'Kau harus membunuh Naruto..'

.

.

.

.

.

"Sasuke ? "

...

"Sasuke ! "

Tersentak kaget, Sasuke menyadari bahwa dirinya tengah melamun.

"G-Gomen.." Ucapnya gugup.

Menyeritkan alis, sesosok pria yang merupakan ayah angkat dari pemuda didepannya itu pun kembali bertanya. "Apa kau masih sakit ? wajah mu sangat pucat."

"T-Tidak, Aku baik-baik saja Naru.."

"Benarkah ?"

"Hu'um. Kau jangan terlalu berlebihan."

"Wajar saja kan jika seorang ayah mengkhawatirkan anaknya." Balas Naruto dengan senyum hangatnya sambil mengusap rambut Sasuke pelan. Tatapan sayang begitu tercetak jelas dalam rautnya yang tampan.

Menyentak tangan diatas kepalanya, Sasuke pun berdecih pelan. "Berhenti mengatakan omong kosong seperti itu." Ucap Sasuke dingin.

Mendapatkan penolakan yang tidak biasanya. Naruto pun untuk kedua kalinya merasa aneh dengan sikap Sasuke belakangan ini. Entah kenapa sikap anaknya itu menjadi semakin tertutup. Tak ada lagi wajah merona bahkan sikap manjanya ketika bersama dengan dirinya.

Dengan raut yang masih terkejutnya Naruto pun kembali memanggil Sasuke.

"… Sasuke sebenarnya ada apa dengan mu ?" Tanya Naruto penasaran. "Kau terasa semakin dingin kepada ku.. Apa aku melakukan kesalahan ? "

Tersadar dari sikapnya yang sudah keterlaluan. Sasuke pun beranjak dari meja makan dengan wajah yang muram. Langsung berjalan pergi menuju kamarnya berada. Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ayah angkat.

Sungguh, saat ini dirinya sangat tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Rasa kecewa, takut, dendam dan cintanya yang begitu besar pada Naruto telah tercampur aduk menjadi satu. Kegundahan yang terjadi pada hatinya membuat ia semakin tersesat.

Terperosok semakin dalam hingga dirinya bingung akan memilih jalan untuk kembali.

...

Sesaat setelah memasuki kamar, Langsung saja Sasuke merebahkan tubuhnya diatas lembutnya kasur yang nyaman. Memejamkan matanya, ia pun mencoba untuk merileks-kan pikiranya yang terus berkemelut. Hingga tanpa ia sadari tiba-tiba saja Naruto muncul dan duduk tepat disampingnya.

"N-Naru ! sejak kapan kau disini ?" Tanya Sasuke kaget.

"Sejak kau memejamkan matamu dan terhanyut dalam kenyamanan kasur." Balasnya dengan terkekeh geli melihat raut kaget Sasuke.

"Kau memang menyebalkan.." Balasnya acuh sambil memalingkan wajahnya dari pandangan Naruto.

"Aku hanya menghawatirkanmu Sukee.." Ucap Naruto.

"Akhir-akhir ini sikapmu menjadi lebih dingin dari biasanya. Kau kenapa hm ?" Lanjutnya yang kini mengelus pipi putih nan lembut Sasuke. Tatapannya begitu teduh, terlihat sekali bahwa memang Naruto tengah menghawatirkannya.

"Sudah kubilang aku baik. Hanya kelelahan saja… mungkin." Jawabnya Sasuke asal. Ia pun melepas belaian lembut tangan Naruto dikedua pipinya. Memalingkah wajahnya tak berniat untuk menatap balik sang ayah.

"Sasuke !? " Naruto kembali menegaskan suaranya. Ia tahu ada yang disembunyikan oleh anak angkatnya itu. Dan sebisa mungkin ia harus mengembalikan Sasuke seperti sebelumnya. Tidak dengan sifatnya yang sekarang yang terlihat semakin terasa jauh.

Namun bentakan yang dilakukan oleh Naruto justru tak membuahkan hasil. Yang terlihat kini Sasuke malah mendekatkan jarak diantara mereka. Menangkupkan wajah tampan Naruto dengan kedua telapak tangannya.

