Hyuk mengesah kesal. Pikirannya berkecamuk. Setelah dirinya sampai rumah, Taekwoon sama sekali tidak menghubunginya. Pesan kakaotalknya tidak dibaca. Diteleponpun tidak dijawab.
Berbagai pikiran negatif merambat di otak Hyuk. Pasti Hakyeon senior yang menyuruh Taekwoon agar tidak dekat-dekat dengannya. Hakyeon senior pasti mempengaruhi Taekwoon. Pasti Hakyeon senior begini. Hakyeon senior begitu.
Hyuk tahu harusnya ia tidak boleh berfikiran seperti itu. Lagipula rasanya sangat tidak mungkin apabila Hakyeon benar-benar melakukan itu— mempengaruhi Taekwoon. Sebab, Hakyeon sangat baik dan telah bilang kalau ia akan mendukung Hyuk untuk memperjuangkan rasa sukanya terhadap Taekwoon.
Hyuk tidak bisa tidur. Ia uring-uringan dan baru ketiduran sekitar jam setengah 12. Karena itu ia jadi bangun kesiangan. Sekarang sudah jam 6.11 pagi, sementara pintu gerbangnya tertutup jam 6.35.
Hyuk bergegas sikat gigi dan merapihkan bukunya. Bodoh sekali ia karena selalu merapihkan buku-buku jadwalnya pagi-pagi. Sudah 6.20 dan ibunya masih memaksa Hyuk untuk sarapan dahulu sebelum pergi.
"Okay. Hyuk sarapan tapi Hyuk berangkat sekolah pakai motor ya?"
"Iya iya. Yang penting kamu harus sarapan."
Hyuk sarapan secepat mungkin yang ia bisa. Untungnya ibunya hanya memasak roti daging. Coba kalau nasi goreng, Hyuk pasti akan lebih telat daripada ini.
Hyuk segera mengambil helm dan memakai sepatu sesaat setelah ia menelan suapan terakhirnya. Ia mengeluarkan motornya dari bagasi dan tak lupa mengambil kunci kontak motornya.
Setelah motornya sudah agak panas, barulah ia bergegas berangkat. "Ibu, Hyuk berangkat!"
Syukurlah ia tidak terlambat. Motor Hyuk masih sempat masuk ke dalam gerbang sekolah dua menit sebelum gerbang tersebut ditutup. Ia sangat bersyukur bahwa kenyataan ia masih hidup setelah melajukan motornya diatas rata-rata.
Ia pun berjalan dari parkiran ke lobby depan. Namun langkahnya memelan kala melihat mobil Taekwoon terjebak didepan gerbang sekolah.
Taekwoon terlambat?
Kenapa?
Hyuk berusaha tidak peduli dan segera masuk ke kelas. Seluruh temannya sibuk menyalin tugas untuk pelajaran pertama. Hyuk untungnya sudah selesai. Jadi ia hanya duduk seraya menatap ponselnya. Meski begitu, pikirannya melayang-layang akan kejadian kemarin.
Rasanya seperti mimpi. Hyuk baru tahu kalau Jaehwan adalah sahabat Hakyeon dan teman sekelas Taekwoon. Dan Hakyeon tidak sekelas dengan keduanya. Pantas ia tidak pernah melihat sosok Jaehwan berinteraksi dengan Taekwoon di area sekolah. Kemungkinan besar, Taekwoon dan Jaehwan hanya berbincang di dalam kelas.
Hyuk jadi gelisah. Seberapa dekat Taekwoon dengan perempuan bernama Jaehwan? Haruskah ia bertanya langsung kepada Taekwoon? Atau ia bertanya ke Hakyeon?
Tapi bukankah pemikirannya itu bodoh serta konyol? Hyuk hanya akan dicap anak aneh jika ia benar-benar menanyakan hal itu kepada Hakyeon.
Namun jujur, hal ini benar-benar mengganggu konsentrasi Hyuk. Ia takut sekali kalau Jaehwan merebut perhatian Taekwoon darinya. Cukup Hakyeon saja yang jadi saingannya. Jaehwan tidak perlu.
Hakyeon saja sudah membuat Hyuk berpikiran negatif seperti ini.
