Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Tidak peduli seberapa nyamannya kau dalam kesendirian, cepat atau lambat kau pasti membutuhkan orang lain juga.

Sakura mendesah pelan saat kata-kata gurunya ketika bersekolah di Suna kini menjadi kenyataan. Hari ini Anko-Sensei yang merupakan guru mata pelajaran kesenian disekolahnya memberikan tugas untuk membuat pot bunga dengan bahan dasar semen. Wanita berusia paruh baya itu menugaskan mereka untuk bekerja secara berkelompok dan satu kelompoknya terdiri dari tiga sampai empat orang. Tugasnya harus dikumpulkan minggu depan.

Sakura hanya bisa menghela napas melihat para penghuni dikelasnya mulai sibuk mencari kelompok. Bahkan ada yang sudah mulai menentukan dirumah siapa mereka akan mengerjakan tugas. Gadis yang memiliki rambut sewarna permen kapas itu meremas jemarinya dengan gelisah. Haruskah ia mulai mencari teman ? Ya meski hanya untuk tugas kelompok yang tidak akan memakan waktu lama.

"Haruno-san ? Apa kau sudah mendapatkan kelompok ?"

Sakura mengalihkan pandangannya kesamping. Seorang gadis berambut indigo sedang berdiri dengan tangan saling bertaut di depan dadanya ditemani seorang pemuda berwajah datar.

"Belum"

"Kalau begitu maukah kau bergabung dengan kami ?"

Sakura terdiam. Menatap dua orang didepannya dengan sedikit ragu. Kedua matanya berulang kali menatap teman sekelasnya secara bergantian.

"Baiklah"

Akhirnya kata itu terucap dari bibir tipis Sakura. Menciptakan senyum lebar di wajah gadis berambut panjang didepannya.

.

.

.

Sakura menatap sebuah rumah dihadapannya dengan sedikit ragu. Berulang kali ia melihat secarik kertas yang diberikan oleh Hyuuga Hinata kemarin. Memastikan kalau dia tidak salah alamat.

Sakura bingung, haruskah ia mengetuk pintu atau menghubungi Hinata untuk keluar. Ah, tapi rasanya tidak sopan sekali. Lagipula apa gunanya lonceng di depan pintu kalau tidak digunakan ?

"Kita masuk saja, Hinata sedang sendirian dirumah. Dia sudah menunggu di taman belakang"

Sakura hampir meloncat dari tempatnya mendengar nada datar yang merasuki indra pendengarannya. Gadis itu sedikit merutuki dirinya karena tidak menyadari kalau ada Shimura Sai dibelakangnya.

Dengan langkah pasti, Sai melewati Sakura kemudian membuka pintu berwarna coklat didepannya. Pemuda itu terus berjalan dengan diikuti Sakura. Sebenarnya Sakura ingin bertanya, kenapa pemuda itu begitu hapal seluk beluk rumah Hinata ? Apa mereka sangat dekat ?

Sakura berdecak kecil. Tidak ada gunanya mengetahui urusan orang yang tidak berkaitan dengannya.

"Ah, Sai-kun dan Sakura sudah datang. Ayo kesini !"

Sakura baru sadar kalau ternyata seorang Hyuuga Hinata sangat cantik. Terlebih lagi hari ini gadis itu mengenakan kaos berwarna biru muda yang cukup ketat dengan hotpants yang hanya mampu membungkus sedikit pahanya. Memperlihatkan betapa indahnya lekuk tubuh gadis itu.

Sakura jadi berpikir, kalau seandainya dirinya yang memiliki tubuh seperti Hinata, pasti dia akan sangat laris. Pelanggan pun pasti akan sangat puas padanya.

"Kalau kau kesini hanya untuk melamun, lebih baik pulang saja"

Sakura sedikit terkejut dengan sindiran Sai yang kini mulai mencampurkan semen dan pasir dengan dibantu Hinata. Gadis itu dengan sedikit kikuk mulai berjalan mendekat. Dia sungguh tidak tahu apa yang harus dikerjakannya dan dia pun sama sekali tidak ada inisiatif untuk bertanya.

