'Shingeki no Kyojin' © Hajime Isayama
Warning! Typo(s), AU, absurd, OOC greget, humor gagal *puk puk T_T* yang pasti author doakan semoga readers selamat sampai akhir (berhubung fic-nya kelewat freak :v)
LAST CHAPTER
"Temenin? Emang kamu mau kemana?"
"LU BERDUA SIH SANTAI! GUA YANG KAGAK BISA SANTAI!"
"Kakak ingat perjanjian kita kemarin 'kan?"
"Pemuda tampan idaman seluruh gadis distrik Maria. Calon pengusaha sukses yang berintegritas dan terpercaya. Simbol dari mereka yang berjuang untuk masa depan!"
'Sialan!'
Brunette's Choice
"Isabel, ada Sasha tuh dibawah!"
"Suruh naik aja ke kamarnya kak Eren, ma!"
"Oi oi! Kenapa harus dikamar kakak? Sana dikamar kamu aja!"
Isabel yang masih berada dikamar sang kakak dengan seenak jidat memberi perintah, tak peduli bahwa sang empunya ruangan sudah mengelus dada sedari tadi. Eren sendiri tak mau kalah. Ia mengusir adiknya, mendorong gadis itu keluar dengan tenaga berlebih—sadar bahwa sang adik pasti tidak akan mau jika ia hanya melakukannya setengah-setengah tanpa niat dari awal.
"Yaelah kak, kenapa sih? Cuma Sasha aja kok segitunya?" menolak keluar, gadis itu justru balik mendorong sang kakak masuk.
"Kamu punya kamar sendiri 'kan? Dengar kata kakak atau kamu nanti pergi sendiri?" Eren mengancam licik, bersedekap penuh kemenangan dihadapan duo Jean—Levi yang memandang bosan pertengkaran klasik keluarga Jeager.
"Kamarku berantakan kak, malu sama Sasha," Isabel menjawab dengan wajah innocent.
Kurang ajar memang!
"Kalau tau kamarmu berantakan ya dibersihin dong! Gimana sih? Perawan kok jorok!"
"Kak Eren juga! Kamar udah kayak kapal pecah gini! Gimana sih? Perjaka kok jorok!"
Baiklah. Eren mungkin tidak perlu berfikir dua kali untuk menghabisi adik kandungnya yang luar biasa kurang ajar itu. Dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat baginya untuk memperagakan adegan kesukaannya dalam film action—horror—thrillernya : 'memutilasi sang korban'! Atau mungkin dia bisa menambahkan beberapa scene favoritnya dari salah satu anime yang rajin ia tonton —yang sekarang sudah tamat dua season dengan alur yang melenceng cukup jauh dari original story-nya dan membuat sang bocah brunette tidak sabar dengan adaptasi Live Action-nya yang dikabarkan akan tayang summer nanti— 'memakan daging manusia'!
Resmi sudah!
'Eren Jeager vs Isabel Jeager'
Iklan ini dipersembahkan oleh—
"JANGAN, KAK EREN! ISABEL ITU ADIKMU! SADARLAH KAAAAAAKKKKKKKK...!"
—Sasha Blouse.
Oke, maaf! Kesalahan teknis!
Seorang gadis yang muncul entah darimana segera menerjang tuan muda Jeager, menjauhkan pemuda itu dari sahabat merangkap ketua gengnya—geng alay yang mereka sebut dengan 'Ikatan Wanita Teraniaya Maria Internasional High School'. Mendadak kamar sang pemuda bermanik emerald itu menjadi medan kegajean para remaja tanggung sementara duo Prancis yang berada di ruangan itu hanya pundung di pojokan lantaran sama sekali tak dipedulikan oleh rekan Jerman mereka, termasuk si wanita Skotlandia yang baru saja tiba itu.
"JANGAN PEGANG-PEGANG GUA, SASHAAAAAAAA...!"
Eren teriak gaje, gemes banget sama sohib sang adik yang baru datang udah ngajak ribut. Bingung juga dia bagaimana adik perempuan tersayangnya itu —yang saat ini sedang mendeklarasikan perang dengannya— bisa mendapatkan teman freak macam Sasha, yang setiap datang ke rumah mereka pasti selalu menggunakan 'puppy eyes no jutsu' pada sang bunda tercinta untuk membuatkan mereka kentang goreng. Dan entah apa yang terjadi pada sang bunda, mama Carla dengan senang hati akan membuatkannya! Sungguh! Memang rumah mereka kebun kentang apa? Atau jangan-jangan sebenarnya Sasha adalah adik kandungnya yang hilang! Saudara kembar Isabel! Lihat saja, bahkan warna surai mereka sama! Baiklah, sepertinya otak Eren sudah terkontaminasi dengan tontonan mama Carla setiap sore —sinetron ngaco berjudul 'Gadis Kentang yang Terbuang'!
"AKU BAKAL LEPASIN KAK EREN KALAU KAKAK JANJI NGGAK BAKAL BUNUH ISABEL!"
"SIAPA JUGA YANG MAU NGEBUNUH ISABEL, SIH?! GUA TUH KAKAK YANG BAIK, YA! TADI GUA CUMA BERCANDA!"
