Episode yang lalu …

Nash itu rewel, serewel ibu-ibu ngidam dan serewel mahasiswa demonstran pembakar ban di depan gedung dewan.

"Kalau tidak salah, semua barang berhargamu kan dibawa si Silver. Terus kamu mau bayar pake apa, modal ngepet? Jangan meminta bantuan selain kepada Yang Maha Kuasa ya!"

"I need my privacy, oke? Aku kan numpang di rumah ini, terus aku harus tidur sama Om-om bangkotan itu gitu. Ya mending di sini lah."

"Alamakjang …."

...*...*...

...

N Untuk Nash

Chapter 3 : The day I came to town.

Proud to you by:

emirya sherman

Disclaimer:

I gain no profit by publishing this story. Kuroko no Basuke owned by Fujimaki Tadatoshi.

This is only a work of fiction. If there any similarities among the names, the places or the plotlines are entirely coincidental.

Warnings:

Out of Character. Typos everywhere. Najong!Nash. Bullied!Nash –by me-#kicked.

Selamat membaca

..

...*...*...

...

Setiap pikiran orang di musim macam sekarang pasti sama. Lebih baik ngadem di depan kipas angin, syukur syukur punya AC. Menyantap es cendol, atau liburan ke pantai untuk melihat gadis-gadis berbikini, ups.

Kalau bisa, Nash ingin mengerjakan itu semua. Namun harapannya sesulit menyuruh presiden USA koprol di depan publik, alias tidak mungkin banget. Alih-alih gadis seksi, pemandangan yang terpantul di matanya sehari-hari adalah seorang pria tua songong dan putrinya yang seperti lelaki tanpa roso-roso koko bima(?).

Oh, inikah karmanya karena iseng menyabotase rambut palsu ayahnya bertahun-tahun lalu? Hanya Nash dan Tuhan yang tahu.

Pernahkah kalian mendengar lagu anak-anak dari negeri seberang yang penggalan liriknya, "Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka ..."? Kalau dianalogikan dengan situasi Nash saat ini mungkin hampir mirip. Bedanya di Jepang tidak ada delman, dan tak ada suara tuk tik tak tik tuk suara sepatu kuda. Lalu seharusnya bocah yang menjadi si 'Aku' itu senang, riang gembira, tidak seperti Nash. Karena situasi Nash saat ini tidak sedang jalan-jalan, tidak diajak ayahnya dan tidak sedang naik delman.

"Pak tua, kapan sampainya nih?"

Kagetora di depan kemudi mengangkat dagu, kacamata hitamnya melorot, "Kau tidak lihat di depan macet gitu. Sabar kenapa sih."

"Ck. Lama."

"Situ nyuruh saya tancap gas terus menyeruduk mobil depan?"

Nash memutar bola mata, bosan. "Maksudku memang tidak ada jalan alternatif?"

"Ada."

"Nah itu dia. Kenapa ..."

Omongan Nash terpotong Kagetora, "Ada jalan, tapi lewat jalan tikus. Tidak bisa pakai mobil. Kau 'kan bilang tadi kepanasan. Kurang baik apa coba Tuan Kagetora ini."

Nash tidak menyahut, sibuk sumpah serapah dalam batin.

"Ya sudah kalau begitu nanti putar balik di depan, lalu ke rumah buat parkir mobil. Terus kita berangkat ke Imigrasi ngesot saja lah."

"Stop stop stop, gitu aja sewot. Dasar orang tua. Oke gue nurut. Rempong banget sih."

"Lah situ tidak sadar, situ juga rempong. Jangan meremehkan orang tua ya. Di Jepang jumlah lansia lebih banyak tahu. Kalau dikumpulkan cukup kalau cuma buat menggebuki kau."

Bukan salah jalannya juga 'kan kalau macet.

Kagetora merasa perjalanan 15 kilometer akan lebih panjang dari episode perjalanan Sun Go Kong menemani Biksu Tong mengambil kitab suci.

...

...

Percaya atau tidak urusan Nash dan Departemen Imigrasi lancar jaya. Persis jalanan kota saat ditinggal mudik warganya. Minus Nash yang harus berjibaku dengan pegawai setempat yang menyuruhnya antre. Dan minus Nash yang diberondong anak kecil random dengan pertanyaan absurd.

