WARNING: CERITA INI BUKAN MILIKKU, CERITA INI SEPENUHNYA MILIK: SUNFLOWERPOTS- www asianfanfics com/ story / view /1209988 / blue-angst- seventeen- meanie
Terima kasih karena telah mengijinkan aku mentranslatenya.
.
Untuk readers yg telah review, follow dan fav terima kasih banyak telah mengapresiasi hasil translate-an ku. Aku sangat menghargainya :)
.
.
.
Saat ini adalah saat yang paling hidup yang pernah ia rasakan. Dia dapat merasakan segalanya dan mendengar burung-burung dan jangkrik-jangkrik bernyanyi dengan suara yang sangat bising diluar. Tapi, suara rendah dan berat dari seseorang yang dia kenal membangunkan dari keadaan tak sadarkan dirinya.
"Sayang, bangun~" Mingyu memanggilnya lembut, tangannya di pinggangnya, membelai lembut. Sedikit mengguncangnya seperti ia adalah benda paling rapuh di dunia. Tangannya yang besar membangunkannya dan mengubah ia menjadi posisi duduk. "Aku membuat sarapan untuk kita, cepat turun kebawah, ya?"
Bibir Wonwoo berubah menjadi senyuman lebar walaupun ujung bibirnya sedikit memiring sejak ia masih pening karena bangun lebih awal dari biasanya. Tetapi dia tidak akan bisa tidur lagi karena Mingyu pasti akan membangunkannya lagi dan sedikit mengguncangnya agar ia bangun dan mencoba pancake nya yang lezat dibawah. Wonwoo menapakkan kakinya ke luar kamar dan berjalan ke kamar mandi untuk memperbaiki dirinya sedikit, memainkan pipinya dengan tangannya untuk mengurangi bengkak pada pipinya. Mingyu akan tetap berkata dia imut, dengan wajah membengkak ataupun tidak.
Kain terikat sepanjang handrail tangga. Jadi, ia tidak tergelincir seperti terakhir kali ketika ia mematahkan pergelangan kakinya. Tapi itu adalah pengalaman yang sedikit menyenangkan karena lelaki yang lebih tinggi itu membuang kruk nya dan dengan sukarela menggendongnya kemanapun bahkan keluarpun. Seperti hal tersebut adalah hal yang paling normal yang dilakukannya. Mingyu tidak pernah mengeluh tentang berat badannya dan dia selalu menyombongkan dirinya di depan cermin kalau ia adalah pria yang kuat dan selalu pergi ke gym. Tidak seperti Wonwoo yang selalu dirumah dan sekolah.
Harum bacon yang sangat wangi membelai indra penciumannya dan dia dengan cepat memeluk si tinggi dari belakang yang sedang membuatkannya sarapan kesukaanya. Seperti biasa, dia selalu bertanya pada dirinya sendiri, mengapa tubuh Mingyu selalu tercium bau wangi walaupun ia belum mandi. Tetapi mungkin itu karena pewangi pakaian yang menempel pada baju Mingyu.
Mingyu tersenyum sedikit memiringkan bibirnya dan ia tidak tahan untuk tidak menggoda Wonwoo, ia melihatnya dari balik bahunya.
"Seseorang sedang sangat manja hari ini~" ia tertawa dengan suara serak paginya. "Minyaknya mungkin akan mengenai tanganmu, dan aku tidak ingin itu terjadi. Jadi, kembali ke kursimu dan tunggu dengan sabar sampai bacon nya matang. Kau bisa makan pancake nya dulu."
"Bolehkah aku meminum kopi juga~?" Wonwoo bertanya dengan manis, matanya membentuk bulan sabit saat menatap balik Mingyu.
"Tidak sayang, kau tau aku tidak suka kau tidur terlalu malam." Kata Mingyu dengan sedikit menyesal. "Aku sudah memberitahumu untuk mengurangi kopi karena mungkin kau akan mempunyai lingkaran hitam dibawah matamu. Aku tak mau itu terjadi, oke?" Ia memberi tatapan khawatir dan itu membuat Wonwoo melepaskan pelukannya dan mengangguk enggan.
