Love Then

School Life/ Crack Pair /GS/ EXO

Cast :

Wu Kyungsoo (Girl)

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (Girl)

Oh Sehun

NO PLAGIAT/ NO BASH

DON'T LIKE? JUST CLOSE

TYPO ITU BAIK :P

Happy Reading Guys... :*

*KYUNGSOO POV

Astaga! Aku kesal sekali. Ada apa dengan telinga caplang kenapa daritadi tidak berhenti bertanya?. Oke baiklah aku memang langsung pulang setelah pelajaran terakhir tanpa menghubunginya. Hey, biasanya juga begitu aku jarang pulang bersamanya. Aku juga tidak melihatnya tadi di sekolah. Kami belum bertemu lagi setelah 'kencan' waktu itu. Jangan protes aku hanya mengikuti apa kata Chanyeol oppa. Tapi kenapa dia terus bertanya aku dimana? Kenapa tidak mengangkat telponnya? Apakah aku masuk sekolah? Apakah aku membolos? Dan ketika aku menjawab sudah pulang dan sedang di rumah sakit dia masih tidak berhenti bertanya. Aku memutuskan tidak menjawab. Biarkan saja dia menyebalkan.

Aku mengikuti mama yang mengajakku untuk menemui dokter Shin, dengan seorang perawat yang mengantarkan kami. Kami sudah memiliki janji sebelumnya jadi tidak perlu menunggu lama. Pintu bertuliskan dokter spesialis kulit lengkap dengan nama Shin Dong Woo itu diketuk oleh perawat yang mengantar kami. Kemudian perawat yang bername tag Heo Gayoon itu mempersilahkan kami masuk. Aku membungkuk untuk mengucapkan terimakasih kepada perawat cantik itu.

Dokter Shin Dong Woo tidak seperti yang ada dibayanganku. Kris Oppa bilang dia dokter yang berkompeten dengan banyak pengalaman. Di kepalaku langsung terbayang dokter tua dengan kepala botak, dan tubuh yang gendut. Tapi dihadapanku sekarang adalah dokter muda dengan kaca mata modern yang membuat wajahnya terlihat tampan. Tubuhnya tinggi tapi tidak setinggi Kris Oppa.

"Selamat siang Nyonya Wu, silahkan" waa suaranya sungguh enak di dengar. Aku duduk setelah mama tentu saja.

"Ini Nona Wu Kyungsoo?" tanyanya aku mengangguk sambil tersenyum. Oh Tuhan jika dokternya seperti ini aku tidak keberatan sering datang kesini.

"Sebelumnya, Yifan sudah mengatakannya padaku soal tanda lahir Nona Kyungsoo. Tapi bolehkah aku memeriksanya langsung?" Aku lagi-lagi hanya mengangguk. Aku tepikan rambut yang semula menutupi tanda lahirku itu. Dokter Shin berdiri dan memintaku untuk berbaring di ranjang yang ada.

Sepanjang pemeriksaksaan hatiku berdebar, bukan. Bukan aku jatuh cinta dengan dokter Shin, hanya saja aku tidak siap mendengarkan tentang tanda lahirku itu. Bagaimanapun juga tanda lahir itu dianggap biasa oleh keluargaku dan belum pernah di periksakan. Setelah diperiksa, dokter Shin menjelaskan secara detail tanda lahir itu. Namun pernyataannya di akhir kalimatnya membuatku kesal benar-benar kesal.

*Normal POV

Chanyeol masih di lapangan basket. Beberapa kali ia mengecek ponselnya berharap ada balasan dari seseorang namun nihil. Bahkan Chanyeol harus rela di minta Suga untuk istirahat saja daripada tidak konsentrasi saat latihan. Meskipun Chanyeol itu ketua tim basket tetap saja Suga sebagai wakilnya bisa menegurnya. Sekali lagi Chanyeol membuka Linenya, menscroll berkali-kali berharap tulisan read segera ia temukan. Benar saja pesannya sudah dibaca dan Chanyeol menunggu balasannya yang diyakini masih dalam proses mengetik.

KyungKyung : "Aku bertemu dengan dokter spesialis kulit barusan"

Benar dugaan Chanyeol bahwa gadis itu menemui dokter kulit. Dasar gadis keras kepala batin Chanyeol. Dengan cepat Chanyeol membalas pesan Kyungsoo. Ya, yang sedaritadi Chanyeol tunggu pesan dari Kyungsoo.

