Seven Days and Come Back to Me

Meanie—Seventeen ff

Coffey Milk

Sequel for Seven Days and Fall in Love

Rate T+

OOC, BL, RnR

.

.

WARN : SINETRON TERDETEKSI LAGI

Day 4

"Hei, Mingyu."

Mingyu menoleh dan mendapati seorang gadis cantik di belakangnya.

"Ada apa?" tanyanya, sedikit menyunggingkan senyum.

Gadis itu merona melihat senyumnya, lalu tersenyum balik dengan sangat manis kearah Mingyu.

"Apa kau benar-benar berpacaran dengan Seohyun?" tanyanya.

Mingyu terdiam sejenak dan menggeleng, "Kenapa?"

"Benar?" tanyanya penuh selidik.

Mingyu mengangguk, memperhatikan penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Gadis itu mengikat rambutnya tinggi, ia tidak memakai lipstick seperti kebanyakan siswi yang lain di sekolah mereka, ia memoleskan wajahnya dengan bedak tipis-tipis—tidak akan terlihat dari jauh kecuali kau melihatnya dari dekat— seragamnya tidak begitu rapi, di balik blazer-nya, gadis itu memakai jaket kaos ber-hoodie dan ia menggunakan celana olahraga di balik roknya. Gadis tomboy?

"Jadi, bisa aku ajak kau keluar?" tanya gadis itu.

"Apa?" tanya Mingyu balik.

"Aku ajak kau keluar. Nanti? habis pulang sekolah mungkin?" tanya gadis itu.

"Baiklah. Untuk apa?"

"Jadi begini. Aku dapat dare dari temanku untuk mengajak kencan siswa terpopuler di sekolah ini. Kau tau dare kan? Permainan truth or dare itu lho. Jadi mereka menyuruhku untuk itu. Kau harus tahu, sebetulnya aku tidak mau, walau kau laki-laki populer, kau itu bukan tipeku," Mingyu baru kali ini mendengar hal itu, tapi dia tetap tersenyum, gadis itu lalu mendengus "Lagipula, Seohyun itu gadis mengerikan, aku tidak ingin berurusan dengannya dan temanku malah menginginkanku untuk itu. setidaknya aku tenang kau tidak pacaran dengannya."

Mingyu mengangguk.

"Bagaimana? Maaf ya. Kau tidak sibuk kan?" tanya gadis itu.

"Tidak. Aku sangat senggang. Jadi kemana kita pergi?" tanya Mingyu.

"Mmm.. kemana ya? aku rasa walau kau tidak berpacaran dengan Seohyun, dia akan mengikutimu."

"Ah, aku bisa melepaskan diri darinya, tidak masalah."

Gadis itu mengangguk sambil berpikir sebentar, "Ah! Bagaimana jika kita ke arcade?" tanyanya.

Mingyu menaikkan alisnya, "Apa?"

"Arcade. Kau tidak keberatan kan?"

"Kenapa arcade? Bukankah kalau kencan itu biasanya ketempat yang lebih romantis? Seperti restoran? Bioskop? Taman bermain? Karaoke?"

Gadis itu tersenyum geli, "Nah, itu menyenangkan. Tapi aku tidak punya uang untuk ke restoran—"

"Aku bisa membayarmu."

"Lebih baik jangan, nafsu makanku mengerikan. Taman bermain sudah hari minggu kemarin bersama teman-temanku. Karaoke, lebih baik jangan, aku buta nada. Bioskop? Tidak ada film yang menarik untukku."

Mingyu tertawa, "Baiklah. Baiklah."

"Bagaimana jika kita bertemu di warung minuman sebelah sekolah? Lalu kita pergi."

"Oke."

Gadis itu tersenyum puas, "Thanks, Mingyu. Sampai nanti." ia lalu berlari menjauh, "oh ya! Namaku Yura!"

Mingyu mengangguk. Lalu pergi. Ia tidak menyadari Yura tersenyum puas di ujung sana, lalu mengambil ponsel.

"Aku sudah melakukannya… tidak, dia tidak curiga sama sekali, apa dia biasa diajak oleh orang lain?... ah.. begitu. Nah, lalu? Apa kau akan memberikan uangnya nanti padaku? …. Haiishh heeehh…. PS ku rusak dan aku butuh itu! Jadi awas saja kau kalau tidak memberikannya padaku!"

^^0^^

"Wonwoo."

Wonwoo menoleh saat seseorang memanggilnya. Ia lalu melihat pemuda berambut ungu mendekat.

