Perempuan yang baru saja sampai di apartemen kecilnya itu melempar dirinya ke sofa lalu menghela nafas. Di liriknya jam dinding di sudut ruangan yang menunjukan pukul 8 malam. Ia pun memutuskan untuk bersantai sebentar sebelum membersihkan diri dan menyelesaikan PR nya yang bertumpuk. Sebenarnya ia punya tugas presentasi kelompok. Untung saja teman sekelompoknya mengerti kalau ia hanya bisa membantu sekedar memberikan paper rangkuman materi bagiannya.
Omong-omong, ia bernama Cha Hakyeon. Duduk dikelas tiga SMA, dan baru saja diterima bekerja sambilan sebagai pelayan di toko ice cream dan panekuk dipinggir jalan, tak jauh dari sekolahnya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Hakyeon beralih pada ponselnya yang barusan berdenting. Nama laki-laki yang sudah setahunan berteman dengannya itu muncul.
Taekwoon
Hakyeon, sudah sampai rumah?
Hakyeon
Sudah, Taekwoon. Jangan khawatir
Taekwoon
Syukurlah.
Jangan lupa istirahat yang cukup
Makan yang cukup juga
Dan jangan lupakan janjimu
Hakyeon
Itulah alasanmu mengirim pesan padaku kan?
Kamu ingat temanmu ini tidak pernah mengingkari janji
Taekwoon
Haha. Benar
Sanghyuk menelepon saya
Cepat makan malam. Saya tahu kamu belum makan
Hakyeon
Iya, ayah
:p
Taekwoon
Hakyeon terkikik melihat balasan singkat dari Taekwoon. Perhatian dari laki-laki berparas dingin itu bahkan hampir melebihi perhatian ayahnya. Maka dari itu ia suka menggoda Taekwoon dengan memanggilnya ayah.
Taekwoon bahkan suka menyempatkan diri untuk menyanyikan lagu sebelum tidur untuk Hakyeon.
Tapi itu dulu.
Kalau sekarang, Taekwoon tidak pernah meneleponnya setiap malam. Tapi itu tak mengapa. Toh laki-laki itu masih menyempatkan untuk mengingatkan Hakyeon untuk makan malam.
Jika ditanya apakah Hakyeon baper atau tidak. . . Jawabannya tentu saja, Baper.
Ia suka dengan Taekwoon.
Tapi, Taekwoon terlalu tinggi untuk diharapkan menjadi pacar. Hakyeon pun tidak merasa itu adalah keharusan. Ia menikmati bagaimana Taekwoon dan dirinya berteman seperti ini. Bahkan sangat menikmati hal itu.
Setidaknya, untuk sekarang.
Tidak tahu beberapa minggu lagi.
Sifat Taekwoon yang kelewat baik dan ditambah tidak peka itu, membuat laki-laki itu disukai oleh banyak orang. Tidak tanggung-tanggung, adik kelas laki-laki bernama Sanghyuk yang tempo lalu ia bantu saja suka pada Taekwoon. Bahkan sahabatnya, Jaehwan pun sangat amat menyukai Taekwoon. Yah, pesona Taekwoon memang sangat kuat, memikat, dan misterius.
Setelah benar-benar rampung menyelesaikan tugas sekolahnya, Hakyeon lantas bangkit, menuju dapur dan menggoreng telur. Tentu ia tidak boleh melewatkan makan malam. Atau Taekwoon akan cerewet keesokan paginya.
Taekwoon ini. . . Tidak peka terhadap perasaan orang-orang disekitarnya, tapi malah peka terhadap ciri-ciri orang yang tidak makan malam.
Diam-diam, Hakyeon berterimakasih kepada Taekwoon. Karena berkat kebiasaannya mengingatkan makan malam, sakit maag Hakyeon tidak pernah mengganggu lagi.
Sambil mengunyah nasi dan telur gorengnya, banyak sekali yang ia fikirkan akhir-akhir ini.
Bukannya cemburu atau tidak rela, hanya saja, agaknya Hakyeon merasa rindu dengan suara halus Taekwoon yang dahulu selalu ia dengar sebelum terlelap. Kini, Taekwoon tidak bisa menelefonnya lagi setiap malam karena ia harus menelefon Sanghyuk. Hakyeon tidak tahu apakah Taekwoon menyanyikan lullaby sebelum tidur pada Hyuk atau tidak. Yang jelas ia merasa agak kosong, dan kesepian.
