Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairings: Chibi!Naru x Chibi!Sasu, slight Kurama x Itachi

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Jadi jangan bingung ya kalo Kyou terkesan nggak konsisten dalam menggunakan nama marga mereka. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 6: Picnic

"YOU ALWAYS DECIDE SOMETHING SO SUDDENLY! I DON'T EVEN KNOW IF I SHOULD GET ANGRY OR NOT AT YOU!"

"You're definitely angry, Ahodara," gumam seorang lelaki berambut merah yang bersandar di pintu rumah Namikaze.

"Shut it, Kusorama!" cela Deidara pada sang kakak sebelum kembali pada sang ayah yang tengah menelepon mereka. "Kenapa baru sekarang bilangnya?! Have no time? Always busy with your fucking job—"

"AHODARA!" potong Kurama meskipun terlambat menghentikan kata-kata tak pantas itu. "Think of Naruto! He's right here!"

Deidara pun melirik ke sofa tempat Naruto duduk sambil memeluk bantal. Hatinya sedikit mencelos ketika wajah ceria sang adik kini terlihat muram. Namun, kemarahannya jauh lebih besar ketimbang penyesalannya… tentu saja terhadap sang ayah—siapa lagi? Ia mendecak kasar di telepon.

"Memangnya Ayah pikir Naruto akan setuju kalau mendadak begini, hah? Apa Ayah pikir Naruto bisa dengan mudah—"

"Naruto sudah bilang setuju, Dei. Dua hari lalu Ayah meneleponnya dan dia bilang ya," potong Minato dari negeri seberang, dan penjelasan itu semakin membuat pemuda berambut pirang panjang itu naik pitam.

"OH! Begitu rupanya!" cibir Deidara. "Melangkah duluan sebelum berdiskusi dengan kedua kakaknya di sini yang notabene ADA DI SAMPINGNYA dibandingkan ayah yang JAUUUH DI SANA, lalu membuatnya SETUJU begitu saja, IMING-IMING apa yang ayah TAWARKAN pada Naruto, HAH?!" bentaknya sekali lagi. "YOU'RE SELFISH!"

"AHODARA! Jaga—"

"You have no right to speak like that to me, Son!" Suara Minato kembali terdengar dari speaker telepon yang memang sengaja dikeraskan, membuat ketiga anaknya, terutama Deidara, terdiam. Untuk sejenak, tidak ada satupun yang membuka suara. Tak lama, Minato kembali melanjutkan kalimatnya. "I've been thinking thoroughly of this matter. Both you and Kurama are very busy with your own activities—heaven knows whether you're constantly right beside Naruto or not. I just can't ease my mind when thinking he's been by himself for all this time! Don't you understand?"

Deidara menunduk. Ia tahu hal itu, sangat tahu karena ia memang tidak berada di sisi sang adik selama ini. Apartemennya jauh, sekolahnya sibuk, dan teman-temannya selalu mengajaknya pergi bersama sehingga muncullah kejadian di mana Naruto berkunjung sendirian ke apartemennya—malam-malam pula! Itulah kali pertama ia sangat menyesal tidak memperhatikan sang adik yang rela membahayakan nyawanya sendiri demi menemuinya. Belum lagi air mata penyesalan karena menyalahkan diri sendiri yang mengaliri pipi bergaris Naruto, Deidara merasa sangat gagal sebagai seorang kakak. Bahkan, meskipun senyum secerah mentari itu sudah kembali menghiasi wajah adiknya, hatinya masih merasa sakit oleh rasa tidak berguna yang hingga kini masih mendekam begitu kuat.

"Dei-nii-chan,"

Satu tarikan pada bagian bawah kaos Deidara membuat remaja itu tersentak dari penyesalannya. Ia mendapati sang adik yang seharusnya duduk di sofa sudah berdiri di dekatnya.

"Nalu mau cama ayah. Gapapa ya?" pinta Naruto sambil tersenyum memohon—yang justru semakin membuat Deidara menyesal.

Ia tahu makna di balik senyum itu. Meskipun orang lain akan melihatnya sebagai senyum pengharapan, ia lebih dari tahu bahwa senyum itu adalah senyum di mana harapan justru mati-matian dikekang. Naruto tersenyum seperti itu bukan karena memang ingin bersama sang ayah tetapi karena tidak ingin menyusahkan kedua kakaknya yang dapat memperbesar perihal kecil seperti kepindahannya ke Los Angeles.

Perihal kecil, benar?

"Bukan belalti kita gak bica ketemu, 'kan?" ucap Naruto kemudian. Tangan mungilnya menggenggam erat kaos kakaknya itu demi menahan gejolak dalam dirinya yang masih seperti badai.