Tatapan Sasuke melembut. Ia meminimalisirkan lagi wajahnya dengan Naruto hingga bibir merah bak delima itu mencium mesra ayah angkatnya sendiri.

Tekanan semakin kuat, merasa orang yang dicintainya tak memberikan respon, Sasuke memberanikan diri untuk melumat dan menahan kepala Naruto agar ciumannya semakin dalam. Tak memperdulikan bahwa kini untaian saliva turun melalui sela-sela bibirnya yang terus bergerak agresif.

Perasaanya sungguh kacau. Rasa sakit itu muncul dan semakin melebar ketika mengetahui bahwa pembunuh keluarganya adalah Naruto. Namun disisi lain, ia tak bisa mengeyahkan begitu saja perasaan cintanya pada sang terkasih.

Ia butuh Naruto terus disisinya.

"Ngh~ N-Naru.."

Desahan kecil lolos begitu saja dari bibir mungil Sasuke. Suara kecipak basah dari bibir yang saling menggulum membuat suasana didalam ruangan itu semakin berisik.

Cengraman tangan kanan Sasuke pada rambut Naruto semakin kuat, menyebabkan helai pirang itu berantakan.

Sasuke begitu terbuai oleh ciuman dalamnya ini. Hingga tanpa ia sadari tangan kiri Sasuke yang bebas mulai menyentuh dada bidang Naruto nakal.

Terus turun kebawah sampai ia menemukan sebuah tonjolan besar yang berada diantara selangkangan ayah angkatnya dan mengelusnya lembut.

Naruto tersentak kaget. Dengan cepat ia mendorong bahu Sasuke hingga kini kedua bibir itu telepas.

"Cukup Sasuke.." Ucap Naruto serak. "Jangan lakukan lebih dari ini.."

"Kenapa ?! Aku mencintaimu Bodoh." Balas Sasuke menarik kerah Naruto mencoba menyalurkan kekesalannya atas penolakan Ayah angkatnya. "Kau juga mencintaiku bukan ?" Tanya lagi. Namun nada yang terselip justru terdengar seperti sebuah keraguan.

"Aku mencintaimu Suke, tapi sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Mengertilah.."

Dengan lembut Naruto melepaskan cengraman tangan putih itu pada kerah bajunya. Mengusapnya pelan demi untuk menenagkan sang anak.

"K-Kau bohong.. kumohon katakan lah kau mencintaiku Naru… katakanlah.." lirih Sasuke dengan suara yang pelan.

Hatinya kembali terasa remuk. Lagi-lagi cintanya tak terbalas. Sekeras apapun ia meyakini dirinya bahwa suatu saat Naruto akan mencintainya maka hasilnya tetap sama. Ia begitu tak mengerti kekurangannya. Tak juga mengerti disetiap penolakan yang dilakukan oleh Naruto terus saja menusuk ulu hatinya. Menghancurkannya hingga serpihan-serpihan itu bertebaran tak terkendali.

"Sasuke dengar… seperti apapun aku mencintaimu. Kita akan selalu bersama.."

Naruto membawa Sasuke kedalam pelukannya. Mendekapnya hangat agar Sasuke kembali merasa nyaman. "Hanya kaulah satu-satunya yang kupunya." Lanjutnya sambil mengecup kepala Sasuke lembut.

Kebisuan melanda Sasuke. Hatinya yang sudah hancur membuat ia bungkam seribu bahasa atas apa yang dikatakan orang yang paling dicintainya.

...

"Tidurlah.. Oyasumi."

Hingga sosok ayah angkatnya itu melangkah pergi meninggalkan dirinya yang masih termenung, Sasuke masih tetap saja berkemelut dengan pikirannya yang kosong.

.

.

'Buah yang lezat tentu akan semakin menggiurkan jika telah matang, Sasuke.'

.

'Yang dia inginkan hanyalah darahmu.'

.