Lalu, ucapan Jaehwan beberapa hari ini juga membuatnya bingung bukan kepalang. Sahabatnya itu tempo hari menginterogasi Hakyeon perihal Taekwoon— yang tentu saja membuatnya kalut dan panik. Hakyeon marah sekali pada dirinya sendiri karena mengecewakan sahabatnya yang juga menyukai Taekwoon. Namun, ketika Hakyeon sudah terpojoki dan mau tak mau harus mengaku, reaksi Jaehwan sungguh diluar dugaan.
"Aaah pada akhirnya, sahabatku yang kalem ini suka pada laki-laki! Aku sempat panik kalau-kalau ternyata kau ini suka dengan perempuan!"
Hakyeon ingin melempar piring saja pada waktu itu.
Tak sampai situ, Jaehwan terus-terus bertanya padanya tentang hubungan dirinya dan Taekwoon. Berkembang atau tidak, begini, begitu. . . Harusnya Jaehwan tahu kalau Taekwoon bagaikan papan triplek. Mana mungkin hal yang disebutkan sebagai begini dan begitu terjadi.
Omong kosong.
Kemudian percakapan mereka tadi siang sukses membuat Hakyeon bertanya-tanya sampai sekarang.
Setelah merapihkan alat makannya, Hakyeon bergegas mengambil posisi tidur yang nyaman. Tak lupa ia mengirim pesan kepada ayah dan ibunya yang selalu bekerja demi dirinya.
Hakyeon
Ayah, ibu, selamat malam.
Seperti hari-hari biasanya, Taekwoon selalu stand by di halte dekat apartemen Hakyeon untuk berangkat bersama. Namun sepertinya hari ini sedikit berbeda. Tidak biasanya Hakyeon berpenampilan acak-acakan pagi-pagi.
Hakyeon berlari dan langsung masuk ke bagian tengah mobil Taekwoon tanpa mengucapkan selamat pagi. Tentu saja, mulut Hakyeon sibuk menahan roti sementara tangannya sibuk menguncir rambut, memakai kaus kaki dan sepatu, sampai menyelesaikan kancingan bajunya yang belum tertutup semua. Memalukan memang. Tapi ia tak punya pilihan dan jalan keluar lain. Daripada Taekwoon menunggunya lama dan akhirnya mereka berdua terlambat kesekolah, lebih baik ia berberes di mobil, bukan?
"Kamu bangun kesiangan?"
Hakyeon yang tengah memasukan buku dan kertas yang semula ia tenteng kedalam tas segera menoleh. Tangan Hakyeon mengambil alih roti yang semula menyumpal mulutnya. "Hehe.. iya." Sumringah Hakyeon, malu.
Taekwoon tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Kemarikan tasmu."
"Apa?"
"Tasmu. Biar saya saja yang merapihkan bawaanmu. Kamu makan rotimu."
Hakyeon menggeleng sambil melahap rotinya cepat-cepat. "Tidak perlu, Taekwoon. Segera jalan saja. Nanti kita terlambat."
Taekwoon menurut. Sambil menyetir dengan tenang menuju sekolah, Taekwoon tentu melemparkan beberapa pertanyaan seputar 'mengapa-pagi-Hakyeon-lumayan-heboh-seperti-ini'.
"Memangnya kamu tidur jam berapa semalam?"
"Aku tidur seperti biasa, kok. Jam 10. Mungkin ini efek pertama kali pulang malam. Tubuhku belum terbiasa."
Taekwoon mengangguk. "Kamu pulang bekerja jam berapa?"
"Jam kerja-ku hanya dari jam 4 sore sampai 7 malam."
Taekwoon ber-ooh-ria. "Omong-omong, selamat pagi, Hakyeon."
"Selamat pagi juga, Taekwoon." Hakyeon tersenyum manis.
Begitulah kebiasaan mereka setiap pagi. Taekwoon menjemputnya, mengobrol didalam mobil, kemudian masuk gerbang sekolah bersama sambil berbincang sebentar, dan terpisah pada ruang kelas yang berbeda. Kalimat "sampai nanti" selalu terucap oleh keduanya. Karena sepulang sekolah, mereka akan bertemu lagi di lobby sekedar bercerita tentang hal apa yang terjadi disekolah hari itu.
Siapapun disekolah ini pasti mengira Taekwoon dan Hakyeon berpacaran. Namun spekulasi mereka harus ditepis jauh-jauh— terutama bagi teman sekelas Taekwoon yang juga sekelas dengan Jaehwan. Dikelas, Jaehwan akan berbincang manis pula dengan Taekwoon. Entah membicarakan apa, yang jelas, keduanya tampak akrab melebihi sekedar teman.
