Lil Hands scene 14: Stay Together

By Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Pairings: Naruto & Sasuke, KuraIta

Warnings: Shounen-Ai, bromance, yaoi, flangst, cheesy lines, OOC OOC OOC, typo(s). Don't like don't read!

Summary: Mereka mempertahankan janji meski badai tak kunjung henti.

A/N: Kyou nggak memprioritaskan SasuNaru ataupun NaruSasu. Bagi Kyou, selama mereka bersama apapun sebutannya nggak masalah. Keduanya adalah lelaki tampan meskipun terkadang memang terjabar indah. Dan cerita ini bukan mpreg dan tidak akan ada mpreg karena situasinya berdasarkan kenyataan. Tolong dipahami.

Sore dewa, otanoshimi deeeessuuu~

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sasuke sedang berdiri di depan pintu yang tertutup sambil berkacak pinggang. Ia hentakkan ujung kaki kanannya berulang-ulang dengan tidak sabaran. Wajahnya yang terbiasa miskin emosi kini menekuk dalam kekesalan. Namun, ia masih berusaha menahan rasa tersebut di tingkat bawah agar tak menjadi kemarahan.

Kenapa? Ada apa dengannya?

"Buka pintunya, Dobe."

Ada hubungannya dengan Naruto kah?

"... No."

Sepertinya begitu. Tetapi kenapa?

"Ingat yang kau janjikan setelah menerima laporan pendidikanmu? We meet immediately afterwards!" seru Sasuke.

"... No. Not now, please? I'm sulking... Let me sulk for a moment..." balas Naruto pelan dari dalam kamarnya.

Ya. Sasuke sedang berada di depan kamar Naruto di kediaman Namikaze-Uzumaki dan sahabatnya sedang mendekam di dalamnya. Sekali lagi, kenapa demikian? Bukankah seharusnya mereka sudah bisa bertemu jika nilai Naruto sudah keluar? Apa lagi yang ditunggu?

"Aku tidak peduli jika nilaimu ada yang jelek atau bahkan jelek semua, Dobe!" ujar Sasuke tanpa bermaksud buruk.

"Teme! You cruel!" ambek Naruto dari dalam. "My promise was to be the best! Yet I couldn't fulfil it! I don't have the right to meet you!"

Urat kemarahan sang Uchiha mulai berkedut. "Who said that? Siapa yang bilang kalau nilaimu jelek maka nggak berhak bertemu denganku? Siapa yang berani bilang begitu?!" gusarnya sambil menggebrak pintu dengan keras. Sekali.

"Itu... ng..."

"Kalau ada yang berani bilang begitu, aku nggak akan segan untuk memukulnya!" seru Sasuke lagi.

"... Berarti Sasuke akan... memukulku?"

Lalu sang Uchiha mengerang dalam frustasi. "DOBE! Berarti itu 'kan hanya omonganmu sendiri! Orang lain nggak ada yang bilang begitu!" Ingin rasanya ia menjedukkan kepala ke pintu berkali-kali menanggapi kekonyolan sahabatnya.

Konyol? Naruto yang mengurung diri di kamar karena tidak mampu menepati janjinya terbilang konyol? Bagi Sasuke demikian tapi hal sepele macam itu adalah hal besar bagi sang Namikaze-Uzumaki. Jika hal tersebut tidak penting maka ia tidak akan bertahan selama lima tahun untuk tidak melihat sang Uchiha. Tentu saja Sasuke memahaminya. Akan tetapi, bagaimana dengan perasaan yang tak tertahankan ini? Perasaan ingin segera bertemu langsung lalu merengkuh sahabatnya dalam dekapan erat? Ia sudah bersabar lama dan tak ingin semakin memperpanjangnya setelah mengetahui bahwa kesempatan itu ada di depan mata. Apakah Naruto tak merasakan hal yang sama?

Ah... bukan. Bukan begitu. Alasan sahabatnya berlaku demikian adalah...

"Kuganti pertanyaanku," ucap Sasuke lagi. "Siapa yang ingin kau temui? Siapa yang ingin kau buat senang? Aku atau ayahku?" Ia menunggu sejenak sebelum menambahkan, "Jawabannya sudah jelas, 'kan?"

