Lil Hands side story: New Year Flashback
By Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Kishimoto Masashi
Pairings: Naruto & Sasuke as always, bromance KuraNaru, Naruto centric.
Summary: Naruto sudah terbiasa menunggu. Di awal tahun baru yang penuh harapan, Naruto menerima kenyataan bahwa ia akan merayakannya seorang diri… hingga keluarganya datang.
A/N: Kisah ini terjadi dua tahun setelah Naruto pindah ke LA. Jadinya, Naruto dan Sasuke berumur tujuh tahun dan Naruto belum memiliki ponsel pribadi ya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
New Year Flashback
© Kyou Kionkitchee
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Salju turun perlahan mewarnai keseluruhan panorama dengan putih detik demi detik. Angin sepoi senantiasa menemani partikel kecil tersebut seakan mengajak menari bersentuhan dengan permukaan hangat yang perlahan memerah, tak peduli dengan gemetar yang muncul dari dalam. Mereka berdansa dengan lembut sambil menebar benih dingin yang semakin terasa.
Seorang anak kecil berkupluk merah berdiri di bawah serpihan salju. Sebelah tangannya terangkat untuk meraih butiran tersebut lalu membawanya mendekat. Bola birunya menatap dengan seksama bagaimana butiran tersebut mencair di atas sarung tangannya. Lalu ia kembali memandang langit untuk beberapa saat sebelum memejamkan mata.
Andai Sasuke ada di sini bersamanya. Andai dirinya ada di sana bersama Sasuke.
Betapapun berharap, ia harus menerima kenyataan bahwa kini mereka terpisah jauh menyeberangi lautan. Waktu dua tahun yang telah terlewati tidak sedikitpun membuatnya merasakan kehidupan nyata di tempat ini. Seakan semua hanya mimpi, seakan semua hanya ilusi dan ia akan segera terbangun untuk berangkat ke sekolah lalu bertemu sang sahabat. Namun, ia mengerti bahwa kenyataan tak seindah yang diharapkan. Ia memahami hal tersebut sejak dulu meskipun usianya masih terbilang sangat muda.
"Naruto-kun, ayo cepat masuk! Kalau terlalu lama di luar, Kau bisa masuk angin nanti!"
Anak yang dipanggil menoleh dan mendapati seorang pria tengah berdiri di depan rumah yang kini ia tinggali, dan melambaikan tangan. Pria itu memiliki tanda luka yang melintang tipis di atas hidungnya. Namanya Iruka, 36 tahun, yang menjadi pengasuhnya selama tinggal di Los Angeles. Naruto menatapnya sejenak sebelum tersenyum dan mengangguk. Ia pun berjalan menghampiri pria tersebut dengan kalem.
Pertama kali ia tiba di LA, sang ayah, Minato, langsung memeluknya erat dan mengecupi hampir setiap sudut wajahnya. Dirinya yang jarang bertemu dengan sang ayah pun balas memeluk dengan erat seakan memastikan bahwa ini bukan mimpi, bahwa dirinya benar bertemu dengan ayah yang dirindukannya, dan bahwa ia bukannya tidak diinginkan. Pikirannya terkesan negatif—atau justru pesimis—karena kesendirian yang kerap menemaninya selama ini. Namun, di sinilah ia sekarang bersama sang ayah yang menitikkan airmata karena bahagia bertemu dengannya.
Di belakang ayahnya, Naruto melihat seorang pria berambut coklat yang tersenyum padanya. Tak lama, pria itu dikenalkan kepadanya sebagai Umino Iruka, salah satu asisten sang ayah di kantor, dan yang akan tinggal bersama mereka. Saat itu, Naruto hanya mengangguk dan tersenyum lebar sambil memperkenalkan dirinya. Ia tak memahami tatapan tidak enak yang ditunjukkan kakak yang mengantarnya, Kurama, yang tertuju pada ayah mereka. Barulah ia mengerti hal tersebut setelah dua bulan tinggal dengan sang ayah.
Pria itu sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai kepala cabang sebuah perusahaan ternama di LA. Ayahnya selalu pergi dari pagi buta dan pulang larut malam—bahkan sering pulang pagi juga yang terkadang hanya untuk mengambil sesuatu yang dibutuhkan. Pernah juga ia mendapati sang ayah tidak pulang selama dua hari karena pekerjaan yang benar-benar sibuk. Kalaupun ayahnya menyempatkan diri untuk menemuinya hal itu hanya ketika makan siang—mereka janjian di restoran dengan Naruto diantar oleh Iruka—atau malam setelah ia tertidur—yang terbangun oleh kecupan di dahi dari sang ayah yang hendak mengambil sesuatu. Melalui hal-hal tersebut, Naruto memahami betapa pekerjaan sang ayah begitu menyita waktunya.
Kecewakah dirinya? Bohong jika ia berkata tidak kecewa karena ayahnya bilang akan menemaninya saat tinggal di LA. Kenyataannya adalah sebaliknya. Yang menemaninya adalah Iruka, pria yang ia sangka hanyalah menumpang tinggal di rumah mereka. Ia tak menduga bahwa Iruka adalah pengasuhnya. Namun, ia pernah menduga bahwa keadaan seperti ini akan terjadi.
Tentu saja! Ayahnya sibuk bekerja, kakaknya yang pertama sibuk bekerja juga, kakaknya yang satu lagi tinggal jauh darinya. Apa yang membuatnya berpikir bahwa di sini ia akan diperhatikan oleh keluarganya? Apa yang membuatnya berpikir bahwa di sini ia akan mendapat perlakuan yang berbeda? Ia masih kecil, masih belum mengerti apa-apa. Seorang pengasuh sudah cukup untuk mengurusnya! Seorang pengasuh sudah lebih dari cukup untuk menanganinya! Tentu saja!
Tentu saja… jika melupakan betapa kasih sayang keluarga adalah yang utama harus didapatkan oleh anak seusianya… jika melupakan betapa bimbingan keluarga adalah fondasi awal terbentuknya watak seorang anak. Tidak masalah jika ia tumbuh menjadi pemberontak sebagai bentuk kekecewaannya terhadap kondisi semasa kecil. Yang terburuk adalah ketika ia merasa baik-baik saja mendapatkan perlakuan seperti itu. Ketika ia mengerti dan memahami bahwa dirinya boleh menerima keadaan seperti itu. Itulah yang terburuk karena ia akan tumbuh menjadi anak yang ragu dan takut berharap. Kepercayaan dirinya akan semakin memudar oleh pikiran pesimis yang didasari oleh kalimat 'aku tidak diinginkan'.
Sayangnya, kalimat menyakitkan itu sudah menggores di benaknya.
