Lil Hands
by Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Genre: Friendship/Family
Pairing: Naruto & Sasuke (yang pasti mereka berdua), slight KuraIta
Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!
A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Untuk chapter ini, setting masih lima tahun sudah berlalu. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Scene 9:Meet Again
"What do you wish for this holiday, Naru-chan?"
"Uhm, can I really ask for something, Daddy?"
"Sure! Anything for you, Son!"
"I… I wanna meet Sasuke!"
"… Eh?"
Dan itulah yang terjadi. Sebuah hadiah dari suatu permintaan yang sebenarnya sudah jauh terlontar bertahun lalu. Hadiah yang menghubungkan dua anak laki-laki yang sudah lima tahun tak bertemu. Sebuah kejutan untuk keluarga di Jepang… terutama Sasuke.
Terkejutkah sang Uchiha ketika mendapati seseorang yang jauh di negeri seberang bisa tiba-tiba ada di dalam kamarnya dan membangunkannya di pagi hari? Jawabannya adalah sangat. Sebegitu terkejutnya ia hingga terdiam selama sepuluh menit penuh meskipun oknum yang membangunkannya sudah membuka lebar tirai jendelanya dan menyibak selimutnya.
"'Suke cepat mandi! Air panasnya udah Naru siapin! Handuk dan baju gantinya juga! Mama Miko juga udah nyiapin sarapan buat kita!"
Sasuke masih terdiam di atas tempat tidurnya. Dalam keadaan duduk—setelah berusaha bagai robot baru diisi ulang baterainya—ia berupaya mencerna apa yang sedang terjadi padanya.
Apa koneksinya dengan Naruto di komputer masih tersambung? Tapi ia ingat telah mematikan komputernya tadi malam sebelum tidur—dan karena aktivitas tambahan sekolah yang sangat melelahkan, ia tidak sempat menghubungi Naruto via internet. Ah! Apa ponselnya yang masih menyala dan tersambung ke ponsel Naruto sehingga bisa mendengar suara sahabatnya sedekat ini? Mungkin itu! Tapi kedua bola oniksnya melihat jelas sosok sang Namikaze di depannya—tersenyum lebar sambil… sambil…
Bungsu Uchiha merasakan pipinya disentuh oleh sesuatu yang lembut dan dahinya beradu dengan kehangatan yang tak lama menjalari wajahnya. Hembusan napas yang menggelitik bibirnya dan juga sedikit tekanan pada ujung hidungnya membuatnya tersadar perlahan.
"Morning, 'Suke~"
Langit biru cerah terbentang di hadapannya bersamaan dengan helai mentari yang mengusap malamnya.
"… Na… ruto?"
Cengiran lebar merekah di wajah sang Namikaze sebelum anak itu menubruk jatuh sang Uchiha dalam pelukannya. "Naru datang, 'Suke!"
Sungguh, ia tak ingin terbangun jika ini hanya mimpi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Sarapan pagi di keluarga Uchiha kali ini adalah roti bakar dengan pilihan selai kacang, mocca, dan mayonnaise, juga parutan keju, irisan daging asap, sawi, tomat, dan mentimun yang bisa dipadukan sesuka hati. Pendampingnya adalah susu plain, vanilla, mocca, serta kopi pahit untuk kepala rumah tangga. Tampak juga jus jeruk segar khusus untuk tamu spesial yang datang dari jauh.
"Jangan sungkan ya, Naru-chan! Silakan makan sebanyak mungkin! Mama tahu pasti Naru-chan butuh asupan lagi setelah lelah naik pesawat!" seru Mikoto yang membuatkan sandwich besar untuk Naruto.
"Thank you, Miko-mommy!" seru sang Namikaze sambil menerima roti raksasa tersebut.
Fugaku, yang menyaksikan interaksi istrinya dengan anak Namikaze itu sedikit mengerutkan dahi. Ia memang tahu kalau Mikoto menyukai anak itu tapi tidak tahu akan menjadi sedekat ini—bahkan memanggilnya mama! Bukankah seharusnya putera bungsunya yang seperti itu—ah, bukan berarti ia menyetujui hubungan pertemanan puteranya dengan anak antah berantah itu! Pokoknya ia tidak akan semudah itu menerima anak pirang itu dalam keluarganya! Tidak dia maupun si kakak, Fugaku tetap menekuni garis keras jalannya.
"Tou-san, dahimu berkerut," ucap Itachi kalem di sebelahnya.
"Faktor umur," balas Fugaku tak kalah kalem.
"Masih terlihat muda," sahut Itachi lagi.
"Tentu saja," gumam Fugaku lagi.
"Tapi seperti bocah."
"Bercerminlah."
"Aku sudah tampan."
"Dan keras kepala."
"Turunan Tou-san."
"Pengaruh lingkungan."
"… Tou-san,"
"Hn?"
"Kaa-san melihat."
