto mengadu pada sang paman. Melirik kearah Draco yang masih memasang tampang cemberut dan ia melihat anggukan dari keponakan jauhnya ia kembali menghela nafas dan menaruh remot Tv pada meja didepannya.
"Ada masalah?," Tanya Louwis dengan alis dinaikan sebelah.
"Father menentang hubunganku dengan Harry paman, kau tahukan kalau aku sangat mencintai Harry "
"Aku tidak tahu," jawab Louwis jujur dengan memasang tampang innosennya(?).
"Yahhhh..."
"Kau lebih menyebalkan dari Sasuke, paman...," keluh Draco
"Jangan marah pada ayahmu!" Ucap Louwis dengan nada seriusnya.
"Aku tidak marah, hanya... yahh, aku jujur, aku ingin marah tapi... aku juga menyesal dan ragu"
"Penolakan ayahmu ada alasannya," ungkap Louwis dengan senyum maklum.
"Alasan?" Tanya Naruto ingin tahu.
"Hemm... dulu keluarga Malfoy dan Potter juga ada yang melenceng seperti kalian"
"Kami engak melenceng," sangah Draco
"Hemm... tidak melenceng apanya? Kau menyukai Harry yang notabenya seorang laki-laki"
"Anda menyindir aku dan Naru juga paman," sahut Sasuke.
"Un...," tambah Naruto membela sasuke dan Draco.
"Termasuk kalian, karena sudah terlanjur hamil, mau diapakan lagi?" Tuding Louwis kepada pasangan SasuNaru yang tengah beromantis ria denga Naruto yang memainkan jari-jari Sasuke.
"Aku ingin tahu alasan yang paman maksud"
"Seperti kasusmu dengan Harry, dulu salah seorang Malfoy dan Potter juga menjalin hubungan percintaan seperti kalian, hanya saja dulu hubungan seperti itu sangatlah tabu, sehingga dengan bantuan ayah dari Daillis Potter yang saat itu tinggal di pekarangan Muggle membantu mereka keluar dari Inggris dan menetap di Jepang yang saat itu belum terjadi perang. Sedangkan Adlucius Malfoy dihapus dari silsilah keluarga Malfoy dan setatusnya sebagai pewaris utama digantikan oleh adiknya Venella Malfoy, dengan bayaran para tetua keluarga Malfoy menginginkan kepala Adlucius karena mencoreng nama baik Malfoy,"
"Ba, bagaimana paman tahu cerita itu?" Tanya Draco terbata.
"Ceritaku belum selesai Draco-kun..." karena ceritanya disela, dengan senang Louwis mengirimkan Deathglare pada sang Malfoy muda.
"Lanjutkan paman!" Pinta Naruto penasaran.
"Venella yang saat itu menginginkan kekuasaan dan harta Malfoy mengirim beberapa pembunuh bayaran ke Jepang untuk mencari dan membunuh Adlucius sampai dapat"
"Apakah mereka menemukannya?" Tanya Karin yang diberi anggukan singkat dari Louwis
"Sebelumnya mereka tidak menemukannya, tapi mereka menemukan Daillis yang saat itu tengah mengandung anak kembar mereka, karena Daillis tertangkap, Adlucius menyerahkan diri dengan syarat mereka melepaskan Daillis saat itu juga. Dan Venella setuju, kehamilan Daillis yang rentang karena kurang sempurnanya ramuan yang diciptakan oleh Linfred of Stinchcombe membuat kehamilan Daillis sering mengalami kontraksi, beruntung Linfred menemukan Dalillis yang saat itu tinggal dijalanan setelah dibuang oleh Venella. Beliau langsung menanggani kehamilan putra bungsunya. Hingga beberapa saat setelah putra Daillis lahir keluarga Malfoy mengalami penyerangan dan menewaskan hampir seluruh Malfoy, dan menyisahkan Lucius Malfoy I kakek Venella dan Adlucius, yang saat itu berada di Italia. Mendengar kabar penyerangan tersebut Daillis dengan lapang hati menyerahkan putra pertamanya yang ia beri nama Septimus Malfoy kepada Lucius Malfoy I untuk neneruskan garis darah Malfoy, sedangkan putri Daillis ia berinama Ellisa Potter dan menikah dengan Namikaze Arata."
"Intrupsi... ano... siapa itu Linfred of Stinchcombe?" Tanya Suigetsu tertarik.
