Seven Days and Come Back to Me

Meanie—Seventeen ff

Coffey Milk

Sequel for Seven Days and Fall in Love

Rate T+

OOC, BL, RnR

.

.

WARN : SINETRON TERDETEKSI

Day 2

Setelah pertemuan itu, Mingyu mendapati dirinya semakin memburuk. Ia tidak bisa tidur. Jika bisa, paling hanya satu-dua jam, tidak lebih. Ia terlihat kacau, bahkan Seungcheol dan Soonyoung dibuat bingung karena penampilannya.

Dan Mingyu tidak peduli dengan itu sekarang. Dia hanya peduli bagaimana caranya agar ia tidak terlarut dalam rasa sedih ini, bagaimana caranya kehidupannya dulu sebelum ada Wonwoo dalam hidupnya kembali.

Mingyu tahu ia harus move on. Tapi itu bukan sesuatu yang mudah dan ia mendapati dirinya tidak ingin move on secepat itu. Ia mencintainya, sangat mencintai Wonwoo. Dan merasa sangat menyanyangkan jika ia harus meniadakan perasaan itu. Lubuk hati terdalamnya menyuruhnya untuk tetap mencintai sosok itu.

Mingyu tahu ia telah terjatuh begitu dalam.

.

.

"Oppa!"

Seohyun datang dan mengalungkan tangannya pada lengan Mingyu. Senyumnya lebar dan cerah kearah pemuda tinggi itu.

Mingyu tidak balas menyapa, terlalu malas untuk menggerakkan bibirnya. Gadis itu terlalu sering mendekatinya akhir-akhir ini dan semakin menjadi-jadi setelah hubungannya dengan Wonwoo berakhir.

Gadis itu terus mencoba untuk menggodanya, bermanja padanya, menempel padanya layaknya koala—atau monyet, berusaha menarik perhatiannya dan mencoba untuk menciumnya. Orang-orang sudah mulai membicarakan tentang mereka berdua. Mingyu sudah mengganti pasangannya. Seohyun adalah pacar terbarunya.

Mingyu mendengus. Ia tidak sudi.

Ia hanya ingin Wonwoo.

.

"Oppa, bagaimana jika pulang nanti kita makan malam bersama?" tanya Seohyun.

Mingyu tidak menjawab, berjalan mendahului tanpa memedulikan gadis itu. Seohyun merengut, ia berlari kecil dan memeluk Mingyu.

"Oppa."

Mingyu berdiri kaku. Lebih seperti membeku di tempat. Bukan karena Seohyun tiba-tiba memeluknya, tapi karena kejadian itu disaksikan oleh Wonwoo yang tidak sengaja lewat. Kedua mata Mingyu dan Wonwoo sama-sama melebar. Dan suasana tiba-tiba hening dan canggung.

Mingyu membuka mulutnya, bermaksud memanggil Wonwoo tapi suaranya tidak keluar, dan Wonwoo segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.

Mingyu menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya.

Satu hal yang ia sadari saat mata mereka bertemu tadi adalah mata Wonwoo terlihat memerah juga berkantung dan kulitnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya.

"Oppa~" Seohyun tidak melihat keduanya bertatapan, dia lebih asyik merasakan bagaimana ia bisa memeluk Mingyu dengan kedua lengannya.

"Bagaimana dengan ajakanku tadi?"

Mingyu meliriknya sekilas, "Sorry Seohyun. Aku tidak bisa."

Seohyun merengek, "Ah.. ayolah. Masa kau terus menolak ajakanku? Kita kan sudah berpacaran?"

Mingyu mendelik, sejak kapan?

Dengan satu sentakan ia melepaskan pelukan Seohyun dan segera pergi dari tempat itu.

^^0^^

Pagi ini Wonwoo terbangun dengan mata sembab dan memerah karena terlalu banyak menangis tadi malam. Tubuhnya terasa nyeri karena ia tidak tidur dengan nyaman. Matanya berkantung karena ia kurang tidur. Dan kulitnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya, ia merasa keadaannya sama sekali tidak sedang dalam keadaan fit.

