Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairings: Chibi!Naru x Chibi!Sasu, slight Kurama x Itachi

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan series of oneshots. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 5: Rainbow

Pagi itu hujan turun dengan deras, membasahi bumi dengan kesegarannya. Orang-orang yang terbiasa bangun pagi, kini seperti tertawan oleh sejuknya udara yang tercipta. Mereka yang terbiasa berolahraga, kini seperti diberikan waktu untuk beristirahat sejenak. Mereka yang terbiasa kesiangan, kini seperti dininabobokan lebih dalam. Mereka yang menyukai hujan, mulai bermain di bawahnya. Namun, mereka yang tidak menyukainya merasa seperti menunggu hukuman berakhir. Pemilik alasan yang terakhir adalah Sasuke karena ia tidak menyukai hujan.

Bagi Sasuke, hujan itu menyusahkan. Ia tak suka sensasi dingin yang dibawanya. Ia tak suka basah ketika harus memulai aktivitasnya. Ia tak suka bertingkah seperti bocah yang memilih untuk bermain-main di bawah rinai hujan. Ia tak suka menjadi bocah dan ia takkan menjadi bocah.

"Merajuk seperti itu apa namanya kalau bukan 'bocah', Otoutou?" tanya Itachi yang berdiri di samping adiknya yang sedari tadi menunjukkan wajah sebal. Ia bertanya seakan sudah mengerti apa yang dipikirkan si bungsu, dan kalau wajahnya bisa jujur dan lepas berekspresi, tentunya ia sudah menunjukkan betapa gelinya ia melihat tingkah adik semata wayangnya itu.

"Aku nggak melajuk kok!" sanggah Sasuke sambil menggembungkan sebelah pipi, membuat Itachi mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk adiknya itu saking gemasnya. "Aku cuma lagi nunggu hujan belenti!" tambahnya lagi untuk meyakinkan sang kakak.

Sudut bibir si sulung Uchiha bergetar menahan senyum yang ingin sekali merekah di wajahnya. "Kau bisa berangkat ke sekolah naik mobil, Otoutou. Minta saja pada Paman Shisui untuk mengantarmu," ujar Itachi.

Menggeleng kasar, Sasuke melipat tangannya di depan dada sambil berkata, "Nggak mau! Kalo cama paman, nanti yang ada malah main ke tempat lain! Aku mau ketemu Naluto!"

Dan Itachi tak bisa menahan dirinya lagi. langsung saja ia rengkuh tubuh mungil sang adik ke dalam pelukannya, membuat Sasuke terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. "Kawaii na otoutou da~" bisiknya dengan nada riang. Ia pun mengacak-acak rambut duckbutt itu dengan gemas.

Sasuke, yang masih tidak bisa berkata-kata, hanya bisa mempersilakan sang kakak untuk memanjakannya—ia memang tidak suka menjadi bocah tapi pengecualian untuk kakak kesayangannya. Meskipun begitu, tetap saja ekspresinya seakan mengatakan bahwa ia tak suka diperlakukan seperti anak kecil—he's 5 for God's sake! Rasa-rasanya frasa itu sangat kerasan untuknya.

"Ayah bica kena celangan jantung kalo tau Aniki kayak gini…" gumamnya.

"Kau belum tahu bagaimana ayah memperlakukanmu sewaktu bayi. Kau seperti raja baginya," balas Itachi masih sambil memeluk sang adik. Ia teringat pada ekspresi sang ayah sewaktu dimarahi putera bungsunya. "Bahkan ayah hanya bisa melongo tak percaya ketika kau memarahinya tempo hari," tambahnya.

Menggembungkan kedua pipinya, Sasuke memukul pelan wajah Itachi. "Mou, Aniki! Waktu itu 'kan kalena ayah nyindil Naluto! Kalo nggak juga aku nggak bakalan malah kok!" serunya membela diri. Itachi hampir mencium pipi itu jika saja klakson mobil tidak menghentikan niatnya—bukannya tidak boleh sih, tetapi itu bukan karakternya.