Dan sebulir air mata mengaliri pipi Deidara. Ia memandang wajah adiknya yang juga memerah menahan tangis yang siap tumpah kapan saja. Dalam satu sapuan, ia memeluk adiknya erat tak terbantahkan… membiarkan tangis bisu sebagai selimut mereka.

Masih di tempat yang sama, Kurama memperhatikan kedua adiknya dengan tatapan nanar. Perlahan, ia berjalan menuju telepon yang masih tersambung dengan sang ayah lalu mematikan fungsi loudspeaker-nya. Ia pun mengambil telepon tersebut untuk berbicara dengan sang ayah secara privat.

"Promise me you'll take care of him, Oyaji? Love and protect him more than we did here. Can you promise that?"

"As much as I love to promise you, Son, I'll prove it to you instead."

Sebuah janji di atas ketidakberdayaan seorang kakak dalam melindungi adiknya. Sebuah janji di atas lubang hati yang menganga lebar dan semakin meneteskan air merah. Sebuah janji…

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sasuke terdiam. Tubuhnya seakan membatu. Udara di sekelilingnya pun bagai membeku. Ramainya dunia pun terdengar membisu. Apa yang baru saja terjadi? Apa yang baru saja didengar telinganya? Informasi apa yang baru saja menusuk jantungnya? Apa? APA?

"… Cacuke?"

Apa yang baru saja dikatakan Naruto kepadanya?

"Cacuke—"

"Tadi bicala… apa?" Sasuke bertanya secara otomatis seakan saklar kesadarannya beralih fungsi menjadi sistem 'bertanya otomatis'. Sungguh ia akan mengulangi hal itu jika jawaban yang diterimanya sama dengan apa yang didengarnya tadi.

Naruto, berdiri di depan pintu rumah keluarga Uchiha dan bermaksud mengajak sahabatnya itu piknik bersama, menggigit bibir bawahnya sambil memainkan jemarinya dengan gelisah. "Nalu bilang mau ngajak Cacuke piknik baleng cebelum Nalu pindah. Cacuke… mau, 'kan?"

Pindah? Naruto mau pindah? Ke mana? Kapan?

"… Kenapa?" Tanya itu yang justru keluar dari mulut sang Uchiha. Mata oniksnya menatap safir di hadapannya tanpa berkedip seakan menyampaikan riak yang perlahan semakin besar dalam dirinya. Dan karena tak mendapatkan jawaban untuk tanyanya, Sasuke mengalihkan pandangannya pada sosok kakak sahabatnya yang berdiri di belakang. "Why?"

Kurama pun tidak memberikan balasan apa-apa… yang justru membuat sesuatu dalam diri Sasuke meledak,

"WHAT THE HELL?!"

membuat Naruto terlonjak kaget, dan secara tidak langsung memanggil Itachi yang berada di dapur.

"Ada apa, Sasuke?" tanya Itachi segera setelah mendengar teriakan adiknya. Ia mendapati Naruto dan Kurama berada di depan pintu rumah keluarganya. "Naru-chan dan Namikaze-sensei? Silakan masuk!" ajaknya setelah menyadari bahwa Sasuke belum mempersilakan mereka masuk.

Sulung Namikaze tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Naru-chan hanya ingin mengajak Sasuke piknik besok. Bolehkah?" tanyanya.

"Ya, tentu saja," jawab Itachi dengan wajah sedikit bingung ketika mendapati adiknya menatap marah kepada sang guru. Ia pun menatap orang yang sama dengan penuh tanda tanya. "Did I miss something?"

Belum sempat Kurama menjawab, Sasuke langsung menarik Naruto—yang masih terdiam dan merasa bersalah—masuk ke dalam rumah dan bermaksud mengajak Naruto ke kamarnya. Dan sebelum sempat kedua pemuda itu bertanya atau bahkan menghentikannya, Sasuke mendesis ketus.

"Stay away f'om us!"

Sukses membuat kedua lelaki yang mendapat semburan itu membeku di tempat dan hanya bisa melihat mereka menaiki tangga menuju kamar si bungsu Uchiha.

Itachi—meskipun tidak akan mengakui secara gamblang—mendapati dirinya melongo atas sikap adiknya itu. Bukan tidak pernah melainkan jarang sekali Sasuke berkata seperti itu. Terakhir kali ia melihatnya justru ketika sang ayah yang menggantung mulut dengan tidak percaya setelah Sasuke menggebrak meja karena tidak suka Naruto dihina. Tempo itu, Sasuke berkata pada sang ayah untuk menjauh darinya sebelum meminta maaf atas kesalahannya menjelekkan sahabatnya… dan sekarang…

"My brother's angry and definitely evil-snake-look-alike. Mind explaining?" Itachi bertanya pada sang Namikaze yang masih berdiri mematung di depan pintu. Ia hampir merasa kasihan pada lelaki itu yang baru kali ini terkena semburan adiknya namun diurungkannya karena ia yakin Sasuke tidak akan marah tanpa sebab apalagi atas hal yang berkaitan dengan sahabat tersayangnya.