Kilasan percakapannya dengan Madara tiba-tiba masuk memenuhi pikiran Sasuke. Dengan tatapan kosongnya ia beranjak dari tempat tidurnya. Melangkah pelan menuju sebuah lemari besar yang terdapat sebuh nakas didalamnya.

Ia tarik tempat sersebut. Membukanya hingga kini terlihat sebuah pisau hitam yang terdapat lambang rumit disetiap sisinya.

Tatapannya mendingin. Intensi Sasuke pada benda tersebut semakin dalam.

..

'Hanya dengan pisau ini, ia dapat terbunuh..'

.

'Arahkanlah padanya disaat ia lengah...

.

.

.. Sasuke.'

.

.

.

.

x0x_._x0x.

.

Suara jangkrik yang berkicau pada suasana malam kala itu begitu menentramkan, sayup-sayup suara dedaunan yang tertiup angin juga menambah suasana nyaman di sekitar halaman sebuah villa di puncak gunung. Hawa dingin yang tak begitu dipedulikan oleh keberadaan dua orang yang tengah berbaring diatas rerumputan hijau sambil menatap gelapnya langit membuat suasana semakin terasa begitu indah bagi keduanya.

"Ne, sudah lama kita tidak berlibur kesini." Ucap seorang pria dengan surai pirangya sambil melirik kearah sosok pemuda raven tepat disampingnya. "Apa kau menyukainya ?"

"Hn."

Jawab sosok disampingnya singkat.

"Suke.. Apa kau masih marah ?" Tanya Naruto yang telihat cemas karena kediaman yang terus Sasuke tunjukan.

"Tidak."

"Benarkah ?"

"Hn."

...

Keheningan melanda. Naruto yang masih terlihat kurang percaya dengan perkataan anak angkatnya memilih untuk bungkam. Tak ingin memperpanjang masalah hingga akan membuat orang yang disayanginya kembali mendapat luka.

Namun tiba-tiba saja Sasuke memecahkan keheningan dengan memanggil dirinya.

"Naruto…"

"…... Ya ?"

"Apa kau percaya padaku ?" Tanya Sasuke bangun dari rebahannya dan duduk menatap dalam pada mata biru Naruto.

"Tentu saja. Jangan pernah kau ragukan itu Sasuke."

"Kalau begitu aku ingin menanyakan sesuatu kepada mu." Balas sang Raven tenang. "Dan kuharap kau tidak berbohong."

"….. Katakalah."

Terlihat keraguan muncul dalam raut wajah manisnya. Hingga beberapa menit berlalu dirinya pun kembali membuka suara.

"Apa yang kau sembunyikan dariku ?"

"Nani ?" tersentak kaget dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Sasuke, Naruto pun langsung bangun dan duduk tepat menghadap anak angkatnya. "Aku tidak menyembunyikan apa-apa dari mu."

...

"Masalalu ku…" Ucap Sasuke lirih. "Siapa aku sebenarnya…. " Dengan suara bergetar, ia pun menundukan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya yang begitu mendalam.

Naruto terdiam. Merasa tak menyangka Sasuke akan menanyakan hal tersebut.

Namun setelah itu, rasa terkejut Naruto tergantikan oleh sebuah senyum tulus yang diarahkan kepada Sasuke. Menangkup wajah sang anak angkat dan menatap mata Sasuke dalam.

"Kau adalah anakku.. satu-satunya orang yang berharga bagiku."

"..."

Remasan kuat Sasuke lakukan pada kedua tangannya. Mencoba menahan gejolak emosi yang tak terbendung karena mendengar perkataan tersebut.

Lagi – lagi Naruto kembali berbohong.

Yang ia inginkan hanyalah sebuah kebenaran. Namun kenapa orang yang dicintainya tidak memberikan sedikit pun kejujuran dalam setiap perkataannya.

Dan rasa kecewa kembali menyerang Sasuke. Perasaan sesaknya menjadi begitu kuat.

.

" Sebaiknya kita masuk. Udara semakin dingin disini. "

Naruto beranjak dari duduknya. Menggenggam tangan putih Sasuke dan membawanya memasuki villa tempat istirahat mereka berada. Tak menyadari bahwa tatapan mata sang anak yang kian menggelap…

.

