Lil Hands scene 16: Friend or Foe
By Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Kishimoto Masashi
Pairings: Naruto & Sasuke
Warnings: Shounen-Ai, bromance, yaoi, flangst, cheesy lines, OOC OOC OOC, typo(s). Don't like don't read! Once again, don't like don't read!
Summary: Kecemburuan membutakan akal sehat dan mampu melahirkan tekad yang menyimpang. Naruto telah menyadari hal itu semenjak dulu.
A/N: Kyou akan terus menulis ini di fanfic Lil Hands: Kyou nggak memprioritaskan SasuNaru ataupun NaruSasu. Bagi Kyou, selama mereka bersama apapun sebutannya nggak masalah. Keduanya adalah lelaki tampan meskipun terkadang memang terjabar indah. Bisa aja di scene-nya Kyou cenderung ke SasuNaru atau NaruSasu. Kyou bebas berekspresi dengan cerita Kyou, benar?
Dan cerita ini bukan mpreg dan tidak akan ada mpreg karena situasinya berdasarkan kenyataan.
Sore dewa, otanoshimi deeeessuuu~
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Pelajaran Olahraga kelas 1 A digabung dengan kelas 1 B. Menggunakan lapangan yang sama, kedua kelas berbaris berdampingan. Meskipun demikian, materi mereka dibedakan. Kelas 1 A akan memulai permainan bola dan kelas 1 B akan mencoba atletik dasar. Mereka bersiap dengan peralatan masing-masing di lapangan yang telah tersedia.
"Yo, kelas B! Namaku Mitarashi Anko, guru olahraga kalian! Dengarkan perintahku dan kalian tidak akan mati!" Seorang wanita berambut hitam pendek bermodel bob, yang mengenakan pakaian olahraga agak ketat dan membentuk tubuh serta memperlihatkan asetnya dengan jelas jika tidak memakai jaket terbuka di bagian luar, menyapa dengan suara lantang. Matanya menatap tajam tiap murid seolah hendak memangsa bagai ular sebelum menyeringai setan. "Sepertinya anak baru tahun ini bisa menjadi mainanku yang menyenangkan. Akan kupastikan kemampuan kalian di tiga cabang atletik yang harus dilalui hari ini!" Dan ia pun menyuruh beberapa anak lelaki untuk mengambil papan rintangan.
Murid-murid kelas 1 B hampir semua bergidik melihat guru olahraga mereka yang eksentrik dan terdengar menyeramkan. Meskipun perempuan, mereka mengenal guru tersebut sebagai juara triathlon di kancah dunia. Sungguhpun bangga dengan titelnya, mereka tetap waspada akan apa yang hendak dilakukan guru itu. Semua kecuali Naruto.
Remaja berambut pirang berantakan yang baru pulang ke Konoha setelah sekian lama tak begitu mengetahui tentang orang-orang berprestasi di sana. Pemahamannya masih mencakupi LA dan sekitarnya. Adapun yang paling ia ketahui adalah tentang Sasuke dan kegiatannya sehari-hari berdasarkan cerita mereka lewat mail ataupun telepon. Jadi, ia tak merasakan apapun saat melihat dan mendengar guru tersebut. Kalaupun reputasi sang guru seperti yang dikhawatirkan teman sekelasnya, Naruto tidak ada masalah dengan itu. Di sekolahnya dulu guru-gurunya lebih mengerikan. Kalau boleh berkomentar, ia justru senang mendapat guru cantik dan menyegarkan seperti wanita yang hendak meniup pluitnya itu.
"Buat dua barisan atas laki-laki dan perempuan di depan lintasan lari dalam waktu 5 detik! Satu! Dua!-"
Terburu-terburu murid kelas B membentuk barisan sesuai perin-instruksi sang guru. Tampak mereka sedikit kacau karena belum terbiasa dengan hitungan waktu yang sangat singkat. Naruto berbaris paling depan karena itu yang paling cepat dilakukan. Ia berdiri diam sampai hitungan selesai.
"Wah wah wah~ coba lihat~" Suara sang guru terdengar dekat dengannya. "Kau ini tinggi tapi yang paling depan. Egois atau tidak berperasaan?" Lalu ia menyadari bahwa guru itu berbicara padanya. Ia melirik wanita tersebut sebelum melihatnya penuh. Anko balas menatapnya tajam. "Atau sangat percaya diri?" lanjutnya sambil menyeringai.
Tersenyum kecil, Naruto menjawab, "Whichever you prefer, Miss."
Anko bersiul. "Menarik. Jadi kau murid yang datang dari luar dan menjadi buah bibir beberapa hari ini?" Ia mengitari Naruto sejenak sambil memperhatikan perawakannya. Sebelah alisnya terangkat naik begitu mendapati sesuatu yang menarik. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkan, Anko kembali ke depan barisan. "Akan kulihat sejauh mana kemampuanmu, Anak baru!" Ia mendapatkan wajah tanpa senyum mengangguk.
