THE CHRONICLES OF US

Story by – (Kenjiro Teo)

Romance, Hurt / Comfort, Yaoi Chaptered PG -15 Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Jongin, Kim Jongdae, Kim Minseok and Other Cast

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama dari member EXO untuk keperluan ff. Semua yang terjadi hanya imajinasi author semata.

-

-

-

Mobil hitam pekat berbentuk van besar nampak berhenti di depan sebuah gedung tinggi menjulang. Dengan warna cerah metalik dan tampak begitu mewah. Ban mobil itu berdecit pelan tatkala tuas rem ditarik oleh sang supir. Suasana di depan gedung pun tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang melewati pintu kaca besar di bagian depan gedung.

"Ini apartemen Chanyeol. Ayo ikut aku kedalam. Chanyeol, kau juga masuk!" Titah seseorang yang diketahui sebagai manager chanyeol, Kang Joon. Yang baru saja membuka pintu bagian depan sambil menggendong tas ranselnya yang kelihatan begitu berat. Walaupun dia masih muda, sekitar 28 tahun. Membawa barang-barang berat seperti ini membuat tubuhnya merasa lebih lelah dari biasanya. Terlebih lagi jika chanyeol harus pergi ke luar negeri. Ia yang harus sibuk menyiapkan segalanya termasuk membawakan koper chanyeol yang begitu besar dan banyak. Ia memang sudah lelah, tapi ini memang tanggung jawabnya sebagai orang yang selalu bersama chanyeol selama masa kontraknya masih ada.

Di kediaman Park Chanyeol, Manager menunjukkan semua ruangan di apartemen mewah itu.Membuat daftar hal yang disukai dan dibenci Chanyeol.Sedikit membuat Baekhyun bingung, karena Chanyeol ternyata suka mengoleksi boneka Rillakuma. Memang covernya manly dan terkesan badboy, tetapi nyatanya chanyeol itu mempunyai selera yang bisa dibilang unik/?

"Semuanya sudah kuberitahu kan.. hari ini jadwal Chanyeol adalah syuting CF.Kemungkinan akan selesai pukul 11 malam.Setelah itu kau boleh pulang.Atau akan lebih baik lagi kalau kau tinggal saja disini dengan kami.Karena Chanyeol mungkin membutuhkan bantuanmu pada tengah malam dan yang terpenting adalah kau bisa ontime setiap harinya.Urusan pembayaran kau bisa diskusikan dengan Presdir Han"

"Maaf.Tapi aku punya adik dirumah.Dia butuh perhatianku.Jadi tidak mungkin aku meninggalkannya atau dengan kata lain aku lalai dalam menjaganya"

"Memang ada apa dengan adikmu?"

"Kami yatim piatu.Dan kami hanyalah dua bersaudara yang sederhana.Dia memiliki keterbelakangan mental.Tapi aku bersikeras untuk menjaganya,mendidiknya,dan membesarkannya sampai dia sarjana.Haha.. terdengar konyol dan mustahil.Tapi itulah yang kuharapkan.Maka dari itu aku menerima pekerjaan ini.Aku butuh biaya"

"Aku tersentuh dengan kehidupanmu.Andai saja orang itu yang mendengarmu berbicara seperti ini.Aku berharap dia jadi lebih baik"

"Siapa?" Baekhyun memiringkan kepalanya tanda ia bingung

"Tentu saja majikanmu.Siapa lagi" manager menepuk keningnya

"Chanyeol? Bukankah dia orang baik.Maksudku, bukankah dia aktor yang sedang populer?" ucap baekhyun agak ragu-ragu. Karena dia memang tidak tahu menahu tentang chanyeol sebelumnya. Dia terlalu fokus akan kehidupannya sampai-sampai tidak peduli dengan artis dan semacamnya.

