Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi

sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu

sejuta kata maaf terasa kan percuma

sebab rasaku t'lah mati untuk menyadarinya...

(Kerispatih - Tapi Bukan Aku)

. . .

"Tadi kau datang dengan siapa? Kelihatannya itu bukan mobilmu." Tanya Jimin begitu Jeongguk sampai dihadapannya.

"Oh? Itu...aku berangkat dengan temanku. Namanya Yoongi." Jeongguk menjawab seadanya. Ia tersenyum saat Jimin dengan cepat mengaitkan tangan padanya, lalu mereka berjalan seiringan.

"Yoongi? Aku baru tau kau punya teman namanya Yoongi. Apa dia satu SMA dengan kita dulu? Tapi aku tak pernah melihatnya."

"Yoongi itu temanku dari kecil. memang tak SMA disini, dia baru datang dari Kanada."

"Oh~ Pantas aku tak familiar dengan wajahnya..."

"Oh, itu dia Yoongi! Hey!" Jeongguk tiba-tiba berseru pada seseorang tak jauh dari mereka, ia pun dengan segera membawa kekasihnya berlari "...kau sudah selesai?" Tanyanya saat dia dan Jimin sampai dihadapan orang itu.

"Sudah." Jawab orang itu singkat, tanpa ekspresi yang berarti. Lain dengan Jeongguk yang mengangguk sambil tersenyum,

"Baguslah. Ohya, Yoongi-a. kenalkan, ini Park Jimin. Kau boleh memanggilnya Jimin. Dia..ekhm...pacarku."

.

.

.

Semuanya bermula dari sana. Jeongguk takkan pernah menyangka jika kebaikannya memperkenalkan Jimin pada Yoongi akan berdampak buruk pada hubungan yang baru ia rajut setahun belakangan ini.

. . .

Jimin, si ulzzang berkepribadian ramah dan murah senyum, bersanding dengan Jeongguk yang bisa dibilang pelit senyum, irit bicara, dan minim ekspresi.

Hey, tapi itu dulu. Sejak resmi berpacaran dengan Jimin, pelan-pelan Jeongguk berubah. Ia tak lagi menebar aura dingin nan menakutkan. Pemuda bermarga Park yang lebih muda setahun darinya itu benar-benar membawa efek positif.

Mereka sebenarnya saling tahu sejak bangku SMA, tapi keduanya terlalu malu untuk berkenalan dan mengungkapkan perasaan suka. Sekedar berkenalan pun tidak. Baru saat Jimin masuk ke universitas yang sama dengan Jeongguk lah semuanya terealisasi. Keduanya berkenalan, pendekatan, dan tak lama berpacaran. Yah, seperti pasangan pada umumnya.

Ssst, padahal sejak SMA banyak yang mengantri ingin menjadi kekasih Jimin. Namun rupanya dia lebih memilih Jeongguk bahkan menyusulnya ke universitas yang sama.

Jeongguk dan Jimin merupakan pasangan yang cukup terkenal di kampus ini. Siapapun setuju kalau keduanya tampak serasi.

Dan pasangan serasi itu kini tengah berduaan di taman kampus. Jeongguk berselonjor dengan kepala Jimin berbaring di pahanya.

"Aku berteman dengannya sejak taman kanak kanak..." Jawab Jeongguk saat Jimin menanyakan perihal hubungan pertemanannya dengan Yoongi. "...Tapi sejak orangtua Yoongi bercerai beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat kami lulus SMP, Yoongi memilih pindah ke Kanada mengikuti ibunya, dan bersekolah disana." ujarnya "...yang kudengar, kehidupan Yoongi dan ibunya disana tak terlalu baik. Mereka tak lagi hidup mewah seperti saat di Korea, karena penghasilan ibu Yoongi hanya cukup untuk biaya sehari hari. Bahkan kadang kurang, sebab biaya sekolah Yoongi disana tak bisa dibilang murah."

"..." Jimin tak memotong. Ia menunggu kelanjutan cerita Jeongguk sambil menatap wajah kekasihnya itu dari posisi berbaring. Walau Jeongguk sendiri memilih menatap ke arah lain, hanya jarinya saja yang asik menyisir-nyisir poni Jimin.

"Beban yang berat, membuat ibu Yoongi stress dan mulai jatuh sakit. Beliau sudah menyuruh Yoongi agar kembali saja pada ayahnya, tapi Yoongi menolak karena ingin menemani ibunya. Namun pada akhirnya, Yoongi memang harus kembali pada ayahnya karena...ibunya meninggal."

Gerakkan jari Jeongguk terhenti sejenak. Jimin tahu pacarnya merasa sedih,

"...Dan, yah...Yoongi mau tak mau kembali pada ayahnya yang kini sudah menikah lagi dengan seorang janda yang sudah mempunyai anak. Perceraian orang tuanya, kematian sang ibu, sampai kehadiran ibu dan dua saudara tiri yang sama sekali tak disukainya, seperti menjadi pukulan keras bertubi tubi yang sangat menyakitkan untuk Yoongi. Aku melihat Yoongi berubah. Dia menjadi namja yang dingin dan mudah marah. Bahkan lebih dingin dariku. Dia sudah tak seceria dulu..."

Jimin lambat laun merasa simpatik juga,

"Begitu ya? Huh, pantas wajahnya itu terlihat angkuh dan tak bersahabat sama sekali,"

Kali ini Jeongguk menundukkan kepala, hingga tatapan mereka bertemu,

"Dia itu sebenarnya baik, Jim. Kau tak tahu saja karena belum lama mengenalnya."

"Hmmm, Baiklah. Aku percaya. Tampangmu juga kan menakutkan, tapi siapa yang tahu ternyata menyenangkan?"

"Ha?"

"Hihi," Jimin terkikik, "...tapi honey,"

"Hm?" Jeongguk menyahut singkat dengan seulas senyum. Kadang geli sendiri mendengar Jimin memanggilnya 'honey'. Tapi anehnya, dia suka.

"...Sepertinya kau sangat dekat ya dengan anak itu? Ah, aku jadi cemburu!" Ujar Jimin pura-pura cemberut,

"Ish bicara apa kau ini? Aku memang dekat dengannya, kami kan berteman cukup lama. Apalagi setelah Yoongi mengalami semua ini. Aku jadi semakin ingin dekat dengannya. Karena aku tahu persis, bagaimana rasanya kehilangan ibu."

"Hmm, kau memang namja yang baik Jeon Jeongguk. Tidak sinkron dengan tampangmu-"

"Memangnya ada apa dengan tampangku?"

"Uh? Ya...kau tahu sendirilah-"

"Ayo coba katakan, ada apa dengan tampangku JimJim honey?"

"ASH! Sudah kubilang jangan mencubit hidungku! Kau ini kebiasaan!"

Kali ini Jeongguk yang tertawa, lalu mengusak rambut kekasihnya,

"Potong rambut sana! Ponimu sudah menghalangi mata,"

Jimin berdecak, "katanya kau suka kalau rambutku panjang!"

"Aku berubah pikiran. Diatas lokermu semakin banyak saja surat dan hadiah. Kalau kau memanjangkan rambut dan bertambah manis, posisiku dalam bahaya." Ujar Jeongguk mendramatisir, kontan saja Jimin langsung bangkit dan balas mencubit hidung kekasihnya itu,

"Lebaaaaayyyyy~~~"

"JIM! Aku serius!"

