Chapter 2
[Guild]
Part A Start_
Takuo berjalan-jalan, menyusuri rak panjang supermarket yang diisi oleh produk-produk makanan ternama, tertata rapih pada etalase kaca transparan bertingkat. Salah satu makanan itu menarik perhatiannya. Sebuah Roti selai kacang dengan toping marshmallow bakar diatasnya, diselimuti oleh krim susu putih yang menggiurkan. Mulutnya meneteskan liur. Pandangannya berlari mengamati Conan, berjalan mondar-mandir kebingungan di depan etalase kaca yang memperlihatkan pilihan makanan yang begitu banyak. Masih sempat-sempatnya digimon itu bertanya kepada salah satu pelayan toko, tentang setiap makanan yang membuat lidahnya tertarik.
Takuo menghampirinya, kedua tangannya menengadah diatas dada. "Oi, apa sudah memilihnya?" protesnya, menengok jam tangan pada lengan kirinya. Waktu telah menunjukkan pukul tiga belas lebih sepuluh menit. Waktunya pulang.
Conan masih belum melepas pandangannya dari etalase, bola matanya terus saja berpantulan diantara dua buah makanan yang berbeda. Yang pertama, adalah agar-agar dua lapis berbentuk kubah, dengan perpaduan warna merah diatas, dan putih dibawah. Disirami oleh susu kental manis yang melumer. Sementara yang kedua, yaitu Steak daging sapi, berlumuran saus Barbeque berwarna coklat gelap, terlihat masih menimbulkan hawa panas sehabis dimasak.
"Takuo. menurutmu, mana yang lebih enak?" tanya Conan antusias.
Sebaliknya, Takuo malah tidak peduli sama sekali tentang mana yang lebih enak. Ia hanya mengangkat bahunya singkat, pertanda tidak tahu. Karena terdesak, akhirnya Conan memilih agar-agar dua lapis itu. Mereka lantas pergi setelah kasir membungkus belanjaannya, dan takuo selesai membayar makanan mereka.
Keduanya keluar dari supermarket kecil itu, berjalan di bawah bayangan teduh pepohonan yang berbaris rapih sepanjang jalan. Mereka melewati beberapa gedung perkantoran yang menjulang tinggi seakan mendekati awan, sementara toko-toko dan bangunan kecil berbaris tertib disekitarnya. Jenis-jenis toko pun bervariasi, mulai dari toko yang menjual makanan, hingga toko barang elektronik. Salah satu dari toko elektronik itu menghentikan langkah kaki keduanya, toko dengan lambang Televisi pada depan pintunya. Mereka memamerkan berbagai jenis dan bentuk televisi dibalik layar kaca besar setebal satu sentimeter yang berfungsi seperti tembok transparan, tempat memajang produk-produk terbaik toko tersebut.
Salah satu televisinya menayangkan sebuah berita, bertajuk 'Digimon Mengancam, para anak-anak Diusir dari Dunia Digital'.
Seperti yang tertulis pada berita tersebut, kejadian kemarin benar-benar berpengaruh pada aktivitas di Dunia Digital maupun Dunia Nyata. Anak-anak terpilih di seluruh dunia, mendapat ancaman yang sama, datang dari anggota Royal Knight lain, tersebar di berbagai penjuru Dunia Digital. Mulai dari menurunnya tingkat pengunjung Dunia Digital, hingga sepinya anak-anak di Dunia Nyata yang sudah tidak berani lagi keluar rumah membawa digimonnya. Walaupun berdampak besar, namun beberapa anak—contohnya Takuo—tidak menghiraukan peringatan tersebut. Seperti yang terlihat, mereka masih beraktivitas seperti biasanya pada hari ini, padahal kemarin mereka mendapat kecaman dari Royal Knight untuk segera melepas para Digimon, dan meninggalkan Dunia Digital.
Takuo merasa aneh. Sebelumnya, Royal Knight belum pernah turun tangan menyampaikan pesan secara langsung, mereka biasanya menyuruh para Digimon kelas rendah, ataupun menulisnya langsung diatas langit dengan wewenang yang mereka punya—jika perlu—untuk menyampaikan peringatannya tanpa repot-repot turun menuju dunia bawah. Bahkan Yggdrasil yang dulunya selalu mendukung keberadaan anak-anak terpilih di Dunia Digital, kini bungkam—bahkan mengirimkan para Royal knight untuk mengancam langsung para anak manusia. Dunia Digital pun saat ini sangat sepi, dari info yang didapat oleh seorang anak yang masih bandel mengunjungi Dunia Digital. Para digimon tidak terlihat lagi di kota, dan banyak tumbuhan di Field Area yang warnanya mulai memudar.