"Itachi-kun," sapa seorang lelaki berambut merah cepak.

Mata oniks sulung Uchiha melebar sedikit. "Namikaze-sensei," sapanya balik. Sasuke menolehkan kepalanya untuk melihat pemilik marga yang sama dengan Naruto.

"Cacuke!" Baru saja dipikirkan, orang yang dimaksud sudah menyapanya duluan.

Bungsu Uchiha melepas lengan Itachi yang ternyata masih melingkari pundaknya. Lalu ia menghampiri sosok sahabatnya di dalam mobil. Tindakan itu membuat si sulung langsung membuka payung dan menyusul sang adik untuk melindunginya agar tidak basah.

"Nalu pikil Cacuke udah belangkat! Telnyata macih nunggu ujan belenti ya?" tanya Naruto yang kini duduk di pangkuan sang kakak demi berbicara dengan sang Uchiha. Kurama sendiri tidak keberatan dengan hal itu karena ia tahu Naruto tidak bermaksud mengganggunya dalam menyetir mobil.

"Hn." Hanya itulah balasan Sasuke, membuat Itachi menghela napas dan Kurama menaikkan sebelah alis. Mungkin pria berambut merah itu berpikir bahwa 'hn' memang trademark keluarga Uchiha.

Naruto nyengir lebar sebelum menoleh ke kakaknya. Dan Kurama, tahu persis apa yang diinginkan adik bungsunya itu, balas tersenyum. "Ayo naik! Biar kuantar!" ajaknya pada Uchiha bersaudara itu.

Itachi tersenyum kecil. "Apa tidak merepotkan?" tanyanya segan. Meskipun ia memang ingin sesekali berangkat bersama gurunya, ia tidak ingin terlihat seperti sedang mencari muka.

Kurama menggeleng pelan. "Tidak apa. Naiklah!" ujarnya sambil membukakan pintu belakang dari kursi depan. Namun, belum sempat mereka naik melalui pintu tersebut, Naruto langsung pindah ke belakang.

"Nalu aja yang duduk di belakang! Ita-nii bica duduk di depan!" seru bocah itu. Kemudian, ia menarik lengan Sasuke agar segera duduk di sampingnya. "Nanti 'kan Nalu ma 'Cuke tulun duluan!" tambahnya.

Sulung Namikaze hanya tersenyum sebelum mengangguk pada Itachi yang masih tampak segan. "So the king's said~" katanya, meyakinkan remaja itu untuk duduk di sampingnya. Tak lama, Itachi pun memasuki mobil dan duduk di samping sang pengemudi.

"Maaf merepotkan," ucap Itachi kemudian. Kurama hanya mengibas-kibaskan tangannya pertanda ia tak keberatan.

Dari kursi penumpang, Sasuke memperhatikan kakak sahabatnya. Rupanya orang yang menjadi sumber kemarahan Itachi pada sang ayah waktu itu adalah orang ini. Seorang pria bertubuh tegap, berambut merah pendek, bermata hazel, dan berwajah tampan. Suasana yang dibawanya pun terasa hangat, sama seperti ketika ia sedang bersama Naruto. Tidak heran kakaknya yang terkenal sulit merasa nyaman dengan seseorang malah seperti terjerat dalam jaringnya.

Haduh, Sasuke! Kamu itu masih kecil! Kenapa pemikiranmu bisa sampai seperti itu?

"Ne, 'Cuke, nanti kita tulun di taman aja ya? Dali cana kita jalan kaki aja!" ajak Naruto tiba-tiba.

Kurama dan Itachi yang mendengarnya bermaksud melarang ketika terdengar jawaban dari Sasuke.

"Hn. Bawa payung lebih, nggak?"

Yang otomatis membuat Itachi keheranan karena sewaktu menunggu di depan rumah tadi, Sasuke tampak sangat tidak suka berbasah-basahan. Akan tetapi, ketika mendapati Naruto memanggilnya, Sasuke langsung bereaksi dengan menghampirinya tanpa memikirkan hujan sama sekali. Ia pun menggeleng pelan.

