Taekwoon memakirkan mobilnya. Pikirannya sedikit tidak fokus sekarang ini. Taekwoon bahkan tengah mencari alasan bagaimana caranya untuk membatalkan rencana nonton film bersama Hyuk.

Tadi pagi ia sudah bohong total kepada Hyuk. Taekwoon tentu tidak langsung tidur. Ia menelepon Hakyeon hingga larut malam. Jam dinding dirumahnya pun tidak rusak, ia hanya mengada-ngada saja.

Entahlah, Taekwoon hanya merasa tidak aman jika jujur kepada Hyuk perihal Hakyeon.

"Hey, Hyuk." Panggil Taekwoon setelah mereka berdua memasuki mall lewat pintu kaca di parkiran. Taekwoon merapihkan sweaternya kemudian menengok kearah Hyuk. "Saya rasa kita tidak bisa jadi nonton film. Tapi saya akan menemanimu bermain di arcade station."

"Kenapa, hyung?"

"Saya baru ingat saldo kartu saya sedang kosong. Belum minta ayah."

"Aku traktir deh!"

"Tidak usah." Sanggah Taekwoon. "Kita bermain dan makan saja ya."

Hyuk terlihat mengesah kecewa. Namun pada akhirnya ia mengangguk. "Baiklah hyung. Ayo kita makan dulu. Aku lapar soalnya!"

Taekwoon mengangguk. Ia merangkul Hyuk dan mengikuti kemanapun langkah Hyuk. Mood Taekwoon sedang tidak stabil, Taekwoon sadar akan hal itu. Namun dirinya tidak tahu apa penyebabnya. Tubuhnya hanya merespon tidak enak— gelisah.

Tapi Taekwoon sangat pintar menyembunyikannya. Ia tidak sama sekali ketahuan kalau-kalau ia tiba-tiba bengong dan merenung. Wajah datarnya kadang sangat membantunya di keadaan seperti ini.

"Hyung mau apa?"

"Saya nasi goreng saja." Pesan Taekwoon kala mereka sampai ke restoran oriental Asia. Hyuk bilang kalau restoran ini sangat murah dan rasanya tetap bintang lima.

Taekwoon percaya. Ia sering kesini bersama adik perempuannya. Adiknya sangat menyukai sup tahu dan daging asapnya. Ah, ia jadi rindu adiknya, Jung Sooyoung.*)

Sifat Hyuk yang periang dan mudah merajuk benar-benar membuat Taekwoon nyaman berada disekitar Hyuk. Hyuk itu ibarat adiknya versi laki-laki. Ah. Pemikirannya saat dijalan tadi ketika merasa risih karena Hyuk menganggapnya lebih dari seorang teman adalah kesalahan besar. Pada akhirnya, Taekwoon juga merasakan sosok adik di diri Hyuk yang membuat Taekwoon ingin melindungi Hyuk.

Hyuk banyak sekali bercerita. Ia bilang hari ini adalah hari beratnya karena pikirannya tidak bisa jernih. Apalagi masalah dengan teman sekelasnya yang selalu mengatai ia anak mama hanya karena tidak merokok. Taekwoon terkekeh. Ia tahu persis bagaimana perasaan Hyuk— karena ia juga pernah diposisi seperti itu.

Namun pada akhirnya seluruh temannya akan paham kalau merokok ataupun tidak, tidak akan mempengaruhi pertemanan mereka. Taekwoon bersyukur akan hal itu. Meskipun masih jarang bicara, setidaknya sekarang ia tidak pernah ditindas seperti dulu.

Cerita Hyuk juga tidak jauh dengan Sooyoung, adiknya. Bedanya adiknya hanya karena tidak pakai make up. Adiknya itu sampai kesal dan memarahi Taekwoon, meminta agar Taekwoon segera mengantar Sooyoung ke toko jual make up. Hahahahaha.

"Tidak usah dipikirkan, Hyuk. Nanti kalau sudah kelas tiga pasti minum bareng kan. Mereka akan sadar kalau rokok tidak mempengaruhi pertemanan. Santai saja."

"Aku juga berpikiran begitu hyung! Aku tidak sabar ulang tahunku, setelah itu aku baru bisa minum-minum."

"Nanti rayakan sama saya juga."

"Benarkah hyung? Hyung mau menemaniku minum saat ulang tahun nanti?"

"Jika kamu mengundang, saya tentu menemani."

