Lil Hands
by Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Genre: Friendship/Family
Pairing: Di sini pair-nya KuraIta dan SasukeNaruto
Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!
A/N: Drabble dan series of oneshots. Untuk pemakaian marga, keluarganya Naruto memang menggunakan dua marga (Uzumaki & Namikaze). Untuk chapter ini, setting masih lima tahun sudah berlalu. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Scene 12:Confession (Kurama & Itachi)
Ketika lelah dan kesal, ucapan yang terlontar dari mulut kita mungkin saja sesuatu yang menyakitkan meskipun kita tidak menyadarinya.
Libur panjang telah usai. Hampir setiap orang kembali menjalankan aktivitas masing-masing. Memulai hari baru dengan jadwal yang baru pula di awal tahun. Semangat beraktivitas mutlak dibutuhkan jika ingin menjadikan permulaan ini sebagai tahap awal mencapai target yang telah ditetapkan atau bahkan yang baru akan direncanakan. Istirahat yang cukup pun menjadi salah satu bagian agar kinerja optimal dapat diwujudkan. Keseimbangan yang tercipta dari kedua hal tersebut niscaya akan menjadi dinding kokoh demi tercapainya tujuan.
Itachi, seorang mahasiswa yang akan melaksanakan sidang skripsi, tengah bergelut dengan keduanya. Ia pandai membagi waktu untuk konsentrasi pada tugas dan untuk mengistirahatkan pikiran sehingga kondisinya senantiasa prima. Ia menjaga diri agar tetap mampu berpikir dengan jernih dan berkepala dingin. Ia menjaga diri agar dapat menganalisa dan menjawab hipotesisnya sehingga menyajikan sidang terbaik. Ia akan menjadikan dirinya alumni dengan nilai terbaik dan sempurna—meskipun jarang sekali kampus memberikan nilai seperti itu. Ia yakin dan percaya diri… jika saja orang itu tak mengganggunya.
"I~ta~chi~ aku belum mendengar jawabanmu tempo hari~! Kapan kau akan memberiku balasan?"
Akatsuki Yahiko. Senior Itachi di klub Panahan kampus. Orang yang secara tidak langsung menyatakan cinta dan ingin menjadi kekasihnya. Orang yang menjengkelkan Itachi sampai ke ubun-ubun kepala. Orang yang ingin sekali dibuangnya jauh-jauh. Namun, Itachi tidak boleh sembarang bertindak karena saat ini ia berada di tempat umum di mana dinding pun bertelinga. Ia harus menjaga wibawa diri sebagai seorang Uchiha.
"Aku sibuk dan tidak punya waktu untuk meladeni permainanmu, Senpai," ucapnya kalem dan terdengar sopan. Telinganya mendengar pemuda itu mendengus meskipun ia masih berkutat dengan rangkuman analisanya.
"Aku serius. Kalau hanya becanda, aku tidak akan sengaja datang ke sini dan menanyakan jawabanmu, Itachi~" balas Yahiko sambil nyengir. Ia berjalan memutari meja perpustakaan yang ditempati sang junior lalu duduk di sebelahnya. Tangan kiri menyangga pipinya agar mata oranye kecokelatannya dapat melihat Itachi dengan leluasa. "Just say 'yes' then let me kiss you~"
"In your dream." Itachi membalas dingin, tak peduli. Ia menggarisbawahi bagian rangkuman yang hendak ia jabarkan saat sidang nanti.
"I've dream of you enough. I want a reality now." Yahiko memajukan wajahnya untuk berbisik di telinga sang Uchiha yang masih mengabaikannya. Ia menginginkan perhatian pemuda itu tertuju padanya.
Dan ia berhasil.
Itachi, yang sedari tadi berusaha menahan diri agar tidak menimbulkan masalah dengan berkonsentrasi penuh pada skripsi, merasakan darahnya mulai naik ke kepala. Urat-urat dahinya mulai berkedut muncul ke permukaan. Jemarinya perlahan mengepal erat dan berkemungkinan mematahkan pulpen yang digenggamnya. Namun, ia mempunyai ide yang lebih bagus daripada itu, yakni menancapkan ujung pulpen ke antara jari telunjuk dan tengah senior tersebut. Oniksnya melirik tajam pupil yang melebar karena terkejut. "Your reality is never to mess with me. Don't call me by my first name. Try again and you'll find your end!"