Eren mencak-mencak, kekesalannya telah sampai di ubun-ubun dan itu membuat Jean berani bersumpah bahwa ia melihat kepulan asap yang membumbung dari atas kepala sang sobat dengan manik nefrit tersebut. Pemuda bersurai choco milk itu bangkit berdiri, berjalan meninggalkan Levi yang masih pundung di pojokan dengan tidak elitnya —merasa 'the strongest human' itu dicampakkan begitu saja, bahkan oleh sang kawan seperjuangan!
"Calm down, Eren. Jangan kasar sama perempuan, gak baik untuk kesehatan."
Baiklah, sepertinya yang mengalami korsleting saraf otak disini bukan hanya Sasha Blouse —Jean Kirschtein juga!
"Hah? Apa hubungannya 'Jangan kasar sama perempuan' dengan 'gak baik untuk kesehatan'?"
Eren gagal paham.
Author gagal paham.
Readers gagal paham.
Selesai. Kelas dibubarkan.
("Oke, cukup! Jangan motong dialog terus, author sialan!")
Sepertinya Jean sudah memasuki tahap stadium akhir untuk penyakit kronis 'korsleting saraf otak'-nya.
"Jadi maksudnya seperti ini, wahai muridku Eren Jeager," Jean memulai ceramah pintarnya, berusaha terlihat keren seperti Levi dihadapan duo gadis freak, Isabel—Sasha. Entah apa yang diharapkan Kirschtein muda itu dari dua mahkluk astral ini, mungkin memang tidak ada kata 'menyerah' dalam kamus kehidupannya?
Baguslah jika seperti itu!
"Baiklah, Pak Guru Jean."
Entah apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba saja Eren sudah duduk anteng diatas ranjangnya bersama sang adik dan teman laknatnya disisi kanan. Levi yang sedaritadi asyik pundung di pojokan juga ikut-ikutan duduk disebelah kiri Eren, siap mendengar ceramah singkat mengenai makhluk bernyawa yang disebut dengan 'perempuan'. Mungkin saja setelah Levi mendengar nasehat Pak Guru Jean, kata 'malam minggu' bukanlah menjadi momok menakutkan lagi untuknya?
Siapa juga yang tidak takut jika setiap hari diteror oleh berbagai macam pesan aneh yang masuk ke ponselnya oleh seorang senior wanita? Apalagi berbagai ancaman akan membawanya kabur semakin meningkat setiap malam minggu?
Miris juga melihat lelaki tampan diteror wanita.
#PrayForLevi
Kakak kelasnya, Petra Rall, memang sudah terlalu sering memberikan kode padanya —yang diartikan oleh Levi bahwa sang senior bersurai madu itu minta ditembak dalam arti konotatif. Tapi begitulah! Namanya juga Levi Ackerman, 'ganteng-ganteng tsundere'!
(atau mungkin terlalu takut?)
Kasihan sekali Petra—setiap hari harus selalu berteriak didalam hati, 'Notice me, kouhai!'
#PrayForPetra
"Jadi begini, perempuan adalah mahkluk Tuhan yang—"
—krauuusss~
Dan saat itu juga semua mata tertuju pada Sasha yang memotong pembicaraan Bapak Guru Jean Kirschtein dengan kelakuan seperti biasa, mengunyah keripik kentang yang diambilnya secara kurang ajar di ruang makan keluarga Jeager. Siapa lagi orang yang meletakkan keripik penuh karbohidrat itu disana kecuali mama Carla yang memang sudah tahu bahwa Sasha pasti akan datang berkunjung? Eren menghela napas, bisa bangkrut keluarga Jeager kalau setiap hari harus menyediakan kentang sekarung penuh untuk gadis muda sahabat adiknya itu!
"Ekhm!"
Jean terbatuk pelan dengan cara yang menurutnya paling elit, berusaha mengembalikan atensi murid-murid mendadaknya setelah Sasha dengan seenak burger keju kesukaan Eren memotong penjelasannya.
"Baiklah—kembali ke topik. Saya mempunyai penjelasan yang logis dan berkualitas untuk menjabarkannya," Jean nampak berwibawa—setidaknya begitu yang diharapkannya.
"Jadi seperti i—"
"Eren—Isabel! Ayo ajak teman-temannya kebawah! Kita makan siang dulu!"
Baiklah. Mungkin Jean Kirschtein memang tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang guru.
XXXXX
"Jadi Isabel—Sasha, kalian mau ngomong apa?"
Jean bersender pada kursi nyaman keluarga Jeager di halaman belakang, kenyang sudah perutnya setelah terisi asupan lezat buatan mama Carla. Levi disampingnya, duduk manis dengan satu kaki menumpang pada kaki lainnya—tampang bos sengak. Duo gadis freak Isabel—Sasha duduk dipinggir kolam kecil mengamati ikan yang berenang-renang —katanya biar mirip sinetron-sinetron galau tontonan mama Carla. Tuan muda Jeager sendiri masih didalam rumah, membantu mama Carla tersayang merapikan peralatan makan mereka. Well, walaupun dia laki-laki, dia juga harus bisa mengerjakan urusan rumah tangga bukan? Setidaknya ia ingin menjadi contoh yang baik bagi sang adik, walau jelas Isabel akhir-akhir ini terlalu kurang ajar padanya.
