Chapter 1

Digital World


Part A Start_

Suara khas dari serangga pohon yang bersenandung, terdengar begitu nyaring. Mengiringi datangnya musim panas yang terik. Sinar matahari menyala dengan intensitas tinggi di sekitar kota, hingga menciptakan fatamorgana diatas jalan raya yang terpanggang oleh cahaya panasnya. Liburan musim panas telah berlangsung hampir dua bulan. Dalam beberapa minggu lagi, seluruh anak-anak dan para remaja harus kembali menuju ke bangku sekolah. Tapi, sebelum itu terjadi, ada sebuah tradisi anak-anak dari Okinawa yang paling ditunggu-tunggu pada hari itu, 13 Juni 2019.

Sudah sebulan lebih Takuo menunggunya, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga.

Sesampainya dirumah, ia berdiri selagi menopang badan pada lututnya. Ia begitu letih. Rambut hitam gondrong, yang telah ditata sedemikian rupa, sampai basah kuyup oleh keringat. Maklum saja, dihari yang panas itu, Takuo harus keluar membeli kebutuhan rumah untuk Ibunya yang- menurut bahasa halusnya, kurang bersemangat untuk keluar dari dalam rumah, sepanjang Musim Panas ini. Sesudah melepas sepatunya dibelakang teras, Takuo berjalan masuk menuju ruang tamu. Di sisi kirinya, sang Ibu sedang bersenandung-ria. Kedua tangannya sibuk memijit daging ikan, yang berbalut dengan warna—dan aroma khas—rempah-rempah diatasnya.

"Sudah pulang, Nak ?" sapa Ibunya, melihat anak kesayangannya baru pulang dari supermarket. Membeli kebutuhan memasak.

Sambil memasang muka Masam, Takuo menyimpan kantung plastik yang terisi penuh oleh belanjaan diatas meja makan. "Ini bu, Belanjaannya...", anak itu menggerutu selagi berjalan lesuh menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan diri diatas sofa yang empuk. Menikmati hembusan udara dingin AC yang menerpa wajahnya. "Hari ini benar-benar panas, Bu" protesnya.

Ibunya menoleh sembilan puluh derajat ke sisi kiri, ekor matanya melirik Takuo yang sedang melepas lelah diatas sofa. Alisnya mengerut. Kesal mendengar keluhan tersebut. "Jangan mengeluh, kamu kan satu-satunya anak laki-laki di rumah ini." Timpalnya lagi. Nadanya hingga naik satu oktaf.

Keluarganya, Hirayuki, hanyalah keluarga biasa. Tradisi di rumah ini adalah 'Utamakan perintah Ibu'. Ya, selama musim panas berlangsung, Takuo telah menjadi budak dari seorang ratu firaun. Semenjak ayahnya—yang sangat sibuk—selalu bekerja, dan jarang sekali pulang, inilah yang terjadi selama itu. Di depan ayah, ibunya selalu bersikap manis. Tetapi, setelah pergi, Ibunya berubah menjadi anjing ganas berkepala tiga yang menjaga pintu neraka- Cerberus. Jika saja, Takuo tidak mengindahkan perintah ibunya, kupingnya saat ini pasti sudah merah dijewer oleh Ibu. Mereka tinggal pada sebuah apartemen kecil murahan, yang berada di sebuah pulau kecil—jika dilihat dari Google Map—di sebelah selatan pulau utama Jepang, Okinawa.

Benar-benar membosankan, dan sedikit menyebalkan ketika ia harus mendengar alasan sama setiap kali ia melempar keluhan pada Ibunya. Bahkan hari ini pun sama. "Iya-iya..." Takuo hanya menurut, tidak ingin membuat konflik berkepanjangan yang dapat membuat perang dunia keempat meledak di rumahnya.

Sebuah suara kecil berbunyi dengan nada menyebalkan. Memaksanya bangun dari 'surga kecil' tempat dia bersantai. Alarm pada jam tangannya tidak ada henti-hentinya mengulang suara seperti decitan yang memekakkan telinga. Anak itu mengangkat lengan kanannya tinggi-tinggi, mendapati waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Seperti yang ditunjukkan pada Jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Matanya membelalak, ia langsung terbangun dari sofa. "Ibu, aku akan makan siang nanti saja..." Takuo beranjak dari sofa dan berjalan menuju sebuah pintu. "Aku sedang ada urusan."