"Beliau ayah Daillis, seorang pontion yang hidup di perkampungan muggle dan menjual ramuan penyembuh ciptaanya"
"Apa Daillis menikah lagi?"
"Tidak"
"Ehh... tapi kenapa...?"
"Kenapa kau dan Harry bisa bersaudara?" Tebak Louwis
"Un..."
"Putra Linfred bukan Daillis saja, beliau mempunyai tujuh orang anak, Anak pertama Linfred, Hardwin menikah dengan penyihir muda dan cantik bernama Lolanthe Peverell, cucu dari Ignotus Prevell yang memiliki jubah gaib dari desa Godric Hollow, yang selarang jubah tersebut ada ditangan Harry"
"Ohhh..."
"Aku tidak menyangkan kalau kisah cinta mereka setragis itu... tapi itu benar-benar keren ttebayo..."
.
.
.
.
.
(Disuatu tempat)
Seorang pria dengan perawakan tinggi dan memiliki wajah yang mirip ular tengah berdiri menghadap jendela yang berukuran besar dengan sebuah ukiran bergaya klasik, jari-jarinya yang lancip mengelus lembut kaca berembun didepannya, tanpa melihat beberapa orang yang ada dibelakangnya yang tengah memberi hormat dan mencium ujung jubahnya.
"Kami mendapatkan kunci Naga yang anda inginkan My Lord," ucap salah seorang dari mereka yang mengenakan jubah coklat tua,
"Bagaimana pengawasanmu terhadap mereka?" Tanya sang Dark Lord penuh intimidasi.
"Kita sudah mendapatkan target yang cocok untuk membuka keempat kunci menara tak terlihat tersebut My Lord"
"Hem?"
"Kita akan menyerang Malfoy Manor besok My Lord, karena pagi ini ke-dua Malfoy senior akan pergi ke Australia," ungkap yang lain.
"Bagaimana dengan Namikaze?"
"Kami juga sudah memiliki cara untuk mendapatkannya My Lord"
"Kerjakan dengan rapi!" Mengibaskan tangannya disamping kepalanya dan oleh para pengikut setianya diartikan untuk pergi dari hadapan sang Pangeran. setelah semua pengikutnya keluar dari ruangannya pria tetsebut mendudukan dirinya pada singahsananya kembali, mengambil gelas kaca yang berisi Cairan berwarna merah dan meminumnya, setelahnya dengan gaya kasualnya ia kembali menaruh gelas tersebut dimeja yang diletakkan dipinggir kursi besarnya.
"Tujuh bulan lagi... aku semakin tidak sabar menunggu kebangkitanmu
'Gandora the Dragon of Destruction'"
.
(Malfoy Manor)
Pagi hari Draco yang telah rapi kini menujuju kearah ruang makan dan mendapati makanan yang telah tersaji rapi dimeja makan. Melihat Dobby yang sedang meletakkan hidangan terakhir dimeja ia hanya mengucapkan terimakasih lalu duduk dikursi yang biasa ia tempati.
"Ada yang ingin anda perlukan Mr. Draco Malfoy sir?" Tanya Dobby sambil dengan merunduk dalam.
"Tidak," jawab Draco seadanya.
"Dobby pergi dulu sir," setelah mengucapkan kata tersebut Dobby langsung mengihilang dan menyisakan Draco yang tengah menikmati santapan paginya.
'PRANGG'
''Stupefy" merasakan ada bahaya yang mengarah padanya dengan sigap Draco meloncat dari kursinya dan salto ke belakang, sehingga cahaya merah dari tongkat wanita yang berdiri dengan pose genitnya di pintu masuk ruang makan hanya melewatinya.
" Bellatrix Lestrange" desis Draco menatap benci pada sang bibik.
"Reaksi yang sangat mengagumkan Draco" dengan suara yang seperti orang mabuk ia memainkan tongkat sihirnya, "ikutlah denganku keponakan manisku" maju beberapa langkah kearah Draco.
"Jangan harap" menghindar kembali dari lesatan mantra yang mengarah padanya ia berlindung dibalik meja. Mencari celah dengan cepat Draco berlari keluar dari ruang makan sambil mebalas serangan yang mengarah padanya walaupun tanpa tongkat ditangannya.
