Seven Days and Come Back to Me

Meanie—Seventeen ff

Coffey Milk

Sequel for Seven Days and Fall in Love

Rate T+

OOC, BL, RnR

.

.

WARN : HATI-HATI NYINETRON LAGI WKWK

Day 6

"Kau yakin mau sekolah?" tanya Ibunya kaget saat melihat Wonwoo sudah siap dengan seragamnya yang baru.

Wonwoo mengangguk.

"Lebih baik tidak, Won. Kau istirahat saja." Pinta Ibunya cemas.

Wonwoo menatap Ibunya. Ia teringat, kemarin saat Mingyu mengantarnya pulang dan Ibunya kaget dengan keadaannya—apalagi setelah Mingyu menceritakan apa yang sudah terjadi—langsung memeluknya dan berterimakasih pada Mingyu karena sudah menyelamatkannya.

"Wonwoo-ya."

Wonwoo tersadar dari lamunannya, ia mengerjapkan mata, "Aku akan baik-baik saja, Eomma." Jawabnya.

"Tapi…"

"Tenang saja." Ucap Wonwoo dan tersenyum menenangkan.

Ibunya yang melihat keyakinan anaknya, menghela napas, "Baiklah, kau boleh sekolah." Ucapnya pasrah.

"Terimakasih, Eomma." Wonwoo tersenyum.

"Tapi pastikan kau terus bersama penjagamu, oke?" ucap Ibunya sebelum beranjak dari kamar anaknya.

Wonwoo terdiam bingung. Penjaga?

Tiba-tiba, sosok tinggi memasuki kamar Wonwoo. Membuat si pemilik kamar terdiam di tempat, melongo dan tak percaya.

"Pagi, Wonwoo." Mingyu menyapanya sambil berjalan kearah pemuda itu, ia terkekeh saat melihat reaksi Wonwoo saat ini. Mingyu merasa gemas sekali, jadi ia mencubit hidung Wonwoo.

"Aww." Wonwoo mengaduh, lalu balas memukul Mingyu kesal, "sakit tahu!"

Mingyu diam sejenak dan menatap mata Wonwoo. Yang ditatapi salah tingkah dan mencoba tidak membalas tatapan Mingyu, dadanya berdebar keras dan ia mencoba menahan rona merah yang akan menghiasi pipinya, tapi semua itu buyar saat Mingyu malah mengecup hidung yang tadi ia cubit. Wajah Wonwoo memerah sepenuhnya.

"Kau belum membalas sapaanku." Ucap Mingyu, senang sekali melihat reaksi Wonwoo.

"P-p-p-pa-pa-pa-pagi." Jawab Wonwoo cepat dan ia tidak bisa mengontrol gagapnya.

Mingyu terkekeh, lalu keduanya terdiam untuk beberapa saat.

"Kau tahu, seharusnya kau istirahat saja." Ucap Mingyu, persis seperti Ibunya Wonwoo tadi.

Wonwoo jadi kesal, "Ibuku saja kutolak, apa lagi kau, aku akan masuk sekolah." Ucapnya.

"Tapi, Wonwoo…"

"Aku baik-baik saja." Ucap Wonwoo cepat dan mengambil tas yang sudah ia siapkan lalu keluar dari kamar.

Mingyu mengikutinya, "Dengar, Wonwoo. Lebih baik kau tidak sekolah hari ini, kumohon. Aku takut sesuatu akan terjadi lagi padamu." Pintanya.

Wonwoo terhenti, ia terdiam sejenak, lalu berbalik, "Mingyu…"

"Ya?"

"Eomma bilang, pastikan aku harus bersama penjaga ku. Itu kau kan?" tanya Wonwoo, "kau akan melindungiku bukan?" tanyanya lagi.

Mingyu bungkam seketika, ditatapnya Wonwoo yang sedari tadi menatapnya. Mingyu kembali merasa gemas pada pemuda itu. Ia sebetulnya bisa saja langsung mengiyakan pertanyaan Wonwoo, tapi ia tak ingin membuatnya begitu mudah.

Mingyu menyeringai, "Aku tidak yakin sih, sebetulnya itu permintaan Eomma. Tapi tergantung anaknya membutuhkanku atau nggak sih." Ucapnya, menatap Wonwoo sambil menaik turunkan alisnya.

Wonwoo melongo sejenak.

"Katakan kau membutuhkanku." Ucap Mingyu.