"Em? Ya Jihoon?" tanya Wonwoo.

Jihoon tersenyum, "Kau setelah ini tidak sibuk kan?"

"Tidak, tapi aku ingin ke toko buku. Kenapa? " tanya Wonwoo, balas tersenyum.

"Aku stress belakangan ini, jadi bagaimana kalau kau ku ajak untuk bermain?" tanya Jihoon.

"Umm… baiklah?" Wonwoo mengernyitkan alisnya, ia sedikit bingung, setahunya Jihoon bukanlah orang yang suka bermain apalagi dengan orang yang jarang bergaul seperti dirinya. Ah, mungkin karena dia terlalu stress.

"Thanks, Woo! Akan aku temani kau nanti ke toko buku!"

"Mau bermain dimana?" tanya Wonwoo.

"Arcade."

Wonwoo terdiam, lalu Jihoon kembali ke bangkunya karena guru sudah datang. Arcade. Tempat itu mengingatkannya pada Mingyu. Wonwoo menghela napas dan menjambak rambutnya frustasi.

Dirinya yang memutuskan Mingyu. Dirinya yang terus menerus memikirkan Mingyu. Ini tidak adil. Kenapa pemuda itu terus menghantui pikirannya? Ini sangat mengganggunya.

"Wonwoo."

"Wonwoo!"

Ia tersentak, lalu menoleh, "Eh. Ya?" ia mengerjap.

"Buku tugasmu. Dikumpulkan." Wonwoo lalu dengan panik segera mengambil tugasnya dan mengumpulkannya pada ketua kelas.

.

.

.

"Kenapa arcade?" tanya Wonwoo begitu mereka keluar dari toko buku.

"Sudah lama aku tidak kesana." Jawab Jihoon, "sesekali aku tidak memegang lembar partitur itu menyenangkan." Lanjutnya.

Wonwoo mengangguk saja, ia mengikuti langkah-langkah Jihoon menuju arcade yang berada beberapa meter dari toko buku.

"Oh ya, Wonwoo." Panggil Jihoon, Wonwoo membalasnya dengan gumaman, "ini tidak kali pertamanya kau ke arcade kan?"

.

.

Arcade hari itu ramai sekali, tapi itu tidak menyurutkan niat Jihoon yang menggebu. Begitu sampai, mereka membeli koin dan segera menuju suatu mesin game yang terlihat lenggang dan memainkannya, lalu setelah puas, mereka beralih pada mesin game yang lain.

Wonwoo menikmatinya. Walaupun sesekali tempat itu membuatnya teringat lagi pada Mingyu, ia tetap menikmatinya. Bermain bermacam-macam game membuatnya merasakan bebannya sedikit berkurang.

Hingga sebuah pertemuan yang tidak ia harapkan terjadi.

Wonwoo mendesis kesal. Ia melihat layar mesin game yang menampilkan kata-kata 'YOU LOSE' yang ke-6 kalinya. Ia mengumpat dalam hati. Siapa sih yang berkali-kali mengalahkannya ini? Ia lalu berdiri untuk melihat di balik monitor mesin game dan langsung menatap sengit pada seseorang yang berada di balik monitor yang lain yang sedang merayakan kemenangan dengan bersiul keras.

Lalu mata mereka bertemu dan kedua tubuh itu membeku di tempat.

"Wonwoo…"

"Mingyu.."

Wonwoo dengan cepat membuang muka dan mencari Jihoon untuk di ajak pulang. Namun saat ia menoleh kearah Jihoon yang tadi duduk disebelahnya untuk memainkan game yang sama, kini Jihoon tidak ada, bagai hilang di telan bumi.

"Jihoon?!" panik Wonwoo. Ia mengerdarkan pandangan, mencoba mencari sosok mungil agak gemuk Jihoon di antara muda-mudi yang bersliweran.

"Jihoon?!" panggilnya dan berlari mencari Jihoon. Dalam hati dia mengumpat, kenapa Jihoon malah pergi entah kemana saat ia butuh pemuda itu?!

"Jihoon?!"

Mingyu mengikuti langkah Wonwoo yang panik mencari Jihoon. Mingyu sendiri sudah tidak peduli dengan Yura yang sepuluh menit yang lalu hilang entah kemana. Gadis itu menepuk bahunya dan berkata untuk pergi ke mesin game yang lain, tapi saat ia mencarinya dengan mata, Mingyu tak menemukannya di manapun.

