Lil Hands scene 13: After Time Capsule
Author: Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Kishimoto Masashi
Pairings: Naruto & Sasuke, KuraIta
Summary: Lima tahun setelah perpisahan mereka yang kedua. Kini Sasuke dan Naruto telah berusia 15 tahun. Tibalah saat janji masa kecil untuk dipenuhi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Kau keliatan senang, 'Chiha. Kenapa?" tanya Kiba di suatu pagi saat remaja itu berpapasan dengan Sasuke. Teman tersebut sebenarnya tetap terlihat stoik seperti biasanya tetapi Kiba dapat melihat kilatan yang lain di matanya. Setidaknya ia dapat menyadari hal itu dikarenakan sudah kenal lama. Dan dibandingkan teman lain, Kiba memang yang paling dekat dengan teman sekelasnya semenjak TK itu. Bukannya bangga tapi ia memang sedikit bangga dengan posisinya saat ini. Kalau bertanya apa maksudnya, Kiba sendiri tidak begitu paham dengan apa yang ia pikirkan. Yang pasti ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada mood sang Uchiha.
Teman yang bersangkutan, Sasuke, hanya meliriknya sekilas sebelum menyeringai. Ia tak menjawab pertanyaan itu melainkan langsung pergi meninggalkannya. Ia merasa tak perlu menjawabnya karena apa yang dirasakannya itu cukup ia sendiri yang mengetahuinya. Hanya ia tak menyangka bahwa remaja berambut coklat gelap itu ternyata memahaminya dengan baik.
"Pasti ada hubungannya dengan Naruto, 'kan?" tebak Kiba sambil memimik seringainya. "Kau bakal bertemu dengannya dalam waktu dekat ini?" tanyanya lagi. Sasuke hanya menggeleng dan melambaikan tangan sambil berlalu, membuat sang Inuzuka semakin merasa yakin akan dugaannya.
Bertemu? Kalau hanya sekedar itu, Sasuke takkan segirang ini.
'We'll meet soon, 'Suke! This time... this time for sure!'
Ya. Mereka tidak akan hanya sekedar bertemu.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Kepada seluruh murid Taman Kanak-kanak Konoha periode xx-xx,
Kami mengundang Anda untuk membuka Kapsul Waktu yang ditanam di pekarangan TK Konoha. Acara akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal xx bulan xx tahun xxxx, pukul 09.00 pagi usai upacara pembukaan tahun ajaran baru yang dimulai pada pukul 08.00 waktu setempat. Kami menunggu kedatangan Anda dengan senang hati.
Salam,
Dewan Guru periode xx-xx.
"Kalau tidak salah malam ini Naruto-kun akan tiba di bandara Konoha untuk menghadiri pembukaan kapsul waktu, benar?" tanya Itachi pada Kurama yang duduk di sebelahnya.
"Ya. Ujiannya di LA sudah selesai, hanya tinggal ulangan susulan dan persiapan pengambilan laporan pendidikan. Setelah itu, dia libur sampai masuk ke SMA nanti," jawab Kurama. "Yang jadi pertanyaan, aku sama sekali tidak tahu dia akan melanjutkan ke sekolah mana meskipun waktu itu aku mendengarnya ingin kembali ke Konoha," tambahnya.
Itachi tersenyum simpul. "Bukannya itu sudah jelas?"
Kurama membalas senyumnya. "Ya, memang sudah jelas tapi tetap saja aku penasaran. Lagipula, walaupun Naru pulang malam ini, dia bilang tidak mau bertemu Sasuke karena belum lulus secara resmi," jelasnya yang malah membuat sang Uchiha bingung.
"Kenapa? Tadi pagi kulihat Sasuke tampak senang. Apa alasannya?" heran Itachi.
Kurama menggelengkan kepala. "Naru sudah pandai bermain rahasia sekarang," ucapnya sedikit tidak suka. Pemuda berambut panjang di sebelahnya malah tertawa kecil.
"Itu karma, Kurama-san. Mungkin karena kau merahasiakan hubungan kita darinya, not to mention that we're on a date too," ujarnya.