"Tidak seperti itu dimataku.Aku mengenalnya sejak dia sekolah menengah pertama.Dan dia mulai bersikap angkuh seenaknya saja mengatur dan dia keras kepala.Aku khawatir kau tak akan sanggup bertahan dengannya"

"Aku akan berusaha semampuku.Aku bukanlah paranormal ataupun ahli sihir yang mampu mengubah pemikiran ataupun tingkah laku seseorang.Tapi aku yakin sedikit demi sedikit aku akan mengubah sikap buruknya itu.Tentunya dengan caraku sendiri" jawab baekhyun mantap sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa chanyeol bukanlah monster atau makhluk aneh sejenisnya dari pulau antah berantah.

"Selain menarik,kau itu manis dan ceria.Bisa membuat suasana menjadi terang.Memberikan efek semangat terhadap orang lain.Itu point penting untuk bisa meluluhkan hati seseorang" manager menepuk pundak baek memberi semangat untuknya

"Ya.. banyak yang mengatakan hal itu padaku"

"Hyung, aku mau... minum" Pria bertubuh bak tower itu membuka pintu tanpa mengetuknya

"Sekarang aku sudah kembali ke tugasku sendiri Chanyeol-ah.Aku mengatur jadwal.Bukan pembantumu.Kau minta saja padanya" manager melirik baekhyun yang duduk terdiam disampingnya

"Kau mau minum apa Chanyeol-ah?" Baekhyun tersenyum manis dan menawarkan minuman

"Kapan kau lahir? Tidak sopan.Aku ini majikanmu!" Chanyeol menghampirinya dengan tangan bersedekap. Menampilkan sifat angkuhnya yang membuat siapapun enggan menatapnya

"Aku lahir 6 Mei 1992" ucap baekhyun tenang. Mencoba untuk tidak canggung dengan majikannya

"Apa?" Chanyeol terperangah. Mulutnya terbuka membentuk huruf O.

"Nyatanya dia lebih tua darimu Chanyeol-ah.Kau yang seharusnya bersikap sopan"

"Tidak mau!" Tangannya ia masukan kedalam saku dan membuang wajahnya kearah lain

"Aku tanya, kau mau minum apa? Biar aku yang buatkan" tanya baekhyun untuk kesekian kalinya

"Kopi Expresso"

"Akan kubuatkan" segera ia bergegas mencari dapur untuk membuatkan kopi yang chanyeol minta.

Baekhyun selesai membuat Kopi dan memberikannya pada Chanyeol. Baekhyun duduk disebelah Chanyeol dan Manager. Chanyeol nampak memperhatikan cangkirnya dengan curiga. Lalu secara perlahan mulai menyesapnya hingga kopi itu hanya tinggal setengah dari cangkirnya. Chanyeol melirik Baekhyun dan menatapnya masih dengan ekspresi curiga.

"Kau tidak memasukan sesuatu yang aneh kedalam kopi ini kan?" Tanya chanyeol dengan mata memicing. Membuat mata bulatnya menyipit. Baru saja baekhyun ingin menjawab, namun didahului manager yang membuat chanyeol berhenti menatap baekhyun seolah olah baekhyun itu maid yang ingin meracuni majikannya.

"Cepat habiskan kopimu dan bersiap ke lokasi syuting.Baekhyun kau bantu aku siapkan pakaian dan keperluan"

"Baik hyung.Chanyeol, sebaiknya kau mandi dulu sebelum pergi ke lokasi.Supaya tubuhmu lebih segar dan semangat untuk syuting itu" baekhyun melempar senyum manisnya pada chanyeol

"Tau apa kau tentang dunia artis? Ck.. diam dan cepat siapkan barang-barangku"

"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya" entah baekhyun sudah tuli atau apa, ia seakan akan tak mendengar ucapan ketus chanyeol dan tetap tersenyum memaklumi

"Kau harus terbiasa dengan sikapnya yang cuek dan angkuh itu" manager berusaha menguatkan baekhyun sambil menuntunnya menuju lemari besar yang tersusun rapi mengelilingi sebuah ruangan khusus yang isinya berbau style dan tentunya, mahal.