Kurama berkedip beberapa kali sebelum menyadarkan dirinya. Lalu ia menjelaskan kepada Itachi hal yang mungkin membuat Sasuke marah meskipun dalam hati ia masih bertanya-tanya apakah Sasuke memang masih berusia lima tahun atau itu hanya kamuflase saja.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Pintu kamar bungsu Uchiha terkunci rapat, mengurung dua bocah lelaki dengan perasaan yang berkecamuk. Sasuke masih menghadap pintu dengan kunci di tangannya sementara Naruto berdiri di dekat meja belajar sambil menatap sahabatnya itu dengan cemas. Perlahan, ia menghampiri Sasuke yang masih terdiam, bermaksud meraih tangannya ketika tubuh itu berbalik dan sepasang mata oniks menatapnya tajam.

"… Kenapa?"

Tanya itu berulang kembali. Naruto mengerti maksudnya tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat warna malam di hadapannya memicing dengan luka yang semakin mengoyak lebar. Ia tahu bahwa Sasuke tidak akan suka dengan hal itu. Ia sadar bahwa Sasuke tidak menginginkannya pergi—atau itulah harapannya. Ia jelas melihat bahwa Sasuke merasa tersakiti dengan keputusan yang mendadak itu. Ingin ia meminta maaf tetapi kalau dirinya berada di posisi Sasuke, ia tidak ingin sahabatnya minta maaf tetapi memberitahunya bahwa semua hanyalah candaan yang patut ditertawakan. Namun ini bukan candaan, keisengan, ataupun kebohongan. Ini kenyataan yang tak lama lagi akan terjadi.

"Kenapa halus pindah?"

Ia harus pergi dari Konoha.

"Kenapa? Nalu?!"

Ia tidak boleh menyusahkan keluarganya.

"Naluto?!"

Ia harus pergi ke Los Angeles dan meninggalkan sahabat tersayangnya.

"NALU—"

Ia harus pergi meninggalkan Sasuke… yang kini dipeluknya erat.

Bungsu Uchiha itu terkejut mendapati dirinya diterjang oleh pelukan erat Naruto. Ia lebih terkejut lagi ketika merasakan tubuh itu gemetar hebat seakan menahan sakit yang tiada duanya. Lehernya terasa panas oleh hembusan nafas yang bercampur dengan air mata… lalu tersadar akan tangisan bisu yang tidak ia sangka menghiasi matahari miliknya.

Matahari miliknya seorang.

"… Cacuke…"

Bahkan suara itu terdengar tidak lebih keras dari bisikan, membuat Sasuke balas memeluk Naruto dan mengelus helaian pirangnya.

Bungsu Namikaze-Uzumaki itu tersenyum kecil merasakan usapan di kepalanya. "'Cuke…"

"Hn?"

"Nalu cayang 'Cuke…"

Sasuke terdiam dari geraknya. Bukan tidak pernah mendengar Naruto mengatakan hal itu melainkan Sasuke seperti mendengar kalimat perpisahan yang sesungguhnya. Mungkin mereka bisa bertemu lagi suatu hari nanti tetapi mengapa hal itu terdengar seperti perpisahan untuk selamanya? Tidak bisa ia pungkiri ketidakberdayaannya dalam mencegah kepindahan Naruto jika sudah dipastikan, namun ia masih berharap bahwa sahabatnya itu akan terus berada di sisinya, bersamanya.

Ia tidak ingin melepaskan Naruto dari dekapannya.

"Cacuke… Nalu cayang Cacuke…"

Dan lirihan itu… ia tidak ingin membuat Naruto terdengar begitu sedih. Ia tidak ingin mendengar mataharinya tersaput awan hitam yang menghalangi pancaran sinarnya. Dan ia… tidak ingin Naruto pergi jauh darinya.

Sasuke mempererat dekapannya, sekuat tangan mungilnya melindungi tubuh yang gemetar itu dari badai yang bergelut dalam relung hati… dan dari bendungan air yang menggenangi langit mereka. Ah, andai ia bisa balas mengatakan betapa Naruto sangat berarti baginya tentunya bendungan itu sudah pecah dan membanjiri wajah kemerahannya. Ia tak bisa mengatakannya. Sasuke tak bisa membiarkan sahabat yang paling disayanginya itu mengetahui bahwa dirinya begitu lemah dan cengeng kalau sudah berkaitan dengannya. Tidak. Ia seorang Uchiha dan Uchiha tidak lemah ataupun cengeng!

Tapi apalah arti sebuah nama dibandingkan perasaannya terhadap sang sahabat?