ParkChanyeol : "Apa yang dokter katakan?"

KyungKyung : "Aku tidak mau membahasnya. Sudahlah, aku harus kursus piano. Bye Kangkung"

Chanyeol mendengus namun tetap tersenyum membaca pesan dari Kyungsoo. Chanyeol menghela nafasnya sebelum beranjak dan bergabung dengan timnya. Chanyeol sudah lebih baik setelah pesannya di jawab meskipun banyak sekali pertanyaan untuk adik sahabatnya itu. Chanyeol tahu bahwa gadis itu sedang tidak dalam mood yang bagus.

~LoveThen~

Chanyeol berlari tergesa setelah menerima pesan bahwa Kyungsoo belum pulang ke rumah. Ini sudah hari Kamis, itu artinya sudah 2 hari yang lalu Chanyeol terakhir berkirim pesan dengan Kyungsoo dan 4 hari yang lalu terakhir bertemu. Bukannya mendapat kabar dari Kyungsoo langsung, Chanyeol justru mendapat kabar dari Nyonya Wu bahwa Kyungsoo belum pulang. Dari suara Nyonya Wu, Chanyeol tahu bahwa mama sahabatnya itu menangis. Dan disinilah Chanyeol sekarang, Sungai Han.

Chanyeol memperlambat langkahnya ketika ia melihat gadis yang dicarinya sedang duduk membelakanginya. Chanyeol menghela nafasnya kemudian mengambil duduk di samping gadis nakal yang sudah membuat banyak orang khawatir.

"Dasar, sekali-kali kaburlah yang jauh. Sungai Han. tidak pernah berubah" ujar Chanyeol membuat Kyungsoo menoleh.

"Suka-suka. Cerewet" ketus Kyungsoo yang membuat Chanyeol mengacak gemas rambut Kyungsoo.

"Jangan suka membuat banyak orang khawatir Kyung, kau ini tidak pernah berubah" nasihat Chanyeol yang membuat Kyungsoo menghembuskan nafasnya. Ini sudah malam dan angin musim gugur bukan ide yang bagus.

"Mama pasti menghubungi oppa" Kyungsoo menunduk dan memainkan tali sepatunya.

"Wae? Oppa tahu sedang ada yang tidak beres. Kau bisa cerita" Chanyeol sedikit mengeser duduknya mendekat ke arah Kyungsoo.

"Shireo. Aku tidak ingin bercerita" bukannya marah Chanyeol justru gemas dengan Kyungsoo yang jutek. Dan jarinya dengan lancar memukul dahi gadis itu sesuai kebiasaannya.

"Gadis nakal. Mau makan es krim?" tawar Chanyeol yang membuat Kyungsoo mengangkat wajahnya kemudian tersenyum. Chanyeol berdiri dan meraih tangan dingin Kyungsoo.

"Oppa" panggil Kyungsoo yang di jawab dengan deheman Chanyeol

"Apa salah jika aku sedikit kecewa dan marah pada Mama dan Papa?" Chanyeol menarik ujung bibirnya. Mereka sedang berjalan menuju kedai es krim.

"Tidak, itu wajar semua orang bisa kecewa kepada siapa saja. Hanya saja tidak baik terus-terusan marah tanpa memberi kesempatan orang tersebut untuk menjelaskan" nasihat Chanyeol yang justru membuat Kyungsoo menghela nafasnya panjang. Chanyeol yang menyadari hal itu semakin menarik tangan mungil Kyungsoo dan masuk ke kedai es krim.

"Yang biasa atau yang lain?" tanya Chanyeol saat mereka sudah berdiri di depan counter.

"Biasa" jawab Kyungsoo pendek, ia melepaskan tautan tangannya dengan Chanyeol dan memilih duduk di tempat biasanya ia duduk.

Setelah memesan, Chanyeol menyusul dan duduk di hadapan Kyungsoo. Kyungsoo sedang meletakkan kepalanya di meja berbantal lengannya. Kebiasaannya jika sedang ada yang menganggu pikirannya.

"Aku bertengkar dengan papa dan mama" lirih Kyungsoo namun masih di dengar Chanyeol. Chanyeol mengenggam tangan yang selalu tenggelam di genggamannya itu.

"Tidak usah bercerita jika tidak ingin" Kyungsoo mengangkat kepala dengan menekuk wajahnya. Chanyeol justru memberikan senyuman terbaiknya.

"Aku ingin menangis" adu Kyungsoo kemudian meletakkan kepalanya seperti semula.

