FLIRTATIONS SEQUEL : DECISION

Saya menyarankan untuk mendengarkan lagu 'Cinta Ini Membunuhku' milik D'Masiv untuk menambah feel-nya.

Tetsuya sudah tidak tahu lagi, sudah berapa kali dia menghela nafas, mencoba membuang rasa sesak yang semenjak perpisahan itu, semakin menjadi. Kadang-kadang, ada sebersit hatinya yang berharap dirinya bisa mengulang cerita bersama Akashi. Meski singkat, dan yang dirinya tahu itu palsu, tapi setidaknya dia merasakannya. Cinta yang pertama dalam hidupnya.

Namun, tak dipungkiri, dirinya bukan masokis. Kalau harus mengulang kepedihan itu, dia tak sanggup dan sudah cukup untuk menangis. Lagipula, dia sadar kalau air matanya juga sudah terkuras habis.

Rasa rindu yang mengganggunya, juga seringkali menggoda untuk melihat, atau sekedar ingin tahu bagaimana kabar Akashi. Seringkali juga dia menyesal telah memblokir semua akun sang mantan, tapi dia tidak mau lagi, tak mau kesakitan. Saat memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan, dan mengganti nomor ponselnya, Tetsuya masih dihantui dilema yang hebat. Disatu sisi, dia masih ingin, tapi disatu sisi, dia ingin beranjak pergi. Dan kalau dia mengundurkan diri dan mengganti nomor ponsel, berarti memang cukup hubungannya sampai disini.

Yah, dirinya tahu, dirinya mengerti, sekarang batinnya masih saja mengemis akan Akashi. Tapi dia harus tetap berdiri dan melangkah apapun yang terjadi. Karena bagaimanapun, kalau dirinya tak bergerak sekarang, seumur hidup dirinya akan dipenuhi rasa penyesalan.

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Original Story milik Gigi

Main Cast.:

Akashi Seijuro

Kuroko Tetsuya

Warn.:

T+

Romance, Hurt, Angst.

Yaoi a.k.a Shounen Ai

Typo

OOC

Ruangan itu temaram. Cahaya hanya berpendar dengan seadanya. Auranya suram, dan terlihat.. menyakitkan. Entah untuk mata yang memandang, maupun udara yang tengah dirasakan. Botol-botol itu berserakan, berbanding lurus dengan hatinya yang tengah berantakan. Akashi mendecih pelan. Hah, biarkan saja dia hancur perlahan!

Tetsuya-nya sudah tak peduli lagi dengannya. Dan apa yang dia dengar kemarin? Tetsuya-nya akan menikah dengan orang lain. Tawa bengis terdengar lagi.

Brengsek. Idiot. Bajingan. Ya, itulah dirinya sekarang. Satu-satunya udara, satu-satunya objek candunya pergi karena kesalahannya. Tempat dimana dia pulang, dimana dia menganggap itu rumah yang memberinya rasa hangat akan kasih sayang, telah hilang. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang bisa dia upayakan agar Tetsuya-nya kembali? Apa yang harus dia korbankan agar dia mendapat rumahnya lagi?

"Lihatlah dirimu sekarang. Kau menyedihkan." Akashi berbicara sendiri, didepan cermin yang sudah tidak sempurna karena pukulan tangannya.

Suara deru kendaraan menjadi salah satu pengisi dalam hiruk pikuk keramaian. Pejalan kaki yang sendiri terlihat menembus satu dua gerombolan agar cepat sampai tujuan. Anak-anak sekolah setingkat menengah atas terlihat saling menggoda antara kelompok adam dan hawa.

Tetsuya mengeratkan jaketnya. Sibuk menghalau udara dingin yang menyelimuti tubuhnya. Satu tangannya memegang tas yang dia gunakan untuk bekerja.

Hela nafasnya membuang uap udara. Sudah 2 bulan, dia bekerja di tempat yang baru untuk menghindar dari atensi yang menyakiti hatinya. Kabar dari ibunya, yang mengatakan kalau laki-laki itu mencarinya, dia coba abaikan begitu saja.

