Tadi pagi, setelah mendapat izin meninggalkan sekolah, Hakyeon langsung mengabari atasannya di kedai ice cream. Meminta shift pagi supaya nanti siang ia bisa pulang dan tidur. Ia butuh istirahat.
Hakyeon tidak lelah tentang rutinitasnya sebagai pelajar dan pelayan kedai es krim. Ia justru menikmati bagaimana serunya pulang malam, dan mengerjakan PR disekolah karena tidak sempat diselesaikannya saat malam. Apalagi dengan penghasilannya sendiri. Hakyeon sangat puas.
Hakyeon hanya lelah dengan drama hidupnya. Ia kadang menyesali kenapa ia harus menyukai seseorang secepat ini. Padahal ia pernah berjanji, untuk merasakan rasa suka pertama kalinya saat kuliah. Tapi dirinya gagal menepati janjinya sendiri.
Tapi, hey, ini Taekwoon. Hakyeon tidak menyesal sama sekali ia menyukai Taekwoon. Justru, Hakyeon merasa senang karena orang pertama yang ia sukai adalah Taekwoon. Hakyeon hanya marah pada dirinya sendiri, karena bersikap membingungkan. Benar. Ia sangat membingungkan, bukan?
Pagi-pagi memang kedai tidak terlalu ramai seperti sore hari. Paling-paling, pengunjung mereka adalah anak TK yang baru pulang bersama orang tuanya. Ketika jam menunjukan angka setengah satu yang artinya dirinya mendapat jatah istirahat makan siang, ia mengecek ponselnya yang ternyata sudah penuh dengan notifikasi kakaotalk dan beberapa missed call, dari Jaehwan, Hani, dan Taekwoon.
Hakyeon kemudian menelepon Jaehwan. Bukan apa-apa. Hatinya terasa berat. Hakyeon berpikir kalau dengan mendengar suara Jaehwan, bebannya akan terangkat sedikit.
Memang sih, Hakyeon merasa agak tenang setelah Jaehwan mengetahui keadaannya, dan ingin menemuinya. Namun selanjutnya ia tidak lagi bisa tenang. Jaehwan bilang ia akan menemuinya dengan Taekwoon.
Hakyeon tidak mau.
Ia tidak ingin bertemu Taekwoon dulu.
Hakyeon takut.. Hakyeon takut egois. Taekwoon tentu bukan siapa-siapanya. Bahkan Hakyeon tidak berharap apa-apa atas perasaan Taekwoon untuk membalas rasa sukanya. Hakyeon pun tidak pernah sama sekali berpikir untuk mengakuinya. Maka dari itu, Hakyeon lebih baik menghindar kala ia membantu Hyuk. Supaya Hakyeon tidak merasa egois, dan justru mengganggu pendekatan mereka.
Tapi lama kelamaan, hal ini terasa salah dan hatinya semakin berat. Ia tidak mengerti harus bagaimana, apalagi setelah mendengar teman barunya, Hongbin, suka dengan Hyuk.
Lantas apa yang harus ia lakukan? Berlaku masa bodoh setelah banyak hal yang terjadi?
Hakyeon cepat-cepat mengirim pesan pada Jaehwan.
Hakyeon
Aku tarik janjiku. Aku sudah pulang. Ada yang menggantikan shift siangku. Kamu tidak perlu kesini.
Jaehwan
Aku akan kerumahmu kalau begitu
Hakyeon
Aku ingin sendiri. Bisakah kamu membiarkanku sendiri dulu?
Kita bisa bicara besok, kan? Kali ini aku berjanji
Jaehwan
Tidak mau!
Hakyeon
Aku memohon.
Jaehwan
Begitu?
Hakyeon
Iya.
Jaehwan
Besok pagi sebelum bel masuk sekolah.
Aku tahu waktu istirahat pertamamu akan sibuk dengan Sanghyuk
Ha.