Takuo dapat merasakan ponselnya sedang bergetar di dalam saku celananya. Ia mengambil benda tersebut. Nama panjang Ryuto tertulis dengan huruf kanji diatas monitor ponselnya, bersama dengan sebuah nomor Handphone, berada dibawahnya. Biasanya, Ryuto selalu mengirimkan pesan singkat setiap kali ingin berbicara dengannya. Namun hari ini, Tampaknya Ryuto memanggilnya langsung, sehingga Takuo merasa sedikit gugup mengangkatnya.
"Ada apa, Ryuto?", Takuo bertanya setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Tolong datang ke rumahku segera, ada sesuatu yang penting ingin aku bicarakan denganmu."
"Penting?", nada Takuo merendah, Ia sedikit penasaran mendengarnya. "Memangnya apa?"
"Sudah, kemari saja.", begitulah, panggilan tersebut akhirnya terputus. Nada putus sambung seketika muncul saat suara Ryuto tidak lagi terdengar.
Conan menatap heran, mulai penasaran dengan pembicaraan mereka berdua. "Takuo, ada apa?"
Takuo menggeleng, ia mencoba untuk tetap berpikir positif. "Tidak apa-apa, kita hanya dipanggil oleh Ryuto untuk datang kerumahnya." ujarnya, lalu kembali berjalan. "Paling, dia ingin pamer lagi tentang game barunya.", ujarnya berasumsi tanpa dasar.
Takuo dan Conan sampai pada sebuah rumah bertingkat dua, di suatu kompleks perumahan yang berdekatan dengan pantai. Seluruh rumah disana terlihat sama, hanya dibatasi oleh pagar hidup setinggi dua meter. Pada pagar bata rumah tersebut, tertulis nama dari sebuah keluarga. Tulisannya rapih, dipahat diatas sebuah lempeng kayu yang terlihat masih cerah, bertuliskan 'Sakaguchi', nama keluarga Ryuto. Keduanya masuk menuju teras rumah tanpa diundang, dan menekan bel pintu. Terdengar bunyi bel yang terredam dari dalam rumah. Sesaat kemudian, suara kunci yang terbuka terdengar sebelum akhirnya pintu depan dibukakan oleh sosok Ryuto yang berdiri di ambang pintu.
"Akhirnya kamu sampai juga.", sapanya dengan nada yang—tidak terlalu menyapa sama sekali. Terkadang Ryuto menengok kanan-kiri, terlihat begitu hati-hati akan sesuatu.
"Jadi, ada apa ini?", Takuo tidak mempedulikan sikap aneh Ryuto, dan langsung beralih menuju topik utama.
"-Masuk saja, nanti akan aku ceritakan.", perintahnya. Tangannya menarik paksa lengan baju Takuo masuk ke dalam rumah, langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Di dalam, interior rumah terlihat begitu sama dengan rumah Takuo. Mereka berdua sama-sama berada pada satu kompleks yang sama. Bertetangga. Jadi, tidak begitu mengejutkan kalau layout rumahnya terlihat begitu mirip. Sesudah masuk, seperti biasa, ia melihat dapur tepat disamping kiri. Ruang tamu mulai terlihat setelah mereka masuk lebih dalam menuju bagian dalam rumah, terletak di sebelah kanan, hampir menyatu dengan lorong kecil didepan pintu masuk. Dari sana, mereka memasuki kamar Ryuto. Dan lagi, interior kamar yang sama terlihat. Namun kali ini, yang membedakan adalah bagaimana penataan posisi barang-barangnya, dan beberapa benda yang hilang, diganti oleh benda-benda khas kamar Ryuto.