"Nanti aja, kak Jean. Tunggu kak Eren dulu," Isabel menjawab santai, membuat Levi memicingkan matanya tajam pada manik emerald gadis didepannya.
"Kenapa bukan Isabel yang membantu mama Carla?" Levi bertanya dengan nada yang dibuat semanis mungkin, walau jelas itu mustahil sebab ekspresinya tak mendukung sama sekali.
"Huh? 'Kan sudah ada kak Eren. Lagipula 'kan kak Eren anak sulung, dimana-mana yang sulung itu bertanggungjawab 'kan?"
'Pantas si Eren kesel banget sama adiknya'
"Begini Isabel. Untuk masalah kebersihan, kamu tidak bisa hanya mengandalkan kak Eren untuk membantu mama Carla setiap hari. Kamu juga harus ikut membantu," remaja kekurangan kalsium itu menceramahi adik sang sahabat dengan lembut, yang sekali lagi sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh seorang Levi Ackerman.
Isabel menggelengkan kepala.
"Kamu 'kan perempuan, masa kalah sama laki-laki sih?"
Isabel menggelengkan kepalanya lagi.
"Atau kamu ingin kak Levi ajarin gimana membersihkan seluruh ruangan di rumah ini? Sasha juga boleh ikut."
Kali ini Sasha ikut menggelengkan kepala.
"Ayo, Jean. Kita ajari para pemula ini bagaimana cara bersih-bersih yang baik dan benar sesuai dengan ketetapan yang berlaku."
Dan sekarang Jean ikutan geleng-geleng kepala.
Memang cuma Levi saja yang mengikuti aturan kebersihan yang benar menurut jurnal Ilse yang ia temukan di gudang belakang Maria Internasional High School. Memang cuma Levi saja penganut paham etnosentrisme yang selalu mempermasalahkan sistem kebersihan setiap orang dengan ukurannya sendiri. Dan memang cuma Levi saja yang lebih mempermasalahkan kebersihan dibanding tinggi badannya! Mungkin dia lebih menyukai sabun detergen dibanding susu berkalsium tinggi? Yah, bisa saja!
'Levi Ackerman—seorang clean freak paling terkenal seantero distrik Maria ; berwajah rupawan namun tidak memiliki emosi dengan tinggi badan yang menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan'
Tap tap tap...
"Oi Levi! Jangan ngeluarin aura negatif di rumah gua. Lihat! Ikan-ikan gua udah pada ketakutan semua ngeliat wajah lu! Please, tatapan lu bisa ngebunuh ikan-ikan gua!"
Eren yang telah selesai membantu mama Carla muncul dari balik pintu, berjalan menuju tempat rekan-rekannya lalu duduk disalah satu kursi disana. Iris hijau indah miliknya menatap sendu ikan peliharaan sang bunda lalu berganti menyorot sinis obsidian tajam yang balas memandang datar seolah tak peduli.
"Ikan-ikan lu gak akan mati," Levi menjawab tenang.
"Mereka bakal mati kalau lu terus-terusan ngeluarin aura suram disini. Ikan-ikan gua itu sensitif, apalagi sama ekspresi lu yang horor itu," Eren balas menjawab, sesekali memandang makhluk berinsang yang berenang gelisah tersebut. Levi yang masih duduk tenang merasa tersindir juga. Dia mengangkat kaki kanannya lalu bertumpu pada lutut kirinya, tersenyum menatap sang kawan keturunan Jerman dihadapannya. Bukan! Bukan senyum maut yang dapat membuat Petra Rall menjerit histeris lalu mati mengenaskan! Itu senyum maut ala psikopat haus darah!
"Aku akan membuat ikan bakar untuk ayah dan Mikasa nanti malam. Mungkin sir Jeager mau memberikan beberapa peliharannya yang terlihat sedap ini."
Dan saat itu juga Eren memberikan deathglare andalannya, yang suatu kali pernah ia praktekkan pada Isabel namun berakhir dengan gelak tawa adiknya tersebut. Katanya sang kakak sama sekali tidak berbakat untuk menunjukkan emosi seperti itu. Yah, mungkin karena di rumahnya Eren selalu memberikan senyum menawan kebanggaannya dan itu membuat otak sang adik sudah terprogram sempurna —memberi persepsi bahwa sang kakak adalah orang baik. Tidak tahukah Isabel bahwa kakaknya itu seorang psikopat berkedok 'Lelaki penurut kesayangan mama Carla' —walau jelas pengecualian untuk kepolosannya dulu, itu sama sekali bukanlah akting!
"Mereka ikan hias, Levi—bukan ikan konsumsi," suaranya merendah.
"Aku tidak peduli. Mereka daging dan kaya protein," dan Levi membalas dengan sorot mata tajam serta seringai yang masih terpahat apik pada wajahnya, tidak mau mengalah dari si idiot brunette yang entah mengapa sangat pintar dalam akademik namun begitu tolol untuk hal-hal biasa.