"Hanya kita berdua?"

Taekwoon mengernyit. Mengapa Hyuk mendadak mengajaknya hanya berdua?

"Bukankah pesta ulang tahun seharusnya dirayakan beramai-ramai?" Tanya Taekwoon.

Hyuk berkedip lucu, sebelum mengangguk dan bibirnya mengulas senyum lebar. "Maksudku, hyung temani aku minum diantara teman-temanku."

Taekwoon mengangguk mengiyakan. "Baiklah."

Sejak saat itu, Taekwoon tahu-tahu, secara tak sadar, selalu pergi bersama Hyuk. Meskipun hanya sekedar makan bersama.

Rutinitas berangkat bersama Hakyeon dan berbincang dengannya sebelum pulangpun sudah tidak dilakukannya lagi.

Taekwoon tidak tahu. Ia merasa Hakyeon menghindar. Jaehwan pun begitu. Suatu hari, ia berniat untuk menanyakannya pada Jaehwan. Tapi saat itu Jaehwan sibuk ke ruang konseling karena ia ada urusan. Bukan urusan serius, hanya masalah kesalahan data pada NISN nya.

Tapi urusan itu sudah selesai hari ini, maka ini saatnya ia bertanya pada Jaehwan yang beberapa minggu ini tidak menghampirinya lagi. Tidak lagi membawakannya roti isi. Tidak lagi bercerita tentang idol-idol kesukaan Jaehwan.

Dan tidak lagi bercerita tentang Hakyeon.

"Jaehwannie." Panggil Taekwoon pada Jaehwan yang sedang merapihkan alat tulisnya.

Jaehwan menoleh. "Hey Taekwoon!" Perempuan itu tersenyum. Tangannya merogoh tas bekalnya dan mengulurkan sesuatu kepada Taekwoon. "Ini, untukmu. Titipan dari seseorang."

"Dari ibumu?"

"Bukan. Dari perempuanmu~" nada Jaehwan genit— menjahili Taekwoon, maksudnya.

"Siapa?"

Raut wajah Jaehwan mendadak serius. "Kau serius menanyakan 'siapa?' padaku?"

Taekwoon mengernyit heran. "Apa sih? Jangan berbelit-belit. Aku tidak punya penggemar yang suka mengirimiku sesuatu. Apalagi pacar."

Iya. Karena Jaehwan sudah 3 tahun satu kelas dengannya, ia sudah menurunkan formalitas diantara mereka. Taekwoon menggunakan 'aku' sebagai media berbicara dengan Jaehwan.

"Aku kira kau sudah pacaran."

"Itu sebabnya kau menjauhiku? Kau cemburu?" Tanya Taekwoon langsung.

Taekwoon tahu kalau Jaehwan menyukainya. Tentu saja, Jaehwan sudah bilang kepadanya nyata-nyata, secara langsung. Untungnya, Jaehwan bukan jenis teman perempuan yang menjauh setelah ditolak cintanya. Bahkan mereka semakin dekat sebagai sahabat. Sebagai teman bercerita, teman berkeluh-kesah.

Jaehwan mendelik. "Aku sudah tak suka padamu, bodoh. Aku tidak cemburu."

Mood Jaehwan tiba-tiba saja turun kala Taekwoon menyebutkan itu. Rasanya naif sekali atas perkataan yang telah dilontarkannya. Tapi apa boleh buat. Ia harus begitu, harus berkata begitu untuk mindsetnya. Untuk kebaikannya sendiri.

"Aku ke kelas sebelah dulu."

Jaehwan berlalu, meninggalkan Taekwoon dengan sejuta pertanyaannya. Apa maksudnya dengan Taekwoon punya pacar? Sejauh ini, kegiatan hariannya bersama Sanghyuk tidak diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya sendiri, dan Sanghyuk, juga Tuhan. Dan mungkin, Hakyeon.

Ah sungguh. Niatnya hanya bertanya tentang Hakyeon, berakhir dengan berbagai pertanyaan lain di pikirannya.

Pikirannya buyar saat teman sekelasnya, Jaebum menghampiri, mengajak Taekwoon makan di kantin. Akhir-akhir ini selalu begitu, setelah Jaehwan maupun Hakyeon terasa menjauh darinya.

Mungkin kapan-kapan, ia akan mengetahui alasannya.

