Lil Hands

by Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

Genre: Friendship/Family

Pairing: Naruto & Sasuke (yang pasti mereka berdua), slight KuraIta

Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!

A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Untuk chapter ini, setting masih lima tahun sudah berlalu. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Scene 11:Sleepover at Uchiha Mansion—last part

Fugaku masih merajuk. Rasanya lelaki itu kerasan dengan kata tersebut dua hari ini. Masih dengan masalah yang sama: sang istri tercinta yang belum mau memberinya kecupan hangat, dan tamu yang belum juga minggat dari rumahnya. Fugaku masih merajuk. Apakah pria itu kembali mengurung diri di kamar? Kalau yang itu jawabannya adalah tidak karena malam sebelum ia tidur di hari pertama para Namikaze menginap, Sasuke mendatanginya. Putera bungsunya itu menatapnya tajam dan penuh ancaman, membuatnya bertanya-tanya dan sedikit awas.

"Kalau besok pagi Tou-san nggak ikut sarapan, aku akan marah besar dan nggak akan ngomong sama Tou-san selamanya!"

Sarapan? Anak itu marah karena pagi ini ia tak ikut sarapan? Kenapa?

"Dan kalau besok pagi Tou-san nyuekin Naruto, aku benar-benar akan membenci Tou-san selamanya!"

JREEENG! Jawaban terkuak, sedikit menusuk hatinya dan meretakkan dinding kaca yang melapisinya. Meskipun itu hanya ancaman dari seorang bocah yang masih ingusan—walaupun Sasuke bukan anak jorok yang memeper ingus ke mana-mana, tetap saja Fugaku tidak mau anaknya itu membencinya. Boleh saja ia terlihat kaku, dingin, dan jahat di luar tetapi hatinya lembut dan sebenarnya romantis sehingga selalu berdoa agar keluarganya harmonis dan menghormatinya sebagai pemimpin. Sekarang, keharmonisan itu terancam rusak karena dirinya yang memutuskan untuk tidak mengindahkan bocah Namikaze itu?! Oh, tidak. Tidak boleh terjadi! Ketentraman keluarga harus dipertahankan! … meskipun harus menahan diri dan berbaik hati kepada bocah antah berantah itu…

_Day 2_

Pagi yang cerah menyapa kediaman keluarga Uchiha dengan hangat. Kicauan burung bersahutan turut meramaikan suasana. Salakan anjing yang menemani majikannya berolahraga pun terdengar ramah. Kerincing sepeda pengantar koran juga menyelaraskan melodi yang disenandungkan alam. Ditambah lagi dengan udara yang mendukung lalu lalang aktivitas yang baru saja akan dimulai, tak terpungkiri betapa pagi itu sangat indah… berlawanan dengan suasana yang terjadi di dalam rumah besar tersebut.

Di ujung meja makan, Fugaku duduk. Di sebelah kirinya terdapat Itachi. Di sebelah kiri Itachi ada Kurama. Di samping Kurama, tepatnya di ujung meja makan yang berseberangan dengan Fugaku, Mikoto duduk. Di sebelah kiri Mikoto terdapat Naruto, dan tentu saja di samping anak itu ada Sasuke… yang terus menerus menatap ayahnya dengan tajam.

"Jika ada yang ingin kau katakan, mulutmu masih berfungsi, Sasuke," ucap Fugaku kalem tanpa melihat putera bungsunya. Pria itu berkutat dengan kopi pahit yang benar-benar terasa pahit melebihi takaran yang biasa.

"Jika ada yang mau Tou-san katakan, mulut Tou-san juga masih berfungsi," balas Sasuke kalem—yang lebih terdengar seperti menahan emosi yang bisa meluap kapan saja.

"Otoutou, sopanlah sedikit. Ini masih pagi dan kita sedang sarapan," tegur Itachi yang dengan tenang memakan roti bakarnya. Matanya melirik sang adik dari balik poninya lalu sedikit terkejut ketika mendapati wajah yang dingin dengan bola tajam yang sedari tadi menatap sang ayah kini… berubah menjadi ceria?

"Wahai Ayahanda yang terhormat, tentunya kata-kata yang senantiasa mendekam di tenggorokan Ayahanda merasa bosan sehingga ada baiknya jika Ayahanda melepas mereka keluar," ucap Sasuke ringan sambil menunjukkan ekspresi cerah ceria bagai mentari yang baru saja menduduki singgasananya.

Dan hawa dingin menyergap dengan sempurna, seakan badai muncul setelah tenang melanda. Itachi berharap seandainya ia mengenakan sweater yang lebih tebal tadi. Kurama berharap seandainya ia tidak segera menghabiskan susu panasnya tadi. Fugaku bergidik sambil berpikir bahwa semalam ia salah posisi tidur. Mikoto hanya meniup minuman panasnya dengan elegan seperti biasa. Naruto…

"'Suke, mau Naru suapi?"

Anak itu seperti tak menyadari tensi yang mengungkung suasana sarapan mereka dan malah mengambil sepotong sandwich lalu menyodorkannya ke Sasuke yang perlahan menoleh ke arahnya. Naruto tersenyum manis, "Ekstra tomat loh~" tambahnya.

Sasuke memutar bola matanya sebelum melahap potongan sandwich yang disodorkan Naruto. "Kau juga harus makan sayur, Dobe! Jangan karena aku suka tomat lantas kau nggak makan sayurmu sendiri!" tegurnya setelah mengunyah dengan cepat.

Naruto menggembungkan sebelah pipinya. "Naru bukan 'dobe'! Dan Naru makan sayur kok! Lebih tepatnya minum sih…" Anak itu mengambil gelasnya yang berisi cairan hijau. "Mama Miko bikinin Naru jus bayam—walaupun Naru nggak suka tapi Naru minum kok!" protesnya pada Sasuke, lalu meneguk jus tersebut dengan susah payah.

Mikoto tersenyum mendapati anak itu berusaha menghabiskan jus sayuran yang dibuatkannya. "Naru-chan hebat!" bangganya kemudian. Wanita itu juga melihat piring kosong di hadapan sang Namikaze cilik. "Sarapannya juga dihabiskan tanpa disisakan sedikitpun, Mama Miko senang sekali!"

Twitch. Pelipis Fugaku berkedut sekilas.

"Makasih, Mama Miko! Naru akan berusaha supaya bisa minum sayur terus!" tekad Namikaze bungsu itu. "Jangan dimuntahin," sahut Sasuke sambil menyeringai, membuat Naruto menggembungkan pipinya satu lagi. "Nggak akan!" tegasnya.

"Nanti di LA juga harus makan sayur ya, Naru," timpal Kurama.

Naruto meneguk ludahnya sendiri. "Uhm… tapi Nii-tan buatinnya sama kayak Mama Miko ya? Naru belum yakin bisa ngunyah sayuran kalau nggak dijus…" pintanya cemas.

Menggangguk, Kurama membalas. "Iya. Nanti akan dijus," ucapnya menenangkan.

Itachi tersenyum melihat interaksi kedua Namikaze bersaudara itu sebelum menyadari sesuatu. "Kurama-san akan menginap di LA saat mengantar Naru-kun pulang hari ini?" Ia menanyakan perihal menginap karena ia yakin bahwa Kurama tidak akan tinggal secara permanen di negeri seberang.

Pria berambut merah cepak tersebut mengangguk. "Ya. Aku akan studi banding secara personal ke beberapa perpustakaan universitas yang ada di LA sambil mencari bahan untuk tesis nanti. Memang terlalu cepat mengingat bahwa aku masih di semester awal program doktorat tapi kalau bisa dicicil mulai sekarang, kenapa tidak?" ujarnya.

"Wah, Kurama-kun luar biasa! Pendidikanmu sudah tinggi sekali!" kagum Mikoto pada pria tersebut. "Setelah bergelar Doktor nanti, apa mau dilanjut ke jenjang berikutnya?" tanya wanita itu. Ia melihat Kurama mengangguk.

"Kurama-san ingin bergelar Profesor, Kaa-san," Itachi-lah yang menjawab dengan nada yang terdengar bangga. Mengapa demikian? Karena pria stoic yang sedari tadi berkutat dengan sarapan, yang bernama Fugaku itu, sangat mementingkan status, gelar, dan pendidikan, apalagi yang menjual dan diterima di masyarakat. Pria itu tidak suka dengan orang yang asal dalam menjalankan hidup. Maka, Itachi akan menggembar-gemborkan betapa Kurama bukanlah orang yang bisa direndahkan oleh sang ayah. "Setelah menjadi seorang profesor nanti, Kurama-san berniat untuk mendirikan sebuah sekolah berskala internasional tetapi dengan harga terjangkau sehingga anak-anak yang kurang mampu akan mendapatkan pendidikan layak tanpa harus khawatir akan biaya," jelasnya lagi.

"Luar biasa, Kurama-kun!" Mikoto pun merasa senang dan bangga mendengarnya. "Jika hal itu terealisasi nanti, pasti akan ada banyak orang yang merasa tertolong! Aku akan membantumu jika memerlukan sesuatu! Katakan saja ya!" tawarnya sebelum beralih pada sang suami. "Bagaimana menurutmu, Fugaku-san?" tanyanya dengan nada lebih kalem.

Fugaku meletakkan cangkir kopinya. Ia hendak menjawab sambil membaca koran tapi diurungkannya karena ia ingin mengetahui kesungguhan sulung Namikaze itu. Oleh karena itu, Fugaku menatap bola hijau Kurama dengan tajam dan akurat. "Wujudkan dan buktikan niatmu dengan sungguh-sungguh, maka keluarga Uchiha akan berada di belakangmu."

Kurama terpana. Demikian juga dengan Itachi, Sasuke, dan Naruto. Mereka tak menyangka bahwa pria yang sangat sulit ditembus itu mengatakan hal yang mengindikasikan dukungan—terlebih terhadap Kurama yang masih sering ia remehkan. Namun, karena sang Uchiha telah berkata seperti itu, Kurama semakin bersemangat dan menerima tantangannya. "Tentu saja, Fugaku-san! Akan kuwujudkan hal itu!" tegasnya sambil menyeringai. Itachi yang berada di sebelahnya tersenyum simpul.

Sementara itu, Naruto yang memerhatikan percakapan tersebut, merasa kepercayaan dirinya goyah. Ia melihat bagaimana kakak sulungnya mendapat pengakuan dari ayah sahabatnya. Ia memahami bahwa apa yang diniatkan sang kakak mampu mencairkan kebekuan hati sang Uchiha. Kakaknya sungguh hebat. Karena dengan begitu, kakaknya akan lebih leluasa bergerak tanpa memedulikan kata-kata pedas yang senantiasa terlontar untuknya.

Bocah antah berantah.

Tidak jelas berkata apa.

Anak tak tahu diri.

Dan dirinya yang belum mampu membuktikan suatu hal pun? Apa yang menjadi nilainya? Apa yang menjadi penyokongnya agar mendapat pengakuan yang sama? Apa yang harus diniatkannya agar dapat mewujudkan keinginannya untuk bersama Sasuke? Apa ia harus belajar melebihi porsi kakaknya yang ia tahu selalu belajar setiap saat? Apa ia harus berkutat di bidang yang sama dengan sang kakak sementara bahasanya sendiri masih berantakan dan tidak begitu bagus dalam merangkai kalimat? Bahkan untuk bicara secara sopan dan formal pun ia masih butuh arahan karena dulu pernah mengalami speak delay akibat jarang ada yang mengajaknya bicara di rumah yang kosong ketika seluruh keluarganya sibuk dengan kegiatan masing-masing!

Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?! Apa yang menjadi nilainya?!

Ironis. Bahkan untuk bocah yang baru berusia sepuluh tahun sepertinya, ia sudah harus berpikiran dewasa dan mempersiapkan target yang hendak dicapai. Ke mana dunia bermainnya itu? Pupuskah oleh keadaan yang tak diundang?

Hangat menyelubungi jemari kiri yang menggenggam erat celana pendeknya. Naruto mendapati jemari Sasuke menyelimuti jemarinya lalu menggamit erat, dan ia dapat merasakan sedikit getaran dari sahabatnya. "'Suke?" bisiknya.

"Kau akan… pulang hari ini?" tanya Sasuke lirih yang nyaris tak terdengar Naruto jika anak itu tak mendekat.

Seulas senyum sendu bermain di wajah sang Namikaze. "Iya… pesawat yang nanti malam jam sebelas…" jawabnya pelan. Lalu terkejut dengan gerakan Sasuke yang tiba-tiba berdiri dan ikut menariknya melakukan hal yang sama.

"Aku dan Naruto sudah selesai makan dan mau ke kamar. Jangan ada yang mengganggu!" tegas Sasuke sebelum menarik Naruto menuju kamarnya, meninggalkan para orang dewasa yang sedikit terkejut dengan perilakunya. Namun, sedikitnya Kurama dan Itachi memahami apa yang bermain dalam pikiran anak itu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Rasanya seperti déjà vu. Sewaktu Naruto berkata akan pindah ke LA, Sasuke juga mengurung mereka berdua di kamar dan melakukan piknik mereka sendiri. Sekarang, di hari Naruto akan kembali ke LA, Sasuke pun melakukan hal yang sama. Memeluk erat, berbaring di atas ranjang yang sama, menautkan dahi dan tatapan seakan tak memperbolehkan apapun menghadang di antara mereka. Jemari putih dan kecokelatan menggamit satu sama lain, membagi kehangatan demi menghilangkan dingin yang mulai berpendar di bawah gemetar yang terasa.

Tiada satu kata pun terlontar. Tiada satu kalimat pun terucap. Hanya percakapan bisu yang menguak perasaan dari bola langit yang berbeda warna. Saling menatap dalam diam, saling mengungkap makna dalam keheningan. Tidak seorang pun ingin melepaskan apa yang mereka genggam saat ini. Dengan sisa waktu yang ada, mereka bermaksud mengurung diri dari kenyataan… sebelum terbangun dari mimpi yang membahagiakan.

Lalu seulas senyum merekah di wajah kecokelatan bocah berambut pirang. Ia membawa jemari yang bertautan dengan jemari kirinya untuk menyentuh pipinya. Ia pun merasakan sang ibu jari mengelus permukaan wajahnya yang bergaris tiga, menyampaikan makna di balik gerakan lembutnya. Pelupuk kecokelatan menutup setengah, menikmati kehangatan yang meresapinya. "Naru akan berusaha…" gumamnya.

"… Hn?"

"Naru akan belajar keras di LA," gumam Naruto lagi, "'Suke tunggu Naru ya…" tambahnya meminta.

Bungsu Namikaze-Uzumaki tersebut berjanji bahwa ia akan menjadi sosok yang lebih baik lagi agar dapat mengejar sosok sang sahabat yang berada di dalam labirin rumit yang sulit ditembus. Ia akan berusaha agar dapat menjadi orang yang diakui dan pantas bersamanya. Ia tidak akan menyerah. Tidak akan!

Sang Uchiha, yang sebenarnya sedikit bingung oleh pernyataan Naruto, hanya mengangguk. Ia lingkarkan kedua lengannya di tubuh kecil sang sahabat lalu mendekapnya erat. Ia menghela napas di sela helaian pirang yang menguar citrus itu lalu membenamkan wajahnya. "Aku juga," balasnya.

"'Suke?"

"I'll do my best too."

Mendengar bisikan itu, Naruto mengangguk. Dan ia membiarkan dirinya terhanyut dalam kasih sayang yang hanya untuknya dari sahabat tercinta.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Fugaku berada di teras yang berhubungan dengan kebun belakang rumahnya. Ia sedang membaca grafik saham perusahaan melalui laptop yang menyala di hadapannya. Sambil membaca, ia meneguk kopi yang disuguhkan oleh istri yang masih belum juga memberinya kecupan hangat… membuat dirinya merasa kesepian dan kesal—yah, meskipun ia tidak akan menunjukkannya terang-terangan! Ia hanya akan bersikap seperti dirinya yang biasa, berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Tinggal beberapa jam lagi sampai bocah antah berantah itu pergi dari rumahnya, dan semua akan kembali normal. Tidak ada lagi istri yang akan mengabaikannya. Tidak ada lagi putera yang akan membangkang padanya. Tidak ada lagi bocah yang akan mengganggu keharmonisan keluarganya. Tidak ada—

"Permisi, Oji-sama,"

—heh… baru juga ia ingin bersantai, malah mendengar suara bocah yang mengontaminasi putera bungsunya! Ingin ia membentak dan melampiaskan kekesalannya tetapi ia adalah seorang Uchiha yang senantiasa bersikap tenang dan berkepala dingin. Jadi, dalam situasi seperti ini pun ia harus bisa melakukannya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengabaikannya.

Naruto, bocah yang memberanikan diri untuk menemui ayah sang sahabat, menyadari bahwa dirinya tidak ditanggapi. Keberanian yang hanya sedikit itu pun semakin terkikis. Namun, ia harus menyampaikan maksud kedatangannya saat ini tidak peduli sang pria mendengarkan atau tidak. Ia harus menyampaikan secara langsung.

"Naru minta maaf kalau Naru mengganggu," kata Naruto memulai, "tapi Naru cuma akan bicara sedikit… mohon didengar, Oji-sama!" pintanya sambil membungkukkan badan.

Tidak ada jawaban ataupun balasan dari sang Uchiha. Namun, mengetahui bahwa pria itu tidak pergi meninggalkannya, Naruto merasa bahwa dirinya akan didengarkan. Oleh karena itu, ia melanjutkan.

"Malam ini Naru harus pulang ke LA. Setelah pulang nanti, Naru akan belajar keras! Naru akan belajar bahasa Jepang yang bagus! Naru juga akan tingkatin bahasa Inggris Naru! Pelajaran lain juga! Naru akan jadi anak pintar supaya bisa tetap berteman dengan Sasuke! Supaya Oji-sama bangga sama Sasuke yang punya teman seperti Naru! Naru juga akan berusaha supaya jadi kayak Kura-nii! Supaya Naru bisa bantuin Kura-nii ngebangun sekolah! Karena itu—" anak berambut pirang ini menatap kepala keluarga Uchiha itu dengan tegas, lurus, dan bertekad kuat, "—jangan akui Naru sekarang! Naru mohon agar Oji-sama menunggu sampai Naru bisa ngebuktiin diri Naru—sampai Naru bisa ngebuktiin bahwa Sasuke nggak salah berteman dengan Naru! Naru hanya mohon itu saja!" Dan ia kembali membungkukkan diri seolah memohon dengan sangat agar permintaannya didengar… agar permintaannya tidak diabaikan.

Di lain pihak, Fugaku yang mendengar penuturan—bahkan permohonan anak kecil berusia sepuluh tahun yang kerap ia sebut bocah antah berantah itu, terkesima… ah, lebih tepatnya terperangah! Bagaimana bisa anak itu berpikir demikian? Bagaimana bisa anak itu berpikir untuk memperbaiki diri demi sahabat yang notabene adalah anak bungsunya? Demi diakui sebagai sahabat—bahkan agar ayah sang sahabat tidak berpikir bahwa anaknya salah berteman? Kenapa ia bisa berpikiran seperti itu? Kenapa, ketika seharusnya yang terlontar adalah permintaan manja dan memang dalam konteks bocah, yang terdengar adalah sebuah permohonan bak orang dewasa?! Kenapa?! Apa yang membuatnya menjadi demikian?! Apa yang membuat pemikirannya berbanding terbalik dengan usianya? Masih berkutat dengan analisa, Fugaku tidak mengatakan balasan apa-apa… membuat keberanian Naruto kembali menciut.

"N-Naru cuma mau bilang itu…" lirihnya sambil mundur perlahan seolah takut dimarahi, "te-terima kasih sudah mau m-mendengar Naru…" tambahnya dengan suara yang semakin kecil. Ia hendak berbalik dengan menahan rasa kecewa yang begitu besar ketika terdengar balasan singkat yang kembali membangkitkan semangatnya.

"Hn. I'll be waiting."

Senyum lebar merekah di bibir bungsu Namikaze-Uzumaki itu. Ia mengangguk pasti, "Thank you very much!" Lalu bergegas kembali ke kamar Sasuke untuk memberitahu sahabatnya itu.

Sepeninggal bocah itu, Fugaku tampak berpikir. Keras. Nah, inilah yang biasa ia lakukan ketika menghadapi masalah perusahaan yang signifikan dan dapat berakibat fatal. Wajar jika mengingat bahwa ia seorang presdir Uchiha Inc. Namun, jika mengetahui bahwa yang dipikirkannya saat ini adalah bocah antah berantah yang mampu mengungkap tekadnya bagai orang dewasa yang sedang berupaya untuk menepati janji… sungguh Fugaku tidak pernah menyangka.

Ada yang salah dengan anak itu. Ada yang salah dengan pemikiran anak itu. Ah, bukan. Bukan anak itu yang salah melainkan sistem yang diterapkan oleh keluarganya. Sistem yang memaksanya bersikap seperti itu. Sistem yang sebenarnya bisa dicerna dengan lebih baik jika ditanamkan pada saat yang tepat, dan tidak akan menghasilkan anak seperti itu: anak yang terbiasa merendahkan dirinya sendiri dan lebih memikirkan kepentingan orang lain.

Anak yang terbiasa seorang diri dan tidak tahu bagaimana cara bermanja.

Fugaku menghela napas. Ia meneguk kopinya yang mendingin lalu mematikan laptopnya. Pria itu pun bangkit untuk meluruskan hal yang tidak menyenangkan baginya. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan dan mendapati sang istri tengah bersandar pada pintu yang akan ia lewati. Lelaki itu berhenti di depan wanita yang paling dicintainya lalu mengecup pipinya sekilas. "I need to speak with his father," ujarnya.

Mikoto menatap lurus suaminya sebelum menyunggingkan seulas senyum. Ia pun meraih wajah suaminya mendekat untuk menyarangkan sebuah kecupan hangat di bibirnya.

Ya. Ia tahu apa yang hendak dilakukan pria itu, dan ia akan mendukungnya dengan sepenuh hati.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Pesawat menuju Los Angeles sudah membuka pintu untuk para penumpang. Kurama dan Naruto berada di antrian menuju tempat duduk mereka. Barang-barang sudah ada di dalam bagasi, dan hanya tas kecil yang mereka bawa. Akan tetapi, terlihat syal biru dongker tenunan Mikoto melingkari leher Naruto. Syal itu adalah salah satu hadiah dari sang wanita untuknya. Sebenarnya, ia mendapatkan syal berwarna oranye tapi ia sepakat dengan Sasuke untuk bertukar warna sebagai pengingat bahwa mereka benar pernah bertemu setelah dirinya pindah ke LA, bahwa pertemuan mereka bukanlah mimpi.

Dan bahwa pertemuan mereka bukanlah yang terakhir.

"Semoga liburan tahun depan nanti Kau bisa bertemu dengan Sasuke-kun lagi ya, Naru," ucap Kurama.

Naruto menggeleng. "Nggak. Naru akan bertemu 'Suke setelah lulus SMP nanti. Naru dan 'Suke sudah janji mau tinggal bareng. Jadi, Naru harus berusaha jadi yang terbaik dulu baru Naru berani bertemu 'Suke lagi!" jelasnya tegas.

Pemuda berambut merah cepak itu tertegun mendengar perkataan adik bungsunya. Ia tak menyangka bahwa Naruto akan berpikiran seperti itu. "Meskipun ada kesempatan sebelum lulus SMP, Kau tetap tidak mau bertemu Sasuke-kun?" tanyanya memastikan.

Langit biru cerah memandang hazel dengan penuh tekad. Sebuah anggukan pasti yang tak diragukan lagi keyakinan di dalamnya adalah satu-satunya jawaban. Tidak ragu, goyah ataupun setengah hati… membuat Kurama terdiam sempurna.

Di sana, tepat di hadapannya, adik bungsunya terlihat begitu besar dan dewasa. Dan entah mengapa membuatnya tampak kecil. Kenapa? Mengapa? Apa karena tekad yang terpancar dalam bola biru Naruto? Apa karena tekad yang terlihat jauh lebih kuat dibandingkan tekadnya sendiri? Ia tidak tahu mana yang benar. Namun, yang manapun itu, ia akan tetap membantu sang adik untuk melalui permasalahannya.

"You're so strong, Lil Bro…"

Lirihan itu adalah yang terakhir diucap sebelum berjalan ke tempat duduk di dalam pesawat.

I guess I have to take my move then.

-.-.-TBC-.-.-

Updaaaaaaattteeeee! Mahap lama ya! Doakeun Semoga bisa update lebih cepat lagi ya~