Setelah keduanya duduk agak berjauhan— sebenarnya, Hakyeon yang mengambil jarak saat Taekwoon memutuskan duduk–, tak ada satupun yang mengeluarkan suara sejak sosok yang laki-laki datang.

Hakyeon masih memeluk diarynya erat-erat, sementara Taekwoon menatap lembut wajah yang ia rindukan. Sudah begini sejak lima menit lalu. Bahkan mata Hakyeon sudah bergerak tidak nyaman.

Taekwoon tahu itu. Namun, apa yang harus ia lakukan? Tidak ada. Ketidak nyamanan Hakyeon disebabkan oleh keberadaan dirinya. Mau dirinya berdiri, duduk, atau berbaring pun, Hakyeon tidak akan merasa nyaman.

Taekwoon juga tidak bisa mendekat. Satu langkah Taekwoon mendekat, pasti Hakyeon juga menjauh satu langkah.

Yang dilakukan Taekwoon adalah menatap Hakyeon dalam-dalam untuk menyalurkan rasa rindunya. Mulai dari ujung kepala sampai bawah. Beberapa ada yang berubah dari penampilan gadis itu. Hakyeon sudah mulai menggerai rambutnya, dan bahkan memakai liptint. Mata Taekwoon terpaku pada gelang yang melingkar di lengan kiri Hakyeon.

Jaebum benar. Hiasan pada gelang sederhana itu adalah pasangan dari gantungan kunci di ponselnya. Taekwoon senang mengetahui itu. Itu mengartikan kalau Hakyeon tidak benar-benar membencinya.

Selain itu, perubahan lainnya ada pada buku diary dan gelas ice americano di meja didepan mereka. Taekwoon tidak tahu kalau Hakyeon gemar menulis diary, dan suka meminum kopi.

"Kamu... tidak masuk kelas?" Hakyeon bertanya dengan hati-hati. Gesturenya masih menyiratkan kalau Hakyeon tidak nyaman sama sekali.

Taekwoon menggeleng. "Kelas saya jam kosong."

"Lalu ada apa kamu kesini?"

"Mencarimu."

Hakyeon memerah, namun mendecih. "Mau ngapain? Kan aku sudah bilang, kita bukan lagi tem—"

Ucapan Hakyeon terputus saat Taekwoon mendadak mendekat dan dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Hakyeon. Pegangan erat Hakyeon pada buku diarynya meregang. Jantungnya berdetak sangat kencang. Matanya memanas, terutama saat Taekwoon menggerakan bibirnya— melumat bibir Hakyeon lembut.

Air mata Hakyeon mengalir tepat setelah Taekwoon menyudahi ciuman lembut itu. Sementara Taekwoon langsung memeluk Hakyeon dengan erat. "Saya rindu padamu."

Hakyeon tidak menjawab. Perempuan itu sibuk terisak dalam rengkuhan Taekwoon. Akhirnya Taekwoon mendekapnya semakin erat, berusaha menenangkan Hakyeon.

Beberapa menit setelahnya, Hakyeon menjauhkan diri dari Taekwoon dan langsung memukul bahu Taekwoon keras-keras. "Kenapa kamu cium aku hah?! Sudah kubilang kita bukan teman! Sudah kubilang begitu, kamu malah menghampiriku. Bodoh!" Hakyeon masih menangis.

"Kita memang bukan teman." Jawab Taekwoon, tapi tersenyum.

Hakyeon berhenti memukul, namun bahunya merosot. Hakyeon kecewa. Taekwoon tiba-tiba datang, tiba-tiba menciumnya begitu. Hakyeon merajuk, tentu saja. Salahkah ia merajuk? Tapi Taekwoon justru membenarkan rajukkannya. Mengiyakan kalau mereka bukan teman lagi. Bahkan sambil tersenyum.

Apa apaan.

Hakyeon segera mengambil buku diary dan gelas kopinya. Saat ia hendak berjalan keluar perpustakaan, tangannya kirinya ditahan oleh Taekwoon. "Kamu masih menyimpan gantungan ini."

Lalu Taekwoon menariknya lagi sampai terduduk. Tangannya memindahkan buku dan kopo kembali ke meja, kemudian mencium Hakyeon lagi. Kali ini lebih dalam dan menuntut. Hakyeon menangis lagi dalam diam. Namun ia membalas ciuman Taekwoon.

Masa bodoh akan alasan Taekwoon. Hakyeon hanya rindu. Hakyeon membalas ciuman Taekwoon hanya karena rindu. Tangannya melingkar ke leher Taekwoon dan membalasnya lebih dalam.

Lalu Taekwoon melepasnya terlebih dahulu sebelum di sadari oleh siswa lain.

"Kita sekarang bukan teman, tapi pacar." Jelas Taekwoon kemudian.

"Apa?"