Masih belum ada balasan dari balik pintu... membuat urat di pelipis sang Uchiha semakin kentara. Ia masih berusaha menekan kekesalannya agar tidak mengeluarkan kata yang tidak semestinya. Ia tidak ingin pertemuan pertamanya dengan Naruto setelah lima tahun diawali pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi. Namun, mendapati sikap sahabatnya yang seperti ini...

"Kalau kau meraih nilai sempurna untuk menyenangkan hati ayah ketika bertemu nanti, jangan lagi kau menemuiku. Kuulangi. Jangan. Pernah. Lagi. Menemuiku. Sela-"

Pintu terbuka begitu cepat. Sasuke tak sempat menegaskan kakinya di lantai saat sosok Naruto menerjangnya dan mereka terjungkal ke belakang. Untunglah Sasuke memakai tas punggung yang berisi pakaian sehingga benturan dengan dinding tidak terasa sakit. Ia pun menghela napas lega karena sahabatnya yang keras kepala itu akhirnya keluar dari kamar.

Tadinya.

Ia merasakan gemetar hebat yang menjalari lengan Naruto yang melingkari pinggangnya lalu dengan cepat menguasai tubuhnya. Getaran itu tak seperti biasa saat Naruto melepas rindu padanya. Gemetar yang ia rasakan seolah takut turut menyelubungi, dan Sasuke tidak menyukainya.

Tidak sama sekali.

"Naruto?"

Pelukan lengan remaja berambut pirang itu menguat di pinggang Sasuke. Wajah kecokelatannya bersembunyi di leher putihnya. Terasa butiran hangat membasahi permukaan tersebut dengan cepat sehingga Sasuke tak mungkin salah menganggap bahwa sahabatnya itu sedang menangis deras dalam diam... membuatnya kembali menghela napas panjang dalam penyesalan.

Kenapa ketika bersidekap setelah sekian lama malah dihiasi dengan tangis dan penyesalan? Bukankah seharusnya mereka berbahagia? Bukankah seharusnya mereka tertawa dalam canda lalu berbagi cerita? Kenapa seperti ini jadinya? Siapa yang salah? Dirinyakah? Narutokah? Keadaankah?

Waktu telah berlalu dua minggu semenjak mereka mengunjungi apartemen yang akan ditinggali. Naruto pun telah lulus, diwisuda dan mendapatkan laporan pendidikannya. Nilai-nilainya bagus dan di atas rata-rata walaupun mata pelajaran Matematika dan Sains memang mendapatkan nilai B. Secara keseluruhan nilainya berada di peringkat sepuluh besar. Namun, bagi Naruto yang berjanji untuk lulus dengan nilai terbaik hal tersebut sangat mengecewakannya. Ia merasa tidak berhasil menepati janjinya sehingga takut membuat impresi buruk terhadap Sasuke dan keluarganya. Ia takut dianggap hanya sesumbar setelah berani berjanji pada ayahnya Sasuke. Ia takut tak diperbolehkan berada di sisi Sasuke karena nilainya bukanlah yang terbaik. Ia takut takkan diakui. Ia takut takkan dianggap. Ia takut takkan disukai. Ia takut dibenci.

Ia takut ditinggalkan seorang diri.

Setelah memutar otak dan memahami maksud Naruto, Sasuke menendang dirinya sendiri dengan kuat dalam pikiran. Seharusnya ia tidak memakai ancaman untuk menariknya keluar. Seharusnya ia menggunakan cara lain yang lebih tepat. Kalau sudah seperti ini, Naruto akan semakin merasa takut ditinggalkan olehnya. Naruto akan semakin minder dan merasa cemas oleh pikiran bahwa kapanpun Sasuke bisa meninggalkannya begitu saja dan tak lagi memedulikannya. Sahabatnya itu akan dipenuhi pemikiran negatif bahwa dirinya hanya diperhatikan selama gunanya masih ada.