Berbeda dengan Jaehwan yang celingukan dan duduk tidak tenang sekarang. Bekal yang semula Ibunya buat untuk Hakyeon tengah dimakan oleh Hani. Hakyeon sendiri yang berpesan padanya, lewat SMS. Jaehwan tidak tahu kemana perginya Hakyeon. Begitu pula dengan Hani.

"Dia kemana ya, Ni, kira-kira?"

Hani meneguk air mineralnya. "Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia menghilang, Jaehwan." Jelas Hani. "Kau hanya datang saat istirahat pertama, bukan? Saat istirahat kedua, ia juga menghilang seperti ini."

"Begitukah?"

Hani mengangguk. "Akhir-akhir ini juga ia tidak seceria biasanya. Maksudku, kita tahu kalau Hakyeon memang kalem luar biasa. Tapi gurat wajahnya... Sedikit berbeda. Ia seperti memendam banyak pikiran dan perasaannya tidak stabil."

"Dia pandai sekali membuat topeng."

"Benar. Hampir tak terlihat." Hani menyuapkan nasinya kembali. "Aku juga curi-curi pandang. Didepanku ia sangat ceria."

"Aku harus mencarinya."

Baru saja Jaehwan bangkit untuk mencari Hakyeon, tiba-tiba bel yang menandakan usainya jam istirahat pertama berbunyi. Jaehwan mengumpati durasi istirahat yang bahkan tak sampai 15 menit itu.

"Mungkin istirahat kedua aku akan menemaninya." Lanjut Jaehwan lagi.

Hani mengangguk, membereskan kotak bekal Jaehwan dan menyimpannya di laci bawah meja. "Kubawa. Biar kucuci dulu sebelum kukembalikan padamu."

"Baiklah. Pastikan kau menahan Hakyeon supaya tidak kemana-mana nanti."

Hani mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.

Jaehwan keluar dari kelas Hakyeon, menuju kelasnya. Saat hampir memasuki kelasnya, sudut matanya menangkap sosok Hakyeon yang berjalan pelan, gemulai. Wajahnya ditekuk, menatap sepatunya. Rambutnya yang biasa dikuncir itu hari ini tergerai, dan sukses menutupi raut wajahnya sehingga Jaehwan tidak bisa menebak bagaimana bentuk muka Hakyeon.

Tapi bagaimanapun, dilihat dari posturnya, Hakyeon terlihat capek.

Inginnya Jaehwan menghampiri, tapi dibelakang Hakyeon, guru sejarahnya berjalan akan memasuki kelas.

Terpaksa Jaehwan harus masuk kelas, dan mengikuti pelajaran sejarah dengan saksama.


Sanghyuk

Hakyeon senior. Aku hari ini membawa dimsum untuk dimakan bersama senior. Apa senior mau makan bersamaku, istirahat pertama ini?

Hakyeon

Ah, tentu. Kebetulan aku tidak sarapan pagi ini.

Sanghyuk

Kalau begitu, nanti kita bertemu di perpustakaan ya? Aku ada banyaaak sekali cerita

Hakyeon

Okay

Hakyeon menepati janjinya. Tepat saat bel istirahat pertama dibunyikan, Hakyeon langsung keluar kelasnya. "Hey Hani, kalau Jaehwan datang bawa bekal, kamu saja ya yang makan. Aku ada urusan!"

"Mau kemana, Hakyeon?"

"Rahasia!" Hakyeon terkekeh lalu pergi begitu saja sambil dadah-dadah.

Hakyeon merapihkan roknya yang terangkat-angkat kala berlari menuju perpustakaan. Ia hanya takut jika berjalan santai, ia akan bertemu Jaehwan sehingga acara janjinya bersama Sanghyuk akan gagal.

Sesampainya di perpustakaan, Hakyeon disambut oleh penjaga perpustakaan yang memang sudah kenal ramah padanya. Lalu ia duduk dipojokan, mengambil satu buku cerita bergambar, dan membacanya sambil menunggu Sanghyuk datang.

Tak berapa lama, adik kelasnya itu datang, membawa kotak bekal yang katanya isinya adalah dimsum. Hakyeon tersenyum lebar. Tangannya menepuk karpet disebelahnya, menyuruh Hyuk duduk disebelahnya.

Sambil mengunyah, Hakyeon bertanya, "Jadi, cerita apa yang akan kamu beritahu padaku hari ini?"