Setelah mencuci tangannya yang berlepotan oleh bumbu, Ibu menyusulnya ke ruang tamu, "Urusan apa ?" Ia Berkacak pinggang, membasahi apron merahnya dengan tangan yang masih basah oleh sisa air yang menempel pada tangannya sehabis mencuci tangan.

Langkahannya terhenti. "Aku ingin pergi ke Dunia Digital" Takuo menjawab. Badannya masih belum berbalik menghadap sang Ibu.

Ibu kembali memutar badannya, menuju ke dapur untuk mengeluarkan seluruh hasil belanjaan pada kantung plastik putih yang penuh oleh bahan-bahan memasak. "Oh. Ya sudah. Sampaikan salam Ibu pada Rokku."

"Baik bu", jawab anak itu singkat.

Fiuuh...Selamaaat. Gumamnya dalam hati, meneguk liur yang tertahan di tengah-tengah tenggorokan karena gugup.

Takuo kembali berjalan menuju ke pintu itu, pintu cokelat muda yang bersebelahan langsung dengan ruang tamu. Segera tangannya memutar gagang pintu, lalu mendorong perlahan pintu tersebut hingga terbuka lebar. Pemandangan biasa kamarnya menarik perhatian dari kedua mata birunya. Perlahan ia berjalan masuk, lalu menelusuri kamar tersebut, mondar-mandir mencari sebuah benda.

Tidak ada yang aneh pada kamar itu. Kasur, tas, lemari, serta sebuah laptop, diletakkan diatas meja belajar, bersama dengan buku-buku tulis yang menumpuk di sebelahnya. Pemandangan yang biasa setiap kali Takuo memasuki kamar. Mungkin ini terlihat sedikit mewah, jika dibandingkan dengan kamar-kamar milik anak orang lain, yang tidak memiliki Laptop. Namun, ini semua hanyalah ungkapan kasih sayang dari ayahnya yang—dari dulu—selalu baik padanya. Sebuah bentuk kasih sayang—dan juga permintaan maaf—karena jarang sekali pulang menemuinya. Terakhir, ayahnya pulang pada tanggal 12 Juni 2017. hampir 2 tahun ayahnya berada di Tokyo, bekerja demi menghidupi keluarga kecil ini.

Takuo menarik laci-laci pada mejanya hingga terbuka lebar, dan mengacak-acak kertas yang ada di dalamnya. Matanya menangkap sesuatu. Sebuah persegi panjang pipih dan kecil—seukurang tangan—yang mencolok. Sebuah Smartphone hitam. Ia mengambilnya, dan menyelipkan benda tersebut di dalam saku celananya. Selanjutnya, Takuo mengambil tas hitam, menggantung di sebelah kursi kayu di dekat meja. Dan sebuah kartu plastik putih, dengan garis hitam tebal yang berada pada salah satu sisinya, disandingkan bersama dengan tulisan hieroglyph asing pada sisi lainnya.

Selesai mengumpulkan barangnya, Takuo beranjak menuju laptop yang berada diatas meja belajar. Ia menarik Smartphone dari dalam saku celananya, dan mendekatkan benda tersebut ke depan layar Laptop. Kedua barang tersebut langsung menyala dan bereaksi, menunjukkan dua tampilan berbeda pada masing-masing monitor.

Monitor Smartphonenya menunjukkan sebuah gambar lingkaran besar, yang memiliki permukaan bergerigi di seluruh pinggiran luarnya. Didalam lingkaran tersebut, terdapat lingkaran dengan bentuk yang sama. Ukurannya semakin mengecil di setiap lingkarannya. Terdapat tiga buah lingkaran. lingkaran paling luar berwarna kuning, lalu lingkaran selanjutnya berwarna biru, dan yang terakhir berwarna hitam. Tepat ditengahnya, terdapat sebuah cincin kecil, terdiri dari tulisan-tulisan Hieroglyph yang sama dengan yang ada di kartu plastik milik Takuo. Pada monitor Laptop, terdapat sebuah lingkaran bundar besar. Ditengahnya, terdapat sebuah garis tipis panjang yang melintang secara Horizontal. Lingkaran tersebut terlihat seperti sebuah pintu.

Takuo menutup matanya, dan sebuah cahaya terang—seperti lampu sorot—keluar dari monitor Laptop. Selanjutnya, Takuo menghilang dari dalam kamarnya. Secara tekhnis, ia tidak sepenuhnya hilang. Ia kembali muncul pada sebuah bukit, di suatu tempat. Ia membuka mata, dan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan membentang luas di depan.