.

.

.

_x0x_

.

Kamar besar dengan nuansa victorian style itu begitu luas hingga kesan mewah sungguh melekat jika dilihat lebih detail.

Terlihat disudut ruangan tepatnya diantara lemari-lemari pakaian, Naruto sang ayah angkat dari Sasuke sedang memasukan semua pakaiannya yang belum sempat ia bereskan setelah tiba di Villa kediamannya.

Terlalu fokus dengan kegiatannya, ia pun tak sadar jika kini seseorang tengah memasuki kamarnya. Hingga suara langkah kaki yang begitu pelan terdengar oleh indranya, ia pun menolehkan pandangannya pada sang sumber suara.

" Ah… Sasuke rupanya." Ucap Naruto dengan senyum cerianya.

"Ada ap – Uhuk !"

Sebuah tusukan pisau mendarat tepat pada dada bidang Naruto. Terlihat dengan jelas darah segar merembes melalui selala – sela pisau hingga jatuh mengotori dingainnya lantai putih.

"S-Sasuke.. Akhh... "

Suara rintihan dan tubuh ambruk yang berasal dari Naruto menyadarkan Sasuke. Tesentak kaget, Sasuke pun langsung melangkah mundur dan jatuh terduduk. Menatap kedua tangannya yang berlumuran darah dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Pikiran Sasuke begitu kosong. Ia sama sekali tak sadar jika dirinya sendiri yang telah menusuk Naruto.

"A-Aku…."

Genangan darah begitu pekat menyelimuti Naruto yang tergeletak lemah. Suara nafas yang tersengal berat meyadarkan bahwa luka yang dialami oleh Naruto begitu menyakitkan.

"K-Kenapa Sasuke.." Ucap Naruto dengan suara lemah. Pandangannya mengabur, menatap sedih kepada Sasuke yang masih bergetar ketakutan.

"N-Naru... "

...

"Hahaha… akhirnya aku bisa melihatmu sekarat."

Tiba-tiba saja dari arah pintu masuk muncul sesosok pria dengan surai hitam panjangnya melangkah pelan menuju kearah Sasuke berada. Aura gelap begitu terasa manakala sosok tersebut merengkuh tubuh Sasuke dari belakang dan menatap tajam Naruto yang masih tergeletak tak berdaya.

"Kerja bagus keponakan ku…" lanjutnya dengan seringai mengerikan. Tampak mata merah serta taring tajam Madara perlahan keluar, dan disusul kemunculan sebuah segel berwarna merah mengelilingi tubuh Naruto yang berbaring diatas lantai. Rasa sakit pada dadanya semakin kuat, bahkan kini pria pirang itu memuntahkan darah yang keluar dari mulutnya.

Pisau itu sudah terlepas, Namun nyeri yang begitu terasa membuat teriakan kesakitan Naruto semakin terdengar jelas memenuhi sudut ruangan.

Sosok Madara kembali tertawa keras melihat pemandangan didepannnya.

"Bagaimana Uzumaki ? Bukahkan terasa menyakitkan ? itulah yang dirasakan oleh klan Uchiha karena pembantaian yang dilakukan olehmu." Ucapnya sambil mengelus rambut sosok dalam dekapannya pelan.

"Lihatlah.. bahkan kematianmu datang oleh orang tercintamu sendiri."

Netra biru Naruto terarah kembali pada Sasuke. Dalam pandangannya yang mengabur, ia melihat sosok yang dicintainya.

Nampak tubuh Sasuke sudah berhenti bergetar, namun tatapannya begitu kosong. Seolah-olah jiwa Sasuke sudah tidak berada dalam raganya.

"S-Sasuke.. cepat larilah.. jangan dekati Uhuk… d-dia."

Dengan terengah-engah Naruto berucap, terselip kekhawtiran dalam suara itu.

"..."

.

"SASUKE !"