"Iya,Pasti. Semua baju didalam lemari ini miliknya? Dan juga, topi dan sepatu itu?" baekhyun nampak terdiam sesaat sambil memperhatikan sekelilingnya

"Tentu saja.Semua ini miliknya.Uang sejak dia pertama kali debut masih tersimpan rapi di suatu tempat.Namun semua barang-barang ini adalah penghasilan yang dia dapatkan perbulan" ucap manager sambil membuka satu persatu pintu lemari besi itu. Warna lemarinya abu-abu metalik dengan beberapa glitter dan nampak sangat mewah. Apalagi ukurannya yang sangat besar dan lebar. Baekhyun yakin, harga lemari ini saja seharga rumah kecilnya dulu saat ia menginap di rumah bibi nya sebelum sang bibi mengusirnya.

"Dia sangat kaya... bahkan hampir sempurna" baekhyun berjalan berkeliling dan menyentuh lemari itu dengan tatapan takjub

"Kau menyukainya?" manager muda itu nampak tertarik untuk menggoda baekhyun. Membuat si mungil itu salah tingkah.

"A-apa? Hahaha.. tentu saja tidak.Aku hanya kagum padanya.Dia masih muda dan bisa memiliki harta sebanyak ini dengan kerja kerasnya sendiri.Aku iri.Maksudku, aku iri dengan perjuangan dan kerja kerasnya.Aku juga ingin berusaha bekerja semaksimal mungkin" baekhyun tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya

"Berusahalah.Maka kau akan meraihnya" manager mulai mengambil beberapa pakaian sepatu dan topi kesukaan chanyeol, dan baekhyun merapikannya di dalam koper. Ia terdiam sembari membereskan semua barang-barang itu. Sampai akhirnya ia bicara dengan lirih

"Aku tahu sebenarnya tak semudah itu mendapatkan semua ini.Mungkin aku hanya bisa berkhayal" baekhyun tersenyum miris

"Tak ada yang mustahil di dunia ini Baekhyun-ah.Jja! perlengkapan sudah siap.Kita tinggal berangkat saja" manager mengusap pundak baekhyun dan tersenyum meyakinkan baekhyun bahwa semuanya akan baik-baik saja.

CKLIK! BLIZZZTTT

CKLIK! CKLIK! BLIZZZZZT

Berbagai pose menawan bak seorang pangeran dari istana terpampang di layar monitor yang tersambung dengan sebuah kamera primer. Berbagai tema kostum pun telah digunakan. Seperti alam,olahraga,dan yang berkaitan dengan badboy. Make up tahan lama yang terpoles di wajah sang model sangat kontras dengan warna kulitnya. Semakin tampan dibalut dengan aksesoris seperti topi dan sebagainya. Ia tampak lihai berpose di depan kamera. Membuat si fotografer tak henti-henti memujinya. Karena chanyeol sangat keren tampan modis dan tentunya profesional. Itulah yang membuat para agensi menyukainya. Tak hanya mahal, ia juga sangat berbakat. Dan chanyeol tak akan mengecewakan siapapun yang menyewanya. Seperti sekarang ini, chanyeol menjadi ikon sebuah majalah ternama di Seoul, Blitz Magazine.

"Cut! Yeah! Chanyeol! Kerja bagus! Kau memang sangat berbakat. Lihatlah hasil tangkapan kamera baruku ini. Kau tampak sangat menawan" puji si fotografer sambil menunjukan foto chanyeol di monitor. Namun ucapan panjang lebarnya hanya ditanggapi senyuman dari sang model. Ini sudah jadwal yang terakhir dalam hari ini untuk chanyeol. Ia memang lelah, tetapi ini sudah menjadi rutinitasnya selama ini.