Wajah Wonwoo memerah lagi dan Mingyu menunggunya dengan senang hati, "Ayo, ayo, katakan."

Wonwoo tidak punya pilihan, ia sebetulnya takut jika ada kembali yang mengikutinya dan menyerangnya, "B-baiklah, aku… aku membutuhkanmu, Mingyu."

Mingyu nyengir, "Diterima." Ia lalu memeluk Wonwoo sejenak sebelum mengajaknya menuju dapur untuk sarapan.

Wonwoo bertanya-tanya, sebenarnya siapa pemilik rumah disini.

^^0^^

Setelah turun dari motor Mingyu yang sudah di parkirkan, keduanya berjalan beriringan menuju gedung sekolah. Mingyu bahkan melingkarkan lengannya di pinggang Wonwoo dan menariknya mendekat hingga Mingyu bisa mencium wangi shampoo di rambut Wonwoo.

Murid-murid lain yang melihat itu dengan cepat berbisik-bisik tentang apa yang terjadi. Mereka bertanya-tanya dimana Seohyun yang di gosipkan berpacaran dengan Mingyu dan mengapa Mingyu bersama Wonwoo, atau kenapa Wonwoo terlihat menyedihkan dengan penutup lukanya.

Mingyu tidak peduli dengan tatapan bingung semua orang dan Wonwoo yang sebenarnya merasa risih diam saja karena tidak tahu harus berkata apa. Mingyu jelas tidak akan menjauh jika Wonwoo meminta.

Seohyun yang melihat itu tersulut emosi. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Walaupun Wonwoo terlihat babak belur dengan penutup luka dimana-mana, Seohyun tetap merasa tidak senang karena pemuda itu masih bisa muncul di sekolah, bahkan bersama Mingyu.

Seohyun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, begitu sambungan diangkat, ia segera mengeluarkan amarahnya, "APA YANG KALIAN LAKUKAN, BODOH?! KENAPA JALANG SATU ITU MASIH BISA MUNCUL DI SINI?! TIDAKKAH KALIAN BISA MELAKUKAN PERINTAHKU DENGAN LEBIH BAIK?!"

Tidak ada jawaban dan Seohyun kembali berteriak marah, "KENAPA KAU DIAM SAJA?! JAWAB!"

"Aku mendengarnya, tidak perlu berteriak." Ucap lawan bicaranya.

Seohyun mengernyit mendengar suara yang tidak ia kenal dan menatap layar ponselnya dengan bingung, mengecek apakah dia salah menelepon orang dan seolah tahu kebingungannya, lawan bicaranya kembali bersuara,

"Kau bingung ya? Kau pasti tidak kenal aku," lalu terkekeh, "ah, padahal aku mengenalmu."

"S-siapa ini?" tanya Seohyun panik.

"Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi jika Mingyu tahu siapa dalang sebenarnya dari pemerkosaan Wonwoo."

Seohyun terdiam sambil menggigit bibir.

"Aku juga bisa membayangkan bagaimana reaksi murid lain jika tahu hal ini dan bagaimana dirimu saat menggoda Mingyu kemarin dan ditolaknya. Berita yang bagus bukan?"

Wajah Seohyun pucat dan ia segera mematikan sambungannya.

.

.

.

"Apa yang terjadi padamu?"

"Kenapa wajahmu?"

"Kenapa kau penuh luka?"

"Habis berkelahi dengan siapa?"

"Kenapa Mingyu bersamamu? Bukan kah kalian sudah putus?"

Wonwoo tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ia merasa tidak ingin kembali menyinggungkan kejadian mengerikan itu ataupun hubungannya dengan Mingyu. Ia hanya diam di kursinya hingga bel berbunyi.

Selama pelajaran di mulai ia bisa menghembuskan napas lega karena tak ada pertanyaan yang di lontarkan lagi padanya. Namun, saat waktu istirahat tiba, beberapa teman-teman satu kelasnya kembali mengerubunginya dan bertanya-tanya.

"Hei, jawab kami!"

"Kau belum menjawab pertanyaan kami!"

"Apa kau tuli?"

Wonwoo merasa kesal. Ia benar-benar tidak suka dengan pertanyaan mereka.

"Bisakah kalian berhenti bertanya?" tanya Wonwoo dengan nada terganggu.

"Jawab dulu pertanyaa—"

"Jangan mengganggunya." Ucap Mingyu yang baru saja datang dan menatap tajam pada siswi yang tadi memaksa Wonwoo untuk menjawab.

