Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairing: Naruto & Sasuke (yang pasti mereka berdua)

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Untuk chapter ini, sudah berlalu lima tahun. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 8: Winter Holiday

Dingin. Itulah yang dirasakan Sasuke saat membuka jendela kamarnya. Ingin ia kembali mendekam di balik selimut tapi tidak bisa karena ia sudah punya kegiatan dengan teman-temannya. Maka, ia pun mengambil handuk untuk mandi meskipun dengan ogah-ogahan. Ia berharap air panas di kamar mandinya tidak cepat mendingin mengikuti cuaca. Sungguh Sasuke tidak menyukai dingin.

"Sasuke, temanmu datang!" Wanita berambut hitam panjang memberitahu putera bungsunya dari lantai bawah.

"Hn." Balasan si bungsu hanyalah gumaman yang tidak akan terdengar sampai dapur. Ia sedang sibuk mengaktifkan tombol bangun dari tidur yang hingga kini sepertinya belum menyala penuh. Salahnya sendiri karena tadi malam memilih tidak tidur cepat dan asyik bercengkerama dengan seseorang via internet. Well, kalaupun bisa mengulang waktu, ia akan tetap memilih hal yang sama karena seseorang yang mengobrol dengannya tadi malam sangatlah berharga. Ia tidak akan menggantinya dengan pilihan lain.

"Lama banget, 'Chiha! Nanti kita bakal kena gaplok Gai-sensei kalau telat!" Kiba, anak lelaki berambut cokelat dengan tato segitiga merah terbalik di pipinya, protes pada Sasuke yang baru turun dari lantai dua.

"Palingan disuruh lari tambahan," timpal sang Uchiha sembari mengurut lehernya yang terasa agak pegal karena posisi tidurnya semalam tidak baik. Yah, mengingat bahwa ia ketiduran di meja dengan komputer yang masih menyala terang. "Lagipula, siapa yang ngusulin lari pagi sama guru itu sih? Kenapa nggak sama Genma aja?"

Kiba menyampirkan tas yang tadi diletakkannya di lantai ke pundak. "Lee yang ngusulin. Kamu 'kan tau sekarang giliran dia yang mimpin acara lari kita," jelasnya sembari mulai berlari di tempat. "Ayok ah! Dah, Mikoto-san!" serunya pada bunda Sasuke sebelum bergerak maju.

"Aku pergi dulu, Kaa-san!" Sasuke pun mengikutinya. Namun, belum sempat berlari, ibunya menahan.

"Bekalmu, Sasuke! Jangan sampai perutmu kosong saat berolahraga!" ujar Mikoto sambil menyerahkan sebungkus kotak bekal ke tangan puteranya. "Hati-hati ya!" tambahnya sembari tersenyum. Sasuke mengangguk lalu menyusul temannya yang sudah duluan.

"Ara, aku lupa menanyakan hadiah yang anak itu inginkan untuk liburan kali ini..." gumam Mikoto tak lama setelah kepergian Sasuke. "Tanya Itachi saja deh." Wanita itupun kembali masuk ke dalam rumah.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"DINGIIIIN!" teriak dua anak perempuan sambil menggigil memeluk satu sama lain. "Kenapa kita harus ikutan lari pagi di musim dingin siiiiihhh?"

"Bacot dah! Kalo nggak mau ikut, pulang aja sana!" tukas seorang anak perempuan lainnya.

"Tenten kejam! Kita 'kan nggak kayak kamu yang tomboy dan punya stamina kuat! Kita ini lemah lembut, baik hati dan nggak sombong, disukai banyak orang!" seru Ino, salah seorang dari dua anak perempuan yang mengeluh pertama kali.

"Iya! Kita 'kan seharusnya merawat diri di rumah, bukannya main salju kayak gini!" timpal Sakura, anak perempuan berambut merah muda yang masih berpelukan dengan Ino.

Tenten, perempuan berambut cokelat gelap yang dicepol dua, menaikkan sebelah alis sambil berkeringat ria. "Kenapa jadi main salju? Kita 'kan mau lari..." Ia pun membatin dalam hati, 'Dan lagi yang punya stamina kuat 'kan mereka sendiri. Setiap hari ngekorin Sasuke kayak anak ayam hilang. Adu jotos sama fans lain demi posisi yang terdekat sama Sasuke. Duh, ngeri banget dah!'

"Kiba-kun dan Sasuke-kun sudah datang!" seru Lee yang sedari tadi memang menunggu secara khusus kedatangan mereka berdua. "YOOSH! Ayo kita lari, Gai-sensei!" semangatnya pada sang guru yang baru menyelesaikan push-up sebanyak seratus kali.

