Bel pulang sekolah.

Laki-laki karismatik namun berparas manis disaat yang bersamaan itu bernama Han Sanghyuk. Ia terus-terus tersenyum seraya mengucapkan "hati-hati dijalan" kepada temannya yang satu-persatu meninggalkan kelas. Memang sudah menjadi tradisi sekolahnya untuk menyapa ketika pagi maupun meninggalkan kelas. Terus seperti itu hingga dirinya sendiri satu-satunya yang masih ada dikelas.

Setiap hari selalu begini. Pikirnya sambil kemudian merapihkan alat-alat tulis dan bukunya dengan pergerakan slow motion. Menimang-nimang kapan waktunya ia harus keluar kelas seraya menatap jam dinding yang terus berputar.

"Taekwoon hyung dan Hakyeon senior sudah selesai berbicara belum ya?"

Jika kalian berfikir bahwa Han Sanghyuk adalah adik Taekwoon, kalian salah besar. Faktanya, Sanghyuk menyukainya.

Iya, Sanghyuk adalah laki-laki yang menyukai kakak seniornya yang juga laki-laki— yang hipotesanya, banyak disukai juga oleh perempuan lain.

Seraya mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, Sanghyuk agaknya merutuki hal yang terjadi pada tahun lalu, yang menyebabkan dirinya terjebak pada drama yang sepertinya tak akan ada habisnya.

Flashback.

"Nama saya Ilhoon. Hari ini saya akan mengisi acara terakhir sebelum penutupan masa orientasi kalian. Setelah ini . . . ." blablabla. Sanghyuk tidak bisa mendengar dengan jelas. Kepalanya terlampau pusing hingga telinganya berdenging.

Keseimbangannya runtuh. Ia merutuk, mengapa ia harus terlambat pagi ini hingga tidak sempat sarapan. Pada akhirnya ia tumbang.

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia merasakan ada orang yang menahan punggungnya sebelum mencium lapangan lalu mendengar suara khas perempuan yang berteriak panik. "Taekwoon-sshi, anak ini pingsan, tolong saya!"

Sanghyuk tidak bisa ingat apa yang terjadi. Bangun-bangun, ia mendapati kakak kelas laki-laki berwajah dingin (sedingin-dinginnya es) tengah bermain ponsel didepannya. Pergerakan Sanghyuk rupanya diketahui oleh kakak itu. "Kamu sudah bangun?"

"Iya. Terimakasih, kak."

"Sekarang sedang acara penutupan. Mau ikut, atau tetap beristirahat?" Tanyanya dingin. Tangannya mengunci layar ponselnya dan menyimpannya di saku celana.

Sanghyuk berusaha duduk, dan kakak itu bersigap untuk membantunya.

Tapi rupanya tumpuan tangan Taekwoon di ranjang UKS meleset dan akhirnya, tanpa sengaja, dada Taekwoon bertubrukan dengan bahu Sanghyuk. Dan yang lebih buruknya, bibir Taekwoon tanpa sengaja mencium pelipis Sanghyuk.

Sanghyuk membeku. Jantungnya berdebar-debar tak karuan, dan tentu pipinya memerah. Ia menatap Taekwoon yang seperti nya tidak merasa aneh dengan kejadian barusan. Sanghyuk menghela nafas. Mendadak dirinya pusing kembali.

"Sepertinya saya akan tidur saja, senior. Saya masih pusing."

"Mhmm, baiklah."

Taekwoon hendak pergi dari ruang kesehatan. Namun sebelum membuka pintu, Sanghyuk memanggilnya.

"Senior, boleh saya minta nomor ponsel- atau kakaotalk senior?"

Sanghyuk fikir Taekwoon tidak akan memberikan kakaotalk idnya. Namun respon Taekwoon diluar dugaan. Laki-laki itu membuka ponselnya kemudian menyodorkan kepada Sanghyuk. "Add saja kakaotalkmu. Nanti saya chat."