Wonwoo kembali ke kursinya sambil mengambil garpu untuk memotong pancakenya menjadi potongan-potongan kecil, ia tersenyum pada gigitan pertama karena rasanya yang sudah sangat ia kenal.
"Apa ibuku menelepon lagi saat aku tertidur?" ia memiringkan kepalanya ke samping dan menatap punggung Mingyu; yang ingin ia miliki suatu hari nanti. "Ibu selalu menelepon pada waktu yang tak tepat." Ia berkata sambil mengunyah.
Mingyu telah selesai menggoreng bacon nya bertepatan dengan pada saat Wonwoo bertanya, jadi ia memutuskan untuk meletakan gorengan baconnya ke piring dulu sebelum duduk di hadapan Wonwoo, meletakan piring yang telah tersaji potongan bacon diatas meja. "Ibumu memang tadi menelepon tetapi hanya untuk menanyakan apa kau baik-baik saja di sekolah dan ku katakan ya, lihat saja semua nilai A+ yang tertempel di lemari pendingin." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Wonwoo dan ia tersenyum lebar. "Ibumu juga mengatakan padamu agar menjagamu dan tidak memberikanmu kopi lagi."
"Jahat sekali." Wonwoo mengerucutkan bibirnya sambil mengambil potongan bacon dan mengunyahnya dengan kasar. "Tetapi aku suka kopi! Dan kau juga meminumnya. Jadi, kenapa aku tidak boleh?!"
Mingyu mencubit ujung hidung Wonwoo. "Kau tau pasti mengapa kau tidak boleh meminum kopi~" tawanya terdengar, menggema di seluruh dapur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo bangun dengan keadaan terengah-engah, dengan angin kencang yang tidak menenangkannya pada saat seperti ini; jam 1:43 dini hari. Dia melihat jam digital di atas nakas sebelah tempat tidurnya dan tangannya menggenggam dadanya.
"Mengapa aku tidak boleh meminum kopi pada saat itu?" ia berbisik pada dirinya sendiri dan mulai menggenggam erat seprai dengan tangan satunya. Gigi atasnya mulai menggigit bibir bawahnya, tidak terlalu menyakitkaan tetapi cukup untuk mengalihkan ingatan yang berputar-putar dalam pikirannya. Ia bersin dan menutup mulutnya dengan selimutnya yang berwarna putih, bercak darah terlihat pada selimutnya, menandakan bahwa ia telah cukup kuat menggigit bibirnya sampai berdarah.
Ia butuh air untuk menenangkannya.
Dengan kaki gemetar, dia segera bangun dari kasurnya dan berjalan keluar dari kamarnya untuk ke bagian perempat dapur yang memang dimaksudkan untuk setiap orang yang sedang mengikuti program dalam tempat rehabilitasi tersebut. Hanya beberapa orang-orang yang menggunakannya, untuk snack tengah malam atau ketika seseorang yang cukup waras untuk memasak untuk sekelompok orang. Wonwoo menggunakannya untuk minum, menaruh botol minum di dalam lemari pendingin yang lumayan sering ia lakukan.
Tetapi sebelum tangannya dapat memegang pegangan lemari pedingin, ia mendengar isakan dari tempat penyimpanan makanan-makanan kering yang pintunya sedikit terbuka. Suasana sekitarnya sangat sepi jadi ia dengan jelas mendengar apa yang orang didalam sana katakan.
"Hyung…."
Ia mengenali suara Woozi dan Wonwoo ingin keluar dari sana sebelum tertangkap basah karena pertama, dia Woozi, kedua mereka adalah musuh, ketiga lehernya mungkin saja akan dipenggal olehnya, keempat, ia tidak ingin mencuri dengar. Tapi rasanya kakinya sedang di lem agar menempel dengan lantai dan dipaksa untuk tetap disitu, tidak membuat pergerakan ataupun suara apapun dan hanya mendengarkan.
