Seven Days and Come Back to Me
Meanie—Seventeen ff
Coffey Milk
Sequel for Seven Days and Fall in Love
Rate T+
OOC, BL, RnR
.
.
WARN : SINETRON TERDETEKSI LAGI
Day 5Raut wajah Seohyun tampak tidak senang, sangat-sangat tidak senang. Sejak pagi tadi air mukanya sangat keruh dan tatapan matanya tampak tak bersahabat. Selama perjalanannya menuju ke suatu tempat, ia terus menabrak orang dan memberi mereka omelan.
Kebencian merambat di hatinya. Kebencian yang kembali datang saat kemarin ia melihat sesuatu yang membuat emosinya berubah begitu buruk.
Mingyu yang menggendong Wonwoo ala bridal style.
Seohyun tidak suka melihatnya. Benci. Benci. Benci. Ia benci Wonwoo. Pemuda itu benar-benar perusak impiannya. Pemuda itu mengambil sesuatu yang harusnya miliknya dan Mingyu adalah miliknya.
Namun, berani-beraninya Wonwoo kembali merebut Mingyu darinya.
Seohyun mendesis, "Aku benar-benar tidak menyangka jalang satu itu pandai berakting. Apanya yang taruhan tujuh hari?! Apanya yang putus dengan Mingyu?! Brengsek. Brengsek. Brengsek."
Seohyun tak habis pikir apa yang membuat Mingyu dengan bodohnya menyukai Wonwoo. Tak ada yang menarik dari pemuda itu. Bagi Seohyun, Wonwoo bahkan tak sepadan dengannya.
Seohyun menatap pantulan dirinya di salah satu kaca besar di ujung koridor. Ia tersenyum sombong melihat pantulan dirinya sendiri. Ia percaya diri dengan dirinya. Ia merasa cantik, dengan wajah mulus tanpa cela, tubuh bak model yang aduhai, dan tinggi badan yang proposional.
Lalu kenapa Mingyu bahkan tidak meliriknya?!
Ia kembali mendesis kesal. Langkahnya ia hentakkan. Matanya kembali berkobar penuh amarah saat ia melihat sosok Wonwoo yang berada beberapa meter di depannya, baru saja keluar kamar mandi pria dan berjalan menuju tangga.
Seohyun memperhatikan sosok itu dari atas hingga bawah, begitu pun saat Wonwoo membenarkan letak blazernya yang terselip di celananya.
Mata Seohyun berkilat-kilat penuh dendam. Serancangan rencana busuk tercipta di otaknya. Ia menyeringai.
^^0^^
Mingyu memperhatikan Wonwoo dari jauh. Menyisip pelan-pelan susu kotak yang sedang ia pegang. Ia tersenyum kecil melihat Wonwoo yang ceroboh menjatuhkan buku-buku yang ia bawa. Mingyu sebetulnya ingin membantu, tapi jarak mereka cukup jauh saat ini.
Disaat ia sedang asyik memperhatikan Wonwoo, Mingyu tersentak saat merasakan sebuah tatapan tajam ke arahnya. Dengan cepat ia menoleh dan mencari-cari dari mana asal tatapan itu, tapi ia tak dapat menemukannya karena disekelilingnya terdapat banyak murid-murid yang bersliweran.
Mingyu kembali menyisip susu kotaknya. Entah kenapa ia sedikit merasa was-was, perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Mingyu mencoba memutar otak, berpikir keras akan apa yang mengganggu perasaannya sekarang. Tapi beberapa kali pun ia berpikir, ia tak punya petunjuk apapun.
^^0^^
Wonwoo menurunkan buku-bukunya diatas meja. Ia mengernyit, merasakan seseorang tengah menatap kearahnya. Itu bukan tatapan yang baik, Wonwoo merasakan ia tidak sekali merinding ketakutan. Awalnya ia mengira itu hanya Mingyu yang memperhatikannya dari jauh, ia tahu karena ia tak sengaja melihat Mingyu memandanginya. Namun, tatapan yang Mingyu berikan bukan tatapan yang membuatnya takut, tapi tatapan yang membuatnya merasa aman dan terlindungi. Dan tatapan yang berikutnya bukan tatapan yang sama, bukan pula dari orang yang sama.
Ia bisa merasakan tatapan Mingyu dari samping dan tatapan itu dari belakang dirinya, seolah mencoba menerkamnya. Wonwoo sudah beberapa kali diam-diam melirik ke belakang, tapi ia tidak tahu siapa pelakunya.
