Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairing: Naruto & Sasuke (yang pasti mereka berdua), slight KuraIta

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Untuk chapter ini, setting masih lima tahun sudah berlalu. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 9:Sleepover at Uchiha Mansion—first part

Fugaku sedang merajuk. Ah, kalau kata itu digunakan tentunya akan membuat seluruh dunia ternganga dengan begitu lebarnya. Sayangnya memang benar, bahwa sang kepala rumah tangga Uchiha yang terkenal stoik, tegas, tak terkalahkan di antara para kolega, seram, dan dingin itu sedang merajuk. Alasannya hanya satu: Mikoto, sang istri tercinta yang juga lebih menyeramkan dibandingkan apapun di dunia, menghukumnya dengan tidak memberinya kecupan selama dua hari. Sungguh suatu hal yang mengejutkan. Di balik topeng besi sang Uchiha ternyata tersembunyi lelaki romantis yang senantiasa menantikan sentuhan pasangan hidupnya. Ah, baiklah! Bahkan berandalan sekalipun takluk pada maminya! Okeh, lupakan itu! Intinya, Fugaku sedang merajuk.

Bagaimanakah keluarga Uchiha menghadapi sang ayah yang seperti itu? Sebelumnya, seperti apa Fugaku yang sedang merajuk? Mari kita kembali ke hari pertama Namikaze Naruto menginap.

_Day 1_

Pagi yang cerah menyambut aktivitas di keluarga Uchiha dengan hangat. Ibu rumah tangga yang cantik dan elegan bernama Mikoto sudah berada di dapur demi mempersiapkan sarapan sehat untuk anggota keluarganya. Hampir selesai memasak, Itachi datang dan membantunya bersama dengan Kurama yang juga menginap di sana. Mereka berkutat di dapur hingga terdengar langkah ceria milik Naruto yang terlihat menarik Sasuke yang masih mengusap-usap matanya.

"Ohayou, Nii-tan, Ita-nii, Mama Miko!"

"Osh, Naru!"

"Ohayou, Naruto-kun."

"Ohayou, Naru-chan! Tidur nyenyak semalam?" Mikoto membalas sapa anak itu sambil tersenyum. "Kelihatannya Sasuke masih ingin tidur ya?" kikih wanita itu kemudian setelah melihat putera bungsunya menguap.

"Tadi malam Naru dan 'Suke cerita-cerita terus main game! Ternyata keterusan sampe jam dua! Baru deh Naru dan 'Suke tidur!" cengir Naruto tanpa rasa bersalah.

Kurama tidak suka mendengar adiknya tidur begitu larut apapun alasannya. Itachi pun demikian, karena baginya, mereka hanyalah anak kecil yang masih membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar tidak rentan sakit. Sepertinya mereka harus menegur kedua bocah tersebut.

"Tidak apa main game setelah berbagi cerita," Mikoto memotong teguran yang hampir keluar dari mulut kedua pemuda itu, "tapi lain kali lihat situasi dan kondisi ya. Mau bagaimanapun juga Naru-chan baru bepergian jauh dari LA dan di sana maupun di sini sedang musim dingin sehingga membuat udara tidak bersahabat dengan tubuh. Kalau salah satu atau kalian berdua jatuh sakit, bagaimana? Kalian akan susah berkomunikasi, benar?" ujarnya dengan lembut.

Naruto mengangguk. "Okay, Miko-Mommy! Besok-besok nggak akan lagi!" sanggupnya. Anak itu lalu beralih ke sahabatnya yang masih terlihat sangat mengantuk. "'Suke, bangun! Cuci muka lagi yuk! Habis ini kita bantuin Mama Miko!" Ia mengguncangkan tubuh bocah itu.

"Hn." Hanya itu balasan Sasuke sebelum ia membiarkan dirinya ditarik Naruto ke kamar mandi terdekat.

Kurama dan Itachi yang melihat interaksi kedua adik mereka itu menghela napas sambil tersenyum kecil. Mereka saling bertatapan sebelum kembali membantu Mikoto. Tak lama berselang, Fugaku datang dan duduk di meja makan.

Biasanya, Mikoto akan langsung menghampiri suaminya dan memberinya kecupan hangat di pipi sebagai ucapan selamat pagi. Namun, kali ini—

"Ohayou, Fugaku-san."