Sasuke mengalungkan lengannya pada tubuh Naruto dan mempererat dekapannya. Jemari kanannya merasakan helaian matahari yang sedikit basah oleh keringat dingin sementara jemari kirinya mencengkeram pundak yang gemetar itu.

'Tidak. Jangan berpikiran seperti itu, Naruto! Aku bersamamu bukan karena kau berguna untukku! Aku bersamamu karena memang ingin bersamamu! Aku bersamamu karena pilihanku sendiri yang takkan berubah selamanya! Jangan menarik diri dariku! Jangan pendam perasaan negatif itu dalam dirimu! Kau itu sangat berarti bagiku!'

Betapa Sasuke ingin meneriakkan isi hatinya terdalam pada Naruto yang masih menangis bisu. Betapa ia ingin menghapus segala kecemasan dan ketakutan yang bertahta dalam pikiran sang sahabat. Betapa ia ingin menghancurkan tembok tebal tak kasat mata yang membentengi perasaan positif Naruto sehingga mampu mengalahkan segala emosi negatif yang bermain dengan bebas. Betapa ia-

"... 'rry... I'm s-sorry... Sasuke... I'm so-sorry..."

Damn!

"Okay, stop right there! Sebelum pikiranmu berlanjut negatif, kukatakan satu hal: kau nggak salah. Kau cuma khawatir nggak diperbolehkan bersama denganku. Tadi aku yang salah, seharusnya nggak mengancammu seperti itu. Jadi, jangan minta maaf!" ujar Sasuke berusaha menenangkan.

"... Berarti... 'Suke yang minta maaf?" lirih Naruto di lekuk leher sahabatnya itu.

Mendengus malu, Sasuke membalas. "Yeah yeah... sorry then," ketusnya, membuat Naruto tersenyum kecil lalu mempererat dekapannya. "Dobe?"

"Hn?"

"Don't steal Uchiha's trademark!" Sasuke memutar bola matanya. Ia mendengar sahabatnya itu mengekeh pelan dan diam-diam merasa bersyukur. "Don't cry?" tanyanya.

Tawa kecil terdengar dari remaja berambut pirang yang mengangkat wajah dari leher sang sahabat lalu menghapus air matanya. "Kenapa jadi pertanyaan? Itu permintaan, Teme," ujarnya. Naruto pun menatap wajah sang Uchiha untuk pertama kalinya setelah lima tahun berlalu.

Garis wajah yang tegas dan berkilau putih, diisi oleh sepasang iris oniks yang menembus hingga ke dalam hati, dan hidung mancung yang dilengkapi oleh dua belah bibir dengan sirat kemerahan. Pipi halus ketika jemari kecokelatan menjejak di atasnya, lalu helaian raven yang tebal dan menjuntai indah di kedua sisinya. Bagi Naruto, Sasuke tetap tampan seperti dulu.

Sama halnya dengan sang Namikaze-Uzumaki, remaja bermarga Uchiha itu pun tengah menjelajahi wajah sahabatnya dengan seksama. Kulit kecokelatan yang serasi dengan surai pirang menjuntai berantakan, dilengkapi oleh sepasang iris safir yang berkilau menghangatkan, lalu hidung mancung yang berpasangan dengan dua belah bibir kemerahan. Pipi bergaris tiga bagai kumis kucing yang tertoreh di atasnya tidak menjadikan permukaan cokelat tersebut menjadi kasar ketika disentuh oleh jemari putih miliknya. Naruto tetap sama seperti dulu di mata Sasuke.

Mereka saling menatap, merekam satu sama lain dalam memori. Ingatan yang seolah jauh terpendam oleh waktu lima tahun tak membuat mereka melupakan wajah sahabat yang mengisi keseharian dengan berbagai perasaan. Hanya menambahkan garis kedewasaan yang mulai tampak di masing-masing diri dan perasaan rindu yang lepas dari kurungan hati.

Oniks bertautan begitu lekat dengan safir sebelum memicing dalam pusaran emosi yang meluap keluar. Bendungan embun seakan tak mampu menahan massanya sehingga menggenang di sekeliling malam yang semakin berkaca-kaca.