Wonwoo kembali merinding. Ia takut.
Tangan Wonwoo meraih ponsel di saku dalam blazernya, menghidupkannya dan mencari kontak Mingyu disana.
Liar—08XXXX
Wonwoo ragu untuk menekan tombol dial disana. Ia merasa gengsi berat untuk menghubungi pemuda itu, apalagi setelah apa yang terjadi pada mereka, tapi rasa ketakutan itu mulai besar. Setelah beberapa lama ia berkutat dengan pikirannya, Wonwoo memutuskan untuk tidak menghubungi Mingyu.
Ia kembali membawa buku-bukunya dan berjalan menuju kelasnya dengan hati-hati. Ia menarik napas.
Aku harus kuat. Aku bisa mengatasi ini. Pikirnya.
^^0^^
Mingyu merenggangkan otot-otot lengannya dan menguap. Pelajaran yang baru saja berakhir ia lewati dengan tidur pulas dan ia akan meminjam buku Seungcheol nanti.
Terdengar bunyi buku yang di lemparkan ke mejanya, Mingyu langsung melirik pelakunya.
"Dasar kebo, kau harus salin ini sekarang, sekarang. Aku tidak mau besok." Ucap Seungcheol.
Mingyu melongo, padahal dia bahkan belum mengatakan ia akan meminjam buku Seungcheol, tapi pemiliknya sendiri sudah menawarkannya.
"Akan ada ulangan dan kau tadi malah tidur." Ucap Seungcheol.
Mingyu mengangguk mengerti dan menguap malas. Ia segera membuka bukunya sendiri dan mengambil pena.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kemarin?" tanya Seungcheol.
"Bagaimana, apa?" tanya Mingyu sambil mulai menulis.
"Kau dan Wonwoo." Jawab Seungcheol.
"Lumayan. Thanks bantuannya." Balas Mingyu.
"Apa kalian baikan? Oh, sebentar. Apa kau sudah pernah menceritakan tentang pertaruhan itu?" tanya Seungcheol.
Mingyu terdiam sejenak, tampak berpikir lalu menggeleng lemah, "Aku tidak berani. Lagipula, dia yang memutuskanku karena muak padaku. Lalu bagaimana bisa aku mengatakan taruhan itu padanya? Dia akan semakin membenciku."
Seungcheol membulatkan mata, "Apa? Jadi dia yang memutuskanmu? Bukan kau?! Kenapa aku baru tahu hal ini?" tanyanya bertubi.
"Kau tidak bertanya sebelumnya." Jawab Mingyu acuh, mengingat saat Wonwoo memutuskan hubungan mereka sedikit membuatnya sedih. Namun, saat ia kemudian mengingat kejadian tadi malam, ia kembali bingung.
Apa benar Wonwoo muak padanya? Lalu kenapa Wonwoo menerima saja ciuman tadi malam itu?
"Pantas saja kau terlihat seperti orang patah hati." Ucapan Seungcheol membuyarkan pikirannya, "kami pikir aneh sekali kau bersikap seperti itu padahal kau yang memutuska dia, ternyata. Sepertinya kami kurang memperhatikan." Lanjut pemuda itu.
Mingyu diam saja dan melanjutkan salinannya yang trtunda.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Seungcheol, "aku lihat sepertinya kau jatuh terlalu dalam padanya."
Mingyu tersenyum miris, "Entahlah."
Seungcheol lalu pergi, meninggalkan Mingyu yang sibuk dengan salinannya dan pikirannya yang penuh akan bayangan Wonwoo. Mingyu rindu sekali. Ia bersumpah akan memeluk pemuda itu nanti jika mereka bertemu.
Ngomong-ngomong, dia sedang apa ya? tanya Mingyu sambil tersenyum tipis.
^^0^^
Tatapan mengerikan itu semakin menjadi-jadi, terasa liar, mencekam, dan tak membuatnya bisa tenang sama sekali. Wonwoo merasa di telan bulat-bulat, tubuhnya kembali merinding ketakutan. Tidak hanya satu, tapi ada tiga atau empat, Wonwoo bisa merasakan beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan yang mengerikan.
Dengan kakinya yang gemetar hebat, dia mencoba berjalan menuju Jihoon dan duduk disebelah pemuda itu.
"Wonwoo?" Jihoon menoleh kearahnya, sedikit terkejut saat melihat wajah Wonwoo yang sudah pucat semakin pucat.