Sementara itu, kelas 1 A masih berbaris di tempat semula. Mereka masih menunggu kedatangan guru olahraga mereka yang senantiasa terlambat. Karena sudah paham dengan sifat guru mereka, beberapa memperhatikan kelas B yang sudah mulai.
"Kasihan sekali mereka dapat Anko-sensei!"
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti mereka bertahan di pelajaran selanjutnya! Guru itu iblis!"
"Dan sepertinya Anko-sensei tertarik sama pacarnya Uchiha! Coba lihat itu!"
"Mana? Iya-"
"Oi,"
Murid yang bergosip tadi terdiam mendengar suara berat oknum yang tak sengaja disebut tadi. Mereka menoleh perlahan hanya untuk mendapati sosok sang Uchiha menatap tajam. "Y-ya? U-Uchiha-kun?"
"Siapa yang kau maksud pacar, huh?" Sasuke bertanya dingin tanpa emosi walaupun tatapannya setajam pisau panas. Sedikit banyak ia menyadari siapa yang mereka maksud tetapi ia tak suka ada yang berulah dan itu menyangkut dirinya ketika pelajaran berlangsung.
Murid yang bergosip mulai keringat dingin saat menyadari bahwa mereka tak tahu bagaimana menjawabnya. Untungnya Shikamaru memutuskan untuk menyudahi intimidasi sang Uchiha meskipun setelah mengeluh 'merepotkan'.
"Mereka hanya becanda, Sasuke. Lagipula, kau dan temanmu itu memang seakrab yang disangka orang lain, benar?" ujar sang Nara.
Sasuke hanya balas menatapnya lekat seolah menjawab tanpa kata. Dan Shikamaru kembali menghela napas sambil menggumam, "Merepotkan."
Ia memahami dengan jelas jawaban sang Uchiha.
"Maaf aku terlambat. Tadi tertahan lama oleh kelas Personality Development di tingkat 3." Tiba-tiba suara guru olahraga kelas 1 A terdengar. Hatake Kakashi, guru yang mencakup beberapa bidang pelajaran seperti PD, OR dan Sejarah. Jadwalnya padat baik tentang sekolah maupun di luar sekolah apalagi jika sudah berhubungan dengan posisinya sebagai asisten pribadi Uchiha Fugaku... yang cukup membuat Sasuke kesal karena guru itu seakan mengawasi gerak-geriknya di sekolah.
"Lama," ketus remaja Uchiha tersebut. Ia memang tak pernah akrab dengan Kakashi semenjak awal bertemu. Namun, ia merasa beruntung mendapati pria itu sebagai gurunya ketimbang Maito Gai yang membuatnya tidak nyaman karena sifatnya yang terlalu bersemangat.
Kakashi menatap sang Uchiha sambil tersenyum dari balik maskernya. "Setidaknya kau bisa melihat mentarimu sejenak 'kan, Sasuke-kun?" godanya, membuat beberapa murid kembali berbisik ria. Pria itu menggunakan panggilan Kotetsu yang kerap menceritakan tentang keseharian putera bungsu Uchiha ketika mendekam di kantornya. Yah, Kakashi memang memintanya untuk mengawasi anak itu saat dirinya tak ada.
Sasuke tak terpengaruh dengan bisik-bisik di sekelilingnya. Ia malah balas menatap tajam sang guru dan berkata dengan yakin. "Aku bisa melihat dan menemuinya kapan saja. Perkataanmu itu sia-sia."
Bisik-bisik terhenti dan semua yang mendengar pun terdiam. Mereka yang jarang mendapati sang Uchiha mengucap sesuatu tentang hubungan dirinya dan orang lain-apalagi yang mengarah ke percintaan atau apapun sebutannya-tertegun dan terperangah. Sedari awal mendengar rumor itu pun mereka sangat terkejut dan tidak percaya. Apakah hubungannya dengan murid berambut pirang itu benar-benar nyata?
Hei, Sasuke itu 'kan juga manusia?
Kakashi menaikkan sebelah alis sambil menggelengkan kepala. "Uchiha-sama akan kejang-kejang jika mendengar ini, Sasuke," gumamnya.
"Ditambah rumor yang menyebar semenjak kemarin," timpal Shikamaru, iseng.
"Dan suasana yang ditimbulkan karena rumor itu," sambung Shino yang sebetulnya ada di dekat mereka semenjak tadi.
"Yare-yare~ aku harus bersiap untuk memesan kamar VVIP khusus serangan jantung di RS Konoha," simpul sang guru sambil menghela napas panjang-walaupun terdengar nada geli di dalamnya.
Terlalu berlebihan... batin Sasuke dengan keringat besar bertandang di pelipisnya. Tapi kalau tou-san masuk rumah sakit, aku tidak perlu memikirkan rencana tou-san untuk menjauhkanku dari Naru. Tidak buruk juga. Tou-san, ayo cepat masuk rumah sakit~
Mood Sasuke pun membaik dan wajahnya terlihat sedikit mencerah. Kakashi dan Shikamaru tahu persis apa yang ada dalam benaknya dan mulai mengasihani tetua Uchiha. Shino tidak mengerti dan beralih memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di rambut Tenten.