"Ingin pergi dari sini? Kita bisa membungkus es krimnya" tawar Chanyeol tapi Kyungsoo mengeleng.

Seorang waiter datang membawa pesanan Chanyeol dan Kyungsoo. Kyungsoo merapikan penampilannya dan menyambut es krimnya dengan senyum manisnya. Fake Smile. Chanyeol tau akan hal itu tapi Kyungsoo yang berusaha tersenyum itu sudah lebih baik. Setidaknya gadis itu masih baik-baik saja. Wu Kyungsoo yang ia kenal akan langsung menangis ketika masalah yang dihadapi terasa begitu berat menurutnya.

Setelah memakan es krim dengan sedikit canda oleh Chanyeol tentu saja, Chanyeol mengantar Kyungsoo untuk pulang ke rumah. Sudah semakin malam dan angin musim gugur benar-benar menganggu. Jalanan tidak padat dan perjalanan menuju rumah Kyungsoo di isi dengan diam. Kyungsoo duduk di boncengan Chanyeol dengan kedua tangan yang memegang erat jaket Chanyeol.

"Oppa" panggil Kyungsoo sedikit berteriak karena angin akan membuat suaranya tidak jelas.

"Hmm" sahut Chanyeol sambil memelankan motornya.

"Aku ingin kabur dari rumah" Kyungsoo menenggelamkan kepalanya di punggung Chanyeol.

"Boleh saja asal bersamaku" jawab Chanyeol ringan dan kembali menarik gas motornya. Chanyeol harus segera membawa gadis ini pulang, nanti Nyonya Wu akan semakin khawatir.

Tak beberapa lama mereka tiba di rumah Kyungsoo. Kyungsoo turun dengan perlahan.

"Oppa, aku tidak ingin pulang" keluhnya lagi. Chanyeol hanya menghela nafas kemudian turun dari motornya. Kemudian menarik tangan Kyungsoo dan membawanya masuk. Chanyeol menunggu pintu rumah itu terbuka dan tak lama menemukan wajah Nyonya Wu yang tampak senang ketika tahu Chanyeol membawa Kyungsoo pulang.

"Kau darimana saja sayang? Mama mengkhawatirkanmu" Nyonya Wu langsung memegang lengan Kyungsoo. Kyungsoo hanya menduduk tidak mengeluarkan suara sama sekali.

"Masuklah sebelum papamu pulang sayang" Nyonya Wu paham anak gadisnya masih kesal. Kyungsoo menoleh ke arah Chanyeol yang tersenyum dan memberi anggukan. Kyungsoo masuk dan segera menaiki kamar.

"Kyungsoo sedang marah dengan kami Chan, karena tanda lahir itu harusnya sudah di hilangkan sejak kecil" Nyonya Wu mengajak Chanyeol duduk di kursi beranda.

"Apakah itu artinya saat ini sudah tidak bisa dihilangkan?" tanya Chanyeol menyimak cerita Nyonya Wu.

"Tentu saja bisa dan memang harus dihilangkan karena bisa mengenai syaraf mata dan menyebabkan glaukoma. Kyungsoo marah karena kami menganggap itu tanda lahir yang biasa" Raut muka Nyonya Wu sangat mendung, Chanyeol bahkan kaget ketika mengetahui fakta bahwa tanda lahir itu memang harus dihilangkan.

"Aku tidak tahu jika selama ini Kyungsoo mendapat bully karena tanda lahir itu, Kyungsoo kecewa dan menganggap kami sengaja membuat tanda itu tetap di wajahnya. Waktu itu sangat kecil dan dokter bilang tidak apa-apa. Kami tidak_" Nyonya Wu kehilangan kata-katanya.

"Aku akan mencoba menjelaskannya pada Kyungsoo bibi, aku mengerti maksud bibi" Chanyeol tersenyum dan mengenggam tangan Nyonya Wu.

"Dia tidak mau berbicara dengan kami" Nyonya Wu menghela nafas panjang.

"Bukankah Kyungsoo memang selalu seperti itu Bibi, Bibi tenang saja Kyungsoo tidak akan marah lama-lama" Chanyeol kembali menenangkan Nyonya Wu.

"Terimakasih Chanyeol-ah" Chanyeol hanya tersenyum.

"Sudah malam sebaiknya kau pulang, kalian besok masih harus sekolah kan?" Nyonya Wu mengingatkan. Chanyeol mengangguk kemudian berpamitan pada Mama Kyungsoo sebelum pulang.