Yahiko tertegun mendapat perlakuan tersebut. Belum pernah ia melihat Itachi menunjukkan emosi seperti itu, dan bukannya merasa terancam ia malah merasa senang. Ia merasa senang karena berhasil membuat pemuda stoik itu bereaksi terhadapnya—dan siapa bilang ia akan mundur? Tantangan justru semakin menyulut semangatnya. Apalagi dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat berkat aksinya tadi, ia malah akan memanfaatkan kesempatan emas seperti ini. Maka, langsung saja dirinya menghilangkan jarak tersebut, bermaksud mencium sang Uchiha tepat di bibir.
Yahiko hampir berhasil jika bukan karena sebuah buku tipis menghalangi wajahnya dan suara berat yang membuat bulu romanya berdiri.
"Akatsuki Yahiko."
Spontan pemuda yang namanya disebut menjauhkan diri dari juniornya dan berdiri secara tiba-tiba. Instingnya mengatakan bahwa ia harus segera enyah dari sana. Kenapa? Padahal hanya namanya saja yang dipanggil oleh suara berat tapi kenapa terdengar penuh ancaman dan janji akan siksaan yang pasti menyusul jika ia tidak melakukannya? Kenapa demikian? Padahal yang matanya tangkap hanya salah satu guru SMA-nya—dan juga Itachi—dulu yang terkenal baik dan tegas meskipun sering memberikan tes dadakan sebelum materi baru dimulai. Padahal yang ia tahu Namikaze-Uzumaki Kurama itu tidak menggigit muridnya tapi kenapa ia merasa bagai terancam nyawa?!
Kenapa tatapan mata yang biasa mengayomi itu menjadi seperti pembunuh berdarah dingin seperti ini?!
"Ini perpustakaan. Jaga sikapmu," Kurama berkata tenang meskipun masih menatap pemuda Akatsuki itu dengan tajam. "Jika ingin mengerjai kolegamu, lakukan di tempat lain." Ia pun duduk di sebelah Itachi yang tampak sedikit terkejut dengan kehadirannya. Kurama mengambil dua buku tebal yang dibawanya lalu membuka mereka di depan sang Uchiha. "Ini teori yang akan memperkuat analisamu," ujarnya, berusaha mengembalikan Itachi ke permasalahan semula dan tersenyum ketika ia mendapatkan reaksi yang diharapkannya.
Merasa kehilangan kesempatan mendekati sang Uchiha, Yahiko mendecak kesal pada mantan gurunya itu. "Bilang saja kau tidak suka melihatku mendekatinya! Pakai sok menasehati segala!" ketusnya sambil melipat tangan di dada.
Kurama menghentikan penjelasannya. Ia melirik pemuda berambut oranye tersebut lalu berkata, "Aku tidak suka kau mendekatinya." Warna hazelnya berkilat, menusuk dengan tajam. "Puas?" tantangnya balik.
Yahiko terkejut. Sebetulnya ia tak menyangka bahwa guru itu akan menjawab demikian. Namun, tak lama seulas seringai merekah di bibirnya. "Heh! Ternyata memang itu maksudmu! You're on, Sensei! I'm ain't gonna lose!" serunya senang mendapat saingan dalam memperebutkan Itachi. Ia pun berlalu dari tempat itu sambil bersiul, memikirkan cara untuk mengalahkan guru yang sedang mengambil program doktorat itu.
Merasa badai sudah berlalu, Kurama menghela napas panjang. Ia bermaksud melanjutkan penjelasannya ketika mendapati sang Uchiha menatapnya lekat. Sebelah alisnya terangkat naik seolah bertanya 'ada apa?' tapi ia sadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Dan ia bersiap untuk menjawab pertanyaan Itachi yang sedikit banyak telah diduganya.
"Why?"
Lihat? Dugaannya benar. Itachi pasti bertanya mengapa atas pernyataannya tadi. Yah, kalau posisi mereka dibalik pun ia akan menanyakan hal yang sama. Maka dari itu, jawaban yang disiapkannya adalah…
"Sebentar lagi kau akan sidang. Perlu konsentrasi penuh untuk menyajikan materimu, benar?"