Di kursi panjang Nash mengantre, seorang anak kecil yang duduk di sampingnya menarik-narik kemejanya.

"Om om, Om bukan orang Jepang ya," tanya anak itu.

Nash menengok dan melotot horror pada anak itu. Wajah default Nash memang sudah diset sedemikian rupa, maka anak itu perlu diapresiasi sebab tidak gentar dengan tampang sangar Nash.

Maka Nash hanya menjawab singkat, "Bukan tuh."

Si anak masih nekat bertanya, "Om, Om yang main bola kemarin bukan?"

"Bukan main bola, bocah. Yang benar basket."

Si bocah mengangguk-angguk, pura-pura mengerti, "Ooh, tapi Om keren loh."

Merasa dipuji oleh bocah kecil, sifat pongah Nash muncul kembali, hidungnya makin mancung. Nash gantian yang mengangguk-angguk takzim.

Si bocah bersuara kembali, "Eh, tapi bukannya Om dikalahin sama Bang Akashi sama temen-temennya ya?"

"Bukannya Om dikalahin pakai jurus Kam3hameha ya?" kata anak itu makin ngawur.

Perempat siku muncul di pelipis Nash, merasa pemicu kesedihannya diungkit-ungkit. Namun Nash mengambil peran bijaksana, rambut pirangnya disisir ke belakang dengan jari, sok ganteng.

"Bocah, itu namanya roda kehidupan. Kadang kita di atas awan, kadang harus takluk di bawah kerasnya aspal. Paham kamu?"

Si bocah menggeleng, "Enggak paham Om."

...

...

Nash keluar melewati pintu kaca yang terbuka otomatis, kemudian menuju lapangan parkir. Urusannya selesai sudah, tinggal menunggu surat keterangan nan sakti yang dapat melegalkan dirinya pulang ke Amerika tanpa dituduh sebagai imigran gelap. Ganteng-ganteng begini kok dituduh pendosa negara.

Dilihatnya ke seluruh area parkir. Heran kenapa mobil buluk Kagetora tidak kunjung tertangkap oleh sensori saraf optikusnya.

"Hell o, sudah nunggu dari pagi sampai siang kayak gini. Si pak tua itu pakai ngilang lagi."

Seingatnya, seingat Nash loh ya. Tadi dia diantar mobil Kagetora. Ciri-cirinya tipe mobil sedan berwarna hitam. Dikendarai pria tua berkacamata hitam norak, dan memakai setelan yang tidak kalah norak pula, menurut Nash. Kagetora tadi berkata menunggu di area parkir saja sambil membaca koran.

Seorang petugas keamanan menghampirinya, "Ano ... Anda Nash bukan?"

Tenyata Nash terkenal juga, ini adalah orang asing kedua yang mengenalinya hari ini.

Si petugas kembali bertanya, "Anda Nash si bule kampret 'kan?"

Nash menatap petugas yang masih tersenyum itu dengan jengkel, "Ya aku Nash, tapi tolong hilangkan kata si bule kampretnya. Please."

"Tadi seorang dengan pseudonym(1) Tora Kage, meminta tolong saya untuk menyampaikan pesan pada Nash si bule kampret begitu."

Tanpa diperjelas pun akan ketahuan kalau itu Kagetora. Mau mengaku sebagai Pedagang lintas galaksi juga pasti ketahuan kalau itu Kagetora.

Alis Nash menukik curiga, "Ada apa memang?"

"Tora Kage-san pamit pulang duluan."

Tuh 'kan, Kagetora memang penuh intrik, dan licik.

"Sudah kuduga."

...

...

Nash menenteng tas karton dari Kagetora yang dititipkan pada petugas keamanan. Bekal untuk Nash pulang naik bis. Isinya sejumlah uang, kartu nama Kagetora dan sekerat roti yang bahkan sudah ada bekas gigitannya. Yang benar saja, Nash tahu kalau Kagetora itu pelit. Lantas untuk apa sebiji roti yang sudah tidak utuh lagi masih mejeng di sini? Kalau itu bekasnya Taylor Sw*ft sih tidak apa-apa, lah ini bekas liurnya Kagetora.