Hyuk tersenyum antusias. "Kupon donat itu, aku mengajak Taekwoon hyung ke sana. Senior benar, Taekwoon hyung sangaaat suka dengan donat. Membawa pulang dua lusin dengan harga satu lusin memang yang terbaik."

Hakyeon tersenyum. "Lalu?"

"Mhmm. Tidak ada lagi. Kami hanya makan beberapa potong donat. Satu kotak yang utuh hyung berikan padaku, katanya untuk keluargaku. Lalu tidak ada apa-apa lagi. Senior tahu sendiri, Taekwoon hyung hanya bertindak saat dipancing, kan? Jadi tidak ada yang begitu special."

Hakyeon tersenyum lagi, kali ini senyumannya pahit, tapi tidak disadari oleh Hyuk yang masih asik menyantap dimsumnya.

Jika Hakyeon yang berada di posisi Hyuk... Baginya, waktu bersama Taekwoon adalah waktu yang special. Bisa menghirup oksigen disatu tempat yang sama dengan Taekwoon pun sudah merupakan momen yang special. Tapi adik kelasnya ini justru terang-terang berkata kalau tidak ada yang begitu special diantara mereka.

Hakyeon kesal, dan sedih, namun sedikit senang disaat yang bersamaan. Ia berusaha untuk menetralisir emosinya yang berlebih saat ini. "Ah, bagaimana jika kamu mengajak Taekwoon untuk berangkat juga bersamamu?"

"Rumahku dengan Taekwoon hyung tidak searah, senior. Pasti akan sangat merepotkan." Tukas Hyuk sedih.

"Coba tanya saja dulu. Kalau dia mau, kan, benar-benar kesempatan untukmu, Sanghyuk."

Hakyeon terus-terus mengutuk dirinya. Sampai kapan harus berlaku naif begini?

Sudah hampir setengah bulan. Yah, sekitar dua minggu. Hakyeon menghindari Taekwoon. Bukan semata-mata dirinya ingin. Hanya saja.. ada sesuatu dihatinya yang mengatakan ia harus. Ia harus menjauhi Taekwoon dan membantu Sanghyuk untuk memperjuangkan perasaannya pada Taekwoon.

Sampailah pada waktu itu, saat Taekwoon tidak dapat mengantar Hyuk pulang karena harus mengerjakan tugas kelompok, Hakyeon berbincang dengannya dan tanpa sengaja berjanji untuk itu.

Segala informasi tentang Taekwoon yang ia dapatkan dari Jaehwan, seluruhnya, ia beberkan terang-terang untuk Hyuk. Hakyeon ingin Hyuk senang. Begitu.

Namun, lama-lama hal ini terasa tidak benar. Hatinya selalu sakit, tidak ikhlas. Hakyeon kesal pada dirinya sendiri. Padahal Hakyeon yakin kalau ia tidak sesuka itu pada Taekwoon. Seharusnya jika hal ini terjadi, ia baik-baik saja. Tapi kenyataannya, ini terasa berbeda. Dan ia tidak merasa baik-baik saja.

Beda lainnya dengan Hyuk. Sejak awal, Hyuk tahu ia egois, dan ingin menang sendiri. Entah mengapa. Hyuk ingin Taekwoon hanya sibuk untuknya. Tidak peduli bagaimana perasaan Taekwoon, yang jelas, Hyuk hanya ingin Taekwoon perhatian padanya.

Setelah berfikiran negatif terhadap Hakyeon tempo lalu, Hyuk kemudian berfikiran atas rencana ini. Ia akan mendekati Hakyeon, menjadikan Hakyeon teman berceritanya— semata-mata hanya untuk mencari informasi tentang Taekwoon, dan memelas kebaikan hati Hakyeon agar terus mendukungnya. Seperti itu.

Dan itu berhasil. Ia merasa jahat. Tapi sepertinya Hakyeon tidak benar-benar suka pada Taekwoon. Itu membuatnya tenang. Hakyeon hanya terlihat seperti teman dekat Taekwoon saja. Tidak lebih. Itu bagus. Semoga saja ia tidak berdosa, jika itu benar.

Hakyeon teman yang baik. Akan menyenangkan kalau dirinya dan Hakyeon tetap berteman sampai nanti.