"Crucio"
"Aaarghh"
"Ah... sungguh indah,,, menjeritlah sayang... aunty sangat menyukai suara merdumu," ucap Bellatrix dengan tawa pisconya sambil mengarahkan kembali tongkatnya pada Draco yang tengah terbaring sambil meremas dadanya dan nafas tersengal menahan sakit, jangan lupakan keringat yang kini membasahi bajunya.
"AAARGHHH," teriak Draco semakin keras kerena rasa sakit dari salah satu kutukan tak termaafkan yang mengenai tubuhnya,
'Ctarr' karena fokus penyiksaanya pada Draco, Bellatrix kini terdorong kesamping menjauh dari Draco karena serangan dari Dobby yang mendengar jeritan Draco, "jangan meyentuh Mr. Draco Malfoy Master Dobby" mata bulatnya memandang Bellatrix dengan marah, tanpa ragu kaki kecilnya melangkah menuju ke arah Masternya.
'Ckrass' suara daging yang terkoyak,
"Kau bawa Malfoy Jr. Itu Bella! Aku sudah mendapatkan kunci terakhir yang dibutuhkan oleh Dark Lord"
"Kau merusak kesenangannku Fenrir"
'Jleeb'
"Balasan karenakau telah berani menyerangku peri bodoh" setelah melempar pisau yang ia ambil dari balik gaunnya wanita berambut hitam berantakan tersebut memapah Draco keluar dari Malfoy Manor.
Melihat tuan mudanya dibawa oleh salah satu Death Eaters, dengan sisa sihirnya ia berApparate menuju kemanapun yang bisa menolong Masternya, karena letak Mansion Namikaze yang paling dekat dengan Malfoy Manor peri rumah tersebut memusatkan fikirannya pada mansion yang ditinggali oleh teman-teman Masternya.
.
.
.
.
(Mansion Namikaze)
Suasana sarapan yang nyaman keluarga tersebut terganggu akan suara seperti petir menyambar yang berasal dari ruang tamu mereka, karena meraskan kehadiran peri rumah dengan sihir yang mulai menipis Louwis langsung berdiri dari duduknya dan menuju ruang tamu dan diikuti oleh kelima penghuni lainnya. Setelah mereka sampai di ruang tamu mereka mendapati Dobby yang terbaring lemas dengan genangan darah yang menjadi alas berbaringnya, jangan lupakan sebiah pisau yang menancap tepat didadanya. Mengangkat kepala peri rumah tersebut dan membaringkannya dipangkuannya, Louwis menepuk pipi tirus Dobby untuk menarik kesadarnnya kembali.
"Master Draco Malfoy sir... hah ohok..." memutahkan darah "diculik Death Eaters... hah,,, hah... mereka mengam-bil Kun-ci hah... Ma-ta Na-ga.." perlaha Dobby menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang setelah menyampaikan apa yang harus disampaikan, mengantungkan keselamatan sang Master pada orang yang lebih bisa diandalkan dari pada dirinya yang masih merasa sangat lemah.
"Pisau ini mengandung racun paman," ungkap Karin yang membaui bau pisau yang ia cabut dari dada Dobby.
"Naruto bisa kau menghubungi Lucius dan Narcissa yang saat ini di Australia?"
"Maaf paman... Naru tidak menandai mereka, tapi Sasuke mungkin bisa dengan Jikukan ido miliknya, dan Naru akan memberi tahu Harry," usul Naruto.
"Baiklah, Suigetsu tolong kau urus jasad Dobby, aku akan menjemput Lisyla, entah kenapa perasaanku tidak enak." Membersihkan darah Dobby dengan mantra 'Evanesco', Louwis lalu membaringkan mayat Dobby disofa ruang tamunya.
Mendapat persetujuan dari sang paman Sasuke lalu meghilang dari tempatnya begitupula Naruto juga langsung berteleport ketempat Harry yang kebetulan ada di Grimmauld Place nomor 12, disana Naruto disambut hangat oleh orang-orang yang sebelumya belum ia kenal dan menamai diri mereka sebagai The Order of The Phoenix yang memerangi pasukan Death Eaters. Mengabaikan mereka semua ia lansung menyeret tangan Harry untuk meninggalkan ruang makan saat itu juga.
"Nii-san.. ada apa?" Melihat ekspresi Naruto yang kalut dan cemas ia menahan lajunya "tolong jawab ada apa?"
