Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairings: Chibi!Naru x Chibi!Sasu, Kurama x Itachi

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 7: First Call

Itachi tidak sengaja menjatuhkan sepotong tofu dari sumpitnya. Kenapa? Karena ia tertegun di tempat setelah mendengarkan permintaan dari seseorang. Biasanya ia tidak akan menunjukkan ekspresi apapun jika terkejut—wajahnya terbilang lebih datar dibandingkan anggota keluarganya yang lain—namun, kali ini ia tidak bisa menyembunyikan raut yang bermain di sana. Sekali lagi, kenapa? Bukan alasan di balik jatuhnya tofu yang hendak ia makan melainkan alasan mengapa ia tertegun. Apa gerangan yang mampu mempengaruhinya sampai seperti itu—di luar tindakan Sasuke yang memang sering membuatnya merasakan hal demikian?

Jawabannya hanya satu: Namikaze Kurama. Guru part-time di sekolahnya sekaligus guru les privatnya.

Kenapa jawabannya malah pemuda itu? Apakah Kurama melakukan sesuatu di luar logika? Kalau mengingat kembali, Itachi memang mendengarkan sebuah permintaan di luar logika yang bahkan tidak sanggup dipendamnya dalam harapan. Sebuah permintaan yang hanya pernah menjadi khayalannya belaka dan sama sekali tidak ia duga akan terlontar ke permukaan.

'Go out with me, Itachi.'

Oleh karena itu, capitan sumpit Itachi melonggar lalu menjatuhkan tofu pedas ke dalam mangkuk miso yang berada tepat di bawahnya. Sebuah tindakan yang mengejutkan dari seorang Uchiha sepertinya yang terbiasa makan di kantin sekolah dengan tenang dan elegan sehingga membuat tiap pasang mata mengaguminya. Beruntunglah ia karena suasana kantin sedang sepi dan hanya ditempati oleh dirinya—yang keluar kelas karena telah menyelesaikan ujian dengan lebih cepat—dan sang guru—yang belum ada jadwal mengajar hingga sore nanti.

"… Why?" Itachi bertanya setelah beberapa lama. Pikirnya masih mencari alasan yang tepat di balik tindakan sang Namikaze.

Guru yang dimaksud menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Perlukah sebuah alasan untuk mengajakmu jalan?" tanyanya salah tingkah. Untuk seseorang yang mewarisi sebagian besar sifat kalem sang ayah—Namikaze Minato—Kurama memang tidak pernah terbiasa mengajak seseorang untuk berhubungan lebih dalam dengannya. Malahan, ia terkesan lebih kaku dan tertutup dibandingkan kedua adiknya, Deidara dan Naruto. Tindakannya sekarang ini muncul setelah mengumpulkan keberanian selama beberapa bulan—yah, dua bulan setelah kepergian Naruto ke Los Angeles.

Kenapa baru sekarang ia melakukannya? Apakah karena ia sudah tidak ada beban sehingga dapat dengan mudah memutuskan? Kalau memang beban itu pernah ada, apa gerangan yang dimaksud dengan beban itu sendiri? Naruto, kah? Apa selama ini ia merasa adanya Naruto sebagai suatu beban yang sekarang sudah jauh berkurang karena yang bersangkutan telah pergi untuk tinggal bersama sang ayah? Apa dulu ia merasa tidak bebas dengan kehadiran Naruto di dekatnya? Ah, kejamnya. Betapa sakitnya hati sang adik jika kenyataan yang sebenarnya sesuai dengan apa yang baru saja diungkapkan.

Untungnya bukan. Kurama hanya merasa bahwa ia ingin menjadi lebih dekat dengan sang Uchiha—dengan atau tanpa Naruto berada bersamanya. Ia ingin semakin mengenal Itachi karena remaja itu telah berhasil menempati hatinya yang dulu kerasan dengan dunianya sendiri. Ia merasa nyaman dengan keberadaan sang remaja dan ingin mengetahui lebih dalam perasaannya. Apakah itu sebuah alasan yang cukup untuk dilontarkan? Apakah Itachi akan puas dengan balasannya?