Kami-Sama, ia baru berusia lima tahun dan sudah mengerti rumitnya labirin kehidupan. Apakah semua anak harus menjadi dewasa sebelum waktunya? Mungkin ia memang berbeda dari anak kecil pada umumnya—ia jenius dan bisa mengemukakan pendapat layaknya orang dewasa—tetapi bagaimana dengan Naruto yang masih membutuhkan kepolosan dunia sebelum terjun ke jurang kenyataan? Bagaimana dengan Naruto yang selama ini selalu terkekang dalam mengutarakan keinginannya? Bagaimana dengan Naruto yang…

yang sebenarnya sudah lebih mengerti akan realita dunia?

"… Nalu…"

Jangan… pergi…

"Naluto…"

Jangan pergi…!

Ingin ia meneriakkan ketidakpuasannya pada dunia. Ingin ia meneriakkan ketidaksukaannya pada dunia. Karena bagi mereka, bagi anak kecil seperti mereka, perpisahan merupakan tebing curam tempat kegelapan menunggu untuk membawa mereka hilang selamanya. Hilang dalam hitam tak berkesudahan.

Ah, kenapa mereka tidak bisa segera menjadi orang dewasa? Agar mereka bisa memilih hidup mereka. Agar mereka bisa menentukan sendiri hidup mereka.

Mereka hanya belum mengetahui betapa orang dewasa hidup dalam pahitnya dunia.

Masih mendekap erat, Sasuke mengecup pelipis Naruto sekilas sebelum membisikkan sesuatu. Ia pun melonggarkan lengannya agar dapat melihat ekspresi sang sahabat, dan tersenyum kecil ketika mendapati wajah kecokelatan itu berseri-seri.

"Janji ya. 'Cuke!"

"Hn. Janji."

[Kita akan terus bersama.]

Dan mereka pun melakukan piknik mereka sendiri, berdua, hanya berbekalkan rasa sayang terhadap satu sama lain, melupakan dunia barang sejenak. Saling memberikan kehangatan dalam bentuk sederhana yang mendekam erat dalam memori mereka. Saling memberikan dukungan dalam menghadapi situasi yang enggan mereka jalani. Karena meskipun esok tiba, mereka yakin akan terus bersama… dengan cara mereka sendiri.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Penerbangan menuju Los Angeles baru saja berangkat. Itachi menemani adiknya yang masih melihat pesawat yang ditumpangi Naruto hingga menghilang di kejauhan. Sejujurnya ia masih merasa terkejut akan kepindahan bungsu Namikaze-Uzumaki yang terbilang mendadak itu, tetapi ia tahu bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa meskipun mengetahui perasaan adiknya yang ditinggalkan. Ia hanya bisa menghibur Sasuke yang hingga kini masih menatap ke langit yang sama.

"Suatu saat, kalian pasti akan bertemu lagi, Otoutou," ucapnya. "Lagipula, meskipun jauh, kalian tetap bisa berkomunikasi melalui telepon atau e-mail," tambahnya sambil mengelus rambut Sasuke.

Tidak ada balasan dari bungsu Uchiha. Hanya suara angin yang menerpa wajahlah yang memberitahu bahwa masih ada kehidupan di atas atap Bandara Konoha. Itachi, yang menoleh untuk memastikan bahwa Sasuke masih ada bersamanya, tertegun melihat derasnya aliran air dari bendungan oniks itu. Ia tahu bahwa adiknya jarang sekali menangis dan kalaupun mengalirkan air mata, hanya beberapa tetes yang langsung diseka dalam sekali sapuan. Dan mendapatinya menangis dalam keheningan seperti itu…

bagai melihat dirinya dulu ketika seseorang yang berharga meninggalkannya.

Sang kakak pun memeluk adik tersayangnya… saling berbagi pahitnya perpisahan yang harus mereka rasakan di usia yang masih belia.

Suatu saat, mereka akan bersama-sama pergi piknik dengan senyuman menghiasi wajah mereka. Dan piknik itu akan menjadi kenangan terindah dalam hidup mereka.

-.-.-TBC-.-.-

BERPISAAAAAAAAAAAHH! Naruto dan Sasuke sudah berpisaaaaaaaaaaaaaaaahh! OTL

Okeh, mungkin drama dewasa banget adegan Naruto dan Sasuke di kamar itu tapi menurut Kyou perpisahan bagi anak kecil itu berat karena mereka belum tau rentang waktu 'suatu saat nanti' itu berapa lama. Yah, berdasarkan pengalaman yang diceritain temen-temen Kyou dan Kyou sendiri juga merasa begitu. Tapi yang jelas, jangan khawatir! Mereka akan bertemu lagi kok!

Dan masih pertanyaan yang sama untuk SasuNaruSasu dan KuraIta… Temen-temen mau dua pasangan itu jadian ato cukup brotherly love aja?

So, answer and reviews? No flames, please.

_KIONKITCHEE_