Siswi itu terkejut dan beringsut mundur. Mingyu lalu menatap Wonwoo dan menarik Wonwoo untuk keluar dari kelas.

"Ayo makan bersama." Ajaknya.

Wonwoo tak menjawab, hanya diam menatap punggung Mingyu yang berjalan di hadapannya. Wonwoo diam-diam menahan diri untuk tidak tersenyum dan membiarkan rona kemerahan menghiasi wajahnya. Ia membiarkan Mingyu menarik tangannya menuju kantin, tapi kemudian Mingyu menarik Wonwoo agak kuat hingga Wonwoo berjalan sejajar dengannya.

"Aah. Mingyu, sakiit." Lirih Wonwoo.

"Oh, maafkan aku." Sesal Mingyu sambil melepaskan tangannya untuk mengubahnya menjadi menggenggam tangan Wonwoo dan menautkan jari-jemarinya.

"Uh-uhm." Wonwoo mengangguk, lagi-lagi tak dapan menahan rona merah yang menghiasi wajahnya.

Keduanya berjalan menuju kantin tanpa berbicara apapun hingga mereka berada dalam barisan antrian untuk mengambil paket makan mereka. Semua orang dikantin segera menatap kearah mereka berdua dengan tatapan bertanya.

Mengapa Wonwoo kembali dengan Mingyu?

Atau, kenapa Wonwoo terlihat babak belur?

Wonwoo risih dengan semua tatapan itu. Dirinya ingin kabur, tapi tidak bisa. Mengingat, ia juga harus makan siang dan tidak bisa pula ia meninggalkan Mingyu yang sudah mengajaknya tadi.

"...Woo."

"Wonwoo."

"Wonwoo, jangan melamun."

Mingyu memanggilnya dan menjawil hidung Wonwoo agar sang empunya tersadar dari lamunannya. Ia lalu mengambil nampan makan untuk Wonwoo.

"Ah, maaf." Ucap Wonwoo sambil menerima sodoran nampan dari Mingyu.

Keduanya lalu mengambil nasi dan lauk-pauk secara bergiliran, juga segelas air minum. Mingyu kemudian mengajaknya menuju sebuah meja yang masih kosong tepat ditengah kantin. Posisi mereka semakin membuat Wonwoo tidak nyaman dengan tatapan orang lain padanya. Mingyu menyadari itu segera berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada seisi kantin.

"Bisa kalian hentikan tatapan kurang ajar kalian itu? Apa sebegitu kurang kerjaannya kalian?" tanya Mingyu pedas dan membuat mereka kembali menyibukkan diri dengan makan dan obrolan mereka.

Namun, Mingyu menangkap obrolan tak mengenakkan dari meja dimana beberapa para gadis menggosip disana.

"Apa-apaan itu. Wonwoo benar-benar menjijikkan."

"Lihat luka-lukanya, dia pasti sengaja agar menarik perhatian Mingyu."

"Cari perhatian."

"Mau-maunya Mingyu dengan orang sepertinya."

"Pelet apa yang digunakan Wonwoo untuk menggaet Mingyu—"

"Tutup mulut busuk kalian." Ucap Mingyu tajam dan seketika gadis-gadis itu menutup mulut mereka.

Mingyu menghela napas, ia kembali duduk dan berbisik pada Wonwoo, "Maafkan aku, seharusnya tidak mengajak kau kemari." Sesalnya.

Wonwoo tersenyum senang, "Tidak apa, terimakasih, Mingyu."

Mingyu agak ragu, tapi melihat senyum Wonwoo ia ikut tersenyum dan keduanya mulai menyantap makan siang mereka.

"Boleh kami duduk disini?" tanya seseorang sambil menaruh nampan makan di meja, di sebelah Wonwoo.

Wonwoo mendongak, mendapati Jihoon dan Jeonghan yang tersenyum padanya. Wonwoo mengangguk, "Tentu."

Jihoon dan Jeonghan lalu duduk di sisi kanan kiri Wonwoo. Kemudian, Jihoon segera membalik tubuh Wonwoo kearahnya hingga Wonwoo terkaget-kaget dan Jihoon memeriksa luka-luka di tubuh Wonwoo.

"Syukurlah, Mingyu mengobatimu dengan baik.." ucap Jihoon sambil menghela napas lega.

Mingyu agak protes mendengarnya, "Hei, berterimakasihlah sedikit padaku." Tapi ia malah diacuhkan.

