Chapter 1
Digital World
Part B Start_
Conan berdiri layu, terlihat tenaganya telah mencapai batas. Tubuhnya penuh luka goresan dan tanah-tanah yang menempel. Sekali lagi, kemenangan untuk Takuo dan Digimonnya. Musuhnya, Palmon, tergeletak tak berdaya menghadap ke atas, dalam keadaan pingsan. Anak terpilih yang mengurus digimon tersebut, berakhir jatuh diatas kedua tangan dan lututnya. Wajahnya menghadap permukaan tanah, yang bernodakan bekas hitam dari ledakan. Pertarungan itu berlangsung cukup sengit, terlihat dari bekas goresan disekitar tembok pelindung arena pertandingan. Anak tersebut meneteskan air dari pelupuk matanya, terseludupi oleh rambut ikal berwarna coklat yang menutup wajah kusamnya. Anak itu tidak ingin kalah—tidak hari ini.
Mau bagaimana lagi, Takuo-pun tidak ingin lagi merasakan kekalahan yang ia dan Conan alami selama dua kali berturut-turut pada turnamen yang sama. Ia mengangkat tangannya yang terkepal tinggi-tinggi. Pertanda Menang.
Sorakan penonton mengedar ke seluruh penjuru arena. Sorak-sorai bahagia dari para penonton yang kagum akan prestasinya. Ryuto tersenyum puas, diantara para penonton yang berdiri, bertepuk tangan. Ia melihat wajah Takuo—berbalut oleh noda tanah dan sayatan di pipi kanan, tersenyum lebar bahagia, disela-sela kesibukannya mengumpulkan kembali tenaga yang terkuras habis saat pertarungan sebelumnya. Akhirnya, Takuo mendapatkan kemenangan yang telah lama ia incar selama ini.
Arena turnamen megah, hampir seluas lapangan sepak bola. Lampu sorot menggantung diatas langit-langit yang terbuat dari baja. Tempat duduk yang berjumlah ribuan, berbaris rapih mengelilingi lapangan bundar bertembok kaca anti-peluru. Di setiap sisi dalam tembok, terpasang stiker emblem bergambarkan telur digimon berpola variasi. Lapangannya beralaskan tanah. Di kedua sisi arena yang berlawanan, terdapat sebuah gerbang besar berjeruji, tempat masuk para peserta turnamen.
Anak berambut cokelat itu menggendong Palmon-nya, membawanya keluar dari arena. Masih Sempat-sempatnya ia melempar senyuman pada Takuo, seakan mengatakan, semoga berhasil. Anak itu lantas pergi. Seorang pria mengenakan pakaian formal berkelas, memasuki arena tergesa-gesa. Nafasnya tersengal-sengal karena berlari. Ia membawa pengeras suara pada tangan kanannya.
"Berikan tepuk tangan kalian yang meriah untuk Takuo dan digimonnya- Conan !", sorak sorai penonton semakin riuh terdengar, terprovokasi oleh sang pembawa acara yang ikut menyemangati. "Akhirnya, sekarang kita telah mencapai perempat final. Siapakah yang akan memenangkan turnamen musim panas kali ini?!"
Sementara Takuo menyembuhkan Conan, pembawa acara itu sudah bersiap menyambut kedatangan sesuatu. Tangan kirinya terayun ke salah satu gerbang yang berseberangan dengan Takuo. Ia mempersilahkan penantang selanjutnya memasuki arena. "Beri tepuk tangan yang meriah untuk Akane, dan digimonnya- Pawrin!"
Pintu gerbang diseberang mulai terbuka, sorakan penonton semakin menggila. Terlihat sosok seorang anak perempuan, berjalan dengan tenang masuk ke dalam arena, bersama seekor digimon berwujud anak singa. Wajahnya datar, namun terlihat serius.
Gadis itu manis. Rambut blonde yang terurai panjang hingga batas pinggang, dihiasi jepit merah polos pada keningnya. Matanya serasi, berpadu dengan bibir tipis yang tersenyum manis. Seluruh penonton dibuat meleleh olehnya—termasuk Takuo. "Semoga beruntung", ucapnya menyemangati.