Yup. Kurama dan Itachi sedang berkencan saat ini ke akuarium Mizu yang lumayan jauh dari kota Konoha. Mereka menikmati waktu libur berdua di Jumat ceria setelah berkutat dengan pekerjaan yang belakangan ini terasa lebih rumit dari biasanya. Hubungan mereka yang sudah berjalan lima tahun memang masih menjadi urusan pribadi sehingga tidak satupun anggota keluarga mereka yang tahu. Yah, meskipun rasanya Sasuke dan Deidara sudah paham dengan situasi mereka.
"Aku tidak bermaksud merahasiakan hubungan ini tapi aku bukan tipe yang mengumbar hubunganku dengan siapapun. Kau mengerti, 'kan?" ujar Kurama kemudian. Ia meraih tangan Itachi dan menautkan jemari mereka. "Setidaknya kalau ada yang menanyakan nama hubungan kita aku pasti akan menjawab dengan jujur kalau kau tidak keberatan," tambahnya sambil menatap lurus kekasihnya itu.
Itachi, sedikit terkejut dengan tindakan berani lelaki itu di tempat umum-mengingat bahwa mereka sedang duduk di tengah keramaian yang berpusat pada pertunjukkan lumba-lumba dan bahwa Kurama sedikit tidak mendukung public display of affection, balas menatap lurus bola hazel itu. Ia paham dengan sifat sulung Namikaze-Uzumaki tersebut. Ia mengerti bahwa lelaki itu lebih mengutamakan tindakan ketimbang kata-kata. Terlebih, Kurama pun sangat personal untuk hal yang penting baginya. Jika menurutnya sesuatu itu tidak harus diberitahukan, maka ia akan menyimpan dan menghargainya cukup di dalam hati saja.
"Aku tidak keberatan."
Meskipun seluruh dunia menatap ganjil, Itachi takkan keberatan sama sekali.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Bandara Konoha tampak ramai dengan orang-orang yang baru saja tiba dari luar negeri. Ada yang mengantri untuk mengambil barang, ada yang langsung menyewa mobil, ada yang meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak, ada yang membeli makanan karena kelaparan, ada pula yang langsung menelepon keluarganya seperti yang dilakukan oleh orang ini.
Seorang remaja berambut pirang pendek dengan surai liar yang sudah menyelesaikan administrasi kedatangan luar negeri terlihat berdiri di depan salon telepon. Ia letakkan barang-barang di dekat kaki lalu menekan nomor telepon yang sudah dihapalnya sejak dulu. Ia pun menunggu jawaban dari seberang.
"Dengan keluarga Uchiha. Siapa ini?" Suara asisten kepala keluarga tersebut bertanya.
"Kakashi-san ya? Boleh sambungkan dengan Sasuke? Saya Naruto," balas remaja tersebut.
"Oh, Naruto! Apa kabar? Tunggu sebentar, akan kusambungkan sekarang."
"Saya sehat, terima kasih. Okay!" Naruto merekahkan senyum kecil di wajahnya yang terlihat lelah meskipun tidak terlihat oleh pria itu.
"Naruto?"
Seketika wajah lelahnya langsung berubah sumringah saat mendengar suara sahabatnya itu. "Sasuke, saya sudah tiba di Konoha!" Dan terdengar decakan sebal dari jaringan seberang. "'Suke?"
"Sudah kubilang jangan bicara formal denganku! Jadi merinding ini!"
"'Suke nyebelin! Aku 'kan berusaha sopan! Belajar keigo itu susah tau!" protes Naruto.
"Better," gumam Sasuke saat mendengar sahabatnya menggunakan kata-kata biasa, terutama peralihan kata 'saya' dengan 'aku' yang sudah digunakannya tiga tahun lalu sebagai ganti sebutan namanya sendiri. Yah, Naruto tidak akan berinisiatif mengubah panggilan untuk dirinya sendiri kalau bukan karena Bahasa Jepang Keigo yang dipelajarinya. Sasuke tidak akan berkomentar apa-apa tentang keinginan remaja itu mempelajari keigo, hanya ia terkadang rindu mendengar Naruto memanggil dirinya sendiri dengan 'Naru'. "Jadi kau sudah sampai?" tanyanya memastikan.
"'Suke nggak dengar atau nggak percaya?" ledek Naruto.
"Dobe."