… yang sedikit banyak telah diprediksi oleh sang Uchiha, terbukti dari caranya menghela napas. Kurama tersenyum kecil menanggapinya.
"Setelah sidang, berikan alasanmu yang sesungguhnya, Kurama-san," ujar Itachi, "meski sekarang pun juga tidak masalah…" tambahnya menggumam.
Sang guru mengangguk. "Setelah sidang," balasnya menjanjikan.
Betapa mereka tidak sabar.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Seminggu berlalu setelah pembicaraan Kurama dan Itachi di perpustakaan. Hari ini adalah jadwal sidang sang Uchiha yang dimulai pukul 08.00 pagi, yakni presentasi paling pertama yang membuka sidang lainnya. Sidang dilakukan di ruangan tertutup dengan empat dosen dan seorang guru besar sebagai penguji. Waktu menyajikan sidang paling lama adalah satu jam dan hal itulah yang menentukan kelulusan atas kerja keras selama duduk di bangku kuliah. Kurama tidak khawatir karena ia memahami jelas kinerja Itachi selama ini. Ia hanya akan menunggu di perpustakaan hingga sidang selesai.
Empat puluh menit berlalu. Itachi terlihat membuka pintu perpustakaan dan menghampiri lelaki berambut merah cepak itu dengan langkah pasti. Ia letakkan kertas hasil sidangnya di depan Kurama lalu berkata, "Tepati janjimu."
Suma Cumlaude. Perfect score.
Kurama menyeringai bangga sebelum bangkit dari kursi. "Fancy some milk tea?"
Itachi balas menyeringai, "Too sweet."
"Green tea latte then~"
Mereka pun berjalan menuju café yang biasa didatangi saat ingin bersantai: sebuah café bernama TenTails yang menyajikan menu menarik dengan harga sepadan—walaupun mereka tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Di sana, Kurama memesan Hot Cappuccino untuk dirinya dan Green Tea Latte untuk Itachi. Tak lupa, ia juga memesan Fish & Chip with Tortillas sebagai side dish. Lalu mereka menunggu.
Itachi memandang taman mungil yang berada di dalam café. Terlihat sebuah bunga putih berkembang di salah satu tanaman yang ada. Di sisi lain, Kurama menatap padang rumput teki yang menghiasi tanah di sekeliling tanaman tersebut. Tiada yang membuka suara pun yang berinisiatif melakukannya selama menunggu dan melakukan aktivitas tersebut. Seakan tiada janji yang pernah terucap, dan tiada tanya yang hendak dijawab. Mereka berada dalam keheningan yang tidak menyesakkan. Mereka berada dalam kebisuan yang menenangkan. Seolah mengerti, memahami apa yang bermain dalam benak satu sama lain. Seolah jawaban tak memerlukan tempat di sudut kepastian.
Bagai hati yang telah lama bertautan menjadi satu.
Ah, bodohnya mereka selama ini… Ya. Namun, sungguhpun demikian, kenyataan bahwa hubungan mereka harus diklarifikasikan adalah benar. Mereka takkan maju jika terus seperti ini. Maka, Kurama pun memecah kebisuan di antara mereka.
"Apa yang ingin kau ketahui, Itachi?"
Merasa sang guru akan mengajaknya berputar, Itachi membalas santai. "Kau tahu persis apa yang kuinginkan, Kurama-san."
Menghela napas sambil tersenyum, lelaki berambut merah cepak itu menyahuti, "Sayang sekali aku bukan paranormal. Jadinya, aku tidak tahu apa yang kau inginkan." Ia menyandarkan dagunya pada kepalan tangan yang ditumpu di sikut kanannya. "Dan aku tak ingin menebak secara asal," tambahnya.
Lalu Itachi menyadari bahwa permainan kejar-kejaran ini akan semakin sulit. Pria yang lebih tua lima tahun darinya itu sengaja tidak mengatakan dengan gamblang perasaannya yang ia tahu dulu pernah terungkap. Karena penolakannya dulu, pria itu menjadi lebih pandai menata perasaan sehingga Itachi merasa ragu di dalam hatinya. Apakah Kurama masih menyukainya? Apakah Kurama masih memendam perasaan sebagaimana perasaan dalam dirinya? Apakah Kurama masih menginginkannya sebagai kekasih? Ah, apakah harus dirinya yang memulai pengakuan seperti guru itu lima tahun lalu? Bagaimana? Harus seperti apa?