"Aku yakin sir Ackerman tidak terlalu bodoh untuk membedakan mana ikan hias dan mana ikan konsumsi," Eren juga tidak mau kalah dari si cebol didepannya.
"Dan aku yakin sir Jeager tidak terlalu jahat untuk membagi ikan-ikannya yang manis ini pada putra sulung sahabatnya."
"Aku sangat yakin sir Ackerman memberikan asupan makan yang salah padamu, Levi."
"Dan aku sangat yakin sir Jeager tidak memberikan pendidikan karakter padamu, Eren."
"Aku merasa kasihan pada Mikasa yang memiliki kakak sepertimu."
"Dan aku juga merasa kasihan pada Isabel yang memiliki kakak sepertimu."
10 menit kemudian...
"LU GAK USAH BANYAK OMONG YA, CEBOL SIALAN!"
"EH PERANAKAN PRIMATA, MULUT LU BISA DIJAGA GAK SIH?!"
"GAK USAH TERIAK-TERIAK DI RUMAH GUA, KAMPRET?!"
"NGACA, WOY! LU YANG MULAI DULUAN!"
"KALAU GITU LU JUGA JANGAN IKUT-IKUTAN!"
"LU YANG MEMPROVOKASI GUA, YA?!"
"BAHASA LU BERAT! MALU SAMA TINGGI, WOY?!"
"EH, KULIT BADAK! GAK USAH RASIS GITU DONG!"
Dan pertempuran absurd duo cebol—primata (baca:Levi—Eren) terus berlanjut hingga Isabel dan Sasha yang mulanya ingin membicarakan sesuatu akhirnya mengurungkan niatnya. Jean yang dicampakkan begitu saja oleh dua sohibnya juga hanya bisa elus dada, sama sekali tidak menyangka bahwa Levi yang kalem menjurus dingin itu bisa bertingkah seperti hewan liar jika sudah berhadapan dengan Eren. Jujur saja, sebagai teman sedari kecil seorang Eren Jeager, Jean Kirschtein tentu paham betul bahwa anak itu memang berpotensi menjadikan suasana hangat nan tentram menjadi medan tempur Perang Dunia III hanya dengan omongannya yang tidak bisa dikontrol itu. Dan well, Levi Ackerman adalah salah satu korbannya!
"Udah, kak Eren! Jangan berantem lagi!"
"Iya! Kak Levi juga!"
"DIAM!"
Baiklah. Mungkin Isabel dan Sasha harus mengunci mulut mereka rapat-rapat, jangan sampai membuat primata jadi-jadian serta teman cebolnya itu mengamuk lagi. Sudah cukup mereka diteriaki untuk diam oleh keduanya dengan sorot mata menakutkan seperti itu. Di sisi lain, Jean merinding disko —baru menyadari bahwa teman polosnya yang dulu sempat menjadikannya bulan-bulanan papa Flagon tersayang akibat miss comunication itu ternyata sangat menyeramkan bila marah!
Ternyata benar kata orang, 'mereka yang biasa tersenyum justru yang paling mengerikan jika sedang marah'.
Dan sekarang pertanyaannya adalah, 'kenapa Eren dan Levi bisa sampai ribut besar seperti ini hanya karena persoalan sepele menyangkut ikan-ikan peliharannya mama Carla? Bahkan ikan-ikan itu juga tidak mengerti dan tidak peduli apa yang dilakukan duo idiot itu!'
"Eh, lu berdu—"
"—APA?!"
Sekarang gantian Jean yang kicep. Ia menutup mulutnya, beringsut menjauh dari dua iblis yang sedang berperang tersebut setelah Eren kembali menyerangnya dengan tatapan sengit —bergabung dengan Isabel dan Sasha yang sudah terlebih dahulu mengendap-endap menuju pintu yang menghubungkan taman belakang dengan ruang tengah.
"KALIAN MAU KEMANA, HAH?!"
Sontak ketiga makhluk yang tak tahu apapun itu menoleh, menatap penuh takut pada sosok bertubuh tegap namun memiliki tinggi badan yang menyedihkan itu. Levi disana —berdiri dengan interval yang cukup lebar antara dirinya dengan Eren, sama-sama berkacak pinggang dengan tampang belagu yang membuat Jean ingin sekali menjitak surai brunette dan raven itu bersamaan melihat gaya keduanya yang kelewat songong itu. Namun dia tidak akan melakukannya sekarang. Tunggu ketika mereka sedang dalam suasana gencatan senjata dulu —Jean juga masih sayang nyawa kali!
"I—iya, kak—ahahaha..."
Sasha nyengir tanpa dosa, menjawab sembari berlindung dibalik punggung Jean dengan tetap menggenggam jemari Isabel yang juga ketakutan. Keripik kentang terapit diantara lengannya, ikut takut untuk masuk kedalam mulut sang gadis Skotlandia tersebut. Isabel tak peduli. Ia tetap memberanikan diri melangkah menuju pintu rumahnya itu, berjalan pelan sembari menyeret Sasha yang sekali lagi masih meringkuk dibalik tubuh Jean yang sedang diam mematung sembari menunjukkan cengiran kudanya.