Pemikirannya yang berkecamuk itu membuat otak Hyuk merancang rencana jahat secara otomatis.
Lamunan Hyuk buyar kala ponselnya bergetar. Ada pesan kakaotalk dari Taekwoon. Senyum Hyuk merekah. Pada akhirnya, orang yang ia tunggu sejak semalam muncul juga.
Taekwoon
Hyuk?
Maafkan saya karena baru bisa membalas.
Semalam ponsel saya mati dan setelah saya charge, saya langsung tidur.
Saya tidak ada niat untuk mengabaikanmu.
Sanghyuk
Tidak apa-apa hyung.
Hyung pasti lelah karena menyetir malam-malam dan mengantar duaorang dulu lagi
Lain kali antar satu orang aja, hyung
Hehe
Taekwoon
Tidak masalah kok
Saya paling tidak bisa membiarkan
teman saya pulang sendiri, entah kenapa.
Kalau terjadi sesuatu, saya malah merasa bersalah.
Sanghyuk
As expected, Taekwoon hyung memang sangat baik hati
Omong-omong, tadi aku lihat mobil hyung dikunci didepan gerbang
Hyung terlambat?
Taekwoon
Iya.
Sanghyuk
Kok bisa?
Taekwoon
Jam dinding dikamar saya baterainya habis. Penunjuk waktunya jadi penipu
Hehe
Sanghyuk
Ahahaha nanti pulang sekolah jangan lupa beli baterai dulu kalau begitu
Hyung nanti bisa antar saya pulang, gak?
Mendadak Sanghyuk ingin bertanya begitu. Jika Taekwoon bisa, maka ia akan menitipkan motornya pada Sungjae, teman semasa SMPnya yang pastinya Sungjae akan bersenang hati menerima titipannya.
Taekwoon
Tidak biasanya kamu tanya seperti itu
Kan saya selalu antar kamu
Sanghyuk
Kirain hyung ada janji lagi dengan senior Hakyeon ataupun senior Jaehwan.
Taekwoon
Nggak ada
Sanghyuk
Berarti aku nanti pulang sama hyung kan?
Hyung mau jalan-jalan, gak?
Sementara menunggu Taekwoon membalas, Sanghyuk melirik ke depan kelas. Gurunya belum masuk. Mungkin akan telat, atau malah tidak masuk dan malah memberi tugas. Hyuk tidak mempermasalahkannya sih. Ia jadi bisa santai dengan ponselnya. Dan berbincang dengan Taekwoon. Hehehe.
Hyuk sebenarnya agak bingung, pesannya yang semula dibalas secepat mengedipkan mata kini ia harus menunggu hampir 5 menit. Apa ia terlalu lancang ya, menanyakan Taekwoon hal seperti itu? Kesannya ngajak kencan ya?
Ia jadi tak enak hati.
Taekwoon
Mau kemana, emangnya?
Sanghyuk
Kemana aja. Ke mall juga boleh.
Aku pengen makan steak. Udah lama nggak makan itu soalnya
Taekwoon
Mau nonton film juga? Kan Avengers yang baru sudah keluar
Tapi bayar sendiri-sendiri.
Sanghyuk
Boleh juga!
Gak apa apa bayar sendiri juga mah hehe
Taekwoon
Oke
Sanghyuk
Jadi hyung mau jalan-jalan nih?
Taekwoon
Iya. Nanti saya tunggu diparkiran ya tepat setelah bel pulang
Sanghyuk
Hyung gak berbincang dulu sama senior Hakyeon, emangnya?
Taekwoon
Hakyeon kerja.
Sanghyuk
Oke deh hyung!
Sanghyuk sangat senang. Hatinya berbunga-bunga karena ia pada akhirnya bisa berjalan-jalan dengan orang yang ia sukai. Meskipun jatuhnya terlihat sebagai teman, tetap saja, Hyuk senang.
Ia jadi melupakan kegelisahannya perihal Jaehwan maupun Hakyeon. Semoga saja setelah ini, ia tidak lagi harus merasa gelisah tentang itu.
Sekolah terasa begitu lama bagi Hyuk yang sudah menyelesaikan tugasnya sejak tadi. Bahkan bukunya menjadi bahan operan anak-anak sekelas untuk menyalin jawaban.