Mingyu merasa tidak beres dan kecurigaannya terbukti ketika ia bertemu Wonwoo dan pemuda itu kehilangan temannya. Ini seperti seseorang telah menyusun rencana agar mereka berdua bertemu. Siapapun orang itu, Mingyu merasa berterimkasih.

"Jihoon. Kau dimana….?" Tanya Wonwoo pelan.

"Wonwoo."

Wonwoo menoleh, mendapati Mingyu yang beberapa menit yang lalu ia lupakan karena sibuk mencari Jihoon. Napas Wonwoo menderu, ia menatap Mingyu dengan mata ketakutan.

Mingyu lalu menggenggam kedua tangan Wonwoo, "Kau tidak usah panik. Jihoon bukan anak kecil yang bisa menghilang begitu saja, kau pasti bisa bertemu dengannya nanti…." Mingyu menggaruk lehernya yang tak gatal, "umm… jadi,,, tenangkan dirimu."

Wonwoo terdiam. Menatap kedua tangan yang menggenggam tangannya. Wonwoo merasa rasa rindu menyeruak di dadanya. Genggaman tangan yang ia rindukan kini menggenggam tangannya lagi, ia senang sekali, namun dengan cepat di tutupinya perasaan itu dan menepis tangan Mingyu.

Lalu dengan canggung sambil mengusap tangannya dengan gelisah, Wonwoo berucap, "Iya… aku rasa aku terlalu berlebihan…"

Keadaan diantara mereka semakin canggung dan tak ada yang berbicara sama sekali. Wonwoo tidak menyukai kecanggungan ini dan berbalik untuk mencari keberadaan Jihoon lagi. Mingyu yang tak tahu harus apa, lebih memilih mengikuti langkah Wonwoo sambil sesekali mencari sosok Yura yang menghilang entah kemana.

Capek mencari, keduanya memilih keluar dari arcade. Mata Wonwoo membulat saat mendapati Jihoon bersama Soonyoung hendak pergi dengan motor.

"Jihoon!"

Jihoon menoleh, tersenyum lebar, "Ah! Maaf Wonwoo! Sampai besok!" lalu Jihoon dan Soonyoung pergi meninggalkan asap mengepul kearah mereka.

Wajah Wonwoo memucat, kenapa Jihoon meninggalkannya begitu saja?

Wonwoo lalu melirik takut-takut pada Mingyu yang sedang memainkan ponselnya.

Jangan-jangan pertemuan ini di sengaja?!

Dengan cepat Wonwoo bergerak menjauhi Mingyu, selangkah demi selangkah. Tapi sialnya, saat ia akan berlari, tangan Mingyu bergerak cepat untuk menahan lengannya. Wonwoo memberontak, menggoyangkan tangannya yang di cengkram Mingyu secara brutal untuk melepaskan diri.

"Wonwoo, kita harus bicara."

Wonwoo tidak menanggapi, masih tetap berusaha melepaskan diri dari Mingyu.

"Won—ARGH!"

Wonwoo mengigit tangan Mingyu beringas dan cekalan Mingyu melengah. Mendapat kesempatan, Wonwoo segera melarikan diri.

"Wonwoo!"

Mingyu mengejarnya. Dalam hati mengumpat karena lari Wonwoo luar biasa cepat, tapi berkat stamina dan kaki panjangnya, ia sudah berada satu meter di belakang Wonwoo.

"Tunggu, bodoh!" teriak Mingyu.

Wonwoo menggeleng keras dan terus berlari.

"Hey! Tunggu!"

"Heyy! Heyy!"

"Berisik! Namaku bukan heyy!" kesal Wonwoo.

Tapi Mingyu tetap meneriakinya dengan 'hey' dan orang-orang yang mereka lewati melihat mereka dengan aneh.

"Namaku bukan hey!"

"Oh! Jadi kau ingin aku memanggil namamu?!"

Wajah Wonwoo yang sudah memerah karena berlari, makin memerah, "Untuk apa kau mengejarku?! Biarkan aku sendiri!"

"Dalam mimpimu, heyy!"

"Namaku bukan heyy!"

Mingyu menghembuskan napas keras-keras, kesabarannya sudah hampir diambang batas, ia lalu mempercepat langkahnya. Wonwoo yang melihat hal itu panik, apalagi wajah Mingyu tidak bisa dibilang ramah sama sekali.

"Sayangku! Berhenti berlari!" teriak Mingyu panik saat melihat ada tiang listrik di depan Wonwoo.

Wajah Wonwoo memanas, "Apa?!—ARGH!"

Duak!