"Death Eaters, mereka menculik Draco, dan membunuh Dobby."
"A,Apa..." seakan kehilangan pijakannya Harry terhuyung kebelakang dan kembali terduduk dikursinya, sedangkan para penyihir senior yang mendengar info dari Naruto juga ikut kaget, terutama Sirius yang langsung menerjang Naruto dan mencekram kedua pundak Naruto.
"Jangan bercanda Naruto" elak Sirius menolak kenyataan, walaupun dia memiliki dendam kusumat dengan para Malfoy tapi mereka tetap masih keluarganya.
"Kenapa mereka menculik Draco,?" Tanya Dumbledore.
"Entahlah,,, mereka juga mencuri Kunci Mata Naga"
"Bagaimana dengan Lucius dan Narcissa, apa mereka terluka?" Tanya Sirius khawatir.
"Uncle dan aunty mereka berada di Australia, saat ini Sasuke sedang menjemput mereka dengan Jikikan ido. Dan mungkin sekarang mereka telah sampai dirumah."
"Tunggu... kau bilang Kunci Mata Naga?" Mondar-mandir Sirius seakan telah mencari ingatannya yang terselip entah dimana. "Aha... Kunci Mata Naga, salah satu harta pusaka yang ditinggalkan oleh nenek moyang, dulu kita yang berdarah murni yang meniliki garis keturunan yang sama selalu didongengi tentang empat kunci kehancuran." Mengingat sesuatu Sirius berlari kesebuah ruangan yang berisi lukisan Phineas Nigellus, mengambil lukisan tersebut dan membawanya keluar kamar, ia menuju kearah Naruto tanpa memperdulika umpatan protes dari Phineas Nigellus yang harus menerima kalau tempatnya harus mengalami gempa,
'Sirius... jangan goyangkan lukisanku bocah tua'
"Tetap ditempatmu kakek tua! Atau ku bakar kedua lukisanmu!" Ancam Sirius, mengabaikan tatapan bertanya anggota Order yang lain. "Kita berangkat Naruto, kau bisa menteleport kita semua?"
"Sorry,,, karena kehamilan Naru, Naru hanya bisa membawa dua orang, yang lain bisa menyusul lewat floo ke Namikaze Mansion." Memegang erat lengan Harry dan Sirius "Hiraishin" mengucap pelan lalu mereka bertiga menghilang dengan diikuti oleh kilat yang berwarna kuning. Dan membuat penyihir senior yang ada disana kaget, karena rumah tersebut sudah dikasih penangkal Anti Apparate maupun Disapparate.
.
.
.
.
.
(Mansion Namikaze)
Didepan perapian kediaman Namikaze, muncul kilatan kuning dan disusul kemunculan tiga orang yang kita tahu bernama Namikaze Naruto, Harry Potter dan Sirius Black yang langsung menaruh lukisan yang ia bawa sebelumnya. Sedangkan iris emerald milik Harry mengedarkan pandangannya, ia melihat keadaan kedua Malfoy senior yang bisa dibilang buruk, terlihat Narcissa yang kini menangis dalam dekapan suaminya, dan seorang berambut pirang yang mirip dengan Naruto juga tengah berlinangan air mata sambil mengengam erat sebuah kalung entah milik siapa.
"Paman, dimana Lisyla?" Tanya Naruto kepada pria pirang yang tengah menangis tersebut.
"Aku terlambat... mereka membawa Lisyla... hiks..."
"Naruto." Mendengar panggilan Sasuke, Naruto menoleh kearah Sasuke yang menyadarkan punggungnya pada pintu yang berukiran tiga ular yang melilit sebuah peti. Mengerti isyarat Sasuke ia mengangguk dan memejamkan matanya untuk konsentrasi, baru dua detik ia memejamkan matanya ia mendengar suara perapian menyala dan keluarlah Dumbledore dan diikuti oleh yang lain, hanya beberapa anggota order yang ikut, para Weasley muda yang tidak ikut menunggui sang ayah di St. Mungo's, serta Reamus Lupin. Menutup matanya kembali dalam hitungan detik kini seluruh tubuh Naruto dilingkupi penjar berwarna kuning, (mode kyuubi) dengan Cakranya berwarna Kuning menyala dan membungkus sekujur tubuhnya, terbentuk pula motif dari segel Kyuubi, Shisou Fuin. Serta muncul pula Motif Tomoe yang melingkari lehernya serta pada bagian rambutnya ada yang membentuk seperti dua tanduk yang menjulang ke atas. Karena perubahan mencolok Naruto hampir semua mata para penyihir diruangan tersebut kini menatap awas pada Naruto. Mereka juga merasakan energi hangat dan nyamannyaman yang keluar dari tubuh Naruto.