"Baiklah, cukup. Kita mulai olahraganya." Kakashi memberi aba-aba kepada dua anak lelaki untuk mengambil bola basket dan memilih grup beranggotakan 5 orang. Mereka akan melakukan pemanasan berupa pertandingan basket selama 10 menit sebelum masuk ke penjelasan inti.
"Sasuke, kau tidak boleh satu tim dengan Shikamaru dan Shino. Tidak adil untuk tim yang lain," larang Kakashi.
"Sudah tahu," ketus sang Uchiha seraya memutar bola basket di jari telunjuknya. Ia tidak berniat memilih karena ia hanya akan mencari orang yang berkemampuan sepadan dengannya. Di kelas A, yang sepadan dengannya hanyalah Shikamaru dan Shino. Dari kelas B ada Lee. Lalu di kelas C ada Kiba dan Chouji. Kelima orang itulah yang mempunyai kemampuan sepadan dengannya di bidang olahraga. Oleh karena itu, ia akan menunggu sampai ada yang mengajaknya masuk ke salah satu grup. Dan bukan berbangga hati tapi memang PASTI ada yang akan mengajaknya masuk karena membutuhkan kemampuannya.
Padahal hanya pertandingan pemanasan selama 10 menit antar teman sekelas... Ya ampun...
"Wooaaahh! Jago banget!"
"Beneran itu?!"
Perhatian anak anak kelas A kembali teralihkan dari pelajaran mereka. Sembilan belas pasang mata melihat dua sosok tengah berlari kencang melewati palang rintangan yang diletakkan dengan jarak dekat satu sama lain. Tiada yang menyentuh palang tersebut meskipun kecepatan mereka terbilang bagai berlari tanpa rintangan. Gerakan mereka khas dan memiliki keunikan sendiri. Yang di sebelah kiri berlari seakan sudah terbiasa dengan rute mendadak itu dan memperlihatkan gerakan mengalir bagai air. Yang di sebelah kanan berlari dengan refleks dan ketanggapan yang luar biasa namun tetap bebas bagai angin. Mereka mengenal gerak mengalir itu sebagai jurus andalan sang juara triathlon, Mitarashi Anko. Dan yang seorang lagi adalah...
"Sensei, semangat!"
"Buktikan padanya, Mitarashi-sensei!"
"Sensei pasti menang!"
"Maju terus, Naruto-kun! Sehabis ini giliranku bertanding denganmu dan Anko-sensei!"
"Eh?"
Ya. Yang berlari di sebelah sang juara adalah nama yang diteriakkan oleh Rock Lee.
Namikaze-Uzumaki Naruto.
Pertandingan dimulai ketika Anko tak dapat menahan diri untuk menjajal kemampuan anak itu. Segera setelah satu putaran lari untuk tiap murid dan terbukti bahwa kaki anak itu memang cepat, wanita itu menantangnya. Naruto berusaha menghormatinya dengan menerima tantangan. Beginilah mereka sekarang, berpacu dengan angin dan waktu hingga memasuki garis finish.
Timer ditekan berhenti ketika salah satu dari mereka selesai-sebetulnya keduanya masuk finish secara bersamaan. Namun, ujung kaki sang juara triathlon masuk terlebih dahulu beberapa senti.
Sorak sorai murid kelas B terdengar, memberi selamat kepada guru mereka yang tak terkalahkan. Beberapa murid yang terlihat tidak menyukai Naruto mencibir ke arahnya sebelum membanjiri guru yang tadi membuat mereka ngeri dengan pujian.
"DAAAAAAMN! THAT WAS F**KING GOOD!" Anko berseru sambil meninju udara dengan bersemangat. Napasnya masih stabil dan hanya terlihat sedikit lelah. Ia melirik ke sang Namikaze yang sedang menstabilkan napasnya. "Kau masih butuh beberapa tahun latihan untuk mengalahkanku~" seringainya kemudian. Ia mengibas-tepuk kedua tangannya lalu berjalan menjauhi remaja itu, puas karena telah berhasil menguji kemampuannya.
"Ms. Anko,"
Wanita itu menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan itu. Ia kembali menolehkan kepala ke arah sang Namikaze.
"Your form was BEAUTIFUL!" seru Naruto. "When you ran, it was like you were dancing! Like, when you jumped those things, you had another pair of feet or hands to help you through! That was gorgeous!" Ia melontarkan pendapatnya dengan sangat bersemangat. Sedemikian semangatnya, Naruto sampai lupa memakai bahasa pribumi. Ia memang ingin mengutarakan kekagumannya pada sang guru karena ia terbiasa berkata jujur tentang perasaannya pada orang lain.
"Heh! Karena sudah kalah kau malah mencari muka! Munafik!" celetuk sinis seseorang dari gerombolan yang tidak menyukainya. Seorang gadis berambut merah muda panjang yang dikuncir kuda dan berbandokan pita hijau. Haruno Sakura.