"Chanyeol-ah, istirahat dulu. Hari ini jadwalmu sudah selesai semua" Kang joon menghampiri chanyeol yang sedang melepas kostum terakhirnya

"Tidak ada jadwal tambahan kan?" Tanya chanyeol masih dengan kesibukannya berganti pakaian. Berkali kali ia menghela nafas. Kepalanya agak sedikit pusing karena terlalu lelah menjalani aktivitasnya setiap hari

"Tidak ada. Kau boleh langsung pulang-" ucapannya terhenti saat chanyeol bertanya

"Mana baekhyun?" Sambil menatapnya

"Ah,dia sepertinya belum terbiasa dengan kegiatanmu. Kukira dia sedang mencoba istirahat diruang make up. Apa perlu kupanggilkan?" Tawarnya

"Tidak perlu" dijawab singkat padat dan jelas oleh chanyeol

"Ah, chanyeol. Aku ada urusan sebentar dengan temanku di Gangnam. Bisakah kau pulang sendiri? Ada baekhyun yang bisa membantumu saat kau butuh sesuatu"

"Mau kemana kau?" Tanya chanyeol memicingkan matanya

"Hey, aku tidak sedang berencana menguntit seseorang. Aku hanya diajak bertemu dengan temanku. Kurasa dia juga mengenalmu. Aku akan menemui Suho,dia pernah bermain dalam satu drama denganmu" jelas kang joon dengan ekspresi datar

"Aku tidak peduli, pergilah" jawab chanyeol acuh dan berjalan meninggalkan kang joon yang masih terdiam menahan dirinya untuk tetap bersabar menghadapi tingkah chanyeol

"Yak! Chanyeol-ah!" seru nya memanggil sang pemilik nama sampai yang dipanggil menolehkan kepalanya. Menatap malas. Dan kang joon melempar kunci mobil kearah chanyeol. Menghadiahkan sebuah seringaian di bibir model tampan ini

"Berhati hatilah" ucap kang joon sebelum chanyeol berjalan menjauh

KRIIIIIIINGGGG!!!

Bel tanda istirahat berdentang memenuhi setiap ruangan di salah satu sekolah ternama di pusat kota. Twelve literature school. Sekolah bertaraf internasional dan berkelas tinggi. Dengan aksen bangunan khas eropa dan beberapa taman bunga yang indah. Nampak begitu sangat memanjakan mata siapapun yang berkunjung ke wilayah sekolah itu. Sekolah mewah dan mahal itu hampir semua siswa nya berasal dari keluarga yang memiliki perusahaan besar. Baik didalam maupun di luar negeri. Dan siswa nya pun sangat pandai. Bahkan bisa bersaing dengan siswa internasional lainnya di negara lain. Dan tak sembarang orang boleh merasakan betapa berkualitasnya sekolah itu.

Namun tak hanya itu saja, sekolah itu pun kerap kali memiliki sisi negatif seperti sekolahan lainnya. Yakni tindakan bullying dan permainan kerajaan. Siapa yang lebih kaya dan terkenal maka ialah yang menjadi raja. Dan pandai saja tak bisa menggeser kedudukan pemerintahan monarki itu. Dan jongin merupakan siswa pandai dan juga kaya. Salah satu dari sekian ratus siswa yang memiliki hati bersih. Walaupun banyak teman-temannya yang suka mengerjai siswa underdog, ia tak ada niatan sedikitpun untuk ikut serta mengganggu orang lain. Baginya, menjadi baik hati,pemurah,dan tulus itu lebih baik daripada harus mencari masalah dan dosa setiap kali mengacau kehidupan orang lain. Dan ia bersyukur karna sehun mau berteman dengannya.

Baginya, sehun sudah seperti saudara sendiri. Ia tak suka jika teman-temannya mengganggu sehun. Ia akan bertindak dengan cepat. Dan ia juga akan melindungi siapapun yang ia sayangi. Termasuk seorang pria mungil cantik dengan mata bulat dan bibir berbentuk hati. Sangat menarik. Jongin tergila gila dengannya, atau bisa kita sebut Kyungsoo. Do Kyungsoo, siswa pandai dari kelas sebelah. Seseorang yang sangat jongin cintai. Yeah, mereka telah memiliki hubungan itu sejak kelas satu

"Jongin-ah!!!!" Teriak kyungsoo dengan senyuman lebar sambil melambaikan tangannya ke arah lelaki berkulit tan yang berdiri beberapa meter darinya