"Sebentar lagi tahun baru. Naruto-kun ingin meminta apa?" tanya Iruka saat mereka sudah berada di ruang makan yang hangat karena perapian yang menyala.
Tampak berpikir sejenak dengan ekspresi jenaka, Naruto menjawab, "Naru ingin berkumpul dengan ayah, Kura-nii, Dei-nii, Sasuke, dan Ita-nii lalu makan bersama~" Cengirannya begitu lebar karena dirinya membayangkan suasana ketika mereka berkumpul nanti. "Iruka-san juga ikut!" tambahnya sambil melihat ke pria yang menatapnya dengan tatapan sendu. Naruto mengerti makna tatapan tersebut. Oleh karena itu, ia langsung mengibaskan tangan seolah menghapus permintaannya barusan. "Naru becanda kok! Naru cuma mau minta krayon 48 warna. Ada tugas dari sekolah. Boleh?"
Sebuah permintaan sederhana yang menggantikan permintaan lebih sederhana lagi terdengar begitu menyesakkan hati Iruka. Naruto merubahnya karena mengerti bahwa tidak mudah mengabulkan permintaannya. Ayah yang sangat sibuk ditambah dengan keempat orang lainnya yang berada di Jepang. Mungkin dari segi biaya tidak masalah tetapi waktu dan jadwal masing-masing yang meragukan. Mengumpulkan mereka tentunya harus menyamakan jadwal libur yang entah bisa sama atau tidak. Iruka menghela napas dalam ironi.
"Akan saya sampaikan pada Minato-san dan Kurama-san," ujar Iruka yang langsung dibalas gelengan kepala dari anak itu.
"Nggak usah. Naru nggak jadi minta itu, 'kan? Krayon aja udah cukup kok!" seru Naruto.
Iruka tersenyum lembut. "Krayon sudah pasti akan kau dapatkan, Naruto-kun. Akan tetapi, lebih ramai kalau semuanya berkumpul 'kan?" ujarnya sambil mengelus kepala anak asuhnya.
Cahaya harapan mulai bersinar di bola biru Naruto. "Benar boleh? Nggak usah dipaksain kalau semuanya sibuk ya!" Iruka mengangguk.
Demi anak yang rela menahan diri seperti ini, ia ingin memberikan yang terbaik.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Ke LA?"
"Iya! 'Suke dan Ita-nii datang ke LA buat ngerayain tahun baru sama Naru!"
"Ide yang bagus! Coba kutanyakan Aniki dulu!"
Sasuke pergi dari layar komputer Naruto. Bocah berambut pirang yang berhubungan dengan sang Uchiha melalui webcam menunggu sambil tersenyum lebar. Ia tak sabar menentukan jawaban dari pihak sahabatnya itu. Tak lama kemudian, Sasuke datang bersama Itachi. Ekspresi anak itu terlihat kesal, membuat Naruto menduga bahwa balasannya bukanlah yang sesuai dengan harapannya.
"Naruto-kun, apa kabar?" tanya Itachi.
"Naru sehat, Ita-nii! Ita-nii sehat juga?" Ia melihat Itachi mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Terima kasih atas undanganmu, Naruto-kun, tetapi maaf kami belum bisa ke sana karena sudah ada acara kumpul keluarga untuk tahun baru nanti. Maaf ya…" kata Itachi menolak dengan halus.
Meskipun kecewa, Naruto tidak memperlihatkannya. Malah, ia mengangguk sambil tetap tersenyum lebar. "It's okay! Maybe next time!"
Itachi mengiyakan. "Yes. We'll be waiting for your next invitation." Remaja itu pun meninggalkan adiknya untuk kembali bercakap-cakap dengan Naruto.
"Padahal cuma kumpul-kumpul biasa aja! Kalau nggak mau pergi, aku saja yang pergi ke LA!" gerutu Sasuke masih menatap kakaknya yang entah membalas apa.
Naruto terkikik geli melihat sahabatnya bermuka masam. "Kalau 'Suke pergi sendirian nanti mereka khawatir. Nggak apa-apa, 'Suke! Masih ada lain kali kok~" ujarnya menenangkan.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke layar sambil menumpu pipi pada lengan kirinya. "Aku ingin bertemu denganmu…" Kedua oniksnya menatap lurus safir di hadapannya meskipun posisi wajahnya sedikit miring. Jemari kanannya terangkat untuk menyentuh layar yang menunjukkan gambar wajah sahabatnya.
Naruto pun mendekatkan wajahnya ke layar. "Naru juga…" Ia sentuhkan dahinya ke layar lalu memejamkan mata.
Dari seberang, Sasuke pun bangkit untuk menyentuhkan dahinya sendiri ke layar namun tanpa memejamkan mata. Cahaya komputer tidak menghalanginya menatap sang sahabat dari dekat meskipun kenyataannya mereka terpisah jauh.
"I miss you, 'Suke…"
Telinga Sasuke mendengar lirihan itu, dan ia pun menutup mata untuk membayangkan keberadaan sahabatnya di tempat yang sama dengannya.
"I heard that yesterday when we're chatting, and all days before. You know my answer, Dobe."
Sekali lagi Naruto terkikik. "Yeah~ I just wanna say that every time we chat~"
"Silly, but I won't get bored of it."
"I'll say it more often then!"
Mereka saling tersenyum sejenak sebelum bunyi alarm tengah malam terdengar. Dan mereka menghela napas panjang.
"Cepatnya… Naru masih mau ngobrol sama 'Suke…" ambek Naruto, kali ini membuat Sasuke mendengus geli.
"Kita lanjut besok lagi. Di sana sudah tengah malam, 'kan? Di sini belum. Besok chatting-nya dari lebih siang menurut waktu LA saja," ujar Sasuke.
Memanyunkan bibir, Naruto mengangguk. "Iya deh… See you tomorrow, 'Suke… Oyasumi."
"Yeah, you too." Lalu koneksi diputus. Naruto masih berada di depan layar untuk mematikan komputer. Setelah itu, ia ke kamar mandi untuk sikat gigi, cuci muka, dan cuci kaki. Usai melakukannya, ia beranjak ke tempat tidur dan menyalakan lampu kecil setelah mematikan yang besar. Sebelum tidur, ia menatap foto dirinya dan Sasuke yang berada di meja dekat kasurnya. Tersenyum, ia memejamkan mata.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Eh? Ayah bisa libur waktu tahun baru?"
"Ya. Klien ayah yang terakhir sebelum tutup buku ada di tanggal 28 Desember. Setelah tanggal itu, ayah bisa libur," jelas Minato saat makan siang dengan anaknya di restoran dekat kantor. "Naru-chan libur sampai tanggal 7, 'kan? Sebelum selesai liburan, ayah mau mengajakmu keliling LA. Naru-chan mau?" ajaknya kemudian.