"Yoongi hyung…. Jangan pergi…. Aku ingin pulang ke rumah…." Suaranya pecah, terus terisak dan sedikit teredam.
Wonwoo penasaran bagaimana si kecil itu dapat memiliki sebuah ponsel karena hal tersebut dilarang oleh tempat itu. Sama sekali tidak boleh ada kontak dengan dunia luar yang kemungkinan dapat mengganggu kestabilan mental pasien saat ini.
Wonwoo merasa tenggorokannya mengencang dan ia benar-benar ingin sebotol air dingin sekarang untuk melepaskan ikatan yang mengencang pada tenggorokannya. Ia merasa nafasnya semakin memendek setiap ia menghirupnya dan ia ingin sekali kembali ke kamarnya tetapi semuanya telah terlambat saat pintu tempat penyimpanan berderik terbuka, lebih lebar dari sebelumnya dan menampilkan lelaki kecil, mata yang bengkak memerah juga bekas air mata di pipinya.
Ia melihat Wonwoo, menunggu yang lebih tinggi untuk mengatakan sesuatu. Kata-kata, yang mungkin akan membuat lelaki itu merasa lebih kecil tetapi Wonwoo tetap membeku di tempatnya, matanya menatap wajah Woozi. Setelah beberapa detik hanya saling menatap, lelaki yang paling kecil bermaksud untuk meninggalkan Wonwoo disana tanpa sepatah kata pun juga karena ia tahu Wonwoo bukanlah orang yang suka berbicara, dia membalikkan tubuhnya. Ia sedikit menghela nafasnya saat Wonwoo membuka mulutnya untuk berbicara sesuatu.
"Aku…. Hyungmu…" Wonwoo mulai berbicara tetapi ia tidak tahu apa kata-kata selanjutnya yang ingin ia katakan. Apa yang kakakmu katakan? Kenapa juga Wonwoo penasaran? Ia ingin menutup mulutnya, sebelum ia sadar ia sudah menyuarakan pendapat yang ada dalam pikirannya.
Yang lebih kecil membalikkan kepala ke arah Wonwoo dengan kerutan di dahinya dan Wonwoo merasa ia lebih kecil dari Woozi pada saat ini.
"Kenapa? Walaupun aku memberitahumu, kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. Kau itu anak tunggal dan tidak mempunyai kakak. Jangan mencoba untuk menampuri urusanku seperti yang selalu Jun lakukan." Suaranya terdengar sedikit bergetar tetapi Wonwoo tidak terlalu jahat untuk mengatakannya
Woozi benar. Mengapa juga ia bertanya?
Ia ditinggalkan sendirian di dapur setelah kata-kata terakhir yang diucapkan Woozi. Tetapi, lagi bayangan acak dalam kilasan matanya saat ia memutuskan untuk mengejapkan matanya dan kakinya seketika bergetar.
"Woozi, Aku-" Ia berbalik tetapi tidak menemukan siapapun disana.
Lalu apa yang harus ia katakan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kejadian itu menghantui Wonwoo sepanjang hari, ia sedari tadi memikirkan apa yang akan ia katakan saat bertemu Woozi. Padahal kata-katanya sudah ada diujung lidahnya tetapi ia tidak bisa mengatakannya. Ia hampir menarik rambutnya karena frustasi tetapi ia tetap dengan baik menjaga tangannya tetap diam, tekepal di kedua sisinya. Ia menggertakkan giginya dan menatap lantai kamarnya, ia juga ingin menggigit kukunya tetapi ia tahan. Ia menghela nafas berat dan panjang, akhirnya ia putuskan untuk mencengkram sepreinya saja.
Wonwoo merasakan gatal tetapi ia tidak tahu bagian tubuh mana yang harus digaruk.
.
.
.
.
.