"Eh? You don't think so, too?" bingung Naruto polos. "Ah, mungkin penjelasan saya kurang dimengerti? Maksud saya adalah gerakan Anko-sensei sangat indah seperti sedang menari. Saat beliau melompat seperti menggunakan tangan dan kaki yang tidak terlihat sehingga semakin mempercantik gerakannya. Anda tidak berpikiran seperti itu?" Ia tak terpengaruh dengan ejekan gadis itu. Malah ia beranggapan bahwa gadis itu tak memahami perkataannya.
Dan benar. Sakura merasa tersinggung. Ia merasa terhina karena dianggap tidak mengerti bahasa Inggris sederhana itu. "Kau tidak sopan! Kau pikir aku masuk ke sini dengan nilai jelek?! Aku termasuk peraih nilai tertinggi di sini!" serunya kesal.
Namun, Naruto merasa semakin bingung. "Ya, tentu saja begitu. Standar nilai masuk sekolah ini memang tinggi, benar?" Lalu ia memiringkan kepalanya ke kanan saat menyadari sesuatu. "Kenapa bukan di kelas A kalau nilai Anda termasuk yang tertinggi?" Sungguh ia tak menyadari betapa pertanyaan itu kembali menyinggung sang gadis.
"KAAUUUU-" Sakura yang sudah naik pitam hendak melayangkan tinjunya saat Anko menahan lengannya.
"Cukup. Kalian membicarakan hal yang tidak penting." Anko menatap tajam gadis yang kini bergidik ketakutan lalu ke remaja yang masih menatap bingung. Ia pandang safir itu dengan seksama untuk menemukan makna lain di dalamnya. Namun, yang ia temukan memang apa yang terpampang di hadapannya. Tiada kebohongan sedikitpun. Ia seperti melihat sisi lain yang jarang ada pada muridnya. Anko menaikkan sebelah alis.
"Kau tertarik pada atletik?" tanyanya.
"Sekedar suka tapi bukan untuk menjadi atlet," jawab Naruto.
"... Tujuanmu?" tanya Anko dengan nada menantang. Dan kali ini ia tidak kecewa. Mata di hadapannya balas menatap lekat. Bibir sang remaja pun perlahan merekahkan senyum kecil yang menyimpan berjuta makna.
"It's a secret, Ms. Anko."
Tiga puluh meter dari interaksi itu, seseorang mengeraskan rahang. Ia mengepalkan jemari dengan kuat sambil tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
Ia tidak menyukai apa yang samar-samar didengarnya tadi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Bel istirahat berbunyi pukul 12 tepat. Masing-masing murid mengambil bekal dan duduk sesuka hati. Ada yang berkelompok, berdua maupun sendiri. Yang pasti mereka ingin menikmati santap siang dengan santai, melupakan pelajaran barang sejenak. Bagi yang tidak membawa bekal, kantin dengan beragam makanan telah disediakan di lantai dasar. Mereka hanya tinggal memakai kartu pelajar untuk membayar biaya makan karena sudah termasuk dalam bayaran per bulan. Praktis dan harga yang tertera cukup ekonomis.
Naruto, belum terbiasa dengan sistem makan siang di sekolah-karena di LA ia baru bisa beristirahat pukul 2 siang-beranjak dari tempatnya untuk bergegas ke kelas Sasuke yang berada tepat di sebelah kelasnya. Namun, ia tak menemukan pemuda itu dimanapun. Ia hendak bertanya ketika mendengar suara berbicara padanya.
"Sasuke ada di atap. Naik tangga di sebelah ruang konseling, terus sampai ke ujung atas."
Naruto mendapati remaja tinggi dengan rambut dikuncir seperti buah nanas. Ia mengingatnya sebagai salah satu orang yang sering bersama Sasuke. "Terima kasih, uuhm?"
"Nara Shikamaru." Remaja itu membalas singkat lalu menguap.
Naruto tersenyum. "Terima kasih, Nara-san." Lalu berbalik untuk menuju atap. Ia harus segera menemui Sasuke agar mengetahui apa yang terjadi padanya karena Sasuke sudah berjanji untuk menemaninya setiap jam istirahat.
Dan mengetahui bahwa ia ditinggal sang Uchiha ke atas atap, Naruto paham bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Sasuke.
Anak tangga pun dinaiki dengan cukup cepat. Ketika Naruto sampai di belokan pertama, ia terdorong ke belakang dengan cukup keras. Keseimbangannya goyah dan kakinya kehilangan pijakan. Ia menyadari bahwa ia akan terjatuh dengan kepala terlebih dahulu dan ia tak mampu berbuat apa-apa seakan seluruh tubuhnya kaku dan membeku. Sensasi yang tertinggal pada dirinya adalah lambatnya waktu dan hentakan telapak tangan pada bahunya.
Seseorang sengaja mendorongnya jatuh.
"AWAS!"