Jeonghan menatapnya dengan tatapan sedih, "Semoga cepat sembuh, Jeon Wonwoo.."

Wonwoo mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba memproses apa yang terjadi lalu mengangguk, "Terimakasih."
Kemudian, Seungcheol dan Soonyoung datang dan duduk di sebelah kanan dan kiri Mingyu, "Bagaimana keadaanmu, Wonwoo?" tanya Seungcheol.

"Sudah tidak apa-apa, terimakasih." Jawab Wonwoo.

"Syukurlah."

"Sudah, ayo makan dulu. Nanti saja mengobrolnya." Ucap Mingyu.

.

.

Seohyun menatap benci dengan apa yang ia lihat. Amarahnya sudah sedari tadi ia tahan dan mencoba untuk mengacaukan semuanya. Ia tidak rela dengan apa yang ia dapatkan. Ia ingin mengumpat dalam hati.

Seharusnya ia yang berada di kumpulan itu.

Bukan Wonwoo.

Seharusnya ia yang dilindungi Mingyu.

Bukan Wonwoo.

Seharusnya ia yang ada di depan Mingyu dan mendapat tatapan sayang itu.

Bukan Wonwoo.

Apapun yang berhubungan dengan Mingyu, seharusnya itu dirinya.

Bukan Wonwoo.

Bukan. Wonwoo.

Bukan Jeon Wonwoo.

Mata Seohyun berkilat-kilat penuh kebencian.

.

.

.

Kelas Wonwoo mendapat jam kosong di pelajaran kedua dari terakhir, itu dikarenakan sang guru tidak hadir dan tak ada yang menggantikannya. Wonwoo sadar saat itu ia menjadi mangsa empuk bagi para siswi-siswi haus gosip, maka ia mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri dan berakhir di balik rak-rak buku di perpustakaan. Tak ada siapapun selain beberapa orang yang membutuhkan bahan bacaan dan penjaga perpustakaan, tempat itu tenang dan Wonwoo bisa beristirahat sejenak tanpa gangguan.

Wonwoo membuka sebuah novel yang baru ia ambil tadi dari rak buku dan membacanya. Matanya bergerak-gerak membaca deretan kata demi kata dari novel itu, sedikit mengulum senyum saat membaca hal menggelikan yang ada di novel itu. Menit demi menit terlewati ia lewati dengan terus asyik membaca novelnya, suasana perpustakaan yang tenang dan sejuk lama-lama membuatnya merasakan kelopak matanya memberat, berusaha ditahannya kantuk yang menyerang, hingga pada akhirnya ia menyerah dan jatuh tertidur. Ia bahkan melupakan bahwa ia memiliki satu mata pelajaran lagi yang sepertinya akan ia lewati begitu saja.

.

.

.

"Dimana Wonwoo?" tanya Mingyu saat hanya mendapatkan tas milik Wonwoo di mejanya.

Jihoon yang ditanya menggeleng tidak tahu, "Ntahlah, aku tadi ke ruang musik, jadi tidak sadar dia tidak di kelas."

Mingyu menghela napas resah, "Tadi?" tanyanya lagi.

"Kami ada jam kosong, jadi anak-anak pada berhamburan semua. Aku sendiri ke ruang musik, Wonwoo nggak tahu kemana." Jawab Jihoon.

"Kenapa kau tidak mengajaknya, Jihoon? Kalau hal yang kemarin terjadi lagi bagaimana? Ah, sudahlah, aku akan mencarinya." Ucap Mingyu lalu keluar dari kelas Jihoon sambil membawa tas Wonwoo bersamanya.

Jihoon yang ditinggalkan bengong melihat pemuda tinggi itu, "Kenapa jadi aku yang salah?" tanyanya pada udara.

.

.

Mingyu mencari-cari dimana sekiranya ia menemukan Wonwoo. Atap sekolah, taman belakang, dapur, kantin, dan... Mingyu menghentikan langkahnya begitu mendapatkan satu tempat yang cocok untuk orang seperti Wonwoo. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah ke arah berlawanan dan mulai kembali berlari sambil berdoa bahwa tebakannya benar dan orang itu dalah keadaan baik-baik saja.

"Mingyu-oppa!"

Mingyu mendengar panggilan itu, tapi tak menggubrisnya sama sekali. Ia terus berlari walaupun Seohyun memanggil-manggilnya dari belakang.