"My pororo! Kajja sehun, kyungsoo sudah menunggu disana. Aku takkan membiarkannya berlumut karna menungguku" ucap jongin sembari menarik tangan sehun berlari kecil menghampiri kyungsoo

"H-halo kyungsoo." Sapa sehun dengan kepala menunduk

"Hey santai saja. Aku tidak akan menggigitmu. Jongin,aku boleh main kerumahmu kan?" Kyungsoo menatap jongin dengan mata membulat gemas

'Tentu saja sayang! Sehun juga akan kuajak main. Kita bertiga bisa main dirumahku nanti. Lagipula noona juga pulang besok pagi" ucap jongin mengecup bibir kyungsoo. Membuat si mungil merona.

Chanyeol menghentikan mobilnya ditepi sungai Han. Suasana tampak begitu sunyi mengingat ini sudah tengah malam. Hanya hembusan angin malam yang dinginnya mampu menusuk kulit dan aliran air yang tenang menemani dua insan yang sedang duduk ditepi sungai berdua. Keduanya masih memakai mantel agak tebal sambil sesekali si kecil mengusap kedua tangannya. Mencoba menghangatkan dirinya sendiri

"Sebenarnya, apa yang membuatmu datang kesini tengah malam chanyeol?" Tanya baekhyun melirik seseorang yang kini tengah terdiam memandang lurus kedepan

"Aku sedang beristirahat. Kalau kau tidak suka, kau bisa mengambil kertas dikamarku dan menuliskan surat pengunduran diri" chanyeol masih menatap datar

"A-apa? Maksudku,aku tidak sedang mengeluh karenamu. Sungguh, hanya saja aku masih belum terbiasa dengan kebiasaanmu yang beristirahat di tempat umum" baekhyun mulai gelagapan. Pasalnya, ia takut jika chanyeol mengira dirinya tidak suka dengan pekerjaan ini. Baekhyun sudah lelah mencari pekerjaan. Ia tidak mau dipecat lagi.

"Seberapa pentingkah pekerjaan ini untukmu?" Chanyeol agak sedikit melirik baekhyun yang ikut menatap air

"Awalnya akupun tidak pernah berpikiran untuk menjalani profesi ini. Tapi tuntutan hidup itu semakin menekanku. Menindihku sampai dasar. Dimana aku lelah menjalani hidupku. Kupikir hidupku akan baik-baik saja. Tapi nyatanya, aku kehilangan semua itu. Aku bahkan hampir kehilangan nyawaku..." ucap baekhyun dengan suara lirih di akhir kalimat

"Bagaimana kau menjalani hidupmu? Apa kau punya keluarga?" Chanyeol mulai sedikit tertarik mendengar dongeng malam dari baekhyun

"Saat aku berpikir bahwa kejujuran dan ilmu adalah yang paling penting, saat itu pula aku merasakan bagaimana rasanya dihempaskan dengan kenyataan yang sebenarnya. Harta, uang, kekayaan, dan jabatan tinggi. Semua itu bisa dimiliki, namun tidak bisa mencegah keluargaku pergi"

"Apa maksudmu-?" Chanyeol menaikan sebelah alisnya menandakan ia mulai bingung dan tidak mengerti maksud ucapan baekhyun

"Kedua orang tuaku, sudah meninggal. Dan aku hanya tinggal berdua dengan adikku. Aku didepak dari Twelve Literature School karna mereka mengira orang tuaku buronan dan dibunuh oleh orang asing,sehingga mereka mengira aku tidak mampu membayar uang sekolah. Aku pindah ke sekolah biasa di pinggir kota dengan bantuan beasiswa. Setelah lulus pun aku sudah beberapa kali mencoba pekerjaan. Dan yah, aku selalu berakhir sama. Dipecat" baekhyun tersenyum miris. Mencoba menahan air matanya yang sudah menggenang di ujung mata cantiknya