Beberapa menit kemudian setelah adonan semen telah jadi, Hinata segera beranjak dari tempat duduknya lalu masuk kedalam rumah. Membiarkan Sai mulai membuat pot dengan tangan terampilnya, juga membiarkan Sakura yang hanya mampu menatap apa yang dikerjakan oleh Sai.

Kedua manik Sakura sedikitpun tidak pernah terlepas menatap kedua tangan terampil Sai yang mulai membuat bagian dasar pot.

"Kenapa kau mengajakku untuk bergabung ?"

Entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sakura. Membuat Sai menghentikan kegiatannya, tapi hanya sebentar karena pemuda itu mulai melanjutkan pekerjaannya lagi.

"Hinata yang mengajakmu"

Sai menjawab tanpa berniat menatap lawan bicaranya. Sakura sedikit berdecih dalam hati.

"Kalau seandainya Anko-sensei mengizinkan satu kelompok hanya berisi dua orang, sudah kupastikan kau tidak akan ada disini sekarang"

Sakura mengepalkan tangannya erat. Dia merasa ingin tertawa mendengar penjelasan pemuda dihadapannya. Mereka memang tidak bermaksud berteman dengannya. Oh, memangnya siapa yang butuh teman ? Sakura merasa lebih baik kalau sendirian.

"Minum dulu Sakura, Sai-kun minumanmu aku letakkan disini ya ?"

Sakura menoleh kebelakang. Melihat Hinata meletakkan sebuah nampan yang berisi tiga gelas jus dan beberapa makanan ringan keatas meja kayu yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Sakura segera beranjak dari tempatnya kemudian berjalan mendekati Hinata. Tangannya terjulur menerima sodoran segelas jus mangga dari teman sekelompoknya itu.

"Sai tidak bermaksud seperti itu, dia hanya bercanda. Cara bicaranya saja yang membuat orang sering salah paham"

Sakura hanya mengangguk kecil mendengar kata-kata Hinata. Toh, ia juga tidak ingin terlalu peduli. Lagipula dia hanya seminggu berhubungan dengan Sai dan Hinata. Setelah itu ia akan menjalani kesendiriannya seperti biasa.

.

.

.

Pagi itu Sakura masih berjalan dengan tenang di koridor sekolah. Menikmati semilir angin pagi yang sangat sayang untuk dilewati. Derap langkahnya yang konstan serta bibir tipisnya yang terkadang melantunkan lagu-lagu yang disukainya cukup membuat pari siswa disekitar sana memperhatikannya. Terlebih lagi warna rambutnya yang memang tidak umum membuat orang merasa tertarik dengannya.

Pada dasarnya, siapapun orang yang melihat Sakura pasti memiliki hasrat untuk sekedar mendekati. Namun sayangnya hanya segelintir penghuni Konoha High School yang menyadari keberadaan Sakura. Dia terlalu mengasingkan diri.

"Hei"

Sakura memutar bola matanya ketika ketenangannya terganggu oleh kehadiran pemuda berambut raven yang kini berjalan disampingnya. Melangkahkan kakinya perlahan agar tidak berjalan di depan Sakura.

"Mau sarapan bersama ?"

"Aku sudah sarapan"

"Kalau begitu mari ke kelas bersama"

Sakura langsung menghentikan langkahnya. Menatap Sasuke dengan sengit.

"Kita tidak berada di kelas yang sama dan jangan bersikap seolah kau akrab denganku" desis Sakura

Gadis itu kembali melangkahkan kakinya dan kali ini lebih cepat. Berusaha menghindari Sasuke yang entah kenapa malah tersenyum miring menatap punggung kecil miliknya.

Sakura baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kelas dan mendapati Hinata yang menyambutnya dengan senyum yang cukup lebar. Iris hijau milik Sakura hanya menatap sebentar gadis lavender dihadapannya. Dia lebih memilih segera mendudukkan dirinya dikursi miliknya yang berada disudut kelas.

"Sakura, pot semen yang dibuat oleh Sai sudah kering"

Sakura masih enggan menanggapi Hinata meski gadis itu sudah duduk didepannya.