Ryuto duduk menghadap berlawanan arah pada kursi meja belajarnya, menengadahkan tangannya diatas sandaran kursi, sementara Takuo duduk diatas kasurnya bersama dengan Conan. Ryuto meniup jarinya yang menjepit diantara jari jempol dan jari telunjuk, membuat sebuah suara peluit yang cukup keras pada tangannya. Saturna melompat muncul keluar dari dalam lemari bajunya, dan duduk diatas pangkuan Ryuto.
"Loh, kenapa Saturna bisa ada disana ?", Takuo kaget, setelah mengetahui bahwa selama ini Ryuto menyimpan digimonnya di dalam lemari baju.
"Sebenarnya, aku hanya menyembunyikannya-" jawab Takuo, sambil mengelus lembut kepala Saturna yang penuh oleh bulu burung. Digimon itu hanya terdiam dengan wajah yang terlihat begitu senang dan nyaman bisa berada dekat dengan Ryuto. "Orang tuaku sudah mulai melarang, agar aku tidak kembali lagi menuju Dunia Digital."
"Kenapa memangnya?"
"Kalian ingat kan, kejadian kemarin?" lempar Ryuto kembali, mengingatkan kejadian yang kemarin terjadi saat mereka berada di Dunia Digital.
Seperti yang mereka lihat pada berita sepulang dari membeli makanan, tepat sebelum datang kesini. Digimon mulai dianggap ancaman oleh para orang tua—terlebih—ketika Royal Knight memperkeruh situasi antara manusia dan Digimon. Para orang tua yang khawatir mulai melarang anaknya untuk berkeliaran lagi di Dunia Digital. Walau beberapa anak melakukan penolakan di beberapa tempat, namun pengaruh tersebut sangat terasa di sini, di Okinawa. Anak-anak tidak lagi mengunjungi Dunia Digital, sekarang dunia itu benar-benar terbengkalai setelah insiden kemarin. Bahkan, Conan tidak berani kembali ke tempat asalnya, disebabkan desas-desus yang saat ini mulai beredar diantara anak-anak terpilih.
Ketika Royal Knight telah mengancam para anak-anak kemarin, ada seseorang yang terkena pengaruhnya. Nama anak itu tidak diketahui. Menurut beritanya, ia kembali menuju Dunia Digital untuk melepaskan digimon miliknya. Tetapi, ia dinyatakan hilang setelah tidak ada lagi kabar tentangnya. Rumornya, ia ditahan oleh Royal Knight sebagai sandera di Dunia Digital untuk jaminan atas tuntutan mereka.
Digimon telah berani mengancam manusia, kejadian tersebut berakibat pada menegangnya hubungan antara manusia dan Digimon. Rapat yang membahas bahaya dan dampak digimon baru saja dimulai pagi ini, namun detail tentang hasil rapat tersebut belum keluar sampai sekarang. Bahkan, salah satu Hacker yang tinggal di Okinawa berdalih, bahwa terlihat adanya pergerakan digimon secara massal yang terjadi di setiap area di Dunia Digital. Kemungkinan para pimpinan teratas digimon di masing-masing area telah mengerahkan pasukannya, mengantisipasi terjadinya perang antara digimon dengan manusia—maupun antara sesama digimon.
"Ibuku mulai paranoid," adunya. Alisnya terangkat keluar, wajahnya menatap kebawah. "-Katanya, aku tidak boleh lagi bersama Saturna." Ryuto nampak sedih, ketika ia mengingat kembali perkataan sang ibu yang—menurutnya—begitu kejam.
Mereka berdua tidak berbeda jauh dengan Takuo. Keluarga Sakaguchi merupakan pemilik perusahaan air minum ternama di Okinawa, ayah dan ibunya bekerja pada perusahaan yang sama. Berita tentang keberhasilan ayahnya Ryuto yang menemukan cara untuk membuat air laut yang asin dapat dikonsumsi, beredar luas ke seluruh jepang. Kondisi itulah yang membuat kedua orang tuanya memilih tinggal di perusahaan, meninggalkan anak mereka yang—walaupun terkadang bertemu sebulan sekali—terlantar, diasuh oleh satu-satunya teman baik yang selalu berada di rumah, menemaninya. Saturna. Ketika orang tuanya mendengar tentang ancaman tersebut, mereka datang bolos kerja, hanya untuk memberi anak mereka ancaman yang sama kejamnya dengan yang diberikan oleh para Royal Knight—Berpisah dengan digimon.