Dan Jimin hanya tertawa saja. Lambat laun Jeongguk malah ikut tertawa. Setelah itu keduanya kembali berbaring di rumput dengan damainya.

Tanpa menyadari jika sosok yang sedari tadi dibicarakan, tengah mengamati mereka tak jauh darisana.

.

.

. . .

.

.

"Aku tidak suka sayurannya, singkirkan,"

"Hey, kalau nenekku tahu kau melakukan ini pada masakkannya, dia akan merasa kecewa."

"Tapi aku tak suka sayur! kau tahu kan?"

"Pantas tinggimu segini-gini saja"

"Yah! apa-apaan itu membahas soal tinggi segala?!"

"Makanya ayo dimakan juga sayurnya, JimJim"

"Tidak mau"

"Dipecat jadi calon cucu menantu, mau?!"

"ha? Kau mau mengadu pada nenek?"

"kkkk~"

"Yah, jangan lakukan itu honey. baiklah, sini ku makan..."

"Aigu, manis sekali pacar Jeon Jeongguk~"

.

.

Yoongi merubah haluan, membalikkan badan. Tidak pada arah itu, tidak dimana sepasang kekasih itu tengah asik dengan dunia mereka. Pemandangan itu membuat sesuatu dalam diri Yoongi terasa bergemuruh, entah mengapa. Ia melangkah jauh, berharap dua sejoli itu tak menyadari kehadirannya. Yoongi rasa ia butuh pelampiasan, mungkin lapangan basket bisa meredakan perasaannya yang tiba-tiba tak karuan.

.

.

"Tsk! memujinya jangan sambil mengusak rambutku juga dong," protes Jimin sambil menyingkiran tangan Jeongguk dari kepalanya

"Kalau tidak salah aku pernah memintamu potong rambut, Jim?"

"Hm? uhm...belum sempat- yaampun masakan nenekmu enak sekali, tapi lain kali aku tidak mau sayur lagi. pokoknya ini yang terakhir aku makan sayur."

"Astaga kau ini. tapi...kenapa belum sempat? kelihatannya belakangan ini kegiatanmu tidak begitu padat?"

Jimin tak menjawab dan masih asik mengunyah

"Eyyy, bilang saja ingin ditemani~"

"Yaampun syukurlah akhirnya kau peka juga?!" Jimin berpura-pura takjub "...Ingat kapan terakhir kali kita kencan, Tuan muda Jeon? Nyaris sebulan lalu, sebelum kau berselingkuh dengan bola basketmu itu!"

"maaf. kau tahu kan tak lama lagi ada pemilihan kapten tim basket? aku tidak mau melewatkan kesempatan. jadi aku harus memanfaatkan waktu untuk berlatih sebaik mungkin. maaf, oke?"

"maafkan tidak ya?"

"jangan merajuk, nanti ku cium."

"boleh!" Jimin menelan makanannya, lantas menyentuh bibirnya dengan telunjuk "sini,"

"astaga hahaha" Jeongguk tak bisa menahan tawanya, yaampun itu menggemaskan.

"ayo mana katanya mau cium? aku masih merajuk nih. kalau tidak, takkan ku maafkan."

"habiskan makananmu."

"jangan mengalihkan pembicaraan!"

"ayo, sebentar lagi aku harus latihan-"

"basket lagi basket lagi! yang pacarmu itu aku atau bola bas-"

chu~

"apa? masih kurang?" sang dominan bertanya manakala pasangannya hanya menatapnya tanpa berkedip "...nanti dilanjutkan kalau kita bukan ditempat umum. sekarang, habiskan makananmu lalu terserah mau ikut aku latihan atau pulang."

"uh? uhm..baiklah. enggg~ kau tidak mau?"

"tidak, untukmu saja. aku sudah kenyang. oh, atau mau ku suapi?"

"t-tidak. tidak usah."

Jeongguk hanya tersenyum saja melihat kekasihnya tiba-tiba salah tingkah begitu.

. . .

Min Yoongi is not happy, man.

Jika bisa, ia ingin meremukkan bola basket dalam genggamannya, manakala dua insan yang ia hindari justru datang bersamaan ke tempat dirinya menyendiri.

"oh? Yoongi, kau disini?!"

Sulit sekali menyunggingkan senyum saat hati sama sekali tak bahagia. Tapi Yoongi harus melakukannya, sebab Jeongguk sahabatnya.

"Hm, kenapa baru datang? kupikir kau latihan sedari tadi." Yoongi berujar sambil sesekali melirik Jimin yang menunggu di tepi lapangan.

"Biasalah, ada bayi yang harus kuurus dulu" gurau Jeongguk seraya terkikik, dan Yoongi tak tahu harus membalas apa lagi. Jadi ia melanjutkan kegiatannya sendiri.

Keduanya lantas sibuk dengan masing-masing bola dan ring, sedangkan Jimin terlihat memainkan ponselnya di tepi sana, walau sesekali ia memperhatikan kekasihnya. Tersenyum saat Jeongguk berhasil memasukkan bola kedalam ring, dan melambaikan tangan saat Jeongguk menoleh padanya. Satu kali ia membentuk hati dengan tangannya, tak ayal membuat Jeongguk tertawa. Sama sekali tak menyadari bagaimana ekspresi Yoongi tak jauh disana.

.

.

"Honey!"

Tak berselang lama, Jimin memanggil.

"Ya?!" Jeongguk mengalihkan atensinya. Dilihatnya Jimin tengah memegang handycamnya.

"Aku sedang merekam! Lambaikan tangan~~!"

Jeongguk menurut, lalu kembali melanjutkan permainannya. Bisa ia dengar Jimin bersorak senang tatkala ia berhasil memasukkan bola. "Whoaaa~ kau melakukannya dengan baik, honey, hebat!"

Pacarnya itu tak jarang mengomel soal dirinya yang selalu sibuk dengan salah satu hobbynya ini, tapi Jeongguk tahu, Jimin sebenarnya mendukung apa yang ia lakukan. Entah bagaimana, tapi disetiap detiknya Jeongguk selalu merasa beruntung memiliki Jimin disisinya, lagi dan lagi.

"Hey, tidakkah ini sedikit membosankan? kalian saling membelakangi, kenapa tidak bertanding saja? battle?" Jimin berkata dengan volume sedikit lebih kencang, memberi usul yang langsung Jeongguk setujui.

Pemuda bermarga Jeon itu lantas menghampiri Yoongi dan membicarakan beberapa hal, tentu perihal battle yang Jimin usulkan. Dan jika Jeongguk jeli, Yoongi sempat memandang Jimin yang sibuk dengan handycamnya ditepi sana selama beberapa detik, sebelum akhirnya berkata, "Baiklah.", pertanda setuju.

Orang yang lebih cepat memasukkan bola kedalam ring sebanyak sepuluh kali, dia yang menang. Yang kalah harus membelikan softdrink sebagai hukuman. Setidaknya itulah yang Jeongguk dan Yoongi sepakati. Jimin merekam battle itu dari awal, ia bilang akan mengupload ke channel youtube pribadinya, nanti. Keyakinan akan Jeongguk bisa memenangkan pertandingan ini begitu besar, hingga tanpa sadar ia lebih banyak menyorot kekasihnya itu dibanding Yoongi. Namun kurang lebih lima belas menit kemudian, ia mau tak mau menelan kekecewaan tatkala Min Yoongi nyatanya lebih unggul dan mencetak banyak skor, jauh meninggalkan Jeon Jeongguk.