"Oppa! Kau mau kemana?"

"Oppa~"

"Mingyu-oppa~!"

Namun, lama-kelamaan Mingyu jengah mendengarnya dan mempercepat larinya menghindari Seohyun yang mengejarnya, ia lalu melompati jendelanya dan bersembunyi di balik semak-semak rimbun yang ada di taman.

"Mingyu-oppa! Kemana dia?"

"Ya! Kim Mingyu!"

Seohyun menoleh kesana-kemari karena kehilangan jejak Mingyu di pertigaan lorong, ia berdecak kesal dan segera berjalan ke arah lorong sebelah kanan sesuai instingnya sendiri. Gadis itu bersumpah serapah sambil mempercepat jalannya agar tak kehilangan sosok Mingyu lagi. Ia kemudian menggeram mengingat Mingyu sama sekali tidak mempedulikannya sedikitpun.

Benar-benar!

Gara-gara satu jalang itu!

Awas kau, Jeon Wonwoo!

.

.

Mingyu menghela napas lega dan duduk berselonjorkan kaki sambil menatap langit biru diatasnya. Diraupnya udara banyak-banyak untuk menggantikan napasnya yang tadi tersenggal karena berlari. Semenit kemudian, ia tersadar dan mulai berdiri saat ia mengingat bahwa ia harus menemukan Wonwoo. Namun, matanya tak sengaja melihat bayangan dibalik kaca jendela, seseorang yang sedari tadi ia cari. Disana, Wonwoo tertidur dengan kepala bersandar pada kaca jendela.

Mingyu tersenyum lega, ia melarikan kakinya ke arah jendela itu dengan suka cita. Ia sampai di depan jendela dan menempelkan kedua tangannya untuk melihat lebih jelas wajah Wonwoo yang terlihat tenang. Mingyu menyenderkan kepalanya pada jendela dan terkekeh.

"Wonwoo.."

Mingyu lalu mengetuk kaca jendela, berniat membangunkan Wonwoo. Tak sampai sepuluh ketukan, Wonwoo terbangun. Ia membuka matanya, menyesuaikan tatapannya dengan cahaya dan menyadari dimana ia berada sambil mereganggkan otot lengannya. Ia terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan ingatannya mengapa ia berada di perpustakaan.

Lalu ia teringat.

Jam berapa sekarang?

Apa dia melewati pelajaran terakhirnya?

Dia lalu menoleh saat terdengar lagi suara ketukan di sampingnya dan melebarkan matanya mendapati Mingyu dibalik kaca jendela, dengan segera ia membuaka jendela dan disambut pertanyaan dari pemuda tinggi.

"Tidurmu nyenyak?" ditambah sebuah kecupan di pipinya.

Wajah Wonwoo memerah, ia mengangguk pelan, "Apakah jam belajar sudah usai?" tanyanya dengan suara parau.

Mingyu mengangguk, Wonwoo menghela napas mengetahui ia benar-benar bolos. Mingyu kemudian mengulurkan tangan dan memeluk Wonwoo, membuat pemuda yang baru bangun tidur itu tersentak saat tubuhnya agak oleng namun ditahan oleh kedua tangan Mingyu.

"Mingyu?" tanyanya.

Mingyu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Wonwoo yang menenangkan setiap syaraf-syarafnya, lalu mengecup pelipis pemuda berkacamata yang sekarang wajahnya memerah parah karena perbuatannya.

"U-uhm, Mingyu?"

"Dasar, aku kira aku bakal kehilanganmu lagi, aku takut hal kemarin terjadi lagi. Tolonglah Won, jangan suka menyendiri, demi kesalamatanmu." Tutur Mingyu.

Wonwoo terdiam mendengarnya, tak menyangka Mingyu mengatakan hal itu. Hatinya menghangat dan ia tersenyum senang sambil membalas pelukan Mingyu.

"Iya, terimakasih, Mingyu..."

Selama beberapa detik keduanya dalam posisi itu sebelum akhirnya melepaskan diri. Mingyu tersenyum lembut padanya dan menepuk pipi Wonwoo pelan.

"Ayo, kuantar pulang." Ucap Mingyu sambil menunjukkan tas Wonwoo.

Wonwoo mengangguk, "Tunggu aku di gerbang. Aku keluar dari perpustakaan dulu." Balasnya.