"Payung Nalu gede kok! Kita cama-cama aja ya pake payungnya!" seru Naruto lagi. Ia senang karena Sasuke menyanggupi permintaannya walaupun ia tahu sahabatnya itu sangat tidak suka hujan. Ia merasa istimewa.

"Hn."

"Naru-chan, aku tidak mungkin membiarkanmu dan Sasuke-kun berjalan di bawah hujan deras ini! Nanti kalian bisa sakit!" sanggah Kurama berusaha mengurungkan niat adiknya.

Memutar bola mata, Naruto membalas, "Makanya 'kan ada payung, Nii-tan! No wollies!"

"It's hard not to, Lil bro," gumam Kurama pelan. Semenjak kejadian Naruto pergi sendirian ke apartemen Deidara, pria itu menjadi lebih protektif terhadap adik bungsunya. Bukannya ia tak percaya tapi memang sudah wataknya begitu dan juga merupakan kewajibannya sebagai kakak tertua yang mewakili sang ayah.

"Tenang aja, Nii-tan! Nalu nggak cendili, ada Cacuke kok!" Bocah berambut pirang itu bersikeras. Sebelah tangannya menggamit jemari Sasuke seakan meminta pertolongan. Dan permohonan itu terdengar jelas.

"Aku akan menjaganya, Namikaze-san. Tidak pellu khawatil," ujar Sasuke, membuat kedua kakak itu menatapnya—dari kaca spion dalam mobil—dengan sedikit terpana. Okeh, baiklah. Mereka baru saja mendengar seorang bocah berusia 5 tahun berkata akan menjaga bocah lainnya dan itu terdengar seperti orang dewasa yang mengatakannya! Bagi Itachi, hal itu terdengar seakan Sasuke meminta izin secara tidak langsung padanya untuk merestui hubungannya dengan Naruto. Sementara bagi Kurama, hal itu terdengar seperti ada yang meminta izinnya agar merelakan Naruto untuk menikah. Ya ampun! Kenapa bisa sampai seperti itu?!

"Itachi-kun, adikmu sama umurnya dengan Naruto, benar?" tanya Kurama pada Itachi sambil berbisik.

Mengangguk, Itachi menjawab, "Hanya beda tiga bulan kurasa." Kurama pun mengerang dalam ketidakpercayaan. Tiga bulan saja tapi bisa tampak seperti—

Sebuah kecupan hangat terasa di pipi sang Namikaze sulung. Ia mendapati wajah Naruto hanya berjarak beberapa senti di sampingnya.

"Can we, Big Blo?" pinta Naruto dengan senyum manis yang mampu melelehkan es sedingin apapun. Belum ada yang bisa mengalahkannya hingga sekarang.

Kurama tahu ia akan kalah. Ia tahu bahwa Naruto tidak akan menyerah hingga mendapatkan apa yang ia inginkan. Walaupun ia bersyukur adiknya itu tidak pernah meminta yang aneh-aneh, tetap saja ia merasa Naruto curang karena memiliki jurus mematikan seperti itu!

"Pweeeeaaasee?"

Ah, sudahlah… Ia memang sudah kalah. Kurama pun menghela napas panjang.

"But promise me you'll stay safe,okay?"

"OWKAY!" Naruto lalu kembali duduk manis di samping Sasuke yang terlihat merekahkan seulas senyum meskipun tipis.

"Dangerous enough?" tanya Itachi yang mengerti perasaan sang guru. Ia pun demikian jika harus berhadapan dengan jurus mematikan Sasuke.

"Likewise, Dear," jawab Kurama, tak sengaja mengucapkan kata yang tak seharusnya terlontar untuk muridnya. Namun, wajahnya tidak menunjukkan hal tersebut. Ia pun tak memperlihatkan ekspresi ketika menyadari bahwa remaja yang duduk di sampingnya memalingkan muka untuk menyembunyikan rona merah yang mewarnai pipinya. Ah, manisnya!—ia pun memukul kepalanya sendiri dalam pikirannya.