Hakyeon terkejut. Bagaimana Jaehwan bisa tahu?
Ia tidak membalas pesan Jaehwan. Hakyeon merasa tidak baik. Pikirannya kalut dengan berbagai kemungkinan yang ada. Bagaimana Jaehwan bisa tahu? Tahu darimana? Bagaimana perasaannya? Hakyeon takut, Jaehwan akan membencinya. Hakyeon cukup merelakan Taekwoon saja. Jaehwan jangan marah.
Setelah berkutat dengan pikirannya seraya merapihkan barang-barangnya, Hakyeon melirik jam yang terpajang disudut ruangan. Sudah hampir jam dua. Sebaiknya ia segera pulang. Lagipula Hakyeon tidak sepenuhnya berbohong. Jeonghwa— sesama pelayan di kedai eskrim memang sudah datang sejak tadi.
Saat dirinya berdiri dihalte bus, tiba-tiba teleponnya berdering. Nama Hani muncul disana.
"Kamu masih diarea sekolah, kan, Yeon?!" Panik. Nada suara Hani panik dan nafasnya tidak beraturan. Hakyeon semakin tidak tenang.
"Ada apa?"
"Jaehwan bertengkar."
Hakyeon tidak bisa berpikir apa-apa lagi setelah mengetahui kabar itu. Ia cepat-cepat berlari ke sekolah. Pikirannya kalut. Ini pasti tentang Sanghyuk dan segala hal disekitarnya. Pasti.
Benar saja. Saat Hakyeon sampai disana, Hani berusaha menarik Jaehwan yang tengah berteriak kesal dan hampir menangis ke pelukannya. Sementara didepannya, Hyuk tengah diam menunduk.
Tak berapa lama Taekwoon datang. Wajahnya sama panik dan terkejutnya dengan Hakyeon.
Detik berikutnya, hati Hakyeon maupun Jaehwan mencelos pedih. Taekwoon justru berteriak, "Apa-apaan ini?!" Kemudian memeluk Sanghyuk.
Hakyeon sakit hati.
Tapi kenapa? Bukankah seharusnya ia senang? Usahanya tidak gagal untuk membantu Hyuk dekat dengan Taekwoon.
"Kak Hakyeon.."
Mata panas Hakyeon mau tidak mau menoleh kearah suara lirih didepannya. Itu Hongbin yang baru menghampirinya, dan memeluknya.
Air mata Hakyeon mengalir dan hendak memeluk balik Hongbin. Namun sebelum itu, tangannya justru ditarik oleh Jaehwan.
"KAU!" Jaehwan mengambil satu nafas panjang sebelum kembali mengeluarkan suaranya, mengeluarkan seluruh emosinya. "Semua ini gara-gara kau, Cha Hakyeon! Aku tidak menyangka kau sebodoh ini, senaif ini. Aku mendukungmu untuk memperjuangkan perasaanmu kepada Taekwoon bukan untuk kau membantu Han Sanghyuk itu, sialan. Apakah kau gila? Cowok yang kau suka hampir setahunan begini, malah kau relakan untuk laki-laki manja dan licik kayak dia!" Marah Jaehwan.
"Aku merelakan Taekwoon untukmu bukan untuk kau merelakannya lagi pada Sanghyuk!" Lagi.
"BUKAN UNTUK KAU MEMBANTU SANGHYUK!"
"CUKUP!"
Hakyeon berteriak. Inilah saatnya. Inilah puncaknya.
"Lantas kenapa kalau aku membantu Sanghyuk?" Ujar Hakyeon dingin. Hatinya semakin berat, kepalanya pusing karena menahan emosi dan kecewa yang sangat besar setelah mendengar kalimat Jaehwan. "Kalau memang begini akhirnya, seharusnya kau tidak perlu sok bersikap baik dengan mendukungku dengan Taekwoon. Aku juga tidak pernah mengemis padamu, kan?!"
