Title : Happiness

Rated : T+

Genre : Family. Fluffy.

Disclaimer : Cast is not mine. But story is mine.

Warning : Genderswitch, EYD tidak sesuai, pasaran, absurd, typo, DLDR!


..

..

..

..

HAPPY READING~!

..

..

..

..

`Special Edition`

..

..

..

..

1,969 words.

..

..

..

..


Sreekk!

Tidur Yifan langsung terusik saat ada seseorang tiba-tiba membuka gorden kamarnya. Bukannya memilih bangun, Yifan malah semakin membenamkan tubuh jangkungnya ke dalam selimutnya yang tebal.

"Oppa, palli uljimayo~"

Mendengar suara rengekan istrinya, Yifan perlahan kembali menyembulkan kepalanya keluar. Dia hanya melirik sebentar ke arah istrinya yang sedang bersedekap, lalu Yifan bergegas bangun karena Suho memandangnya dengan tatapan tajam dan mengancam.

"Aku sudah bangun," ujar Yifan sambil memojokkan istrinya ke dinding, matanya baru terbuka setengah.

"Sekarang kau mandi, Oppa," suruh Suho berniat ingin menyeret suaminya ke kamar mandi, tapi Yifan tidak membiarkannya bergerak sedikit pun.

"Minta kiss morning dulu," tagih Yifan sedikit memonyongkan bibirnya.

Cup.

Ciuman pagi mereka memang tidak akan selalu dengan hanya bibir yang saling menempel saja. Yifan pasti melumat bibir Suho sampai matanya melek kembali dan pagutan basah mereka itu rata-rata berkisar lima menitan.

"Sudah cukup, Oppa. Cepat mandi sekarang, setelah itu kau bersiap-siap pergi bekerja," kata Suho langsung mendorong dada Yifan agar menjauh darinya, kemudian dia melesat keluar kamar mereka sebelum suaminya tersebut meminta hal lainnya yang lebih intim.

"Yeobo, buatkan nasi goreng kimchi untukku!"

"Apa kau sedang mengidam, Oppa?"

"Ya, tapi kau yang hamil."

Pasangan Yifan dan Suho memang terbilang pasangan yang unik. Saat awal kehamilan pertama Suho sekitar tiga tahun yang lalu, bukannya Suho yang mengidam lebih dulu, tapi malah Yifan yang suka menginginkan sesuatu yang jarang dia minta pada istrinya seperti nasi goreng kimchi.

..

..

..

..

..

..

"Morning, Shixun," sapa Yifan sambil mengusak rambut putera semata wayangnya yang sedang memakan sarapannya dengan lembut.

"Morning, Papa," balas Shixun tetap fokus menyantap fancake lemon ditambah madu buatan ibunya yang super lezat.

Suho sedikit berjengit kaget ketika suaminya tiba-tiba memeluknya dari belakang.

"Aku juga mau dibuatkan fancake spesial seperti Shixun, yeobo," pinta Yifan perlahan menyusupkan wajahnya ke ceruk leher istrinya itu.

"Bagaimana dengan nasi goreng kimchi ini?" tanya Suho terdengar mulai kesal.

"Jadikan saja sebagai bekal makan siangku nanti," jawab Yifan membuat emosi istrinya bertambah.

"Aku hanya bercanda saja, yeobo," ucap Yifan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Suho, berharap amarah istrinya yang sedang hamil itu dapat kembali mereda.

"Buka mulutmu, Oppa," suruh Suho diam-diam memasukkan jari telunjuknya ke dalam botol madu tanpa sepengetahuan sang suami.

"Aaa.."

Yifan langsung membuka mulutnya sedikit dan Suho bergegas menyumpal mulut suaminya tersebut menggunakan jari telunjuknya yang penuh dengan baluran madu.

"Rasanya manis seperti fancake milik Shixun, kan?" tanya Suho membiarkan Yifan mengulum jarinya, membuat putera mereka yang mulai memperhatikan kegiatan pagi mereka itu menjadi jengkel.

