Seven Days and Come Back to Me
Meanie—Seventeen ff
Coffey Milk
Sequel for Seven Days and Fall in Love
Rate T+
OOC, BL, RnR
.
.
WARN : SINETRON ALAY TERDETEKSI
Day 3Mingyu mengerang. Kepalanya pusing sekali. Efek hangover benar-benar menyakitkan. Diteguknya aspirin dengan segelas air putih lalu mengistirahatkan tubuhnya sebelum pergi untuk mandi dan berangkat sekolah.
Ia berdiam diri sementara membiarkan air shower menghujaninya, berpikir. Ia sedikit tidak ingat apa yang terjadi tadi malam. Ia pergi ke club, membiarkan dirinya menari dengan wanita-wanita disana—termasuk Seohyun yang mengajaknya, berciuman, dan membiarkan dirinya minum-minum untuk melampiaskan rasa kesal yang masih ia rasakan, lalu mabuk, lalu… entahlah. Semoga saja tidak ada kejadian yang buruk sebelum ia sampai di rumahnya.
Ia kemudian membersihkan dirinya dan setelah selesai segera bersiap untuk berangkat sekolah. Ia keluar dari kamar sambil menenteng tas sekolahnya. Sunyi. Rumahnya selalu begini. Ayahnya selalu berangkat pagi—pulang lembur, ibunya sedang ada tugas di luar kota, dan yang tersisa adalah… adik perempuannya yang kini menatapnya murka dan dihadapannya ada satu porsi sarapan untuknya. Mingyu menelan ludah. Ini tidak bagus.
"Kemana kau pergi tadi malam? Mau kuadukan pada Ibu? Ayah bahkan menanyakan keberadaanmu sebelum dia tidur karena lelah." Suara adiknya terdengar mengerikan.
Mingyu mengambil sarapannya dan makan dalam diam sambil ditatapi dengan pandangan membunuh oleh adiknya.
"Aku pergi ke…"
"Club! Aku tau itu!" potong adiknya.
"Hah."
Adiknya menghembuskan napas kesal, ia lalu mengambil tasnya sendiri dan pergi.
"Awas kalau kau ulangi lagi! Akan benar-benar ku adukan pada Ayah dan Ibu!" serunya.
"Ya sudah sih, tinggal bilang." Balas Mingyu acuh.
"Benar ya?! Jangan menyesal kau!"
Blam!
Dan selanjutnya Mingyu menyesal mengatakan hal itu karena ia tahu apa hukuman yang akan di berikan padanya. Uang jajannya akan ditarik dan diberhentikan selama dua minggu dan dia tidak boleh mengendarai motor kesayangannya.
Ia berpikir keras untuk menyelamatkan beberapa lembar uang sebelum hal itu terjadi dan membiarkan motornya, karena toh itu mengingatkannya pada Wonwoo.
^^0^^
"Eomma! Aku berangkat!" teriak Wonwoo sambil tergesa-gesa memakai sepatunya dan berlari keluar dari rumah menuju halte.
Ia berlari sangat cepat dan semakin mempercepat kakinya saat melihat bus berwarna hijau yang menepi di halte tujuannya.
"Paaak! Paaak! Tunggu!" teriaknya dan segera masuk kedalam bus.
Dia menenangkan deru napasnya yang tersengal, lalu mengambil ponselnya dan menghadapkan layarnya ke sebuah mesin pembayaran di sebelahnya.
Pip.
Ia lalu menaiki satu tangga yang tersisa dan melangkah mencari tempat duduk. Tapi dia tidak beruntung karena tidak ada kursi kosong sama sekali dan membuatnya harus berdiri dengan berpengangan pada gantungan.
Ia menghela napas dan mengusap keringat yang menetes di keningnya. Ah, pagi-pagi sudah harus banjir keringat, keluhnya. Kakinya lelah dan kebas karena harus berlari dan kini malah berdiri. Digoyangnya sedikit kakinya kedepan untuk merilekskan otot kakinya.
Tak apalah, setidaknya ia mendapat bus, pikirnya dan tersenyum datar.