"I miss you... I really wanna see you..." lirih yang penuh dengan luapan kerinduan yang tak tertahankan terucap dari mulut sang Uchiha yang kini meneteskan sebulir embun dari matanya. Ia tak mampu lagi menekan perasaan dan memilih untuk membebaskannya sebelum hancur dalam kesepian yang selama ini menghantui batinnya. Ya. Meskipun tampak baik-baik saja, Sasuke sebenarnya merasa kesepian karena matahari miliknya tak ingin memperlihatkan diri. Hari-hari yang ia jalani tanpa mentari yang senantiasa menghangatkan jiwanya terasa hampa meskipun tak jua ia perlihatkan di hadapan siapapun. Baru saat inilah ia berani menunjukkannya karena ia tahu betapa Naruto juga sangat ingin bertemu dengannya... terbukti dari tetesan embun yang kembali mengaliri pipi bergarisnya.

Naruto terkejut mendapati sosok sahabatnya yang selalu tampak kuat dan acuh tak acuh kini beruraikan air mata. Ia mengetahui betapa rasa rindunya berbalas dengan intensitas yang sama. Akan tetapi melihat emosi yang terpancar dari oniks penuh luka yang selama ini mendiami safir miliknya sendiri, ia menyadari bahwa hampir saja dirinya menambah luka tersebut dengan keegoisannya. Ia merasa bersalah. Ia merasa telah menyakiti orang yang paling berarti baginya.

"'Suke... I'm sorry... Don't cry, please? I'm sorry..." Naruto menghapus embun yang masih mengaliri pipi sang Uchiha, tak menyadari derasnya aliran yang sama membasahi pipinya sendiri.

"I said don't apologize, Idiot!" desis Sasuke. "I don't wanna hear that!" Ia menyentuhkan keningnya ke kening Naruto. "I wanna hear something else..." Ia tidak melepaskan tautan oniksnya dari safir sedetikpun. Jemarinya menangkup pipi yang basah oleh air mata dan menghapus jejaknya.

Naruto menarik lembut wajah sang Uchiha lalu mengecupi permukaannya di setiap tempat: dagu, pipi, hidung, pelupuk mata, pelipis, dahi, tulang pipi, sudut mata, sudut bibir, lalu menahan lama di bibir. Melepas kecupan, ia berbisik lirih sambil menatap dalam warna malam yang menutup setengah. "I miss you, too, My Sasuke..."

Kali ini ganti sang Uchiha yang terkekeh pelan. "Possessive, aren't we, My Naruto?" Ia menyeringai, "Not that I'm complaining."

"Only for you."

"Hn. Only for you."

Bagi Naruto, Sasuke adalah cahaya dalam hidupnya. Sasuke adalah satu-satunya yang ia miliki. Ia takkan mampu bertahan selama ini kalau bukan atas dorongan Sasuke. Ia takkan bertahan merasakan segala emosi jika Sasuke tak membaginya. Karena ia sudah menyerah untuk menarik hati keluarganya semenjak dulu. Karena ia sudah menyerah untuk menjadikan dirinya paling berharga dalam keluarganya. Makanya ia pandai menunggu dan menerima apapun keputusan mengenai dirinya. Akan tetapi, Naruto tak ingin menyerah tentang Sasuke. Ia tak ingin melepaskan Sasuke. Ia menyayangi Sasuke, sangat dan sangat menyayanginya. Ia membutuhkannya.

Demikian pula bagi Sasuke. Naruto adalah matahari yang menghangatkan jiwanya semenjak dulu. Untuk dirinya yang stoik dan miskin ekspresi, Naruto adalah warna dalam hidupnya. Ia belajar bermacam emosi dari sahabatnya itu. Ia belajar berbagi dari mentari mungil yang datang dalam kesehariannya itu. Ia takkan melepaskannya. Ia takkan merelakannya dimiliki orang lain. Naruto adalah seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Ia membutuhkannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Dei, Naru mana?" tanya Kurama yang baru pulang kerja. Ia tahu bahwa adik bungsunya sudah kembali ke Jepang karena akan mengurus kepindahan sekolahnya di Konoha. Adik pertamanya pun untuk sementara tinggal di rumah bersama demi membantu si bungsu melengkapi keperluan sekolahnya. Makanya Kurama mendapati Deidara sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi yang tidak jelas menyiarkan apa. Lelaki berambut merah cepak itu mengangkat sebelah alis, "Kau nonton apa?" tanyanya saat menyadari layar TV yang buram dan bergemersak.