Bibir Wonwoo bergetar, Jihoon semakin panik, "Kau pucat sekali, sakit?"
Wonwoo menggeleng, Jihoon semakin heran. Wonwoo lalu memeluknya.
"Ji-Ji-hoon… tolong aku.." bisiknya.
Jihoon terdiam, ia bisa merasakan tubuh yang memeluknya sekarang sedang gemetar hebat. Jihoon sedikit heran.
"Ada apa? Mana Mingyu?" tanya Jihoon berbisik.
Wonwoo tak menjawab, Jihoon melirik sekitar mereka, mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi dan apa yang membuat Wonwoo begitu ketakutan, tapi ia tak mendapatkan apapun. Perlahan ia melepaskan pelukan Wonwoo dan mengelap keringat dingin yang muncul dari balik rambut Wonwoo.
"Apa yang terjadi?" bisik Jihoon.
"Ada yang mengikutiku." Jawab Wonwoo berbisik.
Mata Jihoon membesar, "Mingyu?"
Wonwoo menggeleng, "Bukan Mingyu, ada banyak Jihoon." Bisik Wonwoo.
"Ayo pergi dari sini." Bisik Jihoon cepat.
Wonwoo mengangguk, ia lalu mengikuti langkah-langkah Jihoon melewati koridor. Langkah-langkah mereka cepat, tapi Wonwoo tidak berkutik saat sepasang tangan membekap mulutnya dan menariknya.
Wonwoo mencoba melepaskan diri dan memanggil-manggil nama Jihoon, tapi sayangnya pemuda itu tak menyadari apapun. Baru setelah beberapa menit, Jihoon menyadari Wonwoo telah hilang dari belakangnya.
"Wo—Wonwoo…?" Jihoon merasa jantungnya bisa mencelos saat itu juga.
^^0^^
Mingyu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, kelas sudah kosong bebera detik yang lalu. Mingyu terburu, ia tidak sabar untuk segera bertemu Wonwoo. Sedari pagi tadi ia memperhatikan pemuda itu dari jauh, membuat perasaan rindunya semakin bertambah.
Sebenarnya ada alasan lain bagi Mingyu untuk segera bertemu Wonwoo, Mingyu ingin mengetahui apakah pemuda itu baik-baik saja. Sedari tadi ia merasakan perasaan tidak enak yang sangat mengganggunya. Hatinya jadi tidak tenang.
Namun, baru saja ia akan melangkah keluar kelas, tubuhnya terdorong dan Seohyun muncul di depannya lalu menutup pintu di belakangnya.
"Kau mau kemana, Oppa?" tanya Seohyun dengan nada manja.
Mingyu menatapnya dengan tatapan tidak senang, "Apa maumu, Seohyun?"
"Mauku?" tanya Seohyun sambil menatap Mingyu dan mengelus bibirnya yang sudah terlapisi lipbalm, "aku mau Mingyu-Oppa." Lanjutnya dan membuka blazernya.
Mingyu meringis saat Seohyun melempar blazernya dan mendekatinya sambil membuka satu persatu kancing kemejanya, memperlihatkan kedua buah dadanya yang masih tertutup bra.
.
.
"Soonyoung! Seungcheol!" panggil Jihoon panik.
Dua orang yang merasa namanya di panggil segera menoleh dan mendapati Jihoon yang berlari kearah mereka dengan wajahnya yang panik.
"Ada apa, honey?" tanya Soonyoung sambil merentangkan kedua tangan, bermaksud menyambut Jihoon.
Jihoon berhenti di hadapan mereka tanpa menghambur kedalam dekapan Soonyoung dan itu membuat pemuda bermata sipit itu manyun.
"Ada apa, Jihoon?" tanya Seungcheol.
"Won…woo…" napas Jihoon putus-putus, "to..long Wonwoo…. Dia… dia… beberapa murid berandal membawanya.."
Kedua mata Seungcheol dan Soonyoung membulat, "Apa?!"
"Dimana Mingyu sekarang?" tanya Seungcheol.
"Aku tidak tahu! Aku bermaksud memanggilnya, tapi aku tidak punya nomornya!" jawab Jihoon.
"Pakai ponselku," sahut Soonyoung dan memberikan ponselnya, ia lalu menoleh ke Seungcheol, "Cheol, sekarang kau cari dimana Wonwoo berada."
Seungcheol lalu pergi dan Soonyoung beralih pada Jihoon yang mencoba mencari nomor Mingyu dengan tangannya yang gemetaran.