"Nii-tan, belentinya di halte itu ya," ujar Naruto setelah menyadari bahwa taman dekat sekolahnya sudah kelihatan. Ia menunjuk sebuah halte bus yang sepi dari orang-orang—yang malah membuat Kurama semakin ragu untuk menurunkannya.

"Naru-chan, sepertinya—"

"You said it's okay so keep youl plomise!" potong Naruto sembari mengambil payung dari dashboard belakang mobil. Ia pun membuka payung lalu menarik tangan Sasuke dan mengajaknya keluar setelah mobil tersebut berhenti tepat di depan halte. "See you latel, Nii-tan, Ita-nii!"

"Bye, Aniki!" timpal Sasuke seraya berjalan di bawah payung bersama Naruto… meninggalkan kedua kakak yang masih menatap mereka dengan cemas.

Sejenak, tidak ada yang membuka suara seiringan dengan dua pasang mata yang masih memperhatikan kedua sosok mungil tersebut berjalan di trotoar menuju TK Konoha. Setelah yakin mereka tidak apa-apa, Kurama menghela napas. "Shall we?"

Itachi mengangguk. Tak lama, ia merasakan mobil sang Namikaze pun melaju, berbelok di tikungan yang berseberangan dengan sekolah adik-adik mereka.

Dalam perjalanan, keheningan lebih banyak mendominasi suasana mobil. Yang tetap pada frekuensinya hanyalah hujan yang terdengar seperti sedang berbisik meskipun turun deras di luar sana. Keheningan tersebut bukanlah sesuatu yang kaku melainkan nyaman karena pada dasarnya Kurama dan Itachi bukanlah tipe yang banyak bicara. Kurama, meskipun kedua adiknya bersikap secerah mentari pagi dan hangat pada siapapun seperti sang bunda, ia lebih mirip dengan sang ayah yang tenang bagai bulan. Tentu saja ia pun hangat kepada siapapun yang membuatnya merasa nyaman tetapi tetap saja tidak seceria adik-adiknya meskipun terkadang sifat pemarahnya menganulir segalanya—seperti yang terjadi di apartemen Deidara tempo hari. Dan Itachi, sudah menjadi trademark keluarga untuk bersikap tenang dan penuh pemikiran. Oleh karena itu, keheningan yang tercipta sama sekali tidak mengganggu mereka.

International High School of Konoha sudah terlihat. Kurama pun membelokkan mobilnya memasuki gerbang tinggi sekolah. Ia terus melaju hingga sampai di gedung bercat off-white lalu berhenti di depan pintu masuk. Ia membuka kaca jendela untuk menyapa petugas yang terlihat sedang mengeruk air yang menggenang.

"Good morning, Sir! Can you open the parking lot for me?"

Sang petugas menoleh dan mendapati salah satu guru di sana langsung membuka pintu yang menuju parkiran. "Saya pikir Anda datang siang, Namikaze-sensei," sapanya. Ia tidak menggunakan bahasa Inggris karena sudah terbiasa dengan pria berambut merah itu—bahkan sapa sang Namikaze tadi sudah seperti kode baginya setiap hari.

"Kebetulan hari ini tidak ada kuliah, jadi saya bisa datang pagi," balas Kurama. "See you later," tambahnya sebelum kembali mengemudikan mobil untuk diparkirkan.

Itachi, yang memperhatikan interaksi tersebut, tersenyum tipis. "Anda memang akrab dengan petugas di sini ya, Namikaze-sensei," katanya.

Kurama tentunya tak melewatkan senyum itu dari sudut matanya. Bibirnya sendiri menyunggingkan senyum yang lebih lebar. "Selama mereka ramah, tak ada alasan untuk tidak bersikap ramah juga, benar?" Ia lalu menghentikan mobilnya di dekat pintu dalam.

Itachi membuka pintu mobil lalu keluar. Ia menunggu sang guru keluar setelah itu mereka berjalan memasuki ruangan.