Hingga teriakan kencang dari Naruto. Kesadaran Sasuke pun perlahan mulai kembali.

"N-Naru… A-Ak— "

"Jangan takut keponakan ku, paman akan selalu bersama denganmu."

Ucapan yang akan dikeluarkan Sasuke terpotong oleh Madara. Menguatkan dekapannya pada sang keponakan Madara pun mengelurkan taring-taring tajamnya mengarah pada leher Sasuke.

"Ahh.. darahmu memang yang terbaik sayang.." lanjutnya sambil menjilati leher Sasuke dengan lidahnya. Tak ayal hal itu sukses membuat Sasuke memberontak seketika dalam dekapan Madara.

Namun hal itu justru tak membuahkan hasil karena pergerakannya sudah dikunci oleh Madara hingga Sasuke sama sekali tak berkutik.

"S-Sasuke sadarlah dia sedang menjebakmu !"

"P-Paman.. apa maksudnya ini.." Ucap Sasuke terlihat ketakutan. "Kau berbohong pada ku ….."

"Tidak Sasuke.. aku tidak berbohong tentang pembantaian keluarga mu.. itu memang benar dia lah pelakunya." Balasnya dengan seringai mengerikan.

"Tapi... membuat Uzumaki sialan itu mati adalah tujuan utamaku.. haha.."

Madara kembali tertawa keras, tak memperdulikan bahwa pemuda dalam dekapan kuatnya tengah bergetar. "Ah.. satu lagi, Aku juga mengincar darah manismu tentu saja…"

Dalam sekejap Madara mengigit leher Sasuke dan mengoyak kulit seputih salju tersebut hingga rembesan darah keluar mengalir membasahi kemeja Sasuke.

"Akh— "

"SASUKE ! " teriak Naruto melihat orang yang dicintainya dalam bahaya.

"Lepaskan Sasuke BRENGSEK !"

Beberapa kali Naruto berusaha untuk bangun. Mencoba untuk menyelamatkan Sasuke namun berakhir sia-sia lantaran segel yang terus menahan tubuhnya untuk berdiri. Bahkan setiap kali dirinya mencoba untuk mengeluarkan sisa kekuatannya, energinya selalu diserap habis tak tersisa.

Glup..

Glup..

Tegukan demi tegukan terus memenuhi kerongkongan Madara. Menghisapnya darah Sasuke rakus hingga keponakannya itu tak kuasa untuk memberontak lagi.

"Ngh.. N-Naru..."

Suara Sasuke kian melemah. Pandangannya pun mulai mengabur karena darahnya yang terlalu banyak keluar. Hingga yang terjadi berikutnya adalah kedua bola mata Sasuke yang perlahan menutup.

"SASUKE ! "

...

Amarah keluar menyelimuti Naruto. Kemarahannya pada sosok yang yang telah menyakiti Sasuke begitu besar, hingga tiba-tiba saja seluruh benda yang ada didalam kamar tersebut bergetar. Bahkan beberapa Jendela besar pun ikut terpecah berkeping-keping karena tekanan besar yang dikeluarkan oleh Naruto.

Netra biru langit Naruto berubah merah sempurna, taring-taring yang tajam pun bermunculan hingga kini ia berubah sempurna dengan wujud vampire-nya.

Aura hitam melingkupi tubuh Naruto, berkobar-kobar tak terkendali hingga membuat Madara menghentikan kegiatannya yang masih menghisap darah Sasuke. Dengan kekuatan yang begitu besar, Naruto memecahkan segel tersebut dan langsung menerjang Madara kuat. Menghempaskan tubuh tersebut hingga membentur kokohnya dinding kamar.

"Uhuk – "

Darah pekat keluar dari mulut Madara. Bahkan belum sempat dirinya kembali bernafas, sosok Naruto kini telah berada tepat dihadapannya. Mencengkram lehernya kuat hingga membuat Madara benar-benar tak bisa bernafas.

"Si-Sial ! "

"Jangan pernah sedikitpun menyentuh Sasuke BRENGSEK !"