"Aku mengerti situasimu, sabarlah." Takuo dapat melihat, bahwa Ryuto dan Saturna sama-sama terbebani dengan situasi saat ini. Namun, ia masih bertanya-tanya dengan tujuan Ryuto memanggil mereka kesini. "Tapi, apa hanya itu tujuanmu mengundang kami kemari?"
"Oh iya, aku hampir lupa.", Ryuto kembali sadar. Mereka pun kembali menuju topik utama pembicaraan. Ryuto memutar badannya menuju meja belajar, dan mengacak-acak kertas yang menumpuk di atasnya, hanya untuk mengambil sebuah amplop merah yang disimpan diantara tumpukan tersebut. Ia langsung menyerahkannya pada Takuo. Ia mendapati gambar telur digitama hitam berada pada bagian depan amplop tersebut, dengan bagian belakang yang bertuliskan alamat rumah Ryuto, dan nama dari pengirimnya tertera di sudut bawah kiri amplop—Masahiko Hikaru. "Aku mendapat surat itu pagi ini. Aku belum membukanya karena dari gambar depannya, aku tahu kalau surat itu ada hubungannya dengan insiden Dunia Digital. Maka dari itu aku memanggilmu."
Takuo membuka amplop tersebut, perlahan merobek bagian atas amplop dengan hati-hati agar isi amplopnya tidak ikut robek. Terlihat sebuah kertas yang dilipat persegi panjang, dan sepasang foto Takuo dan Ryuto di dalamnya. Ryuto mengambil kedua foto tersebut, dan begitu kaget saat melihat ada wajahnya dan wajah Takuo pada foto itu.
"Bukankah ini foto kita?" ujar Ryuto, pandangannya melompat-lompat diantara kedua foto tersebut secara bergantian.
Takuo tidak menghiraukan perkataan darinya, saat kedua bola matanya sedang serius menerawang isi dari surat yang dibacanya.
Yang terhormat,
Hirayuki Takuo
Sakaguchi Ryuto
di tempat.
Setelah aku melihat ancaman Gallantmon, kini aku tahu, bahwa Dunia Nyata sedang dalam masalah.
Aku telah membentuk sebuah serikat anti-Royal Knight, di Okinawa. Tujuanku adalah untuk menentang program pemisahan antara anak-anak manusia dengan para digimon. Program ini dilaksanakan oleh pimpinan teratas para digimon yang mereka anggap setara dengan dewa,
YGGDRASIL
Program tersebut bernama, "Digital World Project", sesuai dengan apa yang kami dengar dari para Hacker. Mereka menemukan sebuah pola pergerakan jaringan yang tidak biasa di Dunia Digital, kemungkinan besar para digimon telah bersiap untuk sesuatu yang besar.
Seluruh anak-anak terpilih yang ada di dunia, saat ini sedang bersiap untuk berperang melawan Royal Knight. Serikat yang serupa telah bermunculan di seluruh jepang, dan kini, giliran kita untuk ikut melindungi Okinawa. Alasanku mengajak kalian berdua, karena kalian termasuk ke dalam 20 orang terkuat yang ada di Okinawa.
Detailnya akan aku berikan secara langsung, jika kalian bersedia ikut ke dalam serikat ini. Aku tidak akan memaksa siapa saja yang tidak ingin terlibat ke dalam rencana ini. Jika kita berhasil, mungkin kita bisa memperbaiki citra Digimon di mata para Orang Tua—dan dimata Dunia.
Sekian dan banyak terima kasih,
Masahiko Hikaru
Pimpinan Serikat Charlotte
Surat itu ditulis dengan tangan, panjang lebar. Tulisan 'YGGDRASIL' sepertinya hanya satu-satunya kata pada surat itu yang dikapitalkan, seperti memberi mereka peringatan untuk mengingat nama tersebut. 'Digital World Project', program pemisahan antara anak-anak manusia dengan Digimon. Kelihatannya, orang yang mengirimkan surat itu memiliki banyak info yang mereka tidak ketahui. Dan juga, tampaknya akan ada peperangan yang terjadi sebentar lagi. Seluruh anak-anak terpilih di dunia telah dipanggil, membentuk serikat, dan saling berkoordinasi. Semua pihak kelihatannya mulai bersiaga dengan situasi yang menegang ini, terutama saat para anak-anak terpilih telah membuat serikat di seluruh dunia. Seperti pertengkaran antara geng, anak-anak terpilih mulai merekrut anggota serikat disana-sini.