"Isabel, diam."
Sungguh! Isabel yakin kakaknya itu titisan iblis!
"I—iya, kak Eren... Aaahh—begini... Aku kebelet pipis, kak... Ahahaha..."
Isabel mengelak dengan alasan menjijikan —setidaknya itu yang dipikirkan Jean dan Sasha secara bersamaan— yang sangat jelas terlihat kebohongannya.
Eren dan Levi terdiam beberapa saat.
"Baiklah. Cepat pergi! Kalau sudah kembali lagi kesini. Mengerti Isabel?"
"I—iya, kak Eren. Ahahaha..."
Dan jawaban dari Eren disertai anggukan singkat Levi membuat Isabel segera ngacir kedalam rumah, meninggalkan Sasha yang masih bengong ditempat dan Jean yang ikut pasang tampang bego kepada duo sohibnya yang sedang mengalami stress akut stadium akhir.
'Ini yang bodoh itu duo geblek depan gua apa Isabel sih?'
XXXXX
"Untung aja gak pecah Perang Dunia III!"
"Iya! Bisa habis kita!"
"Gua gak nyangka lu berdua sama-sama bego."
"Eren yang bego."
"Lu kali yang bego! Dasar cebol gak tau diri!"
"Please Eren, jangan bikin Levi ngamuk lagi! Lu gak kapok apa badan pada bonyok gitu!"
"Heh! Lu pikir si Levi juga gak babak belur, hah?! Gua tuh jago bela di—ARGH! PELAN-PELAN, ISABEL!"
"Makanya kak Eren diam, jangan banyak omong."
Kini kelima pemuda-pemudi absurd itu tengah mengurung diri di kamar sang tuan muda Jeager, menguncinya dari dalam agar sang tuan besar beserta istrinya tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak mereka. Eren berada disana, duduk manis diatas ranjangnya dengan sang adik yang kini tengah mengobati luka-lukanya akibat perkelahian salah konsep dan tak jelas antara dirinya dengan Levi. Ackerman muda sendiri duduk diatas kursi belajar sang rekan, berusaha terlihat tenang walau jelas pengobatan yang dilakukan Jean itu kelewat liar dan menyakitkan—benar-benar tak bermoral dan tak tahu diri!
"Jean, bisa tolong lebih manusiawi lagi?" Levi bertanya, sarkatis benar.
"Apanya?" Jean malah balik nanya. Ini yang bego sebenarnya siapa sih?
"Ngobatin gua," Levi menjawab sinis. Tahu betul bahwa Jean sebenarnya pura-pura bego. Disumpahin bego beneran baru tau rasa!
"Maksud lu kayak gini?"
"ARGH! KAMPRET LU, KUDA! BUKAN KAYAK GITU!"
Levi refleks menampar tangan Jean yang sedang mengobati lengan kirinya begitu merasakan sakit yang luar biasa setelah Jean dengan santainya menekan daging berotot itu. Levi menjerit histeris sekali. Ah, mungkin tulang didalamnya patah? Sialan, Eren! Benar-benar primata gadungan! Kekuatannya gak main-main!
"Sasha, tolong obati kak Levi. Kak Jean gak punya sisi kemanusiaan."
Jean sweatdrop.
"A—ah! Baik, kak."
Berganti dengan Jean yang kini misuh-misuh gaje dengan serentetan sumpah serapah untuk si cebol yang tak tahu terimakasih, Sasha mengambil botol minyak dan melanjutkan acara pijat-memijat sang 'strongest human'. Pelan namun pasti, Sasha berusaha sebisa mungkin tidak memberikan rasa sakit berlebih pada seniornya itu. Bisa habis dia dimarahi Mikasa kalau sampai kakaknya kembali dengan badan yang makin babak belur karena pengobatan yang salah darinya. Tapi lebih dari itu, dia masih lebih bersyukur bisa mengobati Levi daripada Eren. Itu lebih bahaya lagi! Bisa dicincang dia kalau sampai senior kesayangan Mikasa itu yang babak belur!
Sedikit rahasia : Mikasa suka Eren tapi tak direstui Isabel.
Alasan Isabel tak merestui : Nanti populasi wanita jomblo di Maria International High School berkurang.
Alasan sebenarnya : Isabel gak mau keduluan sama Mikasa.
Sahabat kampret ya memang kayak begini. Mohon maklum.
"Bagus, Sasha. Pelan-pelan aja."
Levi bersuara. Matanya sudah merem-melek—antara keenakan sama ngantuk. Sasha sebagai subjek yang dipuji tersenyum lebar ; setidaknya ada satu hal dari dirinya yang bisa dibanggakan—memijat!
"Siap, kak!" Sasha menjawab semangat, terus melanjutkan kegiatan yang kini telah resmi menjadi keahliannya.
Sasha Blouse—Professional Massage.
XXXXX
"Eren!"
"Iya, ma."
"Tolong jaga rumah sebentar ya!"
"Mama mau kemana?"
"Ada urusan sebentar."
