Lil Hands scene 15: Rumor

By Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Pairings: Naruto & Sasuke, KuraIta

Warnings: Shounen-Ai, bromance, yaoi, flangst, cheesy lines, OOC OOC OOC, typo(s). Don't like don't read!

Summary: Naruto dan Sasuke memutuskan untuk menetap di Asrama Sekolah Konoha karena Fugaku yang belum setuju. Mereka pun mulai menjalani masa SMA yang diawali dengan rumor menghebohkan.

A/N: Kyou akan terus menulis ini di fanfic Lil Hands: Kyou nggak memprioritaskan SasuNaru ataupun NaruSasu. Bagi Kyou, selama mereka bersama apapun sebutannya nggak masalah. Keduanya adalah lelaki tampan meskipun terkadang memang terjabar indah. Bisa aja Kyou bikinnya cenderung ke SasuNaru ataupun NaruSasu. Bukankah Kyou bebas berekspresi dengan cerita Kyou, benar? Kalau ada yang nggak suka dan nggak setuju, silakan baca lagi warnings-nya. Di sana ada tulisan: Don't like don't read! Kalau sudah baca dan masih mau lanjut ke cerita, silakan dan selamat membaca. Kalau sudah lanjut ke cerita tapi komennya tetap sama, Kyou akan berpendapat bahwa Anda sangat menyukai cerita Kyou ini sampai-sampai ingin alurnya seperti keinginan Anda. I'd feel honored~ Dan Kyou nggak mengindikasikan ini ke reviewer yang login karena Anda berani berpendapat secara langsung dengan akun resmi dan Kyou sangat menghargai Anda. Untuk Anon-san yang berpendapat bahwa Kyou nggak mengenal karakter Naruto dan Sasuke dan beranggapan bahwa Kyou 'minta' review, bagaimana kalau Anda memberanikan diri untuk membuat akun dan mencoba untuk menulis tentang Naruto dan Sasuke juga? Setelah itu kirimkan link Anda ke akun Kyou supaya bisa Kyou baca dan review secara login. Mana tahu kita bisa saling memberi saran dan masukan lalu mindset Anda bisa menjadi lebih dewasa dan terbuka. Itupun kalau Anda berani~

Dan cerita ini bukan mpreg dan tidak akan ada mpreg karena situasinya berdasarkan kenyataan.

Sore dewa, otanoshimi deeeessuuu~

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Naruto tengah terdiam di tempatnya berdiri. Ia sedang memerhatikan adegan yang terjadi di hadapannya. Pikirnya kembali ke tempo hari di mana sahabatnya mengatakan perbuatan 'tak pantas' yang mungkin akan dilakukan ayahnya. Ia hanya tak menyangka bahwa paman yang disegani dan ditakutinya itu benar-benar melakukan hal yang dikatakan sahabatnya.

Di sana, tepat di meja makan yang entah mengapa selalu menjadi Tempat Kejadian Perkara atau TKP sesuatu yang penting, tampak seorang Uchiha Fugaku yang diam seribu bahasa dengan dahi berkerut dan mulut sedikit mengerucut.

'Kami-sama! Ji-sama lagi ngambek ya?!' batinnya berseru dalam keterkejutan sekaligus keheranan. Tak urung, ia berusaha menahan lengkungan sudut bibirnya yang hendak naik ke atas. 'Apa Ji-sama akan menanam jamur busuk dalam lemari juga?' tanyanya dalam hati masih mengingat omongan sahabatnya yang kini mendecak kesal.

"Tou-san! Sudah kubilang di awal bulan Februari kalau aku akan pindah ke Apartemen Hi di bulan April! Bahkan bertahun yang lalu juga sudah kubilang mau keluar dari rumah dan tinggal bersama Naruto!" seru Sasuke dengan nada ketus. "Masa' begitu saja lupa?! Tou-san belum kena Alzheimer, 'kan?!" sidiknya lagi.

Oh, Sasuke! Kata 'belum' itu berarti kau menduga ayahmu 'pasti' akan terkena ya? Sadis sekali!

"Dan jangan tiba-tiba merasa ada rebung di tenggorokan Tou-san! Aku minta penjelasan terhadap pengekangan ini!" putus Sasuke kemudian. Melipat tangan di depan dada, remaja berambut raven itu menatap ayahnya dengan tajam. Ia tidak suka kalau keputusannya yang sudah mutlak itu diganggu gugat dan hendak dihapuskan.