Setelah itu, Takuo mulai menceritakan semua yang telah ditulis di dalam surat tersebut. Yggdrasil, Digital World Project, dan serikat yang sedang dibentuk. Ryuto menangkap setiap detailnya dengan serius, ia sedikit antusias ketika mendengar akan adanya perlawanan anak-anak terpilih di Okinawa.
Ryuto adalah yang pertama berdiri, lupa akan Saturna yang berada diatas pangkuannya, hingga digimon tersebut terguling-guling diatas lantai karena terjatuh. "Aku akan ikut dalam serikat ini!", seru Ryuto lantang. Nada suaranya terdengar begitu percaya diri. "-Jika mereka akan menentang Royal Knight, aku akan ikut melawan."
Takuo setengah percaya diri. Di satu sisi ia ingin ikut melawan bersama anak-anak terpilih Okinawa, namun di sisi lain. . . "A-Aku tidak tahu apakah kita dapat menang dari Royal Knight." Takuo memberi saran, Ryuto pun terdiam mendengarnya. "Mungkin kita mendominasi dari hal jumlah, namun Gallantmon adalah digimon Mega—akan sangat sulit mengalahkannya.", semangat Ryuto mulai menurun. "Belum lagi anggota Royal Knight yang lainnya, mereka pasti berada jauh diatas kita. Apakah ki-"
Takuo terpotong oleh Conan yang menepuk pundaknya pelan, menenangkan kekhawatiran anak tersebut. "tiga belas melawan jutaan, Royal Knight melawan seluruh anak manusia yang ada di dunia. Kita pasti akan menang." jelas Conan dengan tenang. "kamu tidak usah khawatir, aku yang akan menjagamu."
Takuo membuka matanya. Akhirnya ia sadar, bahwa hal yang menentukan kemenangan mereka bukanlah jumlah, ataupun kekuatan, namun kepercayaan. Terlebih, Conan setuju untuk berjuang bersamanya. Ia tersenyum kecil, sebelum akhirnya mulai berdiri. "Kalau begitu, ayo kita pergi.", ajak Takuo dengan antusias. Ryuto menatapnya kaget, ketika mendengar ia juga setuju untuk melakukan perlawanan. "-Belum dicoba, belum tahu kan?", semangat Ryuto kembali pulih mendengarnya.
Setelah sepakat, mereka memutuskan untuk bersiap terlebih dahulu sebelum bertemu dengan serikat bernama Charlotte ini. Takuo berlari menuju pintu keluar rumah setelah berpamitan dengan Ryuto, ia memakai sepatunya dengan tergesa-gesa, dan langsung beranjak pulang untuk bersiap-siap. Sementara itu, Ryuto akan melihat dimanakah mereka akan bertemu dengan pimpinan serikat tersebut, dilihat dari alamat yang tertera dibalik surat, sementara menunggu Takuo bersiap.
Takuo dan Ryuto sampai pada tempatnya. Tidak mengherankan juga, kalau tempat pertemuannya berada di taman kota. Tempat itu luas, hijau, dan banyak sekali tempat untuk berkumpul, benar-benar cocok untuk melakukan pertemuan yang mendadak seperti ini. Selagi berjalan pelan memasuki taman, Mata mereka berkeliling untuk melihat-lihat. Kelihatannya ada cukup banyak anak-anak yang ikut serta dalam serikat ini, mereka semua membentuk beberapa grup-grup kecil terpisah bersama dengan teman-temannya yang juga ikut berkumpul. Disinilah mereka, tempat berkumpulnya orang-orang yang menolak aturan Royal Knight yang tidak adil, semuanya telah berkumpul.