~LoveThen~

*KYUNGSOO POV

Setelah Mama menyuruhku masuk aku memang langsung menuju kamarku. Duduk di depan kaca berlama-lama. Hingga aku mendengar suara motor Chanyeol oppa pergi, astaga Mama pasti sudah menceritakan semuanya. Aku hanya merasa kecewa dan sedikit marah pada kedua orang tuaku. Hasil pemeriksaan waktu itu membuatku cukup sedih. Memang tanda lahir ini bisa dihilangkan dengan terapi laser hanya saja membutuhkan waktu yang lama. Dokter Shin bilang jika tanda ini ditangani saat aku kecil mungkin hanya butuh 8 kali terapi.

Dan hell, air mataku jatuh lagi mengingatnya. Tanda lahirku ini sudah cukup tebal dan akan membutuhkan waktu yang lama untuk menghilangkannya. Bukan aku bukan takut jika terapi ini tidak berhasil hanya saja aku merasa kecewa. Mama dan Papa menganggap tanda ini bukan masalah ketika aku masih kecil dan sekarang lihat.

Drrt.. drrtt.. drrtt

Aku menoleh ke arah ponselku. Kris oppa. Dengan malas aku mengangkat panggilannya.

"Hay kyungkyung..."

"hmm" jawabku singkat

"Astaga kenapa suaramu irit sekali, kau tidak merindukanku?"aku mengaktifkan loudspeaker dan menaruh ponselku di meja.

"Sedikit"

"Ngambek saja terus, aku sudah dengar dari Mama. Everything will be okay sweety"

"Oppaa~~ hiks" Ah aku akan menjadi sangat cengeng jika seseorang memaksaku untuk bercerita.

"Heei, don't cry baby girl.. Jangan takut tanda itu akan hilang percaya pada oppa. Bahkan oppa akan mencarikan dokter terbaik di dunia ini untukmu" lihat oppaku manis sekali bukan

"Mereka bilang tanda itu sudah dekat hiks dengan syaraf mataku hikss. Oppa.. Iam affraid, aku sedikit kecewa dengan Mama dan Papa" aduku.

"Waktu itu dokter bilang tidak apa-apa. Tandamu kan baru membesar saat kau SMP kyung" aku tahu aku sudah tahu tapi kan aku hanya kecewa. Aku mempoutkan bibirku dan menyeka air mata yang sialannya terus saja keluar.

"Dear, jangan marah lagi dengan Mama dan Papa. Percayalah mereka akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya" nasihat Kris Oppa yang membuatku tidak bertambah baik. Tidak ada yang mengerti aku kan.

"Oppa aku mengantuk"

"Baiklah, sleep well princess. Aku menyayangimu"

"Hmm, aku juga menyayangi oppa" aku segera menutup panggilan Kris oppa.

Aku memang sedekat itu dengan Kris oppa. Keluarga kami selalu terbuka soal apa yang kami rasakan. Ungkapan kata sayang seperti itu sudah kebiasaan dari kami kecil. Jangan heran jika aku dan Kris Oppa sering saling mengunggapkan perasaan seperti itu. Kris Oppa juga masih sering menciumku. Ah aku jadi merindukanya.

Tak lama ponselku kembali mengeluarkan bunyi. Notification Line.

TiangOppa ^^:

"Selamat istirahat, besok aku akan menjemputmu kita berangkat sekolah bersama"

Satu lagi laki-laki yang harus ku hadapi. Tiang satu itu pasti ada maksud lain hingga mengajakku berangkat bersama. Pasti dia juga akan menasehatiku panjang lebar. Aku terkadang bingung kalau aku sedang ngambek kenapa semua panik? memangnya kenapa sih?. Dasar mereka berlebihan sekali. Lagipula aku tidak akan marah terlalu lama pada Papa dan Mama. Ah sudahlah aku harus segera istirahat, aku yakin si kangkung akan menjemput pagi. Lebih pagi dari jam berangkatku.

~LoveThen~

*KYUNGSOO POV

Pagi ini aku bangun lebih awal karena alarm yang berteriak nyaring, tumben sekali alarm ini terdengar. Aku buru-buru bersiap karena aku tidak ingin kangkung oppa datang ketika aku masih tidur. Sesekali aku terlihat baik dong di depannya. Aku langsung turun ke bawah ketika aku merasa sudah siap. Ada papa dan mama di meja makan. Aku lapar dari kemarin aku hanya makan es krim jadi aku terpaksa duduk di meja makan. Kenapa kangkung oppa lama sekali. Aku berharap sekali dia sekarang sudah datang.