Wonwoo menghela napas, ia benci hal ini. Ia sangat kaget juga senang karena bertemu dengan Mingyu kemarin, tapi setelah mengusir Mingyu moodnya berubah buruk. Pagi hari, moodnya semakin buruk.

Ia terlihat kacau.

Wonwoo membasuh wajahnya, menatap tampilannya di cermin. Sangat kacau. Ia mendesah, mengambil sikat gigi dan menyikat giginya, berkumur, lalu mengeringkan wajahnya. Ia lalu mengganti piyama yang ia pakai dengan seragam sekolahnya dan turun ke bawah untuk sarapan.

"Astaga! Wajahmu jelek sekali!" seru ibunya begitu melihatnya muncul di dapur.

Ayahnya hanya melirik dari balik koran lebar yang ia baca. Wonwoo tidak peduli dan segera menyantap sarapan paginya, bacon dan telur.

"Kau menangis? Tumben sekali?" celetuk ayahnya.

"Nonton drama, Ayah." Jawabnya dan segera mengutuk kebodohannya karena suaranya terdengar parau, tentu saja kebohongannya akan kelihatan.

"Nonton drama tidak akan membuatmu sampai sekacau itu. Haish! Setelah ini kompres dulu matamu dengan es batu sebelum berangkat!" omel sang ibu.

Wonwoo mengangguk tak acuh.

"Mingyu tidak menjemputmu?" tanya ibunya tiba-tiba, membuatnya menyentak sumpit ke piring yang menimbulkan dentingan keras juga tersedak.

"Kalian masih bertengkar?" tanya ibunya lagi dengan mata memicing, "kau bilang kemarin, urusan kalian sudah selesai."

Wonwoo meminum air dengan cepat, ia mengangguk keras, berdiri, membuka freezer, mengambil es batu, dan segera ngeloyor pergi sambil memakai sepatunya dengan asal.

"YA! WONWOO!"

.

.

Ini sebuah kesialan di hari ini. Benar-benar kesialan.

Ia melihatnya.

Ia melihat Mingyu berpelukan dengan Seohyun. Ngilu. Rasanya hatinya seolah diremas begitu saja. Mata Mingyu melebar saat melihatnya, Wonwoo tidak tahu kenapa. Mulut Mingyu terbuka, hendak mengatakan sesuatu, tapi Wonwoo tidak ingin mendengar apapun. Dia lalu mengambil langkah seribu untuk pergi.

Setelah beberapa saat ia merasakan dirinya sudah jauh dari tempat itu, Wonwoo memperlambat langkahnya dan mulai terseok-seok. Air matanya menetes. Ia terisak kecil dan segera menghapus air matanya dan mencoba menghentikan isakannya.

"Wonwoo."

Deg!

Wonwoo terlonjak karena kaget. Wajahnya memanas kemudian dan dia membatu saat mendengar suara yang dikenalnya. Suara Mingyu.

"Wonwoo.."

Jangan lagi. Jangan lagi. Tahan emosimu Wonwoo.

Tangan Mingyu menyentuh kedua bahunya dan memutar tubuhnya hingga mereka berdua berhadapan. Mingyu tertahan saat melihat wajah Wonwoo yang kacau, sedangkan Wonwoo menahan napas saat mata Mingyu bertatapan dengan matanya lagi.

"Kau… kenapa?" tanya Mingyu ragu.

Wonwoo menggeleng dan menepis tangan Mingyu lalu berjalan mundur. Mingyu malah melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah Wonwoo. Satu langkah ke belakang untuk Wonwoo dan satu langkah ke depan untuk Mingyu.

"Wonwoo, kau menangis?" tanya Mingyu, sedikit merasa sedih melihat pemuda itu terlihat kacau, ia tidak tahu kenapa, tapi ia ingin sekali merengkuh tubuh itu dan menenangkannya.