"Tenangkan dirimu." Ucap Soonyoung sambil menyambar ponselnya dan menghubungi nomor Mingyu yang sudah ia hapal diluar kepala.
.
.
.
Mingyu berjalan mundur, menghindari Seohyun yang kini mulai mencoba untuk memeluknya.
"Oppa, tubuhku bagus kan?" tanya Seohyun, tangannya menyentuh dada Mingyu dan Mingyu dengan segera menghindar.
"Oppa, ayo kita melakukannya, aku ingin melakukannya dengan Oppa." Rayunya.
"Kau gila." Ucap Mingyu dan terus menghindar, ia berlari menuju pintu dan mencoba membukanya.
"Sayang sekali, Oppa, pintunya sudah ku kunci." Sahut Seohyun dan tertawa kecil, ia berjalan menuju Mingyu dan memeluknya dari belakang, menggodanya dengan sentuhan jemari di sekitar leher dan dada.
Mingyu mengernyit jijik. Ia mencoba melepaskan diri dari Seohyun.
"Kenapa, Oppa? Bukankah kau juga melakukannya dengan Wonwoo? Aku tahu kau memacarinya karena dia hebat di ranjang." Ucapnya, meraih bibir Mingyu untuk dicium.
Mendengar itu Mingyu emosi, "Jaga bicaramu!" bentaknya dan mendorong tubuh Seohyun hingga gadis itu terhuyung.
"Kenapa Oppa mendorongku?! Apa Oppa takut aku tak bisa memuaskanmu?! Aku lebih hebat darinya!"
"Diam! Kau menjijikkan! Jangan pernah lagi muncul dihadapanku, jalang!" seru Mingyu lalu membuka jendela dan meloncat keluar dari kelasnya.
Mendengar itu Seohyun tertegun, "Oppa! Jangan pergi! Mingyu-Oppa!" panggilnya, tapi Mingyu mengacuhkannya. Seohyun mendecih kesal, "sialan kau Wonwooo!"
.
.
Ponsel Mingyu berbunyi dan pemiliknya dengan segera mengangkatnya tanpa peduli siapa yang menelponnya.
"Min—" itu suara Soonyoung, tapi berikutnya, sebuah suara panik menyapa indra pendengaran Mingyu, "Mingyu! Wonwoo dalam bahaya!"
Mata Mingyu melebar, ia dengan segera berlari mencari dimana Wonwoo berada.
"Apa?! Kenapa bisa?! Dimana dia sekarang?!" teriaknya.
"Murid-murid berandalan membawanya! Aku—aku tidak tahu kemana!" jawab Jihoon.
Jantung Mingyu seolah mencelos, jadi perasaan buruk tadi tidak salah. Sesuatu terjadi pada Wonwoo dan itu membuat Mingyu panik luar biasa. Ia memanggil-manggil nama Wonwoo. Batinnya resah.
Wonwoo, tunggu aku.
.
.
.
Wonwoo memekik saat tubuhnya di lempar ke lantai begitu saja. Tubuh-tubuh besar lalu mengelilinginya. Wonwoo tidak berani untuk mendongak, melihat bayangan mereka sudah membuatnya takut sekali.
"Lihat, dia ketakutan."
"Bukankah sedari tadi dia memang ketakutan."
"Imut sekali."
Wonwoo merapal seribu doa saat salah seorang dari mereka mendekatinya dan mendongakkan kepalanya. Wajah-wajah mengerikan penuh seringai langsung terpantul di bola matanya.
"Hai, seksi." Sapa orang yang berada tepat di depan Wonwoo.
Wonwoo tak menjawab, ia menutup mulut rapat-rapat.
"Kata Seohyun, kau hebat di ranjang. Benarkah? Aku jadi ingin mencobanya."
Mata Wonwoo mendelik, apa katanya?!
"Pantas saja Mingyu mau denganmu? Hahaha! Berapa kali dia mencobamu?"
Wonwoo menatap mereka emosi, "Mingyu tidak melakukan hal seperti itu padaku."
Mereka tertawa, "Serius? lalu apa kau melakukannya dengan orang lain?"
Wonwoo menjauhkan kepalanya dari tangan orang itu.
"Oh, sepertinya dia masih perjaka, guys."
"Bukankah lebih bagus?"
"Tidak peduli dia perjaka atau tidak, ini kesempatan bagus."
"Tentu saja. Lagipula, Seohyun akan membayar kita kalau kita melakukannya."