Perihal Taekwoon dan Jaehwan.. Hyuk juga tidak begitu peduli. Hyuk menyimpulkan kalau Jaehwan suka pada Taekwoon. Tapi bertepuk sebelah tangan. Sehingga Jaehwan melampiaskannya pada Ravi Kim. Begitu.

Selain tentang Taekwoon, Hakyeon dengan Hyuk juga bercerita tentang kehidupan kelasnya masing-masing. Hakyeon terus-terus menasihatinya tentang pelajaran. Sampai tips-tips masuk ke perguruan tinggi. Hyuk bersyukur sekali menemukan teman seperti Hakyeon.

Dimsum mereka habis tepat saat bel masuk berbunyi. Hyuk pamit duluan, sebab setelah ini kelasnya akan mengikuti ulangan harian matematika. Sementara Hakyeon diam disana. Menghela nafas berat. Moodnya sedang tidak baik.

"Hai, kak Hakyeon! Tidak masuk kelas?"

Itu Hongbin. Salah satu adik kelasnya juga. Satu kelas dengan Sanghyuk. Hongbin adalah perempuan dengan rambut bergelombang sepanjang dada yang selalu ia gerai. Hongbin sangat cantik dengan kulitnya yang putih. Hakyeon mengenal Hongbin karena hobi Hakyeon yang akhir-akhir ini selalu bersembunyi di perpustakaan, sementara Hongbin adalah anak yang memang hampir setiap waktu selalu belajar di perpustakaan.

Hongbin terlihat mengembalikan buku novel ke rak asalnya. Hakyeon tersenyum dan mengangguk. "Sebentar lagi aku kembali, kok. Kamu kenapa belum kembali ke kelas? Sanghyuk bilang, kelas kalian akan ada ujian matematika?"

"Ah, itu kelas remedial. Aku tidak remedial. Jadi tidak masalah untukku jika tidak masuk kelas."

"Ooh, begitu." Hakyeon mengangguk-angguk.

Hongbin menahan Hakyeon saat seniornya hendak pamit kembali ke kelas.

"Kak Hakyeon... Apa.. Sanghyuk menyukaimu?"

Hakyeon menggeleng, tentu saja. "Jangan salah paham. Sanghyuk sudah mirip dengan adikku. Dia tidak suka padaku kok, tenang saja."

"Begitukah? Syukurlah." Ucap Hongbin manis.

Tanpa Hongbin mengakupun... Hakyeon tahu, Hongbin suka dengan Sanghyuk.

Hakyeon berjalan lesu kearah kelasnya. Ia bahkan melepas ikatan rambutnya demi menutupi wajah buruknya saat ini. Situasi ini sangat lucu. Sangat lucu hingga Hakyeon ingin tertawa sampai menangis.

Hakyeon mati-matian dan selalu yakin bahwa ia tidak sesuka itu dengan Taekwoon, yang kala itu juga disukai oleh sahabatnya, Jaehwan. Setelah itu, Jaehwan tiba-tiba bilang kalau Jaehwan tidak lagi suka dengan Taekwoon, dan menyuruh Hakyeon untuk memperjuangkan rasa sukanya kepada Taekwoon. Bahkan Jaehwan membantu ini dan itu demi dirinya. Sementara, Sanghyuk tiba-tiba datang, dan suka pada Taekwoon. Hakyeon dengan bodohnya membantu Sanghyuk untuk dekat dengan Taekwoon. Kemudian sekarang, teman barunya, Hongbin, secara tidak langsung mengaku suka pada Hyuk.

Kesal.

Hakyeon super kesal.

Tidak jadi kembali ke kelas, Hakyeon justru berbelok, menuju meja piket.

"Permisi, Ibu. Saya merasa kurang enak badan. Apakah saya boleh izin pulang lebih awal?"


Jaehwan kacau. Hani pun begitu. Hani sangat pusing dan tidak mengerti saat Hakyeon masuk kelas terlambat, dan justru membawa lembar kuning— lembar surat izin pulang.

Hani berulang kali bertanya pada Hakyeon seraya temannya itu berberes-beres bukunya, "Hakyeon, kau kenapa?!". Dan berulang kali juga pertanyaan Hani hanya dibalas dengan senyuman dan gelengan oleh Hakyeon.

Jaehwan menelepon Hakyeon berkali-kali. Tidak dijawab juga.

Sampai akhirnya, mata Jaehwan menangkap sosok Taekwoon didepan kelas Hakyeon.