"Aduh mama, Eren 'kan tanya mau kemana—bukan mau ngapain."
Mama Carla hanya menggelengkan kepala, mau pergi aja susah banget—pake acara ditanyai segala sama anak sendiri! Putranya sekarang lagi belajar jadi sipir penjara kali ya? Terus itu kenapa lagi Isabel berdiri disamping kakaknya? Jadi sekretaris? Lalu apa itu maksudnya Jean—Sasha—Levi berdiri berbanjar dibelakang Eren? Mereka pengawal pribadi putranya? Sebenarnya ada apa dengan mereka saat ini?!
Astaga! Mau ditinggal tapi kenapa anak-anak ini malah kena penyakit kronis? Mama Carla gagal paham!
Bantu mama Carla, Dewa!
"Yaudah, mama hati-hati dijalan ya! Kalau ada apa-apa, langsung telpon Eren aja! Tapi jangan misscall, kartu Eren lagi dalam masa tenggang."
Mama Carla jadi makin takut meninggalkan para remaja kehabisan obat itu.
"Mama Carla tenang aja, aku bakal jagain Isabel kok! Aku juga bakal jagain kak Eren, kak Jean sama kak Levi biar gak berantem!"
Tolong bungkam mulut Sasha, Dewa!
"Kalau begitu mama berangkat sekarang ya. Kalian semua baik-baik di rumah—jangan bertengkar, jangan terlalu berisik, dan jangan kotorin rumah! Mama pulang jam lima nanti, jadi mungkin sampai rumah sekitar jam tujuh—bareng sama papa."
"Siap!"
Mama Carla berpamitan, memberi kecupan lembut penuh sayang tepat di dahi kedua anaknya. Jean, Levi, dan Sasha tak lupa membungkuk penuh hormat lalu melambaikan tangan begitu sang nyonya Jeager menaiki taksi dan menghilang di ujung jalan.
Hari ini adalah hari dimana perkumpulan ibu-ibu sosialita di distrik Maria sepakat untuk mengadakan pertemuan rutin. Mama Carla yang merupakan bendahara dari organisasi tak berdasar itu tentu diwajibkan datang. Banyak hal tak penting yang dibahas oleh para mama-mama hits ini ; sebut saja ketika mereka berlomba memamerkan barang-barang keluaran terbaru dengan label besar atau ketika mereka saling berlomba satu sama lain dalam membanggakan anaknya yang serba bisa.
Tapi tentu saja mama Carla tidak ikut untuk hal-hal yang seperti itu. Bukannya tak sanggup, keluarga Jeager adalah salah satu yang tersohor di distrik Maria. Hanya saja bergaya bak ratu bukanlah identitasnya. Apalagi ketika ia harus membanggakan anaknya didepan semua teman-temannya! Eren pintar kok! Otaknya jenius! Semua orang tau itu! Ia peringkat tiga seangkatan di sekolahnya! Isabel juga tak beda jauh dengan kakaknya—yah, walaupun otak kedua anaknya itu agak sedikit bermasalah. Tapi ya sudahlah.
Satu hal yang pasti, mama Carla bukanlah tipe orang tua yang senang membandingkan anaknya dengan anak orang lain.
Ia bangga kepada Eren dan Isabel—abaikan kerusakan saraf otak mereka.
"Yosh! Sekarang kalian semua masuk kedalam! Jangan bikin gua pusing!"
Eren segera menutup gerbang dan menggiring kawan serta adiknya masuk kedalam rumah. Kelimanya menuju ruang tengah dengan tenang. Jean, Levi, dan Sasha duduk di sofa yang sama sementara duo Jeager disana duduk di sofa yang lainnya. Entah kenapa mereka nurut-nurut aja pas Eren nyuruh.
"Jadi Isabel, tadi kamu ke kamar kakak mau ngomong apa?"
Eren bertanya, teringat olehnya sang adik yang memberikan morse melalui tatapan mata—yang disalahartikan olehnya dan duo partner in crime-nya tadi. Isabel sendiri nampak mencuri-curi pandang kepada sang sohib kentang yang duduk disebelah timur darinya itu. Setelah mendapat respon positif dari seorang Blouse berupa anggukan disertai bunyi kriuk kriuk yang entah datang darima—
Tunggu! Kapan Sasha mengambil keripik kentang itu dari meja makan?!
Ah, sure! Gak usah ditanya!
"Oke, Isabel. Sekarang kamu jangan main mata sama Sasha, kakak beneran gagal paham kali ini."
Eren pusing dua keliling.
Maaf, lapangan Maria Internasional High School itu luas banget! Bisa mati konyol kalau Eren lari tujuh keliling! Dua aja udah megap-megap!
"Hah?" Isabel mengernyit heran. Ini kakaknya kenapa deh?
"Gak jelas banget sih, kak!"
Isabel putus asa sama kakaknya sendiri.
#PrayForIsabel
"Udah, gak usah dengerin si Eren. Tadi juga kalian mau ngomong sama kita pas di halaman belakang. Ada apa?" kali ini Jean yang bertanya, melirik singkat kearah Levi sebagai subjek lain yang dimaksud.