"Cha Hakyeon!" Jaehwan membentak. Tangannya mengayun hendak menampar Hakyeon, namun tangan Jaehwan dengan cepat ditahan oleh Sanghyuk.
Hakyeon mendecih sinis, kemudian mengambil dengan kasar tangan Hyuk yang menahan Jaehwan barusan dan mendorongnya menjauh, kemudian menampar Sanghyuk.
Hakyeon menampar Sanghyuk.
"Sudah cukup kau menyentuh Taekwoon." Ujar Hakyeon dingin. "Jangan sentuh Jaehwan juga." Kemudian Sanghyuk didorongnya dengan keras hingga terantuk tembok. "Jangan berlagak baik. Kau fikir kau temanku, hah?!"
"CUKUP HAKYEON!" Taekwoon menarik Hakyeon yang hendak menginjak perut Sanghyuk. Taekwoon inginnya memeluk Hakyeon untuk menenangkannya, namun Hakyeon justru berbalik dan mendorong Taekwoon menjauh.
"APA?! KAMU MAU MARAH KARENA YANG KAMU SAYANGI AKU SAKITI?!" Bentak Hakyeon sambil menangis keras. Hakyeon tidak kuat. Ia kecewa. Seharusnya Taekwoon paham dirinya juga sakit. Seharusnya Taekwoon lebih paham dirinya yang notabene perempuan. Seharusnya.. seharusnya..
Hakyeon mundur dan segera menepis tangan Taekwoon yang mendekat kepadanya. "Jangan sentuh." Lirih Hakyeon. "Kita.. kita bukan teman lagi, Jung Taekwoon."
Setelah kejadian itu, keadaan benar-benar berubah. Bahkan Hakyeon tidak lagi dekat dengan Hani dikelas. Justru Jaehwan yang sering menemani Hani saat jam istirahat.
Hakyeon bukannya tidak peduli. Ia justru senang mengetahui kedua sahabatnya akur meski dia sudah tidak ada diantara mereka lagi. Hakyeon sempat khawatir Jaehwan tidak punya teman dekat untuk bersanggah lagi. Tapi ia sadar, Jaehwan kan, Jaehwan.
Jaehwan sekarang memiliki teman lebih banyak setelah Hakyeon menjauh. Hani, Ravi, dan banyak lagi. Hakyeon juga senang mengetahui kalau Jaehwan dan Taekwoon sudah berbaikan.
Hakyeon tahu itu dari Hongbin.
Benar, setelah kejadian hari itu, teman Hakyeon hanya Hongbin. Keduanya seringkali berdiam di ruang musik, atau taman belakang sekolah, karena di perpustakaan selalu ada Taekwoon dan Hyuk yang masih dekat, bahkan semakin dekat sampai sekarang.
Ah.. hatinya masih sedikit sesak kalau mengingat hal itu. Tapi Hakyeon tidak tahu bagaimana Hongbin. Hongbin tidak pernah cerita pada Hakyeon tentang rasa sukanya dengan Hyuk. Yang jelas, punya Hongbin untuk jadi temannya untuk saat ini sangat melegakan. Ia sangat bersyukur.
Setelah kejadian itu pula, Hakyeon memiliki hobi baru dikelas. Ia tidak lagi dekat dengan siapa-siapa kalau dikelas untuk diajak berbicara. Ia jadi suka menulis diary. Hakyeon tidak tahu harus mencurahkan perasaan rindunya pada teman-temannya lewat apa, atau kesiapa. Ia tidak mau membuat Hongbin tertekan atau sampai berfikiran dirinya cuma pengganti. Tidak mau.
Jadi lebih baik ia simpan di diary saja.
Jika ditanya apakah Hakyeon kangen pada teman-temannya atau tidak, jawabannya, sangat kangen. Sangat rindu. Sampai-sampai, setiap malam, Hakyeon selalu membaca ulang chat mereka dari awal sampai akhir. Terutama pesan dengan Taekwoon.
