Cerita sebelumnya …
"Bukankan seharusnya kamu sudah pulang Nash. Kenapa masih ada di sini? Mana teman-temanmu yang lainnya?"
"Gimana gue mau ngasih liat kartu identitas gue, kalo semua berkas penting itu gak gue bawa. Gue kan udah bilang kalo semua dibawa sama temen gue. Bahasa Jepang dari gue mana yang elo gak mengerti!"
"Daripada nyewain tempat buat dia, mending uangnya buat kamu kuliah besok aja Riko-tan. Papa itu bukan papanya dia, ngapain diurusi segitunya."
"What's now, still hating me, aren't ye f*ckin' universe!"
…
N Untuk Nash
Chapter 2 : Life is never flat!
Proud to you by:
emirya sherman
Disclaimer:
I own nothing. Kuroko no Basuke owned by Fujimaki Tadatoshi. This is only a work of fiction. If there any similarities among the names, the places or the plotlines are entirely coincidental.
Warnings:
Out of Character. Typos everywhere. Najong!Nash #kicked.
…
A/n : Fanfiksi ini saya persembahkan untuk Bang Nash.
Peace mamen.
V-.-
Selamat membaca.
…
…..
…
Nash itu rewel, serewel ibu-ibu ngidam dan serewel mahasiswa demonstran pembakar ban di depan gedung dewan. Barusan dia sesumbar pada Kagetora dan Riko. Nash langsung nyerocos mengenai kedigdayaan dirinya yang absolut. Duo Aida duduk di sofa panjang menjadi pendengar setia.
"Ha! Kalian tak tau Sutaba*(1) memangnya? Selama ini kalian para monyet itu tinggal di goa mana sih?" Ocehan Nash tidak hanya sampai di situ saja.
"Asal kalian tahu saja ya, itu adalah tempat kongkow paling prestisius pagi kawula muda dan aku masih dalam kategori muda tentu saja." Oh dan ada lagi ….
"Aku biasa ke sana, aku bisa menegaskan bahwa aku adalah kaum elit," jeda senyum pongah, "Hah ... menyenangkan sekali melihat wajah merona barista manis yang aku goda." Kemudian kuliah singkat 2 SKS itu ditutup dengan tawa spooky khas seorang Tuan Muda Gold yang menggema seantero rumah berplang 'AIDA'.
"Oh! Jadi itu kah yang kamu maksud, sebuah kedai kopi yang harga secangkir kopinya saja lebih mahal dari 20 butir telur itu?" batin Riko. Iya neng, kafe itu yang dimaksud Nash, yang logonya bergambar Mbak-mbak berambut gondrong(?) itu.
"Oh, maaf saja ya kalau kami itu tinggal di goa, semoga kamu tidak tersinggung dengan kami yang hanya manusia goa ini!" Kagetora nyatanya mulai jengkel, koyo di kedua pelipisnya telah diganti menjadi koyo cabe.
"Hei hei, jangan marah gitu dong, aku kan hanya menceritakan keseharianku."
Kagetora menyahut, "Tch, gak butuh ya. Terus maumu apa boncel? Aku harus keluar untuk membelikanmu secangkir kopi di kedai beraura kapitalis itu?"
"Tentu saja tidak Old Man, aku ini sedang menawari kalian jalan ke Sutaba tahu. Tenang saja aku yang traktir."
Sementara respon Riko adalah merinding dan alisnya terangkat tinggi. "Hah, Percaya diri sekali kau!" ujar Riko dalam batin, namun lisan yang keluar adalah, "Kalau tidak salah, semua barang berhargamu kan dibawa si Silver. Terus kamu mau bayar pake apa, modal ngepet? Jangan meminta bantuan selain kepada Yang Maha Kuasa ya!"
Setelah melewati debat alot, Nash akhirnya mau memilih kopi instan boleh minta dari Kagetora, barangkali lidah Nash yang selalu akrab dengan kopi kualitas tinggi sehingga tidak dapat menolerir kopi a la rakyat jelata.
"Tamu adalah raja. OK?" Nash bersandar di sofa, menyilangkan kaki dengan angkuh sambil menyisir rambutnya dengan tangan ke belakang, sok ganteng. Riko hanya memasang wajah algojo. Kagetora telah balik ke kamarnya, kepalanya kepanasan karena koyo cabe.
Nash menyesap kopi a la rakyat jelatanya. Riko berdiri di depannya.
"Bagaimana kopinya ndoro? Perlukah saya tambahi Nutri Sa(ry di dalamnya? Perlukah saya belanja ke Brazil langsung untuk membeli biji kopi?"