"Sebenarnya tinggal diberi warna saja, tapi Sai ada keperluan mendadak semalam. Dia pergi dengan keluarganya ke Tokyo selama tiga hari"

Sakura tetap diam namun telinganya senantiasa mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Dia juga bisa melihat Hinata yang gugup, terbukti dari kedua tangannya yang saling meremas.

"Tugasnya kan harus dikumpulkan lusa dan aku er-tidak pandai mewarnainya"

Ah, Sakura paham sekarang. Hinata bermaksud menyuruhnya untuk menyelesaikan tugas mereka. Sebenarnya tidak masalah kalau hanya untuk mengerjakan tugas itu, hanya saja Sakura bingung harus mengerjakannya dimana. Dia tidak mungkin kerumah Hinata saat pulang sekolah. Bisa- bisa dia kemalaman sampai rumah.

"Kalau begitu besok bawa saja semuanya ke sekolah, aku tidak ada waktu untuk kerumahmu lagi"

Hinata langsung mengangguk dengan semangat mendengar perkataan Sakura yang sebenarnya bernada sangat datar.

Keesokan harinya, sesuai dengan perkataan Sakura, Hinata membawa pot semen dan peralatan lainnya kesekolah. Gadis berparas malaikat itu menitipkan semua barangnya ke satpam sekolah karena tidak mungkin ia membawanya kedalam kelas. Mau disimpan kedalam loker pun tidak akan muat.

Begitu bel tanda pulang berbunyi, Hinata langsung menggandeng Sakura menuju pos satpam. Tentu saja untuk mengambil barang mereka.

"Kita mau membuatnya dimana, Sakura ?"

Sakura nampak terdiam sejenak. Berpikir tempat mana yang cocok untuk mereka mengerjakan tugas. Kalau didalam kelas ia takut lantai kelas akan menjadi kotor. Kalau di taman sekolah nantinya malah jadi pusat perhatian.

Sakura tersenyum kecil ketika mengingat taman belakang sekolah. Tempat yang hari itu pernah ditunjukkan oleh Sasuke. Sepertinya taman itu jarang dikunjungi orang.

Dengan langkah pasti Sakura memimpin di depan, mengajak Hinata agar mengikutinya ke taman belakang.

Tepat seperti dugaan Sakura, begitu sampai ditaman belakang, mereka tidak menemukan siapapun disana. Sebenarnya Hinata agak merasa takut dengan tempat sunyi seperti itu. Namun ia berusaha tenang, tidak ingin berdebat dengan Sakura.

Sakura langsung meletakkan pot semen mereka diatas meja batu yang ada disana, kemudian membuka plastik yang berisi beberapa kaleng cat minyak serta kuas dengan berbagai ukuran.

Hinata hanya duduk disamping Sakura. Memperhatikan bagaimana luwesnya tangan Sakura memberi warna pada pot mereka dengan warna dasar biru langit. Sakura nampak begitu santai mewarnai dengan satu arah. Sepertinya dia memang sudah terbiasa melakukan hal seperti itu.

Setelah pot mereka sudah dilapisi warna biru, Sakura mengambil kuas dengan ukuran cukup kecil. Mengambil cat berwarna coklat dan hitam kemudian menggunakan dua warna itu untuk ia sapukan menggunakan kuas keatas pot. Tangannya dengan lihat mulai membuat garis-garis yang cukup panjang, ada yang tebal dan ada juga yang tipis. Setelah itu Sakura menggunakan cat berwarna pink lembut dan mulai membuat kelopak-kelopak bunga sakura dengan berbagai macam ukuran.

Hinata berdecak kagum melihat betapa pandainya Sakura menggambar. Ternyata tidak percuma ia mengubur rasa malunya saat mengajak Sakura untuk bergabung dengannya dan Sai.

"Sudah selesai"

Hinata sedikit tersentak melihat Sakura mulai merapihkan peralatan mereka. Ternyata ia tadi terlalu hanyut dengan pertunjukkan Sakura yang sangat memukau untuknya. Gadis itu ikut membantu Sakura memasukkan kembali cat dan kuas kedalam plastik. Namun gerakannya sedikit terhenti melihat ada beberapa noda cat yang menempel di pipi putih milik Sakura. Dengan reflek Hinata mengambil saputangan di saku blazer sekolahnya dan mulai mengelap pipi Sakura. Apa yang dilakukan oleh Hinata mampu membuat Sakura terdiam. Gadis itu menatap Hinata dengan pandangan tidak mengerti.