"Manis sekali, sampai-sampai aku bernafsu ingin memakanmu sekarang," bisik Yifan perlahan membalikkan badan Suho agar menghadapnya. Dia hampir saja mendapatkan bibir istrinya yang menggoda, tapi ada sebuah sendok berhasil mendarat mulus di kepalanya dan membuatnya langsung mengaduh–lebih tepatnya hanya berpura-pura saja.

"Papa!" seru Shixun sambil memberengut lucu, dia akan cemburu jika melihat ayahnya menempel pada ibunya.

Cup.

Setelah sempat mengecup sekilas bibir Suho, Yifan bergegas menghampiri puteranya sedang merajuk padanya. Ini sudah biasa terjadi setiap pagi. Shixun pasti akan berhenti bersikap seperti itu setelah adiknya lahir nanti, Yifan membatin yakin.

"Kalau kau sudah selesai sarapan, lebih baik berikan saja sisa fancake-mu ini pada Papa," ujar Yifan malah membuat wajah Shixun semakin tertekuk.

"Wajahmu akan terlihat jelek jika kau menekuk wajahmu seperti itu," cibir Yifan.

Pletak!

"Jangan dengarkan ucapan Papa tadi, sayang. Dia hanya iri padamu, Putera Mama ini sangat tampan dan manis," hibur Suho mengusap pelan pucuk kepala Shixun setelah menjitak kepala suaminya barusan dengan gemas.

"Makan saja nasi goreng kimchi buatan Mama ini, rasanya jauh lebih lezat dibandingkan dengan fancake lemonmu tadi," pinta Suho menaruh sepiring nasi goreng kimchi hangat dan harum buatannya tadi ke hadapan puteranya yang terlihat masih lapar.

"Sarapan untuk Papa mana?"

"Ambil saja sendiri."

"Tapi aku ingin mencicipi fancake buatanmu itu sedikit, yeobo."

Huft.

Suho langsung menyumpal mulut Yifan dengan sepotong fancake berukuran agak besar, lalu mengabaikan suaminya itu dan memilih mendengarkan puteranya yang mulai berceloteh panjang lebar. Shixun termasuk balita yang hiperaktif dan cerewet, membuat Yifan terkadang kewalahan dalam mengurus putera semata wayangnya itu jika Suho sedang pergi bertamasya bersama murid-muridnya selama satu hari.

"Bwee~"

Yifan berusaha mengendalikan emosinya saat Shixun menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang ayah. Apalagi tawa Suho langsung pecah, karena Yifan memakan nasi goreng kimchi buatannya langsung dari pan sambil memasang ekspresi wajah yang sangat menyedihkan. Poor Yifan!

..

..

..

..

..

..

Hari sudah menjelang malam dan waktu juga sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam. Ini saatnya keluarga kecil Wu bersantai di ruang keluarga mereka yang nyaman, setelah mereka menyelesaikan acara makan tadi yang selalu diwarnai guyonan Yifan yang membuat Shixun merasa kesal.

"Karena Shixun ingin mempunyai adik perempuan nanti, Papa sudah menyiapkan nama untuknya. Wu Baixian atau Wu Zitao, nama mana yang lebih bagus menurut kalian?" tanya Yifan sembari mengelus pucuk kepala puteranya yang sedang asyik membelai perut istrinya yang sudah membuncit.

"Wu Baixian," jawab Suho asal.

"Anio, Wu Zitao saja. Adik perempuanku ini pasti sangat imut dan menggemaskan," timpal Shixun mengecupi perut ibunya dengan penuh sayang, dia sangat antusias sekali dalam menunggu kelahiran sang adik.

"Dan Papa yang paling tampan di rumah ini," balas Yifan mulai menggoda puteranya lagi.

"Aku lebih tampan dari Papa! Titik!" seru Shixun membuat adik kecil di dalam perut ibunya sedikit terkejut, karena Suho barusan merasa ada tendangan kecil dari calon bayinya tadi.

"Hey, teriakanmu tadi sudah membuat adik kecilmu kaget," ujar Yifan sambil menoyor pelan kening Shixun.