Seketika, Naruto mengangguk. "Naru mau!" serunya antusias.
Minato nyengir kuda. "Yosh! Akan ayah perlihatkan tempat-tempat menarik nanti!" janjinya. "Lalu, kalau tidak salah, Kurama dan Dei juga bisa datang tanggal 31 Desember ke sini. Kita bikin pesta ya, Naru-chan!"
"YEEEEY!"
Tak terpungkiri betapa bahagianya Naruto mengetahui bahwa permintaan tahun barunya bisa terkabulkan. Ia sangat senang bahwa keluarganya akan berkumpul dan merayakan pesta bersama. Meskipun Sasuke dan Itachi tidak bisa datang, ia sangat bersyukur ayah dan kedua kakaknya akan bersama dengannya. Ia takkan meminta lebih.
Namun, jauh di sudut hati terdalam, perasaan tidak enak mulai membumbung naik. Ia tak bisa mengenyahkannya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Aniki, ada kabar buruk... Aku nggak bisa berangkat ke LA karena Sasori masuk rumah sakit dan nggak ada yang menjaganya. Kakinya patah karena kecelakaan motor. Makanya aku harus menemaninya!" Deidara berkata pada kakaknya melalui telepon pribadi.
Ingin Kurama mendecak tapi ditahannya karena mengetahui betapa berharganya Sasori bagi Deidara. "Kau benar-benar tidak bisa pergi? Sehari pun?" tanyanya meskipun sudah mengetahui jawabannya.
"Kalau Itachi yang patah tulang dan nggak ada yang menjaganya, apa kau bisa meninggalkannya begitu saja, Kusorama?" hardik Deidara, merasa kesal karena kakaknya seakan tak mempercayainya.
"Jangan bawa-bawa Itachi, Ahodara! Aku cuma memastikan!" balas Kurama ketus.
"Pokoknya nggak bisa! Salam buat Naru-chan dan kuso-oyaji!" Lalu Deidara menutup teleponnya, membuat Kurama menghela napas berat.
"Berkurang satu…" gerutunya. "Naru-chan pasti kecewa…"
Teleponnya kembali berdering. Kali ini dari kepala yayasan sekolah tempatnya mengajar. Entah mengapa, perasaannya tidak enak.
"Halo?"
"Kurama-sensei! Saya mengundang Sensei untuk ikut penataran guru se-Jepang yang akan diselenggarakan mulai tanggal 27 Desember sampai tanggal 2 Januari. Di sana akan ada banyak profesor yang sedang mencari murid bimbingan untuk mendapatkan beasiswa. Ditambah lagi, kita akan mengadakan perayaan tahun baru dengan pelajar asing yang ikut penataran nanti. Saya hanya mengajak dua guru dari sekolah kita dan Sensei adalah salah satunya! Jadi, saya harap Sensei bersedia ikut!"
Bom dijatuhkan. Kurama tertunduk lesu, merasa menyesal karena akan mengecewakan adik bungsunya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Iruka-san, kuenya nanti jadi warna apa?" tanya Naruto yang sedang membereskan peralatan membuat kue.
"Warna oranye kecoklatan untuk permukaannya. Kalau dalamnya nanti hitam dan coklat karena tadi adonannya kita lapis berselingan," jawab Iruka setelah menyetel waktu pada oven. "Setelah matang, kita bisa menghias atasnya dengan krim, meses, atau potongan buah," tambahnya.
"Hmm~ pasti lezaaaat~" ucap Naruto sambil menjilati bibirnya sekilas.
Iruka tertawa kecil. "Tentu saja lezat karena Naruto-kun membuatnya sepenuh hati! Saya yakin yang memakannya nanti akan merasakan kelezatan yang tiada duanya!" serunya.
Bungsu Namikaze-Uzumaki tersebut menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Naru cuma membantu sedikit kok. Selebihnya Iruka-san yang membuat, 'kan?" ucapnya salah tingkah.
Melepas alas tangan, Iruka menghampiri Naruto dan menyisir poni pirang anak itu ke belakang dengan jemarinya. "Naruto-kun membantu saya sambil berharap bahwa yang memakannya akan merasa bahagia, benar? Itu sudah lebih dari cukup kok!" serunya meyakinkan. "Saya yakin keluarga Naruto-kun nanti akan sangat menikmatinya."
"Iruka-san juga keluarga Naru loh!" seru Naruto menatap lurus pria itu.
Senyum yang sudah merekah semakin bertambah lebar dalam haru. "Thank you, Naruto," ucap Iruka lembut. Ia sungguh bagai melihat malaikat dari balik tubuh kecil itu. Karenanya, ia ingin permintaan anak asuhnya terkabulkan dan berharap tidak ada suatu apapun yang menghadang.
Sayangnya, harapan tinggal harapan. Yang menyambut malam tahun baru bungsu Namikaze-Uzumaki itu adalah kesendirian karena kedua kakaknya memberi kabar tidak bisa datang, dan sang ayah yang masih sibuk dengan urusan kantor.
"Maaf, Naru-chan! Padahal ayah sudah bilang kita akan membuat pesta tahun baru dan merayakannya bersama tapi pekerjaan ayah belum selesai!" Minato menjelaskan situasinya pada Naruto lewat telepon. "Kalaupun ayah berhasil menyelesaikannya malam ini, ayah tidak yakin bisa langsung pulang karena harus mengecek dokumen lain untuk awal tahun!" serunya terdengar agak panik.
Naruto, yang sudah bersiap di ruang keluarga yang telah dihias dengan indah oleh dirinya dan Iruka dan juga penuh makanan dan kado, terdiam selama lima detik sebelum membalas sang ayah. "Nggak apa-apa, Ayah. Nggak usah cemas! Naru bareng sama Iruka-san kok!" serunya.
"Kalau begitu, Naru-chan tidak apa ayah tinggal bekerja? Ayah usahakan pulang secepat mungkin!" janji Minato.
"Iya! I'm perfectly okay here~ Take care, Dad!" Naruto berseru lagi. Lalu koneksi telepon pun terputus, menandakan bahwa pembicara di seberang telah menutup teleponnya. Dan Naruto kembali terdiam—kali ini sepuluh detik lebih lama sebelum memandang ruang keluarga. Sendiri, tiada seorang pun di sisinya. Ia telah berbohong tadi, mengatakan bahwa Iruka bersamanya meskipun pria itu izin keluar untuk menemui keluarganya di kota sebelah dan akan kembali usai countdown nanti. Naruto pun tidak memberitahu Iruka bahwa kedua kakaknya tidak bisa hadir—yang sekarang ditambah dengan sang ayah. Jadilah dirinya sendirian di rumah yang cukup besar, hanya ditemani oleh suara keramaian dari luar dan senandung lagu akhir tahun yang terlantun lewat televisi yang dinyalakannya.