"OK! LET'S GOOOO!" Dengan tanda dari sang guru, mereka pun mulai berlari dari taman tempat mereka berkumpul. Sasuke dan Kiba yang baru datang pun segera berlari menyusul.

"Rutenya bagaimana, Sensei?" tanya Kiba.

"Kita akan berkeliling kompleks perumahan Konoha lalu ke perumahan Hi. Setelah itu, kita akan memutari apartemen Konoha dan masuk ke lapangan sepak bola di dalam. Di sana kita akan berkeliling selama satu jam!" jelas Guru Gai dengan bersemangat yang sayangnya ditanggapi dengan keluhan dari murid-muridnya.

"Perumahan Konoha dan Hi 'kan udah besar banget! Masa' ditambahin lagi ke apartemen Konoha?!" protes Ino.

"Terus satu jam lari mengelilingi lapangan sepak bolanya?! Memangnya kita robot super bertenaga lebih?!" Sakura menimpali. Tenten yang berlari di samping mereka sedikit banyak setuju.

"Aku juga agak keberatan ini..." gumam cewek bercepol dua tersebut.

"Estimasi waktu selesai kira-kira tiga jam lagi... merepotkan saja..." keluh anak berambut seperti nanas, Shikamaru.

"Memangnya kau mau ngapain sehabis ini?" tanya Shino, anak lelaki yang berkacamata hitam.

"Shikamaru selalu ada agenda tidur setengah hari setiap hari Minggu," jawab Chouji di sampingnya, "sepertinya kali ini akan tertunda banyak ya, Shika?" tambahnya yang hanya dibalas dengan decakan dari temannya itu.

"Semangatlah, Teman-teman! Kita masih muda dan punya banyak tenaga! MAJUUU!" teriak Lee dengan begitu bersemangat.

"BAGUS, LEE!" sahut Guru Gai sebelum menambah kecepatannya.

Segala percakapan yang terjadi sama sekali tidak masuk ke telinga sang Uchiha yang sedari tadi mengenakan earphone. Ia cukup mengikuti kesembilan orang tersebut dari belakang, tidak berniat menjadi yang terdepan. Yang bermain dalam pikirannya sekarang hanyalah menyelesaikan kegiatan lari tersebut dan segera pulang. Ia punya agenda lain untuk dijalani.

Uchiha Sasuke, yang baru berusia sepuluh tahun, adalah seorang anak yang menyibukkan diri dengan bermacam hal. Salah satunya adalah kegiatan lari mingguan bersama dengan teman-temannya. Namun, kegiatan yang paling ditunggunya adalah yang nanti akan dilakukannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Itachi, kenapa tadi tidak datang ke klub?"

Lelaki berusia dua puluh tahun yang dipanggil itu hanya melirik sekilas sebelum berkutat dengan skripsinya kembali. Ia menuliskan draft tentang judulnya untuk nanti dikonsultasikan ke dosen pembimbing.

"I~ta~chi~ aku sedang bertanya padamu~" Yahiko, senior yang memanggilnya, berkata dengan nada merengek bak anak kecil.

"Aku sibuk. Untuk sementara aku tidak akan datang ke klub," jawab Itachi setelah menunda beberapa saat. "Dan jangan panggil aku dengan nama depan. Kita tidak sedekat itu, Akatsuki-senpai," tambahnya.

Tidak mengindahkan teguran sang pemuda, lelaki berambut oranye sedikit terkejut dengan alasannya tidak datang ke klub. "Tapi sebentar lagi akan ada pertandingan musim dingin untuk Kyuudo! Aku merekomendasikanmu kepada pelatih!" ungkapnya, membuat sang Uchiha menghela napas berat.

"Sudah kukatakan pada pelatih bahwa untuk pertandingan kali ini aku tidak akan ikut. Aku ingin fokus pada skripsiku dulu," jelas Itachi. Tangannya mulai membereskan berkas-berkas yang ada di meja perpustakaan. Lalu, ia masukkan berkas tersebut ke dalam tas seraya berdiri. "Aku permisi, Senpai."

Yahiko bertanya, "Kau mau ke mana, Itachi?" yang langsung mendapatkan tatapan tajam.

"Uchiha untukmu, Akatsuki," ucap Itachi pelan namun dengan nada berat dan tanpa embel-embel senpai, menyadarkan Yahiko bahwa pemuda itu benar-benar tidak suka dengan panggilannya karena bagi Itachi, yang boleh memanggilnya menggunakan nama depan hanyalah orang terdekat saja.