"Selamat pagi kyung" sapa Papa yang sedang menikmati kopinya

"Pagi" jawabku singkat. Tapi aku tahu mama tersenyum hanya karena aku membalas sapaan papa.

"Masih marah?" Tuhkan Papaku memang tidak keren. Selalu to the point.

"Hmm" gumanku dengan mulut penuh sereal.

"Nanti pulang sekolah Mama akan menemanimu pergi ke dokter Shin" Mama yang kini bersuara.

"Untuk?" sebenarnya aku ingin bertanya banyak tapi kan aku masih marah jadi jawabnya singkat-singkat saja.

"Tentu saja menjalani tes sayang, ada banyak yang harus di tes kan?" aku hanya mengangguk.

"Permisi Nona muda, tuan Chanyeol sudah datang dan menunggu di depan" salah satu maid memberitahu. Hah dasar tiang sok rajin ini masih pagi. Aku cepat-cepat menghabiskan serealku. Ingat aku sedang lapar. :v

Aku berdiri sambil meminum jusku, aku mengambil tasku.

"Kyungsoo berangkat dulu~~" pamitku sambil sedikit berlari keluar tanpa mencium papa dan mama. Aku kan masih marah sudah di bilang juga.

Aku berjalan ke arah Chanyeol Oppa yang sedang tersenyum lebar. Aku khawatir bibirnya itu akan melebar jika dia terlalu sering tersenyum.

"Aku kira kau belum bangun" katanya dengan nada yang menyebalkan.

"Enak saja aku ini kan rajin" kataku sambil duduk di boncengan setelah memakai helm darinya.

"Rajin kau bilang? Bangun jam 12 siang kau bilang rajin? Cukup tau"

"Heii itu kan saat hari minggu" belaku tidak terima. Enak saja aku kan memang bangun pagi jika sekolah berbeda jika libur.

"Hari sabtu aku bertanding kau harus datang"

"Kau sudah mengingatkanku ribuan kali kangkung oppa"

"Oh ya? Hehehe pokoknya kau harus datang aku memaksa"

"Ini permintaan kedua kan?" aku tentu masih ingat 3 permintaannya itu.

"Bukan, ini hutangmu saat aku menunggumu waktu itu"astaga dasar tidak mau rugi. Itu hutang yang dia menungguku saat aku sedang patah hati.

"Permintaan kedua aku sedang memikirkannya" dia pikir aku ini sumur permohonan. Aku diam dan tidak mau membahasnya. Terserah Park Chanyeol saja.

"Kyungsoo-ya~~ aku sudah tahu semuanya soal tanda lahirmu itu. Jangan terlalu marah dengan orang tuamu mereka pasti sedih" Heeuuhh tuhkan ujung-ujungnya juga menasehati.

"Iya ini juga masih proses" jawabku asal. Aku menghembuskan nafas lega karena sudah sampai di sekolah. Dan aku akan terbebas dari nasihat sok bijaknya Chanyeol oppa.

*NORMAL POV

Hari ini adalah hari sabtu dimana Chanyeol akan bertanding basket. Kyungsoo tentu saja ingat. Dia jadi membolos les pianonya demi membayar hutang yang Kyungsoo sendiri tidak pernah menganggap itu sebagai hutang. Kyungsoo duduk di tribun penonton bersama Baekhyun yang berhasil Kyungsoo seret dengan paksa tentunya. Kyungsoo hanya tersenyum saat tim sekolahnya mulai memasuki lapangan. Dia duduk di belakang jadi Chanyeol mungkin tidak melihatnya. Kyungsoo sedikit terlambat tadi sehingga harus puas untuk duduk di belakang.

"Chanyeol Oppaaa~~~~ Fighting!" teriak Kyungsoo tiba-tiba. Chanyeol yang baru saja melakukan high five dengan teamnya mendongak dan tersenyum. Chanyeol tentu saja bisa menemukan Kyungsoo.

"Kau sudah seperti kekasihnya saja, lihat itu para medusa yang melihatmu" Baekhyun berbisik di telinga Kyungsoo. Baekhyun memang senang menyebut para gadis yang kelebihan energi itu dengan sebutan medusa. Katanya mereka mengerikan mirip medusa yang seakan punya mata banyak jika melihat lelaki tampan.