Begitupun dengan Fugaku yang tidak suka ditentang oleh siapapun. Pria itu balas menatap tajam putera bungsunya. "Two words: your age," jawabnya singkat tapi penuh penekanan.

'As expected.' Sasuke dan Naruto membantin yang sama sambil menghela napas berat.

"Kalau usiamu sudah 18 tahun, baru akan kuizinkan," lanjut Fugaku.

"Nope, 17 atau kondisi itu kuanggap nggak pernah ada," banding Sasuke tidak mau kalah. Ia memicingkan mata, menautkan alis dan mengerutkan dahi... membuat Fugaku yang berganti menghela napas berat. Dan ia tahu permintaannya pasti akan dipenuhi.

"... Fine."

See? Bingo!

Seringai merekah di wajah bungsu Uchiha sebelum berbalik ke arah lorong tempat sahabatnya menunggu. Ia sempat mendelik ke ayahnya dan berkata, "Aku dan Naruto akan tinggal di Asrama Sekolah Konoha sampai batas yang Tou-san berikan tercapai. Dan kami sekamar." Lalu pergi menarik sahabatnya keluar, meninggalkan sang ayah yang ternyata kecolongan.

Mikoto, yang sedari tadi menyaksikan interaksi suami dan anak bungsunya sambil menyesap teh hijau, tersenyum sebelum bangkit berdiri dan mengecup pelipis sang kepala keluarga. "Banggalah pada kedua puteramu, Fugaku-san. Mereka benar-benar cerdik dan keras kepala. Rasanya tak perlu kuberitahu dari siapa sifat itu berasal," katanya lalu pergi ke dapur untuk menambah tehnya.

Fugaku kembali mengerucutkan bibir sambil menggerutu, "Mereka puteramu juga dan sudah jelas dari siapa sifat itu berasal." Telinganya mendengar tawa kecil sang istri yang memang bangga akan kedua buah hatinya. Well, now we know!

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Jadi kau yang bernama Naruto? Akhirnya kita bertemu."

Remaja yang disebut namanya menaikkan sebelah alis mendengar pernyataan kepala asrama Sekolah Konoha yang seperti telah menantikan pertemuan dengannya meskipun ia tidak ingat kapan pernah berinteraksi dengan lelaki itu. Ia melirik ke sampingnya ketika mendengar sang Uchiha mendecak pelan lalu kembali ke kepala asrama yang mendengus geli. Ia menjadi penasaran.

"Namaku Hagane Kotetsu. Salam kenal," sapa lelaki berambut hitam gondrong nan jabrik; sang kepala asrama tersebut pada Naruto. Di tengah hidungnya, terpasang plester besar seperti hendak menyembunyikan luka, mengingatkannya pada Iruka yang berada di LA. Senyumnya pun teduh walaupun ada siratan jenaka di dalamnya. Seketika, ia langsung merasa nyaman karena kemiripan mereka-meskipun hanya secara fisik. Makanya ia menyodorkan tangan kanannya untuk berjabatan, menyuguhkan salam perkenalan dari luar.

"Namikaze-Uzumaki Naruto. Anda boleh memanggil saya dengan Naruto karena marga saya ada dua. Nice to meet you, Mr. Hagane," sapanya balik. Ia menjabat tangan lelaki itu dengan tegas sambil menatap lurus dan tersenyum simpul.

Kotetsu nyengir lalu beralih ke sang Uchiha yang balas melihatnya dengan tatapan bosan. "Kurasa akan kurindukan masa-masa kau mencibir kesepian di kantorku, Sasuke. Mentarimu telah tiba~" godanya yang langsung didengusi sang Uchiha.

"Kau terlalu banyak bicara, Kotetsu! Segera berikan kunci kamar kami!" ketus Sasuke sebal.

"Sesuai kehendak Paduka Raja~" goda Kotetsu lagi sambil menyerahkan kunci ke tangan remaja yang langsung mengambilnya kasar lalu pergi menuju kamar sambil menggandeng tangan Naruto. Bibirnya tetap menyunggingkan cengiran. "Kau sudah tahu peraturan asrama, 'kan, Sasuke? Jangan lupa beritahukan pada mentarimu ya~" tambahnya.

"Berisik!" sahut sang Uchiha tanpa berbalik-meskipun Kotetsu dapat mendengar siratan jenaka dalam nadanya. Pemimpin asrama tersebut menggelengkan kepalanya sambil menggumam, "Anak itu benar-benar menyukainya sampai menyebut 'kamar kami'. Sepertinya aku akan lebih sering menonton TV ketimbang mendengar gerutuannya." Ia pun menyalakan televisinya.