Dan hari ini, dia kembali. Ada urusan yang membuatnya datang ke kota tempat dia harus merelakan orang yang dia cintai. Yang masih saja, membayangi mimpinya hingga kini.

Taman Kizuna.

Entah mengapa, dari segala tempat yang ada, Tetsuya malah melangkah menuju tempat dimana banyak memori tentangnya dan sang mantan kekasih tercipta. Aromanya masih sama. Hiruk pikuknya juga masih terasa sama. Hanya, dirinya-lah yang sekarang berbeda. Hatinya menjadi kosong tanpa ada sedikitpun rasa didalamnya. Sebenarnya, masih ada. Tapi Tetsuya memilih menguburnya.

Duduk di bangku sudut yang merupakan kebiasaan, Tetsuya sedikit banyak teringat kenangan. rasanya masih tak percaya kalau waktu 3 tahun itu penuh kepalsuan. Tapi, bagaimanapun fakta sudah berbicara. Faktanya, sekarang dia terluka.

"Tetsuya,"

Dan sebuah panggilan menginterupsi kaset yang tengah memutar kenangan di otaknya. Membuat kenangan yang tak ingin dia ingat, menjadi datang begitu saja.

Kedua pasang mata itu bertemu. Seakan berbicara akan cerita bisu yang membuat hati mereka ngilu. Akashi sibuk menata kata, setidaknya agar laki-laki yang dia cinta mau mendengarkannya. Sedangkan Tetsuya, sibuk menata hati dan mencoba tuli agar hatinya tak tersakiti lagi.

"Apa kabarmu?" Basa-basi. Tapi Akashi memilih melontarkan ini dari pada tetap bertahan pada keheningan yang rasanya menyakiti.

"Baik." Tetsuya membuka mulutnya pelan, "Kau?"

Akashi sedikit meringis, apa tadi katanya? Kau? Padahal setidaknya dirinya berharap Tetsuya memanggil namanya, meski hanya marganya.

"Apa aku kelihatan baik bagimu?"

"Ya, kau baik kelihatannya." Ujar Tetsuya dengan nada yang masih saja datar, yang pelan tapi pasti menggores hati Akashi.

Dan yang tidak Akashi tahu, kecanggungan ini hanya membuat Tetsuya sadar, mereka tak bisa bersama. Meski mencoba tak peduli, tetap saja tak bisa dipungkiri, dia terluka.

"Kau buta." Akashi tak tahu kenapa, semakin kesini, malah emosi yang menguasainya.

"Aku tahu. Maka dari itu, aku tak pantas untukmu."

Bukan, bukan itu! Maksud Akashi, dia ingin Tetsuya tahu kalau dirinya terluka. Dirinya tak sanggup hidup tanpa Tetsuya.

"Tetsuya, dengarkan penjelasanku,"

"Apalagi? Hubungan kita sudah basi dan aku tak mau mengulanginya lagi." Bohong. Tetsuya mengepalkan kedua tangannya, saat lidahnya berkilah menipu fakta.

Tangan Akashi gemetar, entah menahan apa. Emosi, atau air mata. "Aku mencintaimu, Tetsuya."

Tetsuya kembali mencoba tuli. Tidak, ini hanya mimpi dan jangan berharap lagi. "Tolong, berhenti."

"Dengarkan penjelasanku, Tetsuya. Aku mohon," Akashi sudah tidak tahu harus bagaimana, dia tahu, ini illegal, Akashi tak pernah memohon, tapi untuk ini, dirinya rela kalau harus membuang harga diri.

"Cukup, aku mohon, Akashi-san. Cukup. Sampai disini saja."

"Kenapa? Kenapa, Tetsuya?! Kenapa!"

Helai biru itu tak berbicara, hanya menggeleng untuk menyuarakan hatinya.

"Apa karena kau akan menikah? Hah?!" Akashi sebenarnya menghindari topik ini, karena dia tahu, hatinya akan semakin perih saja.