—yang didapat Fugaku hanyalah ucapan belaka tanpa ada sentuhan hangat yang—tidak rela diakuinya terang-terangan—senantiasa dinantinya… membuat dirinya syok yang berhasil ditutupi topeng stoiknya. Ia tidak membalas sapa pagi itu maupun mengambil koran yang terletak rapi di depan mejanya. Yang ia lakukan hanya bertopang dagu dan memerhatikan taman di sebelah ruang makan. Ketika matanya melihat sosok putera bungsunya dan anak yang masih dianggapnya sebagai makhluk antah berantah itu masuk ke ruang makan, ia mendecak pelan sebelum beranjak dari kursi untuk pergi ke ruang kerjanya.

Suasana menjadi hening. Kurama melihat Itachi yang menatap ibunya dengan alis terangkat sebelah. "Ada sesuatu yang ingin Kaa-san katakan?"

Mikoto tersenyum manis—membuat bulu kuduk orang yang melihatnya berdiri. "Tidak ada. Semua baik-baik saja, Itachi~" jawabnya lugas, sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk pertanyaan lebih lanjut.

Itachi hanya menghela napas sebelum mengambil nampan berisi makanan dan membawanya ke meja makan. Kurama yang masih berada di dekat Mikoto tersenyum kecil pada sang wanita. "Kalau kami memang penyebabnya, katakan saja, Mikoto-san," ujarnya. Ia tak ingin rumah tangga Uchiha terusik karena kehadiran dirinya dan Naruto. Ia akan pergi saat itu juga jika demikian kenyataannya, meskipun hal itu akan membuat adiknya—tentunya juga dirinya—sangat sedih.

Kali ini senyuman Mikoto berubah menjadi lebih lembut dan pengertian. "Jangan berpikiran begitu, Kurama-kun! Kami sangat senang dengan kehadiran kalian di sini!" tegasnya. "Suamiku hanya perlu menyadari hal itu meskipun jalannya seperti ini," jelasnya kemudian.

"Arigatou, Mikoto-san!" ucap Kurama pelan namun tetap terdengar rasa lega di dalamnya. Ia lalu membawa nampan berisi minuman ke meja makan, meninggalkan Mikoto yang menatap punggungnya sejenak sebelum mematikan kompor dan bergabung dengan putera-puteranya di ruang makan. Mereka lalu sarapan pagi dengan berusaha untuk tidak mengindahkan kursi kosong yang biasa ditempati sang kepala keluarga.

Tidak seorang pun menyadari suasana hati yang menggelap karena kesedihan memendar perlahan tapi pasti milik seseorang yang hangat bak matahari. Dan yang bersangkutan pun berhasil menyembunyikannya dengan sempurna di balik topeng cerahnya.

"Hari ini aku mau ke toko buku," kata Sasuke usai sarapan.

"Naru ikut!" sahut Naruto. "'Suke mau nyari buku apa?" tanyanya kemudian.

Uchiha bungsu itu meneguk air sebelum menjawab, "Novel sejarah. Ada tugas liburan dari sekolah."

"Mau kuantar?" tawar Itachi kepada adiknya yang dibalas dengan gelengan.

"Aku bisa pergi berdua dengan Naruto. Aniki main sama Kurama-san saja," balas Sasuke seolah tak ingin sang kakak pergi bersama mereka—yah, anak itu memang ingin pergi berdua saja dengan sahabatnya.

Kurama menaikkan sebelah alis mendengar kata yang dilontarkan Sasuke. Ia tahu kata 'main' itu maksudnya adalah melewati waktu bersama tetapi ia tak bisa memungkiri implikasi yang terdeteksi di dalamnya. Apakah itu berarti Sasuke mengetahui perasaannya terhadap Itachi? Atau justru sang Uchiha sendiri yang sudah mengatakan situasi mereka pada sang adik? Tapi Itachi termasuk tipe orang yang sangat selektif dan personal bahkan terhadap keluarganya. Kalau memikirkan bahwa ia menceritakan kejadian lima tahun yang lalu di kantin sekolah, rasa-rasanya tidak mungkin. Lain halnya kalau 'main' yang dikatakannya merujuk pada keinginannya menghabiskan waktu hanya dengan Naruto. Berdua saja tanpa ada orang lain yang mengganggu—apa lagi kakak yang masih setia dengan sikap overprotective terhadap anak umur sepuluh tahun. Wajar saja. Yang manapun tetap membuatnya menghela napas panjang secara diam-diam.