"Apa ini, tuan muda Jeon? kau kalah?"

Jimin bertanya saat kedua namja itu menghampirinya ke tepi lapangan dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran.

"Hanya sedang kurang beruntung," Jeongguk berkilah seraya tersenyum kikuk "...tapi Yoongi memang hebat, ucapkan selamat padanya, Jimin!"

"Huh?" Jimin seolah baru tersadar, lantas dengan sedikit canggung mengarahkan kamera pada Yoongi, "Uhm...selamat, Yoongi-ssi?"

"Formal sekali, panggil saja dia Yoongi." Jeongguk berkata, namun Jimin tak begitu mendengarkannya. Sebab, Yoongi tiba-tiba menatap ke arah kamera dengan begitu lekatnya. Mau tak mau Jimin merasa lelaki itu tengah menatapnya.

"Uh...baiklah. selamat, Yoongi-a."

Dan ia harus kembali dibuat tertegun manakala Yoongi perlahan menyunggingkan senyumannya, "Terimakasih, Park Jimin."

"Kalau begitu, aku pergi beli minuman dulu. Yoon, kau mau apa?"

Barulah Yoongi mengalihkan tatapannya, "Hm? kau tahu favoritku kan?"

"Ah~ ok. Jimin? kau mau ku belikan ap-"

"Uhm-" Jimin nampak menutup handycamnya dengan terburu-buru "...Jeongguk-a, b-biar aku saja yang beli minum-"

"eyyy~ perjanjiannya tidak begitu. biar aku yang beli. kau tunggu disini dengan Yoongi."

Tunggu disini dengan Yoongi. Berdua dengan Min Yoongi. Entah mengapa Jimin kurang menyukai gagasan itu.

"Jadi...kau mau kubelikan apa, JimJim?"

.

.

.

Setelah Jeongguk pergi, suasana menjadi amat canggung, tak bisa dipungkiri.

Jimin pun memilih menyibukkan diri dengan membereskan barang-barangnya, sedangkan Yoongi kembali asik dengan bola basketnya. Tidak ada yang bicara, sampai tiba-tiba bola berwarna jingga itu menggelinding ke arah Jimin yang tengah duduk memeluk lutut, lantas terhenti diujung sepatunya.

Jimin menatap benda itu tanpa berkedip, hingga tanpa ia sadari sepasang sepatu lain berhenti dihadapannya.

Saat satu dua tiga tetes keringat jatuh, maka Jimin dengan ragu mengadahkan kepalanya.

Jelas, yang menyapa sepasang netranya ialah Min Yoongi, lengkap dengan tatapan seperti tadi.

Jimin tidak tahu apa arti tatapan itu, hanya saja...dirinya...jujur, merasa tidak nyaman.

Tidak mau berkontak mata terlalu lama, Jimin memutuskan untuk mengambil bola yang ada didekat sepatunya. Mungkin Yoongi menginginkan Jimin menyerahkan benda itu padanya. Namun baru juga tangannya menyentuh, Yoongi lebih dulu berjongkok didepannya.

Posisi ini, membuat Jimin mau tak mau dapat melihat wajah Yoongi lebih jelas. Bagaimana tatapan yang lelaki itu beri padanya, atau...bagaimana keringat terus bercucuran membasahi wajahnya.

Yoongi mengambil bolanya.

Hendak berdiri kembali sebelum tiba-tiba Jimin memanggilnya,

"Y-Yoongi,"

...membuat si pemilik marga Min mengurungkan niat. Ia tidak bertanya 'ada apa' atau 'kenapa', sebab kini pandangannya terfokus pada Jimin yang sibuk dengan isi tasnya. Saat Jimin akhirnya berhenti dan menyerahkan sesuatu yang ia ambil dari dalam tasnya, Yoongi berkedip seolah tak percaya.

itu...selembar handuk kecil.

"Ambil ini,"

"Kenapa,"

"Kau berkeringat banyak, jadi-"

"Kenapa kau melakukan ini?"

"Keringatmu menetes ke lantai, itu agak- yah, maksudku, kan lebih baik kau keringkan dengan ini. Sudah, terima saja."

Jimin pikir, saat Yoongi meraih handuk ditangannya, maka selesailah perkara. Nyatanya, lelaki itu malah menggenggam handuk berikut dengan tangan Jimin. tentu saja dia terkejut.

"Huh? Yoongi,"

Itu cukup erat, sulit dilepaskan. Jimin tentu saja tak suka.

"...maaf, Min Yoongi. tapi aku sedikit tak nyaman. tolong-"

"Tolong jangan seperti ini, Park Jimin."

Jimin mengerutkan dahi. Apa itu? Bukankah harusnya dia yang mengucapkan itu?

"A-apa maks-"

Belum tuntas Jimin dengan keheranannya, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat, dan dengan itu Yoongi melepaskan genggamannya. Dengan cepat berdiri, dan saat itulah Jeongguk bersuara.

"Yoon, Jim! Maaf ya sedikit lama, tadi aku bertemu- hey, ada apa ini? kalian tidak bertengkar saat aku pergi kan?" Dia bergurau, "Ini minumanmu, Yoon!" Lantas sedikit melemparkan sebotol softdrink yang langsung diterima Yoongi, "Jim?" Dia mengalihan atensi pada Jimin yang masih duduk menggenggam handuk. Maka Jeongguk pun meniru posisinya, "Sayang, aku-"

"Jeongguk-a," Yoongi memanggilnya

"Ya, Yoon?"

"Aku pulang duluan. Terimakasih minumannya."

"Oh? Ok Ok. Hati-hati, bro!"

Yoongi hanya bergumam mengiyakan, lantas benar-benar pergi darisana setelah sebelumnya menyempatkan diri melirik Jimin untuk yang terakhir kali.

.

.

. . .

.

.

Jeongguk cedera. Jimin tentu panik dibuatnya. Tak dipungkiri ia merasa kesal juga. Pacarnya itu terlalu memaksakan diri berlatih, hingga yang terjadi adalah pergelangan kakinya terkilir. dan sepertinya itu cukup parah, sebab ia bahkan tak sanggup berdiri. Meski tak menunjukkanya didepan Jimin, dia tahu kekasihnya itu merasa kesakitan, dan tentu...kecewa. Seleksi menjadi kapten basket itu...Jeongguk kehilangan kesempatannya.

"Latihan sekeras itu, kalau pada saat pemilihan kapten kau bahkan tak mampu berdiri, apa pointnya? ha?" Jimin mau tak mau mengomel "...bukankah sudah kubilang jangan terlalu-"

"hm ya ya ya aku bersalah, honey~"

"Don't 'Honey' me, Jeon Jeongguk. aku sedang marah padamu."

"Aiguuu, nenek, lihatlah, cucumu yang sedang sakit ini malah dimarahi! Tegur dia, nek!"

Seorang wanita paruh baya muncul dari belakang Jimin, membawa sebuah nampan berisi makanan.

"Jangan merajuk begitu didepan pacarmu, kau tidak malu apa? Jiminnie, marahi saja tidak apa-apa. biar anak keras kepala ini sadar apa kesalahannya." ujarnya sambil meletakkan nampan itu di nakas.