"How do you feel about me?"
Apakah itu permulaan yang tepat? Sungguhpun seorang jenius, Itachi tak pandai dalam hal ini.
Kurama, meskipun sedikit terhenyak oleh bola langsung sang Uchiha, mengerti bahwa pemuda itu tengah dilanda kebingungan. Ia ingat betapa pengakuannya lima tahun yang lalu telah membebani Itachi—bahkan sempat membuat suasana canggung dan kikuk selama beberapa hari. Dan dirinya yang bermaksud memutar arah adalah salah karena hal tersebut justru semakin mempersulit keadaan. Maka, ia menghela napas seraya menenangkan diri dan menguatkan hati. Ia akan menyatakan perasaannya yang tidak berubah semenjak pengakuan lima tahun yang lalu kepada Itachi. Hanya kali ini ia tak yakin akan menunggu jika lagi-lagi pemuda itu menolaknya. Jika benar demikian, ia akan mencoba untuk berhenti mencintainya dan mulai melupakannya. Itulah tekadnya. "Aku—"
"No, wait! Let me say it first!" potong Itachi dengan cepat. Ia merasa tidak adil jika pria itu yang harus menjelaskan perasaannya lagi setelah sekian lama. Ia merasa bahwa dirinyalah yang seharusnya menjelaskan perasaan. Ia merasa bahwa seharusnya perasaan yang menumpuk di dadanya harus dikeluarkan terlebih dahulu… meskipun harus mengingkari sumpah yang diikrarkannya dulu.
"Lima tahun lalu saat aku mendengar pengakuanmu, sebenarnya aku sangat senang karena berpikir bahwa perasaanku berbalas. Namun, saat itu pula wajah Sasuke terbayang di benakku…" Itachi mengingat kembali saat adik semata wayangnya bersedih karena Naruto tidak memberi kabar setelah kepindahannya ke LA selama dua bulan. Ia mengingat betapa Sasuke menatap lama telepon rumah atau ponsel miliknya—bahkan komputer sang ayah seakan menunggu Namikaze-Uzumaki itu menghubunginya. Dan ia merasa tidak boleh berbahagia di atas penderitaan adiknya. "Mungkin alasan itu terdengar konyol tapi aku tahu bahwa meskipun Sasuke masih kecil, anak itu sangat menyayangi Naruto-kun. Sasuke bukan anak yang bisa berteman dengan mudah tapi Naruto-kun seakan sudah menjadi bagian hidupnya yang berharga—lalu tiba-tiba mereka terpaksa berpisah untuk kurun waktu yang tak tentu? Aku tidak bisa berbahagia di atas kesedihannya. Itulah yang kupikirkan…"
Kurama mendengar penuturan sang Uchiha dengan seksama sebelum menutup mata, mengingat kembali pemikirannya tempo itu. Tentu saja perasaannya sama dengan Itachi yang tak ingin bahagia sendiri sementara adiknya bersedih. Namun, ia pun paham akan ego pribadi dan ingin merengkuh kebahagiaan yang selama ini diinginkannya. Ia ingin melangkah maju dan mendapatkan kenyataan yang tercipta dari tangannya sendiri. Dengan kepindahan Naruto ke LA, ia mengakui bahwa dirinya bisa bernapas lega meskipun terdengar kejam di telinga orang lain. Tidak. Ia pernah merasakan—bahkan mengatakan hal yang lebih kejam daripada itu.