Teriak Naruto pada Madara. Kuku jemarinya memanjang. Terlihat juga beberapa urat halus disekitar pergelangan tangan Naruto.

"Kau ! kekal lah dalam kematianmu !"

Setelah mengatakan hal tersebut, Naruto pun menusukan tangannya tepat pada jantung Madara. Begitu dalamnya sampai tak ada perlawanan dari Madara sedikitpun.

"Uhuk !"

Muntahan darah dari keluar begitu banyak. Dalam sekejap, tubuh dalam cengraman Naruto pun menghilang, berbaur menjadi abu hingga hanya sosoknya telah lenyap sempurna.

Namun sayang, detik berikutnya tubuh Naruto terhuyung seketika. Rasa sakit akibat tusukan pisau hitam itu masih terasa oleh indranya. "Kuso ! " Makinya karena tenaganya yang terkuras habis.

Dengan terseok – seok Naruto pun melangkah menuju Sasuke yang tengah tak sadarkan diri. Ia rengkuh tubuh sang raven. Menggengam tangannya yang dingin dan kembali berucap. "Sasuke sadarlah.." Ucap Naruto serak.

"Kumohon.."

Detak jantung Sasuke melemah. Bahkan beberapa kali detak jantunya nyaris tak lagi bersuara. Tak memerlukan waktu lama, Naruto pun dengan cepat meletakan tangan kirinya. Mengelurkan sebuah cahaya kebiruan tepat pada jantung Sasuke.

Cahaya itu terus bersinar terang. Mencoba menyalurkan energi kehidupannya yang tersisa kepada orang yang dicintainya.

Perlahan wajah pucat Sasuke kembali normal. Nafas yang mulai teratur juga memperlihatkan bahwa Sasuke telah melalui masa kritisnya. Hingga kedua Onyx sang raven itu terbuka perlahan dan memandang sekeliling.

"Sasuke.. Syukurlah kau sadar.."

"Naru.." ucap Sasuke lirih. Tangannya terjulur pelan. Menyentuhkan tangan lembut itu pada pipi Naruto dan membelainya lembut.

"Maafkan aku.."

"Tidak Sasuke.. ini bukan salahmu." Balas Naruto yang masih menyalurkan energinya pada Sasuke.

"T-Tapi aku telah menu— "

"Berhentilah bicara. Aku sedang menyembuhkan mu… jangan buang energimu sia-sia."

...

Merasa ada yang aneh, Sasuke melihat tubuh Naruto diselimuti oleh cahaya kebiruan yang mulai memudar. Bahkan ia melihat bahwa wajah orang yang begitu dicintainya memucat.

"Naruto lepaskankan tanganmu… "

"Tidak, sedikit lagi... "

" Naru ! "

Dengan tenanga yang perlahan mulai kembali Sasuke pun menghentak tangan Naruto yang berada diatas jantungnya. Mendudukan dirinya dan memandang kearah Naruto.

"N-Naru apa yang terjadi.. ada apa dengan tubuhmu.. "

"Sasuke …" Ucap Naruto memandang dalam mata hitam sang raven. "Aku tidak berbohong…"

"Naru kenapa kau semakin memudar." Menghiraukan perkataan Naruto, Sasuke pun mulai terisak karena melihat keadaan orang yang dicintainya.

"Jawab aku Naru… Hiks.."

..

"Kau memang anak ku, Sasuke…

.

"Anak kandungku. "

Onyx Sasuke membola. Air mata yang sedari tadi terus keluar pun berhenti menetes dan tergantikan oleh rasa terkejut luar biasa dengan ucapan Naruto.

"A-Apa…"

"Kau adalah buah cintaku dengan Mikoto."

Muncul cahaya kecil berwarna biru bagaikan kumpulan kunang-kungan yang tengah berterbangan disekitar tubuh Naruto. Tersenyum lembut ia pun mendekap tubuh Sasuke kedalam pelukannya yang masih terlihat Shock.