Sanghyuk berbunga-bunga.

Seusai sekolah, Sanghyuk langsung pulang karena jemputannya sudah menunggu. Tak berapa lama setelah ia duduk dimobil, ponselnya berdenting.

Nama Taekwoon muncul dipermukaan ponselnya.

Taekwoon

Jadi namamu Sanghyuk?

Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?

Sanghyuk tentu saja meresponnya dengan baik.

Sanghyuk.

Iya, senior Taekwoon.

Saya lebih suka dipanggil Hyuk saja. hehe

Keadaan saya sudah lebih baik senior, terimakasih sudah merawat saya

Taekwoon

Tidak perlu terimakasih

Tadi saya hanya menemani saja atas permintaan teman saya

Sanghyuk tidak tahu harus kecewa atau bersyukur. Kecewa karena Taekwoon bersikap sangat dingin—namun juga perhatian, atau bersyukur karena teman Taekwoon secara tidak langsung mempertemukannya dengan senior super cool itu.

Sanghyuk

Oh. Kalau begitu sampaikan terimakasih saya kepada teman senior

Taekwoon

Okay :)

Flashback selesai.

Sejak saat itu, Sanghyuk tidak pernah tidak mengirim kakaotalk kepada kakak seniornya itu. Responnya pun baik, Sanghyuk tidak mengira hal itu sama sekali. Lagi pula, awalnya ia kira ia hanya tertarik dengan Taekwoon karena aura ke-kakak-an yang kental itu. Tapi ia salah. Sanghyuk rasa ia menyukai Taekwoon lebih dari sekedar kakak.

Sanghyuk selalu membawa dirinya lebih dekat dengan Taekwoon. Dan itu berhasil. Meskipun Taekwoon masih kaku dan berbicara seadanya, namun Sanghyuk berhasil mengajak Taekwoon untuk bertelepon tiap malam. Meskipun hanya akal-akalan Sanghyuk saja.

Obsesinya akan mengenal Taekwoon tidak sampai disitu. Hal inilah yang disesali Sanghyuk hingga saat ini. Ia menyesal telah mencari tahu tentang Taekwoon.

Ternyata Taekwoon memiliki teman wanita yang sangat akrab dengannya.

Namanya Cha Hakyeon. Hakyeon itulah yang membantu Sanghyuk agar tidak mencium lapangan tempo lalu. Hakyeon lah pula yang meminta tolong Taekwoon untuk menjaga Sanghyuk.

Sanghyuk cemburu. Tentu saja.

Suatu hari, Sanghyuk menemukan Taekwoon tengah berbicara dengan Hakyeon. Ia berdosa karena telah menguping pembicaraan mereka yang sebenarnya tidak memiliki topik khusus.

Mengetahui hal yang biasa dilakukan Taekwoon dan Hakyeon tersebut membuatnya menambahkan list kegiatannya sepulang sekolah, yaitu mengupingi pembicaraan mereka.

Sanghyuk tidak bohong. Hakyeon adalah satu-satunya perempuan yang manis dan kalem yang pernah ia temui. Hakyeon tidak menuntut apa-apa pada percakapan itu. Tidak berisik, dan tidak menel. Percakapan itu hanyalah berisi basa-basi yang sepertinya sangat berharga untuk Hakyeon maupun Taekwoon—Ia tidak yakin, tapi dari senyum Taekwoon sih, seperti itu.

Namun pada hari itu, ada detik dimana Sanghyuk melihat Hakyeon tersenyum sendu saat Taekwoon menyebutkan namanya— nama Sanghyuk! Sanghyuk sungguh terkejut.

"Kamu ingat Sanghyuk, Yeon?"

Raut wajah Hakyeon berubah. Memang tidak menghilangkan senyum manisnya, hanya saja ada sedikit perbedaan daripada yang kemarin-kemarin Sanghyuk perhatikan.