Taman itu terlihat seperti alun-alun kota, terletak diatas bukit kecil di tengah-tengah kota. Jalan masuknya berupa anak tangga pendek berjumlah belasan, yang mengarah langsung menuju dataran luas dari puncak bukit yang beralaskan bebatuan alam tipis sebagai pijakannya. Sebuah gerbang hidup terbuka menyambut kedatangan Takuo dan Ryuto di taman tersebut. Hiasan Air mancur terlihat mengelilingi area lapang luas yang berada di pusat taman, dengan sedikit karya seni pada lantainya yang digambarkan sebuah lingkaran spiral besar dengan batu warna-warni yang disusun sedemikian rupa membentuk bola pelangi. Di tengahnya, level tanahnya sedikit lebih tinggi dari tanah disekitarnya, membentuk sebuah podium kecil yang juga beralaskan batu tipis pada dasarnya. Biasanya, podium tersebut digunakan saat akan menyelenggarakan senam atau diadakannya konser kecil di kota, memungkinkan orang untuk melihat siapa pun yang berdiri diatasnya.
Seorang laki-laki yang baru saja datang, langsung naik menuju podium tersebut. Ia berdiri bersama dengan seorang perempuan, yang mendampingi di sebelahnya. Saat itulah, seluruh anak-anak terpilih yang ada di taman mulai berkumpul di depan podium, bersama dengan digimonnya. Takuo dan Ryuto hanya mengikuti mereka saja, ikut pergi ke depan podium, mendengar apa pun yang orang tersebut ingin bicarakan dengan mereka.
Keduanya sampai pada bagian paling belakang dari kerumunan tersebut. Begitu anak laki-laki diatas podium itu mulai maju satu langkah kedepan, seluruh anak-anak terpilih lain dapat melihat penampilannya. Sekejap ia melebarkan matanya, Takuo mulai mengenal siapa dia sebenarnya.
Masahiko Hikaru, anak terpilih paling kuat di Okinawa, dan pemimpin serikat Charlotte yang baru dibentuk langsung olehnya untuk menentang Royal Knight, seperti yang dijelaskan di dalam surat. Rambutnya berwarna coklat dan agak pendek, disisir rapih layaknya seorang anak orang kaya. Matanya yang coklat gelap menatap setiap orang yang hadir pada pertemuan tersebut. Hikaru mungkin tidak mengenalnya, namun Takuo pernah melihatnya memenangkan Turnamen Musim Panas dua kali pada dua tahun terakhir ini. Namun untuk suatu alasan, Hikaru tidak ikut dalam Turnamen Musim Panas tahun ini. Sepertinya, ia telah digantikan oleh sang adik yang pernah mengalahkan Takuo dan Conan pada Turnamen kemarin dan menjuarai Turnamen tahun ini, yang saat ini berdiri di sebelahnya.
Takuo bertemu lagi dengannya, Masahiko Akane. Perempuan yang mengalahkannya pada turnamen kemarin, berdiri diatas podium mendampingi sang kakak bersama Pawrin. Kelihatannya, Akane tidak melihat sosok Takuo yang berada di paling belakang kerumunan, bersama Ryuto. Digimon Hikaru terlihat berdiri di sebelah Pawrin.
Seekor Renamon berdiri tegas di belakang Hikaru, terlihat seperti seorang Pengawal. Nama panggilannya adalah Lina. Lina merupakan Digimon berwujud manusia rubah dengan tubuh hampir menyerupai ukuran badan anak empat belas tahun, dan secara tekhnis merupakan satu-satunya digimon di Okinawa yang dapat berubah wujud ke tingkat Ultimate. Bentuk wajahnya pipih dan terlihat kecil, matanya yang sipit bahkan hampir tidak terlihat. Seperti rubah lain pada umumnya, Lina memiliki ekor serupa yang panjang, membesar saat semakin mendekati ujungnya yang seperti kuas melukis. Kakinya menyerupai kaki kuda, dengan sendi paling bawah menekuk kebelakang, sementara sendi atas berada pada posisi kebalikannya. Warna tubuhnya didominasi kuning, dengan sedikit putih pada beberapa bagian, seperti perut dan telapak tangan.
"Selamat datang, semuanya.", sapa Hikaru pada seluruh anak-anak terpilih yang ada di depannya, matanya tidak berhenti bergerak, menatap-rata semua orang serta digimon yang hadir. "Namaku Hikaru, dan aku mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semuanya yang ada disini. Kalau begitu, mari langsung ke topik utamanya."
Akane maju, sementara sang kakak mundur ke belakang. Kali ini gilirannya berbicara, langsung mengumbar rencana yang membuat kaget semua orang. "Kita akan memancing Gallantmon datang kemari, dan melawannya secara langsung. Disini, di Okinawa."