"Hahaha," Akashi tertawa kacau, "Ini menyakitkan. Aku tahu aku sudah menyakitimu, ini kesalahanku. Tapi setidaknya biarkan aku menjelaskan segalanya!"

"Apa lagi yang mau kau jelaskan?" Suara itu masih datar, tapi terselip nada satir dan tergetar, "Ciuman yang kau bagi dengannya? Pelukan yang kau rasakan dengannya? Cinta yang bahkan tak pernah ku miliki, dan kau berikan padanya setelah 3 tahun kita bersama?!" Suara itu meninggi, sebanding dengan suara Tetsuya yang emosi.

"Tetsuya, aku-"

"Cukup. Kau kejam, Akashi-san. Kau menyakitiku begitu dalam."

"Maka dari itu, dengarkan pen-"

"Dengar atau tidak, tak akan pernah merubah fakta bahwa kau membuangku."

"Aku tak pernah membuangmu, dan aku bersumpah bahwa aku mencintaimu!"

"Huh, cinta? Kebohongan apalagi yang aku dengar sekarang?"

"Apa kau sudah tidak mencintaiku?" Akashi menatap mata biru itu, berharap sedikitnya ada sepercik tanda.

Helai biru menggeleng, "Tidak."

"Kau bohong!"

"Aku akan menikah." Tetsuya tahu bahwa pernikahan yang baru sekedar rencana kemarin tak sepenuhnya benar, tapi ini memang harus dia lakukan. Hentikan Akashi atau dia semakin jatuh dalam penyesalan.

"Bohong!"

"Kenapa aku harus bohong?" Mata Tetsuya masih menatap datar, begitu pula dengan suaranya.

Tangan Akashi terangkat, memegang kedua bahu mungil yang selalu membuatnya hangat dengan erat, "Kau masih mencintaiku, kan? Kau masih mencintaiku, Tetsuya!" Akashi menunduk, suaranya berubah, baritone bernada tinggi itu beralih menjadi serak, "Kau masih mencintaiku, kan?" Dan berakhir dengan nada yang terasa parau.

Tetsuya menelan ludah, mulutnya masih saja kelu untuk berbicara. Tulinya mendadak hilang mendengar suara parau memanggil namanya. Yang entah mengapa, mengusik hati hingga tak mampu berkata-kata.

"Aku tahu, maafku tak akan menghapus lukamu. Penyesalanku tetap tak berguna mengganti tangismu. Tapi aku mencintaimu, hingga tak mampu berpikir aku bisa hidup tanpamu."

"Tapi kau masih hidup sampai sekarang,"

Sadis. Tetsuya sadar bahwa mulutnya sudah keterlaluan.

"Kau ingin aku mati?" Akashi tertawa, "Ah, baiklah. Lagipula, saat melihatmu nanti menikah dengan orang lain, aku juga pasti tak punya pilihan selain mati."

Deg. Tetsuya memandang Akashi yang masih tertawa. Tawa yang mengerikan, seakan mengakhiri hidup hanyalah sebuah permainan.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Huh? Yang ku lakukan? Tentu saja, menghilang." Akashi menunduk, menyembunyikan raut wajahnya, "Apa yang harus aku lakukan saat orang yang aku cintai tak menginginkanku? Apa yang harus aku lakukan saat satu hal yang begitu aku harapkan tak mampu aku dapatkan? Eh, Tetsuya, apa yang harus aku lakukan?"

"Kau mengancamku?"

"Seumur hidup aku tak pernah meminta. Dan sekarang aku membuang segalanya, tapi tak bisa. Karena kau tak menginginkannya."

"Lalu aku harus mengasihimu? Merangkulmu dan menjadi penyemangatmu?" Tetsuya menatap datar Akashi yang sekarang menatapnya, "Aku punya hati, Akashi-san. Dan hati itulah yang kau hancurkan. Lalu kau berharap hanya dengan maaf dan aku akan baik-baik saja? Maaf, aku bukan malaikat."