Naruto bingung harus bagaimana. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tidak akan ada yang datang sampai awal tahun baru nanti sementara makanan dan minuman sudah tertata apik di atas meja. Haruskah ia mengembalikan makanan dan minuman ke lemari pendingin agar tetap bisa dimakan nanti? Haruskah ia mematikan lampu di ruang tamu dan ruang keluarga lalu mematikan televisi juga kemudian kembali ke kamarnya? Tahun baru masih sepuluh jam lagi, dan ia yakin Iruka tidak akan segera kembali sesaat setelah countdown selesai. Maka, hal terbaik yang dapat ia lakukan adalah menunggu. Ia sudah terbiasa dengan hal itu, benar? Menunggu selama beberapa jam tidak masalah baginya karena ia sudah terlalu sering menunggu bahkan hingga berhari-hari.
Benar. Tidak apa. Naruto sudah terbiasa. Menunggu adalah keahlian terbaiknya selama ini, karena setelah menunggu, ia akan menyambut hangat keluarganya dengan senyuman. Karena setelah menunggu, ia akan mendapati keluarganya pulang lalu memeluknya erat. Karena setelah menunggu, ia akan menerima kecupan hangat pertanda rindu padanya. Karena setelah menunggu, seseorang akan berkata betapa dirinya adalah anak yang baik karena mau melakukan hal demikian.
Ya. Ia akan menunggu seperti yang dilakukannya selama ini. Tak peduli dengan embun yang berjatuhan dari langit birunya, Naruto akan menanti dalam diam. Ia akan senantiasa menunggu dalam kesendiriannya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
You've got mail~
Suara komputer—yang masih menyala di ruang kecil tepat di sebelah ruang keluarga—membangunkan Naruto yang ternyata tertidur di sofa. Ia mengusap matanya yang sedikit merah karena menangis sebelum membuka pesan tersebut. Safirnya melebar ketika mendapati nama Sasuke sebagai pengirimnya. Ia pun membaca pesan dari sang sahabat.
Cam. Can you now?
Buru-buru Naruto mengambil handuk lalu mencuci muka di wastafel terdekat. Ia pun menyalakan televisi dengan volume suara pelan lalu menutup setengah tirai yang menghubungkan ruang keluarga dengan ruang tempatnya berada sekarang. Barulah ia membalas pesan Sasuke dengan menghidupkan webcam-nya dan menghubungi sahabatnya itu.
"Hai, 'Suke!" sapa Naruto ketika koneksi mereka tersambung. Terlihat Sasuke sedang mengepak barang ke dalam tas kecil sebelum membalas sapanya.
"Hai, Dobe," balasnya singkat masih sambil menaruh beberapa barang ke dalam tas.
"'Suke mau pergi ke mana?" tanya Naruto.
Sasuke menghentikan persiapannya dan menghela napas. Ia pun duduk di depan laptop. "Ke rumah kakek di pedalaman gunung. Di sana sinyal ponsel dan internet susah, makanya aku hanya bisa menghubungimu sekarang," jelasnya, "padahal aku sudah berniat countdown bersamamu nanti…" tambahnya menggerutu pelan.
DEG! Sedetik terdengar suara jantung berdegup sangat keras dari dalam tubuh Naruto, dan itu hal yang mengejutkannya. "Jadi sampai pulang dari rumah kakek nanti 'Suke nggak bisa dihubungi ya?" tanyanya.
"Hn, sepertinya begitu." Terdengar Sasuke mendecak. "Menyebalkan!" gerutunya lagi.
Naruto menarik kedua sudut bibirnya ke atas, berusaha tersenyum menenangkan. "Kalau begitu, kita ngobrol aja dulu sampai 'Suke mau berangkat!" ajaknya.
Sang Uchiha menaikkan sebelah alisnya sedikit. "Ini sudah mau berangkat sebenarnya. Memangnya kau senggang? Bukannya kedua kakakmu ada di sana?" herannya. Yang ia tahu jika Namikaze-Uzumaki bersaudara telah berkumpul, maka mereka akan menempel satu sama lain—jangan tanya darimana ia berkesimpulan demikian.
Naruto menggeleng, "Mereka belum datang. Mungkin sebentar lagi," jawabnya tanpa dusta karena baginya menunggu itu suatu kebiasaan yang tidak akan lepas darinya, dan ia takkan mengeluh 'lama'.
Sasuke kembali mendecak. "Harusnya mereka udah bersamamu sekarang!" ketusnya.
Naruto tertawa kecil, "Mungkin pesawatnya delay~" Ah, ia sungguh tidak berbohong, hanya sedikit bermain kata yang terbatas dalam otaknya. "Tenang aja! Naru nggak apa-apa kok!" yakinnya kemudian.
Meskipun masih merasa tidak puas, Sasuke menghela napas. Ia mengetikkan sesuatu di kotak chat dan mengirimkannya Naruto.
Have a merry new year and I hope you celebrate it happily, Naruto, because I certainly can't say it out loud.
Setelah mengirimkannya, Sasuke bermaksud mematikan koneksi mereka. "See you next year then."
"Wait, 'Suke!" panggil Naruto sebelum sahabatnya itu memutus koneksi. "I miss you… I really do…" ucapnya lirih sambil tersenyum sendu…
membuat Sasuke terdiam dalam kewaspadaan karena ia mendengar nada yang tidak mengenakkan di telinganya. Namun, belum sempat ia membalas, Naruto sudah keburu mematikan layarnya dari jaringan seberang.
Dan Naruto bersandar lemas di atas tumpukan lengannya, menahan sesak di dada yang semakin menyakitkan. Mantra yang selalu digumamkannya tak terdengar karena ia tidaklah baik-baik saja. Ya, sekali ini saja. Ia mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Hanya sekali ini ia akan mengakuinya dengan jelas… karena tidak ada yang tahu, tidak ada yang melihat, dan tidak ada yang mendengar.
"It hurts…"
Tiada seorang pun yang akan menyalahkannya karena berkeluh kesah. Dan untuk sekali ini saja, ia bebas mengeluarkan perasaannya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Aniki, apa benar-benar nggak ada tempat yang bisa internet di rumah jii?" tanya Sasuke saat di perjalanan menuju rumah kakeknya.
"Seperti yang kita ketahui dari kunjungan tiap tahun, rumah jii-san memang di pedalaman gunung yang sulit internet," jawab Itachi. "Kenapa? Bukannya tadi kau sudah berbicara dengan Naruto-kun?"