"You do realize that I'm in the same age as your brother, don't you?" tanya Itachi dengan suara yang lebih pelan seakan ia tak ingin mengatakannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa pemuda di hadapannya menyadari hal itu dan tidak sedang dalam keadaan mabuk ketika mengajaknya berkencan—well, ia memang tidak sedang mabuk dan Itachi tahu hal itu. Ia tidak ingin menaruh harapan lebih hanya untuk jatuh dengan begitu sakitnya. Bagaimanapun juga mereka adalah murid dan guru dengan perbedaan usia berpaut lima tahun. Hal itu bisa dikatakan ilegal mengetahui bahwa ia belum menginjak usia dewasa.

Kurama menatap Itachi lekat sebelum tersenyum sendu. "I don't need any limitation to love someone…" ungkapnya. Ia menghela napas panjang, "Tapi tak apa kalau kau tak merasakan hal yang sama," tambahnya pelan, menduga bahwa sang remaja tidak menganggapnya sama.

"Bukan begitu!" sanggah Itachi. Kali itu ia menjatuhkan sumpitnya ke atas mangkuk nasi bagaikan membuang dengan sengaja. "Bukan begitu…" ulangnya lirih. Jemarinya mengepal erat di atas meja mengiringi pandangannya yang menunduk dalam. Sungguh, baru kali ini perasaannya bercampur menjadi satu entah dengan dominasi di sisi mana. Sewaktu ia membalik meja di hadapan sang ayah, jelas yang menguasai adalah amarah. Sewaktu ia mendapati sang adik menangisi kepergian Naruto, jelas yang menguasai adalah kesedihan. Sewaktu ia bercengkerama dengan sang guru, jelas yang menguasai adalah kebahagiaan—meskipun ia tak mau mengakuinya terang-terangan. Dan saat ini… ia bagai merasakan semuanya.

Marah karena sang guru berani mengajak kencan murid yang belum memasuki usia dewasa. Bahagia karena sang guru sedikitnya memiliki perasaan yang sama dengannya. Sedih karena ia tak tahu apakah ia sanggup menyanggupi permintaan di luar logika itu.

Bagaimana dengan pandangan publik? Bagaimana dengan tatapan orang lain? Bagaimana dengan anggapan keluarganya?

Bagaimana dengan perasaannya sendiri?

Kurama menatap remaja itu masih dengan senyum yang sama. Ia tahu bahwa permintaannya menyimpang dari kodrat yang seharusnya. Itachi masih termasuk golongan minor, dan kalaupun bukan mereka memang tidak seharusnya berhubungan dalam konteks itu. Mereka bisa dianggap sakit dan sudah pasti dirinya sendiri akan terancam masuk penjara karena tindakan asusila—yang bahkan belum tentu terjadi. Lagipula, apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut? Benarkah bukan karena Naruto sudah tidak tinggal bersamanya? Atau…

Lonely…

ia merasa kesepian?

Kami-sama, ia terdengar seperti anak kecil jika memang itu alasannya!

Menghela napas, Kurama menyentuh jemari sang remaja yang mengepal erat. "Sudahlah. Kau boleh melupakan hal ini. Aku tidak ingin membebanimu, Itachi," ucapnya lembut.

Sang Uchiha mengangkat wajahnya hanya untuk mendapati seulas senyum penuh pengertian tertuju padanya.

"Terima kasih telah mendengarkan keegoisanku."

Dan ia tak menyangkal perih di hatinya tatkala menyadari perasaannya sendiri. Sayangnya, ia tak mampu membalas apa-apa bahkan hingga sang guru tak lagi di hadapannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sasuke menendang pasir di bawah ayunan yang di naikinya. Ia berada di taman yang tak jauh dari sekolahnya. Sebuah taman tempat sahabatnya senang bermain dan tentu selalu mengajaknya. Sahabat yang kini jauh darinya. Sahabat yang senantiasa dirindukannya meskipun raut wajahnya tak berubah ketika memikirkan orang yang bersangkutan.

Naruto.

Ah, baru dua bulan saja ia sudah sangat merindukan Naruto. Dua bulan yang terasa sangat lama… membuatnya tak mampu membayangkan bagaimana kalau mereka berpisah hingga bertahun-tahun. Itu akan terasa lamaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Dan ia tak mengharapkan itu terjadi. Ia ingin Naruto segera pulang ke sini, ke sisinya—atau ia yang ke sana menyusulnya!

Bungsu Uchiha itu pun melompat dari ayunan.