"Teme~"
"Oi, penggunaan kata 'teme' itu bukan untuk memanggil orang dengan nada riang, Dobe! Lagipula dari mana kau mengetahui kata nggak sopan itu?!"
Naruto menjulurkan lidah dengan cuek walaupun tak terlihat oleh Sasuke. "Tapi 'kan aku manggil 'Suke dengan sebutan 'teme' bukan karena mau menghina! Anggap aja panggilan sayang buat 'Suke kayak panggilan 'dobe' yang 'Suke suka bilang padaku!" jelasnya.
"Hn. Somebody loves me~" balas Sasuke, meledek.
"I do love you, 'Suke~" Naruto tak terpengaruh malah mengiyakan dengan nada ceria. Ia memang terbiasa berkata jujur setelah pindah ke LA-bahkan lebih jujur ketimbang pertama kali mereka bertemu di TK dulu.
Dan terkadang membuat jantung sang Uchiha seakan melompat keluar.
'Damn that Dobe!' batin Sasuke menggerutu sambil menyentuh dadanya yang berlapis kaos putih. Terasa debaran jantungnya bagai ingin meledak. Ia bersyukur Naruto tak bisa melihat kondisinya secara kasat mata.
"Besok 'Suke datang ke TK?" tanya sang Uzumaki.
Sasuke menghela napas panjang dengan pelan pertanda lega karena sahabatnya tak memperpanjang pembicaraan sensitif itu. "Tergantung. Kau mau datang juga, 'kan?"
"Iya, makanya aku datang ke Konoha," jawab Naruto.
"Bagaimana dengan tekadmu? Kau sudah menerima nilai ujian akhir?"
Kali ini ganti Naruto yang menghela napas panjang yang cukup terdengar. "Ujiannya sih sudah selesai tadi tapi hasil akhirnya masih seminggu lagi-tapi aku yakin dapat nilai bagus kok!" jelasnya meyakinkan.
"I won't judge you, 'kay? So, don't fret," sahut Sasuke. "Pertanyaannya adalah apa kau mau bertemu denganku?"
Sebuah pertanyaan dengan jawaban pasti yang masih terhalang oleh tekad yang diikrarkan lima tahun lalu. Naruto menyadari hal itu. Ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak bertemu wajah dengan Sasuke sampai mendapatkan hasil terbaik dari sekolahnya dan hingga ia merasa sudah berkembang ke arah yang diinginkannya. Ia pun memberi tahu sang sahabat agar mendukungnya dengan menunda komunikasi melalui media apapun yang dapat memperlihatkan wajah mereka. Jadilah mereka berhubungan selama ini melalui email-tanpa foto-dan telepon. Cara demikian sudah berlangsung selama lima tahun. Naruto masih mempertahankan tekadnya dan Sasuke masih mendukungnya. Ia senang karena sahabat tersayangnya itu mau mendengarkan permintaan egoisnya. Dan untuk pertanyaan retorika itu...
"Will you wait a little bit more? I promise as soon as I-"
"Naruto, it's okay," potong Sasuke dari jaringan seberang. "Aku paham sifatmu, kau paham sifatku. Menunggu sebentar lagi setelah selama ini bukan hal yang berat bagiku," jelasnya kemudian.
"Sasuke..." Naruto merasa sangat terharu. Ia yang biasa menunggu kini dinanti oleh orang yang disayanginya.
"Just promise me that whichever your result is, we're gonna meet for real afterwards. Soon."
"Even though my score is ba-"
"Immediately afterwards. No more excuse!"
"Sasuke-"
"I need to fulfill my promise, too!"
Naruto tampak berpikir mendengar penjelasan sang Uchiha. 'Janji? Ah!"
"We're gonna live together, remember?"
"Yes yes yes! I remember!" Remaja berambut pirang itu nyaris melonjak kegirangan di depan salon telepon. Ia tak menduga bahwa sang Uchiha akan menjadikan janji itu sebagai janjinya sendiri. Ia pikir mereka akan membicarakannya bersama setelah kelulusan nanti.
"Aku sudah menemukan tempat strategis untuk kita. Dua kamar tidur dengan kamar mandi di dalam, dapur sekaligus ruang makan yang tersambung dengan ruang santai, balkon di tiap kamar, lalu ruang kecil untuk laundri dan gudang. Letaknya di lantai 10 Apartemen Hi yang tidak jauh dari stasiun kereta api dan halte bus, sudah dibayar DPnya, tinggal biaya sewa perbulan yang terjangkau. Kita bisa langsung huni awal April nanti," jelas Sasuke.