"Kenapa ku dipecat?" Chanyeol memicingkan matanya

"A-aku, aku takut.. setiap kali aku bekerja di kafe,restoran,toko,mall ataupun bar. Selalu saja ada lelaki yang mencoba menculikku atau menggodaku untuk bermalam dengannya. Aku tidak tahan dengan semua itu hiks.. aku masih punya harga diri.. aku bukan jalang hiks.. walaupun aku memang membutuhkan biaya hidup dan sekolah adikku.. aku tidak akan mau menjual diriku sendiri ke pria manapun.. hiks.." baekhyun mulai terisak dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Chanyeol yang melihatnya pun mulai merasa iba. Entah apa yang merasukinya, ia merasa bahwa baekhyun begitu rapuh dan ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Hatinya menghangat. Dengan beraninya chanyeol meletakan lengannya di pundak baekhyun yang bergetar. Diusapnya perlahan supaya baekhyun tenang

"Sudahlah, itu cobaan hidup yang memang harus ditempuh. Dan kau sepertinya sudah berhasil melewatinya. Aku bangga padamu" chanyeol menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman tulus yang terpatri di wajah tampan nya

"Hiks.. terima kasih" baekhyun mengusap air mata di pipinya

"Sudah malam, aku sudah lebih baik. Ayo pulang" chanyeol berdiri menatap langit yang mulai menandakan tanda-tanda akan hujan

"Sshh dingin.." baekhyun mengeratkan mantelnya dan berjalan memasuki mobil. Diikuti chanyeol dan dengan segera melesat menuju apartemen.

Jam menunjukan waktu satu dini hari. Dan suasana sunyi senyap nampak menghiasi setiap ruangan dalam apartemen mewah milik chanyeol. Semuanya masih rapi dan bersih. Hanya saja terlalu sepi. Karena sang pemilik baru saja kembali dari rutinitasnya setiap hari.

Chanyeol melihat baekhyun yang masih memakai mantelnya sambil duduk menggosokan kedua tangannya di sofa.

"Tidurlah dikamarku. Aku punya penghangat ruangan" ucap chanyeol sembari meletakan ponsel dan dompetnya dimeja ruang tv

"Tapi, aku harus pulang. Adikku- dia mungkin sendirian" baekhyun mulai agak cemas

"Kau mau keluar dini hari? Apa kau tak lihat langit berkedip setiap menit?" Chanyeol menatap baekhyun lekat

"Umm, baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungi temannya saja" baekhyun berjalan menjauh dan mulai menghubungi seseorang

"Aku akan mandi. Kalau kau lelah, tidurlah dikamarku. Aku akan menonton film disini" chanyeol bergegas membersihkan dirinya sementara baekhyun terlalu fokus menanyakan sehun pada jongin yang ternyata sedang menginap dirumah bersama.

"Eh? Kemana chanyeol? Ah aku lupa tadi dia bilang akan mandi. Apa tidak masalah jika aku tidur dikamarnya? Dia kan majikanku" baekhyun mempoutkan bibirnya hingga membuatnya nampak sangat imut. Ia mulai melangkahkan kaki mungilnya ke dalam kamar chanyeol. Menatapnya takjub karena ruangan yang begitu luas dengan desain yang bagus. Baekhyun mulai merebahkan tubuhnya yang sangat lelah diranjang besar nan empuk milik chanyeol. Begitu nyaman nya sampai ia tak menyadari chanyeol yang keluar dari kamar mandi mengenakan handuk dipinggangnya

"Kau sudah mengantuk? Tidur saja" chanyeol acuh saja dan menghampiri lemarinya

Meraih piyama dan memakainya tanpa rasa malu sedikitpun karena ada baekhyun disitu. Baekhyun yang agak terduduk membuka matanya dan langsung disuguhi pemandangan itu langsung membalik tubuhnya. Wajahnya memanas. Ia melihat sebuah pahatan tuhan yang sangat indah. Tubuh chanyeol. Begitu sempurna. Dan ia juga sedikit melihat daerah selangkangan chanyeol yang ekhem besar dan panjang nampak tertidur dengan tenang. Membuatnya yakin bahwa wajahnya kini memerah parah. Chanyeol yang tidak tahu pun hanya berjalan keluar kamar dan merebahkan dirinya di sofa sambil menonton film kesukaannya