"Kelas apa pagi ini?" tanya Kurama sembari menekan tombol elevator.

"Kelas Personality Development," jawab Itachi yang bergerak masuk ke dalam elevator setelah terbuka.

"Ah, kelas Mr. Hatake yang terkenal jenius tapi sering terlambat itu?"

"The one and the only," cibir Itachi, membuat Kurama nyengir. "Setelah itu kelas Sensei," tambahnya memberitahu.

Kurama mengangguk. "Be ready for a pre-test," ujarnya masih dengan cengiran lebar. Ia tahu para siswa sudah mengetahui kebiasaanya memberikan tes sebelum materi baru tetapi tetap saja ia ingin mengingatkan kembali.

"Anytime, anywhere," balas sang Uchiha sambil menyeringai. Mau seperti apapun tesnya, ia yakin tetap bisa mengerjakannya, dan hal tersebut sudah dipahami sang guru.

Puas dengan jawaban itu, Kurama bergerak keluar setelah elevator membuka di lantai para guru. Ia menoleh pada sang remaja yang masih di dalam kotak berjalan itu lalu berkata, "Let's have lunch together later. Wait for me at canteen,'kay?" Pintu elevator pun tertutup.

Dan Itachi terdiam. Ia baru saja diajak makan siang oleh sang guru di kantin sekolah yang pastinya banyak didatangi murid. Oleh seorang guru part-time di sekolah internasional yang didatanginya. Seorang guru yang dikagumi dan disu—ia menepuk dahinya sendiri dalam pikiran.

Baiklah. Ia harus berhenti merasa seperti seorang gadis yang kasmaran. Tantangan sang guru akan ia ladeni dengan jantan.

Kembali pada kedua bocah yang ternyata masih mendekam di taman yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari TK Konoha. Naruto dan Sasuke berjalan di bawah payung warna-warni yang cukup besar untuk melindungi mereka dari hujan. Bocah berambut pirang tersebut bernyanyi tentang hujan sementara bocah yang satunya melihat pemandangan sekitar.

"Mau campai kapan kita beldili di cini? Kamu tau 'kan kalo aku nggak cuka basah-basahan?" tanya Sasuke pada sahabatnya yang masih bersenandung.

"Nalu tau kok, 'Cuke! Tenang aja~" ujar Naruto sambil nyengir kuda. "Nalu cuma pengen lebih lama cama 'Cuke kayak gini. Mana tau bica liat pelangi!" tambahnya dengan ceria.

Menaikkan sebelah alis, Sasuke membalas, "Pelangi? Ini 'kan masih hujan, mana ada pelangi!"

"Ini!" Naruto menunjuk ke payungnya sendiri. "Walna-walni kayak pelangi!" riangnya, membuat Sasuke menghela napas.

"… Dobe."

Naruto sedikit memiringkan kepalanya ke kiri. "Dobe? Apa itu? Nama makanan?" bingungnya, dan lagi-lagi membuat Sasuke menghela napas. Terkadang ia bingung dengan Naruto yang tidak mengerti kata-kata sederhana yang ia ucapkan tetapi malah menguasai kata-kata sulit dalam bahasa Inggris. Apa di rumah tidak ada yang mengajarinya kosakata dasar bahasa Jepang? Ah, apa justru kata-katanya sendiri yang terbilang sulit untuk anak seumurannya?

"Ne, 'Cuke, apa 'Cuke tau kalo di ujung pelangi ada halta kalun telsembunyi?" tanya Naruto tiba-tiba, melupakan pertanyaannya yang sebelumnya.

"Halta kalun?"

"Iya, halta kalun! Katanya kalo bica dapetin halta kalun yang di ujung pelangi, pelmohonan kita bakal telkabul!" seru Naruto dengan mata berbinar-binar.

Sasuke mendengus, "Itu cuma tipuan, Naluto."

Bocah berambut pirang yang dimaksud menggembungkan pipinya. "Tapi kalo benelan ada 'kan bagus! Kita jadi bica mohon apa aja dan pasti telkabul!"