"Tidak ada... seperti tertelan bumi. Teme,, aku merasakan jiwa yang sama dan memiliki niat jahat yang sama dibeberapa tempat yang berbeda, ada tujuh tempat. Termasuk juga berasal dari tubuh Harry."
"Apa maksudmu Horcrux?" Tanya Dumbledore dengan kilat keingintahuan tinggi dari matanya.
"Apa itu Horcrux?"
"Tempat penyimpan jiwa yang dipecah untuk menjadi abadi, itu penjelasan singkatnya," dengan singkat padat dan jelas Dumbledore menjelaskan apa itu Horcrux pada Naruto,
"Kau merasakan keberadaan jiwa lain berasal dari tubuh Harry?" Tanya Sirius pada Naruto yang masih dalam mode Kyuubinya.
"Iya,,, walaupun lemah, Sasuke ikuti aku! Aku merasakan keberadaan Draco dan Lisyla serta beberapa orang lain" berlari keluar dan disusul Sasuke
"Aku ikut, Accio Firebolt" ucap Louwis lirih dan melangkah kearah meja yang menempel pada dinding, memasukan liontin yang sebelumnya ia genggam ke saku celananya, membuka laci yang berada dimeja tersebut ia lalu mengambil tongkat yang selama ini ia sembunyikan disana. "Lucius, Sirius kalian mau ikut?" Mendapati anggukan dari Lucius ia lalu mrngarahkan pandangannya pada Sirius dan kembali kearah datangnya tiga firebolt. Keluar dari rumah tersebut mereka bertiga lalu menaiki Firebolt yang berada di hadapan mereka
"Tunggu, aku ikut" pinta Harry.
"Suigetsu, Juugo kalian tetap disini, aku akan menyusul mereka," titah Karin pada kedua rekannya.
Kini terlihat Karin yang berada satu sapu dengan Louwis dan Harry bersama dengan Sirius serta Lucius yang sendirian menuju kearah perginya Naruto dan Sasuke dengan bantuan Karin sebagai penunjuk arah. Setelah sekitar tiga puluh menit terbang kini mereka menemukan Naruto dan Sasuke yang berdiri disebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput ilalang. Setelah sampai disamping kedua shinobi tersebut, dengan mulus mereka mendaratkan Firebolt dibelakang Naruto.
"Ada apa?" Tanya Louwis pada keponakannya.
"Ada barier(?) didepan"
"Hancurkan!" Perintah Louwis datar.
Mengumpulkan chakra petir ditangan Sasuke sedangkan Naruto mengumpulkan chakranya ditangan kananya lalu mereka berdua mengarahkan Chidori dan Rasengan pada udara kosong didepannya dan...
'Pyarrr' seakan mengenai sebuah kaca hingga pecah kini didepan mereka terlihat sebuah pondok tua yang terlihat sangat kotor dan tak layak pakai, serta disekeliling pondok tersebut telah ditumbuhi rumput ilalang yang tingginya mencapai dua meter serta ditemboknya ditumbuhi berbagai macam lumut dan tanaman merambat lainnya. Memasuki pondok mereka hanya mendapati seorang Death Eather yang tengah tertawa nista(?) Karena mendapati kedatangan mereka.
"Gyahahaa... kalian terlambat makluk bodoh... kalian semua akan musnah saat Aphelion nanti... Gyahahaha... Lord Voldemort akan menghancurkan kalian semua saat Gandora bangkit" curcol(?)nya.
"Kau terlalu berisik!" Desis Naruto marah sambil memabanting tubuh Death Eaters tersebut dengan telak hingga tanah yang ada disekitar tubuh Death Eaters tersebut retak dan membentuk sebuah jaring laba-laba abstrak.
"Cepat," lirih Harry dengan nada kekaguman.