"Aku dan Mikoto saling mencintai. Kami merahasiakan hubungan ini dibelakang suaminya yang bernama Fugaku sampai bertahun-tahun lamanya. Hingga suatu hari Mikoto melahirkan bayi kita, Bayi mungil yang begitu indah dan menawan." Jelas Naruto pelan. Sedangkan Sasuke masih terus terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Enam tahun berlalu.. hingga suatu ketika klan Uchiha mengetahui bahwa darah yang mengalir dalam tubuhmu bukanlah murni seorang Uchiha. Para tetua mulai memperketat penjagaan pada Mikoto. Bahkan orang yang kucintai pun mulai menjaga jarak dan enggan bertemu denganku lagi. Begitu sulitnya aku hanya untuk bertemu dengan darah dagingku sendiri. "

"Dan ketika malam purnama datang. Disaat kekuatanku memuncak, aku membuh mereka semua…"

Tubuh Sasuke menegang dalam pelukan Naruto. Namun dengan lembut pria tersebut mengelus rambutnya pelan mencoba untuk menenangkan sang anak.

"Sasuke, maafkan aku… rasa sakit atas penghianatan yang dilakukan oleh ibumu tak bisa ku maafkan. Aku hanya takut kehilangan harta berhagaku satu-satunya..."

"Yaitu kau Sasuke... "

...

"L-Lalu kenapa kau tidak mengatakan dari awal bahwa kau adalah ayah kandungku.. Hiks.." Balas Sasuke parau. Tangisannya pecah begitu saja setelah mendengar kenyataan dalam hidupnya.

"Kenapa! kenapa kau menyembunyikannya..."

Naruto melepaskan pelukannya. Mengelus pipi putih Sasuke lembut dan menatap dalam mata sehitam jelaga itu.

"…. Karena ketika aku mencintaimu, maka tidak ada lagi hubungan yang akan membelenggu cinta kita.." Ucapnya pelan dengan senyuman yang begitu hangat.

Sasuke terperangah. Begitu sulit baginya membalas perkataan ayah kandungnya sendiri. Hingga tanpa sadar dirinya kembali meneteskan air mata.

Sebuah tangisan kebahagian dan kelegaan yang muncul dari dalam hatinya ketika orang yang begitu ia cintai juga mempunyai perasaan yang sama.

Namun kebahagian Sasuke tak berlangsung lama ketika kehadiran Naruto tidak terasa lagi olehnya. Hingga yang terlihat hanyalah bayang sang terkasih yang akan segera menghilang.

"Hiks… Naru.. jangan pergi."

"Sasuke berjanjilah…."

"Tidak ! jangan katakana apapun.. Hiks aku tidak mau dengar."

Tanggisan Sasuke semakin menjadi-jadi. Bahkan gelengan kuat terus ia lakukan karena berusaha menampik kenyataan tentang Naruto yang akan pergi.

"Berjanjilah untuk tetaplah hidup, Sasuke..."

...

"Hiks… N-Naru. "

Tatapan teduh terus menghiasi wajah Naruto yang benar-benar memudar. Hingga sebuah kata terakhir ia ucapkan kepada Sasuke yang terus menangis.

.

.

"Aishiteru … Suke."

Dan sosok itupun menghilang. Berbaur menjadi cahaya-cahaya kecil berwarna biru yang indah.

.

.

.

.

.

.

Disuatu ketika Sasuke kecil yang tengah berbaring lemah karena demamnya pernah berkata kepada sosok yang dengan setia mengelus kepalanya sayang.

"Daddy~ "

"Yes, Honey.."

"Apa jika Sasu sudah besar nanti, Daddy akan meninggalkanku ?" Tanya Sasuke kecil dengan suara pelan. "Kata anak perempuan disekolah, jika Sasu sudah dewasa dan menikah maka Daddy tidak bisa tinggal bersama Sasu lagi."

Mendengar penuturan Sasuke kecil, sang pria itu pun tersenyum lembut dan kembali berucap. "Tentu tidak Honey, percayalah kita akan terus bersama-sama sampai kapan pun."

"Janji ?"

.

.

.

"Ya, … Daddy berjanji. "

.

.

.

.

.

End.