"Uhm, nenek benar. Namja ini benar-benar keras kepala, aku tidak mengerti bagaimana cara menghadapinya." Jimin duduk disisi tempat tidur Jeongguk yang kosong, melirik pergelangan kaki kekasihnya yang memar itu. "...Dia begitu keras berlatih sampai mengorbankan waktu kencan kami, tapi saat waktu pemilihan tiba dia malah cedera begini."

"Jimin," Jeongguk yang semula bersandar, spontan menegakkan posisinya tatkala melihat Jimin bicara dengan nada sedih seperti itu.

"...Harusnya kau dapat posisi itu, aku tahu kau hebat. Kau pantas mendapatkannya Jeongguk-a..."

Nenek yang berdiri disisi tempat tidur hanya menyaksikan itu dalam diam.

"Kalau aku bicara pada Changmin hyung untuk mengadakan penilaian susulan, mungkin kau bisa mendapat kesempatan kedua. Ini tidak akan lama kan? Lakukan pengobatan penuh, mungkin seminggu kau bisa sembuh? Iyakan, Jeongguk-a?"

"Sudahlah, tidak apa-apa, Jimin-a. Tak usah dipikirkan."

"Tapi-"

"Changmin hyung tetap memberiku posisi di team walaupun tidak menjadi kapten, itu cukup bagiku. Dan...yah, kurasa ini bisa sembuh seminggu. Jadi kau tidak perlu sedih, ok?" Jeongguk mendekat untuk mengusak rambut Jimin. Kekasihnya itu bahkan sampai berkaca-kaca. Jeongguk jadi ngilu melihatnya. "...Jangan menangis. kau tak malu pada nenek?" guraunya kemudian.

Jimin menurunkan tangan Jeongguk dari kepalanya, "Tsk, kau ini..."

"Iya Jiminnie, sudah tidak apa-apa. Kalau kau sedih, Jeongguk malah ikut sedih dan tak kunjung sembuh. Jiminnie mau?"

"Hm? tentu saja tidak..."

"Nah, sekarang, boleh nenek minta tolong? Suapi cucu semata wayang nenek ini makan. Anak ini kalau sakit akan sedikit manja. Nenek mau menelpon ayah Jeongguk dulu. Kau mau kan, Jiminnie?"

Jimin mengangguk dan tersenyum tipis, "Serahkan padaku, nenek."

Nenek balas tersenyum, lalu berbalik menjauh seraya bergumam "Aiguu manisnya. cucu menantu idaman..."

Jeongguk bisa melihat semburat merah di pipi kekasihnya.

.

.

.

Jeongguk mengalihkan atensinya dari ponsel, manakala pintu kamarnya terbuka. Senyumnya mengembang saat tahu Yoongi lah yang datang.

"Yoon!" Ponsel itu langsung diletakkan.

"Huh, bagaimana keadaanmu?" Yoongi bertanya seraya menghampiri tempat tidur Jeongguk "...Ouch, itu terlihat cukup buruk." Ia mengomentari cedera sahabatnya.

"Ah, ini seminggu lagi juga sembuh. tenang saja"

"Kau terlalu memaksakan diri, man. aku tahu ada yang salah denganmu sejak battle kita tempo hari-" Yoongi berhenti sejenak tatkala mengingat apa saja yang terjadi hari itu. Apa yang terjadi dengan ia dan Jimin. "...ekhm, hari itu, kau tak biasanya kalah bertanding denganku. Hari ini, kau kehilangan kesempatan emas."

Jeongguk tertawa "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Bagaimana denganmu? kau melakukannya dengan baik?"

Yoongi memasukkan tangannya pada saku celana, "Aku cukup puas. Tapi tidak tahu dengan penilaian pelatih. Changmin hyung sepertinya sangat menyesal kau tak bisa ikut seleksi. Dia berharap banyak kau menjadi kapten."

"Hey, sudah kubilang jangan dibahas lagi. Kau juga hebat, lebih hebat dariku. Aku yakin Changmin hyung bisa melihat itu. Yah Yoongi-a, siapa tahu dirimu yang terpilih menjadi kaptennya!"

Yoongi hanya tersenyum miring, tanpa berkata apa-apa. Ia malah mengalihkan pembicaraan.

"Kau sendirian saja? Tidak ada yang menemanimu? Paman Jeon tidak pulang?"

"Hm? Ah, ayah bilang baru akan pulang dari Incheon nanti malam. Dan aku tidak sendirian. Kan ada nenek dan juga-"

"Honey, aku pulang sek-"

Ucapan Jeongguk terhenti, pun dengan Jimin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Yoongi juga nampak terkejut, namun saat ia menoleh dan sepasang netranya bertubrukan dengan milik Jimin, ia tak menampakkan ekspresi berarti.

"Oh, JimJim, sudah selesai?" Jeongguk bertanya, dan Jimin berjalan menghampirinya seraya bergumam mengiyakan. "Ah iya, Yoon. Jimin yang menemaniku sejak siang tadi. Barusan dia mencuci muka karena ketiduran." Jelasnya, sekalian menuntaskan jawaban.

Yoongi hanya berkata, "Oh...begitu" secara gamang, untuk kemudian pamit pulang.

"Oh?! kau mau pulang sekarang? Bisa tidak antar Jimin sekalian?"

"Huh?" Jimin yang tengah membereskan tasnya kontan terkejut, "Uh, itu tidak perlu-"

"Jim, aku sedang tidak bisa mengantarmu. Kau pulang dengan Yoongi, oke? Yoon, kau bawa mobil kan?"

Yoongi belum sempat mengkonfirmasi, saat Jimin dengan cepat bersuara lagi

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."

"Sayang, ini sudah malam."

"Lalu? Jangan memperlakukanku seolah aku seorang gadis. Lagipula ini baru jam tujuh. Sudahlah, aku pulang dulu. Cepat sembuh."

Akhirnya Jiminlah yang pergi dari kamar Jeongguk terlebih dahulu. Meninggalkan dua orang sahabat itu dalam keheningan sejenak.

"Yaampun, dia itu..." Jeongguk bergumam heran saat pintu ditutup lumayan keras, sedangkan Yoongi masih betah menutup mulutnya. Dua tangannya mengepal disaku celana.

.

.

.

Jimin sedang berpamitan pada nenek Jeongguk di lantai bawah. Nenek nampak mengatakan sesuatu seperti terimakasih atau semacamnya, sebelum akhirnya ia memeluk Jimin dan membiarkan namja itu keluar.

Yoongi memperhatikan itu semua dari puncak anak tangga. Namun lagi-lagi ia hanya diam tanpa ekspresi apa-apa.

atau...mungkin terlalu sulit dibaca.

.

.

.

"Naiklah."

Jimin tentu terkejut dan menghentikan langkah, saat sebuah mobil berhenti didekatnya. Saat jendelanya terbuka, terlihatlah sosok Yoongi disana. Lalu bersuara, menawarinya pulang bersama.

"Jeongguk bilang apartemenmu searah dengan rumahku. Jadi naiklah, ku antar pulang."

"Sudah kubilang tidak usah, terimakasih." Jimin melanjutkan langkahnya, dan Yoongi ternyata keras kepala. Ia melajukan mobilnya begitu pelan, seiring dengan langkah Jimin.

Sudah tentu Jimin merasa risih.

"Bisakah kau pergi saja dan jangan memaksa?"