Benar juga! Kenapa ia tak memikirkan hal itu? Ia bisa menyusul Naruto ke Los Angeles! Keluarga mereka 'kan kaya, jadi tidak masalah! Ia akan pindah ke tempat yang sama dengan Naruto dan bersekolah bersama lagi! Itu mudah! Ia harus cepat memberitahu kakaknya!

Sasuke pun mengambil tas yang dilempar ke bawah pohon lalu bergegas pulang. Namun, belum sampai ia melewati gerbang taman, ia melihat sosok yang hendak ditemuinya.

"ANIKI!" panggilnya sembari berlari menghampiri sang kakak. Ia berhenti di samping remaja yang masih berjalan pelan kemudian menyesuaikan diri sesuai langkahnya. "Aniki, aku punya ide! Bagaimana kalau—"

Perkataan Sasuke terhenti ketika mata oniksnya mendapati sosok sang kakak yang terlihat lesu. Tunggu, coret bagian itu. Yang dilihat Sasuke adalah sosok mayat berjalan yang menyerupai Itachi! Kenapa bisa begitu? Itachi terlihat lelah tak bertenaga dengan sistem tubuh otomatis bagai sebuah robot! Kalau aliran listrik tak segera dikonsumsinya, maka Itachi takkan sanggup bertahan hingga beratus tahun ke depan!

Ya ampun, Sasuke… apa yang baru kau tonton? Apakah itu anime yang dicekoki Naruto hingga berkarat dalam otakmu?

Sasuke nyaris murung lagi mengingat sahabatnya itu jika bukan karena ide yang masih bercokol di pikirannya. Ia pun memutuskan untuk segera memberitahu sang kakak.

"Aniki, bagaimana kalau aku juga pindah ke Los Angeles? Aku masih punya passpolt, 'kan? Dengan begitu aku bisa beltemu Naluto dan— … Aniki?"

Sepanjang Sasuke bicara, tak sedikitpun Itachi bereaksi seakan ia mendengarkannya. Hal itu membuat Sasuke menghentikan langkah mereka dengan menahan lengan sang kakak. Betapa terkejutnya ia ketika merasakan dingin menjalari jemari remaja itu. Ketika ia menatap wajah stoic kakaknya, ia lebih terkejut lagi mendapati warna putih pucat tengah menguasainya.

"Aniki kenapa?" cemasnya. Buru-buru ia mendudukkan Itachi di bangku taman yang kebetulan ada di sekitar mereka. "Aniki sakit?" tanyanya lagi sembari menyentuhkan dahinya ke dahi sang kakak. Tidak ada jawaban dari sang remaja, hanya tatapan kosong yang menguasai hitam miliknya.

"… Sasuke," Tak lama, Itachi membuka mulutnya dalam bisikan nyaris tak terdengar. "Kau ingin bertemu Naruto?"

Meskipun hampir tidak mendengar utuh pertanyaan sang kakak, Sasuke mengangguk. Ingin ia menjabarkan ide sepintasnya namun ia urungkan karena remaja di hadapannya menatap dengan emosi hampa terpendam… yang selama ini tidak pernah tertuju padanya.

"Tidak semua permintaanmu dapat dikabulkan, Otoutou…"

Sesuatu bagai menusuk jantung bungsu Uchiha setelah mendengar sang kakak berkata demikian. Ia terkejut mendapati Itachi bisa berbicara seperti itu padanya. Bukan karena ia tidak tahu sisi seperti itu, namun tidak menyangka bahwa kakak yang selalu mengutarakan kata dengan konotasi makna akan… Ah, Sasuke sudah tahu hal itu. Ia tahu bahwa tidak semua permintaan dapat terkabul. Ia tahu bahwa ia harus bersikap dewasa dalam menyikapi permasalahan yang ada—meskipun usianya masih terpaut lima tahun… Kami-sama…

Maka, Sasuke tidak dapat membalas apa-apa. Ide yang sudah bercokol dalam kepalanya pun menguap, lenyap dalam logika kedewasaan. Ia pun menunduk dalam, berusaha menguasai badai yang berkecamuk dalam hatinya.

Dan Itachi membelalakkan mata dalam kesadaran. Melihat akibat dari perkataannya yang terlontar karena keegoisannya yang tidak ingin sang adik berharap terlalu tinggi, Itachi memaki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak menumpahkan kekesalannya pada Sasuke yang masih memiliki berjuta harapan sebelum terbangun dalam kenyataan. Seharusnya ia melakukan pendekatan yang lebih baik agar Sasuke memahami dengan benar kenapa ia bersikap demikian. Seharusnya ia bisa bertindak lebih dewasa lagi.