Takuo hanya terdiam. Pipinya terlihat begitu merah—tersipu malu.
Digimonnya, Pawrin, adalah seekor digimon bernama asli Leormon. Digimon kecil berwujud anak singa yang memakai sebuah kalung emas dengan permata hijau yang menggantung. Rambut pada kepalanya merah, disisir berdiri keatas. Ia berdiri di hadapan Akane. Tangannya menggaruk-garuk tanah, mengasah kuku tajam pada ujung jarinya.
Peluit pertandingan berbunyi. Tanpa disadari pertarungan telah dimulai.
Mata Akane menajam, diikuti oleh gerakan spontan yang dilakukan Pawrin. Digimon tersebut berlari begitu kencang mengitari arena, menatap Conan yang berdiri tidak berdaya mengikuti kecepatannya—bahkan dengan matanya. Pawrin melompat penuh gaya, berputar tiga ratus enam puluh derajat ke depan—selagi mengudara—ketika menarik keluar kuku dari dalam sela-sela jarinya. Beruntung, reflek Conan bereaksi, memperingati ketika serangan datang. Ia melompat, jauh dari titik serangan Pawrin. Asap menggembul keluar ketika Pawrin menghantam keras tanah.
"Digimon itu lumayan juga", puji Pawrin di tengah pertarungan.
Conan mengarahkan senapan hitamnya pada Pawrin, yang tersenyum penuh kebanggaan. Conan mengetatkan rahang. Jari besarnya telah berada diatas pelatuk senapan, siap menembak. Ia berniat membalas balik serangan tadi.
Takuo hanya terdiam di sudut arena, memperhatikan. Pandangannya melompat-lompat diantara Akane dan Pawrin, yang menunjukkan senyum penuh percaya diri.
Pawrin kembali bergerak, berputar searah jarum jam. Kaget, Conan langsung menarik pelatuk senapannya. Peluru menyambar beruntun, keluar dari dalam selongsong yang mengeluarkan api ledakan kecil, hampir mengenai Pawrin yang bergerak begitu cepat. Melihat ada celah—Pawrin berbelok tajam, ia langsung bergerak menuju Conan diantara rentetan peluru yang melewatinya. Kuku tajamnya berayun cepat, melucuti senapan Conan yang terhempas beberapa meter jauhnya. Pawrin berdiri dengan kaki belakangnya, sementara kaki depannya mencakar, mengikuti Conan yang bergerak menghindar tidak berdaya.
Belum menyerah sampai disitu, Conan mengambil Granat dari baju pelindungnya, menarik pengaman berupa kawat kecil yang berada diatas benda tersebut. Sementara menunggu Time Delay dari granatnya habis, ia mengulur waktu dengan terus menghindari cakaran Pawrin yang tidak ada hentinya.
Hitung mundur dimulai.
Tiga ...
Dua ...
Sisa satu detik lagi. Conan melompat mundur tergesa-gesa. Granatnya dijatuhkan, dan hitungan terakhir dilakukan.
Satu ...
Ledakan terjadi seketika, suara kerasnya menyambar bagai petir. Kilatan cahaya muncul sekejap, bersama dengan hancurnya tanah yang ada disekitar, menjadi hitam dan terhempas ke seluruh arah.
"-Hebat.", Komentar Pawrin. Tanpa sepengetahuan Conan, Pawrin menghindari serangannya dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Akane.
Akane mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Monitornya menunjukkan gambar statis keruh, bertuliskan sesuatu tertulis diatasnya. 'DIGIVOLVE'. Mata Takuo membelalak, saat menyadari isi tulisan pada ponselnya Akane. Pertanda buruk. Para penonton bersorak seketika, menandakan keseruan dari pertempuran ini baru saja dimulai.