Lelaki berjaket hitam dengan motif sepasang alat memanah di bagian saku dada dan punggung mengangkat tangannya, "Okay okay~ I get it!" serunya membela diri. Itachi pun berjalan keluar ruangan. "Kaku banget sih, Itachi~"

Sebuah penghapus bekas terbang menyentak kepala oranye Yahiko. "ITTEEE!"

Dari kejauhan, Itachi mendecak kesal meskipun tetap dengan wajah tanpa ekspresi. Ia jadi harus merelakan penghapus yang telah menemaninya selama sebulan ini, dan semua gara-gara pemuda Akatsuki yang sering mengganggunya itu.

"Rough day, Itachi?"

Suara lain menyapa sang Uchiha yang baru keluar gedung perpustakaan. Hampir kembali naik pitam, Itachi segera mengendalikan emosi setelah menyadari sosok yang tak jauh dari dirinya. "Kurama-san."

Panggilan yang bukan lagi 'Namikaze-sensei' selalu membuat Kurama senang karena itu pertanda ia semakin dekat dengan sang Uchiha. Setelah menyelesaikan prahara hatinya, pria berambut merah yang bukan lagi pengajar sambilan di Konoha International School tetapi pengajar tetap itu kini masih berhubungan dekat dengan mantan muridnya. Tidak masalah baginya akan status mereka yang hanya bersahabat, selama Itachi masih mau bercengkerama dengannya, ia akan menjaga ikatan itu dengan baik.

"Sudah selesai draft-nya?" tanya Kurama lagi seraya menghampiri pemuda berambut hitam panjang itu. Ia pun meraih tas jinjing sang Uchiha dan mengintip ke dalamnya. "Wow, banyak sekali berkasnya! Sudah kau baca semua?"

Itachi mengangguk. "Sumbernya masih kurang kalau hanya segitu. Kurama-san ada buku yang berhubungan dengan penelitianku?" tanyanya.

Kali ini Kurama yang ganti mengangguk. "Ada di rumah. Datang saja usai membeli pesanan Mikoto-san," ujarnya sambil tersenyum. "Shall we?" tawarnya kemudian.

"Sure." Dan mereka pun pergi membeli keperluan liburan musim dingin. Sudah menjadi tradisi bagi Kurama untuk menyempatkan diri mengunjungi keluarga Uchiha di liburan tersebut. Meskipun kepala keluarga Uchiha masih agak tidak suka dengannya, Mikoto sangat menyukai kehadirannya yang katanya membawa kebahagiaan pada putera sulungnya—saat itu Itachi terbatuk demi menutupi wajahnya yang memerah sementara Kurama hanya tertawa kecil dan berterimakasih. Lelaki berambut bara api itu juga merasakan kehangatan bila berkunjung ke sana. Maka dari itu, ia selalu meluangkan waktu demi memenuhi undangan keluarga Uchiha.

"Apa yang akan kau berikan kepada Sasuke kali ini?" Kurama bertanya setelah mereka berada di dalam mobil sang Namikaze. Ia pun menyalakan mobil tersebut dan menjalankannya setelah yakin bahwa seatbelt terpasang dengan benar pada dirinya dan Itachi.

Sejenak berpikir, Itachi menjawab, "Mungkin jaket atau sepatu baru. Belakangan ini dia sibuk dengan kegiatan di luar."

"Begitukah? Aku juga berpikiran yang sama untuk hadiah Naruto. Tapi mungkin ia sudah punya banyak dari oyaji di sana," kata Kurama. "Kau ada ide?"

Itachi melirik Kurama sebelum kembali melihat ke jalan. "Sebaiknya Kurama-san bertanya langsung pada Naruto-kun. Dengan begitu, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya," ujarnya.

Pria berusia 25 tahun itu menghela napas. "Aku sudah menanyakan hal itu padanya. Kau tahu dia menjawab apa?"

'Aku ingin agar Kura-nii dan Dei-nii selalu baik-baik saja di sana. Makan yang teratur dan jaga kesehatan! Kura-nii keseringan telat makan kalau sudah kerja, dan Dei-nii juga suka lupa makan sayur! Naru khawatir di sini tau!'

Kurama tersenyum sembari menggelengkan kepala. "Anak itu... selalu seperti itu..."