Dari situ Sanghyuk menyimpulkan, kalau Hakyeon juga hanya menyukai Taekwoon. Tanpa Taekwoon balas tentunya.

Sanghyuk entah mengapa tersenyum— ia akui ia jahat. Dan memanfaatkan keadaan itu untuk mengajak Taekwoon pulang bersama setiap hari.

Mengejutkan, Taekwoon mengiyakan. Katanya, "Saya tidak ada kerjaan. Jadi saya rasa tidak apa-apa mengantarkan Hyuk pulang."

Lamunan Sanghyuk buyar saat menyadari ponselnya berdenting. Bukan dari Taekwoon, tapi dari teman sekelasnya via grup kelas.

Mina: Yang masih disekolah, tolong simpankan charger ponselku dong. Ada di kolong mejaku.

Sanghyuk segera membalasnya sebelum teman-teman lain malah spamming tidak berguna.

Sanghyuk: Okay. Tapi bayar ya

Mina: Makasih Hyuk :* besok kubawakan susu pisang yaa

Sanghyuk: Sip heheh

Sanghyuk segera menuju ke meja Mina dan menyimpankan charger ponselnya. Kemudian, ia keluar kelas setelah dia fikir Taekwoon telah selesai berbicara dengan Hakyeon di lobby sekolah. Sudah 20 menit ia berdiam diri dikelas.

Namun, setelah sampai lobby sekolah, ia tidak melihat sosok Taekwoon sama sekali. Ia hanya melihat Hakyeon yang tengah menguncir rambutnya. Inginnya Sanghyuk hampiri dan bertanya. Tapi ia ragu kalau Hakyeon akan ramah kepadanya.

Jadilah ia berdiri di lobby sekolah, seraya memainkan ponselnya. Jarinya menari lentik, mengetikkan beberapa pesan untuk Taekwoon.

Sanghyuk

Taekwoon hyung dimana?

Sanghyuk mengernyit tidak mengerti. Pesannya dibaca, tapi tidak dibalas. Ia menghela nafas kesal. Apa Taekwoon hyung tidak bisa pulang bersamanya hari ini? Seharusnya Taekwoon memberi tahunya, jadi ia bisa meminta salah satu orang rumah untuk menjemputnya.

"Oh, Han Sanghyuk?"

Tubuh Sanghyuk menegang panik setelah mendengar suara manis yang biasa ia dengar beberapa minggu lalu. Iya, Cha Hakyeon memanggilnya.

"Oh, hai senior." Jawab Sanghyuk sopan.

Secemburu-cemburunya atas kenyataan Taekwoon dekat dengan perempuan ini, kesopanan tetap nomor satu baginya. Bukan munafik. Ia tidak benci Hakyeon kok. Hanya sedikit cemburu.

Lagipula kalau dipikir-pikir, Sanghyuk tidak ada hak untuk cemburu.

Hakyeon tersenyum manis didepannya. Sanghyuk baru sadar kalau kulit coklat susu Hakyeon terlihat selembut madu. Senyumnya benar-benar manis jika dilihat dengan posisi seperti ini. Terlebih, pipinya yang chubby membuat senyum Hakyeon tampak hidup.

"Kamu menunggu Taekwoon?"

Pertanyaan telak. Sanghyuk bingung harus menjawab bagaimana. Yang ia tahu, Hakyeon juga menyukai sosok stoik tersebut. Kalau ia jawab dengan jujur, apa tidak apa-apa?

"Iya, senior. Hehe. ." Jawabnya, awkward.

"Taekwoon tidak bilang? Hari ini ia menemani Jaehwan pergi."

"Kemana? Siapa Jaehwan?" Tanya Sanghyuk mendadak ketus. Sanghyuk menyesal sekali telah mengeluarkan sifat kekanakannya secara tiba-tiba. Ia sudah berlaku tidak sopan.