Tubuh Pawrin terselimuti oleh mantel putih bercahaya, menutup proses evolusi di dalam cangkang telur raksasa yang terbentuk dari kumpulan data yang berkumpul, saling menempel. Ukurannya makin membesar tiap detiknya. Kemudian, telur terurai menjadi kepingan kecil, dimulai dari ujung atas hingga dasarnya. Keluarlah wujud seekor digimon bertubuh singa, berekor dua. Pada telinganya terdapat sepasang anting, berukuran besar dan lebih mirip gelang besi. Digimon itu bernama Liamon.
Digivolve, adalah sebuah peristiwa dimana seekor digimon berevolusi satu tingkat, menuju tingkatan selanjutnya. Merubah bentuk, serta meningkatkan kekuatan yang sebelumnya dibatasi karena level rendah dari tubuh digimon yang tidak dapat menyimpan kekuatan besar secara fisik. Proses ini membutuhkan sebuah alat pemicu, bernama Digivice. Generasi sebelumnya menggunakan Digivice khusus dengan beragam warna dan bentuk, kegunaan serta cara pakainya pun berbeda-beda. Anak-anak terpilih pada zaman ini hanya membutuhkan ponsel mereka sebagai alatnya, dan sebuah aplikasi bernama 'Digitize', untuk melakukan evolusi pada digimonnya.
Pawrin yang berubah wujud menggeram ganas, memamerkan gigi tajam pada taringnya yang panjang. Sekali lagi, kakinya menggaruk tanah, mengasah kukunya—yang kali ini jauh lebih besar—hingga tajam. Mental Conan terjatuh melihatnya, sekilas ia menengok Takuo. Berdiri di sudut arena, Anak itu telah bersiap mengambil Ponsel dari saku celananya. Conan menggeleng kepala, pertanda, Jangan.
"Kenapa kamu tidak berevolusi?", Akane memandangi Takuo yang memalingkan wajahnya. "Kalau begini terus, kamu bisa kalah."
Conan bersikeras melawannya. Ia menghujani Pawrin dengan peluru, tanpa membidik terlebih dahulu. Beberapa dari sekian banyak rentetan peluru terlihat memantul dari tubuh Pawrin yang tidak bergerak sedikit-pun. Kecewa, Akane mendesah pelan. Bersiap untuk mengakhiri pertarungan yang semakin membosankan ini. "Pawrin, Thunder of King.", ucapnya lambat. Suaranya terdengar bosan.
Pawrin memusatkan seluruh energi di sekitar Bulu tengkuk pada lehernya, merubah energi tersebut menjadi listrik bertegangan tinggi. Kilatan cahaya muncul seketika sebuah tombak petir menyambar Conan. Cahayanya menusuk mata, seluruh arena dibuat buta olehnya.
Tampaknya, lobby Tournament Tower terlihat lebih kosong dari sebelumnya. Orang-orang sudah tidak lagi berada di lobby, mereka telah memadati kursi penonton untuk melihat final turnamen secara langsung.
Takuo dan Ryuto duduk pada sebuah kursi panjang yang menyatu, menikmati sekaleng minuman dingin dari mesin penjual minuman di sudut ruangan lobby yang tampak sepi. Saturna terlihat mengutak-atik salah satu mesin minuman yang telah menelan koinnya, namun tidak segera mengeluarkan minuman. Takuo meneguk air berperisa jeruk itu. Segar. Ia melepas nafas dengan lega. Pertarungannya yang sengit menuju babak perempat final membuat tenggorokannya kering, walau perjalanannya harus terhenti pada babak semi-final—kalah oleh seorang anak terpilih bernama Akane. Ryuto menepuk pundaknya, wajahnya kelihatan cemas. Ia mengangkat jari telunjuknya, dan menjatuhkannya pada Conan, yang terlihat menyendiri di pojok kursi paling kanan. Sepertinya Conan begitu kecewa telah kalah.
"Apa tidak apa-apa?" Ryuto bertanya, mencemaskan Conan.