Sepasang lengan menahan tubuh Naruto sebelum menyentuh lantai, mendekap dirinya dan membawanya bersandar pada dada bidang seseorang yang bertopang punggung ke pinggir tangga. Begitu cepat refleks yang ia terima sampai ia bertanya-tanya mengapa tidak jatuh; tak percaya bahwa dirinya selamat. Jantungnya masih berdetak kencang akibat keterkejutan yang luar biasa.
Aah... Ia masih bernapas...
"Tidak perlu sampai seperti ini, 'kan?"
Ia mengenal suara itu sebagai milik sang Nara. Ia membawa bola safirnya untuk melihat sang penolong dan memang remaja itu yang menyelamatkan dirinya. "Nara-"
"Sakura."
Naruto terdiam. Ia tolehkan kepalanya untuk melihat sosok yang ternyata masih berada di atas tangga. Rambut merah muda tergerai dengan pita hijau besar sebagai bando.
Benar. Haruno Sakura. Murid perempuan yang tidak menyukainya semenjak pertama kali bertumbuk pandangan di lapangan di hari pertama upacara masuk sekolah. Dan perempuan itu mendorongnya jatuh dari tangga entah dengan tujuan apa... atau mungkin sebenarnya Naruto memahami maksudnya. Ah, bukan mungkin lagi. Semenjak awal, ia sudah mengerti apa yang bermain dalam benak orang yang kerap menatapnya tajam itu. Maka, Naruto perlahan melepaskan diri dari sepasang lengan yang masih melingkari tubuhnya. Lalu ia berdiri menghadap gadis itu dan menatapnya lekat.
"Anda... heh. Kau cemburu akan kedekatanku dengan Sasuke ya?" Ia memutuskan untuk melepas bahasa sopannya. "Makanya kau melakukan hal tadi." Tatapan lekatnya menunjukkan ekspresi dingin namun dengan sudut bibir yang terangkat naik, membuat siapapun yang melihat akan merasa tidak nyaman.
Sakura merasakan ketidaknyamanan itu. Terbukti dari bulu romanya yang tiba-tiba berdiri.
"Tenang saja, Haruno-san. Aku tidak akan mengatakan hal ini pada Sasuke," lanjut Naruto. "Aku hanya akan menunjukkan padamu bahwa Sasuke tidak akan pernah melepaskanku. Dan semakin kau tidak suka, semakin akan kutunjukkan bahwa kami akan selalu bersama. Selamanya."
Naruto pun kembali melangkah tegas menaiki tangga menuju atap. Saat ia berpapasan dengan gadis yang masih membeku di tempatnya, ia berhenti sejenak untuk membisikkan sesuatu.
"Kau tidak akan pernah bisa masuk di antara kami. Akan kupastikan hal itu."
Kemarahan sudah menyusup ke dalam hatinya. Dan tekad yang selama ini terpatri kuat dalam dirinya pun semakin kokoh bertahan.
Ya. Ia takkan menyerahkan Sasuke pada orang yang tidak pantas bersamanya.
Langkah kaki perlahan menjauh lalu menghilang di balik pintu atap, menyisakan keheningan yang bertahta di lingkup sempit tangga sekolah. Sakura masih terdiam di tempatnya berdiri, baru saja menyadari apa yang telah dilakukannya. Kompas hijaunya melihat kesepuluh jemari yang gemetar hebat, mengetahui bahwa mereka telah digunakan untuk mendorong seseorang jatuh dan dapat berujung pada kematian. Namun, ia tidak sengaja. Ia tak bermaksud melakukannya. Tak ada niatan sedikitpun untuk mencelakai orang itu.
Saat mengejar Sasuke yang ingin menyendiri di atap dan akhirnya mengusirnya dengan ketus, ia melihat sosok berambut pirang itu naik ke tangga. Rasa kesal dan marah menguasainya dengan cepat hingga sebuah rencana tak masuk akal melintas di pikirannya. Itu saja. Sebenarnya ia hanya ingin sedikit mengejutkannya. Ia hanya ingin membalas hinaan yang diterimanya saat pelajaran olahraga tadi. Ia hanya... dirinya hanya...!
"Oi,"
Sakura tersentak. Ia lupa bahwa Shikamaru masih ada di sana. Ah! Tidak hanya mendorong orang itu tapi juga terlihat oleh Shikamaru, Sakura merasa cemas dan malu! Kalau sampai Shikamaru menceritakan hal ini pada Sasuke...
"Play fair, Sakura. Sasuke tidak akan menyukai orang yang berbuat curang."
"Kau akan mengatakannya pada Sasuke-kun?" cemas Sakura.
Sang Nara menghela napas panjang. "Jangan menyeretku dalam masalah ini! Merepotkan saja!" gerutunya. Ia pun berbalik menuruni tangga, meninggalkan Sakura yang masih merenungi perbuatannya. Ia berada di sana sedari awal untuk mencegah terjadinya pertikaian tiada guna antara dua orang yang ingin bersama sahabatnya yang stoik itu. Ia tahu bahwa Sakura menyusul Sasuke ke atap. Maka, ia ingin setidaknya apa pun yang terjadi di antara mereka tidak akan menimbulkan masalah untuk sang Uchiha. Yah, ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal tersebut. Sudah sering ia mendapati dirinya sebagai penengah antar orang yang mengincar Sasuke. Kenapa ia mau repot melakukannya? Uhm, mungkin karena Sasuke sahabatnya? Atau karena permintaan Kakashi yang ditugaskan oleh tetua Uchiha untuk mengawasi putera bungsunya?