Ah, Kurama mengacaukan perasaannya dengan sempurna!

Menghela napas, Itachi kembali menyentuhkan dahinya ke dahi Sasuke. Ia dapat melihat topan emosi yang berputar dalam hitam adiknya… membuatnya semakin merasa bersalah. Ia pun meraih kedua tangan mungil Sasuke lalu menempelkan jemarinya ke pipinya.

"Sorry, Lil Bro…" lirihnya sembari tersenyum sendu, "I know you miss him as I do. I'm sorry for being a jerk."

Sasuke menggeleng pelan. "It's okay. I undelstand." Ia menatap lekat ke oniks sang kakak dan mendapati selangsa kesedihan di sana. "You okay, Big Blo?" bisiknya cemas. Rasa-rasanya hari ini ia berubah menjadi pribadi yang berbeda—bukannya ia peduli sih!

"I'll be okay, don't worry," balas Itachi seraya menarik sang adik dalam dekapannya, "I'll be okay…"

Sedikit banyak Sasuke mengetahui penyebab kakaknya lesu seperti itu. Kalau mereka bertemu nanti, akan ia pastikan orang itu mendapat dampratannya. Setidaknya setelah ia mampu meredam kecamuk dalam hatinya. Setelah ia, dengan wadah kecilnya, mampu mengatasi badai yang masih meniup sukmanya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Kula-nii kenapa? Kok keliatan cedih?"

Kecemasan Naruto yang terdengar dari speaker laptop menyentak Kurama dari lamunannya. Ia tersadar bahwa sore itu ia masih tersambung dengan web-cam sang ayah yang berada di Los Angeles karena ingin melihat keadaan adik bungsunya. Langsung ia ubah ekspresi wajahnya dengan menyunggingkan seulas senyum. "Tidak ada apa-apa, Naru. Aku baik-baik saja," ucapnya menenangkan.

"Benelan? Nalu jadi ikut cedih kalo nii-tan cedih…" Tampak wajah Naruto yang menyiratkan kesedihan, membuat Kurama merasa bersalah telah membuat adiknya merasa demikian.

"I really am okay, Lil Bro. I just miss you so much," ujarnya mengalihkan alasan sebenarnya.

"Miss you too, Big Blo…" ucap Naruto dengan senyum manis yang mampu menaikkan semangat siapapun yang melihatnya. "Dei-nii lagi di apaltemennya ya?" tanyanya kemudian.

Kurama mengangguk. "Akan kusuruh dia menyalakan web-cam-nya nanti. He'll call you for sure. Don't worry!" yakinnya yang mendapat balasan berupa anggukan dari Naruto. Dan suasana menjadi hening sesaat sebelum lelaki berambut merah itu memecahnya. "Mau melihat Sasuke?"

Seketika wajah Naruto menjadi sumringah. Ia mengangguk dengan begitu antusiasnya. "YES, PLEASE!" membuat Kurama tertawa kecil. Kalau dipikir-pikir, selama dua bulan ini Naruto dan Sasuke sama sekali belum bertegur sapa via internet atau sekedar telepon. Hal itu dikarenakan Naruto harus mengurus segala macam keperluannya dari mulai baju, makanan, tempat tinggal, dan sekolah yang tentunya harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di sana. Barulah belakangan ini Naruto mendapat waktu luang yang lumayan banyak sebelum nanti harus masuk sekolah. Ternyata memang perbedaan waktu sedikit menjadi kendala bagi mereka untuk sekedar berbicara.

"Aku akan mengaturnya untukmu, Naru. Jam berapa biasanya kau tidur malam?"

Naruto menggeleng. "Celama itu ngomong cama Cacuke, Nalu nggak kebelatan begadang!" tegasnya sambil nyengir kuda.

Ah, apapun untuk orang yang paling disukai ya…

"Asal jangan menangis ya, Naru."

Ia bahkan tak berani berharap begitu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Namikaze-sensei akan datang kemari. Beliau akan menyambungkanmu dengan Naruto-kun," ucap Itachi beberapa jam setelah dirinya dan Sasuke tiba di rumah.