"Aku hanya perlu menunjukkan bahwa aku datang, sehingga aku sudah membayar hutangku" jawab Kyungsoo cuek. Bahkan kini Kyungsoo menatap balik para medusa itu. Siapa sih yang tidak kenal Baekhyun dan Kyungsoo? 2 gadis populer di SM High School.

Pertandingan di mulai. Kyungsoo dan Baekhyun juga akan berteriak senang jika sekolah mereka mendapat poin. 2 gadis itu tidak sadar jika ada dua pasang mata laki-laki di lapangan yang selalu menoleh ke arah mereka. Seakan dengan melihat gadis itu energinya bisa kembali maksimal. Ditengah-tengah pertandingan Kyungsoo mendapat panggilan dari Kris oppa. Tumben sekali pikirnya. Kyungsoo tidak mengangkatnya dan mengantinya dengan mengirim pesan untuk kakaknya itu. Namun balasan dari Kris ternyata membuat raut wajah Kyungsoo berubah. Bahkan gadis itu tidak tahu jika pertandingan sudah selesai.

Baekhyun mengibaskan tangannya di depan wajah Kyungsoo ketika melihat sahabatnya itu hanya diam dan memandang ke depan saja.

"Heii kyung, kau akan membantu para petugas membersihkan lapangan?" Baekhyun menepuk pundak Kyungsoo karena Kyungsoo yang tidak merespon.

"eh sudah selesai?" tanya Kyungsoo sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh lapangan.

"Astaga aku yakin kau juga tidak tahu jika sekolah kita menang. Sudahlah aku pulang dulu" Baekhyun meninggalkan Kyungsoo. Kyungsoo menahan tangan Baekhyun.

"Ayo turun bersama" Kyungsoo berjalan di belakang Baekhyun.

Chanyeol yang melihat Kyungsoo sudah turun segera membereskan barang-barangnya.

"Kyungsoo-ya.." teriak Chanyeol membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya menunggu Chanyeol yang sedang berjalan ke arahnya. Baekhyun melambaikan tangan pada Kyungsoo untuk pulang lebih dulu.

"Selamaat Oppa" Kyungsoo tersenyum dan Chanyeol hanya mengacak surai gadis mungil itu.

"Terimakasih sudah datang" Chanyeol ikut tersenyum

"Iuuh padahal kau memaksa tidak usah berterimakasih" balas Kyungsoo sarkas

"Aku akan mengantarmu pulang"

"Tentu saja harus" Kyungsoo berjalan mendahului Chanyeol. Membuat laki-laki jangkung itu tertawa ringan.

Selama perjalanan tidak ada pembicaraan. Kyungsoo sedang melamun dan Chanyeol tau ada hal yang terjadi lagi. Chanyeol hanya memperhatikan melalui spion motornya. Hingga mereka tiba di rumah Kyungsoopun, Kyungsoo tidak seceria biasanya.

~LoveThen~

Kyungsoo sedang meringkuk di kasurnya. Menangis. Padahal ini sudah tengah malam. Kyungsoo kembali bertengkar dengan Mama dan Papanya tentu saja. Kyungsoo yang marah, lagi. Ponselnya berbunyi dan menampilkan pesan dari Chanyeol.

LINE

00:15 KST

TiangOppa^^: Hey, bukalah jendela kamarmu. Cepat!

00:20 KST

TiangOppa^^: Astaga, apa kau sudah tidur?

TiangOppa^^: Di luar dingin kau tahu

TiangOppa^^: sent sticker

TBC

Wuaaa...

Ada yang nunggu? Ada yang kangen sama Chansoo? Sama aku?

Aku akhirnya kembali dengan cerita ini. Mungkin makin gajelas..

Tapi setidaknya bisa merefresh otakku, masih otewe skripsi akuhh T_T

Aah, selamat ulang tahun Kangkung oppa, hehehe telat banget ya? Gapapalah kemarin ku sudah bikin spesial chap di wattpad. Aku lebih aktif disana.

Ada yang mau mampir? Cari aja id Hotblackbaper tapi ceritanya Kpoplokal heuheu...#malahpromosi

Well, jika kalian ingin protes dengan chap ini monggo, dibuka lebar kok..

Klik tombol review. How about 20 review? Hehehe

Nggak janji lanjut cepet sih tapi akan aku usahan jika ada waktu luang.

Lovv-yaa :*

Di tunggu reviewnya..

-Caramelia : 2.40 WIB-