Salah satu teman sekelas Hyuk yang cukup dekat ini bernama Changkyun. Anak itu menghampirinya lalu duduk dimeja Hyuk. "Kau kenapa sih, selalu diam dikelas, kayak gak mau temanan sama kita?"
"Mau kok. Cuma lagi gak semangat. Takut juga, udah di cap anak-mami soalnya. Kan aku nggak ngerokok itu pilihan aku, Kyun. Malah dihina anak mami. Aku juga bisa nongkrong bareng kalian tanpa ngerokok, kok." Tukas Hyuk jujur.
Memang, dikelas Hyuk cenderung tak punya teman hanya karena ia tidak merokok. Teman laki-lakinya berfikir bahwa laki-laki tidak merokok adalah anak mami. Makanya ia dijauhi, kecuali Changkyun. Temannya itu tidak menjauhinya, meskipun ia tidak pula selalu berbincang dengan Changkyun.
"Susah sih bicara sama anak-anak kampungan kayak gitu, Hyuk." Balas Changkyun. "Aku juga sebenarnya tidak suka merokok. Ketika mereka merokok hampir empat batang sehati, aku cuma satu batang. Itu juga hanya setengah. Aku lebih cupu darimu, malah. Aku mengalah demi tetap punya teman. Harusnya aku sepertimu saja ya. Lebih keren."
Hyuk terkekeh. "Yang penting kau menahan diri supaya tidak kecanduan kegiatan membakar uang itu, Kyun. Kau juga dapat rokok secara gratis dan cuma-cuma, kan?"
"Iya sih. Cuma mereka akhir-akhir ini makin rese. Masa karena aku tidak pernah membawa rokok sendiri, mereka justru memaksa aku agar membeli bir untuk mereka. Hadeh. Males banget."
"Kalau minum bir, aku ikut deh."
"Kita masih kelas dua SMA woy!" Sahut Changkyun sambil memukul kepala Hyuk. Yang dipukul hanya tertawa. "Daripada ngerokok mending minum bir deh. Lebih classy."
"Classy kepalamu!"
"Hahaha. Omong-omong, Changkyun. Aku ingin bertanya. Tapi ini agak offensive. Kau ini seorang good-listener yang open-minded, kan?"
Changkyun mengangguk. "Iya. Emang kenapa, Hyuk?"
Hyuk pun menceritakan isi hatinya— uneg-unegnya selama ini. Menyimpan sendiri memang tidak enak. Setelah menceritakannya kepada Changkyun, ia merasa lebih lega. Meskipun sedikit was-was karena wajah shock Changkyun.
"Oke, maaf karena aku terlalu terkejut. Menurutku, kau tentu punya hak untuk suka dengan senior Taekwoon— maksudku, oknum T." Changkyun cepat-cepat merevisi kalimatnya saat Hyuk melotot kepadanya galak. Masalahnya suara Changkyun cukup keras. Untungnya masih terpendam oleh keberisikan perempuan di kelas.
"Tapi kau masih suka perempuan, kan? Maksudku, begini. Kupikir karena kita masih kecil, tidak apa-apa jika kau suka dengannya. Asalkan tidak dibawa sampai kuliah nanti. Bagaimanapun, kita akan menikah dengan lawan jenis. Anggap saja ini hiburan, untuk mengetahui apa itu cinta juga, Hyuk."
Hyuk termanggu. Benar apa yang dikatakan Changkyun. Ia ini laki-laki. Tentu akan menikahi seorang perempuan. Tapi tentu ia akan menikmati bagaimana ia menyukai Taekwoon, untuk belajar dan tahu apa itu cinta.
Hyuk pun kembali bercerita tentang Hakyeon dan Jaehwan, dimana keduanya adalah sahabat dekat, dan mereka masing-masing pula menyukai Taekwoon.
"Ini rumit." Ujar Changkyun. "Tapi sebagai laki-laki, kau harusnya bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan gegabah saat memilih keputusan. Hanya itu yang bisa kuberitahu padamu."
Tepat setelah ucapan Changkyun selesai, bel pulang pun berbunyi. Seketika ucapan Changkyun masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Akan kupikirkan nanti. Gumam Hyuk.
"Terima kasih banyak, Changkyun."