Punggung Wonwoo lalu membentur lantai, tangannya terangkat dan ditahan diatas kepalanya. Salah seorang dari mereka naik keatas tubuhnya dan mulai membuka kemejanya. Wonwoo meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan diri.
Orang tadi mencoba meraih bibir Wonwoo untuk dicium, tapi Wonwoo menggerakkan kepalanya dengan cepat.
"Berhenti bergerak!" bentak orang itu dan menghentikan kepala Wonwoo dengan cengkraman, Wonwoo tersentak saat bibir kasar bertemu dengan bibirnya.
"Uuummmh….mmmhhhh!" Wonwoo mencoba menahan bibirnya untuk tetap terkatup dan berusaha melepaskan cengkraman di lengannya.
Bibirnya digigit kasar dan Wonwoo tidak bisa untuk tidak mengaduh, lalu benda asing yang lembek memasuki rongga mulutnya. Wonwoo tidak terima, kakinya mulai bergerak untuk menendang orang itu, tapi kakinya ditahan oleh beberapa orang yang lain dan dia tidak bisa berkutik.
Ciuman itu terlepas dan orang itu beralih kelehernya. Wonwoo dengan cepat meludah berkali-kali untuk menyampaikan rasa benci dan jijiknya. Sebuah tamparan langsung menyambutnya.
"Keparat! Kau menghinaku?!" teriak orang itu, ia tidak jadi meraup leher Wonwoo saat melihat Wonwoo meludah.
"Tentu saja, bajingan!" jawab Wonwoo dan ia mendapat pukulan diwajahnya. Wonwoo terbatuk dan ia bisa merasakan darah di ujung bibirnya.
Ia tersentak saat lehernya di gigit dan ia berteriak kesakitan. Dadanya dicubit keras dan perutnya dipukuli.
Air mata Wonwoo menggenang, ia berteriak minta tolong. Ketakutannya semakin besar saat tangan-tangan itu membuka celananya dan mencengkeram miliknyanya. Wonwoo berontak. Ia terus minta tolong tapi mulutnya lalu dibekap.
Air matanya lolos, dalam hati ia memanggil-manggil nama Mingyu. Ia menggigit tangan yang membekapnya keras-keras dan tangan itu terlepas.
"MINGYU! TOLONG AKU!"
"Diam kau!"
Wonwoo kembali memberontak. Mulutnya berteriak minta tolong dan meneriakkan sumpah serapah pada mereka. Wajahnya basah oleh air mata dan ia sudah lelah untuk memberontak, ia tak henti-hentinya mengharapkan pertolongan dan memanggil nama Mingyu.
Ia merasa sangat telecehkan. Ia sangat takut. Waktu terasa begitu lama baginya. Tubuh bagian bawahnya dijadikan mainan dan ia mencoba kuat untuk tidak jatuh dalam sentuhan menjijikkan tangan-tangan itu.
Orang yang sedari tadi berada diatas Wonwoo tidak puas, ia lalu membuka celananya sendiri dan mengeluarkan barangnya. Wonwoo melotot saat benda panjang itu di letakkan di depan wajahnya.
"Hisap ini!"
Wonwoo menggeleng kuat-kuat dan orang itu memaksa Wonwoo membuka mulutnya. Wonwoo mengatupkan bibirnya. Penis orang itu menampar-nampar wajahnya dan Wonwoo bersumpah akan mencuci wajahnya dengan air suci.
"Kau keras kepala sekali!"
Kepalanya lalu dibenturkan dan Wonwoo tidak bisa untuk tidak memekik kesakitan, hal itu menjadi kesempatan bagi orang itu untuk memasukkan penisnya kedalam mulut itu, tapi sebelum hal itu terjadi kepalanya ditendang dengan keras oleh seseorang.
.
.
"Wonwoo! Wonwoo! Dimana kau!" teriak Mingyu.
Hatinya benar-benar tidak tenang. Dia mencari sosok Wonwoo dimanapun dan mencoba berpikir keras dimana pemuda yang ia cintai itu berada.
Dan saat itulah dia mendengar teriakan dari kejauhan, "MINGYU! TOLONG AKU!"
Langkah Mingyu terhenti sejenak, ia lalu mulai mengikuti arah suara itu.
"MENJIJIKKAN! BRENGSEK! LEPASKAN AKU! MANUSIA-MANUSIA TAK PUNYA OTAK!"
"TOLONG AKU! ARGH!"
"Mingyu! Mingyu!"
"Hisap ini!"