Hhaaah... Ia jadi serba salah. Di satu sisi ia merasa membohongi sang Uchiha. Di sisi lain ia merasa seperti penguntit tidak jelas rimbanya. Ia heran akan alasan yang membuat Sasuke begitu dilindungi oleh keluarganya. Anak itu bukan pengeran dari sebuah kerajaan, 'kan? Atau memang tetua Uchiha itu saja yang terlalu overprotective? Ya ampun... menyusahkan...
Lalu anak itu. Orang yang selama ini selalu menjadi prioritas sang Uchiha. Namikaze-Uzumaki Naruto. Ia pikir anak itu akan bermanja sepenuhnya pada Sasuke. Namun, Anak itu justru mengejarnya. Jika ditilik dari nilai masuk akademik dan olahraganya, bisa dibilang hampir menyamai peringkat sepuluh besar di kelas A. Maka, anak itu bukan sekedar prioritas Sasuke. Lagipula, kenapa masuk ke kelas B?
Terlebih lagi perkataannya tadi...
Aku hanya akan menunjukkan padamu bahwa Sasuke tidak akan pernah melepaskanku. Dan semakin kau tidak suka, semakin akan kutunjukkan bahwa kami akan selalu bersama. Selamanya.
Hhaah... Bukankah itu sudah cukup jelas? Sakura, sainganmu kali ini akan sangat sulit untuk dikalahkan. Bukan urusanku juga sih. Merepotkan saja.
_Di atap sekolah_
Naruto bersandar di pintu atap yang tertutup. Kepalanya menunduk dalam dengan mata yang membelalak lebar namun dengan mulut yang terkatup rapat. Kakinya gemetar yang semakin lama semakin hebat hingga akhirnya ia merosot jatuh dan terduduk dengan kasar. Gemetar itupun menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
Tiga hari. Baru tiga hari ia bersekolah di sana tetapi sudah menimbulkan masalah. Memang bukan dirinya yang memulai tapi ia adalah pemicunya. Dirinya yang dekat dengan Sasuke yang menimbulkan masalah. Kenapa? Kenapa dekat dengan Sasuke membuatnya dibenci seperti ini sampai harus terjadi insiden tak menyenangkan tadi? Kenapa ia menjadi objek kebencian hanya karena dekat dengan Sasuke? Ah, justru karena dekat dengan Sasuke lah ia menjadi sasaran kebencian orang-orang yang menyukai Sasuke. Bukankah itu berarti ia bersahabat dengan seseorang yang hebat? Bukankah itu berarti ia tidak salah dalam berteman? Bukankah itu tandanya ia merupakan orang yang paling dekat dengan Sasuke?
Lantas, apa yang perlu dikhawatirkan?
Gemetar itu berubah makna. Yang tadinya sama dengan rasa takut kini berganti menjadi hasrat memiliki. Kompas safirnya memicing seiring dengan senyum lebar yang merekah di bibirnya. Lalu ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan keinginan untuk tertawa lepas. Aah, bagaimana ini? Ia merasa senang... sangat senang! Dirinya adalah satu-satunya orang yang dibenci karena dekat dengan Sasuke, membuktikan bahwa sang Uchiha hanya memperhatikannya seorang. Sahabatnya itu juga berkata bahwa sekelompok orang yang sering bercengkerama dengannya hanyalah kenalan dan hanya dirinyalah yang dianggap sahabat. Dewa, ia sangat bahagia... sangat dan sangat bahagia!
Ia tak berkeberatan dibenci karena hal itu hanya akan membuktikan betapa Sasuke adalah miliknya.
Eh?
Miliknya?
Pikiran tidak wajar Naruto pun berhenti.
Miliknya? Sasuke... miliknya?
Lalu ia teringat akan omongan seseorang yang bercokol kuat dalam hati dan pikirannya. Kata-kata yang selalu menyayat hatinya dengan sebilah pisau panas membara.
Kenapa bukan kau saja yang...?! Semua salahmu!
Bagaimana bisa ia memiliki seseorang jika dirinya pun tak bisa ia miliki? Semenjak dulu, nyawanya adalah-
"Sedang apa kau di situ, Dobe?"
Suara Sasuke terdengar di depannya diiringi oleh bayangan yang tercipta dari kecupan sinar matahari. Suara yang ingin didengarnya selalu. Suara yang menopang dirinya untuk selalu melangkah maju. Suara yang sampai kapanpun menjadi harta baginya. Suara yang ingin dimilikinya.
Ah, tidak. Ia harus menghentikan pikiran itu. Ia harus mengenyahkan hasrat itu. Ia harus sadar bahwa ia tak berhak sedikitpun mengakui sang Uchiha sebagai miliknya.