"Ita-nii tenang aja! Naru bakal nemenin 'Suke terus kok! Kalo 'Suke lupa makan, nanti Naru yang ingetin!" seru Naruto meyakinkan.

"Yang lupa makan kemarin 'kan kau sendiri, Dobe."

"Naru bukan 'dobe'! Kemarin juga 'Suke lupa makan kok! 'Kan kita lagi seru ngomongin game yang waktu itu kita bicarain di web!"

Sasuke menyeringai. "Yeah, and you lost."

Naruto menggembungkan sebelah pipi. "I won't lose to you next time!"

"Hn. Sure sure."

"Bet on it!"

"Handmade?"

"Challenge accepted!"

Kedua lelaki yang mendengar percakapan mereka saling memandang sebelum tersenyum kecil. Mereka ingin mengingatkan bahwa taruhan bukanlah hal yang baik apalagi di usia yang masih dini. Hanya saja, mereka tahu bahwa Sasuke dan Naruto tidak akan melakukan taruhan yang berakibat buruk ke depannya. Bahkan setelah menyadari bahwa hadiah untuk siapapun pemenangnya adalah sesuatu yang dibuat sendiri. Mereka memang tidak tanggung-tanggung jika sudah berhubungan satu sama lain.

"Memangnya apa hadiahnya?" Tiba-tiba Mikoto menyahuti percakapan kedua anak lelaki itu. Ia senang melihat putera bungsunya terlihat lebih hidup ketika bersama sang Namikaze cilik. Belum lagi yang bisa membuat Sasuke bersemangat seperti itu selain olahraga adalah Naruto, Mikoto tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk bertanya lebih jauh.

Naruto, masih menggebu-gebu dengan keinginannya untuk menang, menjawab dengan yakin, "Yang menang bakal dapat hadiah dari yang kalah tapi harus buatan sendiri! Waktu itu Naru kalah tapi kali ini Naru nggak bakal kalah dari 'Suke! Mama Miko nantikan kemenangan Naru ya!"

Mikoto mengangguk sambil tersenyum lebar. "Mama menantikan kejayaan Naru-chan~" Dan terdengarlah suara kekehan bocah berambut pirang itu.

Itachi bertanya pada Sasuke dengan suara kecil, "Berapa skor kalian?"

"230 – 107; aku di depan," jawab sang Uchiha singkat sambil menyeringai licik. "Dia gampang dimanipulasi." Sang kakak menggelengkan kepalanya sebelum melirik Kurama yang memutar kedua bola matanya.

"Boys will be boys."

"Agree."

Mereka pun menyudahi sarapan dan menjalani aktivitas masing-masing. Mikoto dengan agendanya, Itachi mengajak Kurama untuk mendiskusikan topik yang akan dibahas di skripsinya, dan Sasuke dengan Naruto bersiap untuk pergi ke toko buku. Sebelum berpisah, Naruto menghampiri Mikoto.

"Mama-Miko, bagaimana dengan Fuga-ji-sama? Apa beliau nggak sarapan? Nanti kalau kelaparan gimana?" tanyanya cemas.

Sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, Mikoto lalu tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir, Naru-chan! Nanti juga kalau lapar akan keluar sendiri dari manapun ji-san berada!" ujarnya dengan menekankan pada imbuhan –san yang lebih terdengar kasual dibandingkan –sama.

Naruto menggeleng. "Sarapan itu penting! Apalagi untuk orang sibuk seperti Fuga-ji-sama! Nanti kalau nggak sarapan, ji-sama akan gampang sakit!" serunya masih dengan cemas. "Kalau Mama-Miko sedang sibuk, Naru bisa kok nganterin sarapan untuk Fuga-ji-sama!" tambahnya meyakinkan.

Melihat kesungguhan anak itu yang mengkhawatirkan keadaan suaminya, Mikoto merasa tersentuh. Ia setarakan tinggi mereka lalu perlahan membelai rambut pirang yang mencuat berantakan. "Arigatou, Naru-chan. Mama senang Naru-chan mencemaskan keadaan ji-san. Nanti biar Mama yang mengantarkan sarapan untuknya. Naru-chan tidak usah khawatir, ya?"