"… Hn."
Olokan kedua orang itu terpaksa berhenti karena tatapan Mikoto yang sangat tajam dan mampu menusuk sangat dalam meskipun di bibirnya merekah senyum yang sangat manis. Wanita itu akan mengeluarkan senjata ampuhnya ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Maksudnya, siapa yang senang mendengar suami dan anak saling mengejek sinis di depan meja makan suci yang dihuni oleh tamu penting yang sudah dianggap keluarga sendiri?! Tentunya bukan Mikoto. Tempo itu juga ia akan mengeluarkan senjatanya jika Sasuke atau Itachi tidak lebih dahulu membanting meja makan yang tidak bersalah. Dan tidak ingin meja makan kembali menjadi korban, Mikoto memutuskan untuk mengeluarkannya lebih cepat.
Kurama, yang sedari tadi duduk di sebelah Itachi dan memerhatikan interaksi kedua ayah-anak tersebut, tersenyum kecil menanggapinya. Bola emerald-nya beralih pada sang adik yang duduk di seberang. Terlihat Naruto sedang mengambilkan sesuatu untuk Sasuke—
"'Suke suka tomat, 'kan? Ini Naru kasih bagian Naru!"
—dan bermaksud menyuapinya.
Sontak Kurama terdiam dan melirik ke arah Uchiha senior… yang sedikit melebarkan mata karena terkejut sebelum memicing karena suatu hal yang tidak disukainya.
Sasuke, yang masih belum percaya kenyataan di depannya, menatap mata Naruto dengan lekat. Ia membuka mulutnya perlahan dan melahap tomat yang disodorkan jemari sahabatnya tanpa mengalihkan pandangannya. Dan cengiran lebar pun diterimanya bersamaan dengan aura kebahagiaan yang mulai berpendar di sekelilingnya.
Sungguh, ia tak ingin terbangun jika ini hanya mimpi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"'Suke hari ini ada kegiatan apa? Naru boleh ikut liat?" tanya Naruto ketika dirinya dan Sasuke sudah kembali ke kamar sang Uchiha. Bocah itu duduk di pinggir kasur Sasuke sambil memeluk bantal. Sasuke sendiri masih berdiri di depan pintu yang sudah tertutup, memandang sosok berambut pirang sahabatnya yang masih dianggap mimpi. "'Suke?"
"Are you… real?"
Tanya berbisik itu mengejutkan Naruto dan sedikit menyakitinya. Apa perpisahan selama lima tahun telah membuat Sasuke melupakan bahwa dirinya benar ada? Apakah hubungan via internet dan telepon tidak berarti apa-apa bagi Sasuke dan malah menganggap keberadaannya khayal belaka? Apa Sasuke sudah menggantikannya dengan keberadaan orang lain?
"'Suke nggak suka Naru dateng?"
Balasan itu menyentak Sasuke yang masih seperti di awang mimpi. Balasan penuh luka itu menyadarkannya dan langsung membuatnya menghampiri sosok yang kini terlihat memeluk bantal dengan sangat erat. Ia meraih pundak sang sahabat—yang terasa sangat nyata—lalu berkata tegas, "Bukan begitu! Aku hanya merasa sangat terkejut dengan kedatanganmu! Bukan berarti aku nggak suka!" Oniksnya menatap lekat safir anak berambut pirang tersebut, meyakinkannya dengan sungguh-sungguh.
"Hanya saja… bertemu denganmu dalam nyata setelah selama ini… rasanya seperti mimpi…"
Kami-sama… tolonglah! Umur Sasuke baru menginjak tahun ke-10! Jangan Engkau jadikan dirinya terdengar seperti bapak berusia 50 tahun yang baru bertemu dengan istrinya yang terpisah karena bencana alam!
Naruto mengikih pelan. "I'm not dead, 'Suke, not a dream either." Ia pun menyandarkan pipi kanannya ke lengan kiri sang Uchiha. "I miss you…" lirihnya sambil tersenyum lembut, "I really do, so much…"
Seulas senyum kecil pun merekah di wajah Sasuke. "Miss you too…"
Mereka pun saling bertukar cerita mengenai apapun yang mereka rasakan. Keseharian, kegiatan rutin, sekolah, pelajaran, hingga kesukaan dan ketidaksukaan terhadap sesuatu. Begitu tenggelamnya dalam bahtera mereka berdua hingga tidak sadar bahwa hari mulai menjelang sore, ditandai dengan ketukan di pintu si bungsu Uchiha yang menguncinya dari dalam.
"Sasuke, lebih baik kau dan Naruto-kun makan dulu. Tadi siang kalian melewatkannya," Suara Itachi mengingatkan dari balik pintu.
Sasuke dan Naruto, yang berposisi di atas tempat tidur dan tengah memerhatikan album foto sang Uchiha, bergerak menghampiri pintu bersama. Sasuke membuka kunci kamar dan menyambut kakaknya. "Hari ini Naruto menginap di sini ya?" pintanya kemudian.