My Sasuke.
Kenapa tempo hari ia bisa dengan mudah mengucapkannya? Apa yang menjadi alasannya? Dan lagi, pemikiran tidak wajar tadi, apa yang menjadi landasannya? Apa yang memicunya untuk berpikiran seperti itu? Apa yang bergemelut dalam benaknya hingga ide gila itu menggoresnya? Apa yang-
"Dobe?"
-apa yang sangat ditakutinya?
Naruto bangkit untuk berlari menerjang Sasuke, memeluk erat sahabatnya itu seakan tak ingin lepas darinya. Mencengkeram keras seragam sang Uchiha, ia membenamkan wajah pada lekuk leher putih itu. Lalu melepas perasaannya di sana.
Takut. Cemas. Sedih. Marah. Kesal. Tak percaya diri. Kecewa. Tak berguna. Hampa. Perasaan negatif terlontar dari dirinya.
Dan Sasuke, sedikitnya ia menyadari apa yang bermain dalam pikiran Naruto. Meskipun terkejut dengan tindakan dan perasaan yang menguar dari sahabatnya, ia lebih terkejut mendapati tubuh yang memeluknya itu gemetaran hebat seakan baru menyaksikan sesuatu yang menakutkan. Seperti yang ia alami saat pertama kali bertemu setelah lama tak bertatap muka.
"Naru," Sasuke menepuk kepala pirang sahabatnya, "ada apa?"
"... Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu..." Naruto membalas lirih.
Sasuke menaikkan sebelah alis. "Gemetaran begini?" ragunya.
"I just miss you!" balas Naruto dengan keras kepala, membuat Sasuke mendengus. "Tidak boleh, ya?" gantinya bertanya.
"Now, I practically am with you 24/7 except for school's time which is only 7-8 hours. Sekitar enam belas jam aku bersamamu setiap hari, masih kurang?" ledek sang Uchiha sambil menyeringai.
"Kurang. Sangat kurang," jawab Naruto. "Kalau menghitung selisih waktu yang kuhabiskan bersamamu dulu dan waktumu bersama dengan teman-temanmu di sekolah, kebersamaanku denganmu sangatlah sedikit. Oleh karena itu, waktu enam belas jam masih sangat sedikit..." ungkapnya sambil menyamankan diri dan perlahan menghilangkan gemetarnya.
Sasuke terdiam-jika tak mau dibilang terperangah. Seringainya memudar. Penuturan Naruto membuatnya terkesima, seolah mendengar sesuatu yang membuatnya merasa hangat dari dalam diri. Seolah keberadaannya sangat dibutuhkan oleh sang sahabat sebagaimana ia membutuhkan sahabatnya itu. Dan ia membalasnya dengan menghindarinya tadi?
Ya. Sasuke pergi ke atap untuk menghindari sahabatnya itu. Alasannya sepele: ia kesal karena Naruto memuji guru wanita itu dengan bersemangat apalagi dengan sebutan cantik. Memang guru itu hebat tapi ia juga bisa melakukan hal yang sama! Ia juga bisa melakukan triathlon dengan gerakan bak air mengalir! Makanya Naruto tidak perlu memuji guru itu secara berlebihan! Bukankah selama ini dirinya yang selalu menjadi sosok hebat bagi Naruto?!
Singkat kata: Sasuke cemburu. Dan tidak akan ia ungkapkan hal kekanakkan itu pada sahabatnya.
Sahabat miliknya seorang.
"Apa jadinya nanti kalau aku dan kau punya pacar? Waktu kebersamaan kita pasti akan lebih berkurang," ucap Sasuke. Ia bermaksud memastikan sesuatu ketika genggaman jemari Naruto pada seragamnya mengeras lalu perlahan mengendur dan melemas hingga akhirnya terlepas tanpa daya. Ia tersadar akan pengandaian yang baru diucapkannya, "Naru?" dan kekhawatiran melanda hatinya.
"Jika aku mempunyai kekasih, dia hanya akan mendapatkan 1/128 dari diriku." Naruto meletakkan kedua telapak tangannya di wajah sang Uchiha. "Jika kau mempunyai kekasih..."-ia mengangkat kepalanya untuk menatap lekat oniks di hadapannya-"dia juga hanya akan mendapatkan porsi yang sama dan harus berusaha sampai nyawa terakhir untuk menyingkirkanku... karena aku tidak akan menyerahkanmu begitu saja."
Sebuah tekad terbentuk. Satu sumpah terlontar. Berjuta makna terkumpul. Kekhawatiran pun menghilang.
Sasuke menyentuhkan kening mereka. "Perbaikan, Dobe. Pacarmu nanti juga akan bersusah payah untuk menyingkirkanku karena aku pun tidak akan melepaskanmu tanpa perlawanan apa-apa," ujarnya sambil menyeringai.
Lalu senyuman sehangat mentari merekah di bibir Naruto. Ekspresi wajahnya pun melembut oleh kebahagiaan murni yang berbeda dari apa yang dirasakannya tadi.