Mingyu semakin mempercepat langkahnya. Ia semakin panik. Ia lalu bertemu dengan dengan Seungcheol, Soonyoung dan Jihoon yang berlari dari arah yang berbeda. Mereka lalu berlari menuju gedung aula tempat suara-suara itu berasal.
"Kau keras kepala sekali!"
"Argh!"
Mata Mingyu panas melihat hal itu. Amarahnya meledak saat melihat Wonwoo dibawah seorang pria dan ia terlihat sangat kacau. Ia berlari dan menendang kepala pria itu dengan keras hingga membuat pria itu terlempar.
.
.
Tangan-tangan yang menahan gerakan Wonwoo mulai terlepas dan para berandalan itu tidak senang karena kesenangan mereka terganggu.
Wonwoo melihat siapa yang menolongnya. Air matanya kembali mengalir deras. Mingyu menolongnya.
Mingyu berjalan kearah pria tadi dan menghajarnya. Seungcheol dan Soonyoung pun merengsek maju dan terlibat baku hantam dengan berandalan yang lain.
"Bajingan! Mati saja kau! Berani-beraninya kau menyentuh Wonwoo-ku!" Mingyu terus menghajar pria itu tanpa peduli tangannya sudah penuh dengan darah orang itu. Wajah pria itu bonyok dan ia sudah kewalahan melawan Mingyu. Mingyu tak memberi kesempatan dan terus saja meninju wajah dan tubuhnya.
Mengingat keadaan Wonwoo yang kacau, Mingyu semakin kehilangan akal. Ia kesetanan menghajar pria itu.
Jihoon masuk dengan membawa balok kayu ditangannya. Ia berjalan kearah seorang berandalan yang berjalan menuju Wonwoo dan mencoba untuk menyentuh Wonwoo.
Jihoon segera menghantamkan balok itu diatas kepala berandal itu dan membuatnya tak sadarkan diri. Wonwoo yang menyadari itu mengerut ngeri saat melihat mata Jihoon yang berkilat licik. Jihoon berjalan kearah berandalan yang sedang berkelahi dengan Soonyoung dan mengangkat balok yang ia pegang tinggi-tinggi.
Soonyoung melihat hal itu, memucat dan melompat mundur. Berandal yang ia lawan tertawa karena merasa berhasil membuat Soonyoung mundur, tapi setelah itu ia menerima pukulan telak di kepala dan ambruk dilantai.
Jihoon tertawa kejam, ia beralih ke berandal yang dilawan oleh Seungcheol. Ia mengayunkan baloknya begitu saja pada kepala seorang berandal lain yang menghalangi jalannya, lalu menghantamkan baloknya berkali-kali ke tubuh orang itu.
Seungcheol yang melihat itu dengan segera menumbangkan lawannya dan mundur merapat bersama Soonyoung, tapi Jihoon tetap sekali lagi menghajar lawan Seungcheol tadi dengan baloknya.
"Jihoon! Hentikan!"
Wonwoo sendiri sudah sedari tadi beralih pada Mingyu. Wajah Mingyu memerah karena amarah dan tangannya sudah penuh darah. Wonwoo mencoba menghentikannya. Ia tak tega melihat wajah orang itu yang sekarang terlihat tidak berbentuk dan takut melihat Mingyu yang sama sekali tak menyadari dirinya.
"Mingyu, hentikan! Sudah hentikan!" teriaknya sambil menahan tangan Mingyu.
"Diam, Wonwoo! Aku harus membunuhnya!" bentak Mingyu.
"Tidak! Jangan, Mingyu! Kau tidak perlu mengotori tanganmu!" Wonwoo berusaha menahan tangan Mingyu yang bergerak minta dilepaskan dan dengan segenap kekuatannya yang tersisa menarik Mingyu menjauh dari tubuh yang sudah tak berdaya itu.
"Lepaskan aku! Dia harus mati karena membuatmu seperti ini!" teriak Mingyu.
Wonwoo menggeleng dan memeluk Mingyu erat-erat untuk menahan pemuda itu kembali mengamuk.
"Kumohon, Mingyu. Ini sudah selesai…" lirihnya dan terisak.
Mingyu mulai tersadar, tubuhnya melemas dalam pelukan Wonwoo. Dengan ragu-ragu dan penuh sesal ia memeluk balik pemuda itu. Isakan Wonwoo berubah meledak menjadi tangisan. Mingyu memejamkan matanya erat-erat, merasa sakit mendengarkan tangisan itu.