"Tipikal Naruto-kun," sahut Itachi pelan sambil tersenyum kecil. "Jadi, apa yang akan kau berikan untuk anak sebaik itu, Kurama-san?"

Menatap Itachi sejenak sebelum kembali fokus ke kemudi, Kurama menjawab, "Akan kuberikan apapun yang dia minta."

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Agenda lari rutin baru saja selesai. Tampak hampir semua anak yang mengikutinya tergeletak lemas di atas lapangan rumput Apartemen Konoha. Hanya dua orang yang masih tegak berdiri dan mereka tak lain adalah Lee dan guru kesayangannya, Gai. Mereka masih menantang diri mereka dengan kembali berlari melewati rute yang sama hingga matahari terbenam yang terhitung masih sembilan jam lagi. Anak yang tersisa hanya menganggap biasa karena memang sudah terbiasa dengan tingkah unik kedua orang tersebut.

Sasuke bangkit dari duduk selonjornya sembari meraih tas yang berisi kotak bekal yang sudah habis dan botol minuman sehat yang juga tak bersisa. Ia menepukkan tangannya ke celana yang sedikit kotor akan debu dan embun sebelum berpamitan. "Duluan."

"Sasuke-kun, mau ke mana?" tanya Sakura sambil tersenyum manis. Ino yang berada di sebelahnya ikutan tersenyum manis.

Tanpa menolehkan kepala, sang Uchiha menjawab. "Kencan." Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka.

Dan senyuman kedua anak perempuan tersebut pun musnah seketika, tergantikan oleh rasa syok yang tak terkira.

"Sejak kapan Sasuke punya pacar?" tanya Tenten yang juga terkejut mendengar jawaban sang Uchiha. Ia mendengar Kiba mengekeh kecil. "Kenapa kau tertawa?"

"Jangan tertipu! Kalian pikir 'Chiha bakalan ngaku kalau dia memang punya pacar? Dia cuma bercanda kali!" gelak Kiba yang kini tertawa lepas.

"Tapi dia jarang bercanda," gumam Shino, yang justru semakin membuat mereka bingung akan tingkah sang Uchiha barusan.

Shikamaru, yang masih berbaring di atas lapangan rumput dan menatap awan di langit, mendecak pelan sambil menggumamkan kata andalannya. "Merepotkan." Tak ayal, seulas seringai bermain di bibirnya. Chouji yang duduk di sampingnya hanya tersenyum kecil penuh makna.

Beralih pada Sasuke yang kini mulai memasuki daerah pertokoan, mata oniksnya menjelajahi setiap toko yang ada. Sepasang bola malam tersebut berhenti di sebuah toko elektronik langganan kakaknya. Ia pun melangkah ke dalam dan mencari benda yang ia inginkan. Setelah mendapatkannya, ia berjalan ke kasir dan membayarnya. Sasuke pun keluar dari toko itu untuk mencari toko lain.

Tak lama berselang, Kurama dan Itachi baru selesai membeli pesanan Mikoto ketika mereka melihat Sasuke keluar dari toko pengiriman barang. Bertanya-tanya, mereka pun menghampiri anak itu yang juga melihat mereka.

"Sedang apa kau di sini, Otoutou?" tanya Itachi.

"Mengirim barang," jawab Sasuke sambil menunjuk toko pengiriman barang di belakangnya seakan jelas itulah alasannya.

Itachi menghela napas, "Aku tahu itu tapi barang apa dan kepada siapa?"

Tak menjawab, Sasuke malah menunjukkan seringainya. "Hari ini Kurama-san ikut makan malam, benar?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Itachi tampak ingin protes karena pengalihan itu namun, terpotong oleh balasan sang Namikaze.

"Iya. Ada apa dengan itu?" tanya Kurama sambil menaikkan sebelah alis.

"Tunggu saja nanti malam." Sasuke pun berjalan duluan di depan mereka. Kurama dan Itachi saling berpandangan sebelum berjalan menyusul si bungsu Uchiha. Yah, mereka akan mendapatkan jawabannya nanti malam.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Got it already!

'Suke! Can't believe U really got me one! Thanks a lot!

-.-.-

From: Raven

To: Naru

Subject: Re: Got it already!

You like it? It's the latest model, and definitely the same as mine.

-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Re: Re: Got it already!

Like it? LOVE it, Silly! From U that makes me even happier! But, can I really have it? I doubt my gift isn't suitable enough for U…

-.-.-

From: Raven

To: Naru

Subject: Dobe

Need a hand to whack your dobe side? And what gift? Haven't received one since ever.