Takuo mengedarkan pandangannya menuju hamparan padang rumput luas, yang dapat dilihat hingga ke ujung cakrawala. Hutan-hutan rindang, menyebar luas di seluruh padang rumput, terbelah-belah oleh danau luas yang dihubungkan oleh sungai delta, serta hamparan bunga-bunga cantik dengan warna yang beragam. Udara beraroma rerumputan tercium begitu kental. Segar. Bahkan, setiap kali Ia menghirup udara, sensasi segar dan dingin dari udara lembab disekitarnya masih dapat terasa. Langit biru membentang luas diatas atmosfer, bersama dengan matahari beserta awan-awan tipis seputih kapas, mengambang-ambang mengikuti arah mata angin.

Jauh didepannya, berdiri sebuah menara pencakar langit. Begitu tinggi. Menara tersebut terlihat begitu kecil dari bukit tempatnya berada. Dikelilingi oleh bangunan-bangunan perkotaan, tinggi, berdiri disekitar menara, membentuk lingkaran besar. Kota tersebut dilindungi oleh tembok-tembok tinggi yang berputar mengelilingi kota. Diatas menara tinggi tersebut, terdapat sebuah kalimat besar yang tenggelam, seakan berada di dalam air. Seperti hologram. Kalimat tersebut bertuliskan 'Program Town'.

Program Town, salah satu dari sekian banyak kota yang ada di Dunia Digital, dan merupakan titik temu bagi seluruh anak-anak terpilih yang berada di Okinawa.

Terdapat lima area di Dunia Digital, Field Area, Memmorial Area, Dark Area, Deserted Area, serta Island Area. Island Area berada tepat diantara keempat area lain yang mengelilinginya. Masing-masing area dipisahkan oleh sebuah pembatas tak kasat mata yang mengitari perbatasan masing-masing area. Pembatas tersebut tak dapat dilewati, dan juga dilompati, bahkan dari ketingginan hingga sepuluh ribu meter sekalipun. Program Town terletak di Field Area, yang terkenal dengan hamparan padang rumputnya yang begitu luas.

Dunia Digital, dihuni oleh makhluk misterius bernama Digimon. Terlahir dari kumpulan data Independen yang bersatu membentuk sebuah AI hidup yang dapat berpikir, maupun Berperasaan. Lebih dari Ribuan jenis Digimon menghuni Dunia Digital, mereka terbagi atas dua kategori, Jahat dan Baik. Seperti yang dapat ditebak, kategori Baik diperuntukkan bagi digimon-digimon bersahabat, biasanya mereka menghuni kota-kota di seluruh Dunia Digital. Sementara, kategori Jahat merupakan kebalikannya, diisi oleh digimon-digimon berpikiran keji yang mengancam ketenangan yang ada di Dunia Digital.

Tiga tahun yang lalu, para digimon datang menuju Dunia manusia atas alasan yang masih belum jelas. Mereka memilih anak-anak manusia sebagai tuannya, mengawali sejarah terlahirnya para anak-anak terpilih—dengan umur yang paling tua berkisar antara sembilan hingga enam belas tahun—pada tahun 2019. Hanya kurang dari dua bulan saja, seluruh anak-anak di dunia memiliki digimon. Dulu, para orang dewasa akan tutup mulut setelah mengetahui kemunculan dari para digimon. Namun, kini, digimon bukan lagi merupakan suatu rahasia. Pintu akses menuju Dunia Digital terbuka. Dengan sekejap, dunia digital dipenuhi oleh anak-anak yang berdatangan ke dunia misterius ini—entah atas alasan berlibur, ataupun sekedar menghabiskan waktu disini.

Seperti yang terlihat. Begitu Takuo menelusuri sekitar, seluruh padang rumput telah dipenuhi oleh anak-anak manusia, serta berbagai jenis digimon yang beraktivitas di sekitar padang, terutama di dekat kota. Salah satunya yang paling dekat, adalah Leomon. Digimon tersebut berjalan menanjaki bukit tempat Takuo berdiri. Keduan tangannya sibuk menggendong sebuah keranjang besar, terisi penuh oleh apel merah matang dan masih segar.

Takuo melambaikan tangannya, ia memberi senyuman terbaiknya kepada digimon tersebut. "Apa kabar, Leomon ?", Takuo mendekati posisi Leomon.

"Baik. Sudah lama sekali kau tidak mengunjungi Dunia Digital.", ujar Leomon dengan senyuman.