"Frankly, ma dear. I don't give a damn. Selama kamu ada di sisiku, gak ada yang aku butuhkan. Is it clear babe?" Tidak hanya mulut, otak Nash sengklek perlu dikalibrasi, mungkin ini efek kepentok meja tadi sore.
Riko diam mematung sejenak, mengumpulkan rohnya yang tercerai-berai gara-gara gombalan Nash. Kemudian menjawab dengan santai, masih memasang wajah algojo. Menyesal dia membuatkan Nash secangkir kopi.
"OK ... when will you die?"
"He? Mana aku tahu my dear. Aku ngerti kalau kamu ingin mendampingi aku sampai maut memisahkan kita tapi please … tunggu sampai aku memutuskan pacar-pacarku di USA baru aku bisa melamar kamu. Oke?" Nash masih menggombal sambil mengedipkan sebelah matanya genit pada Riko.
"Jijik tahu gak, ngapain kek sono." Riko meninggalkan Nash kemudian membuang sampah ke luar, cukup lama karena dia harus memilah berbagai kategori sampah. Riko kemudian masuk rumah lagi dan berjibaku membersihkan peralatan dapur yang menggunung, 'Yosh … tatakae!'
Setelah perkakas dapur beristirahat di habitatnya, Riko kembali ke kamarnya berniat meneruskan menonton DVD yang dibawakan oleh Kuroko dan Kagami. 'Tunggu Bunda sebentar lagi anak-anakku.' Batinnya bermonolog pada dua dus DVD di kamarnya.
Papa Kagetora nongol dengan tiba-tiba, "Riko, jangan tidur terlalu larut oke. Tidak baik untuk kecantikan."
"Nasehatnya harusnya buat Papa. Gak sadar apa, keriput Papa tuh lebih banyak." Riko balik kanan, maju jalan.
"Gitu ya." Ujar Kagetora nista.
…
"Bundaaa pulang anak-anak … he?" Riko diam sejenak, melihat sesosok gumpalan bertutup selimut di ranjangnya. Penasaran, ditariknya selimut demi melihat Nash yang sedang bergelung di sana.
"OI …. NGAPAIN DI SINI, INI KAMAR GUE! KELUAR SONO!"
"Well I don't see your name on it."
"Apaan sih, kamar gue ya kamar gue! LU GAK LIAT ADA PAPAN NAMA GUE DI PINTU!" Memang benar ada papan bertuliskan 'Riko' di pintu kamar itu tapi tertulis dengan huruf Kana, Nash tidak lihat tepatnya tidak tahu itu aksara spesies apa.
"Ya mana aku tahu tulisan prasasti macem itu my dear … Jangan ngelawak deh."
"TIDUR SAMA PAPA AJA SANA … MASA LU TIDUR DI SINI."
"I need my privacy, oke? Aku kan numpang di rumah ini, terus aku harus tidur sama Om-om bangkotan itu gitu. Ya mending di sini lah."
"Masak kamu tidur sama cewek sih! Ini bukan di rumah kamu tahu!"
"Loh 'Rico' kamu kan cowok, jadi gak apa-apa kan kalo kita tidur seranjang kayak kamu bakal hamil aja."
"COWOK JIDATLU! MAU GUE ADUIN KE KOMNAS PERLINDUNGAN PEREMPUAN! LU NGELECEHIN GUE TAHU GAK."
Sesuai yang dilansir dari chapter sebelumnya, dalam benak Nash nama 'Rico' adalah nama laki-laki. Ini terjadi karena salah seorang kenalan Nash asal Mexico itu bernama 'Rico', dan orang yang bersangkutan itu laki-laki.
Di ambang pintu muncul Kagetora, "Oi … oi … ada apa ini, NASH NGAPAIN KAMU DI KAMAR PUTRI KESAYANGANKU!"
"Hah … putri? dia perempuan apa laki sih? Kok dadanya kayak triplek gitu?" Kata Nash kurang ajar.
Kedua Aida itu buru-buru menjewer kuping Nash dan menyeretnya keluar, "Keluar kamu kampret!"
Dan tambahan dari Kagetora sambil berkacak pinggang, "Ck … ck… Hanya aku, Papanya yang boleh tidur sama Riko-tan~"
"Halah! kamu juga sama saja Baka Oyaji, keluar sana!"
BLAMM … pintu ditutup menyisakan dua laki-laki yang jatuh tengkurap di depan kamar Riko.
…
Berbekal selembar selimut garis-garis mirip selimut properti rumah sakit, Nash membaringkan diri di sofa yang sempat ditidurinya tadi siang, lupakan bagian Nash yang dihujami serangan alas kaki dan berakhir pingsan terantuk meja.