Mingyu menggeleng, "Tidak usah." Ia lalu menaikkan tubuh Wonwoo yang tersentak, "Lewat jendela saja." Lanjutnya dan mengeluarkan tubuh Wonwoo dari jendela.

"E-eh, tapi..."

"Tenang saja, jendelanya bisa tertutup dari luar kok, lihat." Ucap Mingyu sambil menutup jendela dari luar dan terdengar bunyi 'klek'.

Wonwoo menatap ragu pada jendela itu sebelum akhirnya mengangguk.

"Pulang?" tanya Mingyu.

Wonwoo mengangguk lagi dan mereka kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Seohyun menatap sengit pada sosok Wonwoo yang berjalan di samping Mingyu. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kedua pemuda itu sambil meneriakkan nama Wonwoo dengan suara menggelegar.

"YA! KAU! JEON WONWOO BRENGSEK!"

Mingyu dan Wonwoo sontak berhenti. Lalu, Wonwoo merasakan sebuah tamparan keras hinggap di pipinya yang masih saja menyisakan rasa sakit dari kejadian kemarin. Ia meringis, apalagi saat ia menyadari darah menetes dari sudut bibirnya.

"Seohyun! Apa yang kau lakukan?!" bentak Mingyu tidak terima melihat Wonwoo diperlakukan seperti itu, ia menghampiri Wonwoo dan mengecek keadaannya.

"Apa yang aku lakukan, kau tanya, Oppa? Tentu saja menghajarnya!" jawab Seohyun sengit, "dia sudah merebutmu dariku! Kau pacarku!"

"Pacarmu? Sejak kapan aku jadi pacarmu, huh?" tanya Mingyu.

"Tentu saja kau pacarku, Oppa! Sejak kau di putuskan oleh si brengsek itu!"

"Jangan sebut Wonwoo brengsek! Dan jangan memutuskan bahwa aku pacaran denganmu! Memikirkannya saja aku tidak sudi!" balas Mingyu.

"Apa?!"

Wonwoo yang menonton keduanya saling berdebat diam saja, rasa takut mulai menyerangnya. Ia tidak bisa melakukan apapun selain berpikir untuk segera pergi dari tempat itu segera. Beberapa murid yang masih tersisa bahkan sudah mulai menonton aksi mereka.

Di lain sisi, Seohyun berang, "Tapi, aku lebih baik, Oppa! Dari pada dia yang hanya memacarimu secara pura-pura karena taruhan!" teriaknya dan segera mendapatkan komentar dari beberapa murid yang menonton mereka.

"Eh? Masa? Gila ya!"

"Ya ampun, ternyata Wonwoo orang yang seperti itu?!"

Mingyu yang mendengar itu terpaku, ada perasaan yang meremas jantungnya secara imajiner. Kata-kata itu seolah menunjuk pada Mingyu, tapi di tunjukkan pada Wonwoo. Mingyu sendiri jadi takut jika itu benar-benar terjadi atau—

Mingyu lalu menoleh pada Wonwoo yang melebarkan matanya karena perkataan Seohyun barusan. Dengan segera ia menyanggah, "Tidak! Aku tidak melakukan itu! Mingyu yang melakukannya!"

-Wonwoo tahu bahwa ia dijadikan bahan taruhan.

"Kenapa kau mengelak?! Mingyu menjadikanmu bahan taruhan? Seharusnya ia memilih orang yang lebih bagus daripada dirimu, jika ia yang melakukan hal itu!" serang Seohyun.

"Aku tidak melakukannya!" sanggah Wonwoo lagi.

"Memang siapa yang mau mempercayaimu? Oh, sebentar, sekarang aku ingat. Kau bilang, kalian berpacaran karena Mingyu kalah taruhan dan memacarimu selama tujuh hari dan dalam keadaan terdesak kau membantunya. Hah! Siapa yang percaya jika kau benar-benar membantu, atau kau berniat cuma ingin jadi pacar Mingyu?!"

PLAK!

Wonwoo tidak tahan mendengar semua omongan Seohyun, tangannya lebih cepat bertindak menampar gadis itu daripada dia harus mengamuk karena di lecehkan dan di permalukan.

Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Seohyun tidak terima, "Apa yang kau lakukan padaku dasar munafik?!" tanya Seohyun dan mengepalkan tinjunya, bersiap meninju wajah Wonwoo yang menurutnya menjijikkan.

Bugh!