"Mau pulang ke USA saja menderitanya minta ampun."

Nash ingin buru-buru balik ke rumah berplang nama AIDA. Jumlah keseluruhan uang saku dari Kagetora tidak memungkinkan jika mau dipakai untuk berhedon ria. Setidaknya di rumah itu tidak ada orang-orang iseng yang menuduh dirinya dikalahkan dengan jurus yang bahkan tidak ada dalam universal animanga tempat Nash eksis. Contohnya saja si anak kecil random yang tanya ini-itu. Cukup untuk hari ini saja, oke.

Nash menuju tempat duduk dibagian belakang bus, memilih spot kosong dekat jendela. Di kala bokek seperti ini, Nash jadi ingat kalau Jason pernah ngutang uang dirinya untuk beli es kopi. Hm, kalau sudah sampai Amerika dan langsung bertemu Jason, sekalian saja menagih utang. Enak saja orang satu itu.

Setelah melewati beberapa blok lagi, Nash tinggal turun di halte paling dekat dengan rumah Aida. Dan di kala bokek seperti ini, dia biasa mendapatkan berlembar-lembar dollar hasil menangmain street ball. Sudah bakat, jadi tidak perlu diragukan.

Nash sedikit merenung, kalau saja waktu itu Jason tidak melupakan eksistensinya yang masih nongkrong di toilet bandara, mungkin Nash sudah guling-guling di kamarnya. Kalau saja dia tidak berada di toilet bandara lama-lama, mungkin dia sudah kembali foya-foya dengan Jabberwock. Kalau saja Kagetora tidak menyediakan rumahnya, mungkin Nash tidak akan merasakan bagaimana rasanya menjadi rakyat jelata. Dan kalau dia punya uang, dia bisa membeli makanan tanpa kemungkinan keracunan setelah ususnya gagal mencerna roti arang tadi pagi.

Melankolis, hiperbolis dan ironis. Hidup itu kadang memang susah. Pepatah ini meskipun terdengar menyebalkan, tapi memang ada benarnya juga.

"Lumayan untuk tinggal di negara yang dihuni para monyet itu," begitu rujuknya pada tim yang sudah mengalahkannya beberapa waktu lalu. Gold masihlah Gold. Masih sensi, masih merasa anak raja, dan masih suka melabeli orang asing dengan cap anggota keluarga primata.

...

...

Nash turun di halte yang benar, tinggal jalan kaki sebentar sampailah dia. Atau itu yang dia kira?

Nun di seberang jalan kira-kira 50 meter dia melihat beberapa orang yang seperti masih mengenakan seragam sedang rebut main basket. Sasaran empuk.

"Dai-chan, meskipun aku senang ketemu Tetsu-kun. Tapi aku harus pulang sekarang, acara tivi aku sebentar lagi mulai."

"Bodo."

Dari kejauhan saja suara gaduh mereka sudah terdengar.

Namun setelah diamati sepertinya dia kenal dengan kumpulan cecunguk itu. Lihat saja rambut warna-warni yang tidak umum untuk orang asia. Memangnya selama Mama mereka mengandung ngidam apa? Kertas asturo?

Satu orang berambut merah bergradasi hitam jelas Nash kenali, karena orang yang dimaksud kemarin mengunjungi, numpang makan, dan ikut melemparinya dengan sandal, Kagami Taiga. Seorang rambut biru, berkulit remang yang terlibat bentrok dengan orang pertama tadi. Seorang perempuan berambut merah muda yang mengomel karena ingin segera pulang menonton telenovela kesayangan. Sebenarnya masih ada satu orang lagi, Kuroko, yang ikut menjadi pelaku pelemparan sandal tempo hari. Nash tidak melihat orang terakhir, jadi mungkin Kuroko bisa titip absen saja?

"Well well, gak nyangka bisa bertemu dengan tiga monyet di siang bolong seperti ini," sapa Nash, Kuroko masih terlupa.

Tiga orang dan seorang invisible menengok berjamaah ke arah suara. Momoi syok menutup mulutnya yang memekik dengan telapak tangan. Entah benar-benar memekik atau karena ingin muntah masuk angin.

"Kau," Aomine perespon pertama.

"Hah, anak angkatnya Om Kagetora kesini!" Kagami perespon kedua.