Safir milik sang Namikaze cilik menatap lurus oniks sang wanita. Setelah yakin bahwa mama sang sahabat akan segera membawakan sarapan untuk suaminya, barulah Naruto tersenyum lega. "Un!" Kemudian, ia kembali ke sisi Sasuke yang duduk menunggu di tangga. Mereka pun beranjak ke kamar sang Uchiha untuk bersiap-siap.

Mikoto, masih melihat kedua anak itu hingga menghilang dari jarak pandang, berpikir untuk menyiapkan sarapan yang baru untuk suaminya. Tadinya ia akan membiarkan sang suami untuk mengambilnya sendiri. Namun, begitu melihat tatapan penuh kecemasan dari seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun, ia mengesampingkan egonya dan memutuskan untuk melayani suaminya seperti biasa. Wanita itu lalu memasak sebentar dan membawakan sarapan ke kantor sang suami yang berada tepat dua ruang dari kamar tidur mereka di lantai bawah.

"Fugaku-san, aku membawakan sarapan untukmu."

Tidak ada jawaban dari dalam kantor, dan Mikoto membuka pintu tanpa rasa bersalah. Ia mendapati suaminya sedang duduk membelakangi meja sambil membaca koran pagi itu. Lalu ia meletakkan nampan yang berisi sarapan di meja kerja sang suami. "Roti bakar keju, salad, kopi, dan air. Kalau butuh sesuatu yang lain, aku akan berada di kamar," ucapnya.

Sejenak, suasana menjadi lebih hening. Hanya kicauan burung terbang di teras yang terdengar. Tak lama, suara berat pun terdengar. "Hn. Tidak perlu. Tanganmu sudah repot mengurusi tamu. Aku tidak ingin membebanimu lebih jauh."

Entah mengapa kalimat Fugaku justru membuat dahi Mikoto sedikit berkedut. Nada yang terdengar tidak sesuai dengan kata-kata yang terlontar. Dan wanita itu tidak suka mendapatinya. "Tadinya aku memang tidak mau repot membawakan sarapan ke sini karena aku yakin Fugaku-san bisa mengambilnya sendiri. Akan tetapi, Naru-chan mencemaskan ayah sahabatnya dengan mengatakan bahwa sarapan itu penting agar tidak mudah sakit khususnya bagi orang sibuk, dan menawarkan diri untuk membawakannya ke sini." Ia membalik badan dan berjalan menuju pintu. "Seharusnya aku memang tidak perlu merepotkan diri untuk mengantarkan sarapan ke sini jika Fugaku-san memutuskan untuk tidak bertoleransi terhadap sahabat anak bungsumu sendiri!"

Debaman pintu menggema di kantor sang Uchiha, membuat pria itu membalikkan kursi seperti robot. Ekspresinya priceless, bagaikan orang bodoh yang melongo karena tidak mengerti apa yang salah dalam perilakunya. Dan Fugaku sungguh merasakan hal itu karena wanita yang dicintainya bagai menolaknya saat kencan pertama. Aah, hatinya kacau! Semua gara-gara anak itu!—atau itulah yang bermain di benaknya. Namun, satu hal yang pasti, sekarang ia harus mengisi perutnya yang daritadi kelaparan.

Kembali ke Sasuke dan Naruto yang berada di dalam bis menuju toko buku langganan sang Uchiha. Mereka duduk di deretan kursi paling belakang yang dekat dengan tombol tanda pemberhentian. Sasuke sedang berkutat dengan iPod-nya ketika sudut matanya mendapati sang sahabat yang terlihat sedikit muram. Ia menghela napas karena sedikit banyak mengetahui penyebabnya.

"Oi, nggak usah pikirin pak tua itu, Dobe! Kaa-san pasti menepati kata-katanya kok," ujar Sasuke. Naruto mengangguk perlahan tetapi masih tetap dengan ekspresi muram, membuat Sasuke sedikit sebal. "Kalau memang lebih suka bersama ayahku, turun saja dari bis ini! Aku bisa pergi sendiri!" ketusnya.

Seketika Naruto menggelengkan kepalanya. Ia raih kedua tangan Sasuke sambil menatapnya sungguh-sungguh. "Naru sangat suka bersama 'Suke! Di manapun berada nggak masalah bagi Naru! Jadi, 'Suke jangan ngomong begitu!" tegasnya.