"Aniki, tadi aku melihat hal yang aneh..." gumam Deidara tak mengindahkan pertanyaan sang kakak.

Kurama mematikan televisi karena merasa adiknya itu tidak menontonnya. "Hal aneh apa?"

"Tadi Naruto mengurung diri di kamar meskipun Sasuke datang menemuinya. Lalu sepertinya mereka bertengkar dan saat ingin memeriksa keadaan, aku melihat mereka sedang berpelukan," jawab Deidara.

Kurama memiringkan kepalanya sedikit, "Anehnya di bagian mana?" bingungnya.

"Setelah itu, mereka bertatapan sambil menangis," lanjut Deidara yang lagi-lagi tidak mengindahkan pertanyaan Kurama. "Lalu Naruto mencium Sasuke di wajahnya berkali-kali. Dan aku mematung di tempat sambil menganga..." penjelasan terakhir diucapkannya dengan lirih.

Sulung Namikaze-Uzumaki hampir tertawa membayangkan wajah melongo adiknya itu. Ia tahu Deidara jarang melihat interaksi Naruto dengan Sasuke yang terkadang membuat jantung melompat keluar. Namun, dari penjabarannya sudah terbayang betapa terkejutnya anak tengah itu. "Itu sudah biasa, Dei. Bahkan mereka melakukannya semenjak TK dulu," jelas Kurama.

"Tapi mereka bertindak seperti baru bertemu lagi setelah terpisah lamaaaaaaaaa sekali oleh bencana alam dan tragedi perang! Kayak kakek-nenek umur 70-an tahun yang akhirnya menemukan kedamaian hidup! Itu aneh, Aniki!" seru Deidara dengan nada dan ekspresi terperanjat.

Dan Kurama melepas tawanya. Ia tak menyangka adik pertamanya itu mampu membuatnya tertawa geli oleh imajinasi miliknya. Kalau begitu saja sudah terkejut, bagaimana nanti saat mengetahui bahwa mereka berniat tinggal bersama? Sudah menyewa apartemen pula! Kurama menggelengkan kepala mengingat penjelasan adik bungsunya dua minggu lalu.

"Aku akan tinggal bersama Sasuke setelah mengurus berkas kepindahan dari sekolah di LA. Aku juga akan mencari kerja sambilan untuk menabung."

'Naruto, dirimu sudah mulai berdiri di atas kakimu sendiri... Onii-tan sedih...' batin Kurama mengingat perasaannya yang campur aduk setelah mendengarkannya. "Dia akan mengikuti jejakmu, Ahodara," tambahnya dengan nada agak sebal.

Deidara mengerutkan dahi. "Jejak apa? Pindah rumah untuk tinggal sendiri?" bingungnya.

Kurama menggidikkan bahu. "Bedanya dia tidak sendiri tapi bersama Sasuke."

"WHUAAAATT?!"

"Sekarang Naru bersama Sasuke ya?" Ganti Kurama yang tidak mengindahkan keterkejutan Deidara dengan menggumam pada dirinya sendiri. "Pasti mereka lengket untuk beberapa hari yang artinya Sasuke akan menginap. OK. Makan malam hari ini sebaikny-"

"ANIKI!" potong Deidara. "Mereka akan tinggal bersama?!" tanyanya tak percaya.

Menghela napas, Kurama meletakkan tas di atas meja dan menyampirkan jasnya di gantungan lemari. Lalu ia mengambil celemek dan berjalan ke dapur. "Masak beef yakiniku dan tamagoyaki saja ya untuk makan malam," katanya.

"Aaaaniiiiiiikiiiii!" rengek Deidara meminta penjelasan lebih.

Mendecak, Kurama menjawab, "Tanya langsung saja pada Naru."