"Kurang ajar dua b*stard itu, sialan kenapa sih sofa orang Jepang tu kecil-kecil, gak muat lagi. Gak ada kamar lain apa? Ck … ini rumah atau kandang ayam sih kecil banget. Kamar buat tamu aja gak ada, besok kalo gue udah pulang ke Amrik gue suruh Papih beliin rumah yang gede sekalian, biar sadar tuyul dua itu."
Sebuah paragraf didedikasikan demi penyampaian aspirasi Nash berupa makian dan sumpah serapah. Yakali mau memberi rumah, biaya untuk memiliki tanah itu mahal Ndoro Nash, apalagi biaya di kota-kota besar di Jepang. Jangan sok kamu. Heran, Nash yang menyandang embel-embel 'Jr.' aja seperti ini apalagi yang 'Sr.'!
…
"Nash, bangun sudah pagi." Kagetora memanggil Nash yang masih mendekam di atas sofa. Namun Kagetora tak mendapat jawaban.
"Bangun oi, sarapan sana, hari ini kita harus ke Departemen Imigrasi kan?" Kali ini Kagetora sambil menepuk (atau menabok?) bahu Nash.
Kelopak mata Nash dipejamkan paksa oleh yang empunya dan hanya ada gumaman dari Nash sebagai jawaban. Kagetora tak mau menghabiskan waktu membangunkan manusia rewel ini, ditariknya bulu mata Nash sampai rontok beberapa helai.
"ARRRGGG … LO NGAPAIN SIH ORANG TUA!"
"Elo yang ngapain, dari tadi udah bangun juga. Elo tidur apa mati suri!"
"Ha! Aku bukannya 'sudah bangun tidur' tapi 'masih bangun'. Aku tidak bisa tidur sama sekali tahu. Kalian ternak nyamuk di dalam rumah ya!"
"Ya kenapa kamu tidak minta obat nyamuk. Tinggal ketuk pintu juga."
"KALIAN TIDUR KAYAK KEBO TAHU, GAK BISA DIBANGUNIN. POKOKNYA SEKARANG BIARIN GUE TIDUR, TITIK."
"Yaudah, gak usah teriak-teriak. Tetangga jaraknya cuma 6 meter tahu. Sarapan jatahmu di meja makan, aku di kamar mandi gak usah nyariin."
"Ngomong mulu lo."
Dari pintu depan Riko sedang memakai sepatu kemudian mengelus dada –datarnya- prihatin, "Papa … aku berangkat."
"Hati-hati my dear." Malah Nash yang menjawab.
"Gue gak pamit sama elo ya." Riko menutup pintu –yang sudah diperbaiki tentunya- kemudian lari sprint menuju peradaban yang lebih damai dari pada rumahnya.
Efek dari tidak bisa tidur semalaman, kepala Nash pening, serasa ingin muntah dan lapar bukan main. Dilemparnya selimut properti rumah sakit itu sembarang arah kemudian melangkahkan kaki ke meja makan, "Sarapan kayaknya asyik nih."
Baru saja Nash membuka tudung saji, dilihatnya sarapan jatahnya, roti bakar berwarna gelap dan selai nanas yang lupa belum ditutup sehingga dikerubuti semut.
"Mereka barusan sarapan makan arang ya?" Nash mencomot satu 'roti bakar' dengan ujung jampol dan ujung telunjuknya.
"Apa roti khas Jepang itu seperti ini? Emangnya ini masih bisa disebut roti? ini sih unidentified dark matter!"
Semilir angin jendela menerbangkan helai pirang Nash, seakan berkata,"Sabar ya bro."
Tak perlu menunggu lama jiwa penguasa Nash mengambil alih dan, melabrak Kagetora.
DOK … DOK … DOK…. Nash menggedor pintu kamar mandi, di dalamnya ada Kagetora sedang melepas bekas koyo cabenya tadi malam.
"PAK TUA ELO DENGER GUE KAN! BAGI DUIT GUE MAU BELI MAKANAN DI TOSERBA DEPAN AJA!"
"Kan udah disiapin roti bakar sama Riko-tan." Oh, jadi makanan hitam itu adalah ulah Riko. Pantas saja ada perasaan mencurigakan sejak Nash melangkah masuk ke rumah keluarga ini.
"Gue gak mau makan, udah dikerubuti semut," Nash kemudian menambahkan pelan, "Selainya." Sebenarnya unidentified dark matter yang katanya roti itu sudah Nash sepak ke luar pagar.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Kagetora yang kaget tak sengaja menarik koyo di pelipisnya sampai tercabut paksa, perih.