"Tapi sekarang kau memikirkan ayahku, 'kan? Padahal aku ada di sini bersamamu!" gumam Sasuke cemburu—yang tidak akan ia akui terang-terangan.

Naruto menggelengkan kepalanya dengan lebih cepat. "Cuma karena ji-sama yang belum sarapan kok! Tapi 'Suke bilang mama-Miko pasti ngebawain sarapan ke ji-sama dan Naru percaya! Makanya, sekarang Naru udah lega! Naru nggak mikirin ji-sama lagi kok! Percaya deh sama Naru!" serunya meyakinkan. Ia tak ingin sahabatnya merasakan hal yang tidak enak karena dirinya yang kurang peka. Ia pun tak ingin keberadaannya malah dirasa menyusahkan. Ia berada di sana semata karena ingin bersama Sasuke seorang—dan tentu saja bertemu dengan kakak-kakaknya juga.

Masih sedikit terbakar api cemburu yang sebetulnya tidak beralasan, Sasuke membalas genggaman tangan sang Namikaze meskipun jemari kirinya terhalang oleh iPod. "Benar?" ragunya. Ia mendapat anggukan pasti dari sang sahabat dibarengi dengan pancaran langit biru yang senantiasa menatap lurus padanya. Tak lama, Sasuke menghela napas dan memalingkan wajah sambil menggumam, "Gomen…"

Merasa kesenjangan di antara mereka sudah menghilang, Naruto maju dan mengecup pipi sang Uchiha dengan lembut. "Naru juga maaf ya…" ucapnya sambil tersenyum. Sasuke yang senang mendapat kecupan itu—meskipun tidak akan ia akui dengan jujur—mengangguk tipis lalu melepaskan tautan jemari mereka untuk memasangkan headset sebelah kanan di telinga kanan Naruto. Lalu ia memasang headset sebelah kiri di telinga kirinya dan menekan tombol play yang memainkan lagu kesukaannya. Berdua, mereka menikmati lagu-lagu yang tertera di playlist iPod Sasuke hingga tiba di tempat tujuan. Tak sedikitpun mereka menghiraukan tatapan orang-orang di bis yang keheranan dengan tingkah mereka yang seperti bukan anak-anak.

Seorang pemuda berambut oranye yang mengenakan jaket hitam dengan motif sepasang alat memanah di bagian saku dada dan punggung memerhatikan kedua anak itu dengan seksama. Ia tidak sengaja satu bis dengan mereka dan merasa tertarik dengan keduanya semenjak matanya tertumpu pada sosok Sasuke yang ia tahu sebagai adik teman satu klubnya, Itachi. Ia tertarik karena selain Sasuke bisa mendekatkannya dengan sang kakak, interaksi antara anak itu dengan anak berambut pirang yang tidak pernah dilihatnya itu mengundang rasa ingin tahunya. Mereka tampak sangat dekat—bahkan hingga berani berciuman di dalam bis setelah mengeluarkan bom kata-kata layaknya pasangan kekasih yang salah paham dan kemudian berbaikan. Ia tak berani berspekulasi demikian karena bagaimanapun juga mereka—atau Sasuke yang ia tahu—baru berusia sepuluh tahun! Apa benar bocah sekecil itu sudah diizinkan berpacaran? Heck! Memangnya mereka sudah mengerti pacaran itu apa? Ia menggelengkan kepala. Namun, karena menarik, ia memutuskan untuk mengirimkan pesan ke kakak bocah itu. Siapa tahu dari sana ia bisa lebih dekat dengan Itachi! Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui~

_Kediaman Uchiha tepatnya di perpustakaan_

Ponsel Itachi bergetar ketika dirinya sedang membahas hipotesis dalam skripsinya dengan Kurama. Ia menghentikan penjelasannya sejenak dan membaca pesan yang masuk ke dalamnya.

From: Akatsuki Yahiko

To: Uchiha I.

Subject: otoutou

Itachi, aku melihat adikmu di bis bersama dengan pacarnya~ Haha! Kau kalah darinya!

Alis kiri Itachi terangkat naik. Ia tidak mengerti dan tidak ingin mengerti perkataan seniornya itu. Lebih baik ia memikirkan skripsinya. Sang Uchiha pun kembali berdiskusi dengan sang Namikaze. Namun, tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

From: Akatsuki Yahiko

To: Uchiha I.