"Ada noda cat dipipimu, kau tidak mungkin bisa kalau harus membersihkannya sendiri" Hinata menjelaskan tanpa harus ditanya.

"Kenapa kau peduli ?"

Hinata hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sakura. Gadis itu jujur saja tidak tahu harus menjawab karena nalurinya yang memang lembut dan penyayang yang mengantar tangan kanannya berbuat demikian. Sakura sendiri memilih diam, membiarkan Hinata terus membersihkan pipinya.

Beberapa menit kemudian mereka mulai beranjak pergi. Bermaksud pulang setelah sebelumnya meletakkan pot mereka dipojok kelas. Mereka berjalan bersama menuju stasiun Konoha. Hinata sesekali bertanya beberapa pertanyaan ringan yang meski enggan tetap dijawab oleh Sakura.

"Sejak kapan Sakura suka menggambar ?"

"Entah, aku tidak terlalu menyadarinya"

"Kenapa tidak mencoba masuk klub lukis bersama Sai ?"

Sakura menatap Hinata sejenak. Klub lukis ya ? Sejak bersekolah di Ame, Sakura memang sangat ingin mengikuti klub itu. Namun mengikuti kegiatan semacam itu akan mengurangi waktu berharga miliknya. Terlebih lagi sekarang jarak sekolah dan rumahnya cukup jauh.

"Akan kupikirkan nanti"

Hinata hanya menganggukkan kepalanya. Selanjutnya mereka hanya saling diam meski mereka duduk berdampingan didalam kereta. Hinata sesekali bersenandung kecil sambil melihat pemandangan dibalik jendela. Sedangkan Sakura lebih memilih fokus membalas pesan dari Ino. Dia sangat bersyukur karena hari ini Ino bisa dimintainya tolong untuk mengantarkan makanan kerumahnya sehingga ia tidak perlu merasa bersalah karena membuat ibu dan adiknya kelaparan.

"Sakura, aku turun duluan ya"

Sakura mendongakkan kepalanya saat Hinata mulai berdiri dari tempat duduknya. Dia akan turun di stasiun depan. Begitu pintu kereta terbuka, Hinata mulai melangkah pergi setelah sebelumnya mengucapkan 'Pulangnya hati-hati ya Sakura', membuat ada getar aneh yang sedikit mengusik hati Sakura.

~oOo~

"Aku tidak pandai memuji, tapi harus aku akui gambarmu di pot kelompok kita sangat cantik"

Sakura mendongakkan kepalanya dan mendapati Sai sedang berbicara padanya meski pemuda itu menatap keluar jendela.

"Hinata yang membuatnya" kata Sakura cuek

Sai berdecih mendengarnya. Meski Hinata tidak pernah mengatakannya, dia tahu kalau Sakura yang membuatnya. Toh, dia sudah sangat tahu kalau Hinata tidak pandai dengan hal yang berkaitan dengan kesenian.

"Aku membutuhkan orang sepertimu untuk klub lukis yang aku ketuai"

Sai langsung pada inti pembicaraan karena sebenarnya dia memanglah orang yang tidak suka berbasa-basi.

"Aku tidak ada waktu" kata Sakura acuh tak acuh, matanya masih tetap fokus membaca buku pelajaran kimia didepannya.

"Aku tahu kau masih belum mau membuka diri. Kalau nanti kau sudah siap menerima orang disekitarmu, kau bisa datang pada hari sabtu dan minggu diruang lukis yang ada dilantai dua. Kegiatan klub akan dimulai pada pukul sepuluh" setelah itu Sai berlalu begitu saja, meninggalkan Sakura yang kini sedang berperang batin karena perkataan pemuda itu.

Bolehkah Sakura mulai menjalani kehidupan normalnya ?