Takuo mengangkat bahu sekilas, nampaknya ia juga kebingungan. "Mau bagaimana lagi, kalah ya kalah." jelas Takuo dingin. Matanya menatap kosong lantai. Sepertinya, bukan hanya Conan saja yang kecewa.
Beberapa saat kemudian, Conan berjalan kearahnya. Alisnya menekuk keluar, pertanda khawatir. Ia menyesali perbuatannya di arena tadi, terlihat dari bagaimana badannya membungkuk serendah mungkin. Matanya memilih untuk bersembunyi dibalik helm. "-Maaf.", kata itu keluar begitu saja, dengan nada yang berat.
Takuo tersenyum, telapak tangannya mengusap wajah besar Conan. "Tidak apa-apa, masih ada tahun depan.", ujarnya enteng. Ia membenahi helm Conan yang melorot kedepan, hingga matanya mulai terlihat. Berkaca-kaca.
Keduanya tersenyum bahagia. Sementara itu, Ryuto mengalihkan pandangan menuju Saturnya yang—dari tadi—masih sibuk menggonggong di depan mesin minuman, meminta kembali koinnya dari dalam mulut mesin yang terdiam dingin, tidak peduli. Wajahya melorot, melihat saturna dengan pandangan yang seakan memberi tahu, Sudahlah, relakan saja.
Mereka keluar tidak lama kemudian, hanya untuk mendapati langit berubah warna—merah cerah seperti darah. Awan benar-benar hitam pekat, berpusar mengelilingi suatu titik diatas menara Tournament Tower. Garis-garis tipis, merambat berkelok-kelok diatas udara bersama dengan munculnya sebuah lubang hitam besar yang muncul entah dari mana. Tepat diatas menara.
Sosok digimon besar muncul, turun perlahan dari dalam lubang hitam. Ia memakai Baju zirah putih, begitu mengkilap, layaknya seorang ksatria. Ia memegang sebuah tameng raksasa—seukuran dengan badannya, pada tangan kirinya. Tangan kanannya memegangi sebuah Kepala tombak besar nan panjang, yang terlihat menyatu dengan tangannya. Gallantmon—salah satu dari tiga belas anggota Royal Knight, datang ke Program Town dengan raut wajah yang tidak menyenangkan. Tidak butuh waktu lama bagi para digimon dan anak-anak terpilih lain untuk menyadari kedatangan Gallantmon. Mereka berhamburan keluar dari gerbang masuk menara, bersama dengan para digimon yang membuntuti dari belakang. Bahkan, Knightmon yang patuh dan hanya peduli menjaga gerbang sekali pun, tertarik untuk melihat kejadian yang langka ini.
Gallantmon berdiri diatas puncak runcing menara, menatap para anak-anak manusia yang berukuran seperti semut. "Dengar ini, wahai anak-anak terpilih Okinawa-", serunya dari atas menara. Suaranya merambat ke seluruh penjuru kota, hingga semua makhluk hidup disana mulai memperhatikannya. "Atas perintah dari Yggdrasil, Dunia Digital kini akan disegel. Mulai detik ini, kalian harus melepaskan seluruh digimon peliharaan kalian, dan pergi meninggalkan Dunia Digital Selamanya."
Bukannya semua orang menuruti perintahnya, seruannya hanya menuai protes dari para anak manusia. Tidak mungkin mereka mau melepaskan partnernya begitu saja. Terlebih, kalimat 'peliharaan' yang keluar dari mulutnya terdengar sangat menghina. Seluruh manusia dan Digimon ribut mencibiri kalimat-kalimatnya. Hingga salah seorang maju, menentangnya secara langsung di depan makhluk-makhluk lain. Kakinya menyeret seekor digimon yang berpegangan pada celananya, berusaha untuk menghentikan anak tersebut.
"Kenapa kami harus menuruti kata-katamu?", anak itu menyombongkan dirinya. "Beri kami alasan yang kuat untuk pergi meninggalkan Dunia Digital!"