"Dengar, Jimin. Kalau bukan karena Jeongguk yang meminta, aku juga takkan memaksa. Jika nanti ada apa-apa denganmu, mungkin Jeongguk akan menyalahkanku."

Ini nyaris seperti adegan dalam drama. Dan segalanya memang terasa begitu drama tatkala rintik-rintik hujan mulai jatuh dan membasahinya.

"Jangan keras kepala Park Jimin. naiklah sebelum hujannya bertambah deras."

Meski diam-diam mengumpat, toh akhirnya Jimin menurut juga. Tak ada opsi lain. Ia pun masuk kedalam mobil milik Yoongi, lalu memilih duduk di kursi bagian belakang.

Berdua dengan seorang Min Yoongi, Jimin selalu merasa seperti ini. Aura namja itu seolah mengintimidasi, membuat Jimin canggung sendiri. Jeongguk bilang, Yoongi sebenarnya baik, tidak dingin seperti sesering apapun Jimin mengingat apa yang Jeongguk katakan, tetap saja, tiap kali melihat Min Yoongi, ada saja sesuatu yang membuat Jimin merasa tak nyaman.

Apalagi mengingat kejadian di lapangan basket tempo hari.

Saat Yoongi menggenggam tangannya dan berkata, 'Tolong jangan seperti ini Park Jimin.'

Seperti ini? Seperti apa?

Namja itu...dia tidak- astaga, jangan-jangan Min Yoongi...

Jimin jadi gemas ingin bertanya.

"Yoongi-ssi," Akhirnya ia menuruti kata hati, menanyakan apa yang membuatnya tak mengerti. Yoongi hanya meliriknya lewat kaca depan "...maaf, tapi bolehkah aku memastikan sesuatu?"

"Apa?" Yoongi balik bertanya selagi mengendarai

Jimin menghembuskan nafasnya, lalu merubah posisi duduknya senyaman mungkin.

"Begini. Aku merasa, tiap kali kita bertemu...kau selalu menunjukkan raut wajah seperti itu didepanku. maksudku, seperti...entahlah, aku tidak tahu harus menyebutnya apa. itu agak sulit dibaca." Ujar Jimin, "...dan itu sangat terlihat jika ada Jeongguk diantara kita. Jujur, aku merasa tak nyaman."

"..."

"Yoongi-ssi, kau bersahabat dengan Jeongguk sudah sangat lama kan? apa mungkin...kau...ekhm, kau cemburu padaku?"

Yoongi mengerutkan dahi, Jimin takkan bisa melihatnya.

"Biar kutebak, pasti kau sangat dekat dengan Jeongguk. Mungkin saja kau tak suka melihat kami terlalu dekat? Kau merasa aku merebut perhatian Jeongguk darimu?"

"..."

"Kalau iya, katakan saja."

Yoongi tak jua bersuara

"Hubungan kami baru berjalan satu tahun, tolong maklumi jika aku sedang lekat-lekatnya dengan dia. Tapi kalau kau memang ingin aku mengurangi interaksi atau skinship saat kau ada didekat kami, aku...kurasa aku bisa melakukannya. Yah, asalkan kau tidak memintaku berpisah dengan Jeongguk saja. Aku sangat mencintainya, maaf kalau itu membuatmu tak nyaman. Tenang, aku takkan merebutnya darimu."

Tepat saat itulah mobil berhenti, karena memang sudah sampai ditempat tujuan. Jimin mengucapkan terimakasih lengkap dengan seulas senyum tulus, sebelum ia keluar. Yoongi tak membalas apa-apa, hanya saja tangannya menggenggam stir begitu erat hingga buku jarinya memutih. Sebab iya, hujan diluar sana memang telah reda, tapi Yoongi merasa banyak petir menyambar didalam hatinya.

.

.

. . .

.

.

Jeongguk menatap bangunan ini dengan kening bertaut. Entahlah, ini BAR, diskotik, atau...apalah Jeongguk tak mengerti.

Yang ia dengar, tempat semacam ini lah yang dipakai anak-anak muda untuk berkumpul sambil bermabuk-mabukan, mengkonsumsi narkoba ramai-ramai, bahkan tak jarang ada sepasang kekasih yang melakukan hubungan intim disini.

Entahlah.

Jeongguk tak tahu dan tak mau tahu. Sejak kecil ia dididik dikeluarga yang penuh sopan santun dan tak diperkenalkan pada kehidupan malam yang liar semacam ini. Meski tumbuh tanpa sosok ibu, dan seringkali ditinggalkan ayah yang sibuk dengan pekerjaan, Jeongguk masih punya seorang nenek yang memperhatikannya dan memastikan ia tak salah bergaul.

Tapi...

Tadi seseorang menelponnya dan memberitahu jika temannya yang bernama Yoongi tengah mabuk berat ditempat ini. Awalnya dia tak mau percaya. Mungkin saja itu orang iseng. Mana mungkin Yoongi pergi ke tempat seperti ini, apalagi mabuk? Setahunya Yoongi bukan anak yang seperti itu. Lagipula nama Yoongi bukan cuma satu kan?

Tapi mengingat sahabatnya tengah dalam keadaan yang tak bisa dibilang stabil, mungkin saja benar Yoongi ada disini.

Akhirnya, dengan segala perasaan risih yang menggelayuti, Jeongguk terpaksa masuk ke tempat ini. Mengabaikan orang orang asing yang mendekatinya dan menawarinya minum. Atau wanita berpakaian minim yang menempel padanya.

Ia hanya ingin mencari Min Yoongi.

dan jika benar sahabatnya itu ada disini , maka Jeongguk harus segera membawanya pulang dari tempat yang tak baik ini.

.

.

.

"Kenapa kalian harus bercerai? Kenapa kalian..membuatku...hic..tersiksa begini?!"

Jeongguk hanya terdiam sambil fokus menyetir. Sesekali ia menoleh melihat Yoongi yang nampak sangat kacau. Jeongguk tak mau menanggapi, walau ia mendengar racauan Yoongi yang duduk di sampingnya.

Ia tahu racauan seseorang yang sedang mabuk biasanya adalah keluh kesah nyata yang tak bisa diutarakan.

Ah...

Sahabatnya itu benar benar sangat menyedihkan.

Apalagi begitu ia meracau perihal ibunya. mengapa sang ibu pergi, mengapa meninggalkannya seorang diri? kenapa ibu tak mengajak Yoongi?

"Apa ibu tak menyayangiku lagi?"

Jeongguk lagi-lagi hanya terdiam mendengarnya.

Dalam hati ia bicara,

Keluarkan saja, Yoongi-a

Keluarkan saja apapun yang mengganjal perasaanmu,

Aku pasti mendengar dan mengerti.

Melihat perceraian orang tua, dan kehilangan seorang ibu...itu memang sangat menyakitkan.

Dan Jeongguk tahu betul bagaimana sakitnya. Sebab ia pun pernah merasakannya.

Selanjutnya Yoongi meracau tentang sang ayah yang ia rasa sudah tak menyayanginya lagi. Yoongi bahkan mengutuk wanita yang kini menjadi ibu tirinya.

"Wanita sialan itu, dan anak-anaknya. Aku benci mereka..hic..aku membenci mereka, bu!"

"..."

"Aku benci hidup seperti ini, ibu..."

Lalu Yoongi mulai menangis, kontan saja membuat Jeongguk bertambah miris.