Mata Seohyun melebar, begitu pula Wonwoo. Mingyu menjadikan dirinya sendiri tameng bagi Wonwoo dan melindunginya. Mingyu di paksa percaya oleh kenyataan yang menyakitkan dimana Wonwoo ternyata tahu semua taruhan itu.

"Mingyu—"

Mingyu menoleh kearah Wonwoo, "Kau sudah tahu?" tanyanya was-was.

Wonwoo diam sejenak dan mengangguk. Mingyu menghela napas, merasa begitu bodoh, "Sejak kapan?" tanyanya lirih.

Wonwoo menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan, "Sejak awal, aku melihatmu bermain kartu dengan Seungcheol dan Soonyoung."

Mata Mingyu melebar mendengarnya, tangannya bergetar, "K-k-kau serius?" tanyanya terbata, tak menyangka sama sekali jawaban itu bakal keluar dari mulut Wonwoo. Sejak awal taruhan pemuda itu sudah tahu semuanya?

Mingyu tidak tahu kenapa, tapi ia merasa seperti di bodohi dan di permainkan, oleh Wonwoo dan ia merasa marah dengan semua itu.

"Oh begitu... kau sudah tahu semuanya dari awal... kenapa kau tidak memberitahukan padaku?" tanya Mingyu.

"Aku.." Wonwoo ingin menjawab, tapi Mingyu dengan cepat memotongnya.

"Kau menerimanya, karena kau tahu hal itu, lalu agar taruhan itu tak bekerja dengan baik, kau mempermainkan aku? Kau menolakku, kau membuatku sakit perut, kau bermain dengan perasaanku dan kau memutuskanku dengan—"

Bugh!

Wonwoo memukul Mingyu dengan penuh amarah, lalu mencengkram kerah leher Mingyu dan berucap, "Aku yang mempermainkanmu, Mingyu? Aku?! Kau tak mengaca? Kau yang melakukan taruhan itu! Aku korbannya! Dan setelah tahu kalau aku tahu semuanya kau mengatakan ini?! Kau yang mempermainkan, bukan aku! Kau tak mengerti perasaanku!"

Mingyu tertegun, ia kembali merasa bodoh luar biasa, apa lagi saat dilihatnya air mata Wonwoo menetes. Perasaan bersalah mulai melingkupinya.

"Aku tahu aku jatuh cinta pada orang yang salah." Lanjut Wonwoo berbisik lalu merebut tasnya dari tangan Mingyu dan meninggalkan tempat itu.

Wonwoo memang berbisik, tapi Mingyu mendengar hal itu. Rasa bersalah semakin mencekiknya.

Seohyun yang melihat itu tertawa keras, "Ya! Pergilah kau manusia tak tahu diri!" lalu menghampiri Mingyu dan merangkul tangannya dengan manja, "Oppa—"

"Lepaskan tanganku!" seru Mingyu geram, menyebabkan Seohyun terjatuh di tanah.

"Apa yang kau lakukan, Oppa?! Kenapa kau tidak berperasaan hingga mendorongku? Aku cewek, Oppa! Tidak seharusnya dikasari!"

Mingyu diam saja, ia memutuskan untuk mengejar Wonwoo yang sudah menghilang sejak tadi, meninggalkan Seohyun yang berusaha bangkit sambil memanggil-manggil namanya dan siswa lain yang mulai bergosip setelah menonton mereka sejak tadi.

Di sisi lain, Seungcheol dan Soonyoung yang melihat itu menghela napas, "What a troublesome.."

Seohyun tidak terima, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Berniat melakukan pikiran jahatnya pada orang yang sangat ia benci.

"Kau harus mati—"

Namun, Seohyun lupa satu hal. Ia pun mendengar suara dering ponsel dari belakangnya dan segera menoleh saat mendengar sapaan asing di telinganya.

"Halo?"

Mata Seohyun melebar saat melihat senyum menyeringai dari wajah seseorang yang memegang ponsel di dekat telinganya, Choi Seungcheol.

Senyum menyeringai itu semakin lebar dan keji, "Kau terlihat sangat ketakutan, Seohyun. Well, tapi aku sudah melaporkan perbuatanmu kemarin ke pihak berwajib beberapa jam yang lalu bersama-sama preman itu."

Wajah Seohyun memucat.

Soonyoung yang berada di sebelah Seungcheol tersenyum menyebalkan, "Selamat menikmati sel tahanan, Seohyun-ssi." Ucapnya, bersamaan dengan beberapa petugas yang menghampiri Seohyun dari belakang.