"Saya suka kamu, Hakyeon. Sangat suka kamu hingga hampir gila saat kamu bilang kita bukan berteman. Saya benci sekali saat Jaehwan menyimpulkan kalau saya tidak suka kamu. Saya suka kamu. Sangat suka kamu."

Hakyeon menunduk. "Aku harus jawab apa?" Lirihnya. Hakyeon terlalu terkejut akan pengakuan Taekwoon, hingga bahunya lemas, tidak tahu harus berkata apa.

"Kamu masih suka dengan saya?"

Pertanyaan Taekwoon langsung dibalas dengan anggukan Hakyeon. Taekwoon tersenyum dengan jawaban itu, lalu memeluk Hakyeon lagi.

Taekwoon lega, sungguh. Ia selalu merasakan debaran ini setiap ia berdua dengan Hakyeon. Debaran ini mengganggu, tapi sungguh menyenangkan. Terutama saat mencium Hakyeon tadi. Debaran jantungnya benar-benar membuatnya gila karena ketagihan.

"Maaf karena saya tidak menyadarinya dari awal. Maaf karena saya tidak peka dan malah mengiyakan ide bodohmu untuk pergi dengan Sanghyuk. Saya minta maaf."

"Aku juga minta maaf." Ujar Hakyeon. "Aku yang salah karena menyakiti diriku sendiri dan menyakiti Jaehwan. Aku sungguh bodoh."

"Kamu memang bodoh."

Taekwoon terkekeh pada dengusan Hakyeon. "Rese."

"Saya selalu begini."

Hakyeon mendorong Taekwoon menjauh. Berpelukan terus menerus seperti itu memang nyaman, tapi tidak sehat untuk jantungnya yang memukul-mukul dadanya seakan meminta keluar.

"Sejak kapan kamu minum kopi, Hakyeon?" Tanya Taekwoon seraya menggoyang-goyangkan gelas ice americano kesukaannya yang tinggal setengah.

Hakyeon menggigit bibirnya bingung. Sejujurnya, sampai sekarang ia tidak suka kopi. Ia membeli americano hanya karena merindukan sosok Taekwoon.

"Hanya kepingin."

Hakyeon memerah lagi saat Taekwoon mengecup bibirnya. "Rasa bibirmu enak."

"Mesum!" Jerit Hakyeon tertahan sambil menendang-nendang Taekwoon karena kesal.

Taekwoon terkekeh. "Sebaiknya kamu jangan suka minum kopi, Hakyeon. Nanti saya tidak bisa tahan."

"Berisik!"

"Hehehe."

Hakyeon menyambar gelas americano dari tangan Taekwoon dan meminumnya sampai habis. "Aku haus. Jangan macam-macam!"

"Iya, iya." Taekwoon terkekeh saat Hakyeon menutup mulutnya setelah meminum habis kopi kesukaannya.

Tak berapa lama, Hakyeon kembali membuka suara.

"Kita pacaran?"

Taekwoon mengangguk. "Kamu mau saya tembak?"

Wajah Hakyeon kembali berubah merah. Meskipun tak menjawab, Taekwoon mengartikan itu sebagai 'Iya'.

"Saya gak punya pistol. Besok saja ya?"

"TAEKWOON!"

"SSST!"

Hakyeon menutup mulutnya rapat-rapat. Ia sampai lupa kalau mereka sedang ada diperpustakaan.

"Kamu jadi rese." Ketus Hakyeon sambil bangkit dari duduknya, membawa buku diary dan sampah ice americanonya.

Taekwoon ikut berdiri, dan berjalan dibelakang Hakyeon. Seperti dulu.

Sejujurnya, Hakyeon senang sekali sampai-sampai ia ingin berteriak ditengah taman bunga dan loncat-loncat bahagia. Ini sungguh-sungguh seperti mimpi. Taekwoon mengaku dirinya suka dengan Hakyeon, Taekwoon memeluknya, dan yang terbaiknya..

Taekwoon menciumnya.

Tiga kali bahkan.

Wajahnya merah lagi.

Hakyeon membuang sampah lalu berdiri di koridor, diikuti oleh Taekwoon yang berdiri disebelahnya.

"Tapi saya serius, Hakyeon. Kita pacaran. Pacaran seperti Irene dan Junmyeon."

Hakyeon mengangguk. Seulas senyum terukir di wajah merahnya. "Iya, Taekwoon. Kita pacaran." Senyumnya makin lebar, "kamu gak usah bawa pistol besok."

Taekwoon tersenyum menyadari kalau Hakyeon sudah kembali seperti biasa. Seperti Hakyeon yang dulu. Hakyeon yang kalem dan lembut. Hakyeon yang manis.

Hakyeon yang Taekwoon sukai.

"Besok saya bawakan cincin saja." Ujar Taekwoon.

"Aku gak suka pakai aksesoris."

"Kalau menikah harus pakai."

"Kuliah dulu."

"Kelamaan, keburu putus."

"Kalau putus, nanti aku jadi bucin."