Riuh suara para anak-anak terpilih yang memprotes rencana tersebut terdengar. Bagaimana tidak, melawan Gallantmon secara langsung adalah hal paling bodoh yang dilakukan oleh serikat kecil seperti mereka. Kemarin, Gallantmon dengan mudahnya menghancurkan Tournament Tower hingga rata dengan tanah—tanpa tenaga sedikit-pun. Belum lagi, mereka tidak tahu apakah kekuatan serikat itu bisa setara dengan kekuatan salah satu anggota Royal Knight itu. Mereka hanya berisikan digimon-digimon umum yang kebanyakan baru bisa mencapai level Champion. Benar-benar mustahil. Rencananya pun tidak kalah Gilanya. Melawan Gallantmon di Dunia Nyata, adalah rencana paling buruk yang pernah ada.
"Kau ini sudah gila ya?!" seru salah seorang anak-terpilih, suaranya menyentak naik beberapa oktaf. "-Melawan Gallantmon disini. . . Okinawa bisa langsung rata dengan tanah, dasar bodoh!"
Anak-anak terpilih lain ikut mengeluh protes, lambat-laun suasana tidak dapat terkontrol lagi. Takuo hanya terdiam, mendengar rencananya. Tentu saja ia menolak, namun bertengkar disini tidak akan menyelesaikan apa pun. Itu hanya akan membuat suasana semakin kacau saja.
Terlihat jelas, Hikaru mengabaikan seruan dari semua orang di depannya. Ia kembali berbicara ditengah-tengah kebisingan itu, melanjutkan kalimat Akane. "Aku tidak meminta kalian melawan Royal Knight,", seketika semua orang diam mendengar bahwa mereka tidak harus ikut melawan, lalu untuk apa membuat serikat ini? Mereka bertanya tanya, Hikaru menyambung kalimatnya. "-Aku akan melawannya sendiri."
Tentu saja, kata-katanya sontak membuat semua orang kaget. Rencananya telah berubah dari Gila, menjadi Mustahil. Orang-orang terdiam, mereka benar-benar kehilangan kata-katanya. Hingga, seseorang maju kedepan, menanyakan. "Lalu, kami harus berbuat apa?".
"Kalian hanya bertugas untuk melindungiku dari belakang, tidak boleh ada yang ikut mencampuri duelku dengan Gallantmon.".
Langsung saja, Takuo mengangkat tangannya tinggi. Bukan hanya menarik perhatian Hikaru, namun juga membuat seluruh orang disana menatapnya heran. Ia berjalan maju, melewati kerumunan orang yang memberinya jalan menuju barisan depan. Akane sontak langsung menangkap sosoknya, dan pikirannya teringat dengan duelnya dengan laki-laki itu kemarin. Bukankah, dia itu orang yang kemarin, pikirnya. Sementara Ryuto tetap diam di barisan paling belakang, Takuo telah sampai pada barisan terdepan dengan raut wajah yang serius, menatap Hikaru dengan tatapan yang kurang menyenangkan. "Apa kau benar-benar merasa bahwa dirimu itu kuat, sehingga berani sekali mengusulkan rencana gila ini di depan anak-anak terpilih lainnya?", Takuo mengerutkan keningnya. "Apa kau tahu sekuat apa Royal Knight itu?"
Orang-orang yang hanya menonton, berpindah pandangan pada Hikaru yang berdiri diatas podium. Tidak ada raut wajah khusus yang ditunjukannya. Datar. Sama sekali tidak ada reaksi, walaupun adiknya menatap kesal Takuo, entah kenapa. Hikaru berjalan pelan menuju ke tepian podium, hingga sepatunya berdiri tepat di ujung tepian podium. "Aku tahu.", ia mengangkat sedikit kepalanya, menyombongkan diri. Kata-katanya begitu singkat, belum lagi nadanya yang terdengar begitu sombong membuat Takuo mendecak kesal. "-Aku adalah anak terpilih paling kuat yang ada di pulau ini. Dengan kekuatanku seorang, kita bisa mengalahkannya.", lanjutnya. Lina berjalan maju, bersandingan bersama dengan Hikaru di depan podium.