Hari itu adalah program bersama Jun lagi tetapi sepertinya ada orang yang menghilang. Wonwoo melihat sekitarnya, kursi milik Hansol kosong. Semua orang menatap kursi kosong Hansol sampai Jun datang dan menyapa mereka dan memberitahu mereka mengapa Hansol tidak datang. Dia menepuk tangannya untuk menyadarkan mereka semua dari lamunannya, meminta agar perhatian mereka kembali kepadanya. Wonwoo tahu bahwa semua orang penasaran mengapa kursi lelaki paling muda itu kosong.
"Hansol kemarin diperiksa dan sudah dipertimbangkan untuk keluar dari program ini." kata Jun, mengonfirmasi dugaan Wonwoo dan orang-orang lain di ruangan tersebut.
"Ibunya dan adiknya menjemputnya dan dia tidak dapat mengucapkan perpisahan dengan tepat, oleh sebab itu….." ia menghela nafas dan hampir mengerucutkan bibirnya karena ia hampir saja tenggelam dalam pikirannya. "Ngomong-ngomong~!" ia kembali tersadar melihat mereka dengan senyum memuakkan yang sama. "Waktunya untuk bercerita! Wonwoo, kau duluan."
Wonwoo melihat Jun dengan kerutan di dahinya, tidak karena marah tetapi karena bingung. Ia juga bingung kenapa ia menampilkan ekspresi seperti itu. Jun tidak berbicara tetapi hanya menatapnya dan Woozi tertarik melihatnya karena biasanya Wonwoo selalu menolak Jun sepersekian detik setelah Jun memintanya untuk berbicara. Semua orang juga menatapnya dan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Wonwoo. "Pass…" dia mengeluarkan nafasnya berat, suaranya hampir bergetar. Semua orang mendesah sepelan mungkin. Wonwoo mendapati dirinya memegang tangannya di dada untuk merasakan detak jantungnya. Ia telah menahan nafasnya selama tiga puluh detik.
Tadi benar-benar baru. Jun menyimpulkannya. Dia tidak mencoba untuk membujuk Wonwoo untuk berbicara lebih dan menurut saja, berharap bahwa pertemuan selanjutnya, Wonwoo dapat bercerita tentang apa yang mengganggunya.
Woozi juga mempunyai ekspresi yang sama seperti Jun, melihat Wonwoo seperti Wonwoo baru saja memindahkan sebuah gunung. Ia mengakui bahwa ia penasaran mengapa Wonwoo berbuat seperti itu. Apa yang mungkin terjadi akhir-akhir ini?
.
.
.
.
.
.
.
Jawabannya? Mimpinya mulai terus menghantuinya, lebih buruk setiap malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sayang, ice cream rasa apa yang kau suka? Hm? Vanilla?" Mingyu bertanya sambil membuka sabuk pengamannya jadi ia dapat keluar untuk membeli ice cream di toko. Mereka akan jalan-jalan ke taman seperti biasa tetapi hal itu adalah hal yang paling Wonwoo senangi dengan Mingyu.
Wonwoo tersenyum riang pada Mingyu dan menganggukan kepalanya. Dia tidak dapat mengatakan apa yang ia suka atau apa yang ia inginkan sejak ia mempercayai bahwa Mingyu pasti tahu apa yang terbaik untuknya. Ia bahkan membiarkan Mingyu memakaikan pakaiannya setiap hari dan memandikannya walaupun ia bisa melakukannya sendiri. Sebenarnya, Wonwoo sangat suka dimanja oleh Mingyu walaupun itu berlebihan. Ia sangat menyukainya, mengapa tidak?
Ada satu hal yang ia tidak suka saat Mingyu memperlakukannya. Jika ada satu hal yang sangat ia benci adalah beberapa menit setelah Mingyu kembali kedalam mobil dengan kedua ice cream di tangannya. Tetesan ice cream berceceran dimana-mana. Di kursi belakang, Wonwoo ada diatas Mingyu, memeluknya saat ia merasakan bagian bawah tubuh Mingyu memasukinya secara menyakitkan. Ia tidak bisa menyesuaikannya berapa kalipun ia mencoba tetapi ia tidak pernah mengeluh karena ia melihat bagaimana wajah Mingyu yang menunjukkan ekspresi bahwa ia menyukainya. Hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk membalas perlakuan Mingyu yang telah memanjakannya.