"Astaga.. apa yang sudah kulihat... astaga.." baekhyun berusaha membuang jauh-jauh pikiran kotornya dan langsung mandi. Namun ia bingung, ia lupa membawa pakaian saat datang kemari. Alhasil ia pun bertanya pada chanyeol

"C-chanyeol-ah, apa kau punya pakaian kecil yang sudah tidak terpakai? B-bolehkah aku meminjamnya? Aku akan mencucinya nanti"

"Untuk apa aku menyimpan pakaian seperti itu. Pakai saja piyamaku di lemari. Kau bisa pakai yang mana saja" chanyeol tetap fokus pada tayangan film di tv besarnya tanpa menoleh sedikitpun kearah baekhyun yang menyembulkan kepalanya di pintu. Dengan segera, baekhyun membuka lemari chanyeol dan meminjam piyamanya. Memang besar dan longgar. Tapi ini lebih baik daripada harus memakai pakaiannya seharian.

Setelah berpakaian, baekhyun langsung merebahkan tubuhnya diranjang besar itu. Ia mematikan lampunya dan hanya diterangi lampu tidur di meja samping ranjang. Penerangan yang cukup minim. Baekhyun hampir saja terlelap, namun ia masih bisa mendengar dengan jelas suara petir yang menggelegar. Dan detik berikutnya hujan deras pun mengguyur wilayah tempat apartemen chanyeol berada. Baekhyun yang pada dasarnya memang penakut, berusaha tidak menghiraukan suara mengerikan itu. Menutup matanya dengan rapat. Menggulung tubuhnya dalam balutan selimut besar. Namun beberapa kali kilat menyambar jendela kamar itu. Dan petir tetap menggelegar. Baekhyun mulai bergetar ketakutan. Ia mencoba memanggil chanyeol namun suaranya teredam hujan dan petir. Dan chanyeol pun nyatanya tak mendengar suara baekhyun.

"C-chan-chan..."

JDERRRRRR

"CHANYEOL!!!" baekhyun semakin bergetar dan matanya mengalirkan air mata walaupun ditutup rapat-rapat oleh pemiliknya

Chanyeol yang mendengar teriakan nyaring itu pun segera bangkit dan mematikan tv nya. Berlari menuju kamarnya dan menemukan baekhyun tergulung didalam selimutnya. Tubuhnya bergetar dan suara isakan begitu jelas terdengar dari arah ranjang itu. Tanpa menunggu lagi, chanyeol segera naik keatas ranjangnya dan menyibak sedikit selimut yang menutupi baekhyun.

"Sstt, baek.. baekhyun.. tenanglah.. ini aku" chanyeol mencoba menenangkan baekhyun dengan merengkuh tubuh bergetar itu kedalam pelukan hangatnya

"Hiks.. hiks.. ch-chanyeol..hiks" baekhyun masih setia menutup matanya

"Baek, buka matamu dan lihat aku" chanyeol menangkup pipi baekhyun dan dengan perlahan baekhyun membuka matanya yang basah oleh air mata. Samar-samar ia melihat chanyeol tersenyum padanya. Membuatnya ikut tersenyum dan membalas pelukan chanyeol

"A-aku.. takut.. hiks.." air matanya membasahi bagian dada chanyeol

"Tenanglah ada aku disini baek. Kau jangan takut lagi ya. Petir itu tidak akan masuk kemari" chanyeol ikut masuk kedalam selimut dan merebahkan dirinya disamping baekhyun. Entah ia sadar atau tidak, chanyeol tetap memeluk baekhyun dengan posisi menyamping. Menyembunyikan wajah baekhyun di dadanya. Mengusap surai baekhyun dengan lembut. Tak lupa punggungnya pun ia usap untuk mengantarkan kehangatan kepada si mungil

"Tidurlah lagi. Aku akan menjagamu disini" chanyeol mengecup kening baekhyun dan ikut memejamkan matanya sampai akhirnya suara dengkuran pun mulai terdengar.

TBC