"Kau tidak boleh menoyor kepala Shixun seperti ini. Dia masih kecil, Oppa!" tegur Suho langsung mencubit pinggang suaminya itu.

"Aw, yeobo."

"Lagi, Ma! Cubiti terus pinggang Papa! Papa tadi nakal sama Shixun, Ma."

"Hentikan, yeobo. Ini benar-benar sakit, aw!"

Gelak tawa Shixun langsung pecah saat dia melihat ibunya terus mengerjai ayahnya yang sebenarnya hanya pura-pura kesakitan saja. Yifan memang selalu berakting seperti itu agar putera semata wayangnya itu bisa merasa senang, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Yifan selain melihat senyuman Suho dan Shixun. Yifan sudah berjanji pada dirinya kalau dia akan selalu menjaga mereka berdua ditambah calon bayi dalam perut istrinya. Yifan berharap keluarga kecilnya ini akan selalu diselimuti dengan keharmonisan, meskipun badai mungkin bisa menerpa mereka pada suatu hari nanti.


"Oppa," panggil Suho dengan nada yang sangat manja.

"Hm, ne, yeobo?" sahut Yifan sambil mengecup lembut pucuk kepala istrinya beberapa kali.

"Ayo kita berlibur ke China sebelum aku melahirkan nanti," kata Suho terdengar mulai merengek.

"Apa kau sedang mengidam, yeobo?" tanya Yifan curiga.

"Ne, Oppa," jawab Suho sembari menganggukkan kepalanya dengan imut.

"Aku ingin melihat panda di kebun binatang di sana."

"Usia kandunganmu sudah menginjak bulan kedelapan, dokter juga melarangmu melakukan pekerjaan rumah yang berat dan berpergian jauh keluar kota atapun keluar negeri."

"Lagipula kau bisa melihat panda yang lucu di situs Youtube atau situs internet lainnya."

"Shireo, aku maunya melihat panda secara langsung!"

Yifan menghela napasnya sejenak, dia harus tetap sabar dalam menghadapi ibu hamil seperti istrinya ini. Dia tidak boleh membuat Suho sampai merasa kecewa padanya nanti. Hati si ibu hamil memang sangat sensitif dan rapuh. Karena itulah, Yifan selalu menjaga kata-katanya dan berusaha memanjakan Suho sampai anak kedua mereka lahir kurang dari sebulan lagi.

In a blink of an eye

Dalam sekejap mata

Just a whisper of smoke

Hanya sebuah bisikan asap

You could lose everything

Kau bisa kehilangan segalanya

The truth is you're never alone

Sebenarnya kau tak akan pernah sendirian

So, I'll kiss you longer baby

Jadi, aku akan menciummu lebih lama sayang

Any chance that I get

Setiap kesempatan yang aku dapatkan

I'll make the most of the minutes

Aku akan memperbanyak waktuku

So long with no regret

Begitu lama tanpa ada penyesalan

Let's take our time to say what we want

Mari ambil waktu kita untuk membicarakan apa yang kita inginkan

Here's what we've got

Di sinilah apa yang sudah kita dapatkan

Before it's all gone

Sebelum itu semua pergi

'Cause no one will promise tomorrow

Karena tak satupun yang menjanjikan di hari esok

So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,

Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu

I'm gonna hold you like I'm saying goodbye

Aku akan mendekapmu seolah aku berkata selamat tinggal

Forever will stay in, I won't take you for granted

Selamanya akan tetap begitu, Aku tak bisa mengabaikanmu begitu saja

'Cause we'll never know it when we'll run out of time

Karena kita tak akan pernah kapan kita kehabisan waktu

So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,

Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu

I'm gonna love you like I'm gonna lose you

Aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu

"Arrayo, aku akan melihat panda di situs Youtube saja."