Sebegitu tersiksanya kah memiliki ibu dan saudara tiri? Apa ini sebabnya sang ayah tak mau menikah lagi, dan memilih sang nenek untuk merawat Jeongguk?

Sang sahabat diam selama beberapa menit, hingga Jeongguk mengira dia kelelahan dan sudah tertidur. Tapi nyatanya Yoongi kembali bersuara, dengan nada yang tidak lebih baik dari sebelumnya.

"Aku...menyukainya, ibu. Aku menyukainya. Tapi...kenapa dia harus..hic..menjadi milik orang lain?"

Jeongguk mengernyitkan dahi. Siapa yang sedang dibicarakan Yoongi kali ini?

"Dia..sudah menjadi milik Jeongguk..."

Yang disebut namanya sontak membelalakkan mata, lalu menoleh pada sang pelaku.

"Aku?"

Sebuah perasaan tak enak menyergap dihatinya.

Apa aku salah satu penyebab kesedihan Yoongi?

Kali ini Jeongguk berharap apa yang diracaukan sahabatnya itu hanya karena pengaruh alkohol belaka.

"J-Jimin sudah menjadi..hic..milik Jeongguk..."

Tidak Yoongi-a, jangan katakan lagi!

Jangan Min Yoongi!

Please, aku tak ingin mendengar-

"Aku menyukai Park Jimin..."

CKIITTTTT! ! !

. . .

"Yoongi bertengkar dengan ayahnya...lagi. kudengar, dia terpilih jadi kapten basket? Ayahnya tak suka itu. Aku sudah menengahi dan mencegah pertengkaran itu, kami bahkan sedang berada di meja makan. Tapi, yah...kau tahu sendiri, nak Jeongguk. Yoongi tak menyukaiku, dia malah menuduhku mempengaruhi ayahnya. Anak itu mulai bicara yang tidak-tidak, dan suamiku terbawa emosi. Dia memukul Yoongi. Lalu anak itu pergi begitu saja dengan amarahnya."

Suara Nyonya Min, ibu tiri Yoongi, terus terngiang sepanjang perjalanan pulang yang Jeongguk tempuh dengan bis. Saat mengantarkan Yoongi ke rumah, ia memapah sahabatnya itu ke kamar dan membaringkannya senyaman mungkin di tempat tidur. Nyonya Min hanya memperhatikan saja dengan raut khawatir bercampur sedih. Setelah selesai, wanita itu mengajak Jeongguk bicara empat mata. Tuan Min sendiri entah ada dimana.

"Sekali lagi terimakasih sudah membawa Yoongi pulang, nak Jeongguk. Aku tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada dirimu. Menghadapi ayah dan anak yang sama-sama keras kepala dan tempramental, jujur, aku sedikit kesulitan. Sebagai sahabat yang sudah mengenalnya sejak kecil, aku percaya kau bisa lebih memahami Yoongi dibanding aku. Anak itu tidak jahat, aku tahu, dia hanya...belum bisa menerima semua ini. Jadi, sampai saatnya dia melunak nanti, aku harap...nak Jeongguk bisa membantuku. Tolong dampingi Yoongi, buat dia merasa lebih baik. Aku mempercayaimu."

Malam itu, Nenek Jeon dibuat heran manakala sang cucu pulang dengan sorot mata kosong, tanpa mengucapkan salam seperti biasa.

. . .

"Selamat pagi honeeeeyyyy~~ lihat, aku sudah potong ramb- Huh? kenapa kau murung begitu? Matamu jadi bertambah sipit saja. Ada apa?"

Jimin jelas merasa heran. Pagi-pagi begini kekasihnya sudah melamun sendirian di tangga kampus.

"Aku baru tahu jika dia sebegitu tersiksanya..." Jeongguk menjawab tanpa menatap yang bertanya. Nada bicaranya juga terdengar gamang.

"Siapa?" Jimin mengerutkan dahi,

"Kenapa aku juga jadi salah satu penyebabnya?"

"Terjadi sesuatu?"

"Jim,"

"Hng?"

"...Aku harus bagaimana?"

"Memangnya apa yang terjadi?"

"Dia terluka karena aku,"

"Aish! Jangan membuatku bingung Jeon!" Lama-lama pemilik marga Park itu kesal juga, "...Kau ini sebenarnya sedang membicarakan tentang apa dan siapa? Bicaralah yang jelas!"

"Dia..." Jeongguk tak menuntaskan ucapannya

Jimin menghembuskan nafasnya, lalu membingkai wajah Jeongguk.

"Hey hey hey, sini lihat aku, lihat aku." pintanya "Yaampun...siapa kiranya 'dia' yang membuat wajah Jeonggukku menjadi muram di pagi ini?"

"..."

"Siapa? Dan ada apa? Hm? Ceritakanlah padaku, barangkali aku bisa membantu?"

"..." Jeongguk tetap diam, menatap Jimin sebegitu dalam

"Cepat, katakan."

"Yoongi..."

"Yoongi?" Jimin mengerutkan dahi, "Oh, namja itu. Kenapa? Apa yang dia lakukan padamu hingga kau-"

"Yoongi menyukaimu."

"Apa?"

"Dia menyukai Jimin...ku.." Ucap Jeongguk sendu, namun lawan bicaranya malah tertawa,

"Kau ini bercanda saja! Mana mungk-"

"Yoongi menyukai kekasihku." Jeongguk tetap dengan kesenduannya. Membuat Jimin langsung menghentikan tawanya.

"Kau serius dengan ucapanmu?"

"Bagaimana ini, Jim?"

"Bagaimana apanya? Abaikan saja!" Jawab Jimin enteng, dan Jeongguk seperti tak senang dengan jawaban itu. "Hey, bukankah ini hal biasa Honey? kau juga sering mengetahui dan melihat orang menyatakan cinta padaku kan? Tapi kau tetap diam seolah tak tahu apa-apa, karena kau yakin aku tetap mencintaimu. Kenapa hanya karena Yoongi saja kau jadi begini? Cuek saja seperti biasanya!"

"Tapi Yoongi itu sahabatku Jim- wait a minute," ponsel di saku Jeongguk tiba-tiba berdering, "Halo?"

Jimin mau tak mau melepaskan telapak tangannya dari wajah Jeongguk. Lantas memperhatikan kekasihnya itu bicara. Sesekali ia tersenyum pada mahasiswa yang berlalu lalang.

"Ya, ini Jeongguk. Ada ap- APA?!"

"Kenapa?" Kontan saja Jimin ikut terkejut. namun Jeongguk tak langsung menjawabnya.

"Ah...baiklah-baiklah. Aku akan segera kesana." Ponsel pun ia masukkan kembali ke saku jeansnya. Setelah itu berdiri, membuat Jimin mengikuti geraknya,

"Ada apa? Kenapa panik begitu? Siapa yang menelponmu?"

"Jimin, aku harus perg-"

"aku ikut!"

.

.

.

"Sudahlah, Honey. Tenangkan dirimu. Dokter sedang memeriksanya didalam. dia akan baik baik saja. Sekarang duduklah."

Jimin mengiring kekasihnya untuk duduk dikursi ruang tunggu Rumah Sakit ini.

"Dia terluka karena aku. Jim, bagaimana ini?"

Jeongguk terus saja menyalahkan dirinya sejak tadi. Dan itu membuat Jimin bingung harus mengatakan apa lagi.