Pernyataannya semakin membuat Takuo merasa kesal. Entah apa yang dipikirkannya, ia bisa saja membunuh digimonnya sendiri. "Apakah kau tidak takut kehilangan digimonmu?!", teriak seseorang dari kerumunan, yang juga menanyakan hal yang sama. "Kau bisa saja terkena penyakit Depresi."
Penyakit Depresi. Sebuah sifat yang menjangkit ketika seseorang kehilangan Digimonnya yang mati. Takuo masih ingat dengan kasus tahun kemarin yang pernah terjadi di Okinawa. Penyakit itu adalah penyakit paling buruk yang pernah anak-anak alami. Umumnya, seseorang yang terkena penyakit itu akan menjadi gila, dan kehilangan akal sehatnya. Ia tidak dapat berbicara lagi dengan orang disekitar, maupun mendengar apapun yang orang bilang padanya. Tidak adanya keinginan untuk hidup, dan hanya akan berdiam diri hingga meninggal jika tidak ditolong secepatnya.
Saat ini tidak ada obat untuk menyembuhkannya, dan orang-orang biasanya mengirim anak-anak yang terkena penyakit itu ke rumah sakit. Disana mereka diberi perawatan khusus, dan dibantu dalam setiap kegiatannya. Makan, minum, bahkan mandi. Satu-satunya cara untuk menghilangkan penyakit itu adalah, dengan memberi mereka Digimon baru. Masalahnya, jarang sekali ada digimon yang ingin bersandingan dengan orang yang telah kehilangan digimonnya, terlebih kalau anak itu sudah kehilangan digimonnya berkali-kali. Karena itu, anak-anak terpilih menjaga baik digimon mereka agar tidak terjangkit penyakit tersebut.
Lain lagi pada raut wajah Hikaru yang benar-benar percaya kalau rencananya akan berhasil, semua orang—termasuk adiknya—menatapnya kasihan. Barangkali, mereka menyayangkan niat Hikaru yang terlalu menuntut. Memang, tujuannya adalah agar orang-orang tidak perlu menuruti perintah Royal Knight dan berpisah dari para digimon. Namun, caranya bukanlah cara yang brilian, maupun strategis dilihat dari sisi manapun.
Walaupun siang itu langit cerah tanpa awan, namun terdengar suara petir menyambar dari atas yang membuat semua orang terkaget-kaget. Beberapa kali terdengar, sesuatu yang menimbulkan suara gemuruh tersebut akhirnya menampakkan diri. Di atas langit pada bibir pantai, sebuah tarikan kencang menarik udara masuk ke dalam sebuah lubang hitam yang muncul dari titik kecil yang membesar dengan cepat. Kota seakan diterjang dengan angin topan, angin ribut di seluruh penjuru kota yang membuat para warga kalang kabut mencari perlindungan. Tidak sedikit juga yang berjalan menuju tepi pantai untuk melihat lubang hitam itu.
Sesosok makhluk keluar dari dalamnya, seekor digimon. Baju zirah putih menutupi tubuhnya yang besar, memegang tameng raksasa pada tangan kirinya, dan tombak Gram pada tangan kanannya. Gallantmon.
Part A End_
A/N :
Akhirnya, Chapter 2 keluar juga.
Saya diam dirumah, bengong di depan komputer. gak tahu harus nulis apa.
Semenjak Chapter ini keluar, saya sudah menyebutkan umur dari karakter-karakter utamanya. alasannya, biar gak timpa-timpa dengan cerita yang sudah ada.
saya sekarang sudah selesai merombak Plot, dan telah mantap untuk menyelesaikan Cerita ini. Jadi, tolong jangan ada yang meminta apapun yang nantinya akan merubah cerita kedepan, karena dengan sangat menyesal, saya tidak akan mengabulkannya.
Saya tidak akan menyalahkan para Reader sekalian yang hanya membaca saja (alias numpang lewat). tapi, setidaknya tolong berikan 1-2 kata review yang bisa membantu saya untuk menulis lebih baik, dan lebih rapih lagi. Setidaknya, saya mau membuat cerita ini enak dibaca dan disenangi banyak orang. (Itulah kenapa saya meminta banyak review dari kalian). terserah mau itu kritik, ataupun saran. saya menerimanya dengan lapang dada :).
dan seperti biasa, Part B Coming soon~!