"Itachi, sebelum kau melanjutkan, mungkin sebaiknya kau mengetahui seberapa buruk diriku ini," kata Kurama. "Tidak seperti dirimu, dulu aku lebih mementingkan diriku dibandingkan Naru. Aku pernah mengatakan hal yang kejam kepada Naru yang hingga selamanya takkan bisa kutebus dengan apapun…"
Kurama baru saja pulang dari kampus. Penampilannya kacau, begitu pula dengan perasaannya. Di kampus tadi, proyeknya batal karena ada yang mencuri idenya. Ia sudah berusaha menjelaskan dan membuktikan bahwa yang dicuri adalah idenya tetapi nihil. Pihak dosen lebih mempercayai asisten dosen yang memplagiat proyeknya. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima karena jika ia bersikeras ancamannya adalah diskorsi selama satu semester. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi karena beasiswa aksel yang diterimanya akan berhenti jika ia terkena diskorsi. Asisten dosen yang mencuri idenya itu memahami benar situasinya dan memanfaatkan dengan baik. So much for being a college freshman!
Maka, Kurama memasuki rumah dengan langkah kesal dan raut wajah yang tertekuk. Ia melepaskan sepatu dengan asal dan langsung masuk begitu saja tanpa merapikannya. Ia menghempaskan diri ke sofa dengan kasar lalu membanting tasnya ke lantai. Decakan dan raungan keras pun terlontar dari mulutnya. Tidak peduli dengan siapapun yang mendengar atau apapun yang terjadi, ia mengungkapkan kekesalannya di sana… tiada menyadari langkah kecil yang datang menghampirinya.
"Nii?"
Tiada mendengar bisik memanggilnya dari belakang sofa, yang kemudian terganti oleh langkah kecil menjauhinya. Kurama tak menyadari itu semua karena kekesalan yang menumpuk di dada yang seakan naik ke kepala. Ia ingin mengeluarkan emosinya. Ia ingin mengungkapkan kemarahannya. Ia ingin terbebas dari perasaan yang menyesakkan dada itu. Ia ingin bernapas lega.
Ah, dulu, di saat seperti ini, sang bunda akan duduk di sampingnya dan mengelus punggungnya. Ibunya akan meletakkan wajahnya di leher sang wanita lalu menyisir helaian cepaknya yang berwarna sama dengannya, dan membisikkan kata-kata yang menenangkan. Sang bunda juga akan membuatkannya segelas coklat hangat setelah dirasa dirinya cukup tenang. Lalu memeluknya sambil tersenyum seakan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Ia menginginkannya. Ia merindukannya. Ia ingin merasakan keberadaan ibunda tersayang. Ia ingin dibelai lembut olehnya sekali lagi. Sayangnya, hal itu tak mungkin terwujud karena sang bunda telah tiada. Wanita itu telah pergi selama-lamanya. Wanita yang paling disayanginya itu telah pergi dan takkan pernah kembali lagi untuk kedua kalinya.
"Nii… 'num?"
Ibunda tersayang tak lagi ada. Jiwanya telah pergi setelah mengantarkan nyawa baru melalui rahimnya. Wanita tercantik di matanya itu telah meninggal dunia setelah melahirkan adik bungsunya.
"'Num?"
Adik yang kini menyodorkan segelas air padanya.
Kurama menatap gelas yang digenggam jemari mungil di hadapannya sebelum beralih ke langit biru yang mirip dengan sang ayah yang berada jauh di luar negeri. Mendapati warna yang sama dengan ayah yang sempat menelantarkan sang bunda membuat kekesalan Kurama semakin memuncak. Lalu kenyataan menyakitkan di mana sang bunda meninggal dunia setelah melahirkan anak kecil di hadapannya itu, ia sungguh tak mampu menahan emosinya lagi.
Kurama menepis tangan yang menggenggam gelas tersebut sehingga wadah kaca itu terlempar ke sisi ruangan lalu pecah membentur lantai. Ia menatap tajam bocah yang terkejut itu sebelum mengatakan hal yang tak sepantasnya diucapkan.
"Semua gara-gara kau! Kalau saja ibu memilih untuk menggugurkanmu, ibu tidak akan meninggal! Kalau saja kau tidak muncul di rahim ibu, ibu pasti masih ada bersamaku saat ini! Semua gara-gara kau! Semua salahmu! Kau yang membunuh ibuku! SEMUA SALAHMU!"
Kata-kata kemarahan dan kesedihan terlontar untuk seorang anak kecil yang belum sampai di tahunnya yang ketiga. Kata-kata yang menyakitkan tertuju pada anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Anak yang merupakan adik bungsunya. Namun, kewarasan remaja tanggung itu masih tertutupi kekesalan yang semakin memicu amarah sehingga kata-kata kejamnya tak berhenti sampai di sana.