Dengan memegang erat tasnya Sakura terus berjalan menuju stasiun Konoha. Pikirannya saat ini melayang entah kemana. Gadis itu tidak bisa melupakan perkataan Sai tadi pagi. Ada harapan besar yang tiba-tiba muncul dalam dirinya namun seperti ada sebuah batu besar yang menghancurkan harapannya itu kala mengingat kondisinya saat ini.

Sabtu dan minggu sekolah memang libur tapi itu artinya dia harus semakin giat mencari uang. Seandainya ibunya tidak dalam keadaan sakit, mungkin ia hanya mencari uang untuk keperluan sekolahnya saja.

'Hah'

Sakura menghela napasnya. Kapan hidupnya bisa berjalan sesuai harapannya ?

"Cantik"

Sakura reflek menolehkan kepalanya kesamping. Bukan karena ada orang yang menyebutnya cantik, tapi karena dia mendengar suara kamera. Iya, orang yang menyebutnya cantik itu mengambil gambarnya tanpa ijin. Pelakunya tidak lain adalah Uchiha Sasuke.

"Hapus itu !" Geram Sakura, tapi Sasuke seolah tidak mempedulikannya. Pemuda itu malah tersenyum miring seolah mengejeknya.

"Kenapa kau menyebalkan sekali ?" Tanya Sakura sengit. Iris hijau miliknya menatap tajam sepasang netra berwarna kelam milik pemuda dihadapannya.

"Aku tidak merasa begitu" jawab Sasuke acuh tak acuh membuat gadis bertubuh semampai itu mendengus keras.

Dengan sedikit menghentakkan langkahnya, Sakura meninggalkan Sasuke yang lagi-lagi hanya bisa tersenyum menatap punggung kecilnya yang semakin menjauh.

Sakura melirik jam berwarna pink yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk menunggu datangnya kereta. Gadis itu memutuskan untuk membeli minuman di kedai yang ada disekitar sana, kemudian mendudukkan dirinya di bangku yang memang dikhususkan untuk menunggu kereta. Lagi, kata-kata Sai bermain dipikirannya. Semakin membuatnya gelisah. Sakura hanya mampu meluapkan perasaannya dengan meremas kaleng softdrink ditangannya.

"Ada masalah ?"

Sakura mendengus. Dia sudah sangat hapal dengan suara yang sering mengusik pendengarannya akhir-akhir ini. Dia pikir Sasuke tidak mengikutinya sampai kesini.

"Kau tidak tahu kata terima kasih ya ? Padahal hari itu aku sudah menolongmu yang kesiangan"

Sakura mendelik, mendapati Sasuke yang seolah sedang sibuk dengan kamera ditangannya.

"Sebenarnya apa maumu ?" Tanya Sakura langsung. Dia tidak mau berbasa-basi apalagi terlibat obrolan panjang dengan pemuda yang sekarang berdiri disampingnya.

"Aku tunggu kau akhir pekan ini, disini jam 10 pagi"

Sakura baru hendak protes tapi Sasuke segera berlalu begitu saja, meninggalkannya dengan salam berupa kerlingan mata.

Apa itu sebuah ajakan kencan ?

~oOo~

"Sakura, tadi malam Gaara datang dan membawakan ini"

Sakura menghentikan kegiatannya yang saat itu sedang menyisir rambutnya untuk menoleh kearah pintu kamarnya. Mendapati ibunya yang sekarang sudah mulai bisa berjalan menggunakan satu tongkat sambil membawa sebuah kantung kertas yang entah apa isinya. Ibunya meletakkan bungkusan itu dengan nyaman diatas kasur.

"Tadinya Kaa-san bermaksud membangunkanmu tapi Gaara melarangnya"

Sakura hanya mengangguk kecil mendengar penjelasan ibunya. Diraihnya kantung kertas berwarna biru muda dikasurnya. Hatinya sedikit berdesir saat mengetahui isinya. Sebuah mantel berwarna pink lembut, sangat cantik. Sepertinya harganya pun tidak murah. Ada secarik memo juga didalamnya.

Kuharap dia selalu bisa menghangatkanmu ditengah musim dingin kali ini.