Hyuk bergegas merapihkan buku dan alat tulisnya. Tak lupa ia teriak kepada manusia dikelas untuk mengumpulkan bukunya yang entah ditangan siapa. Yang penting dikumpul.
"Sampai jumpa!"
Hyuk langsung berjalan cepat ke parkiran. Di tangga, ia bertemu dengan Hakyeon dan Jaehwan tengah menuruni tangga juga. Ia berniat pura-pura tak lihat dan langsung bergumam 'permisi', kemudian lewat diantara keduanya.
"Oh, Sanghyuk.." gumaman Hakyeon masih terdengar ditelinga Hyuk, namun ia melewatinya. Baginya, jalan-jalan bersama Taekwoon ini yang lebih penting.
Disisi lain, dahi Jaehwan berkerut kesal. "Berani-beraninya ia melewati kita dengan memotong rangkulan kita seperti itu!"
"Tangga nya memang kecil kan, Jaehwan. Tidak apa-apa. Dia pasti terburu-buru."
Jaehwan menghembuskan napas kasar, berusaha menahan gejolak emosi yang akhir-akhir ini selalu muncul karena memikirkan hubungan Taekwoon dan orang itu, Sanghyuk.
"Kamu bagaimana? Bekerja hari ini?"
"Tidak." Hakyeon menggeleng. "Aku langsung pulang kok."
"Gak bareng Taekwoon?" Tanya Jaehwan.
"Nggak. Dia mau pergi."
"Pergi? Dengan siapa?"
"Sanghyuk lah~" jawab Hakyeon riang. Bahkan matanya masih sempat membentuk bulan sabit indah seperti itu didepan Jaehwan yang terbelalak.
"Kenapa kamu biarkan?!"
"Ya memangnya kenapa? Aku kan gak ada hak untuk melarang Taekwoon."
"Astaga Hakyeon." Jaehwan benar-benar kesal setengah mati. "Kamu ini baik. Tapi ada kalanya dimana kamu bisa, dan harus berlaku egois."
"Kenapa sih, memangnya?" Mood Hakyeon jadi ikutan runtuh melihat Jaehwan justru marah kepadanya. Salahnya apa? Ia hanya menyuruh Taekwoon untuk pergi bersama Sanghyuk. Seharusnya Jaehwan tidak bereaksi berlebihan begini.
"Cha Hakyeon! Meskipun kamu selalu mengelak kalau kamu tidak sesuka itu sama Taekwoon, aku tahu kamu berbohong. Kamu sesuka itu dengan Taekwoon, kan?!"
Hakyeon terdiam. Selama ini, Hakyeon memang tidak pernah bisa mengakui secara gamblang perasaannya. Ia selalu berkata kalau ia tidak sesuka itu dengan Taekwoon. Dirinya memang berbohong pada diri sendiri. Hakyeon jadi merasa bersalah. Pasalnya, ia tahu Jaehwan juga menyukai Taekwoon. Ia jadi berfikir kalau Jaehwan marah padanya karena itu.
"Jawab aku, Hakyeon."
Hakyeon dengan pelan mengangguk. Ia paling tidak bisa berbohong. Apalagi saat terdesak begini. "Iya, Jaehwan. Maafkan aku."
"Kenapa minta maaf?! Dengar ya, jika kamu merasa bersalah karena kamu tahu aku juga suka dengan Taekwoon, sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa bersalahmu."
"Kenapa..?"
"Kamu lebih cocok dengannya, Hakyeon. Seluruh sekolahpun setuju akan hal itu. Aku tidak pernah sekalipun merasa sangat cemburu karena kamu dekat dengan Taekwoon. Aku justru senang." Jaehwan tersenyum, sementara Hakyeon bingung, salah tingkah.
"Dengar. Aku sudah tidak lagi memperjuangkan rasa sukaku untuk Taekwoon. Aku hanya nyaman saat Taekwoon bersamaku sebagai teman. Karena itu, kamu harus memperjuangkan rasa sukamu terhadap Taekwoon, ya? Buatlah Taekwoon suka kepadamu. Mengerti?"