Takuo menggaruk kepalanya selagi tersenyum kecut, "Tugas sekolah sedang menumpuk, jadi aku harus mengerjakan PR dulu sebelum pergi". Takuo mendesah di akhir kalimatnya, menunduk pasrah. "Kalau tidak, pasti Ibu akan mengamuk di rumah." Ia membayangkan gambaran dari seekor ular berkepala tiga, mendesis kearahnya dengan mulut bertaring menganga yang siap menerkam, setiap kali menggambarkan keganasan sang Ibu dirumah. Wajahnya memucat.

Leomon tertawa keras, mendengar Takuo mengeluh tentang sang ibu. Ia kembali berjalan mendaki bukit, sambil melambai dari kejauhan. "Aku harus pergi, terima kasih atas ceritanya!" seru Leomon.

Takuo menggembungkan pipi, kesal. Tidak dapat dipercaya, cerita hidupnya dianggap lelucon oleh digimon lain.


Sekitar dua puluh menit berjalan, akhirnya Takuo tiba di depan gerbang raksasa, yang memisahkan antara padang dan kota yang terletak di balik tembok setinggi kurang lebih 20 meter. Sepasang Knightmon terlihat sedang berdiri di luar gerbang, berjaga selagi menatap tajam anak-anak manusia, serta para digimon yang datang dan pergi. Takuo tidak merasa nyaman, ketika salah satu penjaga melihatnya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. Takuo berjalan terus, mengabaikan tatapan Knightmon.

Kedua kakinya melangkah masuk menuju ke dalam kota, matanya menerawang gedung-gedung dengan beragam ukuran, berbaris rapih di sisi jalan utama yang lebar. Ia disambut oleh beragam keramaian kota, mulai dari transaksi jual beli antara sesama digimon, hingga percakapan bising para digimon mewarnai kota dengan tawaan di seluruh sudut kota. Beberapa digimon terlihat melompat-lompat dari atap satu menuju atap lainnya, bermain kejar-kejaran dengan digimon lain. Walau kota tersebut didominasi oleh para digimon, tetap saja, masih terlihat anak-anak manusia didalam keramaian.

Matanya melihat sekitar, mondar-mandir dari kanan ke kiri. Ia mencari sesosok digimon. Dinosaurus dengan badan berpola persegi, terdiri dari beragam warna yang tercampur antara biru dengan putih. Memakai sebuah rompi dan helm militer, serta memengang sebuah senapan hitam.

Seekor digimon dengan ciri yang sama keluar dari kerumunan. Ia menyelip diantara celah sempit kerumunan, hingga terjatuh karena tersandung. Takuo mengenali digimon itu. Ia cepat-cepat berjalan kearahnya, membungkuk dan mengulurkan tangan kanannya di depan wajah besar digimon itu. "Sudah lama ya, Conan"

Conan mendongkak keatas, mendapati seorang anak lelaki—yang ia kenal semenjak dua tahun yang lalu—berdiri didepannya. Digimon tersebut menarik tangannya, dan berdiri kembali. "Takuo!" serunya. Melompat kegirangan. Keduanya terjatuh diatas jalan, didepan kerumunan tanpa menghiraukan tatapan yang diberikan oleh orang-orang serta digimon lain. Mereka berdua tertawa-tawa bahagia.

Conan merupakan nama panggilan, bagi digimon berpenampilan personil militer itu. Nama aslinya adalah Commandramon. Sejak pertemuan terakhirnya—pada tanggal 4 Januari, Takuo harus belajar giat demi lulus ujian kenaikan kelas yang dilaksanakan pada tanggal 10 April nanti. Tepat setelahnya, liburan musim panas dimulai. Tugas-tugas dari sekolah mulai dibagikan, dan sepanjang ia menghabiskan setengah jatah liburan musim panasnya, ia harus berdiam diri di rumah, mengerjakan seluruh tugas tersebut. Sementara ia bekerja tanpa upah di rumah, menjadi kurir antar-jalan untuk sang ibu. Namun, bukan hanya itu tujuannya berdiam diri di rumah.

Keduanya berjalan mengikuti kerumunan kecil, menuju sebuah menara pencakar langit yang berada di pusat kota.

Takuo menyipikan matanya. Bola matanya menatap serius parameter Conan yang tertera diatas monitor Smartphonenya. Ia mengalami peningkatan signifikan. Hampir seluruh parameternya meningkat cukup tajam. "Parametermu naik cukup pesat.", Ia menatap Conan yang berkacak pinggang di sebelahnya.

"Tentu," Conan membusungkan dadanya. Bangga. "Aku akan memastikan. Aku tidak akan kalah pada turnamen musim panas kali ini."