Hakyeon kangen sekali dengan Taekwoon. Rasa sukanya masih sama seperti dulu. Namun, mustahil rasanya untuk kembali ke masa lalu.
Mungkin ini jalan terbaiknya. Hakyeon hanya harus bertahan setidaknya empat bulan lagi sebelum kelulusan, kan? Ia harus fokus belajar supaya mendapatkan hasil yang maksimal.
Lain halnya dengan Jaehwan dan Hani.
Setiap harinya, Jaehwan dan Hani hanya makan berdua dan bersedih— terkesan marah dan kesal.
"Aku kangen Hakyeon." Selalu kalimat ini yang diucapkan keduanya. Lalu berakhir dengan saling ejek. "Karena cuma dia yang kalem. Kamu itu berisik, Jaehwan."
"Kamu juga Hani! Berisik!"
"Tuh cowokmu dateng." Kata Hani, menggoda Jaehwan yang malah merengut. "Aku tidak suka lagi dengan oknum T itu, tahu!"
"Aku bukan oknum T."
Itu suara Ravi. Jaehwan menoleh kaget, lalu wajahnya berubah merah.
Beberapa hari setelah Jaehwan bertengkar dengan Hakyeon, Hyuk, dan Taekwoon di lobby sekolah, ia mendapat permintaan maaf dari Taekwoon. Jaehwan tentu saja memaafkannya, meskipun sempat merajuk sebentar.
Setelah berbicara dengan Taekwoon dan memeluknya sarat damai, tiba-tiba Ravi datang dengan wajah bete saat itu. Jaehwan bingung, apalagi ketika Ravi berkata, "Aku fikir aku sudah cukup keren untuk jadi pengganti Taekwoon."
Dan perempuan berambut sebahu itu semakin mematung saat Ravi mengecup sudut bibirnya. "Kecupan dari Taekwoon." Canda Ravi.
"Bodoh."
Meskipun begitu, Jaehwan justru menghindar karena malu! Jantungnya berdegup kencang kalau Ravi mendekat. Apapun ia lakukan untuk menjauh dari Ravi. Tapi kali ini sepertinya tidak bisa. Jaehwan ada di kelas orang. Tidak mungkin ia histeris sendiri.
"Sudah makan, Jaehwan?"
"Sudah, kamu?"
"Belum dua kali."
Jawaban yang dihadiahi oleh pukulan manja Jaehwan di lengan Ravi.
"Omong-omong, kalian belum baikan dengan Hakyeon?"
Jaehwan dan Hani langsung down. "Belum."
"Kenapa kalian tidak minta maaf duluan ke Hakyeon?"
"Hakyeon pemaaf, tapi dia tidak sesimpel itu, Ravi. Dia sangat rumit dan menakutkan." Jelas Hani.
"Hani benar." Jaehwan mengangguk-angguk.
Ravi menghela nafas. "Lagian kenapa sih, Taekwoon itu masih membohongi dirinya sendiri." Gumamnya. "Tidak ada bedanya dengan Hakyeon."
"Apa maksudmu, Ravi?"
"Astaga, kalian bodoh sekali." Kata Ravi, sambil mendorong kepala Jaehwan dan Hani berbarengan. "Sejelas itu sejak awal."
"Hah?"
"Kalian benar-benar tidak sadar?"
"Apaan sih jangan berbelit dong! Aku kan bukan peramal. Apalagi si Jaehwan yang agak dongo."
"HANI!" Jaehwan memukul tangan Hani yang disambut dengan jeritan dan tawa keras Hani.
Ravi memukul dahinya. "Taekwoon itu suka dengannya."
"..."
"APA?"
Bel penanda istirahat telah berakhir berbunyi. Ravi langsung pamit kabur meninggalkan Jaehwan dan Hani yang histeris.