Tapi akhir-akhir ini, teman-teman dekat mereka semakin dibingungkan oleh Taekwoon yang selalu pulang dan merangkul adik kelas laki-laki bernama Sanghyuk itu.
Taekwoon si playboy. Begitu spekulasi mereka saat ini.
Dikelas, Hakyeon berteman baik dengan semuanya. Namun, ia paling akrab dengan Ahn Hani. Hani juga sahabatnya. Hanya saja, Jaehwan lebih menganggap eksistensinya sebagai sahabat karena selain bercanda gurau, Jaehwan juga bercerita keluh kesah hidupnya. Berbeda dengan Hani yang lebih senang bergosip dan menggoda Hakyeon. Mungkin Hani tipe yang curhat kepada orang A, dan bermain dengan orang B.
Hani menghampiri Hakyeon sambil membawa kotak bekalnya yang berisi roti bakar. "Hakyeeeoniee! Tumben sekali kau datang agak siang!"
"Iya... Aku bangun agak telat." Sahut Hakyeon malu.
"Oh. Pantas rambutmu super creepy seperti hantu dengan bekas susu disudut bibir. Hehehehehhe!"
Hakyeon cepat-cepat menghapus jejak susu tersebut dan menguncir ulang rambutnya. Setelahnya, tangannya maju untuk memukul lengan Hani— tapi kemudian berbelok untuk menyomot roti bakar.
"Hey Hakyeon, aku dengar Jaehwan sudah move on dari Taekwoon."
"Benarkah?" Respon Hakyeon.
Hani mengangguk antusias. "Iya! Mungkin saat istirahat ia baru akan memberi tahumu. Tapi aku sudah tak tahan mau cerita lebih dulu. Kau mau dengar dariku dulu kemudian mendengar lengkapnya dari Jaehwan, atau langsung mendengarnya dari Jaehwan sendiri?" Tawar Hani.
Sekalem-kalem dan diamnya Hakyeon, Hakyeon tetap saja perempuan. Memiliki DNA bergosip dan berfoya-foya. Jika ia menunggu saat istirahat untuk mendengar langsung dari Jaehwan, itu akan mengganggu konsentrasi belajarnya nanti— keburu meninggal penasaran.
"Beri tahu aku."
Hani langsung mencubit pipi Hakyeon. Bagi Hani, Hakyeon benar-benar gadis imut yang sangaaat manis. Rasanya, kalau Hani ada diposisi Taekwoon, ia pasti langsung nembak Hakyeon. Tak perlu pacaran deh. Nikah langsung juga Hani mau.
Tapi Hani perempuan. Ia masih suka mengintip laki-laki diruang ganti pakaian. Tolong jangan senyum, dear pembaca.
"Jaehwan menyerah dengan Taekwoon, katanya. Dia juga sedang dekat dengan murid baru di kelas D. Kamu tahu? Yang baru pindah saat kenaikan kelas kemarin!"
"Ah, Kim Ravi?"
"Iya, dia." Hani mengangguk antusias. "Tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menyerah dengan Taekwoon. Padahal kuyakin dia bisa meluluhkan hati si papan triplek." Ujar Hani tanpa sadar.
Hakyeon tersenyum miring. "Tentu saja harusnya dia bisa. Tidak sepertiku karena aku tidak semenarik Jaehwanie~" ujarnya santai.
Hani langsung merutuki mulutnya yang berceletuk tanpa sadar. "Maaf, Hakyeon."
"Tidak apa-apa, aku tidak sesuka itu dengan Taekwoon, kok. Aku dan dia hanya berteman baik."
Hani semakin merasa bersalah.
Bel istirahatpun berbunyi setelah 4 jam pelajaran pertama.
Jaehwan segera datang ke kelas Hakyeon, menghampiri sahabatnya seraya membawa dua kotak bekal. Sungguh, Hakyeon ingin memeluk ibunda Jaehwan yang selalu berbaik hati membuatkannya lunch box, sehingga ia tak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk membeli makanan di kantin.
Meskipun hanya sekedar kimbab sayur, Hakyeon tetap suka. Sungguh.
"Hari ini aku punya cerita bagus!" Ujar Jaehwan semangat.
Hakyeon tersenyum. "Apa itu?"
"Nilai ulangan mingguan matematika dan biologiku akhirnya mencapai KKM. Aku tidak perlu mengikuti remedial lagi." Jaehwan tersenyum senang seraya mengunyah nasinya.