Ia memundurkan badannya untuk melihat sekitarnya. Ada beberapa siswa sepertinya, pekerja kantoran dan dua lansia. Ia menggerakkan kakinya yang satunya lagi, tapi ia malah sedikit oleng. Beruntung gantungan yang berfungsi sebagai pegangan membuatnya tidak jatuh kemanapun dan dia bisa mengatur keseimbangannya lagi. Tapi punggungnya berbenturan dengan punggung orang dibelakangnya.
Ia hendak minta maaf dan menoleh. Namun, orang dibelakangnya sepertinya tak begitu mempermasalahkannya atau sepertinya tidak menyadarinya.
Wonwoo bahkan tertegun saat tahu siapa orang itu. Memakai seragam yang sama dengannya, punggung lebar, tinggi, kulit tan, dan rambut hitam kecoklatan.
Mingyu.
Dan sepertinya Mingyu sedang melamun.
Wonwoo mengatupkan rahangnya dan bergerak sedikit menjauh, mencoba tidak bersentuhan lagi dengan pemuda itu. Jantungnya berdetak keras dan ia berusaha untuk meredakannya. Tubuhnya gemetaran dan ia berharap ia bisa keluar dari bus secepatnya dan menjauh dari pemuda tinggi itu.
Dan setelah beberapa menit kemudian, halte tujuannya mulai tampak. Ia berjalan cepat kearah pintu dan begitu pintu bus terbuka, ia melompat ke halte dan segera berlari menuju sekolahnya.
Mingyu kemudian turun beberapa menit kemudian. Raut wajahnya terlihat kacau. Ia melihat Wonwoo sebenarnya, tapi ia tak bisa melakukan apapun selain menahan tangannya untuk tidak terjulur kepada pemuda berkacamata itu, menyentuh pemuda itu, bahkan walau hanya sehelai rambut pun. Ia mencoba keras untuk menahannya.
Namun, kemudian punggung Wonwoo menyentuh punggungnya. Seolah ribuan listrik menjalar ditubuhnya, ia tersentak lalu membeku.
Diam-diam ia melirik saat Wonwoo sedikit menjauh darinya. Hatinya seolah diiris-iris. Wonwoo benar-benar membencinya, muak padanya, dia tidak ingin Mingyu berada di dekatnya. Hatinya terasa lebih diremas-remas lagi saat melihat Wonwoo cepat-cepat keluar dari bus.
^^0^^
"Kau benar-benar berpacaran dengan Mingyu, Seohyun!" pekik temannya pada Seohyun.
Seohyun mengibaskan rambut, "Tentu saja, hebat bukan?" balasnya dengan nada sombong.
"Hebat sih~ tapi, apa dia bisa bertahan denganmu?"
"Hei! Kau pikir aku siapa? Ngawur sekali mulutmu!" Seohyun emosi, "bilang saja kau tidak suka dan ingin merebut Mingyu dariku!"
"Eyy. Calm down sis." Temannya tertawa, "aku sudah punya, ingat?"
"Tsk! Bisa saja kau pindah lain hati."
"Kenapa kau sewot sekali? Huh! By the way, kenapa Mingyu selalu memutuskan kekasihnya dengan cepat ya?"
Seohyun menoleh dengan cepat dan tertawa, "Kau masih bertanya? Tentu saja karena dia bosan atau kekasihnya tidak sesuai pilihannya, seleranya, dan mereka juga tidak sebanding dengan Mingyu!"
"Erm… bukannya itu… terlalu mempermainkan? Jahat sekali."
"Dia tidak jahat! Itu bukan sesuatu yang mengherankan, karena sudah pasti dia mencari yang terbaik…" Seohyun tersenyum bangga, "yaitu aku." Lalu tersenyum maniak.
Temannya bergidik mendengarnya. Seohyun gadis yang gila. Ia lalu beralih pada jendela disampingnya. Dan mendapatkan Mingyu tengah berbicara dengan seseorang.
"Hey? Bukankah itu Mingyu?"