Subject: otoutou 2

Heh? Karena tidak kau balas berarti benar adikmu sudah punya pacar? Asli? Kenapa malah kau yang belum punya pacar?

Kali ini urat di pelipis Itachi yang berkedut. Apa-apaan pertanyaan orang bodoh itu? Seperti tidak punya kerjaan lain saja! Memangnya ia wajib menjawab pertanyaannya? Ia punya hal yang lebih penting daripada itu!

Satu pesan lagi diterima ponselnya.

From: Akatsuki Yahiko

To: Uchiha I.

Subject: with me

Why don't you be mine instead?

Itachi langsung membanting ponselnya. Dengan. Keras. Mengagetkan Kurama yang sedang membaca landasan pembahasan topik yang dipilih sang Uchiha.

"Itachi?"

"Kuman itu ternyata ada maunya…" Pemuda berambut panjang itu menggumam pelan dengan nada yang sangat tidak enak—bagaikan hendak memburu seseorang. Jemari terkepal erat seperti tengah menahan amarah yang memuncak dan bisa meledak kapan saja. Namun, yang paling menyeramkan adalah tatapannya yang dingin dan penuh aura membunuh dibarengi dengan wajah stoic porselein yang sempurna. Kalau saat ini ia bertemu dengan oknum yang menjadi targetnya, sudah pasti korban akan langsung bertemu dewa di alam sana.

Sang Namikaze tentu akan merasa sedikit ketakutan jika tidak terbiasa dengan sang Uchiha. Pertama kali ia melihat Itachi begitu marah adalah ketika Fugaku mendampratnya secara langsung sebagai orang yang tidak pantas bergaul dengan anaknya di depan Itachi. Saat itu, bulu kuduk Kurama langsung berdiri mendapati hawa dingin yang menusuk berpendar di sekitar. Namun, tak terpungkiri bahwa ia pun merasa senang karena Itachi marah demi dirinya yang waktu itu masih sebatas guru baginya. Kini, mereka sudah lebih dekat hingga bisa dikatakan sahabat—yang pernah hampir dihancurkannya karena perasaan yang lebih terhadap Itachi. Dan melihat sang Uchiha yang marah seperti itu, Kurama ingin membantunya meredakan perasaan negatif itu. Lelaki berambut merah cepak itu lalu mengambil ponsel sang pemuda yang hebatnya tidak rusak sedikitpun. Emerald-nya tak sengaja membaca tulisan yang tertera di layar pesan.

Itachi, terlambat menyadari bahwa ponselnya sudah berada di tangan sang Namikaze, ingin segera menyambar benda tersebut dan mematikannya. Sayangnya, ia terlanjur melihat lelaki itu membaca pesan yang membuatnya marah. Ia pun terdiam, tidak yakin harus berkata apa.

Kurama pun demikian. Setelah tak sengaja membaca dan memahami isi pesan di ponsel Itachi, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apakah ia harus berpura-pura tak melihatnya? Apakah ia harus mengalihkan pembicaraan kembali ke topik skripsi yang sedang mereka bahas? Atau haruskah ia membicarakan hal ini dan menyinggung kembali pengakuannya lima tahun yang lalu? Tidak, yang terakhir tidak akan dilakukannya karena Itachi perlu mengkonsentrasikan diri untuk menyelesaikan skripsinya. Ia tidak akan mengganggu sang Uchiha hanya karena egonya yang pelan-pelan naik… dan kecemburuan yang perlahan meracuni kawah hatinya. Ia tak ingin membebani Itachi dengan perasaan yang hingga kini masih dan semakin bertambah kuat. Tidak. Ia tidak ingin menyusahkan sang Uchiha.

"Boleh kumatikan?" Kurama mendapati dirinya bertanya demikian karena ia hanya bisa mengambil keputusan seperti itu untuk situasi ini. Dengan matinya ponsel sang Uchiha, diskusi mereka akan lebih mudah berjalan tanpa gangguan pesan yang tidak penting, dan ia tidak begitu terdengar seperti orang yang cemburu. "Kalau ada apa-apa dengan Naruto dan Sasuke, mereka bisa menghubungiku," tambahnya, memberikan opsi mengenai kedua adik mereka.