"JUNG TAEKWOON!" panggil Jaehwan tidak santai.

Taekwoon menghampiri Jaehwan tanpa menjawab panggilannya. "Kau lihat Hakyeon?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu." Tukas Jaehwan jengkel, keningnya mengernyit sebelah. "Hakyeon, dia kenapa?"

"Kenapa? Apanya?"

"Hakyeon pulang ditengah pelajaran hari ini." Jelas Hani. "Barangkali kau mengetahui sesuatu.. tolong jelaskan pada kami. Akhir-akhir ini Hakyeon bertingkah agak aneh."

"Saya juga merasakan hal itu, Hani. Saya rasa, Hakyeon menghindar."

Jaehwan melotot tak percaya. "Harusnya kalian kencan dua hari lalu!" Pekiknya tidak sabaran. "Aku memberikan Hakyeon kupon donat kesukaannya juga kesukaanmu, Taekwoon! Dan Hakyeon bilang kuponnya sudah terpakai sejak dua hari lalu!"

"... Apakah yang kau maksud itu kupon donat beli satu lusin gratis satu lusin?"

"Benar! Kau memakainya kan?!"

"Aku memakainya... Tapi bukan bersama Hakyeon." Jelas Taekwoon pelan. "Aku juga baru menggunakannya semalam, bukan dua hari lalu. Dan itu bersama Sanghyuk."

Emosi Jaehwan meledak seketika.

Jaehwan meninggalkan Taekwoon dan Hani dan berlari ke taman belakang sekolah. Rasa kesal dan bingung mendominasi pikirannya. Apa-apaan itu?! Hakyeon berbohong padanya? Taekwoon pun begitu. Taekwoon selalu saja mementingkan Sanghyuk. Selalu Sanghyuk. Padahal Sanghyuk itu laki-laki! Kenapa Taekwoon lebih memilih untuk berjalan-jalan bersama dengan Sanghyuk?!

Pula, bagaimana kupon yang ia kasih justru dipakai oleh Sanghyuk dan Taekwoon? Apakah Hakyeon menemui Taekwoon dan memberikan kupon itu cuma-cuma? Atau... Hakyeon justru sengaja memberikannya pada Sanghyuk? Dan menyuruh Sanghyuk untuk menggunakannya dengan Taekwoon? Begitu?

Jaehwan tahu ada yang tidak beres. Hubungan pertemanan Hakyeon dan Hyuk, tidak beres. Jaehwan kesal dan kecewa.

Pikirannya buyar saat ponselnya bergetar. Ia langsung saja mengangkat panggilan itu yang adalah panggilan balik dari Hakyeon.

"Kamu dimana? Kamu sakit? Kenapa pulang duluan?"

Hening disebrang sana. Jaehwan masih diam, menunggu jawaban.

"Aku di tempat kerjaku. Ambil shift pagi."

"Kalau mau membohongiku, kamu harus lebih pintar."

"Aku serius."

"Aku—"

"Jaehwan. Aku tahu kamu khawatir, tapi jangan susul aku. Selesaikan dulu pelajaran disekolah. Aku janji tidak akan kemana-mana sampai bel pulang sekolah."

"Janji?"

"Janji."

"Baiklah. Aku akan datang bersama Taekwoon."

"Jangan bersama dia."

"Kenapa?" Tanya Jaehwan, nada bicaranya jengkel, kesal, dan marah.

"Pokoknya jangan. Ia bilang ia ada janji."

"Dengan Sanghyuk?!"

"...Yeah?" Ragu. Jaehwan mendengar keraguan dari nada suara Hakyeon.

"Kamu berbohong."

"Tidak." Elak Hakyeon cepat. "Intinya, kamu boleh datang. Tapi tidak bersama Taekwoon."

"Aku tidak mau menurut." Sanggah Jaehwan. "Memang sepenting apa Sanghyuk bagi Taekwoon, hah?" Tanpa sadar, Jaehwan justru marah-marah ditelepon Hakyeon. Tidak terima.

"Taekwoon bilang—"

"Maaf Jaehwan, aku harus bekerja. Sampai jumpa nanti."

Telepon ditutup oleh Hakyeon secara sepihak. Jaehwan kesal. Kesal setengah mati.


*) Jung Sooyoung: Red Velvet's Joy

Ucapan terimakasih sebesar-besarnya untuk Wonnie, chiiyeoji, shuuin, xxiianp.