WARNING!

IF YOU DON'T LIKE BOYS LOVE/SHONEN AI/YAOI, PLEASE JUST IGNORE IT.

SASUNARU, UCHIHA SASUKE/UZUMAKI NARUTO

ROMANCE, ANGST, BL/YAOI, T, AU, OOC

MASASHI KISHIMOTO

~Nappeun Bam~

Sekuel Color Ring: Your Ring (Naruto Side)

.

Gemericik air menggema di seluruh ruang. Memberikan sensasi nyaman tersendiri bagi mereka yang mendengarkannya. Uap air hangat menguap menciptakan nuansa tenang pada ruang yang lembab. Aroma buah-buahan tropis dari busa yang terkumpul, menyegarkan penciuman sang pemilik indera. Dan aliran air hangat menjadikannya rileks pada kulit yang terguyur olehnya. Mengabaikan segala penatnya yang di luar sana. Hanya membiarkan ia menikmati paginya.

Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..

Ia raih ponselnya yang bergetar di atas tempat tidurnya. Ia perhatikan nomer panggilan pada ponselnya. Tak ada nama pemilik panggilan tersebut, maka ia tolak panggilan tersebut. Kemudian ia lihat riwayat panggilan pada ponselnya. 17 panggilan dan 5 buah pesan dari nomer yang sama. Ia buka pesan tersebut. Menampilkan pesan yang sama yang selalu ia dapat dari pengirimnya.

'Ku mohon angkatlah telponku.'

Lagi dan lagi. Di setiap harinya, ia akan mendapat panggilan dan pesan dari nomer tak bernama namun ia tahu pasti siapa pemiliknya. Nomer yang begitu ia hafal dalam ingatannya.

"Dari siapa, Naruto?" Tanya sosok lain yang sedang memeluknya dalam ruangan itu. Tak ingin menjawab, ia atau sosok yang dipanggil Naruto itu hanya menunjukkan nomer pada ponselnya yang terpampang. Tanpa nama. Menunjukkan kebohongan bahwa ia tak mengetahuinya.

"Kenapa kau tidak mengangkatnya? Mungkin itu dari temanmu." Lanjut pria itu, yang dijawab hanya dengan gelengan kepala oleh Naruto.

"Kau semakin terlihat diam. Ada apa?" Tanya pria itu lagi pada Naruto yang terdiam.

"Tak apa." Kali ini ia menjawab dan memberikan senyum terbaiknya pada sosok yang masih setia memeluknya.

"Baguslah jika seperti itu. Oh iya, jangan lupa untuk datang jam sepuluh malam ini di restoran yang biasa, aku akan menyusulmu setelah pulang kerja. Aku berangkat." Pamit pria itu, tak lupa mencium Naruto yang nyatanya adalah kekasihnya. Naruto pun hanya mampu membalasnya dan memberikan senyum terbaiknya saat kepergian kekasihnya. Yah senyuman yang ia paksakan dengan sebaik mungkin agar tercipta. Senyuman yang begitu sulit ia keluarkan, sebuah senyuman tulus selain kepada ia yang kini kembali memanggil dalam ponselnya.

~Nappeun Bam~

Wajah sang langit terlihat begitu mendung. Menyamarkan segalanya menjadi gelap. Namun tak pernah menjadikan yang bernyawa untuk terdiam. Termasuk dirinya yang kini terus berjalan menapaki tepi jalan hanya untuk berkeliling, tak lupa dengan payung transparan yang senantiasa ia genggam. Sedia payung sebelum hujan. Ia terus melangkahkan kakinya menjajahkan segala yang menarik perhatiannya. Netranya terus berkeliaran mencari suatu hal yang menarik, hingga sesosok pria mempesona pandangannya.

Ia pandangi pria yang terdiam itu dari kejauhan. Seorang pria yang dahulu begitu mempesonanya bahkan hingga saat ini. Pria itu terdiam memandangi sesuatu di depannya. Naruto pun mengikuti arah pandang pria itu. Sebuah cafe dengan kaca besar sebagai dinding pembatasnya. Ia tersenyum getir, kemudian ia pandangi pria itu lagi. Pria itu kini tertunduk, wajahnya mengguratkan akan kepedihan yang mendalam. Membuat Naruto tak kuasa ingin meraih pria itu, namun ia menahan diri. Ia hanya kembali memandangi pria itu, hingga ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Kini ia melihat pria itu yang mulai terisak dalam diam. Tubuh pria itu mematung namun tetesan air mata mengalir membasahi wajahnya.

Tes..