^^0^^

Wonwoo tiba dirumahnya dengan wajah kacau. Melihat itu sang ibu terkejut, "Wonwoo, kau kenapa?" tanyanya sambil menghampiri anaknya.

Namun, Wonwoo menolak, "Biarkan aku sendiri, Eomma! Jangan menggangguku! Siapapun itu!" serunya dan membanting pintu kamar dan menguncinya.

Ibunya terdiam sejenak karena terkejut dua kali, tapi ia pun menghela napas dan berbalik, membiarkan Wonwoo tenang dengan sendirinya.

.

.

Bodoh!

Ia bodoh!

Mingyu terus mengeluarkan hujatan untuk dirinya. Kenapa ia harus lepas emosi dan mengatakan hal –hal menyakitkan itu?

Bodoh!

Tak punya perasaan!

Mingyu terus berlari menuju rumah Wonwoo. Ia bahkan melupakan bahwa ia bisa menaiki bus jika ingin cepat, tapi percuma, ia merasa sudah terlanjur. Ia tidak merasa lelah, sudah cukup hilang lelah itu dengan rasa bersalah yang begitu mengubun-ubun.

.

Mingyu akhirnya sampai di rumah Wonwoo dengan napas tersenggal-senggal, ia dengan cepat mengetuk pintu rumah Wonwoo dengan sedikit tidak sabar.

"Wonwoo!" panggilnya, "Wonwoo! Keluarlah!"

"Wonwoo! Won—"

Pintu terbuka, tapi bukan Wonwoo yang muncul, melainkan Ibunya. Ah. Kenapa Mingyu tidak memikirkan hal ini? Tentu saja Wonwoo tidak akan menerimanya.

"Wonwoo tidak ingin diganggu." Ucap Ibu Wonwoo.

"Maaf, Tan-eh, Eomma. Tapi, Wonwoo—"

"Ketika ia bilang tidak ingin diganggu, maka ia tidak bisa diganggu," ucap Ibu Mingyu sambil menatap Mingyu tajam, "lebih baik kau juga tenangkan diri. Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi aku harap masalah ini tak akan berkepanjangan. Pergilah, dan jika kau sudah tenang, kau bisa kembali." Lanjutnya dan menutup pintu.

Mingyu terdiam di depan pintu, ia lalu berbalik dan mendudukkan dirinya di depan pintu. Ia tak ingin pergi, ia memutuskan untuk berdiam diri di sana, menunggu selama apapun. Ia tak akan pergi sebelum ia bertemu dengan Wonwoo.

.

.

.

.

.

^^0^^

Update :3

Jadi, bagaimana menurut kalian chapter ini? Puas tidak?

Maaf lama update wkwk. Ini pun update karena aku akhirnya menyentuh ffn :'))

Thanks to :

Khasabat04, KimHaelin29, mgxww, svteenteen, Park RinHyun-Uchiha, Kyunie, Anatsuki25, naintin2, mesaa, Albus Convallaria majalis, Halololo. Hayiyiyi, bolang, Kimgyutem, 17MissCarat, Chwe S. Kaa, seira minkyu, Devil Prince, egatoti, bangtaninmylove, jeononu, Yeri960, Axrine Scott, cheonsa19, XiayuweLiu, monwiijeonwii, justcallmeBii, kimjeon17, Baby yoongi, csupernova, BumBumJin, Beanienim, Iamnotha

Dan juga semua yang uda baca :))

Apakah ini terlalu simple? Wkwk Aku wes mandek, bingung gimana, akhirnya jadi kayak gini wkwk.

Tengkyu banyak buat yang masih nunggu ff saya :")) kritik komen silakan, saya terima

Oh ya, nanya dong. Line group chat khusus meanie ship ada nggak ya? Soalnya feel saya udah mulai hilang :")) kalau untuk nulis ff, tapi kalau masih ngeship ya masih, masih hyper kalau meanie muncul moment, tapi entah kenapa kalau lanjut ff malah ga sanggup :") apa karena selama ini saya fangirlingan sendirian? Wkwk mana tau kalau ada temen ngobrol ttg meanie saya jadi semangat nulis :3

Yah, walaupun alasan saya ga update2 ff selain itu ada banyak, hmz.

Thanks buat yang sempetin baca curhatnya~

Sampai jumpa di end chap~ yang entah kapan lagi aku update wkwk

Aku sayang kalian semua :*

/ditabok