Wonwoo tidak menjawab dan hanya mengigit bibirnya.

"Kau… menangis karena melihatku dengan Seohyun?" tanya Mingyu ragu, "aku tidak memeluknya… dia yang memelukku tiba-tiba—"

"Aku tidak peduli." Ucap Wonwoo serak, "memangnya kau siapaku?" tanyanya.

Mingyu membeku. Wajahnya memanas dan ia bersemu malu. Benar, ia dan Wonwoo tidak ada hubungan apapun lagi. Tidak seharusnya ia khawatir akan hal seperti itu.

Tapi ia khawatir.

Ia tidak ingin Wonwoo salah paham. Ia masih ingin bersama Wonwoo, ia tidak ingin kehilangan pemuda itu.

"Pergilah."

Mingyu tidak mendengar, ia tetap memajukan langkahnya, bahkan sampai Wonwoo tidak punya ruang untuk bergerak lagi karena dinding di belakangnya dan Mingyu yang semakin mendekat kearahnya dan menempelkannya ke dinding.

"Mingyu—"

Ia tidak peduli ia akan di dorong atau tidak, di usir atau tidak. Tubuhnya bergerak dengan sendiri tanpa bisa ia cegah. Ia merengkuh Wonwoo, memeluknya erat dan membiarkan Wonwoo bersandar pada tubuhnya, mencari kenyamanan dalam dekapannya.

Wonwoo memberontak. Tidak ingin Mingyu mendengar suara detak jantungnya yang berdetak sangat keras dan melihat wajahnya yang memerah sempurna. Ia mencoba untuk lepas dari pelukan Mingyu tapi Mingyu lebih kuat dari dirinya.

Ia menyerah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu itu. Mencengkram baju depan Mingyu dan membasahinya dengan air matanya. Terisak-isak.

Mingyu mengeratkan pelukannya pada tubuh gemetar itu, di pinggang Wonwoo. Mengelus rambut dan punggung Wonwoo lembut dan menepuk-nepuk pelan, mencoba menenangkannya. Mingyu lalu menyenderkan kepalanya pada dinding di belakang Wonwoo. Selama beberapa menit keduanya dalam posisi itu.

Isakan Wonwoo terhenti, tapi keduanya tidak segera melepaskan pelukan. Wonwoo mencoba menenangkan pernapasannya. Kepalanya bergerak untuk memperdalam posisinya di ceruk leher Mingyu, menghirup wangi tubuh Mingyu yang membuatnya mabuk dan terbuai untuk sejenak sebelum akhirnya ia tersadar dengan apa yang mereka lakukan dan segera mendorong tubuh Mingyu untuk menjauh.

Napasnya terburu. Tangan Mingyu menyentuh sisi wajahnya, menghapus air mata Wonwoo dengan ibu jarinya, mendekatkan wajah keduanya, dan mengecup hidung Wonwoo.

"Mingyu. Apa yang kau lakukan?" tanya Wonwoo, kaget.

Mingyu melepaskan kecupannya, menggeleng kecil, "Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."

Wonwoo menatapnya bingung. Mingyu menghela napas dan menggenggam kedua tangan Wonwoo.

"Woo, aku ingin kita berpacaran lagi.. aku ingin kita kembali.."

Selama beberapa detik Wonwoo terdiam. Lalu raut wajahnya berubah kesal.

"Aku sudah bilang aku muak denganmu." Ucap Wonwoo.

"Aku tidak peduli."

"Aku tidak menyukaimu." Ucap Wonwoo.

"Lalu kenapa kau menangis melihatku bersama Seohyun?" tanya Mingyu dengan suara meninggi.

"Aku tidak!" jawab Wonwoo.

"Ya, Kau!"

"Tidak!"

"Iya!"

"Tidak!"

"Kau menangisiku bukan?"

"Dalam mimpimu!"