Matanya menangkap kejadian tersebut, hingga kali ini Gallantmon harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Digimon itu mengambang turun dari atas menara hingga kedua kakinya menyentuh permukaan tanah yang bergetar karena beratnya. Ia berjalan menuju anak tersebut, perlahan dan tenang. Ia membidik tepat di dada anak tersebut dengan ujung tajam tombaknya, hingga anak tersebut tidak dapat berkata apa pun. "Saat ini, kalian tidak lebih dari sebuah penyakit yang mengancam keberlangsungan Dunia Digital.", matanya berubah merah, menatap tajam anak manusia yang menentangnya—yang saat ini gemetar ketakutan. "-Aku tidak akan segan-segan membunuh manusia yang menentang perintah Yggdrasil."
Takuo berdiri kaget, bersama Conan yang memeluk erat kakinya yang gemetar melihat kejadian tersebut. Bukan hanya dia saja, namun seisi kota juga begitu ketakutan. Salah seorang anak manusia mengambil ponselnya, dan mulai merekam kejadian ini.
"Jika kalian mencoba untuk melawan, aku dan para anggota Royal knight lain tidak akan takut untuk menghancurkan Dunia Manusia", kali ini, ancamannya terdengar lebih berat dari sebelumnya. "Jika aku melihat ada digimon berada di pihak manusia, aku akan segera memusnahkannya.", tatapnya tajam, melihat ke seluruh kerumunan makhluk yang bercampur antara manusia dan Digimon.
Tidak ada satu pun makhluk disana yang berani untuk membuka mulutnya—terlebih setelah mendengar ancaman yang diberikan oleh Gallantmon, yang secara tiba-tiba datang menuju kota ini hanya untuk menyampaikan sebuah ancaman kepada para anak-anak terpilih yang berada disana. Anak-anak terpilih menutup mulut mereka rapat-rapat, melihat kekejaman yang dilakukan oleh Royal Knight—yang seharusnya menjaga perdamaian Dunia Digital—saat ini, mengancam anak-anak manusia, dan bahkan para digimon.
Galantmon kembali mengambang, menuju puncak menara. Dari sana ia mulai mengarahkan tameng raksasanya hingga persisi menuju dasar menara. Lingkaran bercahaya muncul seketika saat sebuah petir menyambar dari tamengnya yang mengeluarkan laser putih besar. Diikuti dengan suara keras yang bergemuruh bersamaan, memotong fondasi bawah menara hingga Tournament Tower runtuh. Semua orang berteriak panik, menjauh dari sekitar menara yang dapat menimpa tubuh mereka dengan puing-puing reruntuhan yang berterbangan. Serangannya juga mengenai sirkuit yang berada tepat di bawah menara, mematikan seluruh jaringan listrik yang berada di kota. Membuat kota gelap gulita. "Ini hanyalah peringatan awal," potong Gallantmon diantara kepanikan yang menyelimuti kota. "jika kalian masih bersikeras untuk menolak, akibatnya akan fatal." dengan peringatan terakhirnya, Gallantmon berubah menjadi pecahan data, dan menghilang diantara awan hitam yang menyelimuti atmosfer kota. Meninggalkan para anak-anak manusia yang tercengang kaget oleh peringatan yang disampaikannya.
Takuo mengepal-erat tangannya—sesuatu sedang terjadi di Dunia Digital. Royal Knight yang seharusnya menjaga perdamaian, kini membuat keributan. Perintah Yggdrasil, dan sikap Royal Knight saat ini membuatnya penasaran dengan apa yang sedang terjadi di Dunia ini. Sebentar lagi, peperangan akan terjadi.
To be Continued_
A/N :
Oke, Chapter 1 selesai juga.
Saat kalian membaca Chapter 2, mungkin ada perasaan kalau ada yang berubah. yap, nama karakter utamanya.
Setelah saya berpikir kalau nama Kazawa tidak cocok dijadikan nama tokoh utamanya, jadi terpaksa saya harus revisi ulang chapter sebelumnya. (untungnya, saya gak ngebut2 ngerjainnya, jadi lebih gampang merevisi kembali)
See you on next chapter~!