Kepalanya membentur tiang listrik dengan telak dan pandangannya langsung berkunang-kunang. Tubuh Wonwoo jatuh merosot dan Mingyu dengan cepat menahannya sebelum menyentuh tanah.

^^0^^

Wonwoo membuka mata, hal yang pertama kali ia rasakan adalah rasa sakit di kepalanya dan hal yang pertama kali ia lihat adalah atap kamarnya, lalu hidung seseorang disampingnya.

Huh? Hidung?

Ia dengan cepat menoleh dan wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Mingyu yang sedang tidur, hidung mereka hampir bersentuhan. Wajah Wonwoo dengan cepat memerah dan semakin memerah saat menyadari dirinya dalam pelukan erat Mingyu.

Wonwoo tergagap. Tidak tahu harus berekasi apa selain membeku di tempat. Ia bisa merasakan hawa di sekitarnya memanas, apalagi saat ia bisa merasakah hangatnya napas Mingyu di kulitnya.

Lalu Mingyu memeluknya semakin erat dan mendekat, menghasilkan bibir keduanya saling menyentuh. Wonwoo merasa ribuan listrik menyentrum tubuhnya.

Wonwoo dengan wajah memanas berhasil mendorong Mingyu hingga pemuda tinggi itu terjatuh dari kasur, menghasilkan suara debaman dan teriakan kesakitan Mingyu. Mingyu pun terbangun dan mengumpat-umpat, lalu setelah sadar dia berada dimana dan apa yang telah terjadi ia segera beralih pada Wonwoo yang duduk diatas kasur sambil menunduk dalam.

"Oh! Wonwoo! Syukurlah kau bangun!" Mingyu dengan cepat memeluknya, "Thanks God…"

Wonwoo gelagapan dan mencoba melepaskan diri, tapi Mingyu malah mengeratkan pelukan dan mengguncang tubuh Wonwoo sedikit.

"Kau tidak tahu betapa cemasnya diriku."

Wonwoo terdiam mendengarnya.

Lalu Mingyu melepaskan pelukan dan menangkup sisi kepala Wonwoo dengan kedua tangan. Memperhatikan detail wajah Wonwoo, mengelus lembut mata, kening dan hidung Wonwoo dengan ibu jari. Wonwoo hanya bisa menutup satu matanya saat Mingyu melakukan hal itu, persis seperti seekor kucing yang keenakan di elus tuannya.

Mingyu lalu mengelus rambut Wonwoo dan mendekatkan bibirnya untuk mengecup kening Wonwoo, turun ke mata, lalu ke pipi, ke hidung dan terakhir, ke bibir. Mingyu menatap sendu mata Wonwoo yang sedari tadi terpejam, lalu melepaskan ciumannya, kemudian memberi kembali kecupan-kecupan kecil ke bibir Wonwoo sebelum berkata,

"Kita harus berbicara." Wonwoo diam, menatap mata Mingyu yang menatap matanya pula.

"Wonwoo. Aku tidak bisa." Ucap Mingyu setelah beberapa saat mereka terdiam.

Wonwoo menatapnya dengan tatapan bingung, tidak bisa apa?

"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa berpacaran dengan orang lain selain dirimu. Aku…" Mingyu terdiam sejenak, ia bisa merasakan Wonwoo menatapnya dengan tatapan tidak percaya, "ini mungkin bukan urusanmu. Ini mungkin…. Mmm…. Membuatmu tambah muak padaku…"

Wonwoo membuang muka, tahu apa yang selanjutnya akan di katakan Mingyu.

"Wonwoo, aku mohon, beri aku lagi kesempatan. Aku ingin berpacaran lagi dengamu."

"Keluar."

"Wonwoo—"

"Urus saja sana pacarmu."

"Aku tidak punya pacar!"

"Keluar."

"Aku tidak pacaran dengan siapapun, bahkan Seohyun!"

"Aku tidak peduli."

"Kau harus peduli! Kau harus tau bagaimana rasanya diriku yang selalu mengingatmu setiap saat!"

Wonwoo terdiam.

"Aku mohon, Wonwoo.." lirih Mingyu sambil meremas lembut tangan Wonwoo yang berada di genggaman tangannya.

Ruangan itu hening. Wonwoo tidak ingin berkata apapun bahkan dia sama sekali tidak menatap mata Mingyu. Mingyu sendiri menatap Wonwoo dengan pandangan berharap. Menit demi menit berlalu keduanya mempertahankan posisi mereka.