Kembali pada dua remaja yang kini berjalan di lorong menuju kamar, terlihat sang Uchiha masih menggandeng tangan sang Namikaze-Uzumaki. Penghuni asrama yang tidak sengaja berpapasan dengan kedua orang tersebut melihat pemandangan itu dan terkejut lalu terheran. Bahkan mereka mendapati diri mereka terdiam di tempat dengan wajah tertegun dan melupakan kegiatan mereka. Ada yang sedang makan es krim lalu tersedak es krim tersebut, ada yang sedang mengangkat keranjang pakaian kotor lalu menjatuhkannya, ada yang sedang menekan air dispenser ke dalam gelas lalu menahannya terlalu lama sehingga luber ke lantai, bahkan ada yang sedang memalu paku di dinding untuk memasang figura instruksi tapi malah tidak sengaja memalu jarinya sendiri. Semua terjadi karena mereka melihat suatu fenomena langka yang bahkan tak terpikirkan sebelumnya... dan kini terpampang di depan mata.

Uchiha Sasuke menggandeng tangan orang lain? Uchiha yang terkenal miskin emosi dan anti sentuhan itu?! Kenapa bisa?!-atau itulah yang berseru di benak mereka. Sungguh suatu hal yang tak terduga.

Sementara orang lain masih tergagap mendapati fenomena tersebut, oknum yang dibicarakan tak peduli sedikitpun karena ia memang tak pernah mengurusi bagaimana perkataan tentang dirinya. Sasuke terus saja berjalan menuju kamar asramanya dan Naruto tanpa menjajakan mata ke lain tempat. Selama tidak ada protes dari sahabatnya, ia tidak akan melepas genggamannya.

Tak lama, setelah naik ke lantai dua dan tiga kali berbelok di lorong yang cukup panjang, mereka sampai di depan pintu bernomor 210. Sasuke membuka kunci lalu masuk ke dalamnya dan kembali menutup pintu setelah Naruto ikut masuk. Mereka melihat dua koper besar telah menanti di dalam tepat di samping sebuah meja belajar besar dan di depan dua ranjang single. Di sebelah meja, terdapat rak buku mini yang bersisian dengan dua lemari pakaian ekonomis. Di dekat lemari, jendela satu pintu tertutup rapat dan dilapisi gorden berwarna abu-abu. Ruangan yang akan mereka tinggali memang tidak terlalu besar tetapi cukup layak untuk dihuni,

"Lebih luas kamar di apartemen..." gerutu Sasuke.

setidaknya bagi Naruto.

"Asrama sekolah dan apartemen 'kan memang beda. Lagipula hanya tinggal dua tahun lagi sampai kita boleh pindah ke sana," ujar Naruto sambil berjalan ke tempat kopernya berada. "'Suke mau dekat jendela atau pintu?" tanyanya.

"Yang mana saja sama," sahut sang Uchiha.

"Kalau begitu, aku dekat jendela ya," putus Naruto yang lalu duduk di ranjang tepat di samping jendela. Ia membuka kopernya dan mulai menata pakaian di lemari. "Na, 'Suke, do you have some reputation here?"

Sasuke melakukan hal yang sama setelah duduk di ranjangnya sendiri. "Hn?"

"They saw you as if you're impossible. I've been wondering," kata Naruto merujuk pada tatapan yang diberikan orang-orang yang berpapasan dengan mereka tadi.

Mendengus, sang Uchiha membalas tak peduli. "Same old, Naru, same old," membuat sahabatnya tertawa kecil.

"Means that you're as bastard as your kindergarten self? Typical, my Dear," Naruto memang pernah menduga bahwa sahabatnya itu berlaku seperti dulu di TK: anti sosial, ketus, miskin emosi, dan anti sentuh. Padahal sebenarnya Sasuke sangat pengertian dan penyayang. Namun, hanya kepada orang tertentulah sang Uchiha melepas topeng negatif itu. Naruto memahami dengan jelas sifat remaja yang selalu ada untuknya semenjak dulu itu.

"They're foolish idiots," gumam Sasuke.

"But there are some of them; your friends. Right?" Tangan Naruto yang mengeluarkan pakaian berhenti sejenak.

"Hn."

"Should I be aware of my manners?" tanya Naruto, menatap sang Uchiha lekat.

Sasuke balik menatap remaja yang menanyakan hal konyol itu padanya. "Just be yourself is enough for me," ujarnya berharap sang sahabat mengerti bahwa ia tidak ingin sikapnya berubah hanya karena reputasinya yang menyebar di asrama.