Taekwoon dan Hyuk tidak sama seperti dulu. Mereka berdua masih berbincang dekat, tapi tidak dianggap oleh Hyuk sebagai kencan seperti yang sebelum-sebelumnya. Hyuk masih merasa bersalah. Masih jelas sekali di ingatannya, bagaimana Hakyeon menatapnya dengan tajam. Tatapan itu bagai mengintimidasinya seakan berkata, "Aku tahu semua rencana busukmu, sialan."
Akhir-akhir ini, Hyuk hanya sekedar bercakap ringan dengan Taekwoon seperti awal mereka bertemu. Tidak bisa lagi baginya untuk bermanja dengan Taekwoon. Rasanya tabu. Dan ia malu. Apalagi setelah mendengar akuan dari Hongbin, teman sekelasnya, yang sekarang menjadi teman bicaranya kalau dikelas.
"Maaf karena saya lancang, Sanghyuk. Tapi, saya suka padamu."
Begitu katanya. Langsung. Lalu Hongbin mengajak Sanghyuk berteman. Sanghyuk tentu saja mengiyakan. Keberadaan Hongbin disisinya cukup menenangkan hatinya. Hyuk bisa dengan lega mengeluarkan curahan hatinya kepada Hongbin perihal Taekwoon dan Hakyeon.
Hyuk sangat merasa bersalah. Tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Belum lagi, ia mendengar dari Taekwoon kalau dirinya sendiri belum berbaikan dengan Hakyeon. Apalagi cuma Hyuk, yang menghancurkan kehidupan suka-sukaan pertama bagi Hakyeon.
Hyuk sangat merasa bersalah.
"Kak Hakyeon hari ini baik-baik saja, Hyuk."
"Dia selalu baik, aku tahu." Aku yang merasa tidak baik. Lanjut Hyuk dalam hati.
"Tidakkah senior Taekwoon bercerita kepadamu perihal sesuatu?"
Itulah yang membuat rasa bersalah Hyuk semakin besar. Taekwoon semakin tidak berekspresi. Setiap harinya Taekwoon hanya menatap gantungan kunci bergambar bulan di ponselnya saja. Benar-benar membingungkan.
"Dia tidak. Dia semakin datar setelah hari itu."
"Kamu tahu, saya juga berteman dengan beberapa teman sekelas senior Taekwoon, dan senior Ravi."
"Lalu?"
"Saya dengan teman sekelas senior Taekwoon satu klub paduan suara. Beberapa membicarakanmu, Hyuk."
Hyuk menyesal hampir mati.
"Sebaiknya kamu segera minta maaf dengan Kak Hakyeon."
"Aku tidak tahu harus bertemu bagaimana, dan berbicara bagaimana."
"Senior Taekwoon sedari dulu suka dengan kak Hakyeon."
"Apa?!"
Hyuk melotot tidak percaya. Jadi ia benar-benar seperti penghalang antara rasa suka Taekwoon dengan Hakyeon. Jika Hyuk berada diposisi Hakyeon, Hyuk pun tidak akan memaafkan dirinya. Benar-benar memalukan. Tidak bisa dimaafkan.
Hongbin mengangguk, kemudian tersenyum. "Minta maaflah kepada mereka berdua, Hyuk. Kamu laki-laki baik. Dan laki-laki baik harus bertanggung jawab."
Senyuman manis Hongbin sukses membuat hati Hyuk menghangat. Tangan Hyuk lalu membentang, membalas senyuman Hongbin. "Sini, aku peluk."
Hongbin terdiam ditempatnya. Hyuk terkekeh dan justru mendekatkan diri ke Hongbin, dan memeluknya. "Terimakasih, Hongbin."
Hongbin tersenyum tipis dan perlahan, membalas pelukan Hyuk yang sungguh terasa nyaman. Hongbin diam-diam berharap, semoga perasaannya terbalaskan, suatu hari nanti.