Si bungsu, yang tadinya sudah bersiap akan melontarkan makian untuk si sulung Namikaze, mendapati dirinya terdiam yang tak lama berubah menjadi terisi butiran kebahagiaan meskipun tetap dengan wajah stoic. Apa kau tahu ungkapan ketika seseorang menebarkan bunga dari dalam dirinya? Kira-kira seperti itulah kondisi Sasuke sekarang. Itachi, yang menyadari perubahan mood adiknya, tak kuasa menahan senyum. Ia senang bila Sasuke merasakan kebahagiaan seperti itu.

Senang… sekaligus sedih. Dan sebelum ia berpikir macam-macam, Itachi menghentikan dirinya sendiri.

"Lewat telepon?" tanya Sasuke.

Itachi menggeleng. "Web-cam, Otoutou. Namikaze-sensei akan memberitahumu alamat email ayahnya Naruto-kun," jelasnya. Sang adik hanya mengangguk. "Nanti kau harus membuat email-mu sendiri ya agar mudah menyapa Naruto-kun."

"Aniki ajalin cala membuatnya ya," pinta Sasuke yang otomatis dijawab dengan anggukan oleh sang kakak. Dan tak lama dari percakapan itu, suara bel pintu terdengar. Itachi pun bergerak untuk membukanya.

"Hei," sapa Kurama dengan senyum.

"Sensei," Itachi balas menyapa sebelum mempersilakan pria berambut merah itu masuk. Wajahnya tetap stoic, mampu menutupi detak jantungnya yang mulai menderu. Rupanya ia masih kepikiran akan pernyataan siang tadi. Namun, ia tak ingin membahasnya sekarang… tidak juga nanti.

Ia ingin melupakannya. Ia ingin menganggapnya tidak pernah ada.

"Di sini saja?" tanya Kurama setelah duduk di sofa ruang tamu keluarga Uchiha, sedikit menyentak pikiran Itachi. Buru-buru sang Uchiha mengangguk membuat sang Namikaze segera mengambil laptop-nya dan menyalakannya. Ia pun membuka jendela internet dan menyambungkan email-nya dengan email sang ayah di LA. "Karena tadi aku baru berhubungan dengan Naru, koneksinya bisa lebih cepat tersambung," ucapnya lagi sebelum menatap si bungsu Uchiha yang entah kenapa memandangnya tajam, "Kau bisa ke sini, Sasuke?"

Bocah berambut raven itu masih menatapnya tajam sebelum pindah ke tempat lelaki itu. Ia masih sebal dengannya karena membuat kakak kesayangannya bersedih—meskipun tidak tahu alasannya. Ia tidak suka melihat Itachi seperti itu, apalagi hingga saat ini ia masih dapat melihat jelas dampak kehadiran Kurama bagi kakaknya. Ia tidak suka! Uurgh! Rasanya ia ingin membanting meja untuk sang kakak!

"… Cacuke,"

Panggilan itu menghentikan umpatan Sasuke. Matanya yang tadi sibuk melubangi kepala pria berambut merah perlahan beralih ke sosok yang muncul di layar laptop. Seorang bocah sebaya dengan rambut pirang berantakan dan mata sebiru langit cerah menatapnya lurus, tanpa keraguan sedikitpun. Oniks miliknya lalu balas menatap dengan intensitas yang sama.

Waktu seakan berhenti. Dunia seakan membeku. Bagi kedua bocah yang selama dua bulan tak berkabar, sekeliling bagai membisu. Hanya ada mereka dan reuni kecil mereka sendiri.

"Naluto," ucap Sasuke lirih seakan yang bisa diutarakannya hanya nama itu dalam bisikan nyaris tak terdengar. Namun, bocah yang berada di luar negeri itu mendengar dengan jelas, terbukti dari wajah kecokelatan yang langsung berseri-seri.

"Cacuke, Nalu udah nyampe LA! Ayah lagi ngulucin cekolah cama penjaga Nalu di cini! Ayah juga bilang kalo Nalu bakal punya komputel plibadi jadi Nalu bica kontek-kontekan cama Cacuke kapan aja! Cetelah Nalu lulus cekolah, Nalu bakal balik ke tempat Cacuke! Jadi, Cacuke tunggu Nalu ya!" seru Naruto dengan cepat, membuat ketiga orang yang mendengar tertegun.