"Okay then. I'll try my best," balas Naruto sambil mengangguk, "though I've to warn you that you'll find me rather different when I'm at school," tambahnya.

Sang Uchiha menaikkan sebelah alis, "... Different?"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Sudah dengar?"

"Iya! Tapi aku belum percaya!"

"Aku melihatnya langsung waktu sedang memaku dinding! Saking terkejutnya, jariku jadi korban ini!"

"Tapi masa' sih? Salah lihat kali!"

"Dengan jelas! Mereka jalan di depan mataku sendiri!"

"Yakin menurutmu mereka..."

"Ng-nggak pasti sih tapi yang jelas mereka gandengan tangan!"

"Bukannya orang lain yang menggandeng? Nggak bisa kubayangkan orang itu yang-"

"Asli saling bergandengan! Kau tahu, yang semacam jari-jari bersilangan itu!"

"EEEEEEHHHHH?!"

Atau seperti itulah yang terjadi di suatu pagi saat upacara SMA Internasional Konoha hendak dimulai. Para murid yang berasal dari Sekolah Internasional Konoha-terutama SD dan SMP-menggaduhi tempat tersebut dengan rumor hangat. Mereka sedang membicarakan seorang lelaki yang dari SD dulu terkenal anti sosial dan miskin emosi serta dingin pada orang lain: Uchiha Sasuke.

Rumornya?

Bagaikan headline sebuah koran selebriti: Seorang Uchiha Sasuke Terpergok tengah Merajut Jemari dengan Seseorang. Dan orang tersebut tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Geger budaya? Tidak. Cukup geger sekolah. Dan ada yang tertawa mendengarnya.

"Mereka terlalu berlebihan! 'Chiha dan Naruto sudah biasa seperti itu!" Kiba tergelak di pinggir lapangan tempatnya dan teman-teman akrabnya berkumpul.

Chouji menaikkan sebelah alis. "Kau kenal dengannya, Kiba?" tanyanya.

Remaja bermarga Inuzuka itu spontan terdiam. "Chouji, itu Naruto loh! Teman TK kita dulu!" serunya heran.

Remaja bertubuh gemuk itu tampak berpikir. Namun, sepertinya ia lupa. Kiba menggelengkan kepala. "Aku lupa. Dulu kau lebih peduli pada makanan ketimbang teman..." gumamnya.

Gadis bernama Tenten menyahuti, "Dulu aku juga TK Konoha tapi aku nggak ingat ada anak yang bernama Naruto..."

Kiba pun baru ingat kalau gadis itu juga satu TK dengannya. "Serius?" bingungnya menatap kedua mantan teman TK Konoha. "Kalian yakin nggak ingat sama satu-satunya anak yang berani menasehati 'Chiha sewaktu dia menghina anak lain? Bocah rambut pirang yang sering pakai jaket oranye dan kata-katanya terbatas itu loh!" jelasnya. Ketika mendapati ekspresi mereka yang semakin bingung, ia menambahkan, "'Chiha pasti nempel sama dia terus dan jadi banyak bicara. Anak yang kalau nggak diajak ngobrol cuma akan merhatiin dari dekat dan senyum terus!"

Barulah Tenten mengingatnya. "Ah, iya! Anak pendiam yang keberadaannya nyaris terlupakan kalau bukan karena jaket oranye lusuhnya itu!"

"Yang diajari bicara sama Sasuke-kun?" timpal Chouji.

"Iyes yes yes! Yang itu!" Akhirnya penjelasan sang Inuzuka tidak sia-sia. Ia pun lanjut membicarakan Naruto yang menjadi dekat dengan sang Uchiha, membuat teman yang tidak satu TK merasa agak penasaran dengan oknum yang dibicarakan.

Lee sangat ingin mengenal anak bernama Naruto yang dekat dengan Sasuke-kun. Mungkin saja mereka juga dapat berteman baik nantinya. Shikamaru menguap tak peduli meskipun ia juga merasa sedikit penasaran pada orang yang mampu membuat Uchiha yang stoik itu mencair. Ino pun demikian. Gadis itu ingin mengetahui seperti apa anak bernama Naruto yang berhasil mendekatkan diri pada laki-laki yang disukainya. Mungkin saja ia bisa mendapatkan triknya sehingga menjadi dekat dengan sang pujaan hati. Shino hanya sekilas memperhatikan sebelum berkutat dengan serangga yang baru ditangkapnya kemarin sore. Lalu Sakura...