"Benarkah? Waah keren! Selanjutnya pasti kamu bisa menguasai pelajaran fisika dan kimia!"
Jaehwan mengangguk semangat. "Semoga saja. Omong-omong, ini berkat seseorang yang belakangan ini membantuku belajar!"
"Taekwoon kah?"
"Eey bukan lah!" Seru Jaehwan membantah. "Tapi Kim Ravi!"
"Oh wow, aku sudah sempat dengar itu dari gosip yang beredar. Ternyata gosip itu tak selamanya nyeleneh ya?"
Wajah Jaehwan memerah seketika. "Tidak biasanya kamu mendengarkan gosip, Hakyeonie."
"Tidak biasanya juga wajah kamu semerah tomat begitu, Jaehwanie!" Goda Hakyeon lalu tertawa lebar.
Setelah ia berhenti tertawa— sebab Hakyeon tersedak kimbabnya—, Hakyeon meminta Jaehwan menceritakan mengapa ia bisa mengenal Ravi dan belajar bersama murid baru itu.
"Kamu tahu kan nilaiku benar-benar tak tertolong lagi. . . Setelah Ravi Kim pindah kesini, Mr. Wei langsung meminta Ravi untuk menjadi tutor sebayaku. Surprisingly, he agreed dan mulai minggu kemarin, ia sering mengajakku belajar di cafe, bahkan ia sudah mampir kerumahku."
"Wow. Its a good then." Mata Hakyeon berbinar mendengar cerita sahabatnya dengan nada super bahagia itu. "Dia tampan nggak?"
Jaehwan memicing. "Kamu mau jawaban bohong atau jujur?"
Hakyeon tertawa. "Kutebak, jawabanmu adalah dia tampan tapi Taekwoon masih lebih tampan?"
Jaehwan ikut tertawa dengan Hakyeon. "Benar sekali."
Jaehwan juga bercerita, tidak semerta-merta Ravi langsung menerima tawaran Mr. Wei tanpa alasan. Ravi adalah murid pindahan dari Prancis. Meskipun orang tuanya asli Korea, tetap saja, bertahun-tahun tinggal di negara orang membuatnya agak lupa dengan Bahasa Korea. Sehingga Ravi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengasah ulang kemampuan berbahasa Koreanya itu.
Simbiosis mutualisme, kan?
Setelah pulang sekolah, Hakyeon, Jaehwan dan Hani berjalan beriringan turun ke lantai satu sekolah. Hani ada perlu dengan ekskulnya. Sementara Jaehwan dan Hakyeon berencana untuk mampir ke kantin, sekedar ingin mencoba menu baru kantin yang lagi hits, Es Kepal Milo.
Harganya yang mahal dan porsinya yang besar membuat sepasang sahabat itu hanya membeli satu cup saja, untuk dimakan berdua.
"Jaehwan, kamu mau ikut ke toko ice cream tempat aku bekerja? Aku akan menraktir Taekwoon hari ini."
Jaehwan tampak berpikir. "Aku ingin ikut. . Tapi hari ini Ravi mau menraktirku juga karena berhasil tidak remedial di ujian kemarin. Gimana dong?"
"Ah.. begitukah? Ya sudah, tidak apa-apa, kok."
Jaehwan tersenyum dan mengacak rambut Hakyeon yang selalu dikuncir satu itu. "Jangan kecewa begitu dong! Kan kamu jadi bisa berduaan dengan Taekwoon?"
"Ssssstt! Jangan begitu dong!" Hakyeon memerah malu.
Mereka berdua menengok kearah suara sesaat setelah seseorang memanggil nama "Hakyeon". Dari suaranya jelas sekali itu suara lemah lembut Taekwoon.
Hakyeon tersenyum kearah Taekwoon yang berdiri didepan meja mereka sambil melahap es yang masih agak banyak itu.
"Seharusnya kamu bilang kalau mau makan di kantin dulu. Saya sampai kebosanan menunggu kamu di lobby."
Bibir Hakyeon tanpa sadar mengerucut. "Maaf. Hari ini kan hari piketmu. Kukira kamu piket dulu."
"Saya bolos piket."
"Nakal."
Taekwoon kemudian mengambil duduk didepan Jaehwan dan Hakyeon yang duduk bersebelahan. Jaehwan tentu saja senang sekali bisa melihat Taekwoon. Bukan karena ia masih menyukai Taekwoon, tapi karena sahabatnya ini benar-benar cocok dengan sosok dingin ini.