"Tetsu-"

"Jangan sentuh aku!" Ujar Tetsuya menepis tangan Akashi yang hendak meraih lengannya. "Sekarang, aku memang masih mencintaimu. 3 Tahun bersamamu, hatiku tidak pernah palsu, tentu saja aku tak mampu melupakanmu begitu saja. Ini menyakitkan, tapi aku harus berhenti, Akashi-san,"

"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, Tetsuya? Apa?"

Tetsuya memalingkan muka. Tak mau memandang wajah Akashi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, wajah yang terlihat menyedihkan dan penuh penyesalan.

"Semuanya selesai. Anggap saja kita tidak saling mengenal."

"Kau bercanda, kan?"

"Tidak."

"Tetsuya-"

"Jangan sentuh aku!"

"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku menyakitimu! Aku tahu semua ini kesalahanku. Dia, dia adalah orang yang pernah aku ceritakan kepadamu. Wanita yang merupakan cinta pertamaku. Aku mencoba menepis kehadirannya, tapi dia memaksa. Dia membuatku mengingat semua tentangnya. Termasuk memori kalau aku pernah mencintainya," Akashi terengah, dia ingin marah, tapi tak bisa karena semua ini salahnya, "Aku menolaknya, tapi dia menuntut janji yang pernah kami ucapkan. Janji dimana aku tak akan pernah meninggalkannya, dan selalu ada untuknya."

"…"

"Aku begitu tersiksa, aku sangat mencintaimu tapi Akashi tak pernah ingkar janji. Aku kalut, tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan."

"Kau terlihat menikmatinya, menurutku."

Mata Akashi terbelalak, "Apa aku terlihat bahagia?! Apa aku terlihat baik-baik saja sekarang?" Nada bicaranya menjadi tinggi, "Kau bilang 3 tahun bersamaku tidak palsu, apa kau melihat aku sangat menikmati hidupku?!"

"Kalau kau juga katanya sangat mencintaiku, harusnya kau tahu bagaimana hancurnya hatiku saat kau membuangku. Kenapa aku yang harus mengerti?"

"Aku tak memintamu harus mengerti,"

"Kalau kau begitu kalut dan bingung, kenapa tak kau kejar dia? Yang sudah kau beri janji. Jadi kau tak harus mengingkari." Tetsuya menahan hatinya yang berdenyut perih. "Aku bukan cadangan, Akashi-san. Saat kau tahu sudah tak mencintainya kau mencariku. Saat kau membutuhkannya, kau membuangku."

"Aku tak pernah membuangmu! Dengar-"

"Apa aku terlihat semenyedihkan itu dimatamu?"

"Tetsuya,"

"Aku memang mencintaimu, tapi sekarang, aku akan menyerah untuk itu. Kau bisa mengejarnya, menjaga janjimu untuk dia." Tetsuya tahu, hatinya hancur. Tapi tak apa, dia baik-baik saja. Atau setidaknya, mencoba untuk baik-baik saja.

Akashi menggigit bibir bawahnya hingga rasa besi terasa di lidahnya. Dia tidak mau. Dia tidak mau lagi hidup tanpa laki-laki bersurai biru didepannya.

"Tidak, Tetsuya. Aku tidak mau."

"Kalau begitu, sama denganmu. Aku akan mencoba menjalin hubungan dengan orang lain. Melakukan semua hal yang telah aku lakukan bersamamu dengannya." Tetsuya menatap Akashi yang masih memandangnya seolah tak percaya, "Agar aku sadar, agar aku tahu mana yang lebih baik aku lakukan."

Amarah menguasai Akashi dengan cepat. Tanpa dia sadari, bayangan-bayangan tentang Tetsuya bercumbu, dan saling memadu kasih dengan orang lain, telah terbayang di otaknya. Dan secepat itu juga, lengan kekar itu mendekap erat Tetsuya.

"Lepas!"

"Jangan. Aku mohon, Tetsuya. Jangan."

"Kenapa aku tidak boleh melakukannya disaat kau juga berlaku seenaknya?!" Ucap Tetsuya sambil mencoba melepas dua lengan Akashi yang masih mendekap erat dirinya.