"Kenapa harus ibuku yang mati? Kenapa bukan kau saja yang mati?! Semua salahmu! Kembalikan ibuku! KEMBALIKAN IBUKU!"
Aah, sungguh tak berperasaan. Sungguh tak pantas kalimat yang keluar dari mulutnya. Sebagai seorang kakak, sungguh tak pantas kata-kata itu keluar untuk adik bungsunya sendiri. Seandainya kemarahan tak menutupi logika warasnya, tentu ia takkan mengucapkan hal menyakitkan itu. Namun, perasaan dan lelah menguasainya lebih cepat dibandingkan logika. Tak ada yang mampu menarik perkataannya.
Suasana pun menjadi hening, hanya desahan napas yang terengah menguasai keadaan. Kurama masih menatap tajam anak yang berbalik melihatnya dengan tatapan takut. Seakan dinding tak kasat mata di depannya menolak menggambarkan sosok sang adik yang berwajah pucat dan ingin menangis, ia masih bersitegang dengan kekesalannya. Barulah ketika sayup-sayup ia mendengar lirihan maaf yang terpatah, kesadarannya kembali.
"Hal pertama yang kuajari pada Naru adalah bagaimana memberi salam, berterima kasih, dan meminta maaf. Dan saat itu, ia meminta maaf padaku meskipun ia tidak salah apa-apa."
"'men… Nalu 'men… Nii, Nalu 'men…!"
Kata yang masih terpatah, terbatas hanya beberapa yang pernah diajarkan dan didengar, terlontar dengan gemetar dari mulut Naruto yang kala itu masih berusia dua tahun lebih. Meskipun begitu, anak itu sadar bahwa kakaknya marah kepadanya. Ia pun meminta maaf seperti yang pernah diajarkan sang kakak. Ia tak ingin sang kakak marah padanya. Ia tak ingin sang kakak tidak bicara dengannya karena yang ia dengar dan pahami seperti itu. Tidak ada yang mau bicara dengan orang yang berbuat salah lalu tidak meminta maaf. Ia tidak mau seperti itu.
"Nii… 'omen… Nalu 'omen… Nii 'lah? Nalu 'omen! Nii 'ngan 'lah!"
Nii jangan marah. Naru minta maaf. Itulah yang diucapkan si bungsu yang mulai meneteskan airmata. Tampak anak itu ingin meraih sang kakak yang masih menatapnya—kini dengan mata membelalak lebar—namun tertahan oleh rasa takut dimarahi lagi. Gemetar yang tadi hanya terdengar pun mulai terlihat menguasai tubuh kecilnya. Dan napas yang mulai menderu.
"Itulah pertama kalinya aku mendapati Naru menahan isak tangis yang menyesakkan. Masih teringat betapa tubuh itu berusaha menahan sakit dari hati yang terluka dan jantung yang tertusuk oleh perkataanku yang tak bertanggungjawab. Dan aku mulai mengutuk diriku ini. Kenapa aku kelepasan seperti itu? Kenapa aku tak bisa menahan amarahku? Kenapa aku tak bisa bersabar dan mengolah permasalahan dengan kepala dingin? Apakah aku benar-benar berpikiran seperti itu? Apakah aku benar-benar menyalahkan Naru atas kepergian ibu? Semua pertanyaan bergejolak dalam kepalaku. Kalau boleh kuberkata, hingga sekarang pun aku tak mengetahui jawabannya."
Itachi menatap Kurama dengan ekspresi tak percaya. Namun, ekspresi itu memudar tergantikan oleh ekspresi sendu yang mencoba mengerti alasan di balik perbuatannya. "Di saat lelah dan kesal, segala hal dapat terjadi. Kata-kata yang menyakitkan pun dapat terucap dengan mudah dan kita tak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja, perkataan dan perbuatan bisa saja berbeda. Mungkin di satu sisi, kau memang telah menyakiti Naruto-kun, tapi di sisi lain kau telah membuktikan bahwa kau sangat menyayanginya. Benar 'kan, Kurama-san?" ujar Itachi.