"Apa anak itu sudah datang ke sekolah? Aku ingin menemuinya langsung," kata gadis berambut merah muda panjang sepinggang itu.

Kiba mengangkat bahu pertanda tidak tahu. Akan tetapi, sudut matanya mendapati dua sosok yang baru saja memasuki lapangan sekolah. "Speak of the devils~" cengirnya.

Sasuke dan Naruto berjalan dari lorong terluar gedung menuju lapangan dalam di belakang gedung kedua SMA Konoha yang tak kalah luas dari lapangan bagian luar di depan gedung utama SMA. Mereka tampak sedang bercakap-cakap sambil sesekali menunjuk ke arah sisi sekolah-khusus untuk Naruto yang belum familiar dengan sekolah barunya. Kemudian mereka beralih ke sebuah pohon rindang nan lebat lalu duduk di bawahnya. Mereka pun kembali berbincang. Sempat angin sepoi menerpa dedaunan kering dari atas pohon sehingga jatuh di kepala mereka. Terlihat Naruto menyeka daun yang berada di helaian raven Sasuke lalu dibalas dengan perlakuan yang sama oleh sang Uchiha terhadap daun yang tersangkut di surai mentarinya.

Pemandangan itu sukses membuat keadaan hening sejenak terutama bagi mereka yang mengetahui identitas sang Uchiha. Yang tadinya hanya rumor tidak pasti kini menjadi sebuah kenyataan yang terpampang di depan mata. Uchiha Sasuke memang melakukan hal seperti yang digosipkan! Lantas, pertanyaan kedua muncul: siapa remaja berambut pirang berantakan itu?

"Cuma perasaanku saja atau mereka memang bertingkah seolah dunia hanya milik berdua?" bingung Tenten.

Kiba mendecak geli. "Yup! Dunia memang milik berdua! Y'know, I've been pestering 'Chiha 'bout his relationship with Naruto and he always shrugged me out like it's the truth."

"I don't like it!" Tiba-tiba seseorang berkata demikian. Setiap pasang mata dalam kelompok mereka menatap gadis berambut merah muda yang malah menatap tajam dua sosok yang masih bercengkerama di bawah pohon rindang.

"Sakura?" Ino menyentuh pundak sahabat sekaligus rival cintanya itu... dan sedikit terkejut dengan tegangnya bahu tersebut. Matanya menangkap jade yang semakin memicing dalam kemarahan. Samar-samar dari belakang mereka terdengar gumaman, "Merepotkan."

_Beralih kepada Sasuke dan Naruto_

"Ternyata reputasimu lebih luas daripada yang kubayangkan, 'Suke," kata Naruto sambil memandang sekeliling. "Look, they see us like a world's wonder~" lanjutnya dengan geli.

Sasuke mendengus. "I don't hell care." Membuat sang sahabat nyengir kuda padanya sebelum kembali melihat ke satu titik.

"Kau akan memperkenalkanku pada teman-temanmu? Atau aku harus mengenal mereka sendiri?" Safirnya tak pindah dari satu titik yang ia perhatikan. Bola matanya menatap lekat sekelompok remaja yang balas melihat ke arahnya dengan intensitas yang sama.

Menghela napas panjang, sang Uchiha menjawab. "Meskipun sering melakukan kegiatan berkelompok, aku tidak begitu dekat dengan mereka. Hanya sekedar kenalan satu sekolah." Oniksnya melihat sang Namikaze-Uzumaki yang meliriknya sekilas sebelum kembali pada apa yang diperhatikan sebelumnya. "Apa yang kau lihat, Dobe?" tanyanya kemudian.

Tidak menjawab, Naruto malah menyentuhkan jemarinya pada jemari Sasuke. Yang terakhir merespon dengan menautkannya. Oniks berusaha mencari safir yang masih mengelak pertemuan mereka. Sedikit perasaan tidak enak menyusup dalam batinnya. "Naruto?"

"Aku menantikannya, Sasuke!" seru remaja berambut pirang itu tiba-tiba. "Sepertinya menyenangkan jika bisa berteman dengan kenalan 'Suke di sekolah!" cengirnya yang kali ini membawa safir untuk menatap oniks dengan bersemangat.

"... Hn. Kau ini." Sasuke kembali menghela napas tapi yang ini terdengar lega. Perasaan tidak enak yang sempat ia rasakan ternyata tidak berarti apa-apa.

Benarkah?