Setetes air membasahi pipi Naruto. Ia usap pipinya dengan tangan dinginnya.

"Tetesan hujankah?" Tanyanya dalam hati.

Kepalanya menengadah menatap sang langit yang semakin mendung. Terlihat butiran-butiran air mulai berjatuhan dari awan. Ia rasakan kembali tetesan air pada pipinya.

Tes.. Tes.. Tes..

Semakin banyak tetesan air membasahi wajahnya. Naruto angkat kedua telapak tangannya, mencoba merasakan rintikan air hujan yang berjatuhan.

"Jika yang di wajahku ini hanyalah air hujan. Tetapi mengapa mata ini terasa perih dan hati ini begitu sakit merasakannya?"

Sedikit demi sedikit rintik gerimis mulai membasahi setiap benda yang berada di bawahnya. Terdengar pula derap kaki yang mulai bergerak cepat. Bergerak mencari perlindungan dari dinginnya sentuhan sang hujan. Namun tidak dengan pria yang sedang diperhatikan Naruto. Pria itu hanya terus terdiam, membiarkan tetesan hujan menyentuhnya.

Pandangan Naruto tak pernah lepas dari pria itu. Kakinya melangkah maju dengan sendirinya, sedangkan tangannya bergerak membuka payung dalam genggamannya. Namun geraknya terhenti oleh payung lain yang menaungi tubuhnya dan sebuah tangan hangat menggenggam tangannya.

"Hari mulai hujan, sedang apa kau di sini Naruto?" Suara lembut menyentuh pendengarannya. Suara sesosok pria lain yang ternyata adalah kekasihnya. Seorang pria yang kini membawanya menjauh dari langkahnya yang seharusnya. Menjauh dari sosok pria menawan yang kini menoleh padanya.

Pandangan mereka saling bertemu. Saling menatap dengan pancaran yang sama. Tatapan yang begitu menggelikan bagi keduanya. Sebuah hasrat akan kerinduan yang membuncah. Membuat mereka melangkah saling mendekat.

"Kau ingin kemana, Naruto?" Tanya sang kekasih menghentikan langkahnya. Ia tak menjawab, tubuhnya berbalik mengikuti langkah pria yang mengiringnya, namun wajahnya tetap menoleh memperhatikan sosok lain dalam jarak pandangnya.

"Ku mohon jangan kau perlihatkan tatapan itu. Pulanglah, lupakanlah segalanya." Gumamnya membatin. Langkahnya meragu untuk beranjak. Meninggalkan seorang pria yang kini terisak dalam guyuran hujan, sesosok yang terus menyebut namanya dalam tangisan memilukan. Menjadi melodi perih bersama tangisan sang hujan.

"Ku mohon pulanglah. Jangan kau saksikan apa yang dulu kau lakukan. Jangan kau merasakan apa yang dulu kau berikan kepadaku. Pulanglah, jangan kau saksikan." Gumamnya kembali. Mengucapkan pintanya yang tak tersampaikan.

Flashback

Terik mentari menyilaukan pandangan bahkan pada netra yang terpejam. Bising kendaraan saling bersahutan meramaikan siang yang padat. Hangatnya cuaca memberikan semangat pada ia yang kini berlenggang.

"Pagi Sai. Apa tuan Uchiha Sasuke ada di ruangannya?" Tanya Naruto pada seorang pria yang ia panggil Sai.

"Aahh.. Ada. Memangnya ada apa?" Tanya Sai balik.

"Kalau begitu aku masuk." Jawab Naruto sambil menunjukkan sekotak kue yang ada di tangannya. Menjelaskan akan apa yang dimaksudnya.

"Tunggu, Naruto. Sasuke sedang ada tamu, sebaiknya kau jangan masuk dulu." Ujar Sai menghentikan langkah Naruto. Namun tidak digubris oleh Naruto.

"Tak apa, kue ini juga cukup untuk tamunya." Ujar Naruto dengan senyuman lebarnya yang khas. Langsung bergegas tak memperdulikan Sai yang terus memanggilnya.

"Bencana." Gumam Sai. Gurat takut nampak jelas pada wajahnya.

Naruto bergerak mengendap. Mencoba melangkah dengan tenang, tak ingin mengganggu tamu yang sedang bersama kekasihnya. Ia buka pintu ruangan Sasuke dengan perlahan, menampakkan aktivitas yang berada di dalamnya.

Braghh..