"Teme, tangkap!" Melempar tubuh pingsan tersebut kearah Sasuke, Naruto lalu berjaan memasuki gubuk tersebut. Menghela nafas jengah akan sifat bossy sang calon suami tipe Ukenya ia lalu memasukan tubuh tersebut pada dimensi kamuinya(angap saja sasuke bisa semuanya), dengan malas Uchiha muda tersebut menyusul yang lainnya masuk pondok reot tersebut. Lucius yang mencari petunjuk didepan sebuah meja yang masih terdapat timpukan perkamen ia membaca sebagian isi perkamen tersebut, berharap ia akan mendapatkan secuil petunjuk yang akan menegaskaan nasip sang putra, berbalik memunggungi meja tersebut dengan kepala tertunduk ia melihat bekas tetesan darah yang ada dilantai kayu tersebut, mencolek(?) sedikit darah tersebut ia lalu mengambil kertas baru yang berada di meja yang sebelumnya ia singgahi.
"..." entah apa yang ia ucapkan atau mantra apa yang ia rapalkan pada kertas putih yang ternoda darah ditangannya tersebut perlahan-lahan keluar tulisan berwarna merah. Membaca tulisan yang keluar tersebut dalam hati dan perlahan ekspresinya yang sebelumnya penuhakan rasa cemas dan kaku terebut kini mulai melunak dan tenang.
'Tak Tak Tuk' mengetuk ujung sepatu kulitnya Sirius mendengar suara berbeda dari ketukannya, menyibak karpet tipis yang menutupi lantai kayu tersebut ia mendapati sebuah jalan rahasia menuju kesebuah ruangan.
"Hai guys... aku menemukan sesuatu disini" dengan keras ia memanggil yang lain. Dengan kompak mereka menuju kearah Sirius yang telah membuka pintu menuju bawah tananh.
"Pintu rahasia?"
"Aku masuk duluan," melompat turus Sirius langsung mendapati lorong satu arah yang menuju kiri rumah. Diikuti yang lain dibelakangnya Sirius menyalakan obor yang tertempel didinding dengan mantra 'Incendio'. Setelah sampai di pengujung lorong mereka mendapati sebuah sel tahanan yang telah terbuka. Tanpa ragu mereka semua memasuki tempat tersebut, mendapati tempat tidur tipis diriangan tersebut masih hangat mereka berasumsi kalau tempat itu baru saja ditinggalkan penghuninya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Disuatu tempat)
"AAARGHHHH... LEPASKAN ULAR SIALAN! Hah... engh... GYAAA... KELUARKAN! KELUARKAN ULAR BRENG_" teriakan tersebut berhenti setelah orang yang tengah duduk di singahsana besarnya yang berada disamping pria paruh baya berambut hitam berantakan yang berumur sekitaran antara dua puluh dan tiga puluh tahunan yang berteriak kesakitan tersebut, mengabaikan kondisi pria yang kini terikat oleh tali tak kasat mata tersebut pria berwajah datar itu mengayunkan tangannya, sehingga teriakan yang tadi menggema di kamarnya kini menghilang.
"$$kkau lebih baik diam$$" desis pria berwajah datar (datar dalam artian sebenarnya) tersebut penuh ancaman, sambil menatap awas pria paruh baya yang tengah tersiksa dihadapannya. Menatap pria tersebut remeh, dengan bahasa 'Parsetongue'nya ia memerintahkan ularnya yang tengah bermain dengan pria paruh baya tersebut untuk meningkatkan intensitas permainannya, mengabaikan gelangan memohon dengan air mata yang telah tumpah dikedua pelupuk mata pria paruh baya tersebut.
.
.
.
.
(Mansion Namikaze)
Setelah berjam-jam melakukan penelusuran, mereka akhirnya kembali ke Mansion Namikaze, mengeluarkan Death Eaters dari dimensi kamui dalam keadaan terikat oleh ular-ular milik Sasuke.
"Bangunkan dia Teme!... sudah lama Naru tidak main-main," titah Naruto pada calon suaminya.
Mendengar titah aneh Naruto hampir semua yang ada diruangan tersebut sweatdrop, apalagi mendengar alasan aneh tentang bermain(?)
"Apa lihat-lihat?" Mengabaikan perutnya yang sudah terlihat buncit ia menaikan satu kakinya dimeja dengan posisi menantang mereka yang ingin protes keputusannya.
Ingin protes tapi melihat aura pekat dari belakang Naruto mereka harus menelan kembali ucapan yang sempat melewati tenggorokannya.