"Oh, iya!" Isabel manggut-manggut ngerti.
"Kakak ingat perjanjian kita waktu itu 'kan?" Isabel langsung bertanya pada sang kakak dihadapannya.
"Hah? Yang mana?"
Ini Eren bener-bener lupa loh! Jangan sudzon bilang dia pura-pura lupa! Kasihan anak kesayangan mama Carla di-bully mulu!
"Itu loh kak—yang butuh pengorbanan besar," Isabel bersuara dengan nada menyayat hati.
"Ini Isabel kenapa jadi melankolis gini?" —Eren dan semua kebodohannya.
"Isabel kenapa?" —Levi dan sifat tsundere-nya.
"Eren ngapain Isabel?! Apa maksudnya 'pengorbanan besar'?! Jangan-jangan?!" —Jean dan pikiran laknatnya.
"Mama Carla masih ada keripik kentang lagi gak ya?" —Sasha dan auto fokus-nya.
Oke, seperti biasa—abaikan Sasha.
"Maaf Isabel, kamu langsung ke intinya aja. Kakak gak ngerti kalau kamu kodein mulu," Eren udah gak sabar.
FIX! EREN JEAGER ADALAH TIPIKAL COWOK YANG TIDAK PEKA!
Isabel menarik napas dalam-dalam. Ini pasti salah satu alasan kenapa kakaknya masih jomblo sampai sekarang! Pasti karena gak peka! Padahal abang gantengnya itu deket banget sama primadona sekolah yang satu kelas dengannya—Historia Reiss! Bahkan abang tampannya itu juga digosipkan dekat dengan gadis blonde cantik yang jago banget beladiri—Annie Leondhart!
Sejujurnya, Isabel bangga punya kakak yang laku keras di pasaran!
"MENGAPA KAU MEMBERIKAN DUA BIDADARI SURGA ITU KEPADA MAKHLUK HINA SEPERTI EREN, DEWA?! APA SALAH DAN DOSAKU?!" —demikian sepenggal lolongan sengsara seorang Jean Kirschtein begitu mendengar gosip murahan tersebut meluncur dari bibir sang biksu Kuil Trost—Connie Springer.
"Kakak janji bakal nemenin aku ke Universal Studio Trost!" Isabel juga udah gak sabar.
"Lah terus apa hubungannya sama 'pengorbanan besar'? Eren masih gak mudeng.
"UANG JAJAN AKU SEMINGGU, KAK?!"
Sabar, Isabel. Sabar.
"Astaga!" Eren nepok jidat begitu ingat apa yang dimaksud oleh sang adik.
"Oh iya, Trost! Maaf, Isabel—kakak sampai lupa! Ahahaha..." Eren nyengir tanpa dosa.
Apa boleh Isabel menggeplak kepala abangnya itu? Dia sudah siap puasa satu minggu, bawa bekal terus dari rumah, kalau gak cukup nebeng sama Mikasa—berhubung kalau sama Sasha pasti gak akan dibagi—, hutang sama ibu kantin yang makin menggunung, pokoknya banyak deh penderitaan Isabel!
"Jadi gimana, kak?" Isabel bertanya, melupakan semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi jika ia benar-benar harus memberikan uang jajannya seminggu untuk sang abang matre.
"Oke oke. Jadi gini Jean—Levi..." Eren memulai topiknya, irisnya menyapu dua sohib penuh dosanya.
"Jadi gini, Isabel mau ke Universal Studio Trost sama temen-temennya. Gua dimintain tolong untuk nemenin mereka. Nah, gua juga pengen ngajak kalian berdua! Gak lucu dong, masa cogan jalan sendiri! Mau dikata apa sama orang? Jomblo? Ya kagaklah!" Eren dengan pedenya mengakui diri ganteng.
Maaf, ini ajaran siapa ya? Setahu empat orang disana, Eren Jeager adalah sosok pemuda alim yang tidak suka membanggakan diri!
"LU 'KAN EMANG JOMBLO! AHAHAHAHA...!" Jean menjawab sembari guling-guling diatas karpet mahal keluarga Jeager.
Sohib kampret memang.
"Orang ganteng jalan sama orang ganteng malah lebih gak etis," Levi menambahkan, antara mengatakan bahwa ia juga tidak kalah ganteng dari Eren—malah kata orang Levi itu yang paling ganteng se-distrik Maria—atau mengakui bahwa Eren itu pasangan homonya dia.
Levi gak sadar maksud yang kedua itu. Kasihan.
"Kok lu berdua malah jadi ngehina gua sih? Padahal maksud gua baik," Eren tidak percaya dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Melankolis sekali.
"Gua gak ngehina. Gua cuma bicara fakta," Jean membela diri sembari bangkit dari atas karpet, kembali duduk di sofa dengan sedikit terkikik—persis seperti kuda meringkik.
"Gua justru muji lu ganteng," Levi bersuara juga.
Sumpah! Levi gak sadar kalau itu salah satu kalimat horor!
"Jadi intinya lu berdua mau temenin gua ke Trost gak?" Eren capek di-bully mulu.
"Saya sih, yes!" Jean yang pertama.