"Sial sayang, lubangmu sangat ketat." Mingyu menggeram pelan dan mulai menandai leher pucat Wonwoo dengan tanda merah ungu kebiruan juga gigitan, membuat Wonwoo merengek dan menangis lebih kencang bersamaan dengan Mingyu yang mempercepat gerakannya untuk mendapatkan orgasme nya. Sedikit tanpa berperasaan, Mingyu mengeratkan kukunya pada kulit tanpa cacat Wonwoo dan mengeluarkannya didalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bangun kau bodoh!" Kenapa kau tidak juga bangun!?" Wonwoo mencoba untuk mengatur nafasnya saat ia terbangun dengan air dingin yang disiram pada wajahnya. Matanya terbuka lebar dan pupilnya membesar. Ia dapat merasakan sebuah tangan menggosok punggungnya yang menyebabkanya tersentak dan ia buru-buru mundur sampai punggungnya menyentuh headboard tempat tidurnya.
"Jangan sentuh aku!" Ia menjerit dan menarik selimutnya sampai ke dadanya, menutupinya seperi ia sedang telanjang. Woozi didepannya dengan gelas kosong ditangannya, melihatnya dengan campuran tatapan khawatir dan bingung. Baru pertama kali Wonwoo melihat Woozi dengan tatapan seperti itu dan ia mencoba untuk lebih menenangkan dirinya.
Woozi menaruh gelas di nakas sebelah tempat tidur Wonwoo dan menghela nafas.
"Dengar ya, aku telah menyelamatkan nyawamu dan sekarang kau berani-beraninya menatapku dengan jijik?" ia berkata setengah marah dan menatap Wonwoo dengan kebencian dan kerutan di hidungnya. "Kau berkeringat dingin." Ia mengambil handuk wajah dari laci Wonwoo dan melemparkannya pada Wonwoo. "Aku yakin kau bisa membersihkan sendiri wajahmu. Kau bahkan tak membiarkanku menyentuhmu lagipula."
Wonwoo melakukan apa yang tadi Woozi katakan dan membersihkan campuran antara keringat dinginnya dan air di wajah dan lehernya dengan handuk yang tadi dilemparkan ke arahnya. Ia tidak berbicara, merasa kecil ditatap oleh Woozi seperti itu. Tangannya bergetar saat ia membuka selimutnya untuk menjangkau bagian belakang tubuhnya yang basah.
"Aku akan pergi sekarang." Woozi berdiri dari kursinya yang berada di pinggir kasur Wonwoo tetapi ia terhenti saat jari-jari dingin menggenggam pergelangan tangannya.
"Apa?" ia berbalik dan tidak bisa berkata apa-apa melihat Wonwoo yang kebingungan. Ia harusnya tertawa saat ini karena mereka benar-benar membenci satu sama lain dan akan sangat senang jika salah satunya terlihat lemah. Tetapi, saat ini Woozi tidak merasakannya ketika ia melihat Wonwoo dalam keadaan terlemahnya sekarang. Ia mengigit bibir bawahnya, menunggu Wonwoo mengatakan sesuatu.
Bola mata hitam Wonwoo berkedip, menatap balik Woozi dengan tatapan memohon. "Jangan tinggalkan aku sendiri…. Bantu aku tetap bangun. Tolong, aku tidak ingin tidur."
Woozi memegang tangan Wonwoo yang tadi menggenggam pergelangan tangannya dan menghempaskannya dengan sedikit kasar; tetapi ia berbalik menatap Wonwoo dengan anggukan. "Aku akan ke dapur mengambil kopi."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ngomong-omong ini translate-an pertamaku. harap maklum kalau ada typo dan semacamnya xD. untuk yang masih bingung, mungkin chapter ini menjawab kebingungan kalian?