"…" Tubuh tegap itu tak menjawab, dan dalam keheningan yang menyelimutinya, Tetsuya bisa merasakan ada tetes-tetesan hangat yang jatuh di pundaknya.

"Lepas." Tapi dekapan itu tak melonggar, malah menjadi semakin erat saja.

"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mampu lagi berpikir apa yang harus aku tebus agar kau mau bertahan. Segala yang ku miliki sekarang tak berharga untukmu. Lalu apalagi yang harus aku lakukan?"

"…"

"6 Bulan tidak bersamamu, aku hancur. Aku tahu kau tak peduli tentang itu. Aku tahu kau terluka karena sikapku. Aku tahu aku menyakitimu. Aku tahu bahwa yang ku miliki, bahkan tak menjamin kebahagiaanmu." Akashi terus meracau, menumpahkan segalanya pada orang yang sudah menjerat hati dan hidupnya, "Satu sisi diriku, menyuruhku berhenti, karena kau tak bahagia denganku. Tapi satu sisiku tak mau melepasmu. Aku tak mau menyerah atas dirimu."

Tangan Tetsuya tergetar. Bohong kalau dia tak berharap bisa bersama lagi. Tubuh hangat yang mendekapnya, harum mint yang merasuk pada hidungnya, dan suara yang begitu dia rindukan. Kalau berbicara hancur, dirinya juga tak kalah berantakan.

"Aku-"

"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan, Tetsuya?"

"…"

Dekapan Akashi melonggar. Mata heterokrom itu memandang objek yang berada di pelukannya. Wajahnya bergerak maju, mencium dahi pucat yang menguar harum vanilla, harum yang begitu dia rindukan. Sekarang sudah tidak lagi tercipta penolakan, meski juga tidak ada balasan.

"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, aku tak peduli berapa lama waktu yang akan aku habiskan. Sampai saat itu tiba, aku akan membuatmu mengatakannya lagi, Tetsuya. mengatakan bahwa kau mencintaiku, untuk menjadi rumahku." Akashi mendekap Tetsuya lagi, "Dan untuk menjadi yang terakhir dalam hidupku."

END.

Author's Note :

Beneran selesai yaa :)

Semoga suka. Saya nggak bisa membuat mereka langsung baik-baik saja, cause, perselingkuhan itu termasuk penghianatan dan saya bukan orang yang toleran untuk masalah yang kayak gitu, ahaha. Daan, saya juga nggak mau Tetsuya jadi kelihatan murahan disini. Neng Tetcu harus jual mahal :D

Tetsuya21 sama, sebenarnya saya juga enggak kuat mereka tersakiti tapi tuntutan jalan cerita, haha. Guest saya juga percaya sama abang Sei :D. Lisette Lykouleon emm, sebenarnya ff saya nggak ada yang genre komedi, haha. Tapi kalo dikata bikin orang ketawa ya berarti bonus buat saya :D tapi genre angst, lumayan berat ternyata, haha. Ah, terimakasih buat koreksinya. Sejujurnya saya juga bingung nulisnya gimana soalnya -_-, nah ini endingnya, semoga suka. BlueSky Shin hehe, iya. Nakamura itu unik soalnya, wkwk. Seneng aja liat Nagisa (yang kadang saya liat kayak Tetsuya) digoda Nakamura sama Karma. Guestt setuju bangeet, nah ini endingnya, semoga sukaa. Aoi Haruka-hime hehe, abisnya satu-satunya chara cewek di KNB yang ada interaksi sama Akashi cuman Momoi, nah, ini endingnya, semoga suka.

Kaluki Hikari, AkariHanaa, Hikarusherizawa, idRs, Naruhina Sri Alwas, Shizuko, Nakamoto Yuu Na, Nyanko Kawaii, atin350, Shinju Hatsune, Akashi Sorata, Arisa Ezakiya, Kuroko Shipper, Risnah Burhan iya, ini udah lanjut. Semoga suka sama endingnya yaa :).

Terimakasih atas semua supportnya, dan terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.