Turnamen musim panas. Merupakan satu-satunya pertandingan musiman, Free-for-all, yang dilaksanakan di menara paling tinggi, dan merupakan pusat dari kota Program Town- Tournament Tower. Sebenarnya, Turnamen musim panas bukanlah sebuah acara penting, hanya pertandingan biasa untuk mengukur kekuatan dari anak-anak terpilih Okinawa yang dilaksanakan setahun sekali. Namun, kekalahan yang mereka alami selama 2 kali itulah yang menjadi alasan keduanya ikut serta lagi dalam turnamen tahun ini.

Takuo dan Conan menghentikan langkahan kakinya. Mereka telah sampai pada tujuan. Disana, menara pencakar langit di pusat kota berdiri. Begitu lebar dan tinggi. Dinding menara terbuat dari baja, membentuk pahatan hexagonal di sekitar dinding setebal satu meter itu. Menara tersebut berdiri diatas jaringan sirkuit yang berkedip-kedip dengan cahaya yang bercampuran antara merah, putih, dan kuning. Tertutup oleh lautan kabel hitam yang menjadi pusat dari seluruh saluran listrik yang ada di Program Town. Asal sumber energi listriknya masih belum diketahui. Di sekelilingnya, terdapat banyak kabel besar yang merambat—seperti tanaman—jauh keatas menara. Salah satu kabelnya menghubungkan sebuah monitor besar yang menampilkan daftar entri dari setiap peserta Turnamen musim panas kali ini- salah satunya adalah nama Takuo dan digimonnya, Conan. Terletak paling bawah diantara sekian banyak daftar nama anak-anak lain yang berjajar di atasnya. Diurutkan secara acak. Pintu masuk menara berupa sebuah Gerbang besar yang, lagi, dijaga oleh Knightmon yang telah berdiri siaga di kedua sisi gerbang. Karena terpisah oleh lautan kabel, gerbang masuk dan jalan utama dihubungkan oleh jembatan kaca setebal satu meter, mengantisipasi berat dari digimon yang beragam. Terlihat banyak anak-anak, dan digimon memasuki gerbang tersebut.

Di depannya, berdiri seorang anak berambut coklat pendek, dengan mata serasi. Berkacak pinggang selagi mengunyah permen karet di dalam mulut. "Apa kabar Takuo-kun? Conan?", ia melambaikan tangannya.

Takuo dan Conan mempercepat langkah kakinya. "Baik. Senang bertemu denganmu, Ryuto-kun."

Sakaguchi Ryuto. Teman terdekatnya—contohnya Takuo—memanggilnya dengan nama Ryuto. Saat kecil, Ryuto biasa bermain di rumah Takuo. Orang tuanya pun akrab dengan Keluarga Hirayuki—keluarga Takuo. Mereka sempat terpisah saat memasuki jenjang SD, dan kembali bertemu ketika menduduki SMA kelas satu. Baru saja mereka bertemu enam bulan yang lalu, keduanya sudah seakrab dahulu. Ia bersama dengan Falcomon, atau biasa dipanggil dengan nama panggilannya. Saturna—diambil dari nama planet Saturnus.

"Apa kau ingin ikut Turnamen Musim panas lagi?", ucapnya. Ryuto mendesah bosan diakhir kata-katanya. Bagaimana tidak, sudah dua kali mereka mengikuti turnamen ini, dengan persiapan matang setiap kali mereka ikut serta. Namun tak ada hasil juga. Ia benar-benar malas melihatnya kalah di dalam Tournament Tower, menjadi bahan ejekan dari peserta lain. "Masih belum kapok juga?"

Takuo mendecak kesal, melihat temannya melempar kata-kata yang menurunkan semangat. Padahal, ia begitu yakin—dalam hatinya—bahwa kali ini, mereka pasti akan menang. "Kali ini, kami akan menang—mungkin"

Ryuto mengabaikan kata-katanya, dan memilih untuk langsung berjalan menuju Tournament Tower. Ia mengkibas-kibaskan tangannya, seakan mencoba untuk mengatakan, Terserah kau saja.

Part A End_


A/N :

Jangan sungkan untuk memberi saran & koreksi untuk bagian2 yang dirasa kurang. Criticsm Accepted :)

sejak update Chapter 1 B, saya merubah nama karakternya (Asalnya Kazawa, jadi Takou). alasannya, kurang enak dibaca + gak cocok sama nama depan dari seluruh karakter utama digimon yang berawalan "Ta". intinya sih, cuma mau mencocokan diri aja.

Part B Coming Soon