"Maafkan aku… andai aku datang lebih cepat…" lirih Mingyu.
Wonwoo menggeleng dan semakin memperdalam dirinya dalam pelukan Mingyu yang menenangkan, mencari-cari kehangatan disana. Mingyu dengan senang hati mempererat pelukan mereka. Tangis Wonwoo mereda dan ia terdiam sambil menatap leher Mingyu yang tepat di depan matanya. Mingyu mengelus punggungnya, menghujani kepalanya dengan kecupan kecil dan menyeka air matanya yang masih mengalir.
"Sudah tidak apa, aku ada disini…" bisik Mingyu lembut dan Wonwoo mengangguk kecil.
Hening kemudian. Seungcheol, Soonyoung dan Jihoon tak berani membuka suara untuk memecah suasana haru itu, tapi melihat keadaan Wonwoo yang penuh luka lebam, Jihoon pun berinsiatif untuk memotong suasana itu.
"Anu, Mingyu. Lebih baik kau mengobati Wonwoo sekarang."
Seungcheol mengangguk setuju, "Untuk mereka, biar aku yang mengurusnya." Ucapnya lalu menyeringai.
.
.
Wonwoo diam saja dalam gendongan Mingyu. Pemuda itu memaksa untuk menggendongnya menuju ruang kesehatan. Tubuhnya lalu di turunkan di kasur ruang kesehatan dan Mingyu lalu mencuci tangannya di wastafel. Setelah itu ia membuka lemari untuk mengambil kotak P3K dan mengambil sebaskom air bersih.
Wonwoo meringis saat lukanya dibersihkan dan Mingyu pun melembutkan sedikit sentuhannya agar Wonwoo tidak kesakitan. Disaat Mingyu ingin memberikannya obat untuk lukanya, Wonwoo menolak. Mingyu menatapnya bingung.
"Wajahku kotor." Lirih Wonwoo.
"Tapi kan sudah aku bersihkan?" tanya Mingyu heran.
"Kau hanya membersihkan lukaku, bukan wajahku." Jawab Wonwoo murung.
Mingyu mengernyit heran, mencoba berpikir keras apa maksud Wonwoo. Pemuda itu lalu berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya juga wajahnya berkali-kali. Rasa perih ia dapatkan saat air menyentuh luka-lukanya, tapi Wonwoo terlalu sibuk untuk mengingat rasa jijik yang masih ia rasakan saat benda kotor itu menyentuh wajahnya.
Mingyu lalu teringat saat ia pertama kali menemukan Wonwoo tadi dan amarahnya kembali naik. Ia berjalan menuju Wonwoo yang sekarang berkumur-kumur dan membersihkan mulutnya. Begitu Wonwoo mengeluarkan air yang ada di mulutnya, Mingyu segera membalikkan tubuhnya dan menciumnya penuh.
"Seharusnya kau membiarkanku membunuhnya." Ucap Mingyu dalam ciuman mereka.
Wonwoo mendesah dan membalas, "Jangan."
Mingyu diam saja dan mengemut bibir itu sebelum melepaskan ciuman mereka. Kedua mata mereka saling menatap, lalu sekali lagi mereka mempertemukan bibir mereka.
"Kau harus diobati." Ucap Mingyu setelah ciuman mereka selesai.
Wonwoo mengangguk dan kembali duduk di kasur, Mingyu menyuruhnya membuka bajunya untuk di obati. Dengan telaten dia mengobati luka-luka Wonwoo dan mendesiskan umpatan pada orang yang menorehkan luka itu padanya.
"Bagaimana bisa mereka melakukan ini padamu?" tanya Mingyu lirih.
Wonwoo tak menjawab, Mingyu bertanya lagi, "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Wonwoo tetap diam dan Mingyu menunggu jawabannya. Pemuda yang terluka itu mencoba untuk mencari alasan yang tepat dan ia menghidari tatapan menyelidik Mingyu.
"Wonwoo.."
"Me-me-me-mengapa aku ha-harus memberitahumu?" tanya Wonwoo tergagap.
Mingyu diam sejenak, "Lalu, mengapa kau memanggil namaku saat meminta pertolongan?" tanya dan mendekatkan wajah mereka.
Wajah Wonwoo memerah saat ia bisa merasakan deru napas hangat Mingyu menerpa di wajahnya. Tangannya menekan dada Mingyu, meminta pemuda itu untuk menjauh. Bukannya menjauh, Mingyu semakin mendekat. Ia lalu menangkup lembut sisi kepala Wonwoo agar pemuda itu menatapnya.