-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Re: Dobe

Hey! I know what 'dobe' is now! Not a deadlast here! Ah, U'll get it tomorrow. It'll take two days sending. BTW, how come U could send it to me in just a few hours? Rocket?

-.-.-

From: Raven

To: Naru

Subject: Re: Re: Dobe

You're my dobe, aren't you? Yeah, sorta. They call it Super Rocket Mail Express. Stupid but worth it.

-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Re: Re: Re: Dobe

I think I can manage it. :) That's a COOL name! Wish I could see it!

-.-.-

From: Raven

To: Naru

Subject: Re: Re: Re: Re: Dobe

Soon.

-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Winter is cold here!

Winter there? It's freaking cold here! U better wear Ur thick jacket, scarf, and turtleneck shirt when U go out, 'Suke! Dun forget Ur boots too!

-.-.-

From: Raven

To: Naru

Subject: Re: Winter is cold here!

Nah. It's cold but not as freezing as you said. You better do what you suggest me. BTW, have you sent any news to your bros yet?

-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Re: Re: Winter is cold here!

Not yet. I'll send it soon after I've finished chatting with U.

-.-.-

From: Raven

To: Naru

Subject: Re: Re: Re: Winter is cold here!

Which is never to happen till time to sleep. Text them now. Like. Right. Now.

-.-.-

From: Naru

To: Raven

Subject: Re: Re: Re: Re: Winter is cold here!

#pouts 'Kay…

-.-.-

"Sasuke, dari tadi kau berkutat dengan ponselmu terus. Ada apa?" tanya Mikoto ketika makan malam sedang disiapkan. Fugaku yang sedang membaca koran di meja makan—dan mendengar pertanyaan istrinya—menegur putera bungsunya.

"Bantu ibumu, Sasuke!"

Si bungsu Uchiha pun langsung beranjak dari sofa untuk membantu sang bunda. Ia membawa masakan yang sudah matang untuk ditata di meja makan. Saat ia berbalik untuk mengambil makanan yang lain, ia mendengar Kurama tersedak minuman yang langsung ditepuk-tepuk punggungnya oleh Itachi yang menemaninya duduk di sofa.

"Sa-Sasuke, Kau memberinya sebuah ponsel?!" gelagap sang Namikaze yang masih tak percaya dengan pesan yang diterimanya barusan.

"Ponsel? Ke siapa?" Itachi bertanya-tanya sebelum otaknya menelaah kejadian tadi sore. "Oh!"

Sasuke hanya menyeringai sebelum membawa makanan sang bunda ke meja makan. Ia pun menatanya sedemikian rupa lalu berjalan ke samping ayahnya. "Tou-san, hadiahku untuk liburan kali ini adalah jangan protes kalau aku sedang bercakap-cakap dengan Naruto ya!" ujarnya tegas sambil nyengir kuda.

Kurama dan Itachi terdiam. Mikoto tertawa kecil. Fugaku tertegun sebelum perlahan menganggukkan kepala… sepertinya ia akan seperti itu untuk beberapa saat.

Sasuke, anak yang baru menginjak usia sepuluh tahun, kini sudah memainkan peran kehidupannya sendiri.

-.-.-

From: Naru

To: N. Kurama U.

Subject: Guess what~

Nii-tan! I got a new latest type of cellphone from 'Suke!

-.-.-

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Keesokan harinya, sebuah paket datang ke kediaman Uchiha. Pada alamatnya tertera nama N. Naruto U. yang ditujukan untuk Uchiha Sasuke. Ketika Sasuke membuka paket tersebut, ia tak bisa menghentikan senyuman yang mulai merekah di wajahnya.

Sebuah figura foto persegi panjang yang berhiaskan ornamen olahraga dan musik buatan tangan berada di tumpukan terbawah. Di atasnya, terdapat sebungkus kecil dari sebuah kalung bermata Obsidian. Di antaranya, terdapat selembar foto anak berambut pirang yang terlihat sedang memegang sebuah kalung bermata Sapphire yang dikenakannya. Di balik foto tersebut, sebuah kalimat terpampang jelas.

'Happy Winter Holiday, Sasuke!'

-N-

Dan Sasuke pun langsung memakai kalung tersebut.

-.-.-TBC-.-.-

Perkembangannya mulai terlihat. Jawaban Time Capsule juga udah terjawab dan harap tunggu Kyou PM ya yang betul tebakannya. Bagaimana kelanjutan hubungan kedua pasang saudara itu?

Ripiu? No flem, ya~

_KIONKITCHEE_