"Wonwoo! Kumohon!"

"Tidak! Untuk apa? Aku bahkan tidak punya perasaan terhadapmu! Aku tidak ingin hubungan ini! Pergi saja kau pacaran dengan siapapun itu! Aku tidak peduli!"

Mingyu terdiam sejenak, terkejut akan ucapan Wonwoo. Wonwoo membuang muka, tidak ingin melihat Mingyu.

"Baiklah." Ucap Mingyu pelan, nyaris berbisik.

"Aku akan pacaran dengan siapapun dan ini bukanlah urusanmu." Mingyu lalu pergi.

Wonwoo terdiam sambil menggigit bibirnya. Ia merasakan kakinya sekarang melemah, dan merasa ingin menangis sekali lagi.

.

.

Ia sakit hati. Mingyu benar-benar sakit hati.

Melelahkan. Ia benar-benar benci hal ini.

Pikirannya berputar-putar. Kepalanya sakit.

Kedongkolan terasa di lehernya. Emosinya meningkat.

Baiklah. Jika itu yang Wonwoo mau. Jika itu yang Jeon Wonwoo inginkan.

Ia akan pergi. Dengan siapapun—

Di bukanya ponsel dan mencari kontak Seohyun disana. Gadis itu memasukkan nomornya beberapa hari yang lalu dan menghubunginya.

"Hai, Seohyun… iya… sorry… aku akan ikut nanti… oke, kemana?... Baiklah. Aku jemput nanti. Bye."

Pip

—Toh Wonwoo tidak akan peduli, bukan?

^^0^^

Wonwoo menghapus bekas air matanya dan menyalakan shower di depannya. Air hangat langsung tersembur ke badannya. Wonwoo diam menikmati setiap tetes yang jatuh ke kulitnya. Lama kelamaan, hangatnya air mengingatkannya pada Mingyu dan Wonwoo segera menggantinya dengan air dingin.

Bodoh sekali dirinya menangis hanya karena melihat Seohyun memeluk Mingyu. Bodoh sekali ia membiarkan dirinya di peluk oleh Mingyu dan ia menangis disana tanpa tahu malu. Bodoh sekali ia membohongi perasaannya dan membuat Mingyu marah. Ia bodoh. Merasa sangat bodoh. Ia sadar ia sudah begitu bodoh setelah Mingyu mengajaknya berpacaran.

"Woo, aku ingin kita berpacaran lagi.. aku ingin kita kembali.."

Kata-kata itu terngiang di kepalanya. Dia sebenarnya sangat senang mendengar itu. Tapi ia menolaknya. Ia bingung, untuk apa Mingyu mengajaknya kembali? Padahal dia sudah bersama Seohyun? Kenapa?

Wonwoo lalu menggeleng kuat. Dengan segera ia menyabuni dirinya, membilasnya lalu mematikan shower. Ia lalu berpakaian dan keluar dari kamar mandi dan segera melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.

.

.

^^0^^

Update :3

Jadi, bagaimana menurut kalian chapter ini? saya harap kalian masih mau baca ff ini kedepannya :')))

Btw maaf kalo pendek :3

Thanks to :

Hamipark76, awmeanie,yeri960, naintin2, ayyPD,17misscarat, jjeonwonyet, carrotforsvt, lulu-shi,xiayuweliu,baby yoongi, BumBumJin,Princess Tyna, MeanieMouse,Yulan, autvmn21, guest,beanienim, xingmyun,kimxjeon,chubbyminland, kimAnita, Halona Jill,bangtaninmylove, syahaaz, DevilPrince, kyunie, bolang, noveliaaa, egatoti, alwaysmeanie, hoshilhoutte, naintin2, dazzpicable, lhr, NichanJung, btsvtrashhh, jeonwonyet, saymyname, p2kachuw, cheonsa19, mypockymg17, Dobby'aeri, tutihandayani, chameanie, rexov

jangan lupa komen dan kritik ^^ thank you :*