"Tidak," Levi berikutnya.
"Kenapa?" sontak Eren dan Jean bertanya bersamaan.
"Padahal Mikasa juga ikut loh, kak," Sasha nimbrung.
"Iya! Jadi kak Levi bisa sekalian jagain Mikasa," Isabel menambahkan.
"Justru itu. Kalau Mikasa dan Papa pergi, siapa yang jaga rumah?" Levi menjawab, memandang malas pada keempat orang yang menatapnya penuh tanya.
"Emang sir Ackerman kerja hari minggu?" Jean bertanya.
"Sir Kirschtein sama sir Jeager juga nanti hari minggu pasti keluar," jawaban Levi justru mengundang tanda tanya besar.
"Loh? Papa libur kok hari minggu," suara Isabel berkumandang.
"Mereka ada bisnis baru bertiga," Levi menjawab seadanya.
"Oohh~" dan hanya ditanggapi biasa.
Sungguh mulia kau, Levi!
"Lagipula Jean lebih butuh jodoh daripada gua," ia melanjutkan dengan senyum mengejek terpatri jelas tertuju pada sang rekan Perancis disampingnya.
"Hah?!" Jean tidak terima.
"Oh, aku paham!" tiba-tiba saja Isabel bangkit dari sofa.
"Kak Levi udah punya kak Petra sementara kak Eren tinggal pilih—mau kak Historia atau kak Annie!" Isabel dengan bangga menyerukan kehebatan sang kakak yang mampu menarik perhatian dua gadis sekaligus.
"Oh! Benar, Isabel!" kali ini Sasha yang berdiri.
"Tinggal kak Jean aja yang belum dapat jodoh!" Sasha bersuara penuh semangat.
JLEB!
"Jadi pergi ke Trost itu sekaligus ajang cari jodoh buat Jean ya?" Eren manggut-manggut paham.
JLEB! JLEB!
"Gua mendukung Jean melepaskan status jomblonya," Levi dan sarkatisnya.
JLEB! JLEB! JLEB!
"Oke, sudah diputuskan! Kak Eren akan membantu kak Jean mendapatkan jodoh!" Isabel dan Sasha melompat kegirangan.
JLEB! JLEB! JLEB! JLEB!
"Kalau gitu kak Eren gak usah pilih lagi," Isabel melanjutkan.
"Jadi disana kak Eren gak usah ikutin kita kemana-mana, cukup nemenin kak Jean cari jodoh aja!" Sasha setuju dengan sang sohib.
Oh, Dewa! Apa salah Jean?
"Kak Jean?" Isabel memanggil begitu mendapati sahabat kakaknya itu hanya terdiam menunduk.
"Kak? Minggu depan kak Jean udah gak jomblo lagi loh! Mana semangatnya?" Sasha ngompor-ngomporin.
"Oi!" Levi menepuk punggung Jean sekali sebelum sang rekan berwajah kuda itu menegakkan kepalanya dengan ekspresi tersakiti.
"AKU BUKAN JONEEESSSSSSS...?!"
XXXXX
"Kakak gak ikut ke Trost?"
"Gak."
"Kenapa?"
"Jagain rumah."
"Kalau gitu aku pergi dulu ya, kak!"
"Hati-hati, Mikasa. Kalau ada apa-apa kasih tau kak Eren aja."
"Siap!"
Di tempat lain...
"Kamu mau pergi sekarang?"
"Iya, pa."
"Naik apa?"
"Mobilnya Eren."
"Pulangnya jangan terlalu malam ya."
"Please deh, pa—Jean itu laki-laki!"
"Tapi kamu anak papa satu-satunya."
"Tolong jangan berlebihan, pa."
Di tempat lain...
"Levi sama Jean ikut?"
"Gak, pa. Cuma Jean aja."
"Terus Levi?"
"Katanya dia jagain rumah."
"Oh, begitu. Kamu disana juga jangan keluyuran berdua sama Jean aja! Lihat adik kamu sama teman-temannya itu!"
"Iya."
"Satu lagi."
"Apa, pa?"
"Tadi sir Kirschtein titip Jean sama kamu. Katanya jangan pulang kemalaman."
"Hah? Emang Jean cewek?"
"Namanya juga putra tunggal."
"Oh, iya. Papa bener."
"Terus tadi sir Kirschtein juga minta tolong sama kamu."
"Iya?"
"Katanya begini, 'Eren, kalau bisa tolong sekalian cariin sir Kirschtein menantu ya.'"
"APA?!"
The End
Akhirnya bisa dilanjut! Hahahaa~ author gak jadi bikin Eren milih siapa diantara dua sohib kampretnya untuk nemenin dia ke Trost, author malah bikin gimana cara Eren membantu Jean mendapatkan pujaan hatinya! :v
Yosha! Arigatou, minna-san! Terimakasih atas kebersamaannya dalam twoshoot pertama author! :)
Replies reviews
- Nell Neverlookback (Hahaha... Terimakasih atas review-nya, Nell-san! Terimakasih juga untuk favorite dan following-nya! Saya sangat berterimakasih! Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya! ^^)