"Mingyu?! Mana-mana-manaaaaa?!" histerisnya.
"Itu… eh, dia sama siapa?" tanya temannya mencoba untuk tahu siapa yang berbicara pada Mingyu.
Seohyun membuka jendela dan melongokkan kepalanya untuk tahu siapa yang berbicara pada pemuda tinggi itu dan apa yang mereka lakukan. Ia lalu bisa melihatnya dengan jelas, tidak hanya satu, tapi ada dua orang yang sedang berbicara dengan Mingyu.
"Oh.." Seohyun menghela napas saat tahu siapa mereka berdua.
"Siapa?" tanya temannya.
"Seungcheol dan Soonyoung, temannya." Jawab Seohyun lalu duduk lagi.
"Temannya?" Seohyun mengangguk, "kau yakin mereka temannya?" tanya temannya lagi.
Seohyun menatap temannya bingung, "Apa maksudmu?"
"Yah. Kau tahulah, Wonwoo itu seorang cowok kau tahu? Dan dia memacarinya, lalu… apa kau tidak berpikir jangan-jangan dia juga berpacaran dengan temannya?"
Seohyun terdiam sebentar lalu wajahnya mengernyit, kemudian tersenyum lebar dan tertawa keras sambil memukul punggung temannya, temannya menatapnya bingung.
"Kenapa kau tertawa?"
"Dengar Jinha!" ucap Seohyun disela tawanya, "itu tidak munngkin terjadi! Dia sudah punya aku! Untuk apa dia mencari yang lainnya kalau sudah terpikat dengan aku?!"
Jinha hanya bisa mengelus dada mendengarkan itu.
^^0^^
"Kau masih belum menentukan apa yang akan kau inginkan sebagai hadiah pertaruhan kemarin?" tanya Seungcheol lalu menyeruput cola kalengan.
Mingyu diam, tidak bergerak, tatapannya menatap kearah kakinya yang bersilangan, pandangannya kosong.
"Mingyu." Panggil Soonyoung.
"Min to the Gyu. Hey." Panggil Seungcheol.
Mingyu tidak bereaksi. Seungcheol dan Soonyoung saling tatap, mencoba membentuk komunikasi secara telepati, tapi berakhir dengan bisik-bisik karena tidak mengerti.
"Kau yakin ini karena dia putus dengan Wonwoo?" bisik Seungcheol.
Soonyoung mengangguk, "Seratus persen. Aku rasa dia sudah jatuh cinta. Aku heran kenapa dia tidak melanjutkannya saja daripada memutuskan pemuda itu." jawabnya berbisik.
"Mungkin karena jatuh cinta, ia tidak ingin membohongi Wonwoo. Kau tahu, ini taruhan dan juga iming-iming hadiah! Dia mungkin sadar kalau ia melanjutkannya sama saja dengan mempermainkan Wonwoo." Bisik Seungcheol.
"Pertaruhan melibatkannya juga sudah mempermainkannya, bro." balas Soonyoung masih berbisik.
"Jadi bagaimana nih?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Lihat dia, seperti mayat hidup. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Seungcheol.
"Aku tidak tahu. Sebetulnya, aku sendiri cukup penasaran apa yang mereka lakukan sampai bisa membuatnya jantuh cinta dan seperti ini."
"Setuju. Bagaimana… kalau kita tanya?"
"Memang dia mau jawab?"
Kemudian keduanya beralih lagi kearah Mingyu yang masih menunduk menatap kearah kakinya.
"Mingyu?" panggil Seungcheol.
"Min~ Min~ Gyu~ Gyu~! Mingyu! Miiiiinngyuuuu! KIM MIN GYU!" teriak Soonyoung kesal.
Mingyu melompat satu senti dari duduknya, mengerjap pelan dan menatap kedua temannya, "Apa." Sungutnya.
"Hei! Bergembiralah! Kenapa kau seperti itu?" tanya Soonyoung.
Mingyu membalas dengan memutar mata jengah.