Senyum tercipta begitu saja diwajah cantik Sakura. Gaara, pemuda yang berusia sama dengannya. Tidak pernah memperlakukannya seperti seorang wanita panggilan. Pemuda itu selalu memperlakukannya dengan cara yang manis.

"Kaa-san lihat, Gaara pemuda yang baik"

Sakura hanya mampu tersenyum mendengar perkataan ibunya.

"Apa kalian dalam sebuah hubungan ?"

Senyum diwajah Sakura sedikit memudar. Pertanyaan sederhana dari ibunya mampu menohok hatinya.

Hubungan ?

Iya, mereka dalam sebuah hubungan yang memiliki pengertian berbeda. Gaara membutuhkan tubuh Sakura dan Sakura membutuhkan uang Gaara. Saling menguntungkan bukan ?

"Kami hanya berteman"

Sakura tidak bisa menutup matanya ketika melihat raut kecewa ibunya, meski hanya sekilas. Gadis itu sangat paham perasaan ibunya saat ini karena ibunya sudah sering mengingatkannya untuk menikmati masa remaja sebagaimana mestinya, contohnya memiliki kekasih.

Seandainya ibunya tahu, sedetikpun tak ada niat Sakura untuk menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Ia merasa dirinya hina, terlalu kotor untuk bersanding dengan seseorang.

"Sakuraaaa !"

Sakura reflek menghentikan langkah kakinya. Begitupula dengan Haruno Mebuki dan Haruno Aya yang berjalan disampingnya. Gadis itu menoleh kesamping dan alisnya sedikit bertaut melihat Hyuuga Hinata yang berlari kecil untuk menghampirinya. Apa yang gadis itu lakukan di Suna ? Apa dia memiliki keluarga disini ?

"Senang bertemu denganmu disini Saku, ah selamat siang juga Baa-san" Hinata membungkukkan tubuhnya dihadapan Mebuki yang kemudian dibalas wanita paruh baya itu dengan senyum lembut.

Sakura sedikit merasa tersentuh melihat sikap lembut Hinata yang mencoba mengakrabkan diri dengan ibu dan juga adiknya meski dirinya sendiri masih menanggapi gadis lavender itu seadanya. Dia jadi teringat Ino, dia satu-satunya teman yang dimiliki Sakura hingga saat ini. Namun Ino dan Hinata berbeda, Ino berteman dengannya mungkin karena mereka sama-sama berkecimpung dengan dunia hitam, sedangkan Hinata ? Dia adalah tipe gadis rumahan yang begitu manis. Rasanya Sakura tidak berani berharap menjalin hubungan lebih dekat dengan gadis Hyuuga itu.

"Sakura kenapa tidak dimakan makanannya ? Tidak suka ya ? Atau mau aku pesankan yang lain ?"

Sakura sedikit gelagapan mendengar pertanyaan berantai dari Hinata. Ia merutuki kebodohannya yang sempat-sempatnya melamun diacara makan siang mereka. Padahal Hinata sudah mau berbaik hati mengajak Sakura, ibunya serta Aya untuk makan di restoran yang ternyata milik kakek Hinata.

"Ah tidak, aku hanya merasa seperti melupakan sesuatu" kilah Sakura, membuat Hinata dan juga Mebuki menatapnya dengan kedua alis bertaut.

"Kau ada janji dengan seseorang ?" Tebak Hinata

"Janji ?"

Itu bukan pertanyaan balik. Sakura seperti bertanya pada dirinya sendiri. Padahal tadi dia hanya membuat alasan saja, tapi mendengar kata janji membuat perasaan tidak nyaman singgah dihatinya. Gadis itu berusaha menggali ingatannya. Sebenarnya hal apa yang dia lupakan ?

Ah ! Sakura menggeram dalam hati. Uchiha Sasuke. Tiga hari yang lalu pemuda itu memintanya datang ke stasiun Konoha.

Sakura melihat jam ditangannya, pukul dua. Sudah lewat empat jam dari waktu yang diminta Sasuke.

Eh ? Tapi peduli apa ? Kenapa dia harus menuruti Sasuke ? Dia kan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pemuda itu. Berteman saja tidak.

TBC