Halo minna, mohon maaf kalau masih banyak kekurangan di Chapter 1 kemarin. Nanti bakal dirapikan lagi deh ya, maklum masih newbie.
Special Thanks to cherry, Kirara967, kakikuda dan Jamurlumutan462.
Your support is an honor to me.
Heavy theme. Maybe OOC.
All character belongs to Masashi Kishimoto-sensei. I just own the story.
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
Sakura POV
"Ayo, berbaringlah"
Aku membuka selimut dan membiarkan Sasuke menyelinap kedalamnya. Ia menatapku penuh arti. Kemudian aku berbalik untuk menutup tirai jendela dan memastikan kalau jendelanya sudah terkunci rapat. Aku mematikan saklar lampu sebelum melalui pintu.
"Sakura, ". Suaranya sampai padaku saat aku memegang kenop pintu, nyaris menutupnya.
"Ya?"
"Kau tidak tidur disini?" Aku bisa melihat gurat sedih pada pahatan wajahnya dengan cahaya yang menelusup melalui pintu. Kamar ini dulunya kamar kami.
"Tidak" jawabku.
Ia menghela napas. "Temani aku, setidaknya?"
"Hanya sampai kau terlelap?"
"Tidak apa apa". Matanya bersinar. Aku menyalakan lampu lagi, menghampiri tempat tidur dan duduk disampingnya. Menghadapnya. Ia memiringkan tubuhnya ke arahku.
Aku menggenggam tangannya, mengelus punggung tangannya dengan ibu jariku. Aku sayang padanya, sungguh.
Aku mengedarkan pandangan. Kamar ini tidak berubah, meski setelah Shion menempatinya. Cat birunya masih sama seperti aku mengingatnya dulu. Pintu geser dengan kaca jeruk menuju kamar mandi juga masih jendela yang menghadap taman berwarna kuning kenari—kukira berwarna putih tulang saat terakhir kali aku mengeceknya, tapi mungkin Shion telah menggantinya selama ia tinggal disini. Tempat tidur yang ditutup dengan penutup tempat tidur biru dengan motif bunga lili putih yang diliputi dedaunan hijau segar—penutup tempat tidur favoritku – juga masih sama. Tanpa sadar aku meraba selimut indah ini, mengingat malam-malam manis yang pernah aku lewati bersama Sasuke. Malam kami.
Genggamannya pada tanganku mengerat. Matanya nyaris menutup.
"Aku mencintaimu Sakura", kemudian ia terlelap.
Aku melihat dinding di sebelah kananku. Dulu foto pernikahan kami tergantung manis disana. Setelah Shion ada disini dan aku pergi, foto kami diganti dengan foto pernikahan Sasuke dengan Shion. Kini tidak ada foto apapun disana. Tapi aku tidak mengingat ada guratan dalam di dinding itu. Kupastikan Sasuke benar-benar terlelap dan melepaskan tangannya dari genggamanku.
Guratan ini dalam, dindingnya seperti dikenai benda tajam dengan kekuatan yang besar. Bagaimana bisa guratan melintang itu ada disini?. Aku melirik Sasuke dan ia masih terlelap. Kumatikan lampu dan keluar dari kamarnya.
Sudah larut malam dan aku benar-benar lelah. Aku masuk ke kamar di seberang pintu kamar Sasuke. Semua barangku ada disana—baju, laptop, cello. Kuputuskan untuk tidak sekamar dengannya setelah kami kembali bersama. Jujur saja, aku perlu waktu. Banyak hal yang harus aku sembuhkan sebelum aku bisa menerimanya kembali. Aku masuk ke bawah selimut dan berpikir.
Dulu kami tidak seperti ini. Dulu kami diliputi cita dan cinta di hari-hari yang kami lewati. Dulu kami tersenyum. Tapi memang, mungkin tidak seharusnya semudah itu. Akan ada badai yang menguji kami. Badai itu kini telah lewat, tapi bisa kupastikan akan ada badai lagi. Entah lebih kuat atau hanya sayup-sayup.
Bayangan saat keluarga kami berkumpul dua hari lalu datang padaku. Kami merayakan pesta sederhana dengan orang-orang terdekat—keluarga kami serta teman dekatku dan Sasuke—setelah upacara penikahan kami di gereja tempat aku dan keluargaku berdoa. Tapi aku ingin tidur. Kudengar petir menggemuruh dan kilat menyambar, terlihat dari jendelaku. Aku siap tidur dan menyiapkan hari-hari yang akan tiba.
.
.
.
.
Terimakasih lagi untuk para Reader dan Reviewer. Semoga kisah Sasuke dan Sakura makin jelas di chapter-chapter selanjutnya.