Itachi tersenyum kecil. "Tidak masalah untukku. Coba tanya kaa-san di bawah," balasnya.
Sasuke pun langsung menggamit tangan Naruto lalu mengajaknya ke bawah. Mereka mendatangi Mikoto yang sedang menikmati tehnya bersama dengan suaminya dan Kurama. "Kaa-san, Naruto menginap di sini ya?" tanyanya tanpa memberi ruang penolakan.
Wanita berambut panjang hitam legam tersebut tersenyum lembut. "Boleh saja," lalu beralih ke Kurama yang menatap kedua anak itu lekat, "boleh Naru-chan menginap di sini, Kurama-kun?" sambungnya bertanya.
Sang Namikaze tertua balas tersenyum, "Selama tidak masalah bagi Anda maka juga tidak masalah dengan saya, Mikoto-san." Namun, matanya melirik ke arah Fugaku yang sedang duduk diam sambil membaca koran sorenya… lagi.
Melihat hal demikian, Mikoto berusaha menahan tawanya. "Kalau begitu sudah diputuskan. Naru-chan boleh menginap selama yang ia mau," tambah wanita itu lagi yang kini beralih memerhatikan sang bungsu Namikaze.
"I really can?" Naruto memastikan dengan mata berbinar-binar. Setelah mendapat anggukan, ia berseru, "Thank you so much, Miko-Mommy! Big Bro!" lalu berjalan ke tempat ayah sahabatnya berada, "uhm, ojyamashimasu, Papa Fuga!"
Nyaris saja Fugaku merosot dari kursinya setelah mendengar panggilan untuknya. Apa-apaan—PAPA?! Sejak kapan anak itu mendapat izin untuk memanggilnya demikian?! Cengkeraman jemarinya pada koran yang tak berdosa menguat… dan hal itu tak luput dari mata Naruto.
"Ma-maksudnya maaf merepotkan, Oji-sama!" Bungsu Namikaze itu mengoreksi ucapannya dengan segera, sama sekali tak ingin memancing kemarahan sang kepala rumah tangga.
"… Hn." Hanya itu balasan yang terdengar dari Fugaku, membuat Naruto merasa dirinya telah mengganggu sehingga bermaksud menarik kembali niatnya untuk menginap di sana. Namun, belum sempat ia mengutarakannya, Sasuke sudah meraih tangannya.
"Don't mind my father! He's just PMS-ing right now!" ujarnya sambil mengajak Naruto kembali ke kamar.
"B-but, 'Suke—"
"Jangan lupa hadiah liburanku kali ini apa ya, Tou-san!" seru Sasuke kepada sang ayah, mengingatkan Fugaku akan janji untuk tidak protes selama Naruto ada bersama Sasuke. Ia pun menarik sahabatnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
Tinggallah empat orang di lantai dasar. Dua tengah melihat ke arah tangga, dua lainnya berkutat dengan pikirannya sendiri. Suasana pun menjadi sunyi.
"Itachi, mungkin kau ingin berbincang berdua dengan Kurama-kun?" Tiba-tiba Mikoto memecah keheningan di antara mereka. Dari kalimatnya, wanita itu tahu bahwa putera sulungnya memahami makna sebenarnya.
'Tinggalkan aku dan ayahmu karena ada yang harus kusampaikan padanya.'
Bulu roma Itachi otomatis berdiri sekilas sebelum kembali normal. Ia langsung beralih pada Kurama yang sedikitnya juga merasakan dingin yang sama. "Mari kita ke taman belakang, Kurama-san," ajaknya yang langsung disanggupi oleh sang Namikaze dengan anggukan. Mereka pun bergegas pergi ke taman belakang dan meninggalkan sepasang suami-istri Uchiha itu.
Fugaku, yang mengetahui dengan jelas apa yang hendak dikatakan atau dilakukan istrinya, berusaha menenggelamkan wajahnya pada koran yang perlahan menutup ke tengah. Ia pun berpikir untuk kabur sejenak ke manapun selama Mikoto masih mengeluarkan hawa dingin tersebut. Apalagi jika wanita itu sudah mengatakan—
"Fu. Ga. Ku. San~"
—namanya dengan nada tidak mengenakkan seperti itu… Oh, well… He's doomed.
-.-.-TBC-.-.-
Gomen pendek banget! Tapi insyaAllah lanjutannya cepet update! Akhirnya Sasu dan Naru bertemu lagi setelah lima tahun berpisah—tapi hanya saat liburan loh! Bagaimanakah perkembangan hubungan mereka—juga Kurama dan Itachi? Nantikan lanjutannya ya~
Next: Sleepover at Uchiha Mansion
Ripiu? Ndak usah pake flem ya~
_KIONKITCHEE_