"Jawab aku!" seru Seungcheol dan Soonyoung bersamaan, lalu keduanya saling tatap.
"Aku yang tadi bertanya pertama dan dia belum menjawab, kau nanti saja!" protes Seungcheol.
"Halah."
Mingyu tidak berniat menjawab keduanya, ia malah berdiri dan pergi. Seungcheol dan Soonyoung menatap kepergiannya lalu saling tatap.
"Aku pikir kita harus mengikutinya." Ucap Soonyoung.
"Kau benar, lagipula kita yang duluan membuatnya harus melakukan pertaruhan itu."
"Bukan aku, tapi kau."
.
.
Mingyu berjalan lambat-lambat, nyaris menyeret langkahnya. Ia berpikir tentang pertanyaan Seungcheol.
Apa yang ia inginkan sebagai hadiah pertaruhan?
Jika sebelumnya Mingyu menginginkan sebuah bass untuk menggantikan bass-nya yang patah karena jatuh dari lantai dua rumahnya, kini Mingyu mengganti keinginannya.
Sebuah keinginan yang tidak mungkin bisa mereka berdua berikan padanya. Bukan karena keinginannya adalah sesuatu seperti benda mewah langka dengan harga yang sangat mahal. Bukan pula sebuah posisi atau kedudukan bergengsi yang bisa menaikkan statusnya.
Ini sesuatu sederhana.
Tidak bisa di beli dengan uang. Uang manapun. Bahkan berjuta-milyar apapun.
Tapi sangat susah untuk bisa ia dapatkan.
Ia menghentikan langkahnya saat melihat sosok Wonwoo yang sedang duduk di kursi taman sambil membaca buku. Ia memperhatikan bagaimana Wonwoo tersenyum kecil sambil jemarinya membalikkan kertas buku yang ia baca. Pemuda itu tampak asyik dalam dunia kecilnya.
Melihat Wonwoo membuat Mingyu ikut tersenyum.
Dia lah yang dia inginkan.
Mingyu menginginkannya, ia ingin Wonwoo kembali padanya.
.
.
Seungcheol dan Soonyoung yang mengikuti Mingyu dari belakang terdiam saat melihat Mingyu menatap Wonwoo yang sedang duduk sendirian sambil membaca buku.
Wajah Mingyu tampak sedih dan ia tersenyum tipis.
Seungcheol dan Soonyoung tak tahu harus melakukan apapun saat melihat ini. Mereka merasa bersalah. Mingyu yang mereka kenal sebagai teman dan adik yang ceria kini tampak menyedihkan, sangat menyedihkan.
"Seungcheol." "Soonyoung." Keduanya saling memanggil lalu saling tatap.
"Aku tahu apa yang dia inginkan." Ucap Soonyoung.
Seungcheol mengangguk, "Kita harus melakukan sesuatu."
"Tapi… apa?"
.
.
^^0^^
Apa hayoooo
Update :3
Jadi, bagaimana menurut kalian chapter ini? Btw maaf kalo pendek :3 dan ada banyak salah dan typo :3
Thanks to review :
Hamipark76, awmeanie, yeri960, naintin2, ayyPD, mingchewifeu, carrotforsvt, lulu-shi, xiayuweliu,baby yoongi, BumBumJin,Princess Tyna, MeanieMouse,Yulan, autvmn21, guest,beanienim, kimxjeon,chubbyminland, kimAnita,Halona Jill, bangtaninmylove, syahaaz,DevilPrince, kyunie, bolang, noveliaaa,egatoti,jeonwonyet, saymyname,cheonsa19, Dobby'aeri,tutihandayani,rexov, ayampop, wonoo, fajarnurc, nikeagustina16, Park rinhyun-uchiha, kimgyutem, alwayxtora, Khasabat04, twelves, jeononu, Albus Convallaria majalis, HalololoHayiyiyi, mingyuwonu, joysberry, fansmu, seira minkyu, Feroseaa, Item buluk, wonderfulwoo, Vinkev rin fujoshi24 kjs11, Driedleaves
Repiu lagi ya guys/dor
