Sibling

[2 : Hujan]

Warning: AU! (Kakak!JJ dan Adik!Otabek), Kumpulan drabble, Kemungkinan terdapat typo yang terlewat, dan OOC.

Disclaimer : Yuri ! on Ice milik MAPPA, Mitsurou Kubo dan Tadashi Hiramatsu

Enjoy

.


Otabek mendengus kesal.

Sekarang hujan, kebetulan ia tidak membawa payung—dan JJ yang sedari tadi dihubungi tak juga menyahut.

Padahal ingin sekali minta dijemput, ia sudah terlalu lama terjebak di stasiun. Mau pulang menerbos hujan pun tak berani. Lumayan deras, bisa-bisa besok malah terkapar sakit seharian di dalam kamar. Harusnya tadi ia membawa payung sebelum berangkat. Jelas-jelas langit mendung, kenapa juga pakai acara malas mengambil payung.

Dan—salah JJ juga sih.

Bukannya mengabulkan permohonan tolong Otabek—(yang berteriak dari pintu depan meminta JJ mengambilkan payung di belakang)—pemuda itu malah asik bermain dengan handphone-nya. Katanya obrolan di grup kelas sedang ramai, tak mau tertinggal barang sejenak, nanti tak nyambung lagi dalam pembicaraan.

Menyebalkan.

Biasanya juga Otabek mau saja disuruh-suruh oleh sang kakak.

(Sigh).

Sekarang bagaimana? Mau tetap menunggu hingga reda? Masalahnya udara semakin dengin, langit juga sudah mulai gelap, dan besok ia masih harus berangkat ke sekolah. Makanya sekarang harus segera pulang.

Tapi caranya?

Serius harus terobos? JJ tak berniat menjemputnya gitu? Kemana pula sang kakak yang selalu tak bisa lepas dengan handphone? Giliran dibutuhkan malah sulit dihubungi.

Nomor sibuk lah. Di luar jangkauan lah.

Jangan bilang JJ malah enak-enakan main kekosan teman kampusnya. Mengobrol sambil tertawa bebas. Menghabiskan puluhan camilan dan minuman bersoda.

—(Kalau memang benar demikian, Otabek tak akan segan menambahkan banyak bubuk cabai pada makanan yang ia sajikan untuk JJ)

[Nomor yang anda tuju—]

Tsk.

Wajah Otabek sudah tertekuk kesal. Tadinya berdiri kini memilih duduk sambil bersandar pada tembok terdekat. Oke—Jika sampai jam tujuh nanti hujan tetap tak kunjung berhenti, Otabek akan nekat pulang terguyur hujan.

Biar saja besok demam. Otabek akan memaksa JJ bertanggung jawab mengurusnya.

(Jika yang bersangkutan tidak mau, Otabek akan melaporkan tindakan sang kakak kepada orang tua mereka yang tengah pergi dinas keluar kota.)

'JJ jemput aku di stasiun.'

'JJ balas smsku.'

'KAK jemput aku! Kau masih hidupkan?'

Erangan ketiga terdengar.

Pesan singkat yang ia kirimkan pun tak sekalipun dibalas. Matanya sampai pegal terus-menerus menatap layar. Otabek sebenarnya masih berharap JJ memberi balasan. Bukannya ge-er, tapi bukankah ia kesayangan sang kakak?

JJ tidak khawatir gitu? Mencari-cari dirinya yang tak kunjung pulang? Ayolah—jam pulang sekolah seharusnya sudah terlewat cukup lama! Masa sih tidak peduli?

"Ini kesempatan terakhirmu JJ—"

"Kenapa kau malah duduk di sini? Pantas saja aku susah menemukanmu."

(Eh?)

Kok?

(Loh?)

Otabek menatap tak percaya JJ yang entah bagaimana bisa berdiri dihadapannya. Bukankah tadi sulit dihubungi? Kenapa tau-tau bisa di sini? Sejak kapan? Dan itu, dua gelas coklat panas di tangan maksudnya apa?

"...Kenapa kau bisa—tidak menjawab telponku?"

"Kau tidak lihat apa yang kubawa ini?" JJ menyerahkan satu gelas coklat tersebut pada Otabek. "Tanganku penuh, sulit untuk mengangkat telepon. Aku sudah sampai daritadi."

"Hah?"

"Kau kedinginankan? Minumlah dulu baru kita pulang." Pemuda itu kini tersenyum. "Kenapa? Kau pikir aku tidak akan menjemputmu—uhm?"

Itu—ukh—sial.

Kenapa manis?

—MA-Maksud Otabek minuman coklat yang baru saja ia minum, BUKAN JJ

(Anggap saja pipinya tidak merona sekarang. Itu salah uap panas dari coklat dalam gelas.)

"Kenapa wajahmu merah begitu?"

"...Menurutmu?"


.

End Bag 2

.


Terima kasih sudah mau membaca, mem-fav, dan mem-follow cerita ini. Maaf kalau ceritanya mengecewakan *bows* Saya tak menyangka ada juga yang suka dengan pair ini selain saya hehehe. Saya senang—hiks *cry*

Dan TA-DA! Chap 2 pun cepat dibuat hehe. Dan ini incest sekali *cry*

Oke—Sekian dari saya, Rakshapurwa undur diri.

"Cerita ini dibuat hanya untuk menyalurkan imajinasi semata."