Beberapa jam lalu, Jeongguk mendapat telepon dari ibu tiri Yoongi yang memberitahu jika putranya itu tak kunjung keluar dari kamar sejak Jeongguk mengantarnya pulang semalam. Ayah Yoongi sedang bertugas diluar kota, dan sang ibu tak kunjung berhasil membujuknya keluar. Ia berujar sedih, memohon agar Jeongguk segera ke rumahnya karena Yoongi tak pernah mau mendengar bujukkannya untuk keluar. Yoongi tak pernah mau mendengar apapun yang wanita itu katakan. Ia takut terjadi apa-apa dengan anak tirinya itu.

Jeongguk dan Jimin pun bertolak ke rumah Yoongi. Berharap dia mau membuka pintu kamarnya jika sang sahabat yang membujuk. Namun nihil, pintu itu tetap saja tertutup dan sang pemilik tak menyahut sekalipun telah dipanggil berkali-kali.

Jeongguk, dengan segala kekhawatiran, akhirnya mendobrak pintu kamar itu.

Dan dia terhenyak bukan main manakala menemukan sahabatnya tergeletak di dekat wastafel kamar mandi dengan wajah sangat pucat lengkap dengan pergelangan tangan mengeluarkan banyak darah.

Jimin dapat melihat dengan jelas kepanikan hebat yang melanda kekasihnya, bahkan melebihi kepanikan ibu Yoongi sendiri. Ia berteriak memerintahkan siapapun agar segera memanggil ambulance. Menyobek kemejanya sendiri, berusaha menghentikan pendarahan pada pergelangan tangan Yoongi walau ia tak tahu akan berguna atau tidak.

Saat didalam ambulance pun dia masih terus dengan kepanikannya sambil terus bergumam "Please Min Yoongi...Please," dengan suara nyaris bergetar.

Dan hingga kini kepanikan itu belum kunjung habis.

Jika saja Jimin tidak mengiringnya untuk duduk, mungkin saja kekasihnya itu akan terus mondar mandir didepan pintu UGD.

"Dia yang melukai dirinya sendiri, jadi berhentilah menyalahkan dirimu Jeon Jeongguk!"

"Dia begini karena aku. Aku yang jadi salah satu penyebabnya. Aku-"

"Jangan mengatakannya lagi!" Sela Jimin cepat, "...Kau bukan penyebab Yoongi melakukan ini. "

"Jimin,"

"Apa?! Kau akan bilang Yoongi menyukaiku? Lalu kau menganggap dia melakukan ini karena cemburu padamu? Begitu?"

"..."

"Bahkan jika hal itu benar iya, aku tak perduli."

"Jim,"

"Aku sudah denganmu. Dan akan selalu denganmu. Jadi kau jangan menghawatirkan apapun." Tegas Jimin

Untunglah disana hanya ada dia dan Jeongguk. Sedangkan ibu Yoongi sedang menghubungi suaminya. Salah satu saudara tirinya pun entah pergi kemana. Jadi Jimin bisa berbicara dengan leluasa pada kekasihnya.

"Bukankah kau sudah sering menghadapi situasi semacam ini? Dan kurasa kau tak pernah sebegini resahnya. Jangan hanya Min Yoongi lalu kau jadi begini Jeon Jeongguk!"

"Tapi Yoongi itu sahabatku, Jimin!"

"Aku tahu, Aku tahu! Lalu kenapa kalau dia sahabatmu? Kau akan menyerahkanku padanya? Kau tak punya pikiran sebodoh itu kan, honey?"

Jeongguk hanya terdiam seolah mengiyakan, membuat Jimin terperangah. Tak menyangka jika terkaannya benar.

"Astaga. Benar kau berpikir begitu?"

Jeongguk menatap kekasihnya dengan tatapan memohon,

"Yoongi menyukaimu, Jimin. Apa kau tak memikirkan perasaannya?"

"LALU AKU?!" Jimin tanpa sadar berteriak, "...apa kau tak memikirkan perasaanku?"

"Jimin-"

"KAU BODOH! Bahkan kau tak memikirkan perasaanmu sendiri hanya karena Yoongi! Siapa dia? Berjasa apa dia padamu hingga kau sebegini berkorbannya?"

"Dia temanku sejak kecil, dan kau tak akan mungkin mengerti, Jim!"

"Oh, karena dia temanmu sejak kecil sedangkan aku hanya seseorang yang kau temui beberapa tahun belakangan, makanya kau lebih mengkhawatirkan perasaan Yoongi dibanding aku?"

Jeongguk tak menjawab.

Benar.

Mungkin dia terlalu memikirkan perasaan Yoongi hingga ia tak memikirkan perasaan Jimin, bahkan dirinya sendiri. Tapi siapapun tak akan mengerti.

Dulu, saat ia masih kanak-kanak dan mengalami nasib sama seperti Yoongi sekarang, sahabatnya itulah yang menemaninya. Meyakinkannya jika dia tak sendiri walau sang ibu telah meninggalkannya.

Apa salah jika sekarang Jeongguk ingin melakukan hal yang sama?

Membuat orangtua Yoongi bersatu lagi, tidak mungkin.

Menghidupkan ibunda Yoongi kembali pun, mustahil.

Memisahkan Ayah dan ibu tiri Yoongi pun tak mungkin.

Satu satunya cara yang terpikir oleh Jeongguk kini hanyalah, membuat Jimin yang ia cintai berada disisi Yoongi. Setidaknya membuat Yoongi merasa jika didunia ini masih ada yang menyayanginya. Didunia ini masih ada yang perduli padanya. Walau tak ayal, rasa perduli yang Jeongguk milikki malah membuat dia berada di titik terbodoh dalam hidupnya.

Melepaskan Jimin?

Cinta pertamanya.

Sesabar itu menanti Jimin sejak SMA, sesulit itu mempertahankan Jimin dari banyaknya orang yang mendekati si ulzzang, dan semudah itukah Jeongguk akan melepaskannya?

"Ya Tuhan." Jimin mengeluh tak percaya."...kemana perginya Jeongguk yang selalu mempertahankan Jimin dari orang orang yang menginginkan berada disisinya? Kini bahkan dia malah berniat melepasku untuk orang lain. Bagaimana bisa kau menjadi bodoh dalam sekejap sejak kedatangan Min Yoongi?!"

"Aku memang bodoh, Jim. karena itulah, tinggalkan saja aku yang bodoh ini. Dan belajarlah mencintai Yoongi.""

Jimin tertegun.

Masih nenatap Jeongguk tak percaya.

Astaga, apa ini? Drama korea?!

"Sepertinya kau benar benar kalut hingga berkata yang tidak-tidak," akhirnya ia memilih berdiri, "...Lebih baik aku pulang daripada perdebatan ini terus berlanjut dan memperburuk keadaan." Dia pun beranjak dari sana.

"Terimalah Yoongi, Jim!"

Namun ia terpaksa menghentikan langkahnya mendengar Jeongguk mengucapkan itu. Ia benar benar tak suka.

"Ku katakan sekali lagi. Aku sudah denganmu, dan akan selalu denganmu. Jadi hentikan omong kosongmu itu."

Kemudian meneruskan langkahnya. meninggalkan Jeongguk sendiri disana.

. . .

Pintu apartemen Jimin terbuka, dan sang pemilik muncul dibaliknya. Raut wajahnya tak bisa dibilang baik. Ini sudah beberapa hari sejak ia berdebat dengan Jeongguk. Dan kekasihnya itu, kini muncul dihadapannya.