"Aku ikuti caramu Dobe" menatap Naruto dengan seringannya. Mengerti keinginan dari sang tuan salah satu ular yang mengikat pergelangan tangan Death Eaters tersebut keluar dari lilitan tangan iti dan mengigit bahu pria tua trrsebut keras.
"Aarghh..." jeritan pria tersebut langsung terdengar digendang telinga orang-orang yang berada disana.
"Siksa dulu atau servis dulu?" Tanya Naruto sambil mendekatkan wajahnya pada wajah pria tersebut dengan senyum manis yang menakutkan.
'Glek... menakutkan' ucap kompak mereka yang melihat senyum maut seorang Uzumaki Namikaze Naruto.
"I Iblis," ucap pria tersebut terbata.
"Pilihan salah ttebayo... coba tebak apa yang Naru fikirkan sekarang?... ngomong-ngomong siapa namamu?" Mencoba melihat mata Naruto, tidak lama pria tersebut memalingkan wajahnya.
"A,Alecto" jawab pria itu terbata.
"Ohh.. aku tidak suka namanya, aku serahkan padamu Sasuke!" Ucapnya ketus,
"Hn, ada ide?"
"""Tsukiyomi""" ucap Naruto, Suigetsu dan Karin kompak dengan tawa sadis.
"Bulankah itu terlalu sadis? Bagaimana kalau dia mati?" Dengan tampang kalem Juugo menolak keputusan ketiga temannya.
"Satu detik" usul Naruto
"Baiklah, Alecto!" Menatap mata sharingan Sasuke
'Deg' satu detik mata tersebut kosong hingga...
"AAARRRGGGGHHHHHHHH..." Teriak Alecto, tanpa sebab mulut dan mata Alecto megeluarkan darah serta ekpresi yang seakan baru melihat kematiannya sendiri.
"Apa yang kau dapat Teme"
"Mau tahu?" Dengan senyum evil yang masih terparti pada bibir tipis tersebut ia menarik Naruto dalam dekapannya dan...
'Cup' sebuah ciuman mendarat dibibir plum Naruto.
"Teme mesummmm..." ingin mengeplak kepala Sasuke, tapi niatan tersebut berhenti diayunan tangannya " eh, tadi itu ingatannya?" Tanya Naruto melihat kedua mata Sasuke yang masih meng-aktifkan Sharingannya. Mendapat anggukan pelan dari Sasuke, ia dengan langkah sedikit berlari menuju ke arah Harry dan...
'Cup' menabrakkan bibir plumnya ke bibir Harry.
"Ehh? Naru mencium bibirku?" Tanya Harry yang masih blank. Setelah sadar dari keterkejutannya ia memegangi kepalanya yang terasa mau pecah, mendapatkan ingatan dari luar yang memasuk paksa, dengan keringat yang masih bercucuran dan tubuh yang bergetar ia hampir terjatuh didantai yang dihiasi oleh keramik berwarna putih kebiruan, dengan sigap Remus menagkapnya dan mendudukannya di sofa yang sebelumnya ia duduki.
"Harry" mengelus punggug Harry dengan penuh sayang dan perhatian, Remus mengangkat dagu Harry dengan jari telunjuknya. "Ada apa?"
"Daddy,, dia masih hidup, begitu pula Regulus," ucap Harry lirih.
Sasuke yang melihat kekasihnya mencium pria lain, dengan background malaikat kematian yang telah mengenggam sabitnya, ia maju mendekati Naruto yang tengah berkeringat dingin.
"Err... Te,teme jangan menatapku dengan padangan seperti itu" setiap Sasuke melangkah maju, Narutopun dengan lambat melangkah mundur menghindari Sasuke yang menatapnya.
"Kau berciuman dengan pria lain dihadapanku" desis Sasuke murka.
'Duak'
'Duak'
""Ittai/Ouch... kenapa kau memukul kepalaku Bakarin"" ucap SasuNaru setempak.
"Klian tidak kasihan pada Harry yang sedang shock?"
"Salahkan Naruto yang ceroboh mentransfer ingatan dengan ciuman" (est ngarang, so... jangan marah yah...)
"Naru-Nii... apa itu semua benar?"
"Semua itu benar"
"Mereka akan membangkitkan Gandora?"
"Apa itu Gandora Harry?" Tanya Remus menanggapi.