"NAAAARRUUUUUUU!" Deidara pun bergegas mendatangi kamar adiknya. Sayangnya, belum sempat ia mengetuk, secarik kertas terpasang di pintu kamarnya.

DO NOT DISTURB ! -else I'm gonna get angry-

Dan Deidara menelan ludah untuk menahan pertanyaannya... dan menghindari kemarahan adiknya itu. Ia tak ingin melihat adiknya marah meskipun sangat jarang ditunjukkan. Namun, sungguh, ia tak ingin melihatnya lagi.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Na, 'Suke, kapan kita mindahin barang ke apartemen?" tanya Naruto setelah terbangun dari tidur siangnya bersama Sasuke.

"Secepat kau mengurusi berkas kepindahanmu dan mendaftar di sekolah tempatku diterima. Setelah urusan itu selesai, baru kita akan mengepak barang dan pindah ke apartemen," jelas Sasuke yang kemudian menguap.

Remaja berambut pirang mengusap matanya lalu ikut menguap. "Ji-sama sudah tahu tentang kepindahan kita?" tanyanya lagi merujuk ke ayah sahabatnya.

Sasuke mendengus. "Aku sudah bilang padanya dan nggak peduli pak tua itu mau bilang apa. Apartemennya atas namaku dengan akun pribadiku sendiri dan Kakashi yang jadi walinya. Pak tua itu nggak bisa melakukan apa-apa karena aku nggak minta tandatangannya."

Naruto agak bingung dengan penjelasan Sasuke tapi tidak menanyakan hal itu. Yang ia khawatirkan adalah jika tetua Uchiha itu bersikeras menolak keputusan Sasuke sampai Sasuke menginjak usia dewasa. "Apa ada jalan lain kalau ji-sama menentangnya?" Naruto mulai berpikir. Lalu ia merasakan belaian pada helaian pirangnya.

"No worries, Dobe. Kalau memang ayahku berkeras hati menentang, kita bisa tinggal di asrama Sekolah Konoha. Aku sudah bilang pada Kakashi dan kepala asrama untuk menyiapkan satu kamar kosong untuk kita seandainya ayah melakukan hal yang nggak pantas," jelas Sasuke menenangkan.

Naruto nyengir, "Hal yang nggak pantas itu seperti apa?"

Sasuke menyeringai, "Misalnya seperti ngambek dengan pipi gembung lalu mogok bicara dan menanam jamur busuk di lemari," dan membuat sahabatnya tertawa. "Trust me, he did-minus planting the rotten mushroom only."

"I can't imagine, really!" Naruto melengkungkan tubuh karena tawa yang masih menguasai dirinya. Keningnya bersentuhan dengan bahu Sasuke, lalu ia pun memindahkan tubuhnya sehingga berada setengah sisi di atas sang sahabat. Ia menenggelamkan wajah di lekuk leher sang Uchiha dan mengalungkan sebelah tangan ke pundak satunya. "'Suke,"

"Hn?"

"Thank you."

Balasan yang diterima sang Namikaze-Uzumaki adalah belaian lembut pada surai mentarinya dan kecupan hangat di puncak kepalanya. "Likewise, Dobe."

"Teme~"

-.-.-TBC-.-.-

Ada yang sakit gigi saking OOC-nya? Ato sakit perut? Mahap kalo ada yang kayak gitu. Kyou lagi rada-rada akhir-akhir ini. Bahkan tadinya scene ini angst banget tapi Kyou lagi ndak mau nangis dan bikin nangis. Jadinya seperti inilah scene pertemuan mereka secara langsung setelah lima tahun berlalu. Untuk yang berikutnya udah sekolah SMA dan Naruto pun bertemu dengan teman-temannya Sasuke.

Bagaimana dengan perihal tempat tinggal mereka? Apakah bisa di apartemen atau asrama? Bagaimana reaksi teman-teman Sasuke saat melihat kedekatannya dengan Naruto? Apakah ada yang tidak suka? Nantikan scene 15 ya~

Ripiu? No plem ya~

_KIONKITCHEE_