Wonwoo terdiam, tidak tahu harus apa. Benaknya seolah bergulat untuk menerima Mingyu kembali atau menolaknya. Ia akui ia rindu sekali pada pemuda itu, bahkan ia menahan kuat-kuat keinginannya untuk memeluk Mingyu.

Ia senang sekali Mingyu tidak berpacaran dengan siapapun, ia semakin senang saat mendengar Mingyu mengingatnya setiap saat. Dadanya berdebar dan ia merasakan perutnya seolah digelitiki oleh beribu kupu-kupu.

Perlahan Mingyu menggerakkan kepala Wonwoo agar berhadapan dengannya. Ia kembali mengelus wajah tanpa cela itu. Seolah terhipnotis oleh sesuatu, wajah keduanya mendekat dan bibir mereka kembali bersentuhan.

Awalnya hanya sentuhan lembut, tapi Mingyu seolah haus untuk mendapatkan lebih dari bibir itu, jadi dia memperdalam sentuhannya, mencium Wonwoo. Wonwoo melenguh saat lidah Mingyu bermain di belah bibirnya, lalu memekik saat Mingyu menggigit dan mengulum bibir bawahnya lalu berlanjut bibir atasnya.

Mingyu sama sekali tidak merasakan penolakan apapun, maka dia memeluk erat tubuh Wonwoo dan semakin memperdalam ciuman mereka. Keduanya saling bertukar saliva dan lidah mereka bergulat dengan akhirnya Wonwoo menyerah dan membiarkan Mingyu menguasainya.

Ckrek.

"Won, kau—"

Keduanya segera menjauh dengan Wonwoo mendorong Mingyu keras hingga pemuda itu harus jatuh ke lantai untuk yang kedua kalinya. Lalu keduanya menatap kearah Ibu Wonwoo yang berada di depan pintu yang menatap mereka dengan tatapan menyelidik, wajah keduanya memerah.

"Eum.. aku tidak mengganggu kan?" tanya Ibu Wonwoo.

Keduanya menggeleng, Ibunya tersenyum, "Turunlah! Sudah waktunya makan malam!" lalu pergi.

Wonwoo dan Mingyu terdiam, saling membuang pandangan dan tak berani bertatap mata, rona merah di pipi mereka belum hilang. Wonwoo menepuk-nepuk pipinya pelan dan mengelus bibirnya yang basah dan merekah. Rasanya panas dan teringat saat keduanya berciuman tadi.

Wajah Wonwoo memerah lagi. Ia dalam hati merasa berterimakasih Ibunya datang, kalau tidak, entahlah apa yang terjadi. Ia melirik-lirik Mingyu dengan malu-malu, sedangkan Mingyu duduk menunduk dan tidak berani menatapnya.

Wonwoo mengusap bibirnya dengan selimut, lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Mingyu menatap punggungnya, ia sebetulnya merasa takut Wonwoo akan marah padanya setelah apa yang mereka lakukan barusan.

"A-ayo m-makan malam." Ucap Wonwoo.

Mingyu tersenyum senang, bersyukur Wonwoo tidak marah padanya "Iya." Dan ia mengikuti langkah Wonwoo seperti anak anjing.

.

.

^^0^^

Update :3

Jadi, bagaimana menurut kalian chapter ini? Puas tidak? Btw maaf kalo pendek :3 sengaja :p

Thanks to :

Hamipark76,yeri960, ayyPD,17misscarat,jeononu, xiayuweliu, baby yoongi, BumBumJin,Princess Tyna, MeanieMouse,Yulan, autvmn21,beanienim, kimAnita,bangtaninmylove, syahaaz, DevilPrince, noveliaaa, egatoti,jeonwonyet,saymyname, cheonsa19, Dobby'aeri, tutihandayani, halololohayiyiyi, ayampop, Albus Convallaria majalis, wonoo, seira minkyu, fansmu, jeonghaneko, twelves, driedleaves, sebongs, alfhwnda, TiasPrahastiwi, awmeanie, Park RinHyun Uchiha, kimhaelin29, monwiijeonwii, natasya, jeondere, alwayztora, meanie shipper, 17dollars, Kimgyutem, fajarnuc, starlight11th , sungrinpark, Gygikun, Axrine Scott, svteenteen

Dan juga semua yang uda baca :))

btw, aku lagi nulis ch terakhir. Menurut kalian, aku harus nulis apa? Ada usul? Kalo ada yang pas, aku usahain masukin ke ch akhir deh. Asal jangan yang berbau rating M, karena aku gak mood buat yang begituan kecuali ada yang mau buatin lololol. Seriusan. Jangan rating M.

See you~