"Kagak bisa nih, lihat berita sono. Berita Kapten Jabberwock yang ngilang udah kesebar seantero infotaintment loh. Yakin mau keluar sendiri? Yah emang sih, mungkin saja mereka bisa membantumu. Tapi yakin bisa menghadapi pertanyaan wartawan tentang kekalahan timmu kemaren. Yakin masih punya muka? Harusnya kamu itu bersyukur, keluarga Aida yang MAKMUR ini mau memberi suaka kepadamu." Kagetora memberi informasi dengan songong.
"Terus gue sarapan pake apa nih."
"Rebus mie sono."
…
Nash itu tidak pernah memasuki dapur, karena dia yakin area dapur itu khusus habitat wanita –maksudnya untuk memasak- kecuali untuk Mamihnya Nash yang tidak bisa memasak sama sekali. Sedari kecil Nash juga tidak pernah mencicipi penemuan yang disebut Mie Instan. Barulah di Jepang ini dia melihat penampakan dari makanan legendaris bagi anak rantauan itu.
Satu-satunya makanan cepat saji yang ia kenal adalah Krabby Patty dari WcDonald (A/n: Tolong diucapkan 'Wek Donal' bukan 'Wese Donal', Oke? Karena yang dimaksud adalah sebuah merk makanan cepat saji bukan toilet.)
"Masaknya gimana yah?" Setiap bungkus Mie instan pasti ada cara penyajiannya, sayang Nash tak mengerti aksara yang dipakai di Jepang. Bahkan tidak ada versi Bahasa Inggrisnya, sungguh chauvinistik.
Mau tidak mau dia membawa sebungkus Mie dan menuju kamar mandi untuk menanyai Kagetora, namun kamar mandi kosong. Di mana gerangan si Pak Tua Daughter complex itu? Nash langsung menuju kamar Kagetora dan menemukan si pemilik rumah sedang menggunting koyo menjadi persegi kecil.
"Pak Tua masaknya gimana nih?"
"Ha? Ya rebus di air lah, terus tunggu sampe mateng. Gue mau tidur. Kalo elo sudah selesai jangan lupa mandi terus kita berangkat ke Bagian Imigrasi. Pusing gue. Udah sono, gue percaya elo. Asal jangan ngebakar rumah orang sembarangan."
Petunjuk Kagetora sama sekali tidak menolong. Gembel banget dah.
Nash menaruh panci di atas kompor, mengisinya hanya dengan air satu gelas kecil yang kira-kira 200 cc kemudian menghidupkan kompor. Api biru menyala terang. Nash tak peduli airnya mendidih atau belum, dia langsung mencemplungkan Mie rasa rendang itu seplastik-plastiknya ….
Duh Gusti, paringono sabar *(2). Alhasih bungkus Mie itu hanya mengambang.
Nash tidak yakin dengan petuah Kagetora sehingga entah bagaimana caranya dia memindahkan sedikit api dari bawah panci ke atas plastik pembungkus. Beberapa bagian plastik meleleh meninggalkan jejak hitam.
"Kok jadi kayak gini sih." Akhirnya Nash menyerah dan berniat menanyai Kagetora saja.
…
Kagetora menuju dapur dengan terseok-seok, samar-samar tercium bau plastik terbakar. Kemudian melongok ke arah Mie rebus Nash …. Bentuknya sudah menyerupai amoeba.
"Alamakjang …." Buru-buru dimatikannya kompor dan menyiram rebusan sedeng itu.
Kagetora menepuk bahu Nash prihatin, "Nash kamu nanti belajar masak sama Riko-tan dulu ya."
"Ha!" Padahal tingkatan kemampuan memasak Riko sepertinya belum beranjak dari level Beginner deh.
…
Chapter 2 : Bubar
…
…..
…
'Emir is typing' corner :
*(1)Sutaba : Warung kopi Starb*cks. Dalam headcanon saya, Nash suka nongkrong di sono, oke tolong biarkan sejenak delusi ini #dilempar
*(2)Duh Gusti, paringono sabar (Jawa) : Ya Tuhan, tolong berikan kesabaran.
Emir : Tuh Bang, di chapter ini kamu gak teraniaya banget kan? Saya juga menceritakan keningratanmu, saya kurang baik apa coba?
Nash : Cih apanya, pulangin gue ke Amrik gih.
Emir : Yaelah Bang, nunggu cerita ini selesai kenapa sih.
Nash : Nyet, emang ada yang nungguin elu update!
Emir : Bang saya lagi keracunan tugas makalah tahu, pokoknya tungguin sampe bubar yak …. (#kabur ke Palung Mariana)
Nash : OI GEMBEL BALIK SINI LU!
…
Chapter ini saya re-publish dengan pengeditan minor, hoho. Kemungkinan di chapter depan akan muncul chara lain.
Tunggu kelanjutannya ya :D
Jaa nee .…