Kuroko sedikit memasang wajah terkejut, namun tidak digubris.

"Siapa yang kau bilang anak angkatnya Kagetora, dasar monyet alis cabang."

Aomine berteriak kesal, "Mau nantangin hah? Gak terima sama kekalahan kemarin? Sini kalau berani! Mentang-mentang bule."

"Dai-chan, bula gak ada sangkut-pautnya."

Dibilang juga Nash masih sensi dengan hasil pertandingan kontra Vorpal Sword kemarin. Hei jangan bawa-bawa memori kelam itu dong.

"Berani nantang eh, monyet?"

...

...

Pertandingan dadakan dimulai, awalnya Nash sesumbar bisa mengelahkan mereka bertiga (plus Kuroko yang sudah dinotis). Dan tidak mungkin melawan Momoi, malu dong berantem kok sama cewek.

Merasa direndahkan oleh Nash, Aomine dan Kagami tidak mau tinggal diam. Mereka ingin tetap bertanding satu lawan satu. Hei mengeroyok satu orang itu menyalahi aturan bushido(2) Bung! Meskipun satu orang yang dimaksud di sini adalah satu orang yang angkuhnya kebangetan.

Kuroko yang dianggap lemah didiskualifikasi paksa, dia sedang duduk anteng minum milkshake. Momoi menjadi wasit dadakan sekaligus tukang tulis skor. Aomine kipas-kipas dengan daun kering. Kagami yang mendapat undian maju terlebih dulu. Hancurkan saja tirani kejam seorang yang mirip namun tidak mirip dengan Kise itu.

Barang siapa yang dapat memasukkan bola ke ring 5 kali, dialah yang menang. Waktu tidak ditentukan.

...

...

Namun memang dasarnya Nash, bukan maksud menyombongkan bakat atau sekadar hoki belaka. Kurang dari 12 menit Kagami kalah telak, Nash terbahak. Harusnya pakai uang taruhan sekalian, untuk menambah pundi-pundi uang.

"Sekali lagi! Aku gak mungkin kalah dari Kise gadungan macam kau," jari telunjuk lentik Kagami terlihat menunjuk-nunjuk hidung Nash.

"Siapa juga yang Kise? Siapa juga yang gadungan? Sembarangan!"

Hari makin sore, untuk menghemat waktu Kagami disuruh mundur. Aomine menggantikan perjuangan.

Pertandingan dimulai, lapangan entah kenapa makin ramai, pengunjung berdatangan. Momoi, Kuroko, dan Kagami nonton berjejer di pojokan.

Dalam 12 menit Kagami dikalahkah, dalam 12 menit Aomine hanya mampu memasukkan bola sekali. Sedangkan Nash masih di atas angin.

Sementara dua orang menjadi objek atensi di lapangan, tiga orang panonton awal anteng menonton.

Setelah menilik pengalaman pribadi saat dulu One on one melawan Aomine yang mana Kagami tak dapat mencetak satu skor pun. Kemudian melihat pertandingan One on one Aomine melawan Nash saat ini, Kagami dapat membuat sebuah silogisme sederhana dari hasil belajar subjek matematika hari ini.

Premis 1 : Jika melawan Nash, Aomine kalah.

Premis 2 : Jika melawan Aomine, Kagami kalah.

Kagami dapat menarik kesimpulan, "Nee … Kuroko, kemampuan Basketku sepertinya gak lebih besar dari butiran partikel pasir Palung Mariana."

Jangan salah sangka pemirsa bukan maksud hati Kagami untuk berserah diri(?) Dalam batin Kagami bersumpah, 'Nanti aku akan meminta Pelatih untuk memberikan menu latihan baru padaku, kalau perlu minta bantuan si Commander of Hell dari animanga jadul sebelah.'

Status : Challlenge accepted Kagami!

Chapter 3 : Bubar

..

...*...*...

...

'Emir is typing' corner :

(1)Pseudonym : nama samaran
(2)
Bushido : Semangat juang seorang samurai.
Persamaan Silogismenya ngawur maksimal, tidak perlu diperdulikan.
Dear ayamaso : Voice actornya Bang Nash beda sama harapan kita euy. Kayang yuk.

Jaa nee :D .…