Sang Namikaze-Uzumaki yang masih nyengir kuda mempererat tautan jemari mereka. Kompasnya melihat jalinan tersebut sambil perlahan mengubah cengiran menjadi senyum lebar. Pikirnya bertekad kuat dan hatinya mengeras akan keinginan yang tak pernah berubah semenjak dulu.

Ya. Pasti akan menyenangkan jika bisa berteman dengan orang-orang yang sering melakukan kegiatan dengan sang Uchiha. Dirinya juga akan menjadi bagian dari lingkaran tersebut dan menjalani aktivitas bersama. Dan yang pasti, ia tidak akan kalah. Ia takkan menyerah dari orang itu yang tadi-bahkan hingga sekarang-menatapnya dengan tidak suka.

Naruto tidak akan menyerahkan Sasuke pada siapapun. Tidak akan.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Upacara pagi telah usai dan seluruh murid masuk ke kelas mereka masing-masing. Kelas dibagi berdasarkan urutan nilai masuk dan sayangnya Naruto tidak sekelas dengan Sasuke. Perbedaan nilai mereka memang tidak signifikan tapi banyak siswa yang nilai di belakang koma sedikit lebih tinggi daripada Naruto. Jadilah kelas mereka berbeda namun bersebelahan. Meskipun agak tidak rela, mereka pun berpisah di depan kelas.

"Nanti istirahat bareng ya, 'Suke," ajak Naruto.

Sasuke mengangguk. "Aku juga berniat mengajakmu keliling," jawabnya.

Naruto tersenyum sambil melambaikan tangan lalu beranjak ke kelas. Sasuke pun melakukan hal yang sama. Ketika duduk di kursi yang bertuliskan namanya, sang Namikaze-Uzumaki langsung melihat sekeliling, mencoba mencari wajah yang familiar. Didapatinya seorang gadis berambut merah muda panjang yang tadi menatapnya tajam baru saja duduk tiga baris di depan kursinya. Safirnya lekat menatap sebelum beralih ke depan di mana wali kelas masuk untuk memberi pengarahan. Remaja itu pun mengkonsentrasikan pikirannya ke guru tersebut. Ia takkan menyiakan waktu sekolah yang berharga. Yang pasti, ia takkan menyerah hingga urutan kursinya menjadi yang terdepan dan paling pertama dekat pintu. Karena dengan begitu, ia akan mendapatkan kesempatan pindah kelas ke level yang lebih tinggi... dan kembali bersama sahabat tersayang.

Lalu selangkah lebih maju mendekati impiannya.

"Perkenalkan, saya Ebisu yang menjadi wali kelas 1 B. Selama dua semester ke depan, Anda semua berada di bawah bimbingan saya," sapa guru lelaki berkacamata hitam dengan penutup kepala berwarna sama yang sedang berdiri tegak lurus dengan papan tulis yang justru memperlihatkan postur tubuhnya yang kurus. "Saya akan memberitahukan beberapa peraturan yang harus Anda patuhi. Pertama: saya tidak menerima segala bentuk keterlambatan baik dalam kehadiran maupun pengumpulan tugas. Kedua: pengurangan ataupun penambahan poin nilai akan dilakukan berdasarkan kinerja Anda. Ketiga: persaingan dibutuhkan untuk mendapatkan posisi teratas dan naik ke level berikutnya. Namun, perlu Anda ketahui bahwa yang dimaksud di sini adalah persaingan sehat dan saling bekerja sama. Saya tidak akan menyetujui segala persengketaan yang membuahkan hasil buruk pada kelas ini. Mengerti?" jelasnya sambil menatap satu per satu muridnya. Tiada suara menjawabnya kecuali anggukan pertanda bahwa mereka memahami penjelasan tersebut.

Ebisu pun mengangguk menyetujui. "Baiklah. Berikutnya adalah mata pelajaran Anda..."

Naruto mengulas ulang tiga peraturan yang baru saja disebutkan. Ia hendak mencatatnya ketika mata birunya menangkap hijau tengah menatap tajam padanya. Ia pun balas menatap lekat dengan biasa tanpa emosi apa-apa karena ia memang tidak ada masalah dengannya. Namun, ia menahan sebuah rasa dalam hatinya. Sebuah rasa yang kerap bermain dalam dirinya semenjak dulu yang takkan mau dikeluarkannya.

Ia hanya berharap agar dapat terus menyimpannya.

-.-.-TBC-.-.-

Ripiu? Saran membangun silakan.

_KIONKITCHEE_