Setelah dua bulan tak bersua, bukan itu yang Sasuke kira akan dikatakan Naruto. Ia kira sahabatnya itu akan menangis karena rindu padanya, sama dengan apa yang ia rasakan meskipun tidak akan ia ungkap terang-terangan. Ternyata dugaannya salah. Apa Naruto tidak kangen padanya? Apa hanya dirinya yang merasa kehilangan seorang teman yang berharga? Tidak, bukan begitu. Perkataan Naruto tadi justru membuktikan bahwa anak itu ingin segera kembali ke sini… ke Konoha tempatnya berada. Ah, itu juga bukan. Naruto berkata akan kembali ke tempatnya… ke sisinya.

Naruto ingin segera kembali ke sisi Sasuke.

Kami-sama, perasaan yang tidak enak tadi lenyap dengan cepat dari dalam dirinya. Hatinya terasa ringan dan ingin ia merekahkan seulas senyum balasan. Sasuke merasa senang dengan pesan tersirat Naruto. Ia merasa bahagia mendengar sahabatnya tak kalah merindukannya. Oleh karena itu… oleh karena itu…

"Nalu, don't be a 'dobe' ovel thele. Just be my 'dobe' ovel hele."

Kurama dan Itachi, yang sedari tadi memperhatikan adik-adik mereka, terperangah. Perkataan Naruto dan balasan Sasuke sungguh di luar dugaan mereka. Namun, belum sempat mereka berkomentar, sosok di negeri seberang itu kembali bersuara.

"I still don't undelstand 'dobe' but I guess I can manage that!" cengir Naruto.

Merasa puas dengan jawaban itu, Sasuke membawa jemarinya untuk menyentuh layar laptop tepat di wajah Naruto. Dan seakan mengerti maksud sang Uchiha, bocah Uzumaki-Namikaze itu juga menyentuhkan jemarinya ke layar tepat pada bayangan jemari Sasuke. Perlahan, jemari itu bergeser ke samping sehingga wajah mereka terlihat jelas saling bertatapan. Hening menguasai situasi cukup lama hingga membuat Kurama dan Itachi menahan napas seakan sedang menyaksikan momen bersejarah dalam hidup mereka.

"I miss you, 'Cuke..."

"Miss you too, Nalu…"

Pengakuan itu berhasil membuat kedua kakak mereka tersentak dalam kebisuan. Bukan karena kata-kata yang terlontar melainkan kadar perasaan yang menumpuk di dalamnya. Terdengar dari lirihan lembut itu ialah perasaan rindu yang berasal dari hati yang saling menyayangi. Perasaan dengan massa yang bahkan tidak seharusnya bercokol dalam diri anak berusia lima tahun. Perasaan yang bahkan harus ditahan kedua lelaki yang telah memahami pahit manis kenyataan. Perasaan tulus yang seharusnya dijaga dan dilindungi… namun terkadang harus dikubur jauh di dalam diri.

Maka dari itu, demi kedua adik mereka, Kurama dan Itachi berjanji. Mereka akan melindungi perasaan murni yang masih tertanam kuat dalam hati Sasuke dan Naruto. Tidak akan mereka biarkan perasaan itu lenyap dalam ketiadaan. Tidak akan mereka biarkan apapun atau siapapun menghancurkan ikatan kedua malaikat kesayangan mereka itu. Tidak akan mereka biarkan kenyataan merusak mimpi yang masih tulus membumi. Tidak akan. Mereka akan menjaga kedua anak itu dengan sepenuh hati. Meskipun harus jatuh karenanya. Meskipun harus menentang segalanya. Meskipun harus menahan kecamuk badai dalam batin yang teriris. Meskipun harus menahan perasaan masing-masing.

"Don't folget to call me again, 'kay?"

"I won't."

Meskipun tidak akan ada Kurama dan Itachi dalam sebuah ikatan pasti.

-.-.-TBC-.-.-

Tolong jangan bunuh Kyou karena bikin KuraIta jadi begini! Masih ada kesempatan buat KuraIta jadian kalo banyak yang meminta demikian. Untuk Naru dan Sasu juga masih ada kesempatan kok. Tapi kalo banyak yang minta cukup brotherly love aja ya Kyou nggak akan memasangkan siapa dengan siapa, palingan hints aja. Yak, di sini mereka masih dengan umur yang sama, baru berpisah dua bulan. Untuk chapter depan, kayaknya udah berganti tahun. Tunggu aja~

Ripiu? No flem ya~

_KIONKITCHEE_