"If I were there with you now I'm sure I'd glomp you right away!" seru Naruto.
"Won't complain," sahut Sasuke terdengar sambil menyeringai. "Jadi, besok kau saja yang datang ke TK. Karena aku yang dulu mengubur kapsul waktu, kali ini kau yang membukanya. Kapsul kita satu karena aku memintanya demikian. Finally, you'll see. Just don't cry, okay?"
"He? Cry?"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Naruto berusaha untuk tidak menangis. Ia berusaha keras untuk tak mengeluarkan airmata. Ketika bertemu dengan teman-teman lamanya, ia menunjukkan wajah ceria. Saat pulang ke rumah tadi pun ia berwajah gembira. Saat bercengkerama sebelum proses penggalian kapsul waktu pun ia tertawa riang. Kini, setelah menerima kapsul berbentuk kantong kertas coklat usang yang berisikan benda yang dikuburkan Sasuke sepuluh tahun lalu dan membukanya, Naruto mendapati dirinya tak mampu berkata apa-apa. Ia pun merasakan bendungan airmatanya perlahan meluap tapi mati-matian berusaha ditahannya.
"Hei, Naruto! Apa yang dikuburkan 'Chiha?" tanya Kiba yang tiba-tiba muncul merangkul pundak sang Namikaze-Uzumaki dengan akrab. Remaja berambut coklat itu melihat isi kapsul yang dipegang Naruto lalu bersiul. "Nggak heran kalau mengingat seberapa sering dia memikirkanmu-yang artinya 'selalu setiap saat' sampai membuatku mengira kau adalah pacarnya dulu." Ia menepuk bahu remaja yang masih terdiam itu lalu pergi kembali ke teman lain.
Ah, mendengar Kiba berkata demikian, Naruto tak mampu lagi menahan bendungan embunnya. Aliran itu kini menghiasi pipi bergarisnya. Bola birunya menatap lekat dua benda dalam genggamannya. Retinanya membaca ulang secarik kertas yang menguning dan bertuliskan:
for naruto in future,
i hope your happiness always
-uchiha sasuke
dan sebuah photo frame buatan tangan yang dihadiahkan Naruto untuk Sasuke di ulang tahunnya yang kelima, yang di dalamnya ada gambar stickman dua orang dengan rambut biru gelap dan kuning sedang bergandengan tangan.
Selama sepuluh tahun dua hal tersebut terkubur dalam keheningan dan ketika muncul di permukaan menguak perasaan yang terpendam. Hadiah dari seorang anak yang ingin membuat sahabatnya bahagia, lalu setelah merasa bahagia sahabatnya itu balas membuat anak itu bahagia. Tak mampu berkata apa-apa. Tak mampu bersuara. Hanya meresapi kebahagiaan tersebut dalam diam dengan embun yang masih menghiasi pipi bergarisnya.
Ingin bertemu. Ingin memeluk. Ingin menghujani wajah putih itu dengan kecupan sayang. Namun, tekad dan janji pada diri sendiri masih harus dipenuhi. Sebentar lagi... hanya tinggal sedikit lagi sampai bisa melakukannya. Biarkan ego dalam dirinya bertahta sejenak karena setelah itu ia akan kembali padanya. Karena setelah itu ia akan mengikuti permintaannya. Karena setelah itu ia dan dirinya akan bebas bersama meskipun halangan tak lenyap menghadang.
Sungguhpun demikian, keinginan dalam hati sangat kuat dan dapat menggoyahkan segalanya.
Done?
Sebuah pesan masuk dalam ponsel Naruto. Membaca pesan dari sahabat yang selalu dipikirkannya, remaja berambut pirang itu membalas: How to meet you without seeing you?
Tak lama, pesan diterima.
Come to our apartment. I'll put your key inside a locker then we can meet without seeing each other.
Tanpa membuang waktu lagi, Naruto menghapus jejak airmatanya dan meletakkan harta karunnya itu di dalam tas lalu bergegas menghampiri kakak yang menungguinya di bangku piknik yang berada di halaman sekolah.