Memutar kedua bola matanya, sang Uchiha mencibir. "Kalo ada, 'kan? Memangnya mau minta apa cih? Kalo bica dilaih dengan ucaha cendili 'kan lebih bagus."

"Nalu mau cama-cama Cacuke celamanya! Nalu nggak mau picah dali Cacuke!"

Sasuke terdiam. Ia menatap bola mata sebiru langit cerah itu dan mendapati keseriusan dan kesungguhan di dalamnya. Entah kapan, jemari kiri sang Namikaze sudah menggenggam jemari kanannya erat. Seakan tak menginginkan dirinya pergi jauh. Seakan tak mengizinkan ikatan mereka terpisah. Seakan…

"Naluto…"

"Nalu benel-benel nggak mau Cacuke pelgi…" lirih bocah berambut pirang itu dengan mata berkaca-kaca, membuat Sasuke terkejut setengah mati. "Nalu… Nalu…"

Sasuke mengelus helaian matahari sahabat tersayangnya itu. "Aku nggak bakal ke mana-mana, Naluto. Tenang aja," ujarnya menenangkan.

Sebulir airmata jatuh mengaliri pipi kecokelatan sang Namikaze. Ia mati-matian menahan perasaannya yang menumpuk dalam hati. Ingin ia terus bersikap ceria tanpa ada masalah sedikit pun, namun ketika pikirannya mengingat telpon tadi malam dari sang ayah, ia tak bisa menahannya lagi.

"Naru-chan, mau tinggal sama ayah di Los Angeles? Kalau Naru-chan tinggal di sini, nii-tan sama nii-chan bisa lebih fokus sama kegiatan mereka, dan Naru-chan akan bersama ayah terus! Di sini banyak mainan dan banyak juga teman-teman sebaya untuk Naru-chan! Ya? Tinggal sama ayah ya di sini?!"

Dan ia tahu ia takkan menolak karena ia tak mau menyusahkan ayah dan kedua kakaknya… tetapi, ia juga tak ingin berpisah dari Sasuke! Karena itulah ia berkata tak ingin Sasuke pergi sebagai ganti tak bisa mengatakan bahwa dirinyalah yang akan pergi.

"Naluto, aku nggak bakal ke mana-mana. Jadi, jangan menangis," ucap Sasuke lembut meskipun masih sedikit terkejut dengan sikap sang sahabat yang tiba-tiba bersedih. Jemarinya yang bebas menghapus jejak airmata di pipi chubby Naruto.

Berusaha tersenyum, sang Namikaze mengangguk. Setidaknya ia tahu bahwa Sasuke akan selalu berada di Jepang ketika nanti ia pindah ke Los Angeles. Mungkin ia bisa meminta nomor telepon dan email Sasuke nanti. Ia takkan membiarkan ikatan persahabatan mereka putus hanya karena dirinya pindah.

"Cacuke, Nalu boleh egois?" tanyanya pelan. "Temani Nalu mencali halta kalun di ujung pelangi ya?"

Meskipun tahu bahwa harta karun itu tak nyata, Sasuke balas mengangguk. Akan ia penuhi permintaan itu jika berarti Naruto tak lagi bersedih. Dan senyuman yang merekah di wajah kecokelatan itu merupakan harta karun terindah di bawah pelangi yang menaungi mereka.

Ya. Harta karun pelangi itu ada di depan matanya.

-.-.-TBC-.-.-

Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh! Kyou kejam sekali mau misahin merekaaaaa! *digetok* Tapi apa boleh buat, ceritanya memang begitu… OTL Kyou berencana mau nerusin fanfic ini sampe mereka dewasa, makanya perpisahan itu perlu! *digetok lagi gara2 spoiler* Untuk Kurama dan Itachi juga… Temen2 mau dua pasangan itu jadian ato cukup brotherly love aja?

Next scene: Picnic

So, answer and reviews? No flames, please.

_KIONKITCHEE_