Hakyeon mundur sedikit, yang makin membuat Sanghyuk menyesal. "Mmm.." ada nada ragu di jawabannya. "Ah, haruskah aku meneleponnya untukmu?"

Mengganti topik.

Sepertinya, satu tahun Sanghyuk men-stalker-i Taekwoon belum cukup untuk memberikannya informasi lengkap. Selama ini, ia hanya tahu Hakyeon yang selalu ada didekat Taekwoon. Tidak ada yang lain. Sehingga adanya nama Jaehwan sebagai alasan Taekwoon menghilang saat ini sungguh memperburuk moodnya. Pula rasa bersalahnya pada kakak manis ini semakin membuatnya pening.

"Sanghyuk? Kau tidak apa-apa?"

"Ah." Sanghyuk mengendalikan dirinya. "Tidak apa-apa. Aku akan pulang sendiri, senior."

"Mau pulang bersamaku? Aku bawa motor. Kamu bisa mengendarai motor?" Tawar Hakyeon ramah.

Ah. Penyelamat sekali. Sejujurnya Sanghyuk memang manja. Ia selalu minta dijemput kala itu karena ia malas naik bus yang super ramai, bukan karena ia takut hitam. Kenyataan bahwa Taekwoon selalu membawa mobil itu sebuah kebetulan yang beruntung, makanya Sanghyuk bersyukur sekali.

Jadi naik motorpun bagi Sanghyuk tidak apa-apa. Yang penting tidak mencium bau busuk ketiak orang.

"Bisa kok, senior. Ayo segera pulang."

Selama perjalanan pulang, Sanghyuk dan Hakyeon berbincang banyak. Ternyata Hakyeon sesuai dengan perkiraannya. Ia baik, ramah, supel, dan tentunya sangat open minded.

Sanghyuk tersudut dengan pertanyaan teritorial Hakyeon sehingga ia mau tidak mau mengakui kalau ia tertarik dengan Taekwoon— ia tidak mau bilang suka, terlalu mengerikan. Lagipula, Hyuk tahu kalau biseksual di jaman sekarang itu masih tabu bagi sebagian orang. Tapi Hakyeon terdengar sangat mendukung Sanghyuk untuk terus memperjuangkan Taekwoon. Bahkan tak ada sama sekali nada cemburu di kalimatnya.

Sanghyuk tidak mengerti. Apakah Hakyeon tidak menyukai Taekwoon? Mengapa kakak kelasnya itu sangat rela dan supportive padanya?

Atau kemungkinan lainnya, Hakyeon adalah perempuan yang naif.

"Rumah saya disini, senior." Sanghyuk memberhentikan motornya tempat didepan rumahnya yang cukup besar. Yah, Sanghyuk memang berasal keluarga yang cukup kaya.

Hakyeon tersenyum kemudian mengambil alih helm dan jok depan. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya."

"Tunggu, senior."

Sepertinya hobi Sanghyuk yang terbaru adalah menahan orang lain ketika hendak pergi.

"Kenapa?" Tanya Hakyeon.

Sanghyuk mendengung, menimang-nimang haruskah ia bertanya atau tidak. "Taekwoon hyung pergi kemana? Dan siapa Jaehwan yang senior maksud?"

Hakyeon tersenyum. "Kamu tanyakan sendiri pada Taekwoon, ya, Hyuk. Aku pulang dulu. Selamat sore."

"Ah.. baiklah. Terimakasih, senior. Hati-hati dijalan!"

Sanghyuk tentu tidak gila untuk menanyakan kepada Taekwoon perihal hal yang mengganggu pikirannya. Ia lebih baik menunggu balasan dan penjelasan Taekwoon sendiri.

Hyuk sudah mandi, makan, dan mengerjakan tugasnya. Sekarang yang ia lakukan adalah berleha-leha ditempat tidurnya sambil main game. Sudah jam 8 malam, tapi Taekwoon tak kunjung menghubunginya.

Tak berapa lama, bibinya mengetuk pintu kamar. "Sanghyukie, ada tamu yang menunggu diluar."