"Mingyu. Tolong aku." Ucap Mingyu, menirukan Wonwoo, "dengar? kau butuh aku."
Wonwoo mengigit bibirnya, merasa malu dan tidak tahu harus apa.
"Kau bisa memberitahu Jihoon." Ucap Mingyu lagi, "tapi kenapa tidak padaku?"
Wonwoo dengan tergagap menjawab, "Y-ya-yang k-ku temukan hanya Ji-Jihoon."
"Kau bisa menghubungiku. Nomorku masih sama." Balas Mingyu.
Wonwoo merasa ditelanjangi oleh tatapan tajam Mingyu. Membuatnya gugup dan malu luar biasa. Tubuhnya gemetaran dan mulutnya membuka-menutup layaknya ikan koi. Dia mencoba untuk lepas dari tatapan itu yang dimana bahkan lebih susah daripada melepaskan diri dari para berandal tadi.
"Wonwoo?"
Mingyu menatap Wonwoo dalam-dalam, mencoba menelusuri pancaran mata Wonwoo yang kini sangat resah. Mingyu tahu ada yang Wonwoo sembunyikan, tapi tidak bisa menemukan apa itu. Mingyu yakin mungkin Wonwoo sebenarnya ingin menghubungi dirinya, tapi ada sesuatu yang menahan Wonwoo untuk melakukannya.
Tatapan Mingyu lalu turun dari mata Wonwoo ke bawah, ia menyadari bahwa Wonwoo saat ini dalam keadaan topless. Dengan cepat ia menyambar kemeja Wonwoo yang sudah kacau itu dan memakainya pada pemiliknya.
Mingyu mulai mengancingi kemeja Wonwoo dengan kancing yang tersisa, "Dimana blazermu?" tanya Mingyu.
"Di loker." Jawab Wonwoo.
"Kalau begitu, pakailah punyaku dulu."
Mingyu lalu mengambil blazernya yang ia simpan di tas dan memakaikannya lagi pada Wonwoo. Setelah selesai, ia mendongak dan mendapat senyuman dari Wonwoo. Mingyu mau tak mau ikut tersenyum. Rasa rindu itu kembali menyeruak dan ia membawa Wonwoo dalam pelukan erat.
.
.
^^0^^
Update :3
Jadi, bagaimana menurut kalian chapter ini? Puas tidak? Btw maaf kalo pendek :3 sengaja :p
Thanks to :
yeri960, 17misscarat,jeononu, xiayuweliu,baby yoongi, BumBumJin,Yulan, beanienim, kimAnita,bangtaninmylove, DevilPrince, noveliaaa, egatoti, ayampop,Albus Convallaria majalis, wonoo, seira minkyu, twelves, driedleaves,alfhwnda, Park RinHyun Uchiha, kimhaelin29,monwiijeonwii,alwayztora,Kimgyutemsvteenteen,kyunie, Chris1004, Binigagalnya item, nikeagustina, dsamly, lulu-shi, npwd11, bolang, Chwe s. Kaa, Anatsuki25, Firdha858, dakinya wonu, kimjeon17, Dazzpicable, nadyayesung, hannie, cheonsa19, Alviehana Kim, zeloxter
Dan juga semua yang uda baca :))
Btw, di chap ini adegannya sangat memaksa sekali, mendadak rate M dan mungkin mengagetkan kalian juga. Maafkan aku.
Ada yg tanya, yg rencanain itu Jihoon ya? yang merencanain hari sebelumnya itu bukan Jihoon, tapi Seungcheol-Soonyoung dan dengan bantuan Jihoon yang merupakan kekasihnya Soonyoung dan Yura yang sepupu Seungcheol. Yura OC btw.
Ada yg nanya apa Mingyu tau kalau Wonu udah tau taruhan itu, jawabannya belum.
Ada yg bilang ch next ending, aku ketawa. Aku pernah bilang, ff ada sebanyak 8 ch. Jadi sebelum sampai ch 8 berarti belum ending. Aku hanya sedang menulis ending karena aku terbiasa menulis ff sampai pertengahan cerita baru mempublishnya, tapi untuk ff Choose One aku nulis ch 1 dan langsung publish dan sampai sekarang aku belum melanjutkannya karena stuck. Ini kejelekanku hmm
Ada yg nanya Seohyun muncul lagi gak, tentu saja dia bakal muncul, kkk cieee nyariin~
Itu aja, makasih ya
See you~
