Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairings: Chibi!Naru x Chibi!Sasu, slight KuraIta

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan kemungkinan berkelanjutan; series of oneshots. Untuk chapter ini, lebih menceritakan tentang Uchiha bersaudara. Maaf Kyou lama update fanfic ini dan fanfic lainnya. m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 3: Uchiha Brothers

Sasuke menatap remaja berusia 15 tahun di depannya dengan heran. Ia tak habis pikir akan perbuatan orang itu semalam. Padahal selama ini ia selalu melihatnya tampak elegan dan tak ada suatu pun yang dapat membuatnya meledak hingga sedemikian rupa. Padahal selama ini ia bersikeras bahwa jika orang itu sampai menunjukkan ledakan, maka dunia akan segera menjelang ajalnya. Berlebihankah? Tidak baginya karena orang itu sama sekali luput dari sifat yang dianggapnya tidak dewasa itu.

Orang itu? Sudah pasti ialah Uchiha Itachi; kakak dari Uchiha Sasuke yang dibangga-banggakan kedua orang tuanya.

Dan orang yang tadi malam membalik meja di ruang makan.

"Aniki?" panggil Sasuke. Ia berjalan dari depan pintu kamar Itachi menuju sang pemilik yang duduk di depan jendela sembari memandang kebun belakang rumah. "Aniki?"

Mata oniks meliriknya sekilas sebelum kembali pada kegiatan buang-buang waktunya. Tak lama, mata itu terpejam seolah tak ingin melihat apa-apa lagi.

Sasuke mengerti maksud sang kakak. Maka dari itu, ia hanya duduk di samping Itachi sambil membaca buku bergambar yang dibawanya.

Itachi sendiri, melihat adiknya membaca buku tersebut—dan bukan buku penuh tulisan (baca: ensiklopedia) yang merupakan favorit Sasuke karena tidak ingin disamakan dengan anak seumurannya (baca: bocah), mengangkat sebelah alis. Bukannya heran, ia hanya terkesan oleh anak itu karena hampir selalu berhasil membuatnya bertanya-tanya dalam ketertarikan.

"Memutuskan untuk kembali pada asalmu, Otoutou?" tanyanya setelah bungkam cukup lama.

Tidak terkejut dengan fakta bahwa sang kakak berbicara padanya, Sasuke membalas, "Aku nggak tau Aniki ngomong apa." Tangannya membalik lembaran buku bergambarnya.

Itachi memutar bola matanya. "Kecuali sangat menarik dan menantang, kau tidak akan sudi menyentuh sesuatu atau seseorang. Dan sekarang kau membaca buku bergambar yang aku tahu tidak menantang bagimu. Apa itu hanya halusinasiku saja?" cibirnya.

"Cama dengan Aniki yang cuma akan membuka mata pada cecuatu atau ceceolang yang menalik dan menantang. Aku lasa membalik meja makan tadi malam juga cuma halucinaciku caja," Sasuke mencibir balik. Kalau bukan karena pengucapannya yang masih cadel, tentunya Itachi tidak akan menganggapnya sebagai anak kecil berusia 5 tahun. Terkadang Sasuke berbicara seperti orang dewasa—dan itu sedikit mengerikan bagi Itachi.

"Kau tahu bagaimana sifat ayah, Otoutou, dan sayangnya aku tidak begitu suka dengan caranya merendahkan orang lain. Kebetulan tadi malam aku sedang banyak masalah, kebetulan ayah sedang PMS, kebetulan Dewa Usil sedang lewat dan voila~ meja makan menjadi korbannya," jelas Itachi dengan datar.

Sasuke menghela napas, membuat Itachi berjengit dalam hati. I mean, c'mon, he's 5 for God's sake!

"Memangnya Kulama itu ciapa? Pacalnya Aniki ya, campe-campe Aniki malah waktu ayah nyindil dia?" tanyanya polos dan nyaris membuat Itachi merosot dari kursinya.

Itulah perkaranya. Itachi baru saja pulang dari tempat les di mana guru privatnya mengajaknya makan malam karena mereka sudah lama tak bercengkerama. Di sana, sang guru menceritakannya banyak hal dari mulai kuliahnya, pekerjaannya, bahkan keluarganya, hingga sampai pada titik di mana Itachi merasa bahwa sang guru berhasil menempatkan diri di dalam salah satu ruang hatinya. Mungkin proses itu tidak terjadi secara instan karena dibandingkan guru privat lainnya, guru itulah yang paling akrab dengannya dan mampu membuatnya merasa bahwa ia sungguh dihargai dan disayangi. Dan untuk Fugaku, sang ayah, menyindirnya sebagai lelaki dengan tekad setengah hati karena harus membagi waktu antara kuliah dan kerja dan tidak bisa memberikan kesempurnaan bagi para murid, Itachi tidak akan tinggal diam. Berdasarkan hal itulah, Itachi membalik meja yang masih berisikan makanan kesukaan sang ayah. Untunglah saat itu Mikoto, sang bunda, sedang mengambil sesuatu di dapur dan Sasuke menemaninya.