Pria berambut merah tersebut tersenyum pahit. "Tapi aku tak memikirkannya saat itu. Aku hanya ingin terbebas dari tanggung jawab yang tak kuinginkan. Aku ingin melampiaskan kemarahanku padanya," Kurama mengepalkan tangannya dengan kuat, "Ketika oyaji mengajak Naru tinggal di Los Angeles pun sebenarnya aku merasa sangat setuju karena aku ingin terbebas darinya. 'Ah, akhirnya aku bisa lepas,' itulah yang kupikirkan…" Ia menundukkan kepalanya dalam penyesalan.
"I'm the worst."
Tiada apapun yang sempurna, barang maupun manusia. Itachi mengerti hal itu. Ia memahami bahwa pria di hadapannya pun demikian. Goresan luka senantiasa mewarnai apapun yang saling bersinggungan. Karena itulah, sesuatu dapat dianggap berharga. Karena itulah, sesuatu dianggap bernilai. Karena itulah, lelaki yang menyesali perbuatannya di masa lalu itu menjadi seseorang yang sangat disayanginya. Lelaki itu menjadi bagian hidupnya yang teramat penting terlebih setelah mendengar pengakuan gelap seperti tadi.
'Ia memberiku pilihan setelah mengungkapkan sisi buruknya. Bagaimana bisa aku tak mendukungnya?' batin Itachi. "Terima kasih telah menceritakannya, Kurama-san," ucapnya kemudian. Ia tak menyangka bahwa pembicaraan mereka akan berpendar ke arah yang lebih kompleks. Namun, ia tak menyesalinya. Ia justru mensyukurinya karena dengan demikian ia mengetahui betapa berharga dirinya bagi sang Namikaze-Uzumaki sulung itu. Ya. Ia mempercayainya.
Sementara itu, Kurama yang telah menyatakan keburukan dalam hatinya merasa lega. Bukan karena Itachi bersimpati padanya melainkan karena pemuda itu mau mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi. Itachi telah bersedia mendengarnya sampai akhir dari sudut pandang pihak yang tak memihak, dan hal tersebut membuatnya sangat lega. Perasaan yang lama mendekam dalam hatinya pun semakin bertambah kuat dan ia tak yakin bisa memupuskannya sebagaimana yang ia tekadkan jika Itachi menolaknya lagi. Ia terlalu mencintainya untuk melakukan hal itu.
Seulas senyum merekah di bibir Kurama setelah tatapannya kembali bertaut dengan oniks Itachi. Tidak seperti lima tahun lalu di mana ia hanya mengajaknya berputar, kali ini ia akan mengatakannya langsung.
"Aku mencintaimu, Itachi."
Bagai melepas panah yang membidik target tepat pada sasaran, Itachi mampu merasakan desiran hatinya. Kehangatan yang kerap dirasakan ketika melepas anak panah yang diyakini menembus tepat di tengah membuat hatinya bergetar dalam keinginan untuk mendekapnya dan menjadikan hal tersebut sebagai miliknya sendiri. Tidak bisa. Ia tidak bisa memungkirinya lagi. Ia menginginkannya. Ia sangat menginginkannya. Ia ingin merengkuh pria itu dan membuat dirinya nomor satu dalam pikirannya. Tidak peduli apa kata orang; meskipun harus mengingkari sumpahnya, ia ingin bersamanya.
"There's no turning back, Kurama-san. I'm possessive, and I don't share," Itachi menjawab lugas, menyampaikan makna hatinya.
Kurama tertawa kecil menanggapinya. "We'll get along just fine then." Lalu tawa itu mengukir seringai yang mendukung hasrat yang berkilat di mata hazelnya. "Perhaps more than fine."
Debaran keras menggema di jantung Itachi. Dan ia takkan menyembunyikannya lagi.
-.-.-TBC-.-.-
Yosh! Kyou bisa update lebih cepat kali ini! Tentang KuraIta, inilah jawabannya tapi Kyou mungkin ndak akan ngasih act of affection banyak karena poin utama cerita ini tetap family. Scene selanjutnya mungkin udah berganti tahun tapi Kyou belum bisa mastiin berapa umur mereka. Ada saran mau berapa tahun terlewati? Silakeun ripiu~ no plem y~
_KIONKITCHEE_