Sasuke mengangguk, "Hn, tapi ada yang aneh dengannya. Dia bilang masih menunggu kedua kakaknya datang, dan kayaknya tadi di rumahnya nggak ada orang meskipun aku bisa mendengar suara televisi," jelasnya. "Kalau aku ada di posisi Naruto, apa Aniki akan mengambil tiket pesawat yang dekat waktunya dengan perayaan yang udah direncanakan jauh hari?" Ia memandang kakaknya lekat.
Tampak berpikir sejenak, Itachi menggeleng. "Aku pasti akan mengambil tiket minimal sehari sebelum acara. Apalagi sudah direncanakan jauh hari, aku tidak mau ambil resiko," ujarnya. Lalu ia menyadari perkataan adiknya tadi. "Sasuke, kau bilang Naruto-kun masih menunggu kakaknya tadi? Bukannya Kurama-san sedang penataran guru sampai tanggal 2 Januari? Beliau sendiri yang mengatakannya padaku dan bahwa ia menyesal karena mereka tidak bisa datang tepat di hari acara."
Sesuatu menyentak batin Sasuke. Setelah mendengar penjelasan sang kakak, perasaannya semakin tidak enak. "Bagaimana dengan kakaknya Naruto yang satu lagi—tunggu, Aniki bilang tadi mereka? Maksudnya itu Kurama-san dan kakaknya Naruto yang satu lagi—uhm, Deidara?" tanyanya meminta penjelasan lebih.
Mengangguk, Itachi membalas, "Hn. Temannya Dei kecelakaan motor yang mengakibatkan kakinya patah dan ia ingin menemaninya. Paling cepat mereka baru bisa berangkat setelah tahun baru atau tanggal 2 setelah penataran Kurama-san selesai."
Sasuke mendecak keras. Ia berpaling pada sang ayah yang sedang mengemudikan mobil. "Tou-san, aku mau iPad Tou-san sekarang!" serunya. Ia bermaksud menghubungi Naruto lagi.
"Nanti. Aku sedang mengemudi," tolak sang ayah.
"Kalau nanti itu kita sudah sampai di kaki gunung tempat kakek, sinyalnya akan susah didapat! Kalau Tou-san nggak bisa mengambil iPad, aku bisa ambil sendiri!" seru Sasuke sambil merogoh tas ayahnya.
"Itu tidak sopan, Sasuke! Ayahmu belum memberi izin!" tegur Mikoto yang duduk di samping suaminya.
"Gomen, Kaa-san, tapi ini darurat!" Ia berhasil mendapatkan iPad sang ayah lalu dinyalakannya.
Fugaku mendengus. "Darurat? Paling hanya untuk menghubungi bocah antah berantah—"
"Coba bayangkan aku yang ditinggal sendiri di rumah besar karena kalian sibuk dengan pekerjaan masing-masing padahal udah janji untuk merayakan sesuatu bersama-sama dari jauh hari, dan aku yang udah menantikan acara kumpul keluarga yang sangat jarang terjadi lalu harus menahan diri untuk nggak teriak kecewa karena mengerti kalau lagi-lagi aku ditinggal sendiri karena mungkin aja dianggap nggak lebih penting dari pekerjaan! Bisa bayangkan itu, Tou-san?" tantang Sasuke sambil membuka tabulasi webcam.
Semua terdiam mendengarnya. Hanya suara desingan mobil dan tombol iPad yang terdengar selama beberapa detik ke depan. Ia menghubungi sang sahabat yang belum juga menjawab panggilannya, dan hatinya terasa semakin resah. Ketika koneksi tersambung, ia sedikit menarik napas lega. Buru-buru ia memasang headset di telinganya. "Dobe? Naruto?" panggilnya.
"… 'Suke?"
Satu kata dan merupakan panggilan akrab Naruto untuk dirinya malah membuat hati Sasuke mencelos. Nada yang terdengar adalah nada lelah yang penuh rasa kecewa dan sedih. Nada yang jarang ia dengar dari sahabatnya yang secerah mentari. Ia tak tahu bagaimana ekspresi anak itu sekarang karena layarnya masih hitam seakan pihak seberang tak ingin memperlihatkan wajahnya. "Aktifkan layarmu. Gelap begini aku jadi nggak bisa lihat, 'kan?" pintanya kemudian.
"… Gomen… tapi boleh begini aja? Wajah Naru lagi… jelek…"
Terdengar isakan pelan dari seberang, membuat jantung Sasuke sakit dan perutnya terasa tidak enak. Ia bersandar lelah ke jendela mobil. IPad sang ayah tergeletak tak berdaya di atas pahanya. Ia memejamkan matanya erat seakan mencoba mengambil beban yang tengah dirasakan sahabatnya. "I'm here… I'm here with you… wish I was there with you…" gumamnya pelan pada speaker yang bersatu dengan headset-nya. Ia tahu Namikaze-Uzumaki itu mendengarnya jelas karena isakan kini bercampur dengan tawa kecil.
"You can say it out loud after all… That's sweet…" Dan isakan terdengar lagi, "Thanks, 'Suke, I'm okay…"
Sasuke menggertakkan gigi. "Don't lie!" desisnya kesal.
"Don't be mad, then…" Terdengar seolah Naruto sedang menghapus airmatanya, "I'm okay, really, now that you call me… I'll be fine, 'Suke…"
Ingin membantah tapi tahu takkan membantu, Sasuke menghela napas panjang. "Perlihatkan wajahmu…" pintanya lagi, "biarkan aku melihat wajahmu supaya aku yakin kau baik-baik aja."
"… Tapi jangan ketawain Naru ya?" Tak lama, layar bersinar dan pandangan mereka bertautan. "Hai, 'Suke…"
Mata yang sedikit berkantung hitam, rambut pirang yang berantakan, hidung beringus, dan pipi yang memerah. Sahabatnya tampak kacau—lebih kacau dari yang sebelumnya. Kenapa Sasuke tidak menyadari kondisi Naruto saat menghubunginya tadi? Kenapa Sasuke tak menyadari situasi Naruto tadi? Kenapa ia tak bersama sahabatnya tersayang saat ini?!
"Sinyalnya bisa di rumah kakeknya 'Suke?" tanya Naruto.
"Belum sampai. Kalaupun nggak ada sinyal, aku akan mencari tempat yang ada sinyalnya. Pasti!" janji Sasuke. "Aku pasti akan menghubungimu nanti dan kita akan countdown bersama!"
"Naru tunggu," balas Naruto. Seulas senyum manis terlihat merekah di bibirnya. "Selalu."