Kue yang dibawa Naruto terjatuh dari genggamannya. Matanya menatap nyalang pada kejadian yang terpampang di hadapannya. Dimana kekasihnya kini sedang mencumbu pria lain, selain dirinya. Seorang pria ramping bersurai panjang dengan wajah yang rupawan. Membuat tubuhnya bergetar hebat menyaksikannya dan udara di sekitarnya seakan mencekiknya. Wajah cerianya berubah menjadi raut akan kekecewaan. Hingga air matanya mengalir bebas membasahi wajahnya.

"Naruto!" Ujar Sasuke terkejut akan kehadiran kekasihnya di kantornya yang sontak melepaskan tautannya pada pria yang dicumbunya.

"Sepertinya, cincinmu hilang. Ini, aku kembalikan cincin yang sama persis dengan cincin yang kau hilangkan." Ujar Naruto sambil menyerahkan cincin yang melingkar di jari manisnya dengan gemetar. Sebuah cincin indah yang seharusnya juga melingkar pada jemari lawan bicaranya.

Naruto menunggu, menunggu akan kata yang keluar dari bibir manis kekasihnya. Namun pria itu terdiam. Membuat Naruto pupus akan harapannya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Melangkah dengan ragu dengan hati penuh rasa harap. Mengharap akan ada sepasang tangan besar yang kan mendekapnya, menahannya atas keputusasaannya.

Naruto menoleh, masih berharap akan inginnya. Namun hatinya mencelos. Hatinya bagaikan tertusuk dan remuk kembali. Tangan yang ia harapkan kan meraihnya kembali, kini terpaut oleh tangan pria lain yang berada di samping kekasihnya. Membuatnya semakin terisak dan sesak mencekik paru-parunya.

"Bosankah kau meraih tangan kasar ini? Kuharap kau tak akan bosan dan melepaskan tangan yang kau genggam kini, Sasuke." Harap Naruto dan pergi meninggalkan tempat itu, mengabaikan Sai yang tak henti memanggilnya.

"Maafkan aku Naruto." Ujar Sai dengan penuh penyesalan.

Flashback end

Naruto melangkah memasuki mobil kekasihnya. Terduduk manis membiarkan sang pengemudi membawa pergi dirinya. Meninggalkan sosok pria yang pernah mengisi masa lalunya, membiarkan pria itu terdiam dalam derasnya guyuran hujan. Pergi menjauh hingga siluet ini menghilang pada pantulan kaca spion mobilnya.

"Apakah sekarang kau merasakan apa yang dulu aku rasakan? Bukankah itu menyakitkan? Gomene Sakuke."

~Nappeun Bam~

Alunan musik klasik melantun indah menghibur Naruto yang kini sedang menunggu. Aroma-aroma lezat pun menggelitik indera penciumnya. Bersama segelas wine ia menyaksikan hiburan yang disajikan. Walau nyatanya pikirannya tak ikut menikmati apa yang terekam oleh matanya. Pikirannya melayang jauh, mengingat akan kejadian sore ini. Di mana ia harus bertemu kembali dengan orang yang seharusnya tidak ia temui.

Sungguh ia tak ingin lagi melihat wajah itu. Bukan karena ia membencinya, bahkan ia tak sanggup untuk membencinya. Pria itu, Sasuke. Sosok yang begitu berarti dalam hidupnya. Sosok yang telah bertahun-tahun menemaninya, memberikan segalanya hanya untuknya. Hingga suatu hari ia harus menerima sebuah kenyataan pahit, bahwa tak hanya dirinya yang menjadi sosok berarti dalam kehidupan Sasuke, kekasihnya.

"Lama menunggu?" Tanya kekasih Naruto, memecah lamunannya.

"Tidak, duduklah." Jawab Naruto sambil mencoba kembali senyuman terbaiknya.

"Pesanlah makanan." Tawar sang kekasih. Naruto pun menerima dan memesan makanan yang sejak tadi sudah dipilihnya saat menunggu. Melanjutkan malamnya dengan sang kekasih. Mengabaikan ponselnya yang sejak tadi berdering.

"Will you marry me?" Tanya sang kekasih sambil menyerahkan sepasang cincin emas putih yang cantik kepada Naruto.

Naruto tercekat mendengarnya. Ia pandangi kotak beludru dengan sepasang cincin di dalamnya. Sepasang cincin yang berbeda namun memiliki maksud yang sama dengan cincin yang dulu pernah melingkar di jari manisnya. Ia tahu ini akan terjadi, namun ia belum siap dengan semua ini. Dengan kejadian sore ini membuat hatinya kembali meragu.