Sejenak berpikir, Itachi mengangguk setelah mendapatkan jawabannya sendiri. Ia tahu kedua adiknya pasti akan menghubungi Kurama kalau tidak bisa meraih ponselnya. Ditambah lagi, ia merasa lega karena sang Namikaze menyarankan demikian. Ia bisa mendengar sedikit rasa cemburu di nada lelaki itu ketika mengatakannya. Meskipun itu hanyalah dugaan egoisnya sendiri, Itachi berharap bahwa Kurama masih menyimpan rasa untuknya. Lima tahun sudah berlalu semenjak pengakuan sang guru dan kini mereka sudah jauh lebih dekat hingga menjadi suatu rutinitas bagi mereka untuk makan malam bersama setiap minggu di hari libur. Belum lagi kunjungan sang Namikaze ke rumahnya saat liburan panjang—dan terkadang menginap, Itachi menyimpan sebuah harapan akan di mana keegoisannya berbuah dan—yak, ia menyudahi ilusinya sampai di sana. Ia harus kembali ke kenyataan dan menghadapinya dengan jantan.

'Fokus ke skripsi! Konsentrasi!' batin Itachi berseru meskipun wajahnya tetap kalem tanpa ekspresi. Ia mengambil penanya dan mulai kembali menulis draft bab kedua ketika sudut matanya mendapati sang Namikaze yang masih memerhatikan ponsel tanpa daya itu. Ia melihat betapa alis itu bertaut di tengah dalam sebuah ekspresi yang tidak sering dilihatnya. Dan jantungnya mulai berdetak cepat dalam keheningan. Wajahnya terasa memanas dan ia berdoa agar pipinya tidak bersemu merah.

Bolehkah ia berharap? Bolehkah ia terus berdiam dalam ilusinya?

Kurama bagai terlihat marah karena tidak suka ada yang bermaksud merebut Itachi darinya.

Bolehkah ia menggenggam mimpi itu erat-erat?

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sasuke sudah mendapatkan buku yang dicarinya dan sekarang ia sedang makan hamburger berdua Naruto di Konoha Burger. Setelah makan, ia bermaksud membawa Naruto mengunjungi tempat-tempat yang dirindukan sang Namikaze selama di LA. Ia tahu beberapa tempat yang ingin didatangi, selebihnya tinggal menanyakan Naruto ingin pergi ke mana.

"Ne, 'Suke, SMA nanti 'Suke mau masuk ke sekolah yang mana?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Belum pasti tapi mungkin SMA tempat aniki sekolah. Aku malas mencari tempat lain," jawab Sasuke.

Naruto nyengir, "Nanti kasih tau Naru ya masuk ke mana supaya Naru juga masuk ke sekolah yang sama dengan 'Suke!" pintanya.

Sasuke menatap sahabatnya. "Itu 'kan masih beberapa tahun lagi, Dobe. Lebih baik kau pikirkan sekolahmu yang sekarang," ujarnya.

Mengangguk, Naruto pun membalas. "Iya. Masih enam tahun lagi tapi Naru udah nggak sabar!" Anak itu memandang kejauhan di balik jendela kaca yang terpampang di hadapannnya. "Naru nggak sabaran mau cepat kembali bersama 'Suke setiap saat…" lirihnya.

Sang Uchiha berhenti menyesap cola-nya. Ia pun memandang kejauhan yang sama, juga berpikiran yang sama.

Ingin selalu bersama-sama, setiap saat, setiap waktu, tanpa terhalangi jarak yang begitu jauh. Tidak ada yang menahan, tidak pula melarang. Berdua, bersama.

"SMA nanti tinggal bersamaku ya," Tiba-tiba Sasuke mengucap sesuatu yang terlintas di benaknya. "Aku akan keluar dari rumah dan menyewa rumah sendiri. Saat itu, tinggallah bersamaku!" ajaknya tanpa nada main-main.

Seketika Naruto mengangguk. "Un! Nanti kita bagi dua sewanya, lalu setiap hari kita bisa berangkat bareng ke sekolah! Naru mau!" tegasnya menyanggupi.

Sasuke tersenyum kecil. "OK. Janji."

"Janji~"

-.-.-TBC-.-.-

Okeh, mahapkeun Kyou yang lama update! Ini Kyou panjangin, dan nantikan lanjutannya ya~

Ripiu? Ndak usah pake flem ya~

_KIONKITCHEE_