Hakyeon terkekeh pelan. "Tidak mungkin. Dilihat dari sisi manapun, kamu lebih menarik, Jaehwan. Aku tidak iri. Aku hanya tidak bisa berharap lebih. Lagipula kamu tahu sendiri, Taekwoon tidak peka. Ia berlaku manis kepada semua orang. Kepadaku, kepadamu, kepada Hyuk juga."
Ingin rasanya Jaehwan mencubit keras-keras temannya itu, terlalu gemas. "Beda kok, Hakyeon. Dia lebih manis jika didepanmu."
"..."
"Aku bersungguh-sungguh!" Yakin Jaehwan kepada Hakyeon. "Mulai sekarang, kamu harus mempertahankan dan memperjuangkan Taekwoon ya? Aku akan mendukungmu dan membantumu!"
"Terima kasih, Jaehwan." Ucap Hakyeon lalu memeluk Jaehwan erat.
[Pagi tadi. . .]
"TAEKWOON KAMU NGAPAIN!" Pekik Hakyeon histeris kala melihat mobil Taekwoon masih menunggu di halte. Si pemilik mobil menurunkan kacanya, tersenyum tenang. "Menunggu kamu."
"Kan aku sudah bilang ditelepon, aku bisa bawa motor. Kita berdua ini sama-sama kesiangan. Seharusnya kamu mendengarkan perkataanku. Kalau aku bilang tidak perlu dijemput, ya tidak usah!"
"Justru itu, kan lebih enak kalau telatnya berdua." Taekwoon tersenyum. Tangannya terulur untuk merapihkan poni Hakyeon yang berantakan sebelum menutup kaca mobilnya.
Hakyeon mendelik kesal sebelum mengembalikan motor dan helmnya. Kemudian segera masuk ke mobil Taekwoon.
Dan disinilah mereka. Dikunci didepan gerbang bersama murid-murid terlambat lainnya. Taekwoon tertawa-tawa melihat ekspresi bete Hakyeon. Entah sejak kapan Taekwoon jadi lebih sering jahil terhadapnya.
"Kamu sudah kirim pesan kepada Sanghyuk?"
"Ohiya. Saya lupa."
"Cepat kirim pesan padanya! Minta maaf!"
Taekwoon berfikir ragu. Jujur, ia merasa aneh dengan perhatian dan cara bicara Hyuk belakangan ini. Rasanya Hyuk menganggapnya lebih dari sekedar teman. Anak itu jadi lebih manja, dan pipinya suka mendadak merah. Ia jadi risih. Belum lagi dirinya merasa kalau Hyuk memang sengaja menjauhkan nya dari Hakyeon. Namun ia harus berpikiran positif. 'Mungkin Hyuk berfikir kalau saya adalah kakaknya.'
Lama hening didalam mobil, akhirnya Hakyeon melirik Taekwoon yang menatap ponselnya bingung, ragu. "Ada apa?"
"Hyuk mengajak jalan-jalan. Sebaiknya gimana ya?"
"Tentu saja harus kamu terima dong. Ajak nonton sekalian. Kan film Avengers baru rilis tuh. Nonton bersama-sama kan enak!"
"Begitukah?"
"Iya Taekwoon!" Hakyeon tersenyum manis, meyakinkan temannya ini.
Taekwoon masih ragu. "Apa tidak apa-apa?"
"Ya memangnya kenapa?"
"Baiklah." Taekwoon akhirnya menerima ajakan jalan-jalan Hyuk, dan bahkan mengajak nonton film, persis dengan anjuran Hakyeon.
"Kamu nanti kerja, Yeon?"
Hakyeon terdiam sebentar mendengar panggilan asing dari Taekwoon. "Iya." Jawabnya kemudian— berbohong.
"Kalau begitu, setelah saya pulang dari mall, saya jemput kamu."
"Tidak usah. Hari ini aku ambil shift setelah pulang sekolah. Jadi pulangnya setengah enam. Aku langsung pulang naik bus kok."
"Ah baiklah."
Taekwoon, maaf aku sudah berbohong banyak. Aku hanya tidak mau Hyuk berfikiran macam-macam. Aku sudah terlanjur bilang kalau akan mendukungnya. Maafkan aku. Aku tidak akan berbohong lagi setelah ini. Aku janji. Tukas Hakyeon dalam hati.