"Kura-nii, kalau mau ke Apartment Hi naik apa?" tanyanya.
Kurama meletakkan gelas jusnya di meja. "Aku bisa mengantarkanmu, Naru, tapi untuk apa ke sana?" bingungnya.
"Aku mau bertemu dengan Sasuke!"
Kurama semakin bingung. "... Di sana? Kenapa Sasuke bisa ada di sana?"
"Nii mau antar atau memberi tahu akses ke sana?" tanya Naruto lugas. Ia takkan menunggu lebih lama dengan meladeni pertanyaan itu.
Ia sudah berhenti menunggu. Meskipun tidak sepenuhnya, yang jelas ia akan melakukan hal yang ia bisa semampunya tanpa menunggu bantuan orang lain.
Kurama menyadari hal tersebut semenjak adiknya berusia 13 tahun. Memasuki masa SMP membuat anak itu lebih percaya diri untuk melakukan segalanya seorang diri. Memang masih dalam batas kewajaran tapi Kurama merasa bahwa sang adik telah berkembang secara mandiri dengan terlalu cepat hingga seolah tak membutuhkannya lagi. Naruto sering bertindak sendiri setelah mengeksekusi sebab-akibat dari perbuatannya-yang memang tidak pernah di luar batas kecuali dulu saat berumur lima tahun yang dengan polosnya mengunjungi Deidara di apartemennya yang berjarak lumayan jauh dari rumah. Naruto seakan tak memikirkan perasaan kakak yang selalu mencemaskannya-terlalu egois sebetulnya jika dikatakan seperti itu. Mungkin yang benar adalah Naruto seakan lupa cara meminta dan menerima pertolongan.
Ya. Naruto sering bertindak seorang diri seolah berpikir bahwa ia harus mampu melakukan segalanya sendirian.
Dan ia memang berpikiran demikian.
"Aku bisa mencari tahu sendiri jika Nii memang tidak tahu," kata Naruto membuyarkan gemelut sang kakak.
Kurama langsung menggelengkan kepala. "Aku akan mengantarmu," putusnya cepat. Lalu mereka menuju tempatnya memarkir mobil.
Mungkin perasaan ragu dalam meminta pertolongan memang sudah bercokol dalam otaknya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Apartemen Hi adalah tempat tinggal yang cukup bagus untuk dihuni. Dengan harga terjangkau dan fasilitas memadai meskipun gedungnya tidak besar, apartemen tersebut banyak diminati orang terutama yang masih berstatus mahasiswa. Pelayanannya cukup memuaskan dengan akses mudah ke berbagai tempat; bisa dengan bus maupun kereta. Pemiliknya pun baik hati dan pengertian walaupun tetap tegas dalam mengambil keputusan. Persyaratan menyewa kamar pun tidak sulit, cukup dengan identitas diri yang jelas, alamat rumah asal, slip gaji atau bukti dapat membayar sewa, dan pengisian formulir. Ketika semua persyaratan terpenuhi, maka kunci ruangan sudah dapat diambil. Banyak mahasiswa yang menyewa kamar di sana.
Lantas, kenapa anak yang baru mau lulus SMP bisa menyewa kamar?
Kurama menaikkan sebelah alis dengan rasa heran tingkat tinggi. Ia sedang berdiri di depan deretan loker yang tepat di hadapannya bertuliskan Uchiha Sasuke. Sepengetahuannya, usia Sasuke sama dengan usia adik bungsunya yang kini membuka penutup loker dan mengambil sesuatu dari sana. Yah, sungguhpun lebih tua hanya berbeda tiga bulan. Kalau memang usianya masih 15 tahun, kenapa namanya ada di salah satu properti apartemen?
"Nii, aku ke lantai 10 ya. Sasuke menunggu di sana," ujar Naruto yang langsung pergi tanpa menunggu reaksi sang kakak. Ia menaiki elevator yang terbuka di dekat belokan menuju bagian dalam gedung... meninggalkan Kurama sendirian.
Ah, inikah perasaan seseorang yang ditinggal pergi? Kenapa baru sekarang ia menyadarinya? Kurama membatin. Ia terlalu sering berada di posisi yang meninggalkan. Apakah perasaan ditinggalkan selalu menyesakkan seperti ini? Padahal Naruto hanya menemui Sasuke di lantai atas, kenapa rasanya bagai pergi meninggalkannya tanpa niatan kembali? Sewaktu Deidara pindah rumah ia tak merasa demikian. Kenapa dengan si bungsu begitu?