"Ada apa?!" dengan ketus ia bertanya

"Ada yang ingin aku bicarakan."

"Jika itu tentang Min Yoongi atau perdebatan kita tempo hari, aku tidak mau. Aku tak ingin membuang waktuku untuk membicarakan hal seperti itu."

Pintu hendak kembali ditutup jika saja Jeongguk tidak dengan cepat menghadangkan satu kakinya,

"Tunggu, Jim!"

"Tsk," yang bisa Jimin lakukan hanya menatap malas pada lawan bicaranya.

"Sejak sadar, Yoongi tak kunjung bicara. Jelas dia menunggu kedatanganmu- Jimin, dengarkan aku dulu!" Jeongguk memekik saat Jimin hendak menutup pintunya lagi.

"Apa kau tuli?! Kubilang jika itu tentang Yoongi, aku tak mau membahasnya!"

"Yoongi membutuhkanmu, Jim. Apa kau tak memikirkan perasaannya?" Bujuk Jeongguk sehalus mungkin, namun respon yang ia dapat lagi-lagi tak sesuai harapan.

"Kenapa kau selalu memintaku memikirkan perasaan seseorang yang bahkan baru aku kenal beberapa bulan lalu?!"

"Karena dia menyukaimu Jim-"

"TAPI AKU TIDAK!"

Jeritan Jimin seolah tak berpengaruh sedikitpun untuk pria bermarga Jeon itu. Ia kekeh dengan permintaannya.

"Terimalah dia,"

"Diam."

"Park Jimin,"

"KUBILANG DIAM JEON JEONGGUK! Harus kukatakan berapa kali lagi? Aku sudah denganmu dan akan selalu denganmu. Jadi jangan meminta hal seperti itu padaku selama kau tahu yg aku cintai hanyalah dirimu!"

"Jika kukatakan aku sudah tak mencintaimu? Lalu akankah kau tetap ingin denganku?"

"A-apa?"

Jimin dengan cepat keluar dan berdiri lebih dekat dengan Jeongguk

"...pertanyaan macam apa itu?"

"..."

"Apa sekarang kau mau membodohiku dengan mengatakan-"

"AKU SUDAH TAK MENCINTAIMU PARK JIMIN!"

.

.

Jangan lagi kau sesali keputusanku

ku tak ingin kau semakin kan terluka

tak ingin ku paksakan cinta ini

meski tiada sanggup untuk kau terima...

.

.

Tanpa sadar Jimin termundur selangkah. Bibirnya terkatup rapat. Jelas, ia terkejut.

Hening lantas menyelimuti. Keduanya hanya saling menatap tanpa pergerakan berarti. Sebelum kemudian Jimin berbicara dengan suara gemetarnya

"A-pa itu- apa itu Jeon Jeongguk? Apa kau baru saja membentakku? Kau membentakku hanya karena Min Yoongi?!"

"..."

"Siapa Min Yoongi sebenarnya? Kenapa sejak kedatangannya sikapmu jadi berubah begini?! Kita tak pernah bertengkar sehebat ini sebelumnya, kau tak pernah membentakku sekeras itu sebelumnya! Dan kau- kau tak pernah dengan terang-terangan mendesakku pergi ke pelukan orang lain walau banyak yang ingin berada disisiku! kenapa hanya karena Yoongi kau jadi seperti ini? Ha?!"

Jeongguk masih diam, bahkan tak sedikitpun mengubah posisi. Orang yang melihatnya mungkin akan mengira dia begitu tak berperasaan, mempertahankan raut datar sementara kekasihnya nyaris frustasi. Takkan ada yang tahu, takkan ada yang tahu bagaimana sesuatu dalam diri Jeongguk terasa berdenyut nyeri tiap kali Jimin mengeluarkan kata demi kata, bahkan berteriak padanya. Jangan lupakan tatapan sarat akan rasa kecewa yang terpancar dari sepasang mata yang biasanya berbinar itu.

Segalanya terasa semakin menyiksa tatkala Jimin lebih mendekat, lantas berjinjit untuk kemudian hendak mempertemukan bibir mereka. Jeongguk bisa merasakan nafasnya. Jeongguk bisa lebih jelas melihat raut wajah tersiksanya. Jeongguk bisa mendengar bagaimana bibir itu berbisik "Jebal, Jeongguk-a, Jebal..." dengan putus asa, sebelum akhirnya benar-benar menautkan bibirnya. Jari-jarinya menangkup rahang Jeongguk dengan begitu lembut.

Dengan itu Jeongguk mengepalkan kedua tangannya. Sebagaimana Jimin yang menangkup rahangnya, Jeongguk juga ingin melingkarkan tangan dipinggang kekasihnya seperti biasa. Jimin kalut, Jeongguk bisa merasakan itu lewat bagaimana cara Jimin menciumnya. Dan Jeongguk mengutuk dirinya sendiri yang begitu pengecut, sebab ia tak mampu bahkan hanya untuk membalas ciuman itu. Kedua mata Jimin menutup, masih berusaha mencari kenikmatan yang biasa ia rasakan. Namun hati Jeongguk sudah tertutup, dengan terpaksa tautan itu ia lepaskan. Mendorong Jimin sdari tubuhnya, mendorong Jimin dari hatinya.

"Jeongguk," Jimin berbisik dengan begitu lirih, ia sadar Jeongguk barusaja menolaknya.

"Aku- ...kita tak bisa melanjutkan ini, Jimin."

Jimin menggelengkan kepala "Tidak. kau masih mencintaiku, aku tahu itu."

"..."

"Tolong ralat kembali ucapanmu, honey." Jimin meraih tangan Jeongguk. menggenggamnya begitu erat. "Ralat kembali selagi aku masih memberimu kesempatan. Katakan jika kau masih mencintaiku, katakan jika kau tak benar-benar ingin melepasku untuknya. Kau harus mempertahankan aku seperti seharusnya! Kau harus tetap menjadi Jeonggukku!"

"Tapi aku sudah tak mencinta-"

PLAK !

Satu tamparan dilayangkan.

"...aku sudah tak mencintaimu, Park Jimin"

Tamparan lain ia dapatkan.

"Kau menyakitiku,"

.

.

Aku memang manusia paling berdosa

khianati rasa, demi keinginan semu

lebih baik jangan mencintai aku dan semua hatiku

karena takkan pernah kan kau temui cinta sejati...

semoga saja kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu

tapi bukan aku.

.

.

Jeongguk sebenarnya tak tega pada Jimin yang mulai menitikkan airmata. Tapi ia tetap mempertahankan raut datarnya.

"...Kau sungguh menyakitiku Jeon Jeongguk!"

"Karena itu pergilah pada Yoongi yang takkan menyakitimu seperti apa yang kulakukan!"

"BAIK ! Jika kau sangat menginginkan itu. Aku akan melakukannya, Jeon Jeongguk! APA KAU PUAS?!"

"..."

"Kita lihat saja, apa benar rasa cinta yang kau pertahankan bertahun-tahun itu sudah lenyap hanya karena kedatangan Min Yoongi? Kau akan menyadari kebodohanmu dan menemukan titik penyesalanmu karena telah membuat air mata brengsek ini mengalir, Jeon Jeongguk!"

.

.

.

Ya, aku sudah menemukan titik penyesalanku saat itu juga, honey...