"Taekwoon mau?" Tawar Jaehwan.
Taekwoon memang tipe yang tidak ragu-ragu kalau menjawab. Laki-laki itu mengangguk dan langsung merebut sendok plastik dari tangan Hakyeon. Jaehwan terkikik melihat Hakyeon yang protes, "Kan Jaehwan yang menawarimu, kenapa kamu ambil sendokku?"
"Suka-suka saya, dong."
"Ish."
Setelah es tersebut habis, Taekwoon dan Hakyeon segera menuju tempat kerja perempuan itu. Tidak pakai mobil tentu saja. Kan jaraknya dekat. Sementara Jaehwan harus menunggu Ravi dulu di lobby karena laki-laki itu masih harus mengurusi berkas pindahannya.
Secara kebetulan, Hakyeon dan Taekwoon melihat sosok yang sangat familiar berjalan didepan mereka.
"Hyuk?"
Taekwoon berinisiatif memanggil si sosok familiar itu. Dan benar saja. Itu Hyuk.
Hyuk tersenyum kepada keduanya. "Halo Taekwoon hyung, Hakyeon senior!"
Hakyeon membalas senyum tentu saja. "Kamu mau kemana, Sanghyuk?"
"Ah.. saya tiba-tiba ingin ice cream. Kebetulan kata teman-teman sekelas saya ada kedai ice cream yang baru buka disana."
Senyum Hakyeon melebar senang. "Kebetulan sekali, aku dan Taekwoon juga mau kesana. Kamu mau ikut? Aku yang traktir kok!"
Hyuk menerjap bingung. Matanya menatap Hakyeon dan Taekwoon bergantian. Taekwoon wajahnya hanya datar, seperti biasa. Namun Hakyeon sangat antusias.
Bukan apa-apa. Hyuk hanya takut ia merusak kencan kakak kelasnya itu. Jujur, Hyuk cemburu sekali melihat kedekatan Hakyeon dengan Taekwoon. Mereka benar-benar terlihat cocok. Sementara Sanghyuk, ia laki-laki. Tidak akan mungkin ia bisa mendapatkan hati Taekwoon begitu.
"Ikut saja Hyuk. Temani saya duduk. Kan Hakyeon bekerja."
Taekwoon membuka suara dan lantas Hyuk menganggukkan kepalanya. Ternyata mereka tidak kencan. Hyuk baru ingat ucapan hyung yang ia sukai ini semalam. "Baiklah."
Hakyeon membawakan empat jenis ice cream yang paling laris di sini kepada tamu spesialnya, Taekwoon dan Sanghyuk.
"Hakyeon, kamu serius membawakan ini untuk kami?"
Hakyeon yang super manis dengan pakaian ala pelayan dan celemek pink muda itu mengangguk. "Iya. Kenapa? Aku kira kamu suka ice cream rasa itu."
"Saya memang suka, tapi ini menu mahal kan? Nanti kantongmu kering seketika." Elak Taekwoon lagi, merasa tak enak.
"Ssst jangan dipikirkan! Sudah terima saja. Aku harus bekerja. Selamat menikmati!"
Hakyeon meninggalkan Taekwoon dan Hyuk dengan empat jenis ice cream beserta waffle. Jujur Hyuk senang sekali dan rasanya ingin langsung melahap semuanya. Tapi ia sangsi, melihat Taekwoon yang masih merasa tak enak. Namun tak lama kemudian, Taekwoon menyampar sendok dan mulai makan.
"Wow ini super enak, Hyuk. Cobalah."
"Tentu saja. Ini kan ice cream." Hyuk tersenyum senang dan mulai menikmati ice creamnya.
Hakyeon memperhatikan keduanya berbincang-bincang sambil terus melayani pelanggan dengan profesional. Tak salah lagi, Hyuk memang sangat menyukai Taekwoon. Terlihat dari bagainana mata Hyuk berbinar mengagumi Taekwoon.
Ia sangat senang ketika melihat Jaehwan datang bersama Ravi ke kedai ice cream ini. Namun raut wajah Jaehwan menyiratkan rasa kesal dan terkejut sementara matanya terpaku ke tempat dimana Taekwoon dan Hyuk duduk.
Saat mengikuti arah pandang Jaehwan, Hakyeon mematung— cemburu. Disana, terlihat Taekwoon dan Hyuk tengah saling suap-menyuap ice cream.
Dan kemudian, tangan Taekwoon terulur untuk menghapus noda ice cream di ujung bibir Hyuk.