Kurama, kau memang terlalu overprotektif... batin Kurama sambil menghela napas panjang.
Sementara itu, Naruto baru saja keluar dari elevator di lantai 10. Ia bergegas menuju kamar nomor 23 dan dapat menemukannya dengan mudah. Ia dekatkan kunci ke sensor di bawah kenop pintu lalu terdengar suara sesuatu terbuka.
"You're earlier than I expected, Dobe."
Suara familiar yang dirindukan terdengar dari balik pintu, membuat sang Namikaze-Uzumaki menahan napasnya sejenak.
"'Suke?"
"The one and only."
Betapa Naruto ingin langsung menerjang sahabatnya itu dan memeluknya erat, melepas rindu yang selama ini menumpuk di dada. Sayangnya, janji yang ingin ia penuhi masih belum selesai sehingga membuatnya mati-matian menahan diri. Sedemikian menahan dirinya hingga gemetar terasa pada jemari yang perlahan menyentuh kenop pintu. Bola birunya menyipit dalam gemelut perasaan yang membuncah dan siap meledak. Ingin membiarkannya tapi juga ingin mempertahankannya.
"'Suke..." lirih Naruto sambil menyandarkan keningnya ke daun pintu.
Betapapun dekat mereka berada tetapi masih terasa jauh.
"Hn... Dobe."
Naruto mendengus geli, "Teme~"
"Bagaimana kapsul waktunya?" tanya Sasuke dari balik pintu.
"Sorry, I did cry-for God sake why didn't I?" Naruto mengakui pada sahabatnya itu bahwa ia menangis tadi. Karena bagaimana mungkin tidak? Ia sudah menerima doa kebahagiaan dari Sasuke sejak mereka masih kecil dulu padahal dirinya merasa tidak memberikan apa-apa yang memungkinkannya menerima hal berarti seperti itu. Padahal selama ini selalu dirinya yang banyak menerima dari sang Uchiha. Selama ini selalu dirinya yang ditolong dan dibantu. Apa yang telah dilakukannya sehingga Sasuke begitu memperhatikannya?
"Hn. Berarti aku yang menang taruhan tanpa kata ini, 'kan?" tukas remaja yang masih bertahan di balik pintu.
Naruto tertawa kecil. "Yeah. 'Suke mau apa?"
Pintu dibuka sedikit lalu tangan kiri sang Uchiha meraih tangan kanan sang Namikaze-Uzumaki yang masih memegang kenop. "Close your eyes, lean on the door, and imagine we touch forehead together," instruksinya. Ia pun menautkan jemari mereka dan menggamitnya erat. "Let us be like this for a moment. That's my wish."
Naruto menggangguk lalu melakukan apa yang dikatakan sahabatnya. Ia sandarkan dahinya ke daun pintu sekali lagi lalu membayangkan sedang beradu dahi dengan Sasuke. Ia pun balas menggamit erat jemari yang membungkusnya terlebih dahulu, membagi rasa gemetar karena rindu yang juga dirasakan sang Uchiha.
"Setelah ini, tidak ada lagi menunggu," ucap Sasuke, "I wanna see you directly."
Naruto mengetukkan dahinya ke pintu, menyetujui. "I promise."
Karena mereka membutuhkan satu sama lain. Karena mereka saling melengkapi. Karena mereka ingin selalu bersama di kemudian hari.
"'Suke,"
"Hn?"
"I miss you."
"... Miss you, too."
Karena mereka saling menyayangi.
-.-.-TBC-.-.-
Well, update~ Akhirnya mereka memasuki masa remaja~ meskipun belum bertemu muka, mereka sudah berencana untuk tinggal bersama. Apakah rencana mereka akan berhasil? Ataukah akan ada halangan dari pihak lain? Nantikan scene berikutnya ya~
Dan selamat kepada Aristy-san yang menebak isi kapsul waktu mendekati jawaban yang benar. Gift-fic-nya ditunggu ya~
Ripiu? No need for flame~
_KIONKITCHEE_