Masih jelas dalam ingatannya. Tatapan mata itu. Menyiratkan akan penyesalan yang begitu dalam, menggambarkan akan kepedihan yang begitu menyakitkan. Dapatkah ia merasa senang? Dapatkah ia merasa bahagia? Sosok yang hingga kini ia cintai, terlihat mengharapkannya. Mengakui akan salahnya. Namun ia harus mengingat kembali akan posisinya. Ia kini tak sendiri lagi. Sosok yang kini berada di hadapannya, telah mengisi kekosongan hatinya, meski tak seutuhnya. Sanggupkah ia mengkhianati pria itu?

Andai Sasuke datang lebih dulu. Andai Sasuke meraih tangannya ketika waktu itu. Andai ia dapat memutar waktu. Ia takkan terjebak oleh dilema yang membuatnya ragu. Apakah ia boleh memilih untuk kembali bersama Sasuke dan mengkhianati kekasihnya? Ataukah ia harus menerima lamaran kekasihnya dan pergi melupakan Sasuke? Sungguh ia masih mencintai Sasuke, sangat. Namun, pria yang kini masih menunggu jawaban akannya adalah pria yang mencintainya seperti dahulu Sasuke mencintai dirinya. Ia tak sanggup untuk memilih.

Naruto masih terdiam. Pandangannya tertunduk memperhatikn layar ponselnya yang masih senantiasa berdering. Haruskah ia mengangkatnya?

"Angaktlah. Aku merima apa pun keputusanmu." Dengan nada lembut pria itu mempersilahkan Naruto mengangkat panggilan pada ponselnya. Memberikan kesempatan pada Naruto untuk meneguhkan pendiriannya.

Dengan sedikit ragu Naruto meninggalkan meja makannya. Memberi jarak untuk privacy dalam panggilannya.

"Moshi? Moshi?.." Naruto terus mengulang kata-katanya, mencoba memanggil sang penelponya. Ia terus memanggil hingga nada panggilan terputus menyambut pendengarannya.

"Apa kau mempermainkanku, eoh?" Tanyanya dengan nada bergetar, yang ia tahu pasti takkan ada jawaban akannya.

Dengan derai air mata ia kembali pada tempat duduknya. Tubuhnya bergetar dalam isakkannya. Perasaannya tak menentu, segala emosinya bercampur menjadi satu. Hingga hanya tangisanlah yang mampu keluar dari bibirnya.

"I do. Bawalah aku bersamamu. Buatlah aku seutuhnya mencintaimu." Jawab Naruto dengan isakkan yang tak lepas dari bibirnya. Membuat pria di hadapannya, merengkuhnya dalam. Menghantarkan perasaan yang begitu besar untuk melindunginya. Memberikan cinta yang begitu tulus akan dirinya.

"Ku mohon bahagialah bersamaku."

END?

.

.

.

.

.

Lima bulan kemudian.

Naruto buka pintu rumahnya. Menampakkan seorang pria baya menghantarkan surat untuk dirinya. Setelah menandatangani tanda terima, pak pos tersebut pun meninggalkan kediaman baru Naruto.

"Thank you, sir."

Naruto lihat nama pengirim surat tersebut. Dari Jepang atas nama Sai. Dengan senyuman bahagia ia buka surat tersebut. Namun senyum itu memudar ketika melihat isi surat tersebut.

Bagaimana keadaanmu di sana? Ku harap kau bahagia bersamanya. Ahh tidak, tapi kau harus bahagia bersamanya. Tak banyak yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin mengatakan apa yang seharusnya aku katakan sejak dulu.

MAAFKAN AKU NARUTO-AH. MAAFKAN AKU YANG TAK BISAMEMBAHAGIAKANMU. MAAFKAN AKU YANG TELAS MEMBUATMU MENANGIS. MAAFKAN AKU YANG TAK LAGI BISAMENDAMPINGIMU. AKU MENCINTAIMU.

Dan yang terakhir, sebuah kata yang tidak pernah kita ucapkan sebelumnya..

"SELAMAT TINGGAL!"

With love, Uchiha Sasuke.

Runtuh sudah semua pertahanannya. Air matanya sudah tak dapat terbendung lagi. Hingga isakkan perih lolos darinya.

"Selamat tinggal." Gumam Naruto dalam tangisnya, sambil memeluk sebuah foto yang tercantum bersama surat tersebut. Sebuah foto yang menampakkan potret teman-temannya yang berada di Jepang. Namun tanpa dirinya dan juga tanpa Sasuke, melainkan bersama sebuah figura yang bertuliskan..

'Rest In Peace, Uchiha Sasuke.'

.

END

Kali ini benar-benar end... hahaha pai pai pai.. hikss..