Konsekuensi yang diterimanya adalah hukuman kurungan selama tiga hari di dalam kamar. Dan untuk menjawab pertanyaan Sasuke tadi: bukan, Kurama bukanlah kekasihnya meskipun di sudut hatinya, ia sedikitnya mengharapkan hal itu.

"Aku hanya tidak suka cara ayah menilai orang lain yang bahkan belum pernah ditemuinya secara langsung. Memangnya dia mengerti apa dari sepatah dua patah kata yang kuucapkan tentang sensei? Dasar brengsek…" geramnya—masih dengan nada datar.

Mata Sasuke membulat mendengar kakaknya mengumpat sang ayah—dan itu benar-benar tidak seperti Itachi yang sangat menghormati ayah mereka. Ia palingkan pandangannya dari buku bergambar untuk menatap sang kakak yang masih memperhatikan kebun belakang. "Cegitu malahnya Aniki cama ayah?" herannya.

Itachi menoleh sembari bertanya, "Anggap saja yang kurasakan ini sama dengan perasaanmu ketika ayah menganggap Naruto sebagai anak yang tidak pantas menjadi temanmu, Sasuke. Kau ingat betapa marahnya kau saat itu?"

Dan sesuatu menyentak bungsu Uchiha. Ia ingat betapa kerasnya tangan mungilnya menggebrak meja—lagi-lagi—makan sambil menunjukkan wajah berkerut tidak suka. Ia pun mengingat ekspresi sang ayah yang melongo tidak etis karena mendapati putera bungsunya marah kepadanya sementara sang bunda berusaha keras menahan tawa yang siap meledak dari mulutnya. Kala itu, ia benar-benar ingin memukul sang ayah dengan pentungan yang lebih besar dari badan dinosaurus Barney yang ada di serial Barney & Friends yang sudah ditontonnya hingga seri terakhir di penghujung umurnya yang ke-3. Ia sangat tidak suka jika ada yang mempertanyakan pilihannya dalam berteman atau jika ada yang mengolok-olok Naruto di depannya meskipun orang itu adalah ayah kandungnya sendiri. Mungkin Naruto memang tidak pandai berbicara bahasa Jepang dengan lancar tetapi Naruto bisa berbahasa Inggris dengan baik. Belum lagi mengingat bahwa Naruto adalah satu-satunya anak yang berani menegurnya di sekolah saat ia melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Naruto adalah anak yang memandang dirinya sebagai Sasuke, bukan seorang Uchiha, dan hal itu sudah lebih dari cukup bagi Sasuke untuk menganggapnya sebagai seorang teman yang berharga. Perasaannya saat itu sama dengan perasaan Itachi saat ini.

"Aniki cuka cama yang namanya Kulama itu?"

Itachi tersenyum kecil. "Apa kau menyukai Naruto, Sasuke?"

Tak terpungkiri, jawaban mereka pun sama.

"Kapan-kapan aku mau ketemu cama yang namanya Kulama itu ya, Aniki," ucap Sasuke kemudian.

"It's Kurama-sensei, Otoutou," koreksi Itachi. "Yah, kalau ada kesempatan, mungkin kau pun bisa melamar menjadi muridnya. Lagipula, sensei tidak sejauh yang kau pikirkan kok," tambahnya.

"Makcudnya?" bingung Sasuke.

"Sensei itu kakaknya Naruto. Namanya Namikaze Kurama."

"Eh?"

Like brothers~

_TBC_

Next chapter adalah Uzumaki Brothers. Stay tune~ ^^

Dan untuk teman2 yang udah menebak hadiah serta sesuatu yang dikubur di Time Capsule chapter 2 lalu, hontou ni arigatou gozaimasu! Masih ada kesempatan menebak sampai Kyou membeberkan jawabannya nanti! Pemenangnya akan mendapatkan mini fanfic ato fanart sesuai rikues~

So, answers and reviews? No flame, please.

_KIONKITCHEE_