"You're teasing, 'Suke!"
"I'm perfectly serious here, actually."
Naruto mencubit pipi Sasuke secara main-main. "Kalau 'Suke benar punya pacar nanti, aku pasti akan menangis dulu," gumamnya sambil menggembungkan sebelah pipi.
Sasuke melepas cubitan itu lalu ganti mencubit pipi Naruto. "Kalau aku mau punya pacar nanti, dia harus sangat mirip denganmu, Dobe," balasnya cuek.
Wajah sang remaja pirang langsung sumringah. "Pacarku juga harus mirip seratus persen kayak 'Suke loh~"
"Berarti aku sendiri?"
"Hehehe~ Yang selalu aku mau memang 'Suke~ Aku tidak mau punya pacar-setidaknya sekarang-sekarang ini," tegas Naruto.
Bola langsung-entah keberapa-menancap di hati sang Uchiha, membuatnya berdebar kencang. "Kau... terlampau jujur sekarang..." gumamnya sedikit malu sambil memalingkan wajah ke kanan... memberi kesempatan pada Naruto untuk mengecup pipi kirinya dan berdiam di sana selama beberapa detik. Rona merah pun menghiasi kulitnya yang putih. "D-Dobe?"
"I love you, 'Suke~"
Debar jantung sang Uchiha semakin cepat dan sepertinya bisa terdengar dalam jarak dekat. Ia pun sengaja berdeham dan menjelaskan kepada sahabatnya, "Dengar, Naru, di Jepang tidak terbiasa diucap kata-kata itu seperti di LA. Jadi, lebih baik kau tidak mengucapkannya terlalu sering apalagi pada orang lain..."
Naruto menautkan alisnya pertanda bingung. "'Suke 'kan bukan orang lain? Aku tidak berminat mengucap sayang selain pada 'Suke dan orang yang kuanggap keluarga," jelasnya. Lalu ia menyadari sesuatu, "Kecuali 'Suke... tidak suka?" ragunya kemudian dengan suara kecil.
Yang bersangkutan menghela napas panjang. "I'm worried. Aku tidak mau kau menjadi sasaran orang-orang tak berotak," ujarnya. 'Apalagi karena dekat denganku. Perempuan di sini ganas semua!' batinnya seraya mengingat penindasan yang menimpa beberapa orang yang terang-terangan menyukainya. Ia heran dan tak habis pikir. Dengan reputasinya sebagai orang yang miskin emosi-katanya-lalu ketus dan cuek, kenapa masih ada barisan yang mengaku sebagai fans? Menyingkirkan semua yang dengan jujur mengungkap rasa suka padanya pula! Memang perbuatan itu dilakukan secara rahasia tapi ia tidak buta dan tidak bodoh-ia peringkat dua tertinggi setelah Shikamaru di sekolah! Ia tidak mau Naruto mengalami hal itu!
"Tenang saja, 'Suke. Kalau sekedar bully, aku bisa mengatasinya," ujar Naruto dengan kalem. Helaian pirangnya tertiup angin sehingga bayangannya menutupi kedua warna langitnya. Bibirnya melengkung ke atas dalam sebuah senyum lebar yang sayangnya tidak menjangkau mata. "Jealousy is an ugly thing. It creates bad will and insanity. I understand that clearly."
Sasuke merasa angin yang bertiup sangatlah dingin, menusuk hingga ke tulang belulang. Bahkan sampai membuat bulu romanya berdiri.
"But as long as I'm with you and you're with me, I'm gonna be okay."
Dan kali itu, angin berhembus cukup kencang sehingga membuat sang Uchiha menutup matanya. Ia pun tak mendengar perkataan selanjutnya dari sang sahabat. "Tadi bilang apa?" tanyanya.
Naruto menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa. Masuk yuk, 'Suke!" ajaknya sambil menarik lengan sang Uchiha. Saat itu, bel pun berbunyi lantang, menandakan waktu istirahat sudah berakhir. Mereka pun memasuki gedung untuk kembali ke kelas masing-masing.
Saat memasuki kelas, Naruto mendapati coretan besar di empat kertas yang direkatkan secara asal. Coretan itu berada di atas mejanya dan bertuliskan:
4!
Yon...
Shi...
Naruto mengerti makna di balik angka bertanda seru itu.
Mati.
Ia pun mengambil kertas itu dan melipatnya rapi. Lalu ia balas menatap gadis yang masih berdiri di sebelah mejanya sendiri yang sudah terlebih dahulu menatapnya tajam. Naruto pun mengecup kertas bersirat buruk itu dan menutupi bibirnya yang kembali melengkungkan senyum lebar yang tidak meraih mata.
I will never give up. Sasuke is mine.
-.-.-TBC-.-.-
Okeh. Update. Mahap lama! Untuk scene ini, silakan mengartikan sendiri tindakan yang terjadi terutama yang berkaitan dengan Naruto. Kyou nantikan ripiunya ya~
_KIONKITCHEE_