"Kau bisa membaca fikirannya, Sasuke?" Menatap Sasuke lekat-lekat dengan mata sipitnya Dumbledore lalu memasang lukisan Phineas Nigellus di dinding kosong dekat lukisan Namikaze Arata yang sedang duduk sambil memangku sebilah katana, memberi senyum pada tuan rumah, Dumbledore lalu menatap Lucius dengan senyum misteriusnya, "kalian bisa menanyakan pada Lucius dan Louwis tentang apa itu Gandora, bukan begitu phineas, Arata-Sama?"
'Jangan tanyakan Gandora pada Sirius, setiap kali aku cerita dia selalu menguap dan tidur' keluh Phineas yang menguap dalam lukisannya.
'Anda juga menguap Phineas-Sama' sahut Arata dengan senyumnya.
'Hemmm...'
"Tidak banyak yang aku tahu, aku hanya ditugaskan oleh kakek moyangku untuk menjaga Kunci Mata Naga, peninggalan Armand Malfoy yang ia bawa dari Prancis. Kami para penerus laki-laki Malfoy harus menjaga Kunci tersebut dari tangan yang menciptakan kehancuran, tanpa adanya alasan Armand memerintahkan kami utuk selalu menjaganya," jelas Lucius yang mengenggam jemari Narcissa.
"Gandora, yang memiliki nama panjang 'Gandora the Dragon of Destruction' adalah Naga penghancur yang konon katanya berasal dari dimensi lain, karena kemunculannya hampir sebagian dataran Eropa yang utuh hancur. Suatu yang sangat mengerikan pada saat itu, dan para Muggle menyalahkan para penyihir atas kemunculannya, mungkin itu sebabnya para penyihir jaman dahulu harus menepi dan menyembunyikan dirinya. Dan untuk menghentikan amukan Gandora, Raja pengendali Naga menyegelnya pada empat menara tak terlihat, setiap menara ditinggui oleh satu jiwa Naga penjaga yang tubuhnya disegel pada bagian tubuh Gandora untuk menekan pergerakannya_"
.
.
.
.
.
.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷tbc÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
.
.
.
.
.
Pojok Est. : salam Minna-san... maaf lama,,, est cuma mau ngucapin maaf kalo ngak bisa up date cepet, emmm... udah berapa hari yah? Oktober ke November,, berati satu bulan doonk... #abaikan Est yang mulai kamuh sesuatunya.
BeTeWe... tolong kasihtahu est kalau ada Typo yang masih berseliweran.. nyehehe... diatas Diclaimernya est tambah jadi empat, soalnya est pinjam Gandora milik Kazuki Takahashi-Sama dan empat tokoh penjaga Naga milik Kyoko Shitou-Sama.
.
.
.
Est ucapin maksih buat para senpai sekalian yang udah mau ningalin jejak.
- Guest : habisss... naru udah terlanjur hamil sih... kalo ngak diterima, ntar siapa yang jadi bapaknyA?...
- Vilan616 : est jadi malu... #garuk kepala. Naru sempet marah kq,,, karena lihat Sasuke terluka karenanya jadi ngak tega deh... direstuin gak yahhh? Entahlah,,, tapi harus direstuin soalnya pairnya ada Drarry...
- Lisa Amelia : baik ... makasih udah review...
- blueonyx syiie : hehehe... bahasa est emang paling jeblok... makasih udah berbagi ilmu...
-Dahlia Lyana Palevi : naru melahirkan setelah usia kandungannya 9 bulan 10 hari... hehehe... gak papa kq, kesukaan orang berbeda-beda... mau tahu harpot? Kali ngak salah nanti tgl. 7 nov ada harpot di RCTI, mau nonton? Est lupa jam tayangnya...
- namiee : belum tepatnya... potret, kalo ditinggal pasti orangny hilang, dan bisa bergerak-gerak, ada yang bisa ngomong juga,,, trussss senpai orangnya juga bisa berkunjung di lukisan yang ada disebelahnya juga... pokoknya keren dehhhh...
- keSemutAnt : maksih udah ngingetin dan menjrentetin(?) Kesalahan est... kyaaa ... bahkan dibahas satu demi satu... #senangnya... est jadi tahu yang benar dan yang salah... kalo typo lagi ingetin est lagi ya senpai...
.
.
.
.
Kamar Jopok, 2015-11-02