Betapa Sasuke ingin merengkuh sang sahabat dalam dekapannya dan mengatakan bahwa mereka akan terus bersama. Namun, ia tahu untuk sekarang hal tersebut mustahil. Ditambah dengan sinyal yang semakin menipis dan decakan dari mulutnya yang semakin terdengar ketus. "I'll call you for sure! I will!" Lalu sinyal pun hilang. Sasuke mengumpat dalam kekesalan.
"Aku akan membantumu mencari tempat dengan sinyal yang bagus, Otoutou," ujar Itachi sambil menepuk pundak adiknya yang masih tegang tapi berangsur lemas. "Janji."
"Hn." Yang ada dalam pikiran Sasuke hanyalah sahabatnya yang tampak sangat kesepian. Padahal ia tidak suka dengan orang yang gampang menangis dan terlihat seakan seluruh dunia mencampakkannya. Akan tetapi, kehidupan Naruto selama ini membuatnya tak bisa mengenyahkan perasaan ingin menghilangkan segala kesedihan yang terpancar dari bola langit yang disukainya itu. Ia ingin membuat sahabatnya senantiasa tersenyum dan terlihat ceria—luar maupun dalam. Ia ingin sahabatnya itu berbahagia, dan ia ingin menyaksikannya sendiri, dengan mata kepalanya sendiri. Oleh karena itu, sebuah tekad muncul dalam pikirannya.
Saat SMA nanti, ia akan keluar dari rumah dan mengajak Naruto untuk tinggal bersamanya. Hanya mereka berdua, tak terpisahkan lagi untuk kedua kalinya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Kebun belakang di pedalaman gunung tepat di rumah Madara Uchiha, kakeknya Sasuke, ternyata sudah bisa digunakan untuk menelepon ataupun berinternet karena sudah dipasang menara sinyal oleh empunya sendiri. Alasannya adalah karena Madara lagi senang menonton acara komedi rap di TVnet KillerB. Fugaku dan Itachi terdiam mendengarnya sementara Mikoto hanya tertawa kecil dan Sasuke yang langsung mengambil laptop kakaknya sebagai persiapan untuk menghubungi Naruto nanti.
"Jii, internet-nya unlimited 'kan? Sinyalnya bagus, 'kan?" tanya Sasuke memastikan.
"Tentu saja, Sasuke! Kau pikir aku akan memakai internet murahan? Tidak akan terjadi!" seru Madara sambil membusungkan dada pertanda bangga akan dirinya sendiri—kalau tidak mau disebut sombong sih. Madara lanjut membanggakan hasil kerjanya pada keluarga puteranya—yang menghela napas karena menganggap kakek tersebut sudah menjadi korban iklan di internet—meskipun Sasuke tak lagi mendengarkannya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Naruto.
Sementara itu, Itachi meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Kurama tentang kejadian di mobil tadi. Ia berharap Kurama pun segera menghubungi Naruto yang sepertinya sendirian di rumah. Ia paham jika Namikaze-Uzumaki sulung itu mengetahuinya, maka tidak akan ada kompromi lagi dengan pekerjaan. Ia pasti akan langsung terbang menemui adik bungsunya.
Balasan yang diterimanya adalah: OTW ASAP
Itachi menyeringai kecil lalu menutup ponselnya. Ia menatap sang adik yang berusaha menyambungkan laptop dengan internet kakek mereka. Ia pun menghampirinya untuk membantu.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Satu jam menjelang hitung mundur menuju tahun baru. Naruto masih terdiam di depan komputer ayahnya. Matanya terlihat mengantuk tetapi ia tak bisa tidur. Ingin ia berpindah posisi tetapi tubuhnya seakan lemas. Ingin ia melakukan sesuatu tetapi seakan tiada daya tersisa. Jadilah dirinya tergeletak di meja komputer dengan layar yang masih menyala.
Naruto tahu bahwa ia tidak boleh diam begitu saja tanpa melakukan apapun. Ia sadar bahwa ia tak boleh membiarkan dirinya meneruskan hal sia-sia seperti itu. Namun, ia merasakan tubuhnya berat dan tak sanggup bangkit untuk melakukan bahkan sekedar membereskan makanan dan minuman yang sudah mendingin di atas meja. Ia pasti kena marah karena membiarkan makanan dan minuman begitu saja tanpa ditutup tudung saji atau dimasukkan ke lemari pendingin agar tahan lama. Belum lagi televisi yang juga ia biarkan menyala, Naruto sudah pasti dinasehati agar tak menyiakan listrik.
Tiba-tiba terdengar suara telepon wireless berdering. Naruto melirik benda komunikasi yang berada di samping komputer itu lalu perlahan mengangkatnya. "Namikaze speaking. Who—"
"Naru!"
"… Kura-nii?" ragunya.
"I'll be there soon! I'm on my way now, already in LA!"
DEG!
Bola biru Naruto membelalak tak percaya. "But you… meeting… how?" gelagapnya.
"Forget it! Just wait, okay?" ujar Kurama dengan nada lebih lembut. "I'll be home soon."
Naruto merasakan matanya memanas. Ingin ia mengatakan hal yang membuat kakaknya tenang dan tidak mencemaskannya tetapi lidahnya terasa kelu. Bibirnya bergetar, demikian juga jemarinya. Ingin Naruto mengungkap bahwa ia ingin segera bertemu dengannya dan memastikan keberadaannya bukanlah ilusi ataupun mimpi tetapi perasaan yang berkecamuk dalam dada tak mudah dipadamkan. Maka, ia mengatakan hal yang biasa ia katakan, "I'll be waiting. Like always."
Like always. Kurama merutuki dirinya sendiri. Ia tahu adik bungsunya itu selalu dan selalu menunggu. Di usianya yang masih sangat muda, Naruto memang hanya bisa ikut dalam permainan hidup yang tidak menentu. Karena situasi dan kondisi keluarga mereka, adiknya hanya bisa menerima keputusan lalu menunggu. Ditambah lagi usia yang terpaut jauh dengannya dan Deidara, Naruto hanya bisa menerima segalanya dengan pasrah. Namun, untuk dirinya sendiri yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan adiknya sendiri, ia tak tahu sudah berapa kali merutuki diri. Pekerjaan memang penting. Adiknya juga penting, bukan? Bahkan seharusnya jauh lebih penting dibandingkan apapun di dunia. Kenapa ia… kenapa mereka membuatnya terbiasa menunggu sendirian?!
"I love you, Lil Bro," bisik Kurama lembut.