Mudah saja bagi Yifan membuat Suho mengerti, dia tunjukkan rasa kasih sayang dan kekhawatirkannya lewat lagu Barat yang menyentuh hati tadi. Yifan takut kehilangan Suho setiap saat, dia ingin istrinya itu selalu baik-baik saja dan tidak cacat satu barang pun pada tubuhnya. Yifan ingin wanita yang dia nikahi sekitar lima tahun yang lalu itu tampak sempurna bersama kedua anaknya sampai nanti. Intinya, harta yang paling berharga yang dimiliki Yifan di dunia ini hanyalah keluarganya saja, tidak ada yang lain lagi selain hal tersebut.

"Aku punya firasat anak kedua kita ini akan mirip seperti panda, membuat Shixun semakin gemas padanya nanti," ucap Yifan sambil mengelus perut besar istrinya dengan lembut.

"Wu Zitao, nama yang dipilih Shixun sepertinya memang cocok untuk dijadikan sebagai nama adiknya. Terdengar sangat manis dan lucu."

"Manis sekali sampai membuatku bisa terkena diabetes."

"Kau terlalu berlebihan, Oppa."

"Itu perumpamaan saja, yeobo."

"I know."


–END–


Epilog~

"Wu Zitao. Badanmu gembul dan kau punya kantung mata seperti panda. Naega neomu eomu neoumu johae~"

Yifan berusaha menahan tawanya agar tidak terdengar saat melihat puteri kecilnya tampak menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan wajah lugu sambil mendengarkan kakaknya menyanyi. Perhatian Yifan harus teralih karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.

"Yeoboseyo?"

"Yeoboseyo, Oppa."

"Kau ada di mana sekarang? Ini sudah sore, tapi kau belum pulang juga."

"Aku sedang ada di Gangnam, Oppa."

"Memang apa yang kau lakukan di sana?"

"Aku mendapatkan undangan seminar tadi dan aku datang ke sini karena paksaan Kyungsoo."

"Aku juga alumnus dari Universitas Gangnam-Gu, kenapa aku tidak diundang?"

"Khusus untuk para alumnus dari fakultas sastra saja, Oppa."

"Oh, pantas saja~"

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan keadaan anak-anak sekarang?"

"Mereka sudah tidur beberapa menit yang lalu karena mereka tidak tidur tadi siang."

"Pasti wajah mereka sangat polos dan menggemaskan."

"Kau benar, yeobo. Shixun lebih mirip seperti kitty dan Zitao selalu terlihat seperti bayi panda mungil."

"Sayang sekali, aku tidak bisa pulang malam ini karena Eomma menyuruhku menginap di hotel bersama Kyungsoo."

"Aku mengerti, yeobo. Aku tutup dulu telponnya. Cuaca di Seoul sedang tidak bersahabat sekarang dan sepertinya akan turun hujan sebentar lagi, aku harus menutup semua jendela apartemen kita selagi anak-anak masih tidur."

"Ne, Oppa."

"Pukul saja pria yang menatapmu dengan mata jelalatan saat seminar nanti. Jangan biarkan dia mendekatimu, aku akan membunuhnya jika dia berani menggodamu."

Suho langsung tertawa renyah setelah mendengar perintah suaminya itu, Yifan memang sangat overprotektif jika dia sedang tidak ada di rumah seperti sekarang ini.

"Arrayo, Oppa. Tolong jaga anak-anak sebaik mungkin selagi aku tidak ada di rumah."

"Itu pasti! Saranghae, yeobo."

"Nado saranghae, Oppa."

Pip!

Yifan bergegas membereskan apartemennya sebelum turun hujan dan kedua anaknya terbangun, dia akan menjadi orang tua tunggal lagi hari ini. Yifan tidak masalah kalau harus ditinggal oleh istrinya dan disuruh menjaga kedua anak yang masih kecil selama seminggu. Hanya saja Suho tidak akan bisa tahan meninggalkan Shixun dan Zitao lebih satu hari, karena jiwa keibuannya selalu membuatnya ingin menjaga kedua anaknya tersebut setiap saat. Sungguh, keluarga kecil ini sangat erat dan sulit untuk terpisahkan.


–FIN–


Since October 15, 2016.