"Apaan tuh bucin?"

"Budak cinta."

Taekwoon tertawa. "Jangan. Kalau memang putus, ya istirahat. Besoknya balikan."

"Aku gak mau putus, bodoh."

"Makanya nikah."

"Bodo amat. Kamu makin rese."

Taekwoon tertawa. "Minggu depan kita try out. Yang nilainya lebih rendah, harus traktir ya?"

Dengan begitu, senyum Hakyeon kembali melebar. "Tantangan diterima!"

Setelah hari itu, Hakyeon kembali berteman dengan Jaehwan dan Hani. Kabar baik pun berdatangan dari teman-temannya.

Hyuk akhirnya pacaran dengan Hongbin. Jaehwan pun juga akhirnya membalas perasaan Ravi. Hani diterima disekolah seni internasional di Jepang sana. Semuanya berjalan baik-baik saja, bahkan sampai selesai Ujian Nasional.

Hakyeon dan Taekwoon saling mengerti kalau mereka tidak harus terus-terus saling kontak satu sama lain. Mereka mengambil bidang mata pelajaran yang berbeda. Hakyeon mengambil biologi, sementara Taekwoon fisika. Mereka harus fokus dengan bidang masing-masing. Paling-paling, Taekwoon hanya menelepon setelah selesai belajar sekedar mengingatkan Hakyeon makan malam. Jam makan malam Hakyeon benar-benar malam, yaitu sekitar jam 9 sampai setengah 10.

Orang tua Hakyeon datang saat kelulusan Hakyeon. Senyum orang tuanya sama sekali tak pudar kala nama Hakyeon dipanggil sebagai murid berprestasi pararel. Meskipun tidak berhasil menjadi nomor satu pada nilai UN, Hakyeon cukup bersyukur. Ia semakin bersyukur lagi saat namanya dan Taekwoon dipanggil karena sudah diterima di universitas lewat jalur undangan. Benar-benar kebahagiaan tersendiri untuk Hakyeon.

Seusai acara wisuda, Hakyeon dan Taekwoon duduk di bangku pinggir lapangan. Tangan mereka berdua penuh dengan bunga sebagai tanda ucapan selamat dari guru dan teman-temannya.

Tapi, bunga yang dibawa Taekwoon jauh lebih banyak dari bunga Hakyeon.

"Kamu dapat banyak sekali. Penggemarmu banyak ya. Aku sempat lihat adik kelas bahkan datang untuk memberimu bunga."

"Iya." Taekwoon tersenyum. "Kamu juga dapat banyak."

"Tidak sebanyak punyamu."

"Jangan iri. Saya juga punya hadiah buat kamu."

Taekwoon lalu pergi sebentar dan kembali lagi membawa buket.

Senyum Hakyeon langsung mengembang saat menyadari buket itu. Bukan buket bunga. Tapi—

"Buket Kinder bueno buat kamu."

Coklat kesukaan Hakyeon sepanjang masa.

"Terima kasih, Taekwoon yang rese." Hakyeon memeluk Taekwoon dari samping dan menerima buket kinder bueno tersebut.

"Sama sama, Hakyeon yang cantik."

Hakyeon terkekeh.

"Kamu sangat cocok pakai kebaya itu. Kalau nikah, kamu pakai begitu saja pasti sudah cocok."

Hakyeon mendengus. "Nikah mulu pikirannya!"

"Ga apa apa. Kan rencana."

"ISH!"

"Hehehe."

"Rese. Untung ganteng." Desis Hakyeon sambil melahap coklat buenonya itu. Ah, bueno memang yang terbaik.

Hakyeon menyodorkannya pada Taekwoom dan langsung disambut baik oleh pacarnya itu.

"Saya tidak begitu suka cokelat, tapi bueno memang enak." Puji Taekwoon pada coklat kesukaan Hakyeon.

Hakyeon mengangguk senang, setuju.

Setelah berbincang-bincang ringan seperti yang mereka lakukan dulu sepulang sekolah, mereka langsung membawa seluruh bunga yang diterima ke mobil Taekwoon.

Hakyeon berucap syukur karena hubungannya dengan Taekwoon berjalan baik. Pendidikan SMA nya pun baik-baik saja, bahkan dengan nilai yang cukup bagus.

Taekwoon duduk di kursi kemudi kala Hakyeon sudah duduk manis disebelahnya, sambil melahap bungkus ketiga buenonya.

"Hey Hakyeon."

Hakyeon menoleh.

Dan Taekwoon mengecup bibir Hakyeon, kemudian lidahnya terjulur, menjilat coklat disudut bibir Hakyeon.

"Mubazir kalau dilap pakai tisu."

"JUNG TAEKWOON!"

Taekwoon tertawa-tawa sementara Hakyeon menyembunyikan wajahnya di dashboard mobil.

Menggoda Hakyeon memang hal yang paling menyenangkan bagi Taekwoon.

Selesai