"Siapa, bi?" Hyuk bangkit dari leha-lehanya setelah game over dan berjalan mengekori bibinya. "Kenapa nggak disuruh masuk saja?"

"Dianya nggak mau, Hyuk. Katanya cuma sebentar."

Sanghyuk mengenyit. Meskipun sebentar, tetap saja. Diluar kan sedang hujan. Apa tamu itu tidak kedinginan?

Hyuk terkejut-kejut ketika mendapatkan pelukan mendadak sesaat setelah ia membuka pintu rumahnya. Dari bau parfumnya, Hyuk tahu kalau tamu ini adalah Taekwoon.

"T-Taekwoon hyung?" Ucap Hyuk hati-hati, sambil pelan-pelan melepaskan pelukan kakak seniornya. Tidak lucu kalau bibinya tiba-tiba melihat adegan yang barusan itu.

"Kamu tadi pulang bagaimana?"

Hyuk tidak mungkin menjawab pulang dengan Hakyeon. Sehingga mau tak mau ia berbohong. "Dijemput. Kenapa hyung?"

"Maaf, tadi saya tidak bilang kalau tidak bisa antar kamu pulang."

"Tidak apa-apa kok, hyung." Hyuk tersenyum kalem.

Iya. Seberhasil-berhasilnya Hyuk mendekati Taekwoon dan menguasai perhatian kakak kelasnya itu, Hyuk masih kalah dalam cara mereka bercakap-cakap. Taekwoon masih betah dengan formalitasnya menggunakan saya-kamu. Tidak hanya kepada Hyuk saja, bersama Hakyeon pun juga seperti itu.

Setidaknya itu yang ia tahu. Tidak tahu kalau bersama Jaehwan Jaehwan itu.

"Tadi saya menemani Jaehwan pergi."

"Kemana?"

"Taman bermain." Jawab Taekwoon tanpa ragu.

"Ngapain? Kok tiba-tiba?" Hyuk, kebiasaanmu berbicara dengan nada ketus sepertinya harus diubah.

Taekwoon menjelaskan, lagi-lagi secara gamblang. "Jaehwanie bilang kalau ia punya dua tiket gratis ke taman bermain. Awalnya ia ingin pergi dengan Hakyeon tapi Hakyeon tidak bisa. Hakyeon harus bekerja."

Pikiran Hyuk campur aduk. Ia tidak salah dengar? Taekwoon memanggil Jaehwan dengan sebutan Jaehwanie, sementara memanggil dirinya dan Hakyeon hanya sekedar dengan nama. Apa-apaan? Siapa Jaehwan sebenarnya?

Dan lagi.. Hakyeon bekerja? Kerja apaan? Toh tadi Hakyeon malah pulang bersamanya.

"Oohh." Jawab Hyuk singkat.

Taekwoon tersenyum kecil. Sangaat kecil dan tipis. "Kalau begitu saya pulang dulu."

"Ah, iya hyung. Hati-hati dijalan."

"Omong-omong, besok saya tidak bisa mengantarmu lagi."

"Kenapa?" Tanya Hyuk.

"Saya meminta Hakyeon untuk mentraktir saya besok ditempat kerjanya."

Hyuk mengangguk. Ia sedikit sedih, tapi berusaha untuk menutupi hal itu. "Baiklah."

"Selamat malam, Hyuk."

"Malam juga, hyung."

Sanghyuk menatap punggung Taekwoon yang kehujanan berlari kearah mobilnya. Tanpa dadah-dadah, Hyuk langsung menutup pintu utama rumahnya lalu segera masuk kamar. Terlalu banyak hal yang mendadak mengganggu pikirannya. Entah pikiran baik atau buruk, niat jahat atau niat baik. Hyuk pening sekali.

Yang ia tahu sekarang adalah, ia harus segera mencari tahu tentang siapa itu Jaehwan.