"I-I love you too, Big Bro…" balas Naruto dengan suara bergetar. Perlahan, ia mengusap tetesan airmata yang sempat terjatuh ke pipinya lalu beranjak dari depan komputer sambil tetap membawa telepon wireless mereka. Ia mematikan televisi dan memadamkan lampu ruang keluarga. Ia pun mengambil selimut dari dalam lemari dan menyampirkannya di pundak. "Naru tunggu di depan pintu, ya?"
"Ya. Tunggu sebentar lagi!" balas Kurama yang lalu berkata pada pengemudi taksi untuk mempercepat laju mobilnya.
"Naru boleh tetap dengar suara Kura-nii?" pinta anak itu dengan suara ragu.
Kurama terdiam sejenak lalu tersenyum meskipun sang adik tak bisa melihatnya. "Tentu saja, Naru."
Senyuman lebar merekah di bibir Naruto. "Kura-nii hati-hati di jalan. Nggak usah buru-buru nggak apa-apa. Naru nggak sendirian terus kok. Tadi 'Suke sempat webcam-an sama Naru," katanya.
"Oh ya? Apa katanya tadi?" tanya Kurama berusaha membuat adiknya melupakan rasa sepi yang melanda.
Bungsu Namikaze-Uzumaki itu duduk di depan pintu yang tertutup sambil bersandar pada rak sepatu. "Katanya nanti 'Suke bakal menghubungi Naru lagi buat countdown bersama. 'Suke janji bakal mencari tempat yang bisa internet lalu ngajak Naru webcam lagi," jelasnya.
Terdengar suara tawa Kurama—yang menyadari sesuatu—meskipun pelan. "Kalau begitu pastikan kau ada di depan komputer, Naru, karena Sasuke pasti akan menghubungimu," ujar lelaki berambut merah cepak itu.
"Iya. Nanti Naru bakal nyalakan komputernya. Sekarang Naru mau menunggu Kura-nii sampai datang," balasnya.
"Baiklah. Tinggal dua blok lagi."
Naruto memejamkan matanya sambil tersenyum lebar, membayangkan ekspresi kakaknya nanti. Apakah ia akan tersenyum juga atau malah terlihat cemas? Atau justru marah karena terpaksa meninggalkan pekerjaannya? Apapun itu, Naruto akan tetap menunggu dengan sabar karena hal yang akan dilakukannya setelah sang kakak sampai dan membuka pintu adalah…
"Naru—"
memeluknya erat.
Kurama, terbiasa mendapati sang adik terduduk lelah di depan pintu ketika menunggu, terkejut dengan terjangan pelukan untuknya. Namun, setelah dipikir-pikir hal tersebut adalah lumrah terjadi pada anak kecil yang merindukan keluarganya. Misalnya seperti anak yang memeluk orang tuanya saat dijemput di sekolah, atau anak yang terbangun seorang diri di kamar lalu memeluk orang tuanya ketika kembali masuk. Sebaliknya, Naruto tidak demikian. Anak itu terbiasa bertanya atau meminta izin terlebih dahulu untuk memeluk seolah tidak yakin diperbolehkan. Ia akan meminta izin dengan suara lirih ketika mendapati kakak atau ayahnya pulang dengan wajah letih, dan dengan suara ceria yang bermakna tidak apa tidak diperbolehkan jika tidak mau ketika mereka pulang dengan wajah biasa. Dan saat pulang dengan wajah kesal yang bahkan hanya sedikit saja, Naruto tidak akan meminta pelukan untuknya. Anak itu akan menyambut dengan suara pelan lalu merapat ke dinding rumah untuk langsung mempersilakan masuk. Semua terjadi semenjak usianya menginjak tahun ketiga ketika kata-katanya masih sangat terbatas akibat speak delay.
Kurama kembali merutuki diri. Ia pun membalas pelukan itu dengan erat lalu menggendong sang adik masuk ke ruang keluarga setelah menutup pintu. Ia menyalakan lampu kecil yang terletak di atas meja di samping sofa lalu duduk di sofa tersebut. Lelaki itu tidak menurunkan sang adik melainkan semakin memeluknya erat di pangkuannya. Ia membenamkan wajahnya di lekuk leher Naruto untuk sejenak sebelum mengecupi sisi wajah kecokelatan itu mulai dari leher, tulang dagu, telinga, pipi bergaris yang sedikit basah, pelipis, pelupuk mata, dahi, hingga ke rambut. Kemudian ia menempelkan kening mereka dan menautkan mata.
"I'm sorry for breaking my promise…"
Anak berusia tujuh tahun yang belum mengatakan apa-apa sedari tadi berusaha menggelengkan kepala tanpa melepas sentuhan dahi mereka. "You're here now… Thank you…" lirih Naruto dengan pipi yang basah dan mata yang masih meneteskan embun.
Kurama pun merasakan matanya memanas sebelum kembali membawa sang adik dalam dekapannya. Ia tenggelamkan wajahnya ke rambut pirang anak yang tidak pernah menyalahkan keluarganya atas perlakuan mereka yang tidak adil itu, lalu membiarkan embun yang menggenangi matanya mengalir keluar. Sudah berapa lama ia tak menangis? Kapan terakhir kali ia menangis? Kurama tak ingat. Yang jelas, ia tidak akan menutupi perasaannya sekarang. Tidak di hadapan sang adik yang juga membuka perasaannya.
"I'M HOOOMMEEEE! DID I MAKE IT?! DID I? DID I?"
Tiba-tiba suara besar berseru bersamaan dengan pintu yang menjeblak terbuka. Langkah kaki tergesa-gesa memasuki ruang keluarga pun terdengar setelahnya. Tampaklah Namikaze Minato, sang ayah yang tadi menelepon sibuk dan takkan sempat merayakan tahun baru bersama, datang dengan membawa banyak barang. Mulai dari boneka beruang setinggi dirinya, makanan ringan, kado yang bertumpuk lima setelah dibungkus rapi lengkap dengan pita, sampai bungkusan makanan yang tergantung di plastik yang berada di pundaknya. Lelaki itu muncul dengan napas terengah-engah seakan baru selesai berlari marathon—karena ia memang benar berlari dari halte bis terdekat untuk segera sampai ke rumah tempat anaknya menunggu bersama Iruka—atau itulah yang ia pikirkan. Makanya ia terdiam setelah menyalakan lampu ruang keluarga hanya untuk mendapati putera sulung dan bungsunya berdekapan sambil menangis. Sepuluh detik ia terdiam sampai akhirnya wajah 'cengok'nya berubah mewek lalu ia menerjang kedua puteranya dalam pelukan setelah melempar asal barang-barang yang dibawanya.
"Naru-chan, Kura-chan, Daddy rinduuuuuuu!" seru Minato agak lebay. "I'm sorry I'm late!" tambahnya sambil sesunggukkan. Tindakannya itu justru membuat Kurama tertawa kecil.
"Masih 15 menit lagi sebelum tahun baru. You're not late, Dad," kata Kurama menenangkan.
"Thanks God then! Kupikir pekerjaanku tidak akan selesai, untungnya dua asisten datang tadi sehingga bisa cepat selesai!" Minato menjelaskan sambil menyeka buliran airmata yang mengaliri pipinya.
Naruto menatap tak percaya akan keberadaan sang ayah yang tadi bilang tak bisa datang itu. Lelaki yang berambut sama dengannya itu ternyata pulang tepat pada waktunya. Ternyata sang ayah bisa pulang untuk merayakan tahun baru bersamanya. Anak itu mendapati suaranya seolah hilang, tercekat di tenggorokannya. Ia bahkan tak mengerti apa yang tengah dirasakannya saat ini.
"Hei, kenapa pintunya dibiarkan terbuka begitu? Memangnya pesta terbuka ya? Bukannya hanya untuk keluarga inti saja?"
Dan terdengar suara lain lagi yang familiar di telinga. Tak lama, tampaklah Deidara berbalutkan long coat berwarna putih memasuki ruangan.
"Dei!"
"Deidara!"
Pemuda yang dipanggil namanya menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal. "Un. Aku datang," ucapnya salah tingkah. Ia pun menghampiri kumpulan keluarganya. "Sasori memukulku karena berniat tidak datang—" ia menunjuk sisi kiri dagunya yang merah, "—lagipula aku sudah janji sama Naru-chan untuk menemuinya…" jelasnya, membuat Minato dan Kurama tersenyum sambil menghela napas lega karena pada akhirnya mereka dapat berkumpul berempat sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Dan Naruto…
Anak itu masih belum percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya. Ayah dan kedua kakaknya berkumpul bersama dirinya. Mereka telah berkumpul, tidak dihalangi oleh apapun yang tadinya mereka dedikasikan. Mereka datang tergesa-gesa hanya untuknya… hanya untuk menepati janji padanya. Datang… dan Naruto mendapati dirinya tak mampu berkata apa-apa. Ia tak sanggup mengatakan apapun kecuali isak tangis yang kini mulai terdengar darinya. Kemudian… tangis itu pun lepas membahana.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketiga orang dewasa itu melihat bungsu kesayangan mereka menangis lepas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka menyadari bahwa rasa sepi yang bersarang di tubuh kecil itu sudah sedemikian besar hingga mereka tak sanggup untuk berpaling dan mencari alasan pembelaan diri. Untuk pertama kalinya, mereka berpikir seandainya waktu dapat diulang kembali sehingga mereka bisa lebih mengurangi jam terbang masing-masing untuk anak yang tak pernah mempertanyakan kenapa dirinya selalu ditinggal seorang diri.
Namun, bukan untuk pertama kalinya mereka ingin membahagiakannya… jauh, jauh lebih bahagia dari siapapun di dunia.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Dua menit menjelang tahun baru, keluarga Uchiha sudah bersiap dengan gelas masing-masing untuk bersulang. Mereka akan menghitung mundur bersama lalu mengetukkan gelas satu sama lain. Setelah itu, akan ada sedikit diskusi mengenai resolusi untuk tahun yang akan segera datang.
Sasuke tidak peduli dengan acara keluarganya. Yang ia inginkan adalah untuk segera menghubungi Naruto sebelum countdown dimulai. Ia sudah bersiap di depan laptop ketika sang kakak menepuk pundaknya dan memberikannya telepon wireless milik kakek Madara. "Apa?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.
"Naruto-kun tidak akan sempat membuka komputer karena mereka sedang berkumpul. Lebih baik kau hubungi via telepon saja, Otoutou," ujar Itachi.
Tambah heran, Sasuke bertanya, "'Mereka'? Naruto dengan siapa?"
Itachi hanya tersenyum simpul. "Let's call that 'new year miracles'," jawabnya memutar. Dan Sasuke yang merupakan anak jenius tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami makna tersirat kakaknya. Lalu ia menyeringai. "Those selfish idiots."
Bungsu Uchiha itupun menekan nomor rumah Namikaze Minato di LA yang ia ketahui dari sang kakak dan menghubungi sahabatnya. Tinggal 30 detik menuju hitung mundur akhir tahun, Sasuke bersandar santai di gazebo kakeknya. Ia tahu si bodoh sahabat tersayangnya itu akan segera mengangkatnya—katakanlah itu insting.
"Namikaze spea—"
"Going down from 10. Ready?"
"'Ah, 'Suke! Okay!"
Sepuluh detik terakhir pun diserukan. Kedua sahabat yang terpisahkan oleh jarak dan lautan luas itu menyerukan awal tahun bersama-sama. Harapan mereka tak jauh berbeda karena sedari awal berpisah mereka hanya ingin bertemu lagi dan kembali menjalani hari seperti dulu… seperti saat mereka tak terpisahkan satu sama lain.
Suatu hari nanti mereka akan bertemu dan bersama lagi. Hingga saat itu tiba, mereka akan bertahan dengan media komunikasi yang ada. Mereka akan bertahan dengan ikatan yang mereka punya… yang takkan hancur diterjang apapun.
-.-.-.-OMAKE-.-.-.-
"Sudah menelepon Naruto-kun tadi?" tanya Itachi pada adiknya yang sedang menikmati sate buah sambil menonton televisi.
"Hn," jawab Sasuke sekenanya, membuat Itachi mendengus geli karena sang adik masih belum menyadari suatu hal yang jelas-jelas terjadi. "Kenapa ketawa?" Lalu anak itu bertanya.
"Kau tahu kalau Jepang dan Amerika memiliki perbedaan waktu?" Itachi balik bertanya.
"Tentu saja! Memangnya selama ini aku ngobrol dengan Naruto di waktu yang sama?" decak Sasuke. Namun, ia langsung menyadari sesuatu. "… Eh?"
Lalu Itachi tertawa kecil. "Ya. Mereka sudah melewati countdown tahun baru sebelum kau meneleponnya," jelasnya.
Sasuke meletakkan satenya. "Kenapa dia countdown lagi tadi? Dia bisa bilang kalau dia udah tahun baru, 'kan?" herannya.
Sang kakak menggelengkan kepalanya dengan maklum. "Sudah jelas karena Naruto-kun menyayangimu, Otoutou," Ia mengelus kepala Sasuke, "dan dia ingin merayakannya bersamamu."
-.-.-Side Story End-.-.-
Haaaaaiiii~ ini yang kepikiran dari pengalaman salah satu murid Kyou